Mantera

Seperti Sabari dalam novel Andrea Hirata berjudul "Ayah", yang sesuai namanya itu tetap sabar menunggu dan sabar menjalani hidup meski ditinggal orang-orang yang dicintainya. Seperti ulat-ulat pohon jati yang bermunculan di daerah Perak, masuk ke rumah-rumah warga karena populasi yang meningkat awal musim penghujan tahun ini, yang bertahan hanya beberapa minggu untuk kemudian bermetamorfosis jadi kupu-kupu, tapi banyak yang mati kena semprot pestisida petugas dinas pertanian dan warga. Seperti macam-macam media sosial yang menyimpulkan 365 hari dalam beragam ekspresi, memprediksi dan mendoakan peristiwa-peristiwa umat manusia di tahun 2016 nanti, merancang resolusi yang entah akan benar-benar terjadi atau hanya wacana seperti yang sudah-sudah belakangan ini.

Aku tidak kenapa-kenapa, hanya gatal ingin menulis.

You are an Acrophobic

Hantuku bernama gravitasi. Gaya yang seringkali muncul hanya dengan wujud sepuluh meter per sekon. Sepuluh itu angka yang sedikit. Tidak sebanyak seratus, atau seribu. Tapi yang sedikit itu yang kerap kali menarik bola mataku kuat-kuat. Mengilusikan kedalaman jatuh yang dibuat-buat. Aku baik-baik saja ketika menatap sejajar arah pandangku. Aku takjub memandang megah ketinggian yang melampauiku. Namun aku, takluk terpuruk dan terseok-seok di hadapan jurang yang terhampar di bawah kakiku, meski berlapis beton yang berlapis kaca anti peluru dan berlapis kawat baja dan lapis-lapis logam platina sekalipun membatasi dimensi tempatku dengan olok-olok hantuku.

Persimpangan

Aku selalu takut hari ini akan tiba. Hari di mana langit tak pernah kelihatan menjawab pertanyaan kita. Seperti ada ratusan lapis kain yang menutup mulutku, meredam semua kata-kata yang menusuk ulu hatiku. Rasanya pilu. Di dalam sana aku sudah meledak-ledak. Meneriakkan beragam ketidak adilan yang aku ketahui, lebih-lebih aku rasa. Kalau saja aku bisa merubahnya jadi kata-kata. Akan kulemparkan ke depan wajahmu, biar kamu tahu.Tapi untuk apa? Kamu tak pernah mendengarkan. Kata-kata hanya akan menyakitimu, dan aku. Sudah tidak perlu ada lagi yang harus merasakan sakit. Karena persimpangan hanyalah persimpangan. Mungkin kita harus berjalan menuju jalan yang berbeda. Kamu ke barat, dan aku ke utara. Entah akan ada persimpangan yang lain, atau kita akan tetap berlari di jalur masing-masing. Aku tidak keberatan. Yang penting, kita mungkin bahagia. Dan kita masih memiliki rasa percaya pada-Nya.

Dulu mungkin aku bisa berkata, kita sama-sama tahu. Sekarang aku sudah tidak tahu apa yang mungkin kamu dan aku ketahui bersama.

---------------------------------------------------------------

have been working on this project pffft. happy holidays.

Mari Bertemu dan Berbicara

Berikut hal-hal yang ingin dia lakukan sebelum negara api menyerang :

Pergi berlibur ke suatu tempat bersama kawan-kawan yang ingin pergi ke suatu tempat juga, dan melakukan hal-hal menyenangkan di sana.

1. Spesifikasi berlibur : seperti motto majalah LIFE.

2. Spesifikasi tempat liburan :
1) seperti di buku dongeng.
2) udara bersih
3) pemandangan indah
4) tidak boleh terlalu ramai, nanti macet. dan tidak manis.
5) terjangkau

3. Spesifikasi kawan :
1) siapapun yang asyik.
2) tidak mengintimidasi
3) baik hati
4) suka bercerita
5) baik hati
6) memahami kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya
7) baik hati.

4. Spesifikasi hal-hal menyenangkan : hal-hal yang membuat hati senang.

ps : no gadget allowed during vacation.

-------------------------------------------------------------

Aku setuju dengan iklan teh sariwangi. Waktu berbicara adalah waktu yang berharga. Apalagi dengan orang-orang yang luar biasa. Maksudnya, bukan seperti berbicara dengan Pak Presiden atau apa. Tapi orang-orang luar biasa yang berarti dalam hidup kita, dan membuat hidup kita berarti, tentu saja.

Jarang orang menganggap penting waktu untuk berbicara. Padahal, bukan kuantitas atau jumlah pembicaraan yang dilakukan, tetapi kualitas dari saling berbicara itu sendiri yang penting. Meski perpaduan antara kualitas dan kuantitas boleh juga, sih. Kadang, manusia malah asyik dengan gadget-nya sendiri meski ada manusia lain yang tengah berbicara dengannya. Yang perlu masyarakat ketahui adalah : berbicara di dunia maya tidak pernah sebanding dengan berbicara langsung di dunia nyata.

Bertatap muka memang kadang terasa aneh dan canggung. Manusia kadang merasa takut menghadapi manusia lain, apalagi soal berbicara. Apalagi dengan orang-orang tertentu, pun mengenai masalah tertentu. Tapi, pada dasarnya manusia akan cenderung lebih memahami manusia lain dengan bertatap muka, bercakap-cakap, dan menceritakan hal-hal secara langsung di dunia nyata daripada menjelaskan panjang lebar lewat telepon maupun obrolan di sosial media.

Berbicara bisa tentang apa saja. Tidak perlu menunggu peristiwa besar seperti bintang jatuh atau bumi berhenti berputar untuk memulai pembicaraan. Yang masyarakat butuhkan adalah keberanian. Dan rasa keyakinan atas diri sendiri. Karena terkadang berbicara bisa malah berbalik jadi berbahaya. Namun, bila dilakukan secara benar dan dengan orang yang tepat maka sejam pun akan terasa seperti satu menit yang singkat.

Nasi yang Hangat

Dia mengusir mendung dengan dua piring nasi hangat dan telur mata sapi. Setengah matang. Minum dan istirahat banyak-banyak. Semata-mata agar besok mendung sudah reda.

Penguasa Hati

Susah, untuk tetap berdiri tegak di penghujung hari yang melelahkan. Ketika tak begitu banyak manfaat yang mampu kau tebarkan, alih-alih membawa pulang beragam ekspresi kekecewaan. Ketika usahamu mencapai batas kemampuan diri, namun masih tak merekahkan sebersitpun senyum yang kau harap. Kamu berharap esok mampu menebus segala kegagalan hari ini, namun bagaimana esok tiada yang tahu. Kamu bukan peramal. Gemuruh langit mungkin masih dapat diprediksi. Cerah, berawan, gerimis, badai. Namun, siapa dirimu sampai bisa merubah suasana hati? Jangankan merubah, memprediksi saja belum tentu. Kamu bukan penguasa hati. Kamu bahkan belum tentu mampu menguasai hatimu sendiri. Frasa pencuri hati hanya kiasan, fana, imajiner, omong kosong. Hati tak dapat dicuri. Hatimu bahkan bukan milikmu sendiri. Lalu, untuk apa segala kesombongan yang susah-susah kamu kokohkan dengan pernak-pernik duniawi, bila kamu tahu hal itu tak pernah benar-benar merebut hati siapapun di dunia ini?

Kamu mengharap dunia dengan mata uang dunia. Kamu tak mendapat apa-apa selain dunia.

Tolong, Dia Udah Nggak Tertolong

Selamat pagi cinta, apa kabar? Dia lagi nggak bisa menulis. Alasannya: mampet. Nyandet. Mbulet. Buntu, nggak ada jalan. Entahlah. Dia cuma mau membuat semuanya jadi singkat dan jelas. Tapi dia nggak bisa. Dia bisanya ngajak jalan kemana-mana, ibarat kalau dari Kusuma Bangsa ke Wijaya Kusuma pake muter dulu ke Kenjeran. Nggak penting. Nggak perlu. Buang-buang bensin.

Dia bilang dia lagi seneng belajar. Mungkin gara-gara lagi UAS. Seneng bukan berarti rajin, sih. Tetep aja dia lebih sering keliatan mulet daripada ngerjain soal. Gitulah.

Bagaimana dia bisa muncul di sini dalam bentuk virtual yang lain, dia nggak mau mikir alasannya. Dia cuma mau kalian tahu dia ada.

Oke, singkat cerita, dia bosan sekali. Cita-citanya yang ingin jadi mbak-mbak super cool dan gaya, nggak terwujud-terwujud gara-gara dia susah kalo nggak mencolot ke sana kemari. Nggak pas kalo nggak nyapa orang pake lambaian tangan. Ngganjel kalo nggak ngakak. Intinya : nggak anggun blas.

Dia sadar dia bukan Anggun C. Sasmi yang penyanyi itu. Tapi untuk sekali dalam waktu hidupnya yang super singkat itu aja, dia ingin jadi sosok kayak dipikirannya.

Untuk bisa jadi yang nulis sesuatu, dia harus bisa jadi orang ketiga. Bukan orang ketiga di serial variety show mutusin orang. Maksudnya, jadi orang yang ngamatin. Jadi suara dari lakon. Itu dia! Jadi wakil buat mempermudah komunikasi orang yang nggak sadar kalo ngedipin mata aja bisa dibuat jadi satu paragraf empat kalimat.

Tapi, dia kesusahan. Tau sih tau ilmunya. Paham sih paham. Cuman ada kekuatan lain yang lebih kuat. Natural. Dia sering bablas. Bukannya jadi yang ngamatin, malah jadi diamatin. Sukanya jadi yang didengar. Yang diperhatiin. Saking pencilakannya. Padahal dia nggak maksud. Ea. Sok. Kayak ada yang ngamatin aja. Misterius. Horor stori.

Mungkin itu salah satu yang bikin dia susah kalo cerita sudut pandangnya nggak orang pertama. Dia juga kemakan dirinya. Jadi kayak, malah mewakili suaranya sendiri. Paham nggak sih? Subjektif gitu jadinya.

Akhirnya, dia rencana mau semadi. Di gunung, kalo perlu. Mau tobat. Mau cari jati diri. Siapa tau ketemu. Untung-untung jadi kalem. Siapa tau. Tau siapa.

Dia bosan ketemu orang. Dia mau ketemu fisika aja. Fisika? Manvap!

Apa Salahnya Mempertahankan Idealisme di Tengah Dunia yang Kamu Bilang Tidak Karuan Ini?

Aku sering menghindari menulis tentang cinta.

Rasanya aneh saja, ketika kamu membicarakan suatu hal yang belum pada waktunya. Aku takut salah bicara. Salah menanggapi. Karena pikiranku masih terlalu naif untuk bisa merangkai sepatah dua patah kata, yang pasti akan terlihat sangat fana dan dibuat-buat, toh aku belum memaknainya dengan sungguh-sungguh--atau mungkin kurasa aku baik-baik saja di titik ini, tapi sebenarnya masih belum cukup.

Aku hampir tidak suka membaca novel romantis. Genre novel remaja yang umumnya bercerita tentang petualangan keterikatan antar dua insan. Tentang mereka yang bertemu di kafe, melihat pelangi, angan-angan bersanding dengan cowok begini dan cewek begitu, tak sengaja bertabrakan di koridor dan menjatuhkan buku-buku... Fiksi itu malah sering membuatku merespon "halah opose iki". Dan berbicara tentang itu membuatku merasa lemah. 

Tapi di suatu sore yang anginnya agak gerah karena mau hujan, pikiranku berjalan kemana-mana. Mencari arti sesungguhnya dari semua ini. Orang bilang, kita seringkali cenderung menghindari hal, dimana hal tersebut sebenarnya adalah sesuatu yang membuat kita takut. Kadang kita menyalahkan si ini dan si itu atas kesalahan apa yang terjadi, menyalahkan kerikil karena membuat kita terjatuh dari sepeda, menghindari mengakui kekurangan diri sendiri karena takut bila kita menjadi pihak yang bersalah. Sekarang, konteksnya, bila menghindari adalah dekat dengan rasa takut, apa mungkin aku takut jatuh cinta?

Ah, kadang aku ya juga bicara cinta. Cinta pada Yang Mahakuasa, cinta pada keluarga, teman, saudara, yaaah mirip-mirip seperti "Kabhi Kushi Kabhi Gham" lah. Memang ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa cinta itu terlalu agung untuk diberikan pada sesama makhluk-Nya. Cinta itu diperuntukkan hanya pada-Nya--dan cinta rasul mungkin bila mengingat CD lagu-lagu Sulis yang dulu sering diputar. Tapi, poinnya adalah, aku ini tidak anti-anti amat kok dengan kata cinta.

Yang membuatku berpikir adalah ketertarikan antar insan di dunia ini. Kamu tahu kan, maksudnya? Tuh kan, menuliskannya saja aku masih malu. Aku harus mengakui bahwa aku sangat tidak dewasa dalam menyikapi pembicaraan tentang hal ini. Tapi, entahlah, aku jadi bingung sendiri kan.

Fatimah dan Ali juga saling jatuh cinta. Kisah mereka sangat indah, tidak diwarnai keberhasilan godaan setan. Tahu kan, bagaimana mereka saling mencintai dalam diam? Tapi, bagaimana bisa?

Anak muda jaman sekarang sering menjadikan pacaran sebagai jawaban atas stimulus-stimulus yang mereka terjemahkan sebagai rasa suka pada si orang ini atau si orang itu. Saking meleburnya budaya ini, sampai anak kecil yang baru mau beranjak remaja jadi berpikir bahwa itu adalah suatu hal yang legal-legal saja di kalangan remaja : memproklamirkan kepemilikan atas seseorang--yang merupakan putra atau putri orang lain yang juga punya masa depan sendiri dan bisa saja hidup bila tanpa kehadiran apalagi gombalanmu--berdasarkan rasa nyaman, suka, bahkan gengsi dan lain lain dan sebagainya.

Dan sampai di alur yang ini umumnya aku akan berpikir untuk memasukkan kalimat-kalimat nasihat bahwa pacaran adalah begini-begini, dan mungkin kalimat-kalimat motivasi. Tapi aku enggan. Aku tahu. Aku juga bukan penggemar dari pemberian nasihat yang diulang-ulang. Cukup satu kali saja diberitahu mungkin aku sudah mengerti, kok

Lalu untuk apa kita dapat stimulus itu bila seharusnya kita belum saatnya memprioritaskan hal tersebut?
Kenapa aku harus suka sama dia sekarang kalau sebenernya pacaran itu fana dan seringkali cuma buatan manusia untuk memenuhi keinginannya--bukan kebutuhannya?



Karena : kita perlu untuk belajar dewasa. Dewasa menghadapi diri kita sendiri. Dan orang lain. Dan rasa. Dan semuanya.



Aku berbicara begini bukan berarti yang paling mengerti atau yang paling benar. Yang jelas, rasa adalah anugerah, Tidak ada yang salah denganku, atau denganmu, ketika kita saling mendapat anugerah itu. Tinggal kita memilih : untuk mengambil jalan pintas sekarang, atau menunggu waktu yang menguji dan Ia membuat segalanya indah pada waktunya, sementara kita saling membenahi diri dalam naungan-Nya.


Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya syaitonirrojim, yang seringkali tampak indah dan menjanjikan di awal. Tapi setan ya tetap setan, kata Pak Chamdi.





*Ps : Aku membaca tulisan bela dan ternyata dia sedang menulis tentang cintanya juga, Cinta yang lain-lain.
**Ps : Beberapa pertanyaan di atas inspirasinya datang dari cerita teman, yang sudah cukup dewasa dalam menghadapi perasaan mereka.
***Ps : Beritahu aku bila kamu punya jawaban lain atas pertanyaan terakhir yang kutanyakan di atas.

Kamu Nggak Punya Tempat di Hidupku Ketika Kamu Mulai Berbohong

Kadang manusia bisa seegois itu untuk tidak memikirkan perasaan orang lain ketika Ia hanya memikirkan kepentingannya sendiri dan berbohong.

Lalu, masa bodoh, karena kebohongan hanya membawa kebencian dan keburukan yang nggak akan bisa kamu mengerti ketika kamu nggak tahu bagaimana rasanya.
Semulia apapun latar belakang yang bisa kamu pikirkan untuk berbohong, itu cuma alasan yang kamu buat demi setan.
Dan meski buat kebaikan atau kepentinganku pun, nggak ada alasan buat kamu berbohong.
Berbohong demi kebaikan itu omong kosong.
Kamu cuma memikirkan alasan fana dan mencari-cari keterkaitannya, kemudian menyalahkanku sebagai penyebabmu menyampaikan kebohongan.

Karena aku tau aku sudah nggak ingin, dan nggak bisa toleran.
Kamu nggak punya tempat di hidupku ketika kamu mulai berbohong.

Semoga Allah mengampuni dosaku dan dosamu.

"Kadang sesuatu yang jelas terlalu menyakitkan untuk dilihat"

Hari ini kacamataku dirawat inap di sebuah optik di pusat perbelanjaan dekat sekolah. Saat perjalanan pulang aku melewati jalanan yang sama yang kulewati tiap malam, tapi pemandangannya berbeda. Lampu-lampunya menyala tapi tidak kelihatan jelas karena minus mataku. Akhirnya malah jadi indah. Karena seperti bercak atau foto vintage yang gaya-gaya di pencahayaannya. Warna-warni, dan cantik. Aku tersenyum karena senang.

Lalu aku bercerita pada grup senamku. Aku khawatir tidak bisa senam dengan baik. Lalu Chikem malah memberi kata mutiara. Mungkin karena namanya memang mutiara.

Kata-katanya begini :

"Kadang sesuatu yang jelas terlalu menyakitkan untuk dilihat"

Aku melihat sesuatu yang membuatku sedih hari ini. Aku jadi bertanya-tanya seberapa besar dampak indera penglihatan pada suasana hati.

Oiya, selamat hari ayah. Mari menjadi anugerah dengan membenahi diri jadi anak soleh.

Belajar di Taman Kanak-kanak Impian

Mungkin tidak ya, kalau sudah aku besar nanti
Kubangun taman kanak-kanak
yang menggalakkan budaya antre
untuk anak-anak negeri
biar tidak aneh
orang Indonesia
saking tolerannya
sampai menoleransi
keserakahan diri
sendiri
dan menoleransi
keinginan
untuk selalu bersama-sama
seperti kepiting
yang mau ke atas
tapi ditarik lagi
sama temannya
di dasar kolam

"Yang penting bersama"
"Yang penting keinginanku terpenuhi"

Manusia Indonesia
suka
menangguhkan diri
dan merasa
orang lain harus tangguh
biar bisa bersaing
bukan
saling menghormati
kepentingan bersama

Bersama
bukan berarti
selalu bersama-sama

Sepertinya, taman kanak-kanak impianku
jadi tempat
yang banyak yang harus dikerjakan.

Sepenggal Cerita TK

Dulu waktu TK aku pergi ke dan dari sekolahku diantar antar jemput.
Sepulang sekolah sudah ada mbak ju atau mama di rumah.
Kakakku sekolah seharian karena sudah SD.
Biasanya mbak ju sudah menyiapkan makanan biar aku menonton tv sambil makan siang.

Lalu suatu hari entah mama atau mbak ju bilang pada pagi harinya,
memberiku pesan,
nanti pulang sekolah aku pulang ke rumah tetangga seberang.
Karena tidak ada orang di rumah.
Aku mengingat-ingat pesan itu agar jangan sampai lupa.
Baru pertama aku diberi tugas yang berat.

Berangkatlah aku ke sekolah.
Pulangnya aku diantar antar jemput.
Seperti biasa aku main drama bersama kawan-kawanku di dalam mobil yang jendelanya isis.
Lalu waktu sudah sampai depan rumah aku turun mobil takut-takut.
Merasa setiap pasang mata kawan-kawanku memandang ke mana aku melangkah.
Aku tidak melangkah ke rumah tapi ke tetangga seberang.
Menyalahi aturan dan membuatku salah tingkah.
Bagaimana bila mereka bertanya-tanya kenapa aku tidak pulang ke rumah?
Pikirku waktu itu.
Aku takut dan malu jadi satu.
Padahal masih TK B.

Lalu aku berdiri agak lama di depan pintu tetanggaku yang baik.
Aku harus melakukan apa ya?
Tiba-tiba pintu terbuka dan ada tante depan rumah.
Lalu beliau bilang di rumahku sudah ada orang.
Jadi aku diantar ke rumah yang letaknya hanya di seberang.

Hari itu aku sebal dengan orang rumah.
Karena merasa dijebak dan dibohongi.

Dunia Pasti Tempat Paling Kesepian

Pernahkah kamu merasa lelah di telinga,
karena kamu mau tak mau mendengarkan hal-hal yang tak perlu yang diteriakkan dunia berulang-ulang dan terlalu lantang?

Pernahkah kamu merasa pusing di kepala, karena terlalu banyak menyaksikan hal yang melelahkan di dunia yang mengecewakan?

Pernahkah kamu merasa kram di ulu hati, karena tak sepatah kata pun yang kamu rasa ingin kamu katakan, dunia tak memahami?

Aku mencari-cari alasan kenapa aku merasa pedih dan lelah di tengah dunia yang penuh hiburan. Aku melakukan hal-hal yang menyenangkan dan berusaha tak menghiraukan rasa muak yang memenjara inderaku. Ada begitu banyak manusia yang mengerahkan seluruh tenaganya di hari-hari untuk mencoba mengeluarkan tekanan yang disebabkan masalah yang mereka hadapi. Dunia jadi penuh sesak dengan balon udara yang mengandung keluh kesah.

Aku takut memecahkannya jadi aku berkelit dan menghindar.

Aku sering beranggapan bahwa bercerita adalah kemampuan yang dianugerahkan kepada manusia untuk menyembuhkan diri dari penyakit. Kadang aku merasa, bercerita harus pada sesama manusia. "Mereka akan lebih mengerti, karena mereka juga manusia," sederhananya. Tapi aku tidak pernah merasa lega seperti seharusnya ketika aku bercerita pada makhluk bertitel manusia. Ya, baiklah, aku tahu, aku juga bukan apa-apa melainkan manusia.

Tapi, apa, sebenarnya yang aku butuhkan?

Drama

Lucu, ketika aku hanya duduk diam di tengah keramaian dan mengamati dunia.
Aku melihat gerumbulan anak perempuan, satu di antaranya yang paling cantik berjalan di depan. Ketiga temannya seperti dayang.
Aku melihat pasangan yang sedang selfie, tidak bisa menahan geli melihat sang lelaki mengerut-kerutkan kening bergaya bersama pasangannya yang stylish. Mbak-mbak yang mengantarkan es jeruk kembali dengan tatapan ingin menangis. Mungkin ingat pacar di rumah belum sms tanya kabar.
Aku melihat keluarga yang bahagia, dengan seorang anak yang tidur di kereta ada balonnya satu.
Dan keluarga lain yang lebih meriah, dengan seorang nenek yang berusaha dekat dengan cucunya yang cantik-cantik. Cucunya tidak suka dijawil, jadi malah menjauh malu-malu.

Aku melihat banyak wajah-wajah manusia dan interaksi sosial yang menghibur hatiku.

Satu yang membuatku terhenyak adalah ketika aku, tiba-tiba tanpa sadar, membayangkan wajah mama dan kakakku
Duduk dan makan bersamaku.

58 tahun Smala


"Di ulang tahunku yang ke delapan belas tahun lebih satu hari ini, aku merasa takut. Takut tak sanggup mengemban doa yang begitu besar, begitu rumit."




Kemarin, aku berulang tahun yang ke-18. Rasanya tipis dan terulur, bila meminjam istilah Bilbo Baggins ketika perayaan ulang tahunnya yang ke sebelas puluh satu. Setidaknya begitu, sampai aku menyadari bahwa--kalau catatan sejarahnya benar--Smala sudah 40 tahun lebih tua dariku. Entah bagaimana rasanya jadi Smala.

Aku bersyukur telah dianugerahi waktu hingga sejauh ini untuk menjadi seorang manusia, tapi lebih menyesali waktuku yang terbuang sia-sia. Aku sadar bahwa waktu tak pernah menungguku untuk beranjak dari kasur dan melakukan kebaikan, Ia akan terus bergerak seperti sebuah stasiun kereta yang sibuk. Dan kurasa aku masih termasuk dalam kumpulan orang-orang yang merugi, yang belum bisa memaksimalkan anugerah yang dimilikinya untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain. Beribadah, membantu orang tua, menggerakkan diriku untuk belajar, membantu orang di jalan, semuanya. Mungkin itu salah satu alasan mengapa aku merasa tidak nyaman di hari ulang tahunku kemarin, karena telah membatasi diriku dengan batas-batas lelah yang semu.

Beberapa mendoakanku untuk menjadi dewasa. Entahlah, hal itu cukup menggangguku. Aku merasa menjadi seorang yang, yah, bagaimana ya menyebutnya, nyaman pada zona nyamanku. Aku banyak menikmati waktuku melakukan hal-hal yang beberapa orang lakukan (for the record, I'm that sanguin-plegma person) dan menjadikannya excuse untuk beberapa hal yang memang sebenarnya tidak perlu untuk aku lakukan, namun terasa nyaman. Aku nyaman menjadi diriku, tapi sebenarnya aku bisa melakukan hal yang lebih dari itu. Apa itu yang disadari sebagian orang, bahwa aku belum dewasa secara perilaku?

Sebenarnya, kami sudah diajarkan secara tersirat untuk menjadi dewasa di kehidupanku di SMA. Menjadi seorang Smalane adalah satu hal besar yang mampu membuatku jadi merinding. Apalagi, dilabeli sebagai "calon pemimpin peradaban". Hey, Smalane, kamu sudah didoakan jadi calon pemimpin peradaban! Sanggupkah kamu mewujudkannya?

Label itu, banyak digaungkan lagi saat ini, ketika Smala berusia 58 tahun. Smala, sebagai tempat penempaan dan pencetak calon pemimpin peradaban, katanya. Bisa kau bayangkan, bagaimana rasanya menjadi 'Smala', yang harus mengemban doa yang begitu berat?

Tapi sebenarnya, terkait dengan kalimat "Almamater ini besar karena kontribusi", bukankah hal itu menjelaskan, sebenarnya doa itu ditujukan kepada siapa? Yang melakukan pengaderan, yang menjalankan program-program, yang mencetak prestasi, yang terus berkontribusi meski sudah bebas tugas dari tiga tahun kontrak kehidupan di Smala, yang menjadi mesin dalam jam yang sudah tua ini. Masih belum jelaskah doa yang disampaikan itu untuk 'mengutuk' siapa? Kepada Smala? Kepada bangunan yang sudah ada sejak jaman Belanda itu? Kepada siapa?


Selamat, Smalane, kamu punya tugas berat lagi.


Aku jadi ingat beberapa opini publik mengenai dahsyatnya kurikulum 2013 bagi angkatan pembelajar kita dan adik-adik kita saat ini. Begitu banyak dan beragam opini yang disampaikan mengenai kurikulum baru yang dicanangkan pemerintah itu. Yang sangat disayangkan menjadi suatu tren yang berkembang. Bahkan diamanahi perubahan saja merasa tak mampu, bagaimana mau jadi pembaharu?

Sebagai seorang manusia, aku sadar menjadi sempurna bukanlah kewajiban, maupun hakku. Yang ku tahu, ada kuasa yang lebih besar di sana, yang tentu tanpa hal itu tak kan mampu kulalui waktuku sebagai seorang smalane. Sebagai seorang yang 'dikutuk' menjadi calon pemimpin peradaban.
Sebagai seorang manusia.

Laahaulawalaaquwwataillabillah. Semoga Allah meridhoi jalan kita.

Sorry to Say

as the time goes by, it turns out creepy to face the day that you were born years ago.

people call it birthday.
please, let me skip the day.

Mau Begini Begitu Salah

Ada saat di mana kamu ingin makan, tapi kamu tahu sebenarnya kamu tidak lapar.
Kamu bisa saja berangkat sendiri ke tempat-tempat yang kamu mau, bermain dan cekikikan sambil menggumam  dan melontarkan guyonan khas yang kamu tahu tanpa ada teman yang ngancani, tanpa terganggu tatapan ingin tahu orang-orang.
Atau belajar, mengerjakan soal, dan membaca buku oleh dirimu sendiri.

Kamu bisa,
tapi tidak mau
karena alasan yang kamu tidak tahu.

Sombong

Tapi, bagaimana menurutmu, bila ternyata kesombongan dalam hati manusia ternyata diperlukan untuk menghadapi manusia lainnya?

Trauma

Trauma itu, menurutku, adalah ketika kamu dihadapkan dengan keadaan yang sama yang membuatmu terjatuh di waktu sebelumnya, dan kamu tidak ingin hal yang lalu terulang kembali sehingga kamu menghindari bertemu dengan kejadian itu--atau kamu mengalami pertemuan yang tak terelakkan itu dan kamu takut akan terjadi hal yang serupa.

Dan karena hidup adalah pilihan, kamu bisa memilih : untuk mengulang masa lalumu, atau menciptakan alur yang baru.

Tidak ada yang menjamin bahwa kisahmu sekarang akan lebih baik dari kisahmu sebelumnya, terutama bila kamu tidak ambil pusing dengan evaluasi.

Tapi, mengutip dari salah satu bait yang dinyanyikan Coldplay dalam "Fix You";

But if you never try, you'll never know.

Bukan berarti gambling, atau gradak seenaknya sendiri.

Toh kita sudah ada aturan-Nya.

Postingan Selamat Datang

Hai kamu yang mungkin baru pertama berkunjung di halamanku ini!
Mari-mari sini, anggap saja rumah sendiri:)
Maaf sebelumnya kalau tulisan-tulisan di sini ada yang membuatmu tidak nyaman, atau membuat temanmu tidak nyaman, atau kucingmu, atau cicak di langit-langit kamarmu, atau entahlah aku tidak berusaha melucu aku tahu aku tidak selucu itu. :(
Jangan malu-malu untuk memberi komentar ya, atau menyapa di kolom chat di sebelah kanan berwarna biru juga tidak apa-apa.
Oh iya, biasanya aku menyempatkan waktu luangku untuk menulis beberapa kalimat di halamanku ini. Kadang skenarionya mengalir begitu saja saat sudah di depan si biru (laptop kecilku yang lucu dan menggemaskan). Atau juga ketika ada ide yang tiba-tiba muncul akibat suatu kejadian, aku menyempatkan menulis melalui gadget, yang aplikasinya bisa kamu unduh di playstore:)
Tapi, harus kuakui, halamanku ini penataannya masih kurang rapi, jadi kamu mungkin akan merasa kesulitan untuk mencari postingan yang kamu mau:( Sedang kuusahakan untuk menjadi rapi, untuk sementara ini silakan biarkan imajinasimu mengalir seiring scroll-an halamanmu ya:))
Yang paling penting, jangan tunda untuk segera menulis ketika kamu merasa mendapat ide! Aku akan turut senang bila kamu menciptakan inovasi baru dalam perbendaharaan katamu.

*Aku baru sadar aku menulis kata biru dua kali dalam kalimat sapaan panjangku di atas.*

Mari kita saling berbagi opini untuk membangun generasi yang lebih baik lagi:)

Selamat Membaca, Manusia

"Mempermudah jalan generasi baru menghadapi permasalahan dunia tidak akan menghasilkan generasi yang hebat. Melainkan generasi yang bergantung pada tangan-tangan yang menyokongnya untuk dapat berdiri."

Bagaimana cara seekor kupu-kupu berusaha ketika pertama kali keluar dari kepompongnya? Ia membuka selaput pelindungnya dengan dorongan sayap-sayapnya yang baru, merentangkannya lebar-lebar sampai dapat keluar dan terbang menikmati wujud barunya. Secara tersirat, hal tersebut dapat dimaknai sebagai pernyataan bahwa hidup ini adalah sebuah perjuangan, dan tak mungkin ada kesuksesan yang sejati tanpa perjuangan.

Berjuang itu sendiri dapat berarti banyak hal. Berjuang bersama, berjuang sendiri. Tak banyak yang bisa dilakukan manusia, salah satunya memperjuangkan hak-haknya dalam berkehidupan, atau yang dikenal dengan istilah Hak Asasi Manusia. Konon katanya, hak ini sudah dimiliki manusia sejak berada dalam kandungan. Hak mendapat perlindungan hukum, hak mendapat pengajaran dan pendidikan, pekerjaan, menyatakan pendapat, dan lain sebagainya. Umat manusia seakan berdiri pada kesepekatan yang sama dalam hal ini, Menyepakati aturan kehidupan sebagai sekumpulan besar manusia yang hidup di bumi.

Namun pada pelaksananaannya, hak-hak tersebut seringkali dipungkiri. Padahal, kesepakatan tersebut telah tercantum baik tertulis maupun tidak, berkali-kali diusung demi mengingatkan pada setiap manusia bahwa aturan tersebut "masih" ada. Namun sebenarnya, aturan tersebut dibuat untuk apa? Apa yang tengah manusia hadapi sampai harus menciptakan suatu jaminan dalam berkehidupan?

Saya tidak menjawab di sini apa yang menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut. Namun saya meyakini bahwa salah satu yang menyebabkan hal tersebut adalah perubahan zaman. Zaman yang berubah membuat manusia semakin berevolusi, mulai dari fisik hingga kemampuan beradaptasi. Teknologi saat ini sudah semakin canggih, penghitungan matematika, fisika, maupun misteri alam telah banyak terkuak oleh tangan-tangan ilmuwan dan imajiasi penulis. Perkembangan zaman tersebut diciptakan manusia untuk memperbaiki sistem kehidupan mereka--lagi-lagi mengenai hak berkehidupan. Seseorang yang pernah merasakan sakit tentu terbersit keinginan untuk tak merasakan sakit itu kembali. Bila bisa menyalakan lampu, kenapa masih menyalakan obor. Bila bisa menciptakan peradaban yang lebih canggih, mengapa harus susah-susah hidup seperti manusia goa.

Hal ini, tanpa disadari ternyata juga berpengaruh pada perilaku manusia. Ada beberapa orang yang merasakan rasa sakit bukan pada hal-hal seperti itu melainkan pada jiwanya. Sakit jiwa. Penyakit gila. Salah satu kecenderungan lain manusia dalam menghindari rasa sakit adalah "Wes, aku ae seng ngerasakno koyok kono, anakku engkok gak usah sengsoro koyok aku--Sudah, aku saja yang merasakan seperti itu, anakku nanti jangan sampai sengsara seperti aku".

Bila disalurkan dengan kadar yang tepat, sebenarnya pernyataan tersebut tidak ada salahnya juga. Kita sebagai generasi masa kini harus berterimakasih pada sifat dasar manusia tersebut yang memungkinkan kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik di masa yang sekarang ini. Hidup terasa lebih mudah, dengan adanya orang-orang usia lanjut yang menguasai dunia. Beliau-beliau yang sudah memakan asam garam kehidupan, dan lebih mengerti apa yang seharusnya dibenahi dari peradaban manusia saat ini. Saya akui, hal tersebut memang benar. Karena ketika melihat seorang anak kecil, terbersit rasa bangga pada diri saya bahwa saya sudah sejauh ini melangkahi kehidupan.

Namun hal tersebut juga dapat menjadi bumerang bagi peradaban manusia yang telah dibangun dengan baik untuk mencapai kestabilan, bilangan oktan. Tanpa adanya kader, Kerajaan Majapahit yang begitu besar dapat runtuh dalam sekejap. Tanpa adanya kader, tanpa adanya yang meneruskan.

Perlu kita ketahui bersama bahwa sifat dasar manusia yang lain adalah egoisme, individualistis. Suatu nilai yang seringkali disalahgunakan sehingga malah menjadi penyakit dalam jiwa manusia. Seorang yang tengah memiliki kekuasaan giat berkonsentrasi agar ditangannya lah peradaban ini dapat maju. Dengan gagahnya menampakkan diri sebagai seorang pahlawan yang tengah menghadapi berbagai peluru kehidupan, berdiri di depan menyongsong wajah-wajah baru yang masih kurang pengalaman, berkata "Aku akan menyejahterakan hidup kalian, kalian tinggal enaknya saja, Enak kan?". Seakan lupa bahwa kehidupannya di dunia dibatasi waktu.

Sebaik-baik generasi adalah generasi yang mampu menciptakan generasi yang lebih baik lagi. Dan menciptakan generasi yang hebat tak pernah berarti dengan memberi apa yang mereka inginkan--atau apa yang mereka mau. Atau memudahkan jalan mereka, menyapu segala rintangan yang seharusnya mereka hadapi sendiri. Melainkan memberi apa yang mereka butuhkan. Apa yang seharusnya mereka dapatkan untuk dapat menjalani kehidupan, sendiri, bukan dengan bantuan kita yang nanti akan tutup usia. Meminjam istilah Bung Karno : Berdikari. Berdiri dengan kaki sendiri. Dan untuk memberi itu semua bukanlah hal yang mudah. Karena kita tidak hidup di zaman mereka, sehingga kita perlu melihat jauh ke depan untuk mengintip masalah apa yang mungkin mereka hadapi.

Dan poin yang ingin saya tekankan di sini adalah : tak peduli seberapa inginnya kamu dianggap baik oleh generasi penerusmu, pada akhirnya kamu akan tutup usia juga. Dan baik yang seperti apa yang ingin kamu kesankan pada mereka? Mempermudah jalan orang lain memang perlu, dan berpahala, karena Allah akan mempermudah jalan orang yang mempermudah jalan orang lain di jalan kebaikan. Namun bayangkan bila pada akhirnya nanti kamu harus pergi, padahal masih banyak dedaunan yang belum disapu dari jalan mereka, sedangkan pepohonan masih menggugurkan daunnya. Siapa yang akan menyapukan jalan untuk mereka bila bukan diri mereka sendiri? Tegakah kamu menjadi penghambat pertumbuhan mereka?

Lakukanlah sebaik mungkin apa yang menjadi porsimu. Kembangkan kreativitasmu pada saat waktumu. Namun jangan pernah melupakan generasi penerusmu, yang berhak mendapat apa yang berhak mereka dapatkan.

***Hal ini berlaku pada kondisi tertentu, yang sudah diluar batas logika. Misalkan saja pada waktunya menyalakan api unggun malah di suruh berenang. Takutnya kepanasan. Biar apa.

Master Oogway Mengajariku untuk Percaya

Kalau kamu malah sedih, kalau kamu menganggap besar masalahnya,

kalau kamu terlalu khawatir,

lalu siapa yang memercayainya?

Seperti Dulu (Tertampar Sosis Bernardi)

Matahari sudah tenggelam
hari berubah jadi malam
tiba-tiba dia lapar
lalu melongok ke kulkas
ada sosis,
tapi sosisnya bukan
sosis bernardi
seperti dulu.

Api kompor dinyalakan
dia mengambil pisau
daging sosis dipotong,
tiga bagian,
lalu disayat
seperti kepiting,
seperti dulu.

Minyak gemericik
judulnya juga bukan
minyak sunco
seperti dulu
dia menggoreng
sampai mengembang
mengambang
seperti dulu.

Dia tergugu
menatap langit
yang sudah gelap
dia bercerita
tapi angin menolak
karena angin tak mau
campuri urusannya
tak bisa dipaksa

Hari sudah malam
tak kunjung pulang
pedas lidahnya
karena sosis
yang dicocol sambal
perih jiwanya
kalut.

Waktu berjalan
untuk antarkan
dirimu
diriku
dirinya
hadapi realita
tanpa mimpi.

Surabaya, 13 September 2015

Dia Masih Akan

Dia masih akan pergi ke pesta.
Dia masih akan tertawa, dan bermain, dan berbincang-bincang.
Dia masih akan bangun di pagi hari dengan atau tanpa kehadiran orang lain, menyeruput teh dan bermain tic tac toe sambil sarapan bubur ayam.
Dia masih akan memikirkan masa depan bangsanya.
Dia masih tak akan mengerti bagaimana rasanya untuk menjadi apa yang orang lain jadi.
Dan dia masih akan tetap meninggalkan tanda tanya tanpa sedikit pun penjelasan.

Dia masih akan melakukan itu semua,
karena dia bisa.

Berlari

Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berdoa, Ia melaksanakan literasi.
Alif Fikri sedang menunggu kehadiran faks dari politisi untuk wawancara TV lokalnya di Kanada.
Ia tak membuang banyak waktu, segera menyerahkan resume pada Bapak Guru di kursi yang tinggi.
Kondisinya tidak enak, tapi ditepisnya jauh-jauh rasa mual di tenggorokan.
Rekornya tak begitu memuaskan minggu lalu, hanya dua puluh satu koma empat puluh enam menit.
Korupsi tiga menit empat puluh enam detik dari jatah maksimalnya.
Stretching, bukan keahliannya.
Tapi hari ini dengan kaos kaki pendek berlorek-lorek Ia meregangkan pergelangan tangan, kaki, betis, badannya yang kaku di depan lobby kelas sepuluh, dengan serius.
Kembali terbayang perjalanan penuh peluh dan polusi dari truk yang lewat di kesempatan yang lalu.
Ia harus mengejar ketertinggalan tiga menit empat puluh enam detik dengan kondisi hati yang masih trauma.

Apa Ia bisa?

Ketika detiknya mulai berjalan Ia melangkah kecil-kecil tapi pasti.
Di pinggir-pinggir sambil mengatur irama nadi.
Ia agak terdistraksi suara derap sepatu rival yang melangkah tak beriringan.
Dibayangkannya seperti derap kuda di film-film action.
Apa lebih baik Ia menyumpal telinga dengan suara-suara dari telepon-telinga?
Tapi sudah terlanjur.
Ia dilarang melangkah mundur.

Kemudian Ia melewati tikungan pertama dengan fokus yang masih lumayan tinggi.
Ia berlari di belakang salah satu rival, tertampar daun yang sengaja disibak dari depan. Berusaha fokus. Fokus.

Tikungan yang kedua, ritmenya masih sama.
Minggu sebelumnya Ia sudah memelankan ritme di tugu dua nama besar yang menghadap Wijaya Kusuma.
Kali ini Ia berhasil mempertahankannya sampai lewat tikungan ketiga.
Kabel hitam yang menjuntai di atas dedaunan yang lebih rindang menjadi hiburan visual, lurus-lurus terus sampai ujung.
Tapi Ia hampir kehabisan napas sebelum tikungan keempat lewat.
Ia hanya sendiri. Satu-satu kawan dan lawan pergi. Entah tertinggal atau meninggalkan.

Yang jelas, pertarungannya kini dengan diri sendiri.

Mengambil napas dari mulut malah membakar paru-paru; tapi jalur hidungnya hampir takluk tanpa ritme yang tak tentu.
1, 2, hembus... 1, 2, hembus....
Ia melewati start point dengan langkah ringan, sambil pencitraan pada se-pleton murid baru dalam gerbang.
Masih harus berputar lagi.
Ia mulai setengah-setengah berjalan. Tapi tidak pernah lama-lama, berusaha tak tunduk pada pikiran yang menguasainya.
Ah, berjalan saja. Daripada ambruk? Cari amannya saja.
Bisikan itu tak hanya sekali lewat di telinganya yang berdengung.
Toh nanti masih les sampai malam, kalau tenagaku habis di sini malah susah.

Tapi Ia tahu tak sepantasnya Ia merendahkan kemampuan dalam dirinya.
Jadi Ia berlari tanpa membuka mulut, melangkah sambil sesekali meyakinkan diri. Memaksa nadi berdenyut melebihi batas diri.

Salah satu teman menyemangatinya. Ia tahu Ia bisa. Jadi dipercepat langkahnya. Tapi masih tak mampu menyamai langkah. Ia tertinggal sambil meremas pinggang, hampir takluk. Masih ada setengah jalan sampai garis start yang jadi finish. Setengah jalan masih jauh. Setengah jalan apa cukup?

Di menit kesepuluh Ia masih harus mengejar sepertiga lebih. Ia bisa melihat punggung temannya menghilang di tikungan. Ia mau menyerah.
Tapi segera digelengkannya kepala.
Ia melangkah, lebih jauh, amat jauh....
Sampai di jalur lurus terakhir sebelum gerbang.

Dia memaksa diri mempercepat langkah. Masih segar diingatan teriakan beliau dua tahun lalu,

SPRINT! SPRINT! SPRINT!

Paru-parunya panas seperti terbakar. Peluh mengalir di keningnya yang terasa panas. Kedua kakinya mengayun, tapi menolak lebih jauh. Genggamannya basah oleh keringat yang terasa asin.
Hampir sampai... hampir...
Di tengah kekalutannya Ia mendengar teriakan Bapak Guru sambil melihat stopwatch.
Tak terdengar, apa yang diteriakkan beliau?
Diturutinya insting untuk berlari lebih cepat. Ia tak dapat memperhitungkan berapa menit berlalu setelah menit kesepuluh. Ia hanya berlari.
Tidak ada kesempatan setelah ini. Sekarang atau tidak sama sekali!
"Diperhitungkan waktunya! Cepat cepat! 58...59... 18.00!"


Aku mendengar suara tepuk tangan. Tak ada yang bertepuk, tentu saja. Semua kelelahan meluruskan kaki. Tapi aku tahu, itu suara hatiku yang bersorak. Melampaui batas diri. Aku bisa lebih baik lagi.

Cerita Senja

Komitmen itu nggak gampang. Komitmen itu nggak mudah.

Aku melangkah memasuki dunia di mana komitmenku digonjang-ganjing terpaan angin. Mau bilang sama siapa? Masak mereka bakal ngerti?

Ingin rasanya aku jujur-jujuran saja, bilang pada dunia, toh masyarakat juga sudah terlanjur melegalkan yang ilegal. Toh semua "masih" baik-baik saja. Toh, aku nggak melakukan hal yang salah.

Aku memiliki alasan atas apa, dan bagaimana aku bertindak. Aku tahu aku hanya bagian dari anak muda yang sok tahu tanpa pikir panjang. Tapi aku sungguh tidak tahan dengan apa yang mereka sebut sebagai, entahlah, komitmen?

Salahkah bila aku bertingkah sebagaimana manusia?

Aku bukan malaikat yang selalu benar. Aku bukan nabi yang bisa sempurna, kalau kata lagu. Aku ya juga sakit hati kalau jadi yang paling tidak diceritani waktu ada masalah, bahkan di lingkup paling dekatku sendiri.
Masio aku masih bisa dibilang paling jauh rentang umurnya.

Bicara tentang apa yang disebut fase perubahan, aku tahu tidak bijaksana bila aku berkeluh kesah di sosial media yang bisa diakses bahkan seorang anak kecil yang tak pernah kukenal di Zimbabwe sekalipun. Tapi aku sudah tidak tahu bagaimana alur ceritanya kalau begini. Aku ini anak kecil atau anak besar?

Susah menjadi berbeda. Aku tahu bukan begini yang mereka pinta. Tapi aku berusaha memadukan keduanya, dengan apa yang kusebut dengan "Buat apa membuat hatimu bersedih", untuk menciptakan formula meraih cita-cita.

Salahkah bila aku haus akan petualangan, dan bukannya belajar mengurung diri di rumah?

Aku tahu aku tidak patut dicontoh. Tapi, entahlah. Semoga Allah meridhoi jalan kita.

Daripada Beli Rokok, Lebih Baik Beli Koran

Tidak, saya tidak merokok.

Kebetulan setiap berangkat sekolah (hampir setiap hari saya mengunjungi sekolah karena kangen) saya diantar mama atau kakak. Ada dua perempatan besar yang kami lewati, satu di sebelah Galaxy Mall dan satu lagi di depan kampus A Universitas Airlangga. Seperti perempatan-perempatan besar pada umumnya, ada loper koran di sana. Bedanya dari perempatan lain yang saya lalui di kota besar ini adalah, loper koran di kedua perempatan itu menyalurkan semangat yang bikin saya heran.

Di perempatan pertama adalah seorang mbak-mbak, mungkin berusia 20an. Karena belum sempat berkenalan mari kita sebut saja Mbak Tari. Kenapa? Karena mbaknya senang menari. Mbak Tari memang lincah, kadang tidak mengenakan alas kaki atau sandalnya memang transparan jadi tidak kelihatan. Rambutnya panjang dan selalu diikat kuncir kuda, lalu mengenakan topi safari dan rompi penjaja koran. Mbak Tari hampir setiap pagi selalu ada di perempatan ini, jarang saya melihat beliau absen. Meski harus bangun pagi-pagi sekali, Mbak tari selalu lincah berjalan dari satu mobil ke mobil lain setiap lampu berubah jadi merah. Beliau juga ramah. Kadang bila ada mobil yang ngerem di dekatnya Mbak Tari meloncat ke samping agar tidak tertabrak. Entah kenapa, semangat Mbak Tari lebih terasa.

Di perempatan kedua, saya bingung harus menyebutnya mas atau bapak. Usianya mungkin sekitar 30an. Beliau dianugerahi sebelah kaki yang tidak seperti orang pada umumnya. Sama dengan Mbak Tari, Pak Beno (nama yang baru saja saya pikirkan) outfit-nya sehari-hari yaitu topi safari dan rompi khas. Mungkin sedang ngetren, atau memang dresscode.

Mbak Tari dan Pak Beno memiliki semangat dan kegigihan yang sama. Juga konsistensi yang sama, karena setiap pagi saya selalu disapa wajah-wajah mereka yang penuh semangat. Meski ada penjaja koran lain dalam satu lampu merah tapi entah mengapa saya me-notice beliau-beliau ini dari penjaja yang lainnya. Kadang, hanya melihat gerakan lincah Mbak Tari atau semangat berjalan Pak Beno saya jadi tertarik membeli koran. 

Kemarin ketika pengumuman SBMPTN, saya beli koran di Mbak Tari. Harganya empat ribu rupiah saja. Sekarang, bila Pak Becak, atau Pak Ojek, atau bapak-bapak lain yang tidak bisa saya sebut satu-satu menginvestasikan empat ribu rupiahnya setiap hari untuk membeli koran ketimbang membeli rokok, mungkin negeri ini bisa lebih makmur. Sebelum narik baca koran, sambil nunggu pelanggan baca koran. Sampai di rumah korannya dibaca anak-anak dan istri beliau. Wawasannya itu, lho, jauh lebih mahal dari empat ribu rupiah.

Masih ingat kan salah satu juara acara kuis Who Wants To Be A Millionaire yang dulu sempat fenomenal? Kalau saya tidak khilaf, beliau yang setiap hari membaca koran yang dijajakannya :)

Mari budayakan literasi. Membaca itu memang butuh waktu, tapi waktu yang kita investasikan untuk membaca sekarang insya Allah akan terbayar entah berapa tahun atau mungkin hanya dalam hitungan detik ke depan.

Cie tumben postingannya baper

Aku tuh ingin beli sepatu.

Tapi harganya kok mahal sekali ya, mana tega kalau harus minta orang tua. Nah makanya ku mencari cara tuk cari duit. Makanya ku putar-putar otak biar mengalir. E ternyata susah ya:( Tapi lalu ku cari inspirasi sambil menonton film We Bought A Zoo (2011). E lakok filmnya juga tentang si bapaknya itu mengalami petualangan yang nyata, setelah selama ini berpetualang dibiayai sponsor. Iki ta jenenge petualangan yang nyata:(

Lalu akhirnya ku dapat ide dan sudah kukemas, pencet send deh. Pas scrolling scrolling kok idenya banyak yang nyamain. Ya hashtag mengutuk diri sendiri karena punya ide kok ya mainstream banget:'( Yaudah kan ya semangatku pun turun padahal masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan untuk menambal keperluan. Habisnya kalo gaada backup plan nanti sepatuku kandas. Tapi kan aku suda down gitu kan ya merasa bagai butiran sari gandum yang tak ada apa-apanya. Yaudah buka lagi sumber inspirasi lain e ada iklan sepatu:'(((( baper deh semangatku pun tumbuh kembali tapi baper.

Ini malam ke dua puluh tujuh tapi mama masih ada acara dan mbakku habis beli kaos buat nonton konser tanggal 1 Agustus. Enaknya aku cerita ke siapa?:(

Kadang, aku hanya ingin waktu untuk berhenti berjalan.

Apa yang mungkin akan kudapatkan ketika aku tak memilih jalan perjuangan ini

Aku bisa memilih untuk menjadi putih dan dingin,
bergerak dibalik sekedar hem putih seragam sekolah, memakai jam tangan warna-warni dari toko-toko masa kini. Kemudian tersenyum memperlihatkan kawat gigi disetiap selfie yang akan ku upload di sosial media, melonjak senang pada setiap notifikasi hati yang mengalir deras. Kemudian aku bahagia, bersosialisasi dengan sesama, ramah dan bersih di wajah karena setiap hari pulang dijemput supir.

Aku bisa memilih untuk menjadi liar dan gemerlap,
tidak peduli apa kata orang yang sengaja menelisik kehidupanku. Menjadi gila di depan kamera dengan membuat wajah-wajah lucu, hidup bergelimang barang-barang cantik dari online shop setiap kali habis transfer. Bersama mobil, tersenyum manis dan tak terkalahkan.

Atau aku bisa memilih untuk menjadi keduanya,
travelling keliling dunia nyata dan membicarakannya di dunia maya, aktif bicara di forum-forum terkemuka dan penuh rasa percaya. Menjadi yang cantik dan rupawan, baju warna-warni sekaligus ceria. Aku membeli apa yang aku mau, dengan jemari lentik habis dirawat aku mengetik 140 characters untuk tweet terbaruku. Followersku beribu. Menjadi apa yang orang akan like atau beri hati di sosial media.

Aku bisa saja memilih untuk itu.
Untuk tidak terbakar di tengah sinar.
Untuk tidak menutupi belang di lengan,
dan lingkaran di wajah.
Untuk berhenti bergerak ketika aku mau.
Untuk memberi beragam alasan atas nama manusia.

Untuk menjadi apa yang mereka suka.

Kala

Teruntuk adik-adikku yang gemar menuntut ilmu,

Apa kabar, kalian di sana, wahai pejuang? Sayang, aku tidak bisa menemui kalian satu per satu. Karena siapa juga aku berhak menemui kalian dari pintu ke pintu. Bagaimana perjuangan selama ini? Melelahkan, atau bahkan tak terasa setitik peluh pun?

Selamat datang, adik-adikku.
Selamat datang di dunia di mana siapa hendak menjadi kawan atau lawan tiada yang tahu.

Cepat atau lambat, kalian akan mengerti. Bahkan air gula pun terasa pahit kala itu, Dik. Aku tidak mengada-ada ketika memperingatkan kalian untuk segera menutup pintu. Hari tak pernah menunggu malam untuk menyelinap memasuki celah-celah kecil itu, seandainya kalian tahu! Ada banyak kehidupan yang begitu memilukan. Dan lebih banyak canda yang saling dilontarkan untuk menutupinya. Aku tak ingin hanya berdiri diam dan memaki-maki dalam hati. Aku ingin kalian tahu, Dik. Saat ini, hidup tak akan semudah itu.

Kalian mungkin bertanya-tanya, apa aku sudah kurang waras? Meniup kabar yang jauh dari gembira pada adik-adikku yang sungguh aku rindu. Jawabannya : kalian akan tahu. Tak hanya saat kalian melihat apa yang kusaksikan, namun jauh ketika kalian memahami intisari yang berusaha mereka sampaikan.

Mereka bilang hal baik akan datang pada mereka yang menunggu. Aku tahu betapa lelah batinmu menunggu sesuatu yang menjadi harapanmu itu, Dik. Aku tahu bagaimana engkau menorehkan beberapa tetes air mata pilu pada buku harianmu. Akan kuberi tahu sesuatu, wahai adikku. Harapan itu tak kan datang dalam hitungan waktu. Ia tak akan muncul di depanmu meski kau menunggu. Namun Ialah, dan memang beginilah, Ia yang akan mengiring senada detak jantungmu.

Aku tak pernah memaksa untuk percaya. Waktu bagaikan air mata kejam di air terjun, Dik. Engkau akan segera mengetahuinya.

Aku berharap kalian dapat mengerti untuk tak lagi menangis kala pelangi masih berupa warna, belum menjadi putih seutuhnya.

Slipihed

Apakah ini saatnya aku berusaha keras seperti Laura Castellano dan Barney Livingston menjadi zombie,
atau aku memulihkan diri untuk menghadapi hari yang tak pasti?

Maybe I'm Dreaming

Mungkin aku hanya lelah.
Lelah karena apa, kalau boleh tau?
Mungkin aku hanya mengada-ada atas kelelahanku.
Mungkin sebenarnya aku tidak lelah sama sekali.
Karena aku tidak punya alasan untuk itu.
Tapi apakah kita harus selalu memiliki alasan untuk melakukan sesuatu?
Sebaiknya sih begitu, agar bisa menjawab bila ditanyai.
Agar bisa memupuk kembali semangat yang mungkin mati.
Agar bisa membangun niat lagi.
Bila sudah jatuh, apa yang bisa menarik tanganku kembali berdiri bila bukan alasan pasti?

Aku hanya penasaran.
Apakah kalian tahu apa yang kurasakan.
Tapi apakah penting untuk kalian tahu apa yang kurasakan.
Karena untuk merasakan rasa kalian sendiri kalian kewalahan.
Kita, lebih tepatnya.
Sebenarnya aku merasakan apa?

Aku tidak bisa berdiri di sini dan memaksakan kehendakku.
Padamu, padanya, pada dunia.
Aku tahu gunung itu berdiri karena kuasa-Nya.
Langit itu tunduk dihadapan-Nya.
Kita semua adalah milik-Nya.
Apa yang membuatku merasa memiliki sebagian harta kekayaan dunia?

Kadang-kadang

Kadang-kadang aku melihat beberapa hal.
Kadang-kadang orang lain juga melihat beberapa hal yang sama.
Kadang-kadang orang-orang lain sampai akrab dan senang,
kadang mereka sampai tertawa-tawa,
tapi aku cuma gigit gigit kuku saja, sih.
Kadang-kadang orang lain berbicara ringan,
satu dua kali perhatian sedikit,
bertanya-tanya apa dan kenapa, memarahi lucu......

Kadang aku suka cemberut.
Tapi aku mencoba sering tersenyum.
Berhak apa aku marah kalau stiker-line-yang-baru-kubeli-dan-ingin-kujadikan-trademark ternyata dipakai teman?

:))
Toh semua juga milik Allah

Kebahagiaan itu Ada dalam Buku

Bagiku, perpustakaan itu seperti peti harta karun. Hartanya tidak ternilai, dan meskipun tidak berkilau seperti keping emas di film-film, ia malah membuat penikmatnya yang berkilau.
Atau seperti perjalanan yang amat panjang, di mana ada banyak kisah-kisah menarik yang layak ditunggu di beberapa pemberhentian. Seperti penjaja koran di lampu merah, atau pawai yang senang diceritakan.
Atau yang menjadi favoritku : bukan sebagai tempat lari dari masalah, tapi tempat mencari masalah.

Aku penasaran apakah surga isinya buku-buku.

Aku sudah hampir sampai di kalimat paling terakhir yang bisa disampaikan Eric Weiner dalam salah satu bukunya tentang pencarian terhadap kebahagiaan. Judulnya "The Geography of Bliss". Semakin ke sini, semakin banyak konklusi cemerlang yang Ia kemukakan terhadap topik paling tidak masuk akal sebagai riset di atas muka bumi, kebahagiaan. Banyak kesimpulan mengenai betapa tidak berpengaruhnya uang terhadap tingkat kebahagiaan suatu negara, atau beberapa yang lain tentang minum kafein sebagai suatu budaya yang menentramkan. Aku tidak menyimpulkan, meskipun ada beberapa kesimpulan yang membuat nafas lega.

Sempat tertunda lama gara-gara UTS

Salah satu bab yang Eric tawarkan adalah mengenai sebuah negara yang "menarik globalisasi untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaannya, bukan terpengaruh globalisasi" : India. Aku sempat membaca sedikit tentang India di buku Gola Gong, ketika beliau berkeliling dunia di atas sepeda dan sempat singgah di negeri auditori itu. Melihat gambarannya di film Life of Pi, dan beberapa serial tv seperti Jodha Akbar atau Mahabharata yang lagi ngehitz lagi sekarang. Herannya, apa yang disampaikan Eric maupun Gola Gong adalah hampir-hampir-sama, meskipun dari sudut pandang orang yang berbeda, waktu, bahkan tempat dan tujuan yang belum tentu sama.

Apakah bumi ini ya begitu-begitu saja?

Aku jadi penasaran apakah ada arti yang mendalam tentang perintah hijrah. Mungkinkah hijrah maksudnya perpindahan antara dua dunia? Mungkinkah maksudnya kita tidak perlu takut menghadapi kehidupan selanjutnya--terlepas dari segala persyaratan yang ada--dan rela karena hakikatnya kita memang diperuntukkan untuk tujuan itu : hijrah?

Satu dialog yang cukup sederhana dalam perjalanan Eric adalah ketika Ia bertemu seorang bartender bernama Happy dalam persinggahannya di bandara New York.
"Apakah itu nama asli Anda?"
"Ya. Ayah saya gembira sekali ketika saya lahir sehingga saya diberi nama itu."
"Jadi, maaf kalau saya bertanya--saya yakin Anda mendapatkannya selama ini--tapi kenapa bisa begitu?"
"Kenapa bisa begitu apanya?"
"Rahasianya--rahasia menjadi Anda, menjadi Happy (Bahagia)?"
"Tetaplah tersenyum. Bahkan ketika Anda sedih. Tetaplah tersenyum." 
Tersenyum. Sejak di taman kanak-kanak, aku dan teman-temanku sudah diajari bahwa senyum adalah sedekah. Bahkan membaca kata senyum saja sudah membuat senyum. Kini, dalam skala kesubjektivitasan yang kubuat sendiri, senyum termasuk salah satu dari kumpulan bentuk kata-kata ekspresional yang tulus yang pernah diucapkan manusia.

Mungkin jari-jari Wolfgang Amadeus Mozart serta para komponis legendaris lainnya tersenyum saat memetik dawai piano melalui sentuhan pada tuts yang mengkilat. Jari yang tersenyum menghasilkan melodi yang indah.

Yang indah dari buku ini adalah mengenai tata bahasanya yang jenaka, rumit, tapi tetap bisa dipahami. Kosakatanya kaya, tapi menggelitik. Terimakasih kepada Bapak M. Rudi Atmoko selaku penerjemah dan segenap kru serta Penerbit Qanita atas terbitnya buku yang begitu edukatif, hingga sampai di tangan saya sebagai sebuah takdir yang manis.
Lagi-lagi, bukan suatu kebetulan.
Dan bukan berarti saya mengenal, atau sok mengenal.....
tapi memang informasinya tertera di halaman depan buku.



Senang rasanya bisa menulis. Senang rasanya bisa membaca tulisan yang berkualitas.

Senang rasanya memaknai hidup sebagai kebahagiaan, dan memperjuangkan akhir yang bahagia.

Balada Divisi Writing

Q : gimana perasaanya sebagai reporter majalah pas majalahnya udah terbit?

A : hai. oke. agak nyelekit nyelekit kecewa, sih. mostly anak-anak pada ngeliatin foto dan gambar-gambar ilustrasi dari layout. lembar yang jadi favorit bisa jadi lembar salam-salam yang memuat--apalagi?--salam-salam. ingin rasanya bertanya pada langit "adakah di dunia ini yang bakal ngomentarin tulisannya?? isi dan informasi yang disampaikan lewat kata-kata??? adakah?? mungkinkah??!!" *kemudian emoticon nangis bombay*

sampai kemudian tiba saatnya jam transisi antara prakarya dan biologi, yang mengantarkanku berjalan menuju bilik kecil di dekat dinding pemisah dua sekolah. di sana ada beberapa adik gen yang mau ganti baju habis or. lalu ada enur, maksudku, dek hil, yang menjawab pertanyaan pada langit.
terharu ingin menangis rasanya seperti menemukan jodoh, "akhirnya ada yang ngerti" dengan emot yang pas yaitu ":')"

ya baiklah, okay, yuk belajar

Rancu

Aku tidak pernah menyangka ulangan mat dapat berdampak pada lingkungan sekitarnya. Berdampak buruk. Sangat buruk. Seperti habis menghadapi hari yang berat yang diawali omelan, atau merasa bersalah seharian karena kesalahan yang tak perlu. Sama seperti itu, hanya saja lebih aneh, karena konyol.
Lalu siapa yang harus disalahkan : Sang pembuat soal? Pencipta ilmu matematika? Sang guru? Atau murid yang tak bisa mengerjakan?

Kasusnya agak mirip dengan sebuah masa ketika kamu hendak melakukan sesuatu yang wajib dilakukan, tapi terjebak faktor alam, yang sebenarnya bisa dihindari bila seseorang menepati waktunya dengan tepat.
Kembali siapa yang harus disalahkan: Orang yang tak menepati waktu? Faktor alam? Atau ketakutan pada hal yang fana?

3

"Apapun yang terjadi, suatu aspek penting dalam kehidupan baik, kehidupan yang bahagia, adalah berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri, mengakui bahwa kita tidak hanya sekadar merupakan titik-titik pada layar radar kosmis, tetapi merupakan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar."

Catatan Harian di Secuil Hari Kamis

Sejenak tadi aku duduk, diam di tempat. Dengan sebelah tangan menahan lembar buku yang lagi aku baca. Ada angin dari kipas angin di atas kepalaku. Kelas hiruk pikuk siang ini. Hari ini pulang siang.

Sudah dua kali jam kosong, matematika dan ekonomi sebelum kami menutup kegiatan murid diajar guru hari ini. Setelah itu pulang, atau ada seminar aku kurang paham. Pak Ali tadi masuk kelas lagi. Tania langsung berbisik psst psst padaku, "Briefing pagi, fa" ungkapnya. Aku agak tidak enak karena sering tak begitu mendengar beliau.

Tenggorokanku sakit, dan beberapa kali pusing sejak beberapa hari. Sekalimat singkat yang kuungkap kemarin cukup aku sesali, kok.

Mau beli mamik yang pedes sekalian, biar mati.

Alhasil porsi sambel penyet yang rajin kupesan sedikit, hari ini kubiarkan dituang mamik banyak-banyak.

Tapi agaknya mamik juga sudah jauh-jauh hari mengurangi presentase cabai dalam sambel buatan beliau. Harga cabai amat tinggi.

Seekor nyamuk dengan garis-garis putih di kakinya terlihat jelas di tanganku pagi tadi. Aku membiarkannya, di awal.

Siapa tau nyamuk aedes aegepty, biar db sekalian.

Jadi selama sepersekian detik aku membiarkan nyamuk itu bersiap-siap, melipat sayap, hendak menghisap.......
Lalu aku berteriak dan menghempaskan tanganku kaget.
Nyamuk itu pergi.

Aku tidak jadi kepedesan.
Aku tidak jadi db.
Jam pelajaran ekonomi tidak jadi kosong.
Bu Nur duduk,
ujianku dapat 100.



Astaghfirullah, tahu apa aku soal mati?

2

...

Tuhan menciptakan lahir dan mati
Siang dan malam, bulan dan bintang
Berpasang-pasangan menyatukan hati

Bersiaplah mengarungi perjalanan panjang
Di mana segala tahta dan harta tak ada guna
Kecuali manfaat ilmu, anak saleh, dan menanam kebaikan

Itulah ujung perjalanan panjang kita
Berada di sisi-Nya

...

1

Setiap melihat burung, aku cemburu
Karena mereka terbang menjelajahi dunia baru
Tapi aku tidak mesti menjadi burung untuk itu
Allah Swt. sudah menggariskan hidupku
Jalanilah dengan ikhlas dan penuh kesungguhan
Percayalah kepada-Nya karena segala yang ada
Disesuaikan dengan kondisi masing-masing
Hanya perlu diingat, seperti kata pepatah,
"Kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan".
Di situlah makna dari ujian.

......

Mobil-mobilan

"Huh sebal!"
Bima ngambek. Mainan baru Angga, kakaknya yang hanya 2 tahun lebih tua, lebih bagus dari miliknya. Padahal robot-robotan milik Bima juga masih sangat bagus, baru dibelikan Papi dua hari lalu.
"Aku mau mobil-mobilan yang itu!" sungut Bima, kesal. Jelas, Angga tak mengizinkan. Celengan ayamnya jadi jauh lebih ringan akibat membeli mobil-mobilan itu. Ia tak mau mainan yang sudah jadi incarannya sejak berbulan-bulan yang lalu itu dirusak adiknya yang masih kecil. Lagipula, Ia baru memainkannya sebentar.
Bima tak mau kalah. Ia mulai merengek. Papi berusaha membujuk Bima untuk diam dengan imbalan membelikannya yang serupa. Tapi, rengekan Bima makin kencang. Ia cuma mau mobil-mobilan milik kakaknya!
Papi berusaha membujuk Angga untuk berbagi dengan adiknya, dan menyuruh Angga untuk belajar saja. Angga terdiam. Dipandanginya mobil-mobilan keren itu. Plastik pembungkusnya saja masih tergeletak di dekat pintu kamarnya. Angga ingin sekali menikmati bermain dengan mobil itu lebih lama.
"Tidak mau! Mobil-mobilanmu yang lain kan masih ada!" bentak Angga.
Ini bukan pertama kalinya Bima bertindak semaunya sendiri. Dan juga bukan pertama kalinya Papi membela adiknya itu. Bima selalu merasa tahu apa yang Angga pikirkan, padahal sebenarnya Ia tidak tahu apa-apa. Bima selalu ingin apa yang Angga mainkan, dan tak pernah berhenti mengganggu saat Angga hendak belajar. Yang paling membuat Angga kecewa adalah, Papi selalu membela Bima.
"Papiiiiii!!!!!!" Bima mulai menangis. Diadukannya perlakuan Angga pada Papi, dengan dibesar-besarkan. Papi menatap Angga.

Angga menghela napas panjang.
Diserahkannya mobil-mobilan itu pada Bima yang menangis kencang. Angga menahan keinginannya rapat-rapat untuk bisa bermain dengan mobil baru itu.
Namun, Bima tak mau mengambilnya, dan menangis makin kencang. Ia malah memukul mobil-mobilan yang masih berada di tangan Angga itu sampai terlempar ke tembok.

Mobil itu spionnya patah.
Seketika Bima berhenti menangis. Menyadari apa yang diperbuatnya. Papi terhenyak. Tak melakukan apa-apa di tempat beliau berada.
Tapi Angga tersenyum.
Senyum yang mengungkapkan isi hatinya.

Sepasang Mata

Kadang, aku melihat ke cermin. Lalu aku yakin aku melihat menembus sepasang mata yang asing.
Di waktu lain aku melihat ke beberapa foto yang tersimpan. Yang tercukup-cukup sampai membuatku heran.

Kalau dipikir-pikir, aku memang tidak pernah melihat wajahku secara langsung. Apa yang menjadi bahan deskripsi cermin, dan foto-foto, tak selamanya sebenar apa yang orang lain interpretasikan mengenai diriku. Kadang aku berimajinasi jauh dan kemudian duduk termangu, merenungi kenyataan bahwa aku tak dapat memasukkan potret diriku sedetail itu dalam lamunanku. Sering malah aku membayangkan wajah orang-orang lain, dalam skenario lakon hidupku. Yang bahkan beberapa tidak pernah benar-benar kukenal sebelumnya.

Aku bertanya seperti apa rupaku.
Tapi tak lama kemudian aku kembali bertanya.
Setelah tau, aku mau apa?

Ada beberapa orang yang ambil profesi kurang pas dengan raut wajahnya.
Misalnya, penjual bunga yang garang, atau bodyguard yang kemayu.
Tapi yang terakhir itu aku belum pernah lihat.
Agaknya tidak laku.

Manusia makhluk amat visual.
Penampilan, mau tidak mau, memang pegang kuasa banyak.

Bercantik-cantiklah.