Posts

Menjadi Jagung

Image
Lucu karena baru hari pertama saja aku sudah kejepit pintu Bryan. Sakitnya nggak main-main, sobat. Langsung biru di belakang kuku. Untung cuma setitik. Sampai hari ini masih kebas, sih. Bahkan waktu itu sempat nggak bisa ngoper karena sebenarnya kena sedikit nyerinya nggak bisa dideskripsikan. Herannya, malam itu menangis bukan karena itu tapi karena dia pergi ke daerah istimewa bersama dia. Agak ketawa karena sakit di jari bisa ditahan tapi sakit di hati susah juga.
Tiba-tiba Kags datang waktu aku sholat, padahal pasti kelihatan kayak habis nangis. "Buat menghapus dosa," katanya. Sobatku yang kadang menggelikan itu sudah jadi menenteramkan.
Di hari kedua, Bryan harus berpacu dengan melodi seperti ambulans yang membawa pasien kekurangan oksigen ke IGD Moewardi. Mendaftarnya sih, panitia ospek. Pengalamannya malah pertama kali masuk RSUD. Ditambah, keinginan yang tinggi buat menolong orang. Tuhan, seandainya aku yang saat itu lagi pakai PDL, apa aku sanggup setenang itu meng…

Kesal

Kamu adalah semua hal yang aku ingin jadi.
Keluargamu lengkap, papih mamih dan kedua adikmu. Nenekmu juga sangat menyayangimu. Kebutuhanmu tercukupi. Sekolah favorit di ibukota. Olahraga oke, musik jalan. Cerdas. Teman-temanmu peduli. Kayak, nggak ada yang bisa membatasi kamu berekspresi : kamu punya segalanya.
Tapi, kamu juga semua hal yang aku benci.
Aku kesal karena tidak dihargai? Aku kesal karena body mist vanilaku pecah di malam hari? Aku kesal karena kamu bahkan nggak peduli dengan orang lain selain dirimu sendiri?
Itu semua tidak lain adalah kebodohanku, bukan kesalahanmu.
Aku mau menjadi apa yang aku impikan, aku mau anakku jadi apa yang dia impikan.
Aku kesal bukan main, kawan. Karena kegoblokanku.

Wish Upon A Star

Lagi nemenin Bryan mandi.
Dan betapa nyari uang itu susahnya minta ampun adalah ketika laman curah pendapat dan curah hati ini baru menelurkan seratus dua puluh tujuh rupiah sejak hampir sebulan dipasangi lapak orang. Seratus dua puluh tujuh rupiah saja, yang kalo berupa kembalian di indomaret pasti minta diikhlasin atau dapat permen, atau kebuang karena dompetnya nggak cukup buat tempat receh.
Bryan lagi disemprot air pasti seger banget.
Ada beberapa mimpi yang ingin kuwujudkan saat ini, di antaranya :
Satu, adalah mencari tempat mandi untuk Bryan yang bakal nyuci bagian dalemnya juga, dilap sampe bersih kalo perlu sampe sudut-sudut tersembunyi dari lekuk otot dia. 
Dua, adalah dapat jodoh seorang pengusaha sukses. Jadi, ceritanya, pada suatu malam yang syahdu, aku tenggelam dalam suatu pemikiran. Jodoh dan hal-hal lain adalah ditangan Tuhan, sudah ditakdirkan sejak dulu. Tapi tidak menjadi sebuah pantangan untuk kita berdoa bahwa dia adalah seorang pengusaha sukses, bukan? Kriteriany…

Elegi

Ukurannya sekitar 3x3 saja, dua jendelanya menghadap ke langit. Kadang, kalau sore tiba, yang terdengar itu suara anak-anak bermain sepak bola. Atau ibu-ibu yang rumpi sambil menyuapi anak-anaknya di kereta dorong. Kadang, pak RT berseru-seru meminta bantuan putri-putrinya mengangkut jemuran karena hari hujan. Kadang, ada suara palang pintu kereta api yang menutup dari kejauhan. Kadang, yang terdengar hanya deru kendaraan besar muat material bangunan, hingga dentum palu sahut-sahutan. Aku selalu berpikir bagaimana kalau bapak supir bisa melongok dari jendelanya lalu melihat isi kamarku. Ternyata, tidak setinggi itu.
Kalau pagi tiba, ayam-ayam jantan berlomba-lomba mengabarkan kedatangan malaikat yang turun di sajadah-sajadah hamba-Nya. Aku berselimut mimpi sambil mengeloni tiga teman kesayangan yang cuma sedekapan jari.
Ini malam, aku tidak ke kota tapi sangat... sangat lelah. Aku mematikan notifikasi, mengabaikan konfirmasi, membiarkan ghibli menari-nari di dinding kamar kosku. Aku …

Malam itu aku bilang sama Bryan, "Kamu senang nggak? Aku bahagia."

Kemarin, aku dan Bryan berkesempatan memberi tumpangan pada mbak-mbak Italia. Pukul 5 kami sudah tiba di Bandara. Ternyata, pesawatnya delay sampai setengah tujuh. Kami beli susu dan sholat maghrib dulu, aku cukup bangga karena mukenanya tidak bau.
Sebenarnya ini acara dari suatu organisasi yang aku tidak jadi siapa-siapa di dalamnya. Entah kenapa, dulu waktu awal semester satu semua orang pada magang sedangkan aku cuma gambling di satu UKM dan baru fix mendaftar di UKM lain. Siapa sangka di tengah jalan semua tenaga yang kucurahkan buat si UKM gambling ini cuma bisa jadi kenangan. Ya, gitulah.
Aku sangat senang berpetualang, meski ga hapal jalan tapi pake waze. Pertama kali ke bandara waktu jemput temanku fika yang bertanding baskekbol di fakultasku. Itu bukan kali pertama aku menunggu orang turun dari pesawat, tapi rasa bahagia dan senyum dari telinga ke telinga waktu lihat sosok dia benar-benar gabisa kulupakan. Padahal fika, belum jodoh.
Mbak-mbak Italia ini datang jauh-jauh ke I…

Karang

Tidakkah kamu lihat rambutnya yang lusuh terpapar sinar matahari? Di keningnya membanjir peluh sebiji-biji jagung. Wajahnya coreng-moreng dihantam asap knalpot, pakaiannya satu itu saja dari pagi hingga petang.
Tapi, kawan, bahunya itu tidak pernah jatuh. Kakinya kokoh melawan panas aspal, tangannya gagah terkepal menantang langit. Tidak sedikitpun pandangan matanya yang tajam berubah bingung.
Dia anak besar di jalanan.
Idealis. Bukan tabiatnya kalau tidak memperjuangkan hak, sekecil apapun. Bahkan saat sebongkah batu raksasa menghadang jalan, Ia susah-susah menghujaninya dengan tinju sampai hancur. Keras benar isi kepalanya, sampai gunung tak sanggup membujuk.

Tapi, entah kenapa, untuknya dia luluh.

Dear Diary

"Kamu kok nggak menulis lagi?" kata teman-teman.
Ada banyak hal yang berlalu selama beberapa hari kita nggak ketemu dan akhirnya ini momen yang tepat untuk kita bicara. Aku udah lupa gimana rasanya jadi sanifa, mungkin karena terlalu banyak ngomong sama orang sehingga waktu membaca tulisan dalam hati itu bukan suaraku tapi suara mereka. Aku juga lupa caranya nulis.
Kemarin lusa, aku berada di suatu titik yang senang tapi sedih. Antara kuat dan lemah kayak tauwa. Lupa gimana, akhirnya bertanyalah aku pada salah satu teman via chat tentang harinya. Aku lupa dulu sering bilang "how's life" ke siapa dan siapa yang duluan mulai, tapi kemarin waktu aku tanya ke temanku yang ini sebut saja Melati, tetiba saja rasanya teramat sedih.
Dia bercerita panjang lebar tentang harinya, hangout bersama keluarga dan beberapa konflik ngambek-ngambekan sama adek sepupunya.
Aku lupa siapa orang terakhir yang nanya gimana hariku lalu berkhir dengan kuceritain panjang lebar tanpa ada…