Apa Salahnya Mempertahankan Idealisme di Tengah Dunia yang Kamu Bilang Tidak Karuan Ini?

Aku sering menghindari menulis tentang cinta.

Rasanya aneh saja, ketika kamu membicarakan suatu hal yang belum pada waktunya. Aku takut salah bicara. Salah menanggapi. Karena pikiranku masih terlalu naif untuk bisa merangkai sepatah dua patah kata, yang pasti akan terlihat sangat fana dan dibuat-buat, toh aku belum memaknainya dengan sungguh-sungguh--atau mungkin kurasa aku baik-baik saja di titik ini, tapi sebenarnya masih belum cukup.

Aku hampir tidak suka membaca novel romantis. Genre novel remaja yang umumnya bercerita tentang petualangan keterikatan antar dua insan. Tentang mereka yang bertemu di kafe, melihat pelangi, angan-angan bersanding dengan cowok begini dan cewek begitu, tak sengaja bertabrakan di koridor dan menjatuhkan buku-buku... Fiksi itu malah sering membuatku merespon "halah opose iki". Dan berbicara tentang itu membuatku merasa lemah. 

Tapi di suatu sore yang anginnya agak gerah karena mau hujan, pikiranku berjalan kemana-mana. Mencari arti sesungguhnya dari semua ini. Orang bilang, kita seringkali cenderung menghindari hal, dimana hal tersebut sebenarnya adalah sesuatu yang membuat kita takut. Kadang kita menyalahkan si ini dan si itu atas kesalahan apa yang terjadi, menyalahkan kerikil karena membuat kita terjatuh dari sepeda, menghindari mengakui kekurangan diri sendiri karena takut bila kita menjadi pihak yang bersalah. Sekarang, konteksnya, bila menghindari adalah dekat dengan rasa takut, apa mungkin aku takut jatuh cinta?

Ah, kadang aku ya juga bicara cinta. Cinta pada Yang Mahakuasa, cinta pada keluarga, teman, saudara, yaaah mirip-mirip seperti "Kabhi Kushi Kabhi Gham" lah. Memang ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa cinta itu terlalu agung untuk diberikan pada sesama makhluk-Nya. Cinta itu diperuntukkan hanya pada-Nya--dan cinta rasul mungkin bila mengingat CD lagu-lagu Sulis yang dulu sering diputar. Tapi, poinnya adalah, aku ini tidak anti-anti amat kok dengan kata cinta.

Yang membuatku berpikir adalah ketertarikan antar insan di dunia ini. Kamu tahu kan, maksudnya? Tuh kan, menuliskannya saja aku masih malu. Aku harus mengakui bahwa aku sangat tidak dewasa dalam menyikapi pembicaraan tentang hal ini. Tapi, entahlah, aku jadi bingung sendiri kan.

Fatimah dan Ali juga saling jatuh cinta. Kisah mereka sangat indah, tidak diwarnai keberhasilan godaan setan. Tahu kan, bagaimana mereka saling mencintai dalam diam? Tapi, bagaimana bisa?

Anak muda jaman sekarang sering menjadikan pacaran sebagai jawaban atas stimulus-stimulus yang mereka terjemahkan sebagai rasa suka pada si orang ini atau si orang itu. Saking meleburnya budaya ini, sampai anak kecil yang baru mau beranjak remaja jadi berpikir bahwa itu adalah suatu hal yang legal-legal saja di kalangan remaja : memproklamirkan kepemilikan atas seseorang--yang merupakan putra atau putri orang lain yang juga punya masa depan sendiri dan bisa saja hidup bila tanpa kehadiran apalagi gombalanmu--berdasarkan rasa nyaman, suka, bahkan gengsi dan lain lain dan sebagainya.

Dan sampai di alur yang ini umumnya aku akan berpikir untuk memasukkan kalimat-kalimat nasihat bahwa pacaran adalah begini-begini, dan mungkin kalimat-kalimat motivasi. Tapi aku enggan. Aku tahu. Aku juga bukan penggemar dari pemberian nasihat yang diulang-ulang. Cukup satu kali saja diberitahu mungkin aku sudah mengerti, kok

Lalu untuk apa kita dapat stimulus itu bila seharusnya kita belum saatnya memprioritaskan hal tersebut?
Kenapa aku harus suka sama dia sekarang kalau sebenernya pacaran itu fana dan seringkali cuma buatan manusia untuk memenuhi keinginannya--bukan kebutuhannya?



Karena : kita perlu untuk belajar dewasa. Dewasa menghadapi diri kita sendiri. Dan orang lain. Dan rasa. Dan semuanya.



Aku berbicara begini bukan berarti yang paling mengerti atau yang paling benar. Yang jelas, rasa adalah anugerah, Tidak ada yang salah denganku, atau denganmu, ketika kita saling mendapat anugerah itu. Tinggal kita memilih : untuk mengambil jalan pintas sekarang, atau menunggu waktu yang menguji dan Ia membuat segalanya indah pada waktunya, sementara kita saling membenahi diri dalam naungan-Nya.


Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya syaitonirrojim, yang seringkali tampak indah dan menjanjikan di awal. Tapi setan ya tetap setan, kata Pak Chamdi.





*Ps : Aku membaca tulisan bela dan ternyata dia sedang menulis tentang cintanya juga, Cinta yang lain-lain.
**Ps : Beberapa pertanyaan di atas inspirasinya datang dari cerita teman, yang sudah cukup dewasa dalam menghadapi perasaan mereka.
***Ps : Beritahu aku bila kamu punya jawaban lain atas pertanyaan terakhir yang kutanyakan di atas.

Kamu Nggak Punya Tempat di Hidupku Ketika Kamu Mulai Berbohong

Kadang manusia bisa seegois itu untuk tidak memikirkan perasaan orang lain ketika Ia hanya memikirkan kepentingannya sendiri dan berbohong.

Lalu, masa bodoh, karena kebohongan hanya membawa kebencian dan keburukan yang nggak akan bisa kamu mengerti ketika kamu nggak tahu bagaimana rasanya.
Semulia apapun latar belakang yang bisa kamu pikirkan untuk berbohong, itu cuma alasan yang kamu buat demi setan.
Dan meski buat kebaikan atau kepentinganku pun, nggak ada alasan buat kamu berbohong.
Berbohong demi kebaikan itu omong kosong.
Kamu cuma memikirkan alasan fana dan mencari-cari keterkaitannya, kemudian menyalahkanku sebagai penyebabmu menyampaikan kebohongan.

Karena aku tau aku sudah nggak ingin, dan nggak bisa toleran.
Kamu nggak punya tempat di hidupku ketika kamu mulai berbohong.

Semoga Allah mengampuni dosaku dan dosamu.

"Kadang sesuatu yang jelas terlalu menyakitkan untuk dilihat"

Hari ini kacamataku dirawat inap di sebuah optik di pusat perbelanjaan dekat sekolah. Saat perjalanan pulang aku melewati jalanan yang sama yang kulewati tiap malam, tapi pemandangannya berbeda. Lampu-lampunya menyala tapi tidak kelihatan jelas karena minus mataku. Akhirnya malah jadi indah. Karena seperti bercak atau foto vintage yang gaya-gaya di pencahayaannya. Warna-warni, dan cantik. Aku tersenyum karena senang.

Lalu aku bercerita pada grup senamku. Aku khawatir tidak bisa senam dengan baik. Lalu Chikem malah memberi kata mutiara. Mungkin karena namanya memang mutiara.

Kata-katanya begini :

"Kadang sesuatu yang jelas terlalu menyakitkan untuk dilihat"

Aku melihat sesuatu yang membuatku sedih hari ini. Aku jadi bertanya-tanya seberapa besar dampak indera penglihatan pada suasana hati.

Oiya, selamat hari ayah. Mari menjadi anugerah dengan membenahi diri jadi anak soleh.

Belajar di Taman Kanak-kanak Impian

Mungkin tidak ya, kalau sudah aku besar nanti
Kubangun taman kanak-kanak
yang menggalakkan budaya antre
untuk anak-anak negeri
biar tidak aneh
orang Indonesia
saking tolerannya
sampai menoleransi
keserakahan diri
sendiri
dan menoleransi
keinginan
untuk selalu bersama-sama
seperti kepiting
yang mau ke atas
tapi ditarik lagi
sama temannya
di dasar kolam

"Yang penting bersama"
"Yang penting keinginanku terpenuhi"

Manusia Indonesia
suka
menangguhkan diri
dan merasa
orang lain harus tangguh
biar bisa bersaing
bukan
saling menghormati
kepentingan bersama

Bersama
bukan berarti
selalu bersama-sama

Sepertinya, taman kanak-kanak impianku
jadi tempat
yang banyak yang harus dikerjakan.

Sepenggal Cerita TK

Dulu waktu TK aku pergi ke dan dari sekolahku diantar antar jemput.
Sepulang sekolah sudah ada mbak ju atau mama di rumah.
Kakakku sekolah seharian karena sudah SD.
Biasanya mbak ju sudah menyiapkan makanan biar aku menonton tv sambil makan siang.

Lalu suatu hari entah mama atau mbak ju bilang pada pagi harinya,
memberiku pesan,
nanti pulang sekolah aku pulang ke rumah tetangga seberang.
Karena tidak ada orang di rumah.
Aku mengingat-ingat pesan itu agar jangan sampai lupa.
Baru pertama aku diberi tugas yang berat.

Berangkatlah aku ke sekolah.
Pulangnya aku diantar antar jemput.
Seperti biasa aku main drama bersama kawan-kawanku di dalam mobil yang jendelanya isis.
Lalu waktu sudah sampai depan rumah aku turun mobil takut-takut.
Merasa setiap pasang mata kawan-kawanku memandang ke mana aku melangkah.
Aku tidak melangkah ke rumah tapi ke tetangga seberang.
Menyalahi aturan dan membuatku salah tingkah.
Bagaimana bila mereka bertanya-tanya kenapa aku tidak pulang ke rumah?
Pikirku waktu itu.
Aku takut dan malu jadi satu.
Padahal masih TK B.

Lalu aku berdiri agak lama di depan pintu tetanggaku yang baik.
Aku harus melakukan apa ya?
Tiba-tiba pintu terbuka dan ada tante depan rumah.
Lalu beliau bilang di rumahku sudah ada orang.
Jadi aku diantar ke rumah yang letaknya hanya di seberang.

Hari itu aku sebal dengan orang rumah.
Karena merasa dijebak dan dibohongi.

Dunia Pasti Tempat Paling Kesepian

Pernahkah kamu merasa lelah di telinga,
karena kamu mau tak mau mendengarkan hal-hal yang tak perlu yang diteriakkan dunia berulang-ulang dan terlalu lantang?

Pernahkah kamu merasa pusing di kepala, karena terlalu banyak menyaksikan hal yang melelahkan di dunia yang mengecewakan?

Pernahkah kamu merasa kram di ulu hati, karena tak sepatah kata pun yang kamu rasa ingin kamu katakan, dunia tak memahami?

Aku mencari-cari alasan kenapa aku merasa pedih dan lelah di tengah dunia yang penuh hiburan. Aku melakukan hal-hal yang menyenangkan dan berusaha tak menghiraukan rasa muak yang memenjara inderaku. Ada begitu banyak manusia yang mengerahkan seluruh tenaganya di hari-hari untuk mencoba mengeluarkan tekanan yang disebabkan masalah yang mereka hadapi. Dunia jadi penuh sesak dengan balon udara yang mengandung keluh kesah.

Aku takut memecahkannya jadi aku berkelit dan menghindar.

Aku sering beranggapan bahwa bercerita adalah kemampuan yang dianugerahkan kepada manusia untuk menyembuhkan diri dari penyakit. Kadang aku merasa, bercerita harus pada sesama manusia. "Mereka akan lebih mengerti, karena mereka juga manusia," sederhananya. Tapi aku tidak pernah merasa lega seperti seharusnya ketika aku bercerita pada makhluk bertitel manusia. Ya, baiklah, aku tahu, aku juga bukan apa-apa melainkan manusia.

Tapi, apa, sebenarnya yang aku butuhkan?