Postingan Selamat Datang

Hai kamu yang mungkin baru pertama berkunjung di halamanku ini!
Mari-mari sini, anggap saja rumah sendiri:)
Maaf sebelumnya kalau tulisan-tulisan di sini ada yang membuatmu tidak nyaman, atau membuat temanmu tidak nyaman, atau kucingmu, atau cicak di langit-langit kamarmu, atau entahlah aku tidak berusaha melucu aku tahu aku tidak selucu itu. :(
Jangan malu-malu untuk memberi komentar ya, atau menyapa di kolom chat di sebelah kanan berwarna biru juga tidak apa-apa.
Oh iya, biasanya aku menyempatkan waktu luangku untuk menulis beberapa kalimat di halamanku ini. Kadang skenarionya mengalir begitu saja saat sudah di depan si biru (laptop kecilku yang lucu dan menggemaskan). Atau juga ketika ada ide yang tiba-tiba muncul akibat suatu kejadian, aku menyempatkan menulis melalui gadget, yang aplikasinya bisa kamu unduh di playstore:)
Tapi, harus kuakui, halamanku ini penataannya masih kurang rapi, jadi kamu mungkin akan merasa kesulitan untuk mencari postingan yang kamu mau:( Sedang kuusahakan untuk menjadi rapi, untuk sementara ini silakan biarkan imajinasimu mengalir seiring scroll-an halamanmu ya:))
Yang paling penting, jangan tunda untuk segera menulis ketika kamu merasa mendapat ide! Aku akan turut senang bila kamu menciptakan inovasi baru dalam perbendaharaan katamu.

*Aku baru sadar aku menulis kata biru dua kali dalam kalimat sapaan panjangku di atas.*

Mari kita saling berbagi opini untuk membangun generasi yang lebih baik lagi:)

Selamat Membaca, Manusia

"Mempermudah jalan generasi baru menghadapi permasalahan dunia tidak akan menghasilkan generasi yang hebat. Melainkan generasi yang bergantung pada tangan-tangan yang menyokongnya untuk dapat berdiri."

Bagaimana cara seekor kupu-kupu berusaha ketika pertama kali keluar dari kepompongnya? Ia membuka selaput pelindungnya dengan dorongan sayap-sayapnya yang baru, merentangkannya lebar-lebar sampai dapat keluar dan terbang menikmati wujud barunya. Secara tersirat, hal tersebut dapat dimaknai sebagai pernyataan bahwa hidup ini adalah sebuah perjuangan, dan tak mungkin ada kesuksesan yang sejati tanpa perjuangan.

Berjuang itu sendiri dapat berarti banyak hal. Berjuang bersama, berjuang sendiri. Tak banyak yang bisa dilakukan manusia, salah satunya memperjuangkan hak-haknya dalam berkehidupan, atau yang dikenal dengan istilah Hak Asasi Manusia. Konon katanya, hak ini sudah dimiliki manusia sejak berada dalam kandungan. Hak mendapat perlindungan hukum, hak mendapat pengajaran dan pendidikan, pekerjaan, menyatakan pendapat, dan lain sebagainya. Umat manusia seakan berdiri pada kesepekatan yang sama dalam hal ini, Menyepakati aturan kehidupan sebagai sekumpulan besar manusia yang hidup di bumi.

Namun pada pelaksananaannya, hak-hak tersebut seringkali dipungkiri. Padahal, kesepakatan tersebut telah tercantum baik tertulis maupun tidak, berkali-kali diusung demi mengingatkan pada setiap manusia bahwa aturan tersebut "masih" ada. Namun sebenarnya, aturan tersebut dibuat untuk apa? Apa yang tengah manusia hadapi sampai harus menciptakan suatu jaminan dalam berkehidupan?

Saya tidak menjawab di sini apa yang menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut. Namun saya meyakini bahwa salah satu yang menyebabkan hal tersebut adalah perubahan zaman. Zaman yang berubah membuat manusia semakin berevolusi, mulai dari fisik hingga kemampuan beradaptasi. Teknologi saat ini sudah semakin canggih, penghitungan matematika, fisika, maupun misteri alam telah banyak terkuak oleh tangan-tangan ilmuwan dan imajiasi penulis. Perkembangan zaman tersebut diciptakan manusia untuk memperbaiki sistem kehidupan mereka--lagi-lagi mengenai hak berkehidupan. Seseorang yang pernah merasakan sakit tentu terbersit keinginan untuk tak merasakan sakit itu kembali. Bila bisa menyalakan lampu, kenapa masih menyalakan obor. Bila bisa menciptakan peradaban yang lebih canggih, mengapa harus susah-susah hidup seperti manusia goa.

Hal ini, tanpa disadari ternyata juga berpengaruh pada perilaku manusia. Ada beberapa orang yang merasakan rasa sakit bukan pada hal-hal seperti itu melainkan pada jiwanya. Sakit jiwa. Penyakit gila. Salah satu kecenderungan lain manusia dalam menghindari rasa sakit adalah "Wes, aku ae seng ngerasakno koyok kono, anakku engkok gak usah sengsoro koyok aku--Sudah, aku saja yang merasakan seperti itu, anakku nanti jangan sampai sengsara seperti aku".

Bila disalurkan dengan kadar yang tepat, sebenarnya pernyataan tersebut tidak ada salahnya juga. Kita sebagai generasi masa kini harus berterimakasih pada sifat dasar manusia tersebut yang memungkinkan kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik di masa yang sekarang ini. Hidup terasa lebih mudah, dengan adanya orang-orang usia lanjut yang menguasai dunia. Beliau-beliau yang sudah memakan asam garam kehidupan, dan lebih mengerti apa yang seharusnya dibenahi dari peradaban manusia saat ini. Saya akui, hal tersebut memang benar. Karena ketika melihat seorang anak kecil, terbersit rasa bangga pada diri saya bahwa saya sudah sejauh ini melangkahi kehidupan.

Namun hal tersebut juga dapat menjadi bumerang bagi peradaban manusia yang telah dibangun dengan baik untuk mencapai kestabilan, bilangan oktan. Tanpa adanya kader, Kerajaan Majapahit yang begitu besar dapat runtuh dalam sekejap. Tanpa adanya kader, tanpa adanya yang meneruskan.

Perlu kita ketahui bersama bahwa sifat dasar manusia yang lain adalah egoisme, individualistis. Suatu nilai yang seringkali disalahgunakan sehingga malah menjadi penyakit dalam jiwa manusia. Seorang yang tengah memiliki kekuasaan giat berkonsentrasi agar ditangannya lah peradaban ini dapat maju. Dengan gagahnya menampakkan diri sebagai seorang pahlawan yang tengah menghadapi berbagai peluru kehidupan, berdiri di depan menyongsong wajah-wajah baru yang masih kurang pengalaman, berkata "Aku akan menyejahterakan hidup kalian, kalian tinggal enaknya saja, Enak kan?". Seakan lupa bahwa kehidupannya di dunia dibatasi waktu.

Sebaik-baik generasi adalah generasi yang mampu menciptakan generasi yang lebih baik lagi. Dan menciptakan generasi yang hebat tak pernah berarti dengan memberi apa yang mereka inginkan--atau apa yang mereka mau. Atau memudahkan jalan mereka, menyapu segala rintangan yang seharusnya mereka hadapi sendiri. Melainkan memberi apa yang mereka butuhkan. Apa yang seharusnya mereka dapatkan untuk dapat menjalani kehidupan, sendiri, bukan dengan bantuan kita yang nanti akan tutup usia. Meminjam istilah Bung Karno : Berdikari. Berdiri dengan kaki sendiri. Dan untuk memberi itu semua bukanlah hal yang mudah. Karena kita tidak hidup di zaman mereka, sehingga kita perlu melihat jauh ke depan untuk mengintip masalah apa yang mungkin mereka hadapi.

Dan poin yang ingin saya tekankan di sini adalah : tak peduli seberapa inginnya kamu dianggap baik oleh generasi penerusmu, pada akhirnya kamu akan tutup usia juga. Dan baik yang seperti apa yang ingin kamu kesankan pada mereka? Mempermudah jalan orang lain memang perlu, dan berpahala, karena Allah akan mempermudah jalan orang yang mempermudah jalan orang lain di jalan kebaikan. Namun bayangkan bila pada akhirnya nanti kamu harus pergi, padahal masih banyak dedaunan yang belum disapu dari jalan mereka, sedangkan pepohonan masih menggugurkan daunnya. Siapa yang akan menyapukan jalan untuk mereka bila bukan diri mereka sendiri? Tegakah kamu menjadi penghambat pertumbuhan mereka?

Lakukanlah sebaik mungkin apa yang menjadi porsimu. Kembangkan kreativitasmu pada saat waktumu. Namun jangan pernah melupakan generasi penerusmu, yang berhak mendapat apa yang berhak mereka dapatkan.

***Hal ini berlaku pada kondisi tertentu, yang sudah diluar batas logika. Misalkan saja pada waktunya menyalakan api unggun malah di suruh berenang. Takutnya kepanasan. Biar apa.

Master Oogway Mengajariku untuk Percaya

Kalau kamu malah sedih, kalau kamu menganggap besar masalahnya,

kalau kamu terlalu khawatir,

lalu siapa yang memercayainya?

Seperti Dulu (Tertampar Sosis Bernardi)

Matahari sudah tenggelam
hari berubah jadi malam
tiba-tiba dia lapar
lalu melongok ke kulkas
ada sosis,
tapi sosisnya bukan
sosis bernardi
seperti dulu.

Api kompor dinyalakan
dia mengambil pisau
daging sosis dipotong,
tiga bagian,
lalu disayat
seperti kepiting,
seperti dulu.

Minyak gemericik
judulnya juga bukan
minyak sunco
seperti dulu
dia menggoreng
sampai mengembang
mengambang
seperti dulu.

Dia tergugu
menatap langit
yang sudah gelap
dia bercerita
tapi angin menolak
karena angin tak mau
campuri urusannya
tak bisa dipaksa

Hari sudah malam
tak kunjung pulang
pedas lidahnya
karena sosis
yang dicocol sambal
perih jiwanya
kalut.

Waktu berjalan
untuk antarkan
dirimu
diriku
dirinya
hadapi realita
tanpa mimpi.

Surabaya, 13 September 2015