Balada Divisi Writing

Q : gimana perasaanya sebagai reporter majalah pas majalahnya udah terbit?

A : hai. oke. agak nyelekit nyelekit kecewa, sih. mostly anak-anak pada ngeliatin foto dan gambar-gambar ilustrasi dari layout. lembar yang jadi favorit bisa jadi lembar salam-salam yang memuat--apalagi?--salam-salam. ingin rasanya bertanya pada langit "adakah di dunia ini yang bakal ngomentarin tulisannya?? isi dan informasi yang disampaikan lewat kata-kata??? adakah?? mungkinkah??!!" *kemudian emoticon nangis bombay*

sampai kemudian tiba saatnya jam transisi antara prakarya dan biologi, yang mengantarkanku berjalan menuju bilik kecil di dekat dinding pemisah dua sekolah. di sana ada beberapa adik gen yang mau ganti baju habis or. lalu ada enur, maksudku, dek hil, yang menjawab pertanyaan pada langit.
terharu ingin menangis rasanya seperti menemukan jodoh, "akhirnya ada yang ngerti" dengan emot yang pas yaitu ":')"

ya baiklah, okay, yuk belajar

Rancu

Aku tidak pernah menyangka ulangan mat dapat berdampak pada lingkungan sekitarnya. Berdampak buruk. Sangat buruk. Seperti habis menghadapi hari yang berat yang diawali omelan, atau merasa bersalah seharian karena kesalahan yang tak perlu. Sama seperti itu, hanya saja lebih aneh, karena konyol.
Lalu siapa yang harus disalahkan : Sang pembuat soal? Pencipta ilmu matematika? Sang guru? Atau murid yang tak bisa mengerjakan?

Kasusnya agak mirip dengan sebuah masa ketika kamu hendak melakukan sesuatu yang wajib dilakukan, tapi terjebak faktor alam, yang sebenarnya bisa dihindari bila seseorang menepati waktunya dengan tepat.
Kembali siapa yang harus disalahkan: Orang yang tak menepati waktu? Faktor alam? Atau ketakutan pada hal yang fana?

3

"Apapun yang terjadi, suatu aspek penting dalam kehidupan baik, kehidupan yang bahagia, adalah berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri, mengakui bahwa kita tidak hanya sekadar merupakan titik-titik pada layar radar kosmis, tetapi merupakan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar."