Kuliah Sci-fi

May 24, 2018

Kuliah Congenital Heart Disease dr. Habibie membuatku menyadari bahwa ada banyak hal di dunia ini yang lebih penting dan lebih seru daripada bermain.

Pede Saja

May 18, 2018

Kunci dari belajar adalah dirimu sendiri.

Menurutku, pemahaman adalah hal yang lebih tinggi derajatnya dibanding nilai bagus. Dan setiap orang memiliki cara masing-masing untuk memahami sesuatu. Ada baiknya bila sistem penilaian tidak didasarkan kuantitas, tapi kualitas pemahaman muridnya. Sayangnya, hal ini terlalu abstrak untuk diwujudkan bagi 200++ murid satu angkatan sehingga penilaian dengan angka (maupun huruf, yang sebenarnya sama saja cuman biar terkesan "bukan angka") masih menjadi favorit. Karena, kalau dibuat isian nanti murid bingung bagaimana mengerjakan ujiannya. Kalau dibuat lisan nanti guru bingung bagaimana mengatur waktu dengan keluarganya.

Selama ini, ujian praktikum yang paling membuatku tidak ngerti harus ngapain adalah anat. Kalau cuma menghafal saja mungkin mudah bagi sebagian orang, namun sepertinya ada yang salah dengan neuron-neuron di otakku sehingga untuk menghafalkan suatu hal tertentu aku harus tahu jalan ceritanya. Anat, dalam kasus ini, adalah mata ujian praktikum paling tidak bisa dikarang ceritanya sehingga selama ini aku berpikir bahwa hal ini sangat menguntungkan orang dengan kemampuan menghafal mati.

Tapi, ternyata aku salah.

Suatu kunci yang baru semester tua ini kupahami adalah bahwa aku bisa memahami anat dengan baik melalui :
1. Membayangkan letaknya
2. Mengorelasikannya dengan klinis
Misalnya saja, ketika mengetahui bahwa Aorta descendens pars abdominalis nanti bercabang menjadi Truncus Coeliacus, A. Mesenterica superior dan A. Mesenterica inferior, aku harus tahu letaknya agar bisa membayangkan sebenarnya dia berada di mana. Dalam hal ini, aku berterimakasih pada pencipta youtube dan para konten kreatornya.

Dan bagaimana aku bisa menemukan bahwa youtube bisa sangat berguna adalah dengan mencoba.

Dan apabila aku hanya selalu berada dalam bayang-bayang belajar teman-teman, mungkin aku tidak bereksplorasi.

Bu Risma

May 15, 2018

Kadang, saya merasa hina karena kegiatan cuma belajar saja mengeluh.
Kadang, saya merasa jahat saat di sini masih bisa tertawa.

Bu, Ibu sekarang sedang apa?

Iman

May 12, 2018

Mungkin ada benarnya bila kita hidup di dunia bisa diibaratkan sebagai sebuah trial version saja. Ada fitur-fitur yang tidak bisa kita akses, ada tenggat waktu sampai masa percobaan berakhir. Kalau sudah waktunya, kita cuma bisa memilih untuk membayar, atau mencari tautan unduh ilegal?

Mungkin kita cuma bidak-bidak catur di papan permainan, atau karakter-karakter The Sims yang diciptakan karena bosan. Kalau menaruhnya demikian, pemikiran akan kebebasan yang kita inginkan seperti bukan sebuah kemewahan lagi. Kita memang diciptakan untuk mengabdi, pada apa atau siapapun itu. Tidak bisa tidak.

Ada kalanya aku merasa manusia-manusia itu telah dipermainkan. Bagaimana bisa kita diminta mengucap janji, lalu dibuat lupa, lalu dituntut menepati janji yang telah lalu? Dan aku percaya bahwa hidayah akan datang apabila Dia menghendaki. Dan bagaimana bila Ia tidak menghendaki? Ini seperti sebuah pengadilan dengan segala kesaksian yang benar, namun hanya keputusan hakim yang berhak menentukan masa depan terdakwa.

Cuma iman yang benar yang dapat menyelamatkan kita. Sayangnya, kita hanya manusia yang seringkali salah meletakkan kepercayaan.

Apakah semua akan sama saja apabila kita berusaha? Seorang yang tidak belajar bisa jadi akan mendapatkan nilai yang lebih baik apabila Ia belajar. Kalimat tersebut valid apabila faktor-faktor lain seperti keberuntungan dan perlakuan menyontek dihilangkan. Tapi, dalam hidup, akan selalu ada banyak variabel yang membuat kita tidak bisa tahu darimana petunjuk akan datang. Dan tidak bisa selalu putih atau hitam. Semua abu-abu.

Apakah dengan berdoa kepada Tuhanku, doa itu akan bisa sampai ke Tuhanmu?

Omeprazole

March 25, 2018

Jadi, begini ceritanya kawan.

Sebagai seorang anak manusia berkehidupan normal, setiap bulan aku mendapatkan uang saku dengan besaran sekian untuk menunjang gaya hidup. Uang saku yang jarang bertahan lama di sakuku itu digunakan antara lain untuk makan, minum, membeli bensin, membeli barang-barang yang diinginkan, bermain, membeli kebutuhan bulanan, membayar ongkos gojek, menabung, bersedekah, dan juga membayar bapak-bapak parkir di tempat nongkrong.

Mungkin, apabila aku adalah gadis remaja yang tidak banyak mau dan tidak banyak bermain maka sumber pemasukan yang cukup sekali per bulan itu sudah cukup. Sayangnya, setiap bulan ada saja kebodohan-kebodohan berulang demi barang-barang tidak penting seperti bando untuk memakai make up hingga dua jar aloe vera dari korea yang tidak cocok (investasi gagal).

Sebagai seorang yang sangat toleran terhadap kemaslahatan diri sendiri dibanding umat tentu memenuhi kebutuhan quarter (saking tidak pentingnya) adalah hal yang boleh. Namun, sebagaimana cinta, tentu ada yang harus dikorbankan.

Aku paling malas makan karena apabila tidak makan pun manusia tidak langsung mati. Sekalian juga agar sel-sel tubuhku merombak apa yang mereka timbun supaya aku tidak perlu membayar tarif gym untuk mendapatkan tubuh ideal. Namun sepertinya hal itu tidak berlangsung lama karena otakku sepertinya berjenis kelamin remaja bossy sehingga perintah-perintahnya amat dipatuhi oleh orkestra hormon pemicu rasa laparku. Aku makan tiap lima menit sekali, tidak peduli itu ekstrak minyak dari tahu bakso maupun kubangan micin dari kuah soto.

Alhasil, selain tubuhku yang membengkak, tagihanku juga. Kemudian saat ini setelah memasuki akhir bulan ada baiknya bila anak kos kembali pada kodratnya mengonsumsi indomi. Tetapi karena makan makanan tidak sehat dan sistem gastrointestinalku serapuh bulu-bulu sulak sejak kecil maka voila kami (aku dan sel-sel di tubuhku) hampir tidak bisa makan apa-apa saat ini.

Begini, kawan. Mari kita menjadi manusia perhitungan dan menghitung biaya yang mungkin dikeluarkan oleh remaja penuh keinginan bertualang tiap bulannya :

1. Biaya makan
Dibutuhkan tiga kali makan besar untuk tetap sehat wal afiat dan mari membaginya sesuai skenario yang mungkin
a. Sarapan
Karena jadwal perkuliahan dan sedikit tempat makan yang sudah buka di pagi hari, dan mengingat sarapan adalah penting maka anggaran sarapan harus ada dan kira-kira sebesar Rp10.000,00
b. Makan siang
Adalah yang paling rentang diskip oleh karena kantin pasti penuh sayangnya lapar, namun mari kita anggarkan Rp10.000,00 ceritanya makan di warung seger
c. Makan malam
Ketika sudah nyaman di dalam kos dan malas keluar namun menginginkan asupan cemilan maka biasanya biaya melonjak namun ingat kita tidak boleh makan malam terlalu banyak karena nanti akan gendut jadi mari anggarkan Rp20.000,00

Maka, dalam lima hari dalam seminggu kira-kira pengeluaran untuk makan adalah Rp40.000,00 x 5 = Rp200.000,00 yang mana sebulan akan menembus angka Rp800.000,00. Lalu ditambah dengan biaya makan fancy ketika hari libur taruhlah Rp60.000,00 x 8 = Rp480.000,00 maka sebulan kita akan menghabiskan total biaya untuk makan sebesar Rp1.280.000,00.

2. Biaya bensin
Dalam perjalanannya mengantar ke kampus-kos-mall-kos-kampus-tempat makan dan begitu terus berlanjut, Bryan membutuhkan paling sedikit Rp100.000,00 Pertalite per minggunya. Maka apabila kita hitung bersama pengeluarannya adalah sekitar Rp400.000,00 sebulan (tidak termasuk biaya Field Lab).

3. Kebutuhan bulanan
Pada dasarnya, kebutuhan bulanan meliputi sabun, shampo, sikat gigi, odol, wipol, porstex, rinso, downy, sunlight, sabun cuci muka, dan kebutuhan lain yang biasanya dibeli di luwes. Apabila kita menyingkirkan jajanan dan barang-barang yang kepingin di beli saat melihatnya maka kebutuhan tersebut bisa di rata-rata Rp200.000,00 per bulan. Meski demikian, angka ini bisa ditekan dengan cara berbelanja bulanan ketika mama datang saja.

4. Pulsa
Meskipun ada wifi, pulsa tetap dibutuhkan karena kita tidak bisa bergantung pada hal yang fana seperti wifi. Oleh karenanya pulsa dengan hitungan Rp2.000,00/hari maka total Rp60.000,00 per bulan untuk paketan 200MB sehari.

5. Galon
Membeli galon adalah sebuah wacana dalam hidupku selama ini namun bila dihitung-hitung galon dengan pemakaian sedang akan bertahan selama satu minggu, dengan tarif Rp17.000,00 per isi ulang galon berarti Rp68.000,00/bulannya.

6. Menonton di akhir pekan
Adalah sebuah keinginan untuk melepaskan diri dari belenggu kepalsuan maka tarifkan saja Rp85.000,00 per bulan (sekali nonton + popcorn)

Apabila demikian maka biayanya sebenarnya hanya Rp2.093.000,00 saja perbulannya. Bahkan itu sudah termasuk menonton dan kebutuhan bulanan yang bisa dicut karena sebulan belum tentu odolku habis. Mengetahuinya begini membuatku termotivasi untuk terus berkarya dan tidak kepingin macam-macam.

Sudan

March 22, 2018

Sejak SD, aku selalu penasaran bagaimana rasanya menjadi umat manusia yang menyaksikan burung Dodo punah kala itu. Apakah burung Dodo memang benar-benar punah atau sebenarnya ada satu yang masih berkeliaran di pelosok hutan entah mana. Apa benar-benar sudah dicari? Tapi, aku mau lebih fokus ke rasa tanggung jawab manusia. Apa manusia tidak merasa bersalah atau apa. Membayangkan melihat seekor burung Dodo terakhir mengangguk sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya membuatku emosional. Apa tidak ada rasa frustasi dan ingin marah, lalu bilang pada sesama manusianya di jaman itu, "Lihat, berkat keserakahan kalian, anak cucu kami jadi tidak bisa melihat burung Dodo selain ilustrasi lucu di Phineas and Ferb."

Kemudian, tiba-tiba saja, Sudan, seekor badak jantan terakhir dari spesiesnya, mati tiga hari yang lalu. Ia meninggalkan dua anaknya yang sama-sama betina. Kirain, di tahun 2018, dengan teknologi yang sudah secanggih telepon selular bisa berenang, satir-satir bergambar di majalah Bobo yang dulu sering kubaca tentang anak-anak masa depan tidak akan melihat hewan selain dari ensiklopedia adalah cuma dongeng. Bukannya ada teknologi bernama bayi tabung?


"Photo by @amivitale. In December 2009, I heard about a plan to airlift four of the last Northern White Rhinos from a zoo in the Czech Republic back to Africa. It sounded like a storyline for a Disney film but in reality, it was a desperate, last ditch effort to save an entire species. Back then, there were only eight of these gentle, hulking creatures alive, all in zoos. This image is one of the rhinos leaving the zoo forever on a cold, snowy night. They landed and were brought to roam “free” on the savannas of Kenya at Ol Pejeta Conservancy (@olpejeta). The hope was then to breed them. The air, water, and food, not to mention room to roam, might stimulate them to breed—and the offspring would then be used to repopulate Africa. On March 19th, Sudan, the last living male Northern White Rhino passed away. He lived a long, healthy life at the conservancy and died surrounded by people who loved him after suffering from age-related complications that led to degenerative changes in muscles and bones combined with extensive skin wounds. Sudan has been an inspirational figure for many across the world. Thousands have trooped to Ol Pejeta to see him and he has helped raise awareness for rhino conservation.
Research into new Assisted Reproductive Techniques for large mammals is underway due to him. The impact that this special animal has had on conservation is simply incredible. And there is still hope in the future that the subspecies might be restored through IVF. Support this important work: http://donate.olpejetaconservancy.org/projects/sudan 
Poaching is not slowing down, and it’s entirely possible, even likely, that if the current trajectory of killing continues, rhinos, along with elephants and a host of lesser known plains animals, will be functionally extinct in our lifetime. 
@natgeo @natgeocreative @olpejeta@kenyawildlifeservice @thephotosociety#LastManStanding #SudanForever#WorthMoreAlive #OlPejetaRhinos#NorthernWhiteRhinos #protectrhinos#DontLetThemDisappear #rhinos#saverhinos #stoppoaching #kenya#northernkenya #africa #everydayafrica#photojournalism #amivitale @nature_org#thelastmanstanding @Nature_africa@safari_park_dvur_kralove" -@natgeo

Jadi begini rasanya jadi umat manusia waktu burung Dodo punah kala itu. Entah di ujung dunia sebelah mana burung Dodo terakhir menghela napas, manusia yang ber-UKM saja tidak mau sepertiku cuma menitikkan air mata dan menulis cerita di laman blog pribadi miliknya. 

Mengantre

February 25, 2018

Ini sudah kali entah ke berapa antreanku diserobot orang. Mostly ibu-ibu atau bapak-bapak, yang barusan ini seorang bapak yang sudah beruban dengan tindik perak gede banget di telinga kirinya. Beliau memang cuma beli dua botol air mineral dan aku bawa satu keranjang, jadi oke ajalah kumaklum karena mungkin buru-buru. Eh kok tiba-tiba doi minta tambah rokok, ambil permen, dan barang-barang lain selagi barangnya dihitung sama mbak-mbak kasir. Kan ya resek, ya? Tapi kayaknya mas-mas indomaret satunya yang lagi benerin roti ngeliat kalo ada salah satu customer-nya yang melototin bapak-bapak resek di depannya dengan intense sehingga kasir yang semula dibuka satu jadi buka dua-duanya.

Kejadiannya sama persis waktu itu, malem-malem dan hujan. Yang ini ibu-ibu, yang juga cuma ambil beberapa barang aja. Tapi waktu itu aku juga cuma mau beli aqua 1,5L karena galon di kosan abis. Terus ibunya pake bayar rekening listrik juga, otomatis jadi lama?

Aku sudah berbaik sangka bahwa mungkin beliau-beliau lagi terburu-buru, entah anaknya sakit di rumah atau seterikanya lupa dicabut, atau memang baris antrean di kasir indomaret terlalu abstrak sehingga cukup membingungkan mau baris di belakang orang yang mana, atau mungkin aku adalah seorang gadis dengan kekuatan super yang membuat tubuhku tak kasat mata.

Aku cuma ingin bilang saja kalau diserobot antreannya itu tidak enak.