Posts

Sesak

Aku sudah hampir 20 tahun, tapi masalah terbesarku masih saja tentang berbicara.
Aku tidak pernah bisa benar-benar membawa diriku untuk mengucapkan apa yang ada di pikiranku, apa yang terjadi kepadaku dan di sekitarku. Entah karena aku tahu bahwa sia-sia saja untuk menyampaikannya, tidak siap untuk menghadapi respon yang tidak kuinginkan dan tidak sesuai ekspektasiku, atau sengaja kulakukan karena tidak ingin menambah beban orang lain. Ada kalanya aku menghabiskan waktu di depan cermin, menatap kedua mataku dan berbicara sendiri seperti orang gila. Biasanya itu cukup membantu. Tapi, siang ini aku melakukan hal yang sama, lalu terpaksa berhenti karena hidungku penuh umbel.
Dulu, aku puas saja dengan menenangkan diri bahwa memang tidak semua harus disampaikan. Tapi, kian kemari rasanya jadi jauh lebih sesak. Sesak yang sama seperti waktu itu saat aku berada di sekolah, berkeliling dengan hidung merah dan air mata tidak bisa berhenti. Aku mencoba tenang, tapi tidak bisa. Sampai Pak Kiri…

Calcanei

Hari ini aku responsi dua. Satunya anat, satunya lagi PA. Dari jauh hari teman-teman sudah sangat vokal menyuarakan kekhawatiran mereka tentang yang pertama itu. Sebenarnya aku sangat senang karena mereka mau berbagi kecemasan denganku, entah di balik itu apa yang mau dibuktikan. Aku tidak keberatan kalau itu membuat mereka lebih tenang. Jadi, aku khusyu' mendengarkan mereka merengek atau menarik-narik lengan kemejaku. Cobaan ini berat bagi kami semua. Namun, aku merasa harus lebih tenang dari jiwa-jiwa yang kalut.
Bisa dan tidak bisa adalah hal yang lumrah. Ketika tidak bisa, maka kita berusaha agar menjadi bisa. Tapi, mau bagaimanapun juga, ilmu itu milik Tuhan semesta alam. Maka, di awal waktu belajar aku selalu berusaha tenang dan memohon pinjaman ilmu dari-Nya.
Saat ujian, lupa adalah sebuah bisikan. Maka, jangan usir bisikan itu dengan bisikan lain. Meminta ampun dan perlindungan dari bisikan adalah beberapa hal yang wajib hukumnya dicoba saat lupa.
Tapi, dari kesemuanya, a…

[3] Crista

"Kamu bohongin aku." "Bohongin apa se?" "Tadi bilangnya mau langsung pulang, nggak ke kantin. Ternyata tadi aku liat kamu di kantin."  "Yaampun itu aku ngasih laporan ke kelompokku," "..." "Yaudah maaf." "Maaf nggak merubah apa-apa yo." "Terus?" *merajuk sampe mampus* "Yaudah yaudah, tadi katanya mau belajar." "Yaudah. Ati-ati ya kalo naik motor jangan nabrak lagi." Beep. ... ... ... Kring! "Halo?" "Tadi lupa tanya," "Apa?" "Gimana tadi ujiannya, bisa?"

Roses

Image
Bulan ini baru berjalan enam hari; dia sudah seperti naik turun roller coaster sembilan belas putaran.
Waktu itu malam. Tidak pernah terbersit sedikitpun di benaknya bahwa menu makan malamnya hari itu yang cuma nasi bakar dan es jeruk, tempatnya memesan makanan-makanan itu di dekat pusat kota, serta lokasinya duduk di lantai dua berpenerangan kuning dengan pemandangan yang tidak metropolitan sama sekali, adalah malam paling indah sepanjang hidupnya tahun ini.
Dia tahu bahwa keputusannya itu akan mendapat banyak pertentangan, dan aneh rasanya ketika satu sahabat dan teman-teman yang tidak terlalu mengenal dirinya menyampaikan ucapan turut senang. Malam itu indah, dia memang bahagia, tapi bagian mana yang membuat orang-orang ikut senang? Beberapa hari setelahnya dia bingung dan merasa tidak biasa. Tapi cuma sambil lalu saja, mungkin memang begitu rasanya menjadi anak muda.
Kemudian, setelahnya tidak ada yang berbeda. Dia tetap menjalani hari-hari dengan biasa dan tidak begitu sadar bah…

Antagonis

Parahnya, aku benar-benar tahu, benar-benar paham, benar-benar udah nglontok luar kepala; dan malah benar-benar jadi orang yang biasanya minta dikremus karena gemes.
Halo, aku Sherafina. Aku tidak sepenurut kakak perempuanku dan suka bikin pusing mamaku karena ngeyel. Biasanya, aku berkelit dari kewajibanku belajar di bidang akademis karena prinsip hidupku adalah, "Buat apa kamu pintar tapi nggak bisa bersosialisasi?" lalu memaklumi diri dan menyangkal pernyataan mamaku, di antaranya "Kamu itu jangan banyak kegiatan, kalo sudah kegiatan kan jadi capek nggak bisa belajar!"
Tapi, pada suatu titik, hidupku berubah. Aku jadi belajar siang malam seperti kesurupan. Berkelit dari kewajiban berkumpul ini itu. Tapi, tidak selalu karena belajar juga, sih. Ada hal-hal yang bukannya aku bantu benahi tapi malah aku tinggal. Karena tanganku cuma dua, dan aku sudah malas menjunjung idealitas. Biar aku jadi si realis yang egois dan suka menghilang saja.
Tentu aku bisa! Sudah bany…

Hujan Pertama yang Kulihat di Bulan September

Ini tanggal 24 September. Aku sedang menerjemahkan jurnal tentang pengobatan antibodi monoklonal terhadap metastatic colorectal cancer sambil mendengarkan Payung Teduh di Spotify.
Lalu, hujan.
Selamat memasuki masa-masa paling dingin di kota Surakarta :)

Usaha

"Tapi alhamdulillah, saat kita mendapat cobaan yang bertubi-tubi seperti ini masih ada yang peduli pada kita dan mau mengusahakan untuk membantu, terimakasih mas mbak."
Kawan, dua setengah tahun yang lalu, aku tidak pernah yakin betul apa yang sebenarnya kita lakukan. Jalur koordinasi rusak betul. Aku menerima stigma dan label masyarakat bahwa apa yang kita lakukan salah. Aku mengusahakannya cuma setengah, terus meminta pada Tuhan biar beliau-beliau dibukakan hatinya, tapi mau dapat hidayah dari mana kalau kita bicara saja tidak.
Aku tidak pernah suka muncul di jajaran, atau lewat jalur-jalur lain yang pintas. Kupikir pasang muka berarti ketidakmampuanmu dalam memikat perhatian mereka lewat usahamu sendiri. Aku mau melakukannya sendiri. Aku cuma punya aku dan kekuatan Tuhanku. Tuhanku bisa segalanya, misalnya, menjatuhkan buah kelapa di kepala orang yang duduk di bawahnya. Apalagi membolak-balik hati orang. Seperti krabby patty.
Tapi ternyata cara kerjanya bukan begitu. Aku…