Pos

Ada Rezekinya Masing-masing

Gambar
Sepulang sekolah, saya asyik ngerumpi sama teman-teman yang raganya agak jauh di sana. Besok praktikum dua, sambil buka-buka buku buat ditulisin rencana kerja. Tiba-tiba ingat, tadi pagi ada pengumuman nilai pretest suatu lab yang agak abstrak. Lalu saya curhat.
Alkisah, ada seorang anak. Dia yang dikenal sama teman-teman di sana, makanya kadang kuceritakan ke mereka. Lalu ternyata dia itu anaknya yang kayak cuma ada di buku cerita, teladan gitulah intinya. Padahal ku ya cuma bilang aja, "Kesal dengannya karena nilainya bagus, tugas ga menyonto, padahal sehari-harinya amat sibuk, organisasi jalan" dan lain sebagainya. Memang beliau tampaknya hidupnya lurus-lurus saja, belum pernah kelihatan remed (setiap ujian kan ada nilainya terpampang nyata dengan nama dan nim di sebelah kirinya), tapi juga amat berdedikasi dalam aktivitas non akademiknya, juga memenuhi hak-hak tubuhnya dalam berjumpa Tuhannya. Seseimbang itu, kok bisa.
Namun, tetiba saja, pas setelah selesai mengetik cu…

Menjadi Siapa-siapa

Tulisan ini saya buat karena saya gatal melihat kata-kata "orang keren" bertebaran di mana-mana sampai kehilangan maknanya.

Hai.

Apa harus jadi aktivis ini itu dulu, baru bisa dibilang keren?
Tapi, tunggu.
Kenapa harus jadi "keren"?
Sebenarnya kamu membawa misi apa, sih. Kemakmuran dirimukah, kebanggaan tujuh turunan, masa depan yang mapan, suara yang didengar, jaringan luas agar bisa dimasukkan dalam kolom SWOT di CV sebelum melamar kepanitiaan yang cuma kecil saja? Atau upgrading diri agar lebih baik di depan khalayak, lebih baiknya ini tujuannya untuk apa juga, agar bisa menginfiltrasikan pemahamanmu, membawa seru-seruan, memengaruhi sekitar? Kamu merasa mampu menjadi tonggak, pentolan dari grup kecil hingga besarmu, bertanggung jawab atas segala yang kamu pikir, katakan dan perbuat, apa yang kamu yakini. Untuk mendapat tempat di masyarakat? Yang didengar, yang dipandang, yang penting? Atau cuma sebagai ajang pembuktian bahwa kamu yang lebih dipilih dari teman-t…

Berkeluh Kesah

Kemarin kapan itu, aku membatin. Karena salah satu temanku disuntik lalu menangis. Beberapa hari kemudian, waktu mau diambil darahnya buat praktikum lab pk, ternyata aku ragu juga. Aku bakal menangis tidak, ya?
Boro-boro disuntik. Ternyata, cuma panas saja sudah menangis. Kalau pas itu ada salah satu temanku yang upload foto bersama pacarnya dengan caption "Kamu adalah yang menyebabkan aku takikardi", kukasih tahu ya, takikardi itu rasanya nggak enak. Lebih tidak enak lagi kalau kamu tidak tahu sebabnya.
Ada sedih-sedihnya kalau sakit jauh dari orang tua. Gimana cara bilangnya? Malah gopoh seisi sancaka dimintain tiket go show pagi-pagi sama mama. Sepertinya ada suatu sawar darah otak yang menyawari segala macam komponen darah, jadi seperti muncul purpura di mana-mana sehabis ruku', padahal nggak. Iya, dunia berputar, tapi dunia lebih berputar sampai nggak bisa didefinisikan. Selebihnya cuma khawatir kalo nggak bisa pulang, banyak khawatirnya kayaknya, jadi nangis.
Ini …

SBMPTN

"Apa aku coba lagi aja ya, Bil?"
Beberapa waktu lalu, saya juga mengalami percakapan serupa dengan Timothy. Untungnya Allah segera mengirim sinyal positif tentang keberadaan saya di sini. Dulu juga begitu, waktu tanya pada Bila. Tuhanku memang tidak menyampaikan dengan tulisan melayang-layang yang tiba-tiba muncul di udara, maupun segala jenis mejik yang nggak disangka-sangka. Dia cuma menyampaikannya dari Bila, sampai Bila bilang "Aku lho ingat fa waktu dulu pengumuman kamu hilang sampe lama tak pikir kenapa-kenapa ternyata ngekhatamin."
Waktu masuk 25% siswa paling "beruntung" se-Smala, saya sempat down sedikit di pendopo waktu itu. Sedikit aja, sih. Ya, rasanya cuman kayak orang ditolak aja mungkin. Waktu sampe mobil dan bilang ke mama apalagi. Rasanya kayak diiris-iris karena gagal jadi anak yang membanggakan. Ditambah lagi dulu izinnya ikut tetek bengek segala macem karena "Memperbesar kesempatan dapet jalur undangan, ma," ya tentu saja se…

The Dancing Blood

Helo.
Saya merasa egois karena melihat permasalahan dari satu sudut pandang saja, seperti bahwa cuma saya yang benar. Cuma karena saya tidak mau dengar lagi tentang keresahan, dan saya rasa semua orang harus jadi tidak resah dengan jalan yang saya lalui, mungkin demikian.
Setelah itu, saya tidak menyesal untuk meninggalkan dia pada tangan Yang Maha Kuasa, karena tangan saya terlalu kecil dan terbatas untuk dapat melindunginya dari apa yang akan melukainya.
Bicara tentang terlalu banyak bicara, saya bukannya mau ngomong apa, cuman saya rasa sedikit bicara dengan orang yang mengerti adalah keajaiban, dan sedikit bicara dengan orang yang tidak mengerti adalah ujian. Pemakaian kata sedikitnya saja sudah beda. Bisakah orang merubah siapa yang akan mengerti dia dan yang tidak?
Bumi berputar, tapi tidak dengan isi kepalamu. Alhamdulillah Tuhan masih memberi saya kesempatan mempelajari apa yang menurut saya sangat indah, dan semoga Tuhan selalu memberimu petunjuk. Ini bukan tentang di mana k…

Maybe one day I'll fly next to you

Sewaktu kami pergi bermain di salah satu pusat perbelanjaan di daerah Ir. Soekarno, saya kaget mendapati momen-momen berserakan di sepanjang saya melangkah.
Kamu ada di tempat karaoke, di mainan pencet-pencet dino, di balik gantungan baju-baju metro, bahkan waktu kemarinnya di jalan sepulang kami menonton film dan saya menghadapi situasi yang berat, kamu ada di sana membisikkan "Tarik napas, tenang aja." seperti waktu itu, waktu saya tidak bisa mengontrol rasa panik ansambel.
Saya hampir tenggelam, maka ajaib bila tiba-tiba muncul telepon dari Laras. "Hai beb," kata Timothy. Di depan kedai Korean puff saya cuma bisa menahan ketawa sambil semua cekikikan di seberang sana. "San, kapan ke sini?" berikutnya tanya Laras. Dan percakapan berlanjut singkat karena saya nggak tahan harus ngomong keras-keras di depan bapak-bapak yang kakinya diangkat sambil sepatunya dilepas.
Sederhana saja : saya tahu saya akan baik-baik saja bersama kalian, dan kamu juga di sana …

Fil 'Ardhi

Jangan khawatir, Mak. Anakmu sudah dapat kue dan ucapan selamat datang dari usahanya berbuat kebajikan, semoga jadi amal di sisi Tuhannya.
Ternyata, berbuat kebajikan itu seperti bernapas. Kita tidak selalu sadar. Menunggu paket dengan sabar adalah kebajikan, menyelot pintu gerbang saat masuk dan keluar juga kebajikan. Senyum mungkin sudah tidak lagi sesederhana ketika pulang sekolah masih bisa nemani mama nonton si boy, tapi juga kebajikan. Tebar, ditebar saja kebajikannya. Mana yang memperberat amal kita nantinya.
Sok alim kamu. Tidak modern alias konvensional! Urusan agama jadi sensitif, seperti ibu nyai atau pak kyai. Padahal, ya, padahal saja. Tidak perlu menjelaskan karena yang menyukaimu tak butuh itu dan yang tidak menyukaimu tak mau tahu. Kalau bisa menulikan indera saat mendengar cemooh tentang baju kamu yang tidak modis, tentu kamu bisa hingga menutup kedua mata saat coba dijatuhkan dari usaha menjadi baik. Yang menjadi baik kamu, yang menilai bukan kamu, apalagi mereka. T…