Ravioli Lasagna

"Rasanya bukan perkara mudah, dan aku tak yakin kamu akan mengerti" ungkapnya dengan tak yakin.
"Coba ceritakan saja" pintaku sekali lagi. Ia terdiam, membenahi duduknya, lalu menggenggam gelas kopi di meja dengan kedua tangannya yang dingin. Kepulan aroma kopi mengudara. 
"Aku takut, dan menyesal," mulainya, "Mungkin ini jawaban dari segala doa mereka, tapi aku tidak yakin. Apa aku terlalu banyak berbuat salah sampai harus dihukum sedemikian rupa? Tuhan, aku merasa kaku dan tidak berguna. Aku banyak berpikir dan merenung namun tak kunjung mendapat jawaban. Sama, sama saja, yang membuatnya berbeda adalah aku sudah berusaha merubah namun disisi lain keadaan belum waktunya berubah. 
Aku menyesal, sungguh. Menyesali kebodohanku mengharapkan keajaiban terjadi disaat semua sudah terlambat. Menyesali waktu yang tak dapat diputar kembali. Menyesali diriku yang harus menelan kepahitan bersama sumpah serapah yang mereka ucapkan. Biar, biar waktu yang mengobati rasa sakitnya. Aku memang pantas mendapatkannya, dan rela, dengan pengharapan sederhana : menemukan akhir yang indah di ujung pengadilanku nanti"
Getar mengalir seiring suaranya yang makin mengecil. Keyakinan tampak memudar dari wajahnya yang pucat, Ia kehilangan selera makan sejak terakhir kami bertemu. Satu hal yang berpengaruh besar pada hidupnya, yang kemudian hanya menyisakan butir-butir peluru kepedihan merana di sudut bibirnya. Aroma kopi bercampur dengan penyesalan terhirup lamunanku. Ia tak meneteskan air mata, tapi hatinya sudah sobek jadi dua. Ringkih dan rapuh, menghadapi kehilangan besar dan penyesalan tak berujung.
"Aku yakin, langit akan kembali cerah setelah badai mengamuk. Tapi bukan badai seperti ini yang dapat mengembalikan matahari. Aku tidak lagi yakin, aku tak dapat meyakini apapun. Salah satu keyakinan yang kupercaya berbalik memunggungiku, dan aku tak dapat berkata karena sebagian besar merupakan kesalahanku. Aku menyia-nyiakan apa yang kuyakini ada hingga saat ini, perih. Hingga tak hanya keyakinan tapi juga waktu yang pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa berharap, dan berharap, yang terbaiklah yang tiba. Sudah cukup, jangan ada lagi rasa sakit ini. Walau tak dapat dipungkiri, aku masih meyakini matahari kembali terbit suatu saat nanti"
Ia tersenyum, senyum yang tulus namun luar biasa menyakitkan. Aku tak punya kuasa untuk berkata apapun, dan hanya diam mendengarkan hatinya berbisik dengan cara paling memilukan, hatinya yang telah tertusuk pengkhianatan. Teracuni. Terbengkalai. Hilang.

maksa

jadi diri sendiri itu mudah
lebih mudah daripada jadi diri orang lain
walaupun rumput sana lebih hijau
sana lihat rumput sini juga lebih hijau
padahal sebenarnya
sama sama hijau

jadi diri sendiri itu mudah
walaupun bukan berarti dapat apa yang dia dapat
tapi dia juga belum tentu dapat apa yang kita dapat
kalau yakin jadi diri sendiri itu mudah, pasti benar lebih mudah

jadi diri sendiri itu mudah
sakit kadang rasanya kalau lihat diri orang
yang lebih dari diri sendiri
tapi coba tanya
itu kata siapa?

mungkin orang lain gemerlapan
mungkin orang lain foto selfie pakai tongsis
mungkin orang lain jalan sama teman nebeng mobil teman
mungkin orang lain sampai bisa ambil yang pertamanya punya diri sendiri

tapi jadi diri sendiri lebih... lebih.

kamu tau apa bagian terbaiknya?
bagian terbaiknya adalah,
jadi diri sendiri itu,
nggak perlu jadi diri orang lain.

Bunga-bunga Mekar di Taman












Selecta - Juni 2014

as winter melts away

kehilangan sesuatu dan harus memulainya lagi itu nggak mudah. ibarat makanan yang kita nggaksuka tapi dipaksa untuk dimakan, nelennya setengah hati. tapi kembali lagi, nggak akan ada makanan yang nggak enak kalo kita mensyukurinya--dan lapar.
maybe we should learn from Korra. di buku keduanya, Korra kehilangan koneksi untuk terhubung sama avatar terdahulu gara-gara Raava harus mati disiksa Vaatu. momen yang menyedihkan, buatku sih. bayangin aja kayak semacam ada kekuatan yang selalu menemanimu dari kecil sampai udah gede, terus harus tiba-tiba hilang dan kamu gabisa komunikasi lagi.
#sakitnya #tuh #disini.
kadang ada orang-orang yang nggak peka, ada orang-orang yang gengsi, dan ada orang-orang yang harus kena karma. seenggaknya mereka punya 1 kesamaan : sama-sama orang. tapi nggak ada yang spesial. apakah itu takdir yang memang sudah ditulis jauh-jauh hari, atau sesuatu yang bisa diubah? bisa dicegah sebenarnya, tapi kalau nasi sudah jadi bubur ya tidak bisa berkelit seperti ular yang menggeliat.

face the reality, enjoy the show.


Siklus ke Puncak

sesampainya di puncak
kadang manusia suka lupa
tiba-tiba angin bertiup dari barat
lalu menerbangkan manusia dari puncak
pas sudah jatuh
baru manusia ingat
lalu bertaubat
naik lagi ke puncak

Fisika

dear fisika,
apa kabar? sepertinya kita akan segera bertemu lagi dalam waktu dekat ini. aku sudah mempersiapkan diri, kamu juga kan? jangan mentang-mentang selalu menang jadi meremehkanku, ya.
tapi keadaanku sedang sedikit tidak baik. biasa, penyakit musiman. toh nanti juga sembuh. sayangnya hari ini mama beli makanan di restoran ayam goreng siap saji, lalu ada soft drink-nya. aku ngin sekali minum tapi ya jelas tidak boleh. sedih, lumayan. tapi lebih sedih lagi waktu memikirkan suatu jawaban.
hai, kamu tau? aku overthink sekali. drama queen. benar-benar drama, apa ini karena aku sering nonton ganteng-ganteng serigala di televisi? ah tidak sering juga. hari ini saja aku nggak nonton.
tapi bukankah seharusnya begitu. kalau aku kalah lagi, mau dibawa kemana muka ini? jadi sudah seharusnya overthink? susah sekali mencari jawabannya.
aku benci sekali kepo. rasanya jadi tidak tenang mengerjakan banyak hal. seandainya saja semuanya ada pembahasannya, tapi memang begitulah diciptakannya. ada yang memang tercipta untuk dikepoi.
kemarin dan hari ini aku sudah kecolongan. rasanya sakit sekali kalau diingat-ingat, apalagi ditambahi overthink yang nggak mengada-ada. jadi pesan moralnya adalah, jangan overthink.
dear fisika, berteman denganku ya besok.
sudah dulu ya curahan hatiku ini, tidak tahu harus ngomong ke siapa.

tertanda,
seseorang yang menunggu