Listen

January 09, 2018

Bapak Nasgor
"Bpk sudah di dpn," begitu bunyi smsnya setiap kali nasi goreng + telur ceplok ibu-ibu di belokan diantar dengan ekslusif oleh suaminya ke kosku. Aku sudah siap dengan jaket, rok, kerudung dan kaos kaki yang tidak sama warnanya antara kanan dan kiri tapi toh sudah malam dan nggak akan ada yang lihat. Waktu sudah sampai gerbang, ada dua motor. Ternyata satunya babang gojek.

"13" kata bapaknya sambil menyodorkan kresek bening. Tanganku penuh dengan gembok, kunci Bryan dan dompet sehingga mengambilnya butuh waktu lama. Sambil merogoh-rogoh dua ribu aku ndlap-ndlup. Kemudian bapaknya bertanya, "Masuk angin mbak? Sama hehe." Aku merasa jadi orang paling diperhatikan di muka bumi. Tapi itu masih dilanjutkan lagi sama bapaknya,
"Kok nggak pulang?"
"Hehe iya pak ada acara,"
"Rumahnya Surabaya kan? Ini mbaknya yang punya masih di sini apa di Jogja?"
"Mbak Tifa di sini,"
Aku pun bertanya-tanya apa logatku terlalu kasar untuk jadi bocah Solo.

Mbak-mbak di ATM
Setibanya di Plaza, aku memutuskan buat ambil uang dulu. Dari banyak mesin ATM berderet-deret, cuma satu yang ada orangnya lagi ambil duit dan itu adalah mesin ATM yang kutuju. Oleh karenanya aku menunggu. Mbaknya cukup fashionable, dengan kerudung dan pakaian yang rapi. Kutebak usianya sekitar 25an, mungkin punya olshop. Juga tampaknya terburu-buru, sampai lupa receipt-nya nggak diambil. Lalu, aku mengambilnya. Maunya sih langsung kubuang, tapi, kelihatan saldo sembilan digit di kanan bawah. Aku merasa agak iri dan ingin jadi pengusaha saja.

Pak Satpam Palur Plaza
Ada jalan lumayan lebar yang memisahkan antara tempat parkir dan plazanya. Jalanan kosong dan berair, tapi bapaknya tetap berdiri dan menyemprit-nyemprit waktu aku menyeberang. Waktu aku kembali juga. Akhirnya, waktu mau pulang aku buka jendelanya dan kusapa keras-keras, "Makasih pak!" dijawab, "Mari-mari mbak!"

Mbak-mbak KFC
Mbak-mbak KFC lagi memasukkan nasi-nasi ke dalam rak penghangat di bawah etalase ayam. Aku tidak memanggil "Mbak," atau "Permisi," karena aku adalah orang yang sabar. Ada poster ayam dengan saus cokelat, ayam dengan saus keju, pizza ayam, dan sebuah informasi ramah menampilkan gambar seorang mbak-mbak KFC yang lain, melakukan gerakan Prayer test, bertuliskan besar-besar "Bila kami tidak melayani dengan senyuman makanan Anda gratis.". Tentu sudah terbayang gaji siapa yang dipotong untuk menraktir makan malamku kali ini bila mbak-mbak yang sudah sering ketemu itu tidak tersenyum. Beliau tersenyum. Manis, tapi lelah.

Kamu
Terima kasih sudah membaca. Aku rindu kamu juga. Tapi aku sudah tidak tahu mau menulis apa. Mungkin karena duniaku jadi lebih sering berputar di satu titik, jadi aku tidak memperhatikan dunia indah yang lain. Aku senang bisa menulis malam ini, karena diamku aku bisa bercerita tentang mereka. Memang cukup rancu antara diam atau bersedih, seperti ketika kamu bersedih maka kamu akan mendengarkan lirik lagu dan ketika senang kamu akan menikmati ketukannya. Mungkin karena aku bersedih, aku mendengarkan sekitarku.

Siapa juga yang bersedih.

Oh iya, The Greatest Showman bagus. Banget. Parah. Selamat liburan gais.

M. tuberculosis

December 11, 2017

you know you're screwed when you baca huruf "m" di M. tuberculosis sebagai musculus.

untung belum muhammad ajasi.

Metastasis ke Limfonodi di Ketiak

December 06, 2017

Satu-satunya hal yang kamu inginkan setelah divonis berpenyakit mematikan dan harapan hidup tinggal menghitung hari oleh dokter adalah bangun dan mendapati itu cuma mimpi.

Aku melihatnya, dengan sangat nyata, ketika kami di rumah sakit dan bahkan ada Fritz di sana. Ada mas-mas aslab yang aku lupa siapa. Ada udara yang menggantung. Itu ketika aku di Surabaya. Ada tante-tante yang membelikanku masker karena menyebar lewat virus. Ada saat waktu aku berpikir, mungkin kemarin-kemarin waktu dua kali aku menulis tentang kematian di blogku itu adalah pertanda kabar ini. Ada benjolan. Ada mata Mama yang berkaca-kaca.

Kami membaca kitab suci. Aku ingat kata-kata dr. Ana Rima spesialis paru saat kuliah onkologi di blok respirasi, tentang ketika waktu hidup pasien sudah bisa diperkirakan dan mereka tetap tersenyum karena tidak lagi marah-marah namun sudah ikhlas menerima. Waktu itu, aku sudah sangat ikhlas. Aku berdoa. Aku bahkan menenangkan mas Theo yang menangis karena tidak tega. Bahkan aku tidak kenal dekat dengan mas Theo.

Lalu, alarmku berbunyi. Keras sekali.

Bukan Kata Semangat

December 03, 2017

Salah seorang temanku yang hebat menulis tentang kerinduannya pada orang tuanya yang sudah meninggal dan menasihati teman-teman di sosial media agar memanfaatkan waktu bersama orang tua mereka sebelum mereka tiada.

Kalau aku jadi kamu, aku tidak menulis kata semangat di kolom komentarnya.

Pakde

December 02, 2017

Satu hal yang mengerikan ketika kamu beranjak dewasa adalah ketika orang-orang di sekitarmu yang sudah dewasa juga semakin bertambah usianya.
Yang dulu ketika kamu kecil, mereka selalu ada di sana untuk sekadar membelikanmu jajan atau mengajakmu jalan-jalan.
Ketika kamu masih tidak mengerti jokes yang saling mereka lontarkan, tapi kamu bahagia karena mereka juga bahagia.
Lalu, ada banyak komplikasi yang menyertai fungsi tubuh yang sudah tua. Seperti memanen tabungan di masa muda. Atau, memang dengan cara itu Tuhan mempermudah mencabut nyawa?
Aku tidak tahu bagaimana nanti jadinya ketika aku sudah cukup tua untuk melihat teman-temanku satu-satu berpulang atau ompong giginya. Apakah saat itu aku akan bertanya, giliranku kapan?
Meskipun sebenarnya umur kita nggak ada yang tahu. Tapi, semua cerita tentang teman-teman ibuku yang mengalami hal ini dan itu membuatku sadar betul bahwa ketika aku beranjak dewasa, orang tuaku juga.

Tidak banyak sosok laki-laki dewasa dalam hidupku. Tapi, aku selalu bisa menemukan figur ayah dalam dirinya. Ini untuk seorang pria humoris di sana, suami yang mencintai keluarganya, ayah yang bertanggung jawab, sosok yang menginspirasi. Bahkan ikatan kebaikan lebih kuat dari keluarga. Terima kasih, Pakde.

p.s : Boleh aku memintamu mengirim Al-Fatihah?

Throw-gic

November 28, 2017

Mungkin begini rasanya tinggal di London kalau lagi hari hujan. Untung tadi aku nggak jadi mencuci. Kalau jadi, sudah apek dia nggak kena matahari sama sekali.

Barusan aku dipukul temanku dengan bantal karena sudah mengingatkannya pada masa lalu, waktu dia masih bersama seseorang. Padahal, aku cuma mendengarkan dia bercerita panjang lebar. Aku sangat suka mendengarkan orang-orang bercerita dari sudut pandang mereka. Selalu bisa membuatku terkejut dengan hal-hal yang nggak pernah kupikirkan sebelumnya.

Entah kena apa tadi aku, setelah mendengar sebuah lagu, kemudian bertanya seperti waktu tutorial saja : "Kenapa dia mau dicintai sampai sakit?" lalu dijawabnya dengan jawaban paling positif yang bisa dia pikirkan, "Mungkin karena mereka nggak bisa berpisah kecuali ada yang tersakiti." Aku senang imajinasi dan keanehan yang terproyeksi di otakku terbalaskan, tapi sebenarnya... that was deep, man.

Dengan memakan Cadburry Dairy Milk Black Forest malam ini, aku ingat dulu pernah ada yang suka memberi. Aku percaya bahwa dibalik kedinginan yang kurasakan saat derajatnya 24 dan kepanasan  yang teramat sangat bila dia jadi 25 pasti ada secercah harapan dan maksud yang membangun.

Mungkin temanku itu sekarang sedang menangis di bawah guyuran shower di malam yang dingin ini.

Menuju Hari Natal

November 24, 2017

Ini hampir di penghujung bulan. Film-film yang bisa kutonton gratis di web adalah tentang keluarga. Lalu, ada dekorasi merah dan hijau yang gemerlap di pusat-pusat perbelanjaan. Apalagi dinginnya! Sebenarnya, itu cukup membuatku emosional.

Beberapa malam kami berbincang satu atau dua jam tentang keyakinan. Aku tidak bisa bilang bahwa itu seratus persen berbeda, dan di satu titik aku sering menyesali adanya perbedaan itu. Meski tinggal di negara yang bhinneka tunggal ika, tetap saja ini bukan satu dari banyak hal lain yang bisa disatukan, bukan? 

Aku pernah ingin menjadi sipit, lalu sekolah di sinlui. Biar bisa juara OSN atau pulang dijemput supir. Apalagi kalau bisa jalan-jalan ke GM pake hotpants. Kadang juga agar bisa beli buku anak-anak tentang peri yang luar biasa nggak penting di periplus. Ini sih, gara-gara dulu waktu SD ke gramedia dan hatiku yang rapuh harus kuat menahan perihnya rasa iri. Jadi, waktu sekarang orang-orang mengagumi 'keputusanku' untuk menghabiskan banyak duit di stationary autentik tapi mehong, aku kalem aja.

Dosa tidak ya, kalau aku suka hari natal?

Rasa-rasanya aku ingin minum-minum alkohol dan main bilyard. Tapi sebenarnya ya di kamar ini aku sudah minum-minum susu dan main harvest moon. Mungkin aku sudah kerasukan setan hedon. Atau perjalanan neuron sensorik menghasilkan impuls untuk menggerakkan ototku tersumbat dosa. Apakah ada anak yang sangat muda yang membaca paragraf ini? Atau ayah dan ibu yang khawatir dengan pergaulan anak jaman now? Tolong, ambil yang baik dan buang yang buruk.

Suatu hari nanti, aku ingin berhenti jadi luntang-luntung yang tidak menghasilkan apa-apa. Mungkin aku bisa memulainya sekarang dengan live the day.