Greetings, My Friend

Pagi ini cukup cerah. Semalam hujan deras tapi sedikit petirnya. Aku terjaga sampai larut malam, karena sekarang berbicara tak perlu melulu bertatap muka. Banyak hal yang dibicarakan, dan tak sedikit di antaranya berupa pertanyaan-pertanyaan menggelitik dan kritis yang muncul lagi muncul lagi. Sampai aku menyadari ada yang kurang tepat dengan postinganku malam itu.
Berawal dari sebuah kabar yang berdesing di telinga tentang kondisinya waktu itu. Kebetulan, pertanyaannya hampir sama dengan yang kutanyakan akhir-akhir ini. Aku melalui angin kering dan basah karena hujan untuk jawaban, tapi tak pernah benar-benar mendapat yang terkuat. Tahu kan, bagaimana bertahun-tahun yang lalu aku begitu iseng bertanya : Allah mengetahui segalanya, tapi mengapa Nabi Adam harus melalui kisah hidup di surga, makan buah khuldi, baru diusir dan hidup di bumi, kenapa tidak langsung diletakkan di bumi saja? selebihnya baca di sini
Kurang lebih jawaban yang menguatkan seperti itu yang kuharapkan, tapi hasilnya masih angka nol sih. Sepertinya hidayah-Nya masih belum sampai saat ini, waktunya belum tepat.
Tak banyak yang sebenarnya aku harapkan. Malam yang tenang dengan bintang-bintang jadi salah satu yang baik untuk kehidupan. Menjelajah hutan dengan sebotol besar susu dan seplastik biskuit, atau di lain waktu berbekal senter dan doa yang komat kamit. Aku tak pernah menyangka sejak kali pertama bertemu, rasanya aku baru saja berkenalan dengan dunia. Dunia yang bukan seperti apa yang aku inginkan, tapi dunia yang memberikan apa yang kami butuhkan. Kala itu aku masih belum bertanya seberapa jauh hidup ini bisa tenggelam lebih dalam. Kala itu, aku masih belum bertanya kenapa.
Ia dan aku mengalami proses yang sama. Mengapa hasilnya berbeda? Bukan pertanyaan sukar untuk dipikirkan jawabannya, yang membuatku menunjuk hakikat gelas kosong sebagai alasan. Aku diajarkan untuk menghargai perbedaan, bahkan dalam perlakuan sekecil apapun di keberagaman bangsaku. Seperti kemarin waktu perayaan hari natal, negeriku memang paling toleran kalau soal ini. Wakil presiden kita sendiri yang bilang.
Tapi, perbedaan yang tadi bukan yang memperkuat, bisa jadi salah satu yang membuatnya renggang. Atau setidaknya menimbulkan gejolak. Bukan aku tapi Ia yang menyekatnya jadi dua. Dan membuatku gatal untuk kembali bertanya kenapa.
Dan semua kisah panjang ini mengarahkanku pada keindahan bertanya kenapa. Asking why is much more important than how, they said. Alasan, adalah hal dasar, yang mendasari mengapa hal besar terjadi. Seperti mengapa Hitler menjadi sangat fenomenal melakukan pergerakannya. Atau mengapa manusia hidup di dunia dan malah menghancurkannya.
Mungkin memang berat melalui hal yang berat. Berusaha kupahami betapa rumit isi kepala Einstein yang baru dipakai sepersekian persen. Itu Einstein, ndanio awak dewe. Meskipun melalui yang sama ternyata kita tak pernah benar-benar tahu tentang beda. Aku tak dapat berkata tidak, tapi tentu tak mengiyakan. Ada sesuatu yang berbisik yang meneriakkan sangkalan. Tapi aku memang terlalu banyak bicara, bukan. Dan orang-orang akan mulai bertanya kenapa, sepertiku yang dengan kurang ajar menantang dunia. Aku harap kamu baik-baik saja dengan otak Einstein di kepala.
Sebuah ide tak bisa terwujud hanya, dan jika hanya, dengan memikirkannya. Untuk itulah, sebuah kekuatan sedang bergerak dalam kesunyian, mencekam, mengancam apa yang mereka tanamkan sebagai the queen bee dalam salah satu perjalanan kita. Jadi sekarang, apa yang dapat kita lakukan untuk mengapresiasinya?

Kenapa?

sudah nggak kehitung berapa banyak "kenapa" yang kulontarkan ke bela
sesuatu yang ia sebut sebagai cabang pemikiran nakal
yang seringkali kembali lagi kalau belum mendapat jawaban yang tepat
garis bawahi yang tepat
karena sudah banyak jawaban tapi masih tak memuaskan

dan yang kulewatkan adalah,
ternyata dunia bukan hanya tentang tanya "kenapa?"
tapi,
bagaimana kamu dapat menaklukkannya.

Keajaiban itu Bukan Suatu Kebetulan

          Dan, cinta sekali lagi membuktikan kekuatannya malam itu kalau cinta ada untuk cinta itu sendiri, bukan untuk dimiliki, bukan untuk Genta, bukan untuk Dinda, bukan untuk Riani, bukan untuk Zafran. Cinta memang ada untuk dicintai dan diungkapkan sebagai sebuah jembatan baru ke pelajaran-pelajaran kehidupan manusia selanjutnya. Cinta yang akan membuat manusia lebih mengerti siapa dirinya dan siapa penciptanya. Dan, dengan penuh rasa syukur akhirnya manusia menyadari bahwa tidak ada cinta yang paling besar di dunia ini kecuali cinta Sang Pencipta kepada makhluk-Nya. Tidak pernah ada cinta yang bisa dimiliki oleh manusia, kecuali cinta dari Sang Pencipta--yang tidak pernah berpaling dari manusia dan selalu mencintai makhluk terbaik ciptaan-Nya. Sang Pencipta tidak pernah memberikan apa yang manusia pinta, seperti cinta... Ia memberi apa yang manusia butuhkan.

...adalah sebuah paragraf utuh tentang definisi cinta paling masuk akal yang pernah tak baca. Siapa yang belum pernah baca 5 cm? Novel karya Donny Dhirgantoro yang emang udah dari jaman dulu kala terbit (dan diterbitin lagi sih) itu baru selesai tak baca hari ini. Iya, hari ini, baru beberapa menit yang lalu sampai di lembar terakhir. Kasep banget yes i know karena itu udah dari jaman kapan dan udah nonton filmnya jadi banyak yang nggak surprise tapi karena nggak ada yang namanya kebetulan--aku memang ditakdirkan menyelesaikan novel itu hari ini.

Dan ku bersyukur atas keajaiban yang diberikan Allah melalui celotehan mimpi Genta dan kawan-kawan sebagai perantara.

cukup lecek, tania minjem di perpus
Kalau bukan hari ini, mungkin keraguanku belum nyampek ke "jiwa yang bukan lagi melekat, namun ada rongga di antaranya dengan jasad.", yang dengan cemerlang dijawab dengan ulasan tentang 'manusia tanpa mimpi hanya seonggok daging yang punya nama'.
Kalau bukan hari ini, mungkin pemahamanku belum nyampek ke definisi cinta, yang dengan gamblang diutarakan di atas.
Kalau bukan hari ini, mungkin aku masih belum kepikiran untuk tidak ingin jadi dokter karena kuliahnya lama karena selak tua nanti soalnya pingin kuliah beasiswa di London. Tentu saja langsung membuatku bercermin pada Ian. 
Kalau bukan hari ini, mungkin nggak akan ada ceritanya mbaca di foodcourt gc sampek berkaca-kaca,
atau merinding di tengah hujan pas baca bagian sapaan Adrian dan jas almamaternya,
atau flashback petualangan di gunung setahun yang lalu, dan lebih-lebih membandingkannya dengan rasa bertualang di separuh kota tahun ini.
Kalau bukan hari ini, semuanya bakal berbeda.

Karena meskipun manusia punya pilihan, sebenarnya semua sudah ditakdirkan. ya kan?

Dan bila sekarang adalah bagian akhir dari sebuah episode Dora the Explorer, dimana Dora dan Boots berdiri beriringan untuk bertanya pada jiwa muda yang bahagia menonton di balik layar kaca, "Bagian mana yang paling kau sukai?"
Maka butuh waktu lama baginya untuk memberitahukan bagian mana,
karena semua telah menjadi bagian favoritnya.

Salah satunya, tentu saja ini :
Genta diam saja. Dia memang mulai merasa lelah sekali, tapi dia tahu kelima temannya ini mengandalkan dirinya, dia nggak boleh menurunkan mental mereka. Untuk sekarang Genta adalah pemimpin di rombongan kecil ini dan pada saat ini dia nggak boleh ngeluh, nggak boleh ngomong 'nggak tau', dan nggak boleh nggak bisa ngambil keputusan.

Aku masih ingat tentang bagaimana ketika dulu 'tampil' mengitari api unggun itu dengan konsep yang langsung jadi malam itu juga tanpa pikir panjang, mengajukan diri nomor satu pula. Tapi bermakna. Tentang bagaimana mimpi itu bukan lagi 5 cm melainkan sejengkal di depan keningmu (agar tidak terlalu nge-plek dengan ceritanya, sih). Dan, iya, aku tidak tahu tapi siapa yang menyangka seorang sanifa bisa berdiri di sana, untuk sekedar menampilkan drama Sejengkal bersama kelompoknya yang berwarna kuning?
Dan berlari curam yang penuh bebatuan untuk sampai di puncak? Dan jangan lupa berjalan jalan saat malam hari itu, iya, malam itu, aku ingat! Aku berdiri di sana di depan tanpa banyak cahaya (hanya satu senter kuning kalau tidak salah) dengan hati yang masih nggerundel karena hal-hal yang dirahasiakan mbak mas yang lebih tenang karena lebih tahu, dan hidung yang ingusan habis menangis tapi juga kedinginan. Malam itu dingin sekali, lalu memimpin jalan itu, jalan di tengah hutan yang gelap, yang menanjak, kamu percaya? Aku masih susah memercayainya.
Dan benar jika mereka berkata sekali ke gunung rasanya ketagihan, ingin balik lagi.

Ah, aku rindu.

Yang jelas, 5 cm berhasil mengarahkanku mencari muara pembenaran atas segala pertanyaan dan keraguan yang nyeleneh,
menghidupkan kecintaanku terhadap banyak hal terlebih pada tanah air,
dan mengingatkanku kembali pada semangat yang dulu pernah ada.


Negeri ini indah sekali...