Kebahagiaan itu Ada dalam Buku

Bagiku, perpustakaan itu seperti peti harta karun. Hartanya tidak ternilai, dan meskipun tidak berkilau seperti keping emas di film-film, ia malah membuat penikmatnya yang berkilau.
Atau seperti perjalanan yang amat panjang, di mana ada banyak kisah-kisah menarik yang layak ditunggu di beberapa pemberhentian. Seperti penjaja koran di lampu merah, atau pawai yang senang diceritakan.
Atau yang menjadi favoritku : bukan sebagai tempat lari dari masalah, tapi tempat mencari masalah.

Aku penasaran apakah surga isinya buku-buku.

Aku sudah hampir sampai di kalimat paling terakhir yang bisa disampaikan Eric Weiner dalam salah satu bukunya tentang pencarian terhadap kebahagiaan. Judulnya "The Geography of Bliss". Semakin ke sini, semakin banyak konklusi cemerlang yang Ia kemukakan terhadap topik paling tidak masuk akal sebagai riset di atas muka bumi, kebahagiaan. Banyak kesimpulan mengenai betapa tidak berpengaruhnya uang terhadap tingkat kebahagiaan suatu negara, atau beberapa yang lain tentang minum kafein sebagai suatu budaya yang menentramkan. Aku tidak menyimpulkan, meskipun ada beberapa kesimpulan yang membuat nafas lega.

Sempat tertunda lama gara-gara UTS

Salah satu bab yang Eric tawarkan adalah mengenai sebuah negara yang "menarik globalisasi untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaannya, bukan terpengaruh globalisasi" : India. Aku sempat membaca sedikit tentang India di buku Gola Gong, ketika beliau berkeliling dunia di atas sepeda dan sempat singgah di negeri auditori itu. Melihat gambarannya di film Life of Pi, dan beberapa serial tv seperti Jodha Akbar atau Mahabharata yang lagi ngehitz lagi sekarang. Herannya, apa yang disampaikan Eric maupun Gola Gong adalah hampir-hampir-sama, meskipun dari sudut pandang orang yang berbeda, waktu, bahkan tempat dan tujuan yang belum tentu sama.

Apakah bumi ini ya begitu-begitu saja?

Aku jadi penasaran apakah ada arti yang mendalam tentang perintah hijrah. Mungkinkah hijrah maksudnya perpindahan antara dua dunia? Mungkinkah maksudnya kita tidak perlu takut menghadapi kehidupan selanjutnya--terlepas dari segala persyaratan yang ada--dan rela karena hakikatnya kita memang diperuntukkan untuk tujuan itu : hijrah?

Satu dialog yang cukup sederhana dalam perjalanan Eric adalah ketika Ia bertemu seorang bartender bernama Happy dalam persinggahannya di bandara New York.
"Apakah itu nama asli Anda?"
"Ya. Ayah saya gembira sekali ketika saya lahir sehingga saya diberi nama itu."
"Jadi, maaf kalau saya bertanya--saya yakin Anda mendapatkannya selama ini--tapi kenapa bisa begitu?"
"Kenapa bisa begitu apanya?"
"Rahasianya--rahasia menjadi Anda, menjadi Happy (Bahagia)?"
"Tetaplah tersenyum. Bahkan ketika Anda sedih. Tetaplah tersenyum." 
Tersenyum. Sejak di taman kanak-kanak, aku dan teman-temanku sudah diajari bahwa senyum adalah sedekah. Bahkan membaca kata senyum saja sudah membuat senyum. Kini, dalam skala kesubjektivitasan yang kubuat sendiri, senyum termasuk salah satu dari kumpulan bentuk kata-kata ekspresional yang tulus yang pernah diucapkan manusia.

Mungkin jari-jari Wolfgang Amadeus Mozart serta para komponis legendaris lainnya tersenyum saat memetik dawai piano melalui sentuhan pada tuts yang mengkilat. Jari yang tersenyum menghasilkan melodi yang indah.

Yang indah dari buku ini adalah mengenai tata bahasanya yang jenaka, rumit, tapi tetap bisa dipahami. Kosakatanya kaya, tapi menggelitik. Terimakasih kepada Bapak M. Rudi Atmoko selaku penerjemah dan segenap kru serta Penerbit Qanita atas terbitnya buku yang begitu edukatif, hingga sampai di tangan saya sebagai sebuah takdir yang manis.
Lagi-lagi, bukan suatu kebetulan.
Dan bukan berarti saya mengenal, atau sok mengenal.....
tapi memang informasinya tertera di halaman depan buku.



Senang rasanya bisa menulis. Senang rasanya bisa membaca tulisan yang berkualitas.

Senang rasanya memaknai hidup sebagai kebahagiaan, dan memperjuangkan akhir yang bahagia.