Greetings, My Friend

Pagi ini cukup cerah. Semalam hujan deras tapi sedikit petirnya. Aku terjaga sampai larut malam, karena sekarang berbicara tak perlu melulu bertatap muka. Banyak hal yang dibicarakan, dan tak sedikit di antaranya berupa pertanyaan-pertanyaan menggelitik dan kritis yang muncul lagi muncul lagi. Sampai aku menyadari ada yang kurang tepat dengan postinganku malam itu.
Berawal dari sebuah kabar yang berdesing di telinga tentang kondisinya waktu itu. Kebetulan, pertanyaannya hampir sama dengan yang kutanyakan akhir-akhir ini. Aku melalui angin kering dan basah karena hujan untuk jawaban, tapi tak pernah benar-benar mendapat yang terkuat. Tahu kan, bagaimana bertahun-tahun yang lalu aku begitu iseng bertanya : Allah mengetahui segalanya, tapi mengapa Nabi Adam harus melalui kisah hidup di surga, makan buah khuldi, baru diusir dan hidup di bumi, kenapa tidak langsung diletakkan di bumi saja? selebihnya baca di sini
Kurang lebih jawaban yang menguatkan seperti itu yang kuharapkan, tapi hasilnya masih angka nol sih. Sepertinya hidayah-Nya masih belum sampai saat ini, waktunya belum tepat.
Tak banyak yang sebenarnya aku harapkan. Malam yang tenang dengan bintang-bintang jadi salah satu yang baik untuk kehidupan. Menjelajah hutan dengan sebotol besar susu dan seplastik biskuit, atau di lain waktu berbekal senter dan doa yang komat kamit. Aku tak pernah menyangka sejak kali pertama bertemu, rasanya aku baru saja berkenalan dengan dunia. Dunia yang bukan seperti apa yang aku inginkan, tapi dunia yang memberikan apa yang kami butuhkan. Kala itu aku masih belum bertanya seberapa jauh hidup ini bisa tenggelam lebih dalam. Kala itu, aku masih belum bertanya kenapa.
Ia dan aku mengalami proses yang sama. Mengapa hasilnya berbeda? Bukan pertanyaan sukar untuk dipikirkan jawabannya, yang membuatku menunjuk hakikat gelas kosong sebagai alasan. Aku diajarkan untuk menghargai perbedaan, bahkan dalam perlakuan sekecil apapun di keberagaman bangsaku. Seperti kemarin waktu perayaan hari natal, negeriku memang paling toleran kalau soal ini. Wakil presiden kita sendiri yang bilang.
Tapi, perbedaan yang tadi bukan yang memperkuat, bisa jadi salah satu yang membuatnya renggang. Atau setidaknya menimbulkan gejolak. Bukan aku tapi Ia yang menyekatnya jadi dua. Dan membuatku gatal untuk kembali bertanya kenapa.
Dan semua kisah panjang ini mengarahkanku pada keindahan bertanya kenapa. Asking why is much more important than how, they said. Alasan, adalah hal dasar, yang mendasari mengapa hal besar terjadi. Seperti mengapa Hitler menjadi sangat fenomenal melakukan pergerakannya. Atau mengapa manusia hidup di dunia dan malah menghancurkannya.
Mungkin memang berat melalui hal yang berat. Berusaha kupahami betapa rumit isi kepala Einstein yang baru dipakai sepersekian persen. Itu Einstein, ndanio awak dewe. Meskipun melalui yang sama ternyata kita tak pernah benar-benar tahu tentang beda. Aku tak dapat berkata tidak, tapi tentu tak mengiyakan. Ada sesuatu yang berbisik yang meneriakkan sangkalan. Tapi aku memang terlalu banyak bicara, bukan. Dan orang-orang akan mulai bertanya kenapa, sepertiku yang dengan kurang ajar menantang dunia. Aku harap kamu baik-baik saja dengan otak Einstein di kepala.
Sebuah ide tak bisa terwujud hanya, dan jika hanya, dengan memikirkannya. Untuk itulah, sebuah kekuatan sedang bergerak dalam kesunyian, mencekam, mengancam apa yang mereka tanamkan sebagai the queen bee dalam salah satu perjalanan kita. Jadi sekarang, apa yang dapat kita lakukan untuk mengapresiasinya?

Kenapa?

sudah nggak kehitung berapa banyak "kenapa" yang kulontarkan ke bela
sesuatu yang ia sebut sebagai cabang pemikiran nakal
yang seringkali kembali lagi kalau belum mendapat jawaban yang tepat
garis bawahi yang tepat
karena sudah banyak jawaban tapi masih tak memuaskan

dan yang kulewatkan adalah,
ternyata dunia bukan hanya tentang tanya "kenapa?"
tapi,
bagaimana kamu dapat menaklukkannya.

Keajaiban itu Bukan Suatu Kebetulan

          Dan, cinta sekali lagi membuktikan kekuatannya malam itu kalau cinta ada untuk cinta itu sendiri, bukan untuk dimiliki, bukan untuk Genta, bukan untuk Dinda, bukan untuk Riani, bukan untuk Zafran. Cinta memang ada untuk dicintai dan diungkapkan sebagai sebuah jembatan baru ke pelajaran-pelajaran kehidupan manusia selanjutnya. Cinta yang akan membuat manusia lebih mengerti siapa dirinya dan siapa penciptanya. Dan, dengan penuh rasa syukur akhirnya manusia menyadari bahwa tidak ada cinta yang paling besar di dunia ini kecuali cinta Sang Pencipta kepada makhluk-Nya. Tidak pernah ada cinta yang bisa dimiliki oleh manusia, kecuali cinta dari Sang Pencipta--yang tidak pernah berpaling dari manusia dan selalu mencintai makhluk terbaik ciptaan-Nya. Sang Pencipta tidak pernah memberikan apa yang manusia pinta, seperti cinta... Ia memberi apa yang manusia butuhkan.

...adalah sebuah paragraf utuh tentang definisi cinta paling masuk akal yang pernah tak baca. Siapa yang belum pernah baca 5 cm? Novel karya Donny Dhirgantoro yang emang udah dari jaman dulu kala terbit (dan diterbitin lagi sih) itu baru selesai tak baca hari ini. Iya, hari ini, baru beberapa menit yang lalu sampai di lembar terakhir. Kasep banget yes i know karena itu udah dari jaman kapan dan udah nonton filmnya jadi banyak yang nggak surprise tapi karena nggak ada yang namanya kebetulan--aku memang ditakdirkan menyelesaikan novel itu hari ini.

Dan ku bersyukur atas keajaiban yang diberikan Allah melalui celotehan mimpi Genta dan kawan-kawan sebagai perantara.

cukup lecek, tania minjem di perpus
Kalau bukan hari ini, mungkin keraguanku belum nyampek ke "jiwa yang bukan lagi melekat, namun ada rongga di antaranya dengan jasad.", yang dengan cemerlang dijawab dengan ulasan tentang 'manusia tanpa mimpi hanya seonggok daging yang punya nama'.
Kalau bukan hari ini, mungkin pemahamanku belum nyampek ke definisi cinta, yang dengan gamblang diutarakan di atas.
Kalau bukan hari ini, mungkin aku masih belum kepikiran untuk tidak ingin jadi dokter karena kuliahnya lama karena selak tua nanti soalnya pingin kuliah beasiswa di London. Tentu saja langsung membuatku bercermin pada Ian. 
Kalau bukan hari ini, mungkin nggak akan ada ceritanya mbaca di foodcourt gc sampek berkaca-kaca,
atau merinding di tengah hujan pas baca bagian sapaan Adrian dan jas almamaternya,
atau flashback petualangan di gunung setahun yang lalu, dan lebih-lebih membandingkannya dengan rasa bertualang di separuh kota tahun ini.
Kalau bukan hari ini, semuanya bakal berbeda.

Karena meskipun manusia punya pilihan, sebenarnya semua sudah ditakdirkan. ya kan?

Dan bila sekarang adalah bagian akhir dari sebuah episode Dora the Explorer, dimana Dora dan Boots berdiri beriringan untuk bertanya pada jiwa muda yang bahagia menonton di balik layar kaca, "Bagian mana yang paling kau sukai?"
Maka butuh waktu lama baginya untuk memberitahukan bagian mana,
karena semua telah menjadi bagian favoritnya.

Salah satunya, tentu saja ini :
Genta diam saja. Dia memang mulai merasa lelah sekali, tapi dia tahu kelima temannya ini mengandalkan dirinya, dia nggak boleh menurunkan mental mereka. Untuk sekarang Genta adalah pemimpin di rombongan kecil ini dan pada saat ini dia nggak boleh ngeluh, nggak boleh ngomong 'nggak tau', dan nggak boleh nggak bisa ngambil keputusan.

Aku masih ingat tentang bagaimana ketika dulu 'tampil' mengitari api unggun itu dengan konsep yang langsung jadi malam itu juga tanpa pikir panjang, mengajukan diri nomor satu pula. Tapi bermakna. Tentang bagaimana mimpi itu bukan lagi 5 cm melainkan sejengkal di depan keningmu (agar tidak terlalu nge-plek dengan ceritanya, sih). Dan, iya, aku tidak tahu tapi siapa yang menyangka seorang sanifa bisa berdiri di sana, untuk sekedar menampilkan drama Sejengkal bersama kelompoknya yang berwarna kuning?
Dan berlari curam yang penuh bebatuan untuk sampai di puncak? Dan jangan lupa berjalan jalan saat malam hari itu, iya, malam itu, aku ingat! Aku berdiri di sana di depan tanpa banyak cahaya (hanya satu senter kuning kalau tidak salah) dengan hati yang masih nggerundel karena hal-hal yang dirahasiakan mbak mas yang lebih tenang karena lebih tahu, dan hidung yang ingusan habis menangis tapi juga kedinginan. Malam itu dingin sekali, lalu memimpin jalan itu, jalan di tengah hutan yang gelap, yang menanjak, kamu percaya? Aku masih susah memercayainya.
Dan benar jika mereka berkata sekali ke gunung rasanya ketagihan, ingin balik lagi.

Ah, aku rindu.

Yang jelas, 5 cm berhasil mengarahkanku mencari muara pembenaran atas segala pertanyaan dan keraguan yang nyeleneh,
menghidupkan kecintaanku terhadap banyak hal terlebih pada tanah air,
dan mengingatkanku kembali pada semangat yang dulu pernah ada.


Negeri ini indah sekali...

Sebuah Nama, Sebuah Cerita

terkadang mencari barang senama saja yang familiar di deretan panjang orang-orang asing merupakan suatu hal yang : bersemangat dan penuh harap pada awalnya, namun meninggalkan after taste yang tak pernah senyaman itu.
orang bilang, kamu hanya tahu namaku, bukan ceritaku. dan siapapun yang memelopori opini tersebut di masyarakat patut mengapresiasi diri sendiri karena quotes-nya masuk jajaran tertinggi paling banyak dicari--dan dibuat lebih artistik dengan foto a la tumblr. tapi, bukan itu. kadang, dalam pemikirannya yang paling dalam, sangkalan dan tuduhan mengenai hakikat nama menjadi salah satu topik segar untuk diperbincangkan. tapi juga mbulet.
aku, mungkin termasuk di antara orang-orang yang percaya bahwa kepercayaan mampu merubah dunia. dan begitu juga dengan harapan yang terkandung dalam setiap nama yang dianugerahkan bagi suatu hal. mengapa tumpukan kayu itu bernama meja, mengapa tumpukan kayu yang lain disebut kursi, mengapa sendok dan garpu tidak tertukar. ada kalanya manusia berada pada titik terjauh pemikirannya hingga hanya sekedar memeriksa jawaban sehari-hari saja luar biasa sesak.
doa yang terkandung dalam nama memang seperti takdir yang melekat pada diri suatu jiwa. jiwa yang bukan lagi melekat, namun ada rongga di antaranya dengan jasad. mungkin itu lah yang menjadi salah satu faktor keindahan sepasang mata--mereka yang menjadi jendela jiwa melihat dunia. bukan sekedar dua buah indera yang tak ampun hukumnya meski tak berfungsi. jiwa menyapa jiwa melalui mata.
omong-omong soal indera, tak pernah menyangka bukan bungsu dapat menceritakan kisah lain tanpa dapat membuka rahang akibat sakitnya?
kembali pada topik nama, seringkali nama menjadi satu hal yang paling ditunggu kehadirannya. tapi, di sisi lain malah paling dihindari keberadaannya. sebuah nama, sebuah cerita. pada kalanya nanti yang akan menyimpan kemenangan atau kesedihan entah berapa lama.




Lagi-lagi Percaya

ketika kamu percaya akan rencananya-Nya,
yang kamu nggak tau bakal iya atau enggak,
yang kamu have no idea sama sekali,
tapi kamu percaya,
kamu cuma perlu mempercayainya,
tanpa tanya kenapa.

karena tiga tahun lamanya masih kerasa nggak masuk akal buat benar-benar jadi nyata
siapa yang nyangka?



throwback here

Untuk Mengucap Semangat Saja Enggan

aku begitu sibuk mengurus aku,
tapi menggerutu minta diurus mereka
padahal mereka yang terdiri dari banyak aku,
ternyata hanya sibuk mengurus aku
siapa yang mengurus aku kalau bukan aku?
benar,
tapi juga salah

tidak ada yang menghibur lebih baik dari keyakinan diri sendiri
tidak ada yang lebih mengerti daripada hati
tapi sejatinya, hati ini punya siapa?
manusia, kan, hanya meminjam saja

zaman sudah berubah, aku tahu
kami tahu
yang aku tidak tahu
bagaimana para leluhur menghadapi perubahan zaman
ambil saja contoh dari zaman batu hingga zaman perunggu
apa orang-orang zaman batu (yang masih hidup lebih lama) juga memprotes orang-orang zaman perunggu (cucu cucu yang lebih maju)?
apa mereka juga sama
ingin tetap teguh menggunakan batu?
atau dengan mudah menerima perunggu?
aku cukup bertanya tanya.

aku ini apa?
jiwa yang terperangkap dalam jasad manusia?

lalu,
aku harus bagaimana?


Angkara Peluh

sesuatu yang menyesakkan tulang rusuk yang rusak
menusuk patah keping ranting kering kehitaman yang sudah gugur
aku tahu ini bukan saatnya menjadi sok tahu
bahkan langit menertawakan lamunan pilu anak manusia
tak kunjung reda derai tawa diselingi hujan yang membiru

sombong, begitu kata mereka.

seandainya saja.

manusia punya bahu, tapi Tuhan punya alam seisinya.

dijejali earphone putih. akhir-akhir ini banyak lagu sering kupaksa marathon tak kenal henti. makanan? banyak, dan semua membuatku konsumtif. aku tidak tahu bagaimana seorang anak manusia bisa dengan egois menyebut "aku" di depan manusia lain yang sama makan nasinya. ada kalanya waktu tak dapat mengungkap misteri, hanya berlalu tak menjelaskan apa-apa. sulit rasanya melangkah tanpa keyakinan, dan bagaimana diri dapat meyakinkan bila diri orang lain tak menaruh kepercayaan? aku hanya terlalu banyak berpikir seperti si melan sampai tenggelam dalam kesempurnaan. sepertinya ingin menguncal sendal.

bukan saatnya menjadi hembusan napas dalam setiap kekhawatiran yang menguap. suatu imajinasi satu tahun yang tak dapat dibandingkan, namun juga tak dapat didiami sampai mati. aku tidak mengerti banyak hal, tapi aku tahu bertanya tak selalu menyelesaikan masalah. underestimate kemampuan diri untuk mendalami makna yang ada.

asal bicara.

aku termenung dalam gelap. sedikit menginterpretasikan cahaya yang memantul dari kaca tepat di depan mata sebagai siluet, yang hampir membuatku berteriak lupa. aku tak pernah menyangkal kekuatan yang diberikan suatu melodi tertentu yang dibisikkan lirih menapak gendang. momen yang menarik jiwa dengan paksa ke dalam kumparan lubang hitam yang menganga. tak selamanya lubang hitam itu kelam, mungkin bintang yang tertarik di dalamnya membentuk indah luar biasa. aku tahu sedikit tentang mimpi, tentang bagaimana ia melambungkanmu ke atas, hanya untuk membantingmu menembus maha dasar. tinggal bagaimana percaya pada pegas yang memantul di atas lapisan takdir terdalam.

dangkal. antipati jernih dengan ilmu yang tertahan di tengah jalan, menguak pintu jurang tiga tingkat.

Hati

kadang, beberapa hal bisa jadi sangat nggak terprediksi
sampai bahkan dirimu sendiri nggak bisa membaca dirimu sendiri.

sejak kecil aku sudah diajari membaca
tapi memang sudah paling susah kalau membaca hati.

hati manusia berubah-ubah, kadang senang kadang sedih.
bahkan kadang ada saatnya dimana hati terlalu serakah untuk hanya menentukan satu rasa saja yang diterjemahkan otak.

tapi sebenarnya, apakah paradigma hati yang merasakan itu ada benarnya?

yang aku tahu,
hati organ penetralisir racun.

bahkan dalam filosofinya pun hati tercipta untuk kebaikan.

Kopi dan Jerapah

"A giraffe's coffee would be cold by the time it reached the bottom of its throat. Ever think about that? No. You only think about yourself."

dengan mengucap bismillah

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari seutas benang merah yang menggantung dari balik jalanan aspal yang panas. Memang selalu tak sepenuhnya baik membandingkan suatu hal dengan hal lain, tapi tidak perlu bertele-tele lagi, delta T per sekonnya memang seperti lubang menganga. Walau begitu, keajaiban jampi-jampi subuh dan beratnya beban di pundak memang paling kuasa dalam meluruhkan kesombongan.

Target ialah mimpi yang berbaur jadi satu dengan kemauan keras, yang disisipi doa dan usaha luar biasa untuk mencapainya. Tapi bukan kalimat kyy ketika hati sudah panas dan kepala mendidih yang dibutuhkan untuk melarutkan asam klorida. Ada sedikit cahaya yang masih menyala di dalam sana ketika kamu percaya.

Melewati batas, bekerja keras. Membatasi diri kadang secara tak sadar, membuat apa yang seharusnya terjadi mulai surut dengan harapan lain yang tak pernah terbersit. Melewati batas, bekerja keras. Bukan tentang apa yang didapat melainkan bagaimana memberi, bukan?

Aku pun bukan apa yang mereka sebut sempurna. Yang aku tahu, aku bisa mejadi diriku sendiri untuk mengarungi hari yang tak pernah pasti.

Kodrat

kodrat manusia antar sesama itu
mengecewakan
dan ada beberapa yang lebih spesial
yang dikecewakan.

Ravioli Lasagna

"Rasanya bukan perkara mudah, dan aku tak yakin kamu akan mengerti" ungkapnya dengan tak yakin.
"Coba ceritakan saja" pintaku sekali lagi. Ia terdiam, membenahi duduknya, lalu menggenggam gelas kopi di meja dengan kedua tangannya yang dingin. Kepulan aroma kopi mengudara. 
"Aku takut, dan menyesal," mulainya, "Mungkin ini jawaban dari segala doa mereka, tapi aku tidak yakin. Apa aku terlalu banyak berbuat salah sampai harus dihukum sedemikian rupa? Tuhan, aku merasa kaku dan tidak berguna. Aku banyak berpikir dan merenung namun tak kunjung mendapat jawaban. Sama, sama saja, yang membuatnya berbeda adalah aku sudah berusaha merubah namun disisi lain keadaan belum waktunya berubah. 
Aku menyesal, sungguh. Menyesali kebodohanku mengharapkan keajaiban terjadi disaat semua sudah terlambat. Menyesali waktu yang tak dapat diputar kembali. Menyesali diriku yang harus menelan kepahitan bersama sumpah serapah yang mereka ucapkan. Biar, biar waktu yang mengobati rasa sakitnya. Aku memang pantas mendapatkannya, dan rela, dengan pengharapan sederhana : menemukan akhir yang indah di ujung pengadilanku nanti"
Getar mengalir seiring suaranya yang makin mengecil. Keyakinan tampak memudar dari wajahnya yang pucat, Ia kehilangan selera makan sejak terakhir kami bertemu. Satu hal yang berpengaruh besar pada hidupnya, yang kemudian hanya menyisakan butir-butir peluru kepedihan merana di sudut bibirnya. Aroma kopi bercampur dengan penyesalan terhirup lamunanku. Ia tak meneteskan air mata, tapi hatinya sudah sobek jadi dua. Ringkih dan rapuh, menghadapi kehilangan besar dan penyesalan tak berujung.
"Aku yakin, langit akan kembali cerah setelah badai mengamuk. Tapi bukan badai seperti ini yang dapat mengembalikan matahari. Aku tidak lagi yakin, aku tak dapat meyakini apapun. Salah satu keyakinan yang kupercaya berbalik memunggungiku, dan aku tak dapat berkata karena sebagian besar merupakan kesalahanku. Aku menyia-nyiakan apa yang kuyakini ada hingga saat ini, perih. Hingga tak hanya keyakinan tapi juga waktu yang pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa berharap, dan berharap, yang terbaiklah yang tiba. Sudah cukup, jangan ada lagi rasa sakit ini. Walau tak dapat dipungkiri, aku masih meyakini matahari kembali terbit suatu saat nanti"
Ia tersenyum, senyum yang tulus namun luar biasa menyakitkan. Aku tak punya kuasa untuk berkata apapun, dan hanya diam mendengarkan hatinya berbisik dengan cara paling memilukan, hatinya yang telah tertusuk pengkhianatan. Teracuni. Terbengkalai. Hilang.

maksa

jadi diri sendiri itu mudah
lebih mudah daripada jadi diri orang lain
walaupun rumput sana lebih hijau
sana lihat rumput sini juga lebih hijau
padahal sebenarnya
sama sama hijau

jadi diri sendiri itu mudah
walaupun bukan berarti dapat apa yang dia dapat
tapi dia juga belum tentu dapat apa yang kita dapat
kalau yakin jadi diri sendiri itu mudah, pasti benar lebih mudah

jadi diri sendiri itu mudah
sakit kadang rasanya kalau lihat diri orang
yang lebih dari diri sendiri
tapi coba tanya
itu kata siapa?

mungkin orang lain gemerlapan
mungkin orang lain foto selfie pakai tongsis
mungkin orang lain jalan sama teman nebeng mobil teman
mungkin orang lain sampai bisa ambil yang pertamanya punya diri sendiri

tapi jadi diri sendiri lebih... lebih.

kamu tau apa bagian terbaiknya?
bagian terbaiknya adalah,
jadi diri sendiri itu,
nggak perlu jadi diri orang lain.

Bunga-bunga Mekar di Taman












Selecta - Juni 2014

as winter melts away

kehilangan sesuatu dan harus memulainya lagi itu nggak mudah. ibarat makanan yang kita nggaksuka tapi dipaksa untuk dimakan, nelennya setengah hati. tapi kembali lagi, nggak akan ada makanan yang nggak enak kalo kita mensyukurinya--dan lapar.
maybe we should learn from Korra. di buku keduanya, Korra kehilangan koneksi untuk terhubung sama avatar terdahulu gara-gara Raava harus mati disiksa Vaatu. momen yang menyedihkan, buatku sih. bayangin aja kayak semacam ada kekuatan yang selalu menemanimu dari kecil sampai udah gede, terus harus tiba-tiba hilang dan kamu gabisa komunikasi lagi.
#sakitnya #tuh #disini.
kadang ada orang-orang yang nggak peka, ada orang-orang yang gengsi, dan ada orang-orang yang harus kena karma. seenggaknya mereka punya 1 kesamaan : sama-sama orang. tapi nggak ada yang spesial. apakah itu takdir yang memang sudah ditulis jauh-jauh hari, atau sesuatu yang bisa diubah? bisa dicegah sebenarnya, tapi kalau nasi sudah jadi bubur ya tidak bisa berkelit seperti ular yang menggeliat.

face the reality, enjoy the show.


Siklus ke Puncak

sesampainya di puncak
kadang manusia suka lupa
tiba-tiba angin bertiup dari barat
lalu menerbangkan manusia dari puncak
pas sudah jatuh
baru manusia ingat
lalu bertaubat
naik lagi ke puncak

Fisika

dear fisika,
apa kabar? sepertinya kita akan segera bertemu lagi dalam waktu dekat ini. aku sudah mempersiapkan diri, kamu juga kan? jangan mentang-mentang selalu menang jadi meremehkanku, ya.
tapi keadaanku sedang sedikit tidak baik. biasa, penyakit musiman. toh nanti juga sembuh. sayangnya hari ini mama beli makanan di restoran ayam goreng siap saji, lalu ada soft drink-nya. aku ngin sekali minum tapi ya jelas tidak boleh. sedih, lumayan. tapi lebih sedih lagi waktu memikirkan suatu jawaban.
hai, kamu tau? aku overthink sekali. drama queen. benar-benar drama, apa ini karena aku sering nonton ganteng-ganteng serigala di televisi? ah tidak sering juga. hari ini saja aku nggak nonton.
tapi bukankah seharusnya begitu. kalau aku kalah lagi, mau dibawa kemana muka ini? jadi sudah seharusnya overthink? susah sekali mencari jawabannya.
aku benci sekali kepo. rasanya jadi tidak tenang mengerjakan banyak hal. seandainya saja semuanya ada pembahasannya, tapi memang begitulah diciptakannya. ada yang memang tercipta untuk dikepoi.
kemarin dan hari ini aku sudah kecolongan. rasanya sakit sekali kalau diingat-ingat, apalagi ditambahi overthink yang nggak mengada-ada. jadi pesan moralnya adalah, jangan overthink.
dear fisika, berteman denganku ya besok.
sudah dulu ya curahan hatiku ini, tidak tahu harus ngomong ke siapa.

tertanda,
seseorang yang menunggu

OH YEAH

ceritanya habis ldk dispora kemarin mukaku langsung belang, dan belangnya nggak nyantai.

kalo kacamatanya dilepas jadi kayak gini

sampek segitunya belangnya, jadi inget sama hewan yang warnanya kayak gini :

you know what
dan ada baiknya bila kita menyambungkannya dengan lagunya Katy Perry yang Roar.
dan lagu itu ternyata liriknya bagus dan aku suka.

YOU HELD ME DOWN BUT I GOT UP HEY
ALREADY BRUSHING OFF THE DUST
YOU HEAR MY VOICE YOU  HEAR THAT SOUND
LIKE THUNDER GONNA SHAKE THE GROUND
YOU HELD ME DOWN BUT I GOT UP HEY
GET READY CAUSE I'VE HAD ENOUGH
I SEE IT ALL I SEE IT NOW
I GOT THE EYE OF THE TIGER FIGHTER DANCING THROUGH THE FIRE
CAUSE I AM A CHAMPION AND YOU'RE GONNA HEAR ME ROAR
LOUDER LOUDER THAN A LION
CAUSE I AM A CHAMPION
AND YOU'RE GONNA HEAR ME 
RO O O O O O O O O O OAR

tuuuuut


budaya literasi membudaya sampai ke hati

jadi awalnya aku nggak paham ini cerita tentang apa. bahkan cenderung nggak suka. namun sejak digalakkan budaya literasi, dengan terpaksa--yang belakangan malah diyakini sebagai suatu takdir yang berkah--nitip beliin buku di togamas sama anak anak yang konon katanya lagi diskon. kemudian natha-ici-edo-fahmi rupanya bersekongkol mencekoki hari-hariku dengan buku setebal kurang lebih 501 halaman itu.
lalu akupun mengeluarkan uang 50 ribu (yang seharusnya 55 ribu tapi ku minta korting) dan mulai membaca selembar demi selembar.

aku sudah lihat filmnya sih dari laptop mbak, tapi ternyata ceritanya di buku jauh lebih detail dan melayang-layang imajinasinya. ada beberapa part yang aku nggak paham jadi lebih paham,

dan yak 15 menit di pagi hariku dipenuhi petualangan bersama Frodo Baggins dan makhluk-makhluk itu.

namun keceriaanku sedikit sirna,
setelah bukunya harus dikumpulkan
karena sudah tenggat waktu.

Elrond mengangkat mata menatapnya, dan Frodo merasa hatinya tertusuk oleh ketajaman pandangannya yang tiba-tiba. "Kalau aku mengerti dengan benar semua yang telah kudengar," katanya, "maka kurasa tugas ini di bebankan padamu, Frodo; dan kalau kau tak bisa menemukan jalannya, maka takkan ada orang lain yang bisa. ..."

Allo

sesampainya di pekarangan, ia pun jatuh tertidur
ada apa sebenarnya, apa yang terjadi?
dibalikkannya sebuah selimut yang telah kusam dari dinding
jendela dan tirai yang kelabu membawa harum patahan kayu hitam dari hutan
ia menatap berkeliling, semangatnya tumbuh lagi
namun hatinya tetap berkata ada yang berubah dari pekarangan
wanginya sama, tapi isinya berbeda
sudah tak lagi bisa ditemukannya kasih sayang tulus yang mengudara
yang telah habis ditelan waktu
dan tersakiti hukum pilu
hingga ia memutuskan untuk berhenti

sudah tidak kuasa lagi diberdirikannya kaki sebagai pijakan
ia berlutut dalam kesunyian
tapi apa hanya seutas tali yang tersangkut itu dapat menumbuhkan benih yang kandas?
sengaja atau tidak, bumi tetap akan berputar
sudah tidak kuasa lagi diberdirikannya kaki sebagai pijakan
berlutut dalam sunyi ia mati

bukan sunyi yang indah
ia sibuk dengan dirinya
dirinya sibuk dengan ia
hingga waktu hanya berdetik kosong dalam pangkuan ibu
berharap salah satu memutar kembali apa yang sudah terjadi
berharap cinta itu datang lagi

selamat malam

kadang ada seusatu yang mengganjal di hatimu, sesuatu yang nggak bisa dikeluarin. sesuatu yang bikin susah tidur malam-malam. sesuatu yang pelik dan rumit. sesuatu yang nggak bisa diceritakan, bukan karena nggakmau tapi karena nggakbisa.
tapi sungguh ingin cerita, ngobrol sama orang.
kadang ada sesuatu yang bikin kamu bisa nangis, berdoa supaya lancar, mudah. kamu pasti tau kan, rasanya air mata mengalir di pipi itu kadang nggak enak. apalagi pas saat yang nggak tepat.
tapi indah sekaligus menyakitkan kalau orang lain yang menangis.
lalu sekarang ceritanya, aku kemarin menonton wreck-it-ralph, eeeh nggaktaunya mengantuk. lalu aku tertidur di tengah tengah film, pas terbangun filmnya sudah muter ulang sampek setengah. padahal pas tak tinggal tidur itu juga belum selesai;-; lalu aku mengclose wmp, dan kukembali tidur._.. okay, aku gampang sekali jatuh tertidur.
lalu aku terbangun lagi semalam ini, atau pagi? dengan perasaan yang tidak enak. tidak tahu ya, rasanya kok ada yang mengganjal. lalu aku sholat dan membuka line, dan memulai menulis postingan yang kayaknya bakal sesuatu ini. aku tadi mimpi, mimpi apa ya? yang jelas aku di tempat cuci piring lalu bilang "ini adalah peninggalan sejarah..." ke pengunjung geje banget nggak sih? nggakpapa namanya juga mimpi. oooh iya didalem mimpi juga ada perang perangnya.

lhakok ternyata
leo masih bangun dan mengerjakan tugas sejarah.
bukan, bukan. maksudnya bukan leo > mengerjakan tugas sejarah > masuk ke mimpiku. bukan begitu. itu lebih ke, aku kok belum mengerjakan tugas sejarah.......
okee yuk mengerjakan tugas sejarah.

lalu aku malah chat sama tania di acrylix


sekarang sudah lega yuk bobok.

Baru Segini

aku disuruh nulis nulis lagi sama aik
katanya bahasaku lucu
oke, aku suka kok nulis diem diem di kamar cuma ada aku dan kamu (laptopku)
tapi tibatiba ada siapapun itu masuk dan membuyarkan ideku
biasanya aku hanya bisa bilang aku rapopo
tapi itu mainstrim jadi aku akan berkata hai pakabar
hanya masalah waktu sampai kamu benar-benar bisa mengerti caraku berbicara
lihat saja nanti

spektakula

aku lagi suka main flappy bird
aku udah pulang
aku udah mulai nggenah sama uh
aku bisa bikin teks anekdot nggak lucu
aku capek dipaksa
aku nggak suka dikotak-kotak
aku bikin anagram hilir dalam duni(o)
hati hati kalau bermimpi kudu siap lahir batin resikonya juga

Aku, Pak Mun, dan Sakit Perutku

suatu siang ketika perjalanan menuju kantin, aku dan ratu bertemu sesosok pak mun yang sedang duduk di bangku di lobby kelas x. terdorong keisengan, kerinduan, dan keinginan untuk sambat, aku menghampiri pak mun dan duduk disebelah beliau.
"pak mun perutku saakiiiiiit :( " -aku
"lho apa salahnya? memangnya kamu nggak boleh sakit?" -pak mun
"pak muuun :( " -aku
"yasudah kamu harusnya bersyukur lho perutnya sakit, atau mau dibuang aja ta perutnya?" -pak mun
"lho kok dibuang :( " -aku
"iya, bagus lho itu kalo dibuang kan kamu jadi nggak perlu membuang-buang waktu mengeluarkan zat zat yang tidak diperlukan, karbondioksida, apa, apa" -pak mun
"mati laan pak :(" -aku
"kita bisa hidup seperti tumbuhan! menyerap karbondioksida dan mengeluarkan oksigen" -pak mun
"tapi kan manusia nggak ada klorofilnya paak" -ratu
"kenapa tidak kita ciptakan inovasi agar manusia punya klorofil klorofil itu?
hahaha semangat ya peh!"
-pak mun:')




kemudian siangnya, sepulang dari praktikum di lab fisika, aku kembali melewati pos yang kala itu sedang dijaga pak mun. dengan wajah masih bete dan bersedih, aku berjalan agak jauh karena pintu gerbang koridor kelas xnya ditutup. namun tiba-tiba pak mun memanggilku, "peh, peh!" begitu serunya. kemudian aku menghampiri pak mun.
kata pak mun, "tertawa lebih baik daripada sakit peh, semangat ya!"
aku pun tertawa-tawa sambil bersalaman ala pak mun.
"iya pak, terimakasih pak mun juga semangat loya!"

:')

kuatkan saja

badai pasti muncul lagi

Maksudnya Bukan Praktikum

"sekolah itu memang ngajarin kita gimana teori untuk menghadapi masalah-masalah yang ada, tapi kalo kamu nggak terbiasa praktek langsung menghadapi masalah, ya sama aja, bakal gopoh, apalagi yang orangnya gopohan"
- mbak eno

tik tok tik tok

itu cuma masalah waktu aja, sih.
ketika udah bisa membedakan sesuatu yang benar-benar benar dari sesuatu yang lain.
cuma ngasih tau aja sih, emang gampang ngomong aja pas semua masih jelas, yang susah itu yang mengakui kesalahan waktu semua udah campur aduk sampek lebih putih daripada pelangi.
soalnya ya kodratnya itu dateng sendiri, pulang juga ntar sendiri. misal temen-temen kamu lagi sibuk, ya dimaklumin aja, get used to it, karena emang kamu nggakbisa bergantung sama satu dua bahkan sepuluh orang.

all the best!

Menapaki Iga Bakar

minus freestyle, plus penggunaan waktu sebaik baiknya. masuk go sudah rajin dan nggak telat, H-3 bebas tugas. tugas sekolah dan tugas lain lain lagi bahagia bahagianya mereka, jangan lupa lain kali tugasnya dicatat, kelompoknya juga. kebanyakan kelompok sih, jadi kecampur. oh iya, sama bawa bekal ke sekolah, karena semurah murahnya nasi berbumbu bebek mami masih enakan masakan mama. hp di charge full dari rumah, jangan ngandalkan colokan bimbel gajah apalagi sekolah. duduk yang manis jangan pencilakan, minimalisir penggunaan kamar mandi. sholat ashar sebelum pulang, jangan gampang tergoda crepes depan gerbang. kalo bisa pulang langsung pulang, jangan mbulet dulu. uangnya ditabung, pengeluaran banyak, jangan gc terus, nonton download lebih enak. kalo ngomong diolah, kalo guru bicara didengerin. jangan pilek lagi nanti kena marah lagi. kalo kena marah diambil sisi positifnya, jangan diambil hati. jera ya, jangan jerapah. oke itu geje yang barusan yaudahlah. terima aja, namanya juga pembelajaran. skala prioritas diatur lagi, cepet sembuh batuknya. kalo hujan jangan becek becek, kalo tidur jangan malem malem. tapi kayaknya sih nggak bisa orang bertahan hidup susah amat. banyak bersyukur, jangan manyun, keep smile biar berasa yks. orang ngomong dicerna dulu jangan ditelen mentah mentah. nyalain lagunya biar nggak stres. komitmennya dijaga, udah gitu aja.

kesimpulannya, semakin ditekan semakin nggak bicara. 

semoga masih zemangat