Kala

Teruntuk adik-adikku yang gemar menuntut ilmu,

Apa kabar, kalian di sana, wahai pejuang? Sayang, aku tidak bisa menemui kalian satu per satu. Karena siapa juga aku berhak menemui kalian dari pintu ke pintu. Bagaimana perjuangan selama ini? Melelahkan, atau bahkan tak terasa setitik peluh pun?

Selamat datang, adik-adikku.
Selamat datang di dunia di mana siapa hendak menjadi kawan atau lawan tiada yang tahu.

Cepat atau lambat, kalian akan mengerti. Bahkan air gula pun terasa pahit kala itu, Dik. Aku tidak mengada-ada ketika memperingatkan kalian untuk segera menutup pintu. Hari tak pernah menunggu malam untuk menyelinap memasuki celah-celah kecil itu, seandainya kalian tahu! Ada banyak kehidupan yang begitu memilukan. Dan lebih banyak canda yang saling dilontarkan untuk menutupinya. Aku tak ingin hanya berdiri diam dan memaki-maki dalam hati. Aku ingin kalian tahu, Dik. Saat ini, hidup tak akan semudah itu.

Kalian mungkin bertanya-tanya, apa aku sudah kurang waras? Meniup kabar yang jauh dari gembira pada adik-adikku yang sungguh aku rindu. Jawabannya : kalian akan tahu. Tak hanya saat kalian melihat apa yang kusaksikan, namun jauh ketika kalian memahami intisari yang berusaha mereka sampaikan.

Mereka bilang hal baik akan datang pada mereka yang menunggu. Aku tahu betapa lelah batinmu menunggu sesuatu yang menjadi harapanmu itu, Dik. Aku tahu bagaimana engkau menorehkan beberapa tetes air mata pilu pada buku harianmu. Akan kuberi tahu sesuatu, wahai adikku. Harapan itu tak kan datang dalam hitungan waktu. Ia tak akan muncul di depanmu meski kau menunggu. Namun Ialah, dan memang beginilah, Ia yang akan mengiring senada detak jantungmu.

Aku tak pernah memaksa untuk percaya. Waktu bagaikan air mata kejam di air terjun, Dik. Engkau akan segera mengetahuinya.

Aku berharap kalian dapat mengerti untuk tak lagi menangis kala pelangi masih berupa warna, belum menjadi putih seutuhnya.