Daripada Beli Rokok, Lebih Baik Beli Koran

Tidak, saya tidak merokok.

Kebetulan setiap berangkat sekolah (hampir setiap hari saya mengunjungi sekolah karena kangen) saya diantar mama atau kakak. Ada dua perempatan besar yang kami lewati, satu di sebelah Galaxy Mall dan satu lagi di depan kampus A Universitas Airlangga. Seperti perempatan-perempatan besar pada umumnya, ada loper koran di sana. Bedanya dari perempatan lain yang saya lalui di kota besar ini adalah, loper koran di kedua perempatan itu menyalurkan semangat yang bikin saya heran.

Di perempatan pertama adalah seorang mbak-mbak, mungkin berusia 20an. Karena belum sempat berkenalan mari kita sebut saja Mbak Tari. Kenapa? Karena mbaknya senang menari. Mbak Tari memang lincah, kadang tidak mengenakan alas kaki atau sandalnya memang transparan jadi tidak kelihatan. Rambutnya panjang dan selalu diikat kuncir kuda, lalu mengenakan topi safari dan rompi penjaja koran. Mbak Tari hampir setiap pagi selalu ada di perempatan ini, jarang saya melihat beliau absen. Meski harus bangun pagi-pagi sekali, Mbak tari selalu lincah berjalan dari satu mobil ke mobil lain setiap lampu berubah jadi merah. Beliau juga ramah. Kadang bila ada mobil yang ngerem di dekatnya Mbak Tari meloncat ke samping agar tidak tertabrak. Entah kenapa, semangat Mbak Tari lebih terasa.

Di perempatan kedua, saya bingung harus menyebutnya mas atau bapak. Usianya mungkin sekitar 30an. Beliau dianugerahi sebelah kaki yang tidak seperti orang pada umumnya. Sama dengan Mbak Tari, Pak Beno (nama yang baru saja saya pikirkan) outfit-nya sehari-hari yaitu topi safari dan rompi khas. Mungkin sedang ngetren, atau memang dresscode.

Mbak Tari dan Pak Beno memiliki semangat dan kegigihan yang sama. Juga konsistensi yang sama, karena setiap pagi saya selalu disapa wajah-wajah mereka yang penuh semangat. Meski ada penjaja koran lain dalam satu lampu merah tapi entah mengapa saya me-notice beliau-beliau ini dari penjaja yang lainnya. Kadang, hanya melihat gerakan lincah Mbak Tari atau semangat berjalan Pak Beno saya jadi tertarik membeli koran. 

Kemarin ketika pengumuman SBMPTN, saya beli koran di Mbak Tari. Harganya empat ribu rupiah saja. Sekarang, bila Pak Becak, atau Pak Ojek, atau bapak-bapak lain yang tidak bisa saya sebut satu-satu menginvestasikan empat ribu rupiahnya setiap hari untuk membeli koran ketimbang membeli rokok, mungkin negeri ini bisa lebih makmur. Sebelum narik baca koran, sambil nunggu pelanggan baca koran. Sampai di rumah korannya dibaca anak-anak dan istri beliau. Wawasannya itu, lho, jauh lebih mahal dari empat ribu rupiah.

Masih ingat kan salah satu juara acara kuis Who Wants To Be A Millionaire yang dulu sempat fenomenal? Kalau saya tidak khilaf, beliau yang setiap hari membaca koran yang dijajakannya :)

Mari budayakan literasi. Membaca itu memang butuh waktu, tapi waktu yang kita investasikan untuk membaca sekarang insya Allah akan terbayar entah berapa tahun atau mungkin hanya dalam hitungan detik ke depan.

Cie tumben postingannya baper

Aku tuh ingin beli sepatu.

Tapi harganya kok mahal sekali ya, mana tega kalau harus minta orang tua. Nah makanya ku mencari cara tuk cari duit. Makanya ku putar-putar otak biar mengalir. E ternyata susah ya:( Tapi lalu ku cari inspirasi sambil menonton film We Bought A Zoo (2011). E lakok filmnya juga tentang si bapaknya itu mengalami petualangan yang nyata, setelah selama ini berpetualang dibiayai sponsor. Iki ta jenenge petualangan yang nyata:(

Lalu akhirnya ku dapat ide dan sudah kukemas, pencet send deh. Pas scrolling scrolling kok idenya banyak yang nyamain. Ya hashtag mengutuk diri sendiri karena punya ide kok ya mainstream banget:'( Yaudah kan ya semangatku pun turun padahal masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan untuk menambal keperluan. Habisnya kalo gaada backup plan nanti sepatuku kandas. Tapi kan aku suda down gitu kan ya merasa bagai butiran sari gandum yang tak ada apa-apanya. Yaudah buka lagi sumber inspirasi lain e ada iklan sepatu:'(((( baper deh semangatku pun tumbuh kembali tapi baper.

Ini malam ke dua puluh tujuh tapi mama masih ada acara dan mbakku habis beli kaos buat nonton konser tanggal 1 Agustus. Enaknya aku cerita ke siapa?:(

Kadang, aku hanya ingin waktu untuk berhenti berjalan.

Apa yang mungkin akan kudapatkan ketika aku tak memilih jalan perjuangan ini

Aku bisa memilih untuk menjadi putih dan dingin,
bergerak dibalik sekedar hem putih seragam sekolah, memakai jam tangan warna-warni dari toko-toko masa kini. Kemudian tersenyum memperlihatkan kawat gigi disetiap selfie yang akan ku upload di sosial media, melonjak senang pada setiap notifikasi hati yang mengalir deras. Kemudian aku bahagia, bersosialisasi dengan sesama, ramah dan bersih di wajah karena setiap hari pulang dijemput supir.

Aku bisa memilih untuk menjadi liar dan gemerlap,
tidak peduli apa kata orang yang sengaja menelisik kehidupanku. Menjadi gila di depan kamera dengan membuat wajah-wajah lucu, hidup bergelimang barang-barang cantik dari online shop setiap kali habis transfer. Bersama mobil, tersenyum manis dan tak terkalahkan.

Atau aku bisa memilih untuk menjadi keduanya,
travelling keliling dunia nyata dan membicarakannya di dunia maya, aktif bicara di forum-forum terkemuka dan penuh rasa percaya. Menjadi yang cantik dan rupawan, baju warna-warni sekaligus ceria. Aku membeli apa yang aku mau, dengan jemari lentik habis dirawat aku mengetik 140 characters untuk tweet terbaruku. Followersku beribu. Menjadi apa yang orang akan like atau beri hati di sosial media.

Aku bisa saja memilih untuk itu.
Untuk tidak terbakar di tengah sinar.
Untuk tidak menutupi belang di lengan,
dan lingkaran di wajah.
Untuk berhenti bergerak ketika aku mau.
Untuk memberi beragam alasan atas nama manusia.

Untuk menjadi apa yang mereka suka.