Drama

Lucu, ketika aku hanya duduk diam di tengah keramaian dan mengamati dunia.
Aku melihat gerumbulan anak perempuan, satu di antaranya yang paling cantik berjalan di depan. Ketiga temannya seperti dayang.
Aku melihat pasangan yang sedang selfie, tidak bisa menahan geli melihat sang lelaki mengerut-kerutkan kening bergaya bersama pasangannya yang stylish. Mbak-mbak yang mengantarkan es jeruk kembali dengan tatapan ingin menangis. Mungkin ingat pacar di rumah belum sms tanya kabar.
Aku melihat keluarga yang bahagia, dengan seorang anak yang tidur di kereta ada balonnya satu.
Dan keluarga lain yang lebih meriah, dengan seorang nenek yang berusaha dekat dengan cucunya yang cantik-cantik. Cucunya tidak suka dijawil, jadi malah menjauh malu-malu.

Aku melihat banyak wajah-wajah manusia dan interaksi sosial yang menghibur hatiku.

Satu yang membuatku terhenyak adalah ketika aku, tiba-tiba tanpa sadar, membayangkan wajah mama dan kakakku
Duduk dan makan bersamaku.

58 tahun Smala


"Di ulang tahunku yang ke delapan belas tahun lebih satu hari ini, aku merasa takut. Takut tak sanggup mengemban doa yang begitu besar, begitu rumit."




Kemarin, aku berulang tahun yang ke-18. Rasanya tipis dan terulur, bila meminjam istilah Bilbo Baggins ketika perayaan ulang tahunnya yang ke sebelas puluh satu. Setidaknya begitu, sampai aku menyadari bahwa--kalau catatan sejarahnya benar--Smala sudah 40 tahun lebih tua dariku. Entah bagaimana rasanya jadi Smala.

Aku bersyukur telah dianugerahi waktu hingga sejauh ini untuk menjadi seorang manusia, tapi lebih menyesali waktuku yang terbuang sia-sia. Aku sadar bahwa waktu tak pernah menungguku untuk beranjak dari kasur dan melakukan kebaikan, Ia akan terus bergerak seperti sebuah stasiun kereta yang sibuk. Dan kurasa aku masih termasuk dalam kumpulan orang-orang yang merugi, yang belum bisa memaksimalkan anugerah yang dimilikinya untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain. Beribadah, membantu orang tua, menggerakkan diriku untuk belajar, membantu orang di jalan, semuanya. Mungkin itu salah satu alasan mengapa aku merasa tidak nyaman di hari ulang tahunku kemarin, karena telah membatasi diriku dengan batas-batas lelah yang semu.

Beberapa mendoakanku untuk menjadi dewasa. Entahlah, hal itu cukup menggangguku. Aku merasa menjadi seorang yang, yah, bagaimana ya menyebutnya, nyaman pada zona nyamanku. Aku banyak menikmati waktuku melakukan hal-hal yang beberapa orang lakukan (for the record, I'm that sanguin-plegma person) dan menjadikannya excuse untuk beberapa hal yang memang sebenarnya tidak perlu untuk aku lakukan, namun terasa nyaman. Aku nyaman menjadi diriku, tapi sebenarnya aku bisa melakukan hal yang lebih dari itu. Apa itu yang disadari sebagian orang, bahwa aku belum dewasa secara perilaku?

Sebenarnya, kami sudah diajarkan secara tersirat untuk menjadi dewasa di kehidupanku di SMA. Menjadi seorang Smalane adalah satu hal besar yang mampu membuatku jadi merinding. Apalagi, dilabeli sebagai "calon pemimpin peradaban". Hey, Smalane, kamu sudah didoakan jadi calon pemimpin peradaban! Sanggupkah kamu mewujudkannya?

Label itu, banyak digaungkan lagi saat ini, ketika Smala berusia 58 tahun. Smala, sebagai tempat penempaan dan pencetak calon pemimpin peradaban, katanya. Bisa kau bayangkan, bagaimana rasanya menjadi 'Smala', yang harus mengemban doa yang begitu berat?

Tapi sebenarnya, terkait dengan kalimat "Almamater ini besar karena kontribusi", bukankah hal itu menjelaskan, sebenarnya doa itu ditujukan kepada siapa? Yang melakukan pengaderan, yang menjalankan program-program, yang mencetak prestasi, yang terus berkontribusi meski sudah bebas tugas dari tiga tahun kontrak kehidupan di Smala, yang menjadi mesin dalam jam yang sudah tua ini. Masih belum jelaskah doa yang disampaikan itu untuk 'mengutuk' siapa? Kepada Smala? Kepada bangunan yang sudah ada sejak jaman Belanda itu? Kepada siapa?


Selamat, Smalane, kamu punya tugas berat lagi.


Aku jadi ingat beberapa opini publik mengenai dahsyatnya kurikulum 2013 bagi angkatan pembelajar kita dan adik-adik kita saat ini. Begitu banyak dan beragam opini yang disampaikan mengenai kurikulum baru yang dicanangkan pemerintah itu. Yang sangat disayangkan menjadi suatu tren yang berkembang. Bahkan diamanahi perubahan saja merasa tak mampu, bagaimana mau jadi pembaharu?

Sebagai seorang manusia, aku sadar menjadi sempurna bukanlah kewajiban, maupun hakku. Yang ku tahu, ada kuasa yang lebih besar di sana, yang tentu tanpa hal itu tak kan mampu kulalui waktuku sebagai seorang smalane. Sebagai seorang yang 'dikutuk' menjadi calon pemimpin peradaban.
Sebagai seorang manusia.

Laahaulawalaaquwwataillabillah. Semoga Allah meridhoi jalan kita.

Sorry to Say

as the time goes by, it turns out creepy to face the day that you were born years ago.

people call it birthday.
please, let me skip the day.

Mau Begini Begitu Salah

Ada saat di mana kamu ingin makan, tapi kamu tahu sebenarnya kamu tidak lapar.
Kamu bisa saja berangkat sendiri ke tempat-tempat yang kamu mau, bermain dan cekikikan sambil menggumam  dan melontarkan guyonan khas yang kamu tahu tanpa ada teman yang ngancani, tanpa terganggu tatapan ingin tahu orang-orang.
Atau belajar, mengerjakan soal, dan membaca buku oleh dirimu sendiri.

Kamu bisa,
tapi tidak mau
karena alasan yang kamu tidak tahu.

Sombong

Tapi, bagaimana menurutmu, bila ternyata kesombongan dalam hati manusia ternyata diperlukan untuk menghadapi manusia lainnya?

Trauma

Trauma itu, menurutku, adalah ketika kamu dihadapkan dengan keadaan yang sama yang membuatmu terjatuh di waktu sebelumnya, dan kamu tidak ingin hal yang lalu terulang kembali sehingga kamu menghindari bertemu dengan kejadian itu--atau kamu mengalami pertemuan yang tak terelakkan itu dan kamu takut akan terjadi hal yang serupa.

Dan karena hidup adalah pilihan, kamu bisa memilih : untuk mengulang masa lalumu, atau menciptakan alur yang baru.

Tidak ada yang menjamin bahwa kisahmu sekarang akan lebih baik dari kisahmu sebelumnya, terutama bila kamu tidak ambil pusing dengan evaluasi.

Tapi, mengutip dari salah satu bait yang dinyanyikan Coldplay dalam "Fix You";

But if you never try, you'll never know.

Bukan berarti gambling, atau gradak seenaknya sendiri.

Toh kita sudah ada aturan-Nya.