Catatan Harian di Secuil Hari Kamis

Sejenak tadi aku duduk, diam di tempat. Dengan sebelah tangan menahan lembar buku yang lagi aku baca. Ada angin dari kipas angin di atas kepalaku. Kelas hiruk pikuk siang ini. Hari ini pulang siang.

Sudah dua kali jam kosong, matematika dan ekonomi sebelum kami menutup kegiatan murid diajar guru hari ini. Setelah itu pulang, atau ada seminar aku kurang paham. Pak Ali tadi masuk kelas lagi. Tania langsung berbisik psst psst padaku, "Briefing pagi, fa" ungkapnya. Aku agak tidak enak karena sering tak begitu mendengar beliau.

Tenggorokanku sakit, dan beberapa kali pusing sejak beberapa hari. Sekalimat singkat yang kuungkap kemarin cukup aku sesali, kok.

Mau beli mamik yang pedes sekalian, biar mati.

Alhasil porsi sambel penyet yang rajin kupesan sedikit, hari ini kubiarkan dituang mamik banyak-banyak.

Tapi agaknya mamik juga sudah jauh-jauh hari mengurangi presentase cabai dalam sambel buatan beliau. Harga cabai amat tinggi.

Seekor nyamuk dengan garis-garis putih di kakinya terlihat jelas di tanganku pagi tadi. Aku membiarkannya, di awal.

Siapa tau nyamuk aedes aegepty, biar db sekalian.

Jadi selama sepersekian detik aku membiarkan nyamuk itu bersiap-siap, melipat sayap, hendak menghisap.......
Lalu aku berteriak dan menghempaskan tanganku kaget.
Nyamuk itu pergi.

Aku tidak jadi kepedesan.
Aku tidak jadi db.
Jam pelajaran ekonomi tidak jadi kosong.
Bu Nur duduk,
ujianku dapat 100.



Astaghfirullah, tahu apa aku soal mati?

2

...

Tuhan menciptakan lahir dan mati
Siang dan malam, bulan dan bintang
Berpasang-pasangan menyatukan hati

Bersiaplah mengarungi perjalanan panjang
Di mana segala tahta dan harta tak ada guna
Kecuali manfaat ilmu, anak saleh, dan menanam kebaikan

Itulah ujung perjalanan panjang kita
Berada di sisi-Nya

...

1

Setiap melihat burung, aku cemburu
Karena mereka terbang menjelajahi dunia baru
Tapi aku tidak mesti menjadi burung untuk itu
Allah Swt. sudah menggariskan hidupku
Jalanilah dengan ikhlas dan penuh kesungguhan
Percayalah kepada-Nya karena segala yang ada
Disesuaikan dengan kondisi masing-masing
Hanya perlu diingat, seperti kata pepatah,
"Kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan".
Di situlah makna dari ujian.

......

Mobil-mobilan

"Huh sebal!"
Bima ngambek. Mainan baru Angga, kakaknya yang hanya 2 tahun lebih tua, lebih bagus dari miliknya. Padahal robot-robotan milik Bima juga masih sangat bagus, baru dibelikan Papi dua hari lalu.
"Aku mau mobil-mobilan yang itu!" sungut Bima, kesal. Jelas, Angga tak mengizinkan. Celengan ayamnya jadi jauh lebih ringan akibat membeli mobil-mobilan itu. Ia tak mau mainan yang sudah jadi incarannya sejak berbulan-bulan yang lalu itu dirusak adiknya yang masih kecil. Lagipula, Ia baru memainkannya sebentar.
Bima tak mau kalah. Ia mulai merengek. Papi berusaha membujuk Bima untuk diam dengan imbalan membelikannya yang serupa. Tapi, rengekan Bima makin kencang. Ia cuma mau mobil-mobilan milik kakaknya!
Papi berusaha membujuk Angga untuk berbagi dengan adiknya, dan menyuruh Angga untuk belajar saja. Angga terdiam. Dipandanginya mobil-mobilan keren itu. Plastik pembungkusnya saja masih tergeletak di dekat pintu kamarnya. Angga ingin sekali menikmati bermain dengan mobil itu lebih lama.
"Tidak mau! Mobil-mobilanmu yang lain kan masih ada!" bentak Angga.
Ini bukan pertama kalinya Bima bertindak semaunya sendiri. Dan juga bukan pertama kalinya Papi membela adiknya itu. Bima selalu merasa tahu apa yang Angga pikirkan, padahal sebenarnya Ia tidak tahu apa-apa. Bima selalu ingin apa yang Angga mainkan, dan tak pernah berhenti mengganggu saat Angga hendak belajar. Yang paling membuat Angga kecewa adalah, Papi selalu membela Bima.
"Papiiiiii!!!!!!" Bima mulai menangis. Diadukannya perlakuan Angga pada Papi, dengan dibesar-besarkan. Papi menatap Angga.

Angga menghela napas panjang.
Diserahkannya mobil-mobilan itu pada Bima yang menangis kencang. Angga menahan keinginannya rapat-rapat untuk bisa bermain dengan mobil baru itu.
Namun, Bima tak mau mengambilnya, dan menangis makin kencang. Ia malah memukul mobil-mobilan yang masih berada di tangan Angga itu sampai terlempar ke tembok.

Mobil itu spionnya patah.
Seketika Bima berhenti menangis. Menyadari apa yang diperbuatnya. Papi terhenyak. Tak melakukan apa-apa di tempat beliau berada.
Tapi Angga tersenyum.
Senyum yang mengungkapkan isi hatinya.

Sepasang Mata

Kadang, aku melihat ke cermin. Lalu aku yakin aku melihat menembus sepasang mata yang asing.
Di waktu lain aku melihat ke beberapa foto yang tersimpan. Yang tercukup-cukup sampai membuatku heran.

Kalau dipikir-pikir, aku memang tidak pernah melihat wajahku secara langsung. Apa yang menjadi bahan deskripsi cermin, dan foto-foto, tak selamanya sebenar apa yang orang lain interpretasikan mengenai diriku. Kadang aku berimajinasi jauh dan kemudian duduk termangu, merenungi kenyataan bahwa aku tak dapat memasukkan potret diriku sedetail itu dalam lamunanku. Sering malah aku membayangkan wajah orang-orang lain, dalam skenario lakon hidupku. Yang bahkan beberapa tidak pernah benar-benar kukenal sebelumnya.

Aku bertanya seperti apa rupaku.
Tapi tak lama kemudian aku kembali bertanya.
Setelah tau, aku mau apa?

Ada beberapa orang yang ambil profesi kurang pas dengan raut wajahnya.
Misalnya, penjual bunga yang garang, atau bodyguard yang kemayu.
Tapi yang terakhir itu aku belum pernah lihat.
Agaknya tidak laku.

Manusia makhluk amat visual.
Penampilan, mau tidak mau, memang pegang kuasa banyak.

Bercantik-cantiklah.