manusia punya bahu, tapi Tuhan punya alam seisinya.

dijejali earphone putih. akhir-akhir ini banyak lagu sering kupaksa marathon tak kenal henti. makanan? banyak, dan semua membuatku konsumtif. aku tidak tahu bagaimana seorang anak manusia bisa dengan egois menyebut "aku" di depan manusia lain yang sama makan nasinya. ada kalanya waktu tak dapat mengungkap misteri, hanya berlalu tak menjelaskan apa-apa. sulit rasanya melangkah tanpa keyakinan, dan bagaimana diri dapat meyakinkan bila diri orang lain tak menaruh kepercayaan? aku hanya terlalu banyak berpikir seperti si melan sampai tenggelam dalam kesempurnaan. sepertinya ingin menguncal sendal.

bukan saatnya menjadi hembusan napas dalam setiap kekhawatiran yang menguap. suatu imajinasi satu tahun yang tak dapat dibandingkan, namun juga tak dapat didiami sampai mati. aku tidak mengerti banyak hal, tapi aku tahu bertanya tak selalu menyelesaikan masalah. underestimate kemampuan diri untuk mendalami makna yang ada.

asal bicara.

aku termenung dalam gelap. sedikit menginterpretasikan cahaya yang memantul dari kaca tepat di depan mata sebagai siluet, yang hampir membuatku berteriak lupa. aku tak pernah menyangkal kekuatan yang diberikan suatu melodi tertentu yang dibisikkan lirih menapak gendang. momen yang menarik jiwa dengan paksa ke dalam kumparan lubang hitam yang menganga. tak selamanya lubang hitam itu kelam, mungkin bintang yang tertarik di dalamnya membentuk indah luar biasa. aku tahu sedikit tentang mimpi, tentang bagaimana ia melambungkanmu ke atas, hanya untuk membantingmu menembus maha dasar. tinggal bagaimana percaya pada pegas yang memantul di atas lapisan takdir terdalam.

dangkal. antipati jernih dengan ilmu yang tertahan di tengah jalan, menguak pintu jurang tiga tingkat.

Hati

kadang, beberapa hal bisa jadi sangat nggak terprediksi
sampai bahkan dirimu sendiri nggak bisa membaca dirimu sendiri.

sejak kecil aku sudah diajari membaca
tapi memang sudah paling susah kalau membaca hati.

hati manusia berubah-ubah, kadang senang kadang sedih.
bahkan kadang ada saatnya dimana hati terlalu serakah untuk hanya menentukan satu rasa saja yang diterjemahkan otak.

tapi sebenarnya, apakah paradigma hati yang merasakan itu ada benarnya?

yang aku tahu,
hati organ penetralisir racun.

bahkan dalam filosofinya pun hati tercipta untuk kebaikan.