Posts

Showing posts from December, 2015

Tidak Ada Bunyi Selain Bunyi Kulkas

Kamu tahu kamu mulai sakit jiwa waktu kamu senang berbicara dengan jelly king dalam ruangan sepi di siang bolong.

Mantera

Seperti Sabari dalam novel Andrea Hirata berjudul "Ayah", yang sesuai namanya itu tetap sabar menunggu dan sabar menjalani hidup meski ditinggal orang-orang yang dicintainya. Seperti ulat-ulat pohon jati yang bermunculan di daerah Perak, masuk ke rumah-rumah warga karena populasi yang meningkat awal musim penghujan tahun ini, yang bertahan hanya beberapa minggu untuk kemudian bermetamorfosis jadi kupu-kupu, tapi banyak yang mati kena semprot pestisida petugas dinas pertanian dan warga. Seperti macam-macam media sosial yang menyimpulkan 365 hari dalam beragam ekspresi, memprediksi dan mendoakan peristiwa-peristiwa umat manusia di tahun 2016 nanti, merancang resolusi yang entah akan benar-benar terjadi atau hanya wacana seperti yang sudah-sudah belakangan ini.Aku tidak kenapa-kenapa, hanya gatal ingin menulis.

You are an Acrophobic

Hantuku bernama gravitasi. Gaya yang seringkali muncul hanya dengan wujud sepuluh meter per sekon. Sepuluh itu angka yang sedikit. Tidak sebanyak seratus, atau seribu. Tapi yang sedikit itu yang kerap kali menarik bola mataku kuat-kuat. Mengilusikan kedalaman jatuh yang dibuat-buat. Aku baik-baik saja ketika menatap sejajar arah pandangku. Aku takjub memandang megah ketinggian yang melampauiku. Namun aku, takluk terpuruk dan terseok-seok di hadapan jurang yang terhampar di bawah kakiku, meski berlapis beton yang berlapis kaca anti peluru dan berlapis kawat baja dan lapis-lapis logam platina sekalipun membatasi dimensi tempatku dengan olok-olok hantuku.

Well, well.

Image

Persimpangan

Aku selalu takut hari ini akan tiba. Hari di mana langit tak pernah kelihatan menjawab pertanyaan kita. Seperti ada ratusan lapis kain yang menutup mulutku, meredam semua kata-kata yang menusuk ulu hatiku. Rasanya pilu. Di dalam sana aku sudah meledak-ledak. Meneriakkan beragam ketidak adilan yang aku ketahui, lebih-lebih aku rasa. Kalau saja aku bisa merubahnya jadi kata-kata. Akan kulemparkan ke depan wajahmu, biar kamu tahu.Tapi untuk apa? Kamu tak pernah mendengarkan. Kata-kata hanya akan menyakitimu, dan aku. Sudah tidak perlu ada lagi yang harus merasakan sakit. Karena persimpangan hanyalah persimpangan. Mungkin kita harus berjalan menuju jalan yang berbeda. Kamu ke barat, dan aku ke utara. Entah akan ada persimpangan yang lain, atau kita akan tetap berlari di jalur masing-masing. Aku tidak keberatan. Yang penting, kita mungkin bahagia. Dan kita masih memiliki rasa percaya pada-Nya.Dulu mungkin aku bisa berkata, kita sama-sama tahu. Sekarang aku sudah tidak tahu apa yang mungkin…

Mari Bertemu dan Berbicara

Berikut hal-hal yang ingin dia lakukan sebelum negara api menyerang :Pergi berlibur ke suatu tempat bersama kawan-kawan yang ingin pergi ke suatu tempat juga, dan melakukan hal-hal menyenangkan di sana.1. Spesifikasi berlibur : seperti motto majalah LIFE.2. Spesifikasi tempat liburan :
1) seperti di buku dongeng.
2) udara bersih
3) pemandangan indah
4) tidak boleh terlalu ramai, nanti macet. dan tidak manis.
5) terjangkau3. Spesifikasi kawan :
1) siapapun yang asyik.
2) tidak mengintimidasi
3) baik hati
4) suka bercerita
5) baik hati
6) memahami kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya
7) baik hati.4. Spesifikasi hal-hal menyenangkan : hal-hal yang membuat hati senang.ps : no gadget allowed during vacation.-------------------------------------------------------------Aku setuju dengan iklan teh sariwangi. Waktu berbicara adalah waktu yang berharga. Apalagi dengan orang-orang yang luar biasa. Maksudnya, bukan seperti berbicara dengan Pak Presiden atau apa. Tapi orang-orang luar bias…

Nasi yang Hangat

Dia mengusir mendung dengan dua piring nasi hangat dan telur mata sapi. Setengah matang. Minum dan istirahat banyak-banyak. Semata-mata agar besok mendung sudah reda.

Penguasa Hati

Susah, untuk tetap berdiri tegak di penghujung hari yang melelahkan. Ketika tak begitu banyak manfaat yang mampu kau tebarkan, alih-alih membawa pulang beragam ekspresi kekecewaan. Ketika usahamu mencapai batas kemampuan diri, namun masih tak merekahkan sebersitpun senyum yang kau harap. Kamu berharap esok mampu menebus segala kegagalan hari ini, namun bagaimana esok tiada yang tahu. Kamu bukan peramal. Gemuruh langit mungkin masih dapat diprediksi. Cerah, berawan, gerimis, badai. Namun, siapa dirimu sampai bisa merubah suasana hati? Jangankan merubah, memprediksi saja belum tentu. Kamu bukan penguasa hati. Kamu bahkan belum tentu mampu menguasai hatimu sendiri. Frasa pencuri hati hanya kiasan, fana, imajiner, omong kosong. Hati tak dapat dicuri. Hatimu bahkan bukan milikmu sendiri. Lalu, untuk apa segala kesombongan yang susah-susah kamu kokohkan dengan pernak-pernik duniawi, bila kamu tahu hal itu tak pernah benar-benar merebut hati siapapun di dunia ini?Kamu mengharap dunia dengan …

Bukan Manusia yang Tepat untuk Menjadi Manusia yang Tepat

Dia tahu ada rasa kecewa yang mampir waktu dia tahu bahwa dia tidak akan pernah tahu.

Tolong, Dia Udah Nggak Tertolong

Selamat pagi cinta, apa kabar? Dia lagi nggak bisa menulis. Alasannya: mampet. Nyandet. Mbulet. Buntu, nggak ada jalan. Entahlah. Dia cuma mau membuat semuanya jadi singkat dan jelas. Tapi dia nggak bisa. Dia bisanya ngajak jalan kemana-mana, ibarat kalau dari Kusuma Bangsa ke Wijaya Kusuma pake muter dulu ke Kenjeran. Nggak penting. Nggak perlu. Buang-buang bensin.Dia bilang dia lagi seneng belajar. Mungkin gara-gara lagi UAS. Seneng bukan berarti rajin, sih. Tetep aja dia lebih sering keliatan mulet daripada ngerjain soal. Gitulah.Bagaimana dia bisa muncul di sini dalam bentuk virtual yang lain, dia nggak mau mikir alasannya. Dia cuma mau kalian tahu dia ada.Oke, singkat cerita, dia bosan sekali. Cita-citanya yang ingin jadi mbak-mbak super cool dan gaya, nggak terwujud-terwujud gara-gara dia susah kalo nggak mencolot ke sana kemari. Nggak pas kalo nggak nyapa orang pake lambaian tangan. Ngganjel kalo nggak ngakak. Intinya : nggak anggun blas.Dia sadar dia bukan Anggun C. Sasmi yang…