Dia Masih Akan

Dia masih akan pergi ke pesta.
Dia masih akan tertawa, dan bermain, dan berbincang-bincang.
Dia masih akan bangun di pagi hari dengan atau tanpa kehadiran orang lain, menyeruput teh dan bermain tic tac toe sambil sarapan bubur ayam.
Dia masih akan memikirkan masa depan bangsanya.
Dia masih tak akan mengerti bagaimana rasanya untuk menjadi apa yang orang lain jadi.
Dan dia masih akan tetap meninggalkan tanda tanya tanpa sedikit pun penjelasan.

Dia masih akan melakukan itu semua,
karena dia bisa.

Berlari

Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berdoa, Ia melaksanakan literasi.
Alif Fikri sedang menunggu kehadiran faks dari politisi untuk wawancara TV lokalnya di Kanada.
Ia tak membuang banyak waktu, segera menyerahkan resume pada Bapak Guru di kursi yang tinggi.
Kondisinya tidak enak, tapi ditepisnya jauh-jauh rasa mual di tenggorokan.
Rekornya tak begitu memuaskan minggu lalu, hanya dua puluh satu koma empat puluh enam menit.
Korupsi tiga menit empat puluh enam detik dari jatah maksimalnya.
Stretching, bukan keahliannya.
Tapi hari ini dengan kaos kaki pendek berlorek-lorek Ia meregangkan pergelangan tangan, kaki, betis, badannya yang kaku di depan lobby kelas sepuluh, dengan serius.
Kembali terbayang perjalanan penuh peluh dan polusi dari truk yang lewat di kesempatan yang lalu.
Ia harus mengejar ketertinggalan tiga menit empat puluh enam detik dengan kondisi hati yang masih trauma.

Apa Ia bisa?

Ketika detiknya mulai berjalan Ia melangkah kecil-kecil tapi pasti.
Di pinggir-pinggir sambil mengatur irama nadi.
Ia agak terdistraksi suara derap sepatu rival yang melangkah tak beriringan.
Dibayangkannya seperti derap kuda di film-film action.
Apa lebih baik Ia menyumpal telinga dengan suara-suara dari telepon-telinga?
Tapi sudah terlanjur.
Ia dilarang melangkah mundur.

Kemudian Ia melewati tikungan pertama dengan fokus yang masih lumayan tinggi.
Ia berlari di belakang salah satu rival, tertampar daun yang sengaja disibak dari depan. Berusaha fokus. Fokus.

Tikungan yang kedua, ritmenya masih sama.
Minggu sebelumnya Ia sudah memelankan ritme di tugu dua nama besar yang menghadap Wijaya Kusuma.
Kali ini Ia berhasil mempertahankannya sampai lewat tikungan ketiga.
Kabel hitam yang menjuntai di atas dedaunan yang lebih rindang menjadi hiburan visual, lurus-lurus terus sampai ujung.
Tapi Ia hampir kehabisan napas sebelum tikungan keempat lewat.
Ia hanya sendiri. Satu-satu kawan dan lawan pergi. Entah tertinggal atau meninggalkan.

Yang jelas, pertarungannya kini dengan diri sendiri.

Mengambil napas dari mulut malah membakar paru-paru; tapi jalur hidungnya hampir takluk tanpa ritme yang tak tentu.
1, 2, hembus... 1, 2, hembus....
Ia melewati start point dengan langkah ringan, sambil pencitraan pada se-pleton murid baru dalam gerbang.
Masih harus berputar lagi.
Ia mulai setengah-setengah berjalan. Tapi tidak pernah lama-lama, berusaha tak tunduk pada pikiran yang menguasainya.
Ah, berjalan saja. Daripada ambruk? Cari amannya saja.
Bisikan itu tak hanya sekali lewat di telinganya yang berdengung.
Toh nanti masih les sampai malam, kalau tenagaku habis di sini malah susah.

Tapi Ia tahu tak sepantasnya Ia merendahkan kemampuan dalam dirinya.
Jadi Ia berlari tanpa membuka mulut, melangkah sambil sesekali meyakinkan diri. Memaksa nadi berdenyut melebihi batas diri.

Salah satu teman menyemangatinya. Ia tahu Ia bisa. Jadi dipercepat langkahnya. Tapi masih tak mampu menyamai langkah. Ia tertinggal sambil meremas pinggang, hampir takluk. Masih ada setengah jalan sampai garis start yang jadi finish. Setengah jalan masih jauh. Setengah jalan apa cukup?

Di menit kesepuluh Ia masih harus mengejar sepertiga lebih. Ia bisa melihat punggung temannya menghilang di tikungan. Ia mau menyerah.
Tapi segera digelengkannya kepala.
Ia melangkah, lebih jauh, amat jauh....
Sampai di jalur lurus terakhir sebelum gerbang.

Dia memaksa diri mempercepat langkah. Masih segar diingatan teriakan beliau dua tahun lalu,

SPRINT! SPRINT! SPRINT!

Paru-parunya panas seperti terbakar. Peluh mengalir di keningnya yang terasa panas. Kedua kakinya mengayun, tapi menolak lebih jauh. Genggamannya basah oleh keringat yang terasa asin.
Hampir sampai... hampir...
Di tengah kekalutannya Ia mendengar teriakan Bapak Guru sambil melihat stopwatch.
Tak terdengar, apa yang diteriakkan beliau?
Diturutinya insting untuk berlari lebih cepat. Ia tak dapat memperhitungkan berapa menit berlalu setelah menit kesepuluh. Ia hanya berlari.
Tidak ada kesempatan setelah ini. Sekarang atau tidak sama sekali!
"Diperhitungkan waktunya! Cepat cepat! 58...59... 18.00!"


Aku mendengar suara tepuk tangan. Tak ada yang bertepuk, tentu saja. Semua kelelahan meluruskan kaki. Tapi aku tahu, itu suara hatiku yang bersorak. Melampaui batas diri. Aku bisa lebih baik lagi.

Cerita Senja

Komitmen itu nggak gampang. Komitmen itu nggak mudah.

Aku melangkah memasuki dunia di mana komitmenku digonjang-ganjing terpaan angin. Mau bilang sama siapa? Masak mereka bakal ngerti?

Ingin rasanya aku jujur-jujuran saja, bilang pada dunia, toh masyarakat juga sudah terlanjur melegalkan yang ilegal. Toh semua "masih" baik-baik saja. Toh, aku nggak melakukan hal yang salah.

Aku memiliki alasan atas apa, dan bagaimana aku bertindak. Aku tahu aku hanya bagian dari anak muda yang sok tahu tanpa pikir panjang. Tapi aku sungguh tidak tahan dengan apa yang mereka sebut sebagai, entahlah, komitmen?

Salahkah bila aku bertingkah sebagaimana manusia?

Aku bukan malaikat yang selalu benar. Aku bukan nabi yang bisa sempurna, kalau kata lagu. Aku ya juga sakit hati kalau jadi yang paling tidak diceritani waktu ada masalah, bahkan di lingkup paling dekatku sendiri.
Masio aku masih bisa dibilang paling jauh rentang umurnya.

Bicara tentang apa yang disebut fase perubahan, aku tahu tidak bijaksana bila aku berkeluh kesah di sosial media yang bisa diakses bahkan seorang anak kecil yang tak pernah kukenal di Zimbabwe sekalipun. Tapi aku sudah tidak tahu bagaimana alur ceritanya kalau begini. Aku ini anak kecil atau anak besar?

Susah menjadi berbeda. Aku tahu bukan begini yang mereka pinta. Tapi aku berusaha memadukan keduanya, dengan apa yang kusebut dengan "Buat apa membuat hatimu bersedih", untuk menciptakan formula meraih cita-cita.

Salahkah bila aku haus akan petualangan, dan bukannya belajar mengurung diri di rumah?

Aku tahu aku tidak patut dicontoh. Tapi, entahlah. Semoga Allah meridhoi jalan kita.