Sebuah Nama, Sebuah Cerita

terkadang mencari barang senama saja yang familiar di deretan panjang orang-orang asing merupakan suatu hal yang : bersemangat dan penuh harap pada awalnya, namun meninggalkan after taste yang tak pernah senyaman itu.
orang bilang, kamu hanya tahu namaku, bukan ceritaku. dan siapapun yang memelopori opini tersebut di masyarakat patut mengapresiasi diri sendiri karena quotes-nya masuk jajaran tertinggi paling banyak dicari--dan dibuat lebih artistik dengan foto a la tumblr. tapi, bukan itu. kadang, dalam pemikirannya yang paling dalam, sangkalan dan tuduhan mengenai hakikat nama menjadi salah satu topik segar untuk diperbincangkan. tapi juga mbulet.
aku, mungkin termasuk di antara orang-orang yang percaya bahwa kepercayaan mampu merubah dunia. dan begitu juga dengan harapan yang terkandung dalam setiap nama yang dianugerahkan bagi suatu hal. mengapa tumpukan kayu itu bernama meja, mengapa tumpukan kayu yang lain disebut kursi, mengapa sendok dan garpu tidak tertukar. ada kalanya manusia berada pada titik terjauh pemikirannya hingga hanya sekedar memeriksa jawaban sehari-hari saja luar biasa sesak.
doa yang terkandung dalam nama memang seperti takdir yang melekat pada diri suatu jiwa. jiwa yang bukan lagi melekat, namun ada rongga di antaranya dengan jasad. mungkin itu lah yang menjadi salah satu faktor keindahan sepasang mata--mereka yang menjadi jendela jiwa melihat dunia. bukan sekedar dua buah indera yang tak ampun hukumnya meski tak berfungsi. jiwa menyapa jiwa melalui mata.
omong-omong soal indera, tak pernah menyangka bukan bungsu dapat menceritakan kisah lain tanpa dapat membuka rahang akibat sakitnya?
kembali pada topik nama, seringkali nama menjadi satu hal yang paling ditunggu kehadirannya. tapi, di sisi lain malah paling dihindari keberadaannya. sebuah nama, sebuah cerita. pada kalanya nanti yang akan menyimpan kemenangan atau kesedihan entah berapa lama.




Lagi-lagi Percaya

ketika kamu percaya akan rencananya-Nya,
yang kamu nggak tau bakal iya atau enggak,
yang kamu have no idea sama sekali,
tapi kamu percaya,
kamu cuma perlu mempercayainya,
tanpa tanya kenapa.

karena tiga tahun lamanya masih kerasa nggak masuk akal buat benar-benar jadi nyata
siapa yang nyangka?



throwback here

Untuk Mengucap Semangat Saja Enggan

aku begitu sibuk mengurus aku,
tapi menggerutu minta diurus mereka
padahal mereka yang terdiri dari banyak aku,
ternyata hanya sibuk mengurus aku
siapa yang mengurus aku kalau bukan aku?
benar,
tapi juga salah

tidak ada yang menghibur lebih baik dari keyakinan diri sendiri
tidak ada yang lebih mengerti daripada hati
tapi sejatinya, hati ini punya siapa?
manusia, kan, hanya meminjam saja

zaman sudah berubah, aku tahu
kami tahu
yang aku tidak tahu
bagaimana para leluhur menghadapi perubahan zaman
ambil saja contoh dari zaman batu hingga zaman perunggu
apa orang-orang zaman batu (yang masih hidup lebih lama) juga memprotes orang-orang zaman perunggu (cucu cucu yang lebih maju)?
apa mereka juga sama
ingin tetap teguh menggunakan batu?
atau dengan mudah menerima perunggu?
aku cukup bertanya tanya.

aku ini apa?
jiwa yang terperangkap dalam jasad manusia?

lalu,
aku harus bagaimana?


Angkara Peluh

sesuatu yang menyesakkan tulang rusuk yang rusak
menusuk patah keping ranting kering kehitaman yang sudah gugur
aku tahu ini bukan saatnya menjadi sok tahu
bahkan langit menertawakan lamunan pilu anak manusia
tak kunjung reda derai tawa diselingi hujan yang membiru

sombong, begitu kata mereka.

seandainya saja.