I Have A Dream

Menjawab pertanyaanmu itu susah.
Tapi aku tidak harus selalu benar.
Ini bukan ujian, katamu.
Jadi aku hanya meluncur saja dengan jawaban,
kalau mikir nanti kamu kemalaman.

Waktu aku bangun keesokan harinya, aku bersyukur.
Matahari masih ada, Tuhan masih bercerita.
Cerita apa lagi yang akan terjadi hari ini ya, aku bertanya.
Aku pikir aku nggak akan bisa tidur malam sebelumnya.
Itu tadi cuma mimpi, atau semuanya nyata?

Meski aku menangkup kedua tanganku rapat-rapat,
atau menengadahkannya tinggi-tinggi,
menguncinya di sela-sela jari,
sembari memejamkan kedua mataku seperti mau mati,
aku tau kamu tetap nggak akan tiba.
Kamu kan bukan cenayang.

Tapi, kita memang nggak diciptakan untuk selalu bersama, kok.
Padahal inginnya sih begitu.
Aku di sini dan kamu di sana.
Kamu tetap milik emakmu, bapakmu, abangmu, mbakmu, opungmu, empingmu, keponakanmu,
emping saja ingin memilikimu.
Sayang kamu nggak doyan makan.

Hai, ini episode ke berapa, ya?
Kok aku baru mengerti.

Terima kasih ya kawan-kawan, sudah menyayanginya sepenuh hati.
Aku bukan apa-apa kok, kalau kalian mau mengerti.
Yuk, sama-sama kita menyongsong hari.
Closingnya apa ya? Sampai bertemu lagi?

Champion's Champagne

bismillah.

pemakluman hanya sebagai hadiah.

nggak ada hadiah sebelum tenaga terkuras.

nggak ada tenaga terkuras sebelum usaha keras.

cerdas.

say goodbye to those little sparks before the fire.

let the flame begin.

Surabaya, I'm in Love

Kalau dia sudah merajuk, sinar matahari terik ala pesisir udah nggak kelihatan lagi. Yang ada cuma mendung rasa pantai, dekat laut. Gedungnya tinggi-tinggi. Tengah malam masih ramai, dari kerlap kerlip pusat perbelanjaan yang lagi midnight sale, sekelompok begal yang kabarnya mangkal di merr, sampai lampu ruang tamu rumah anak ITS yang meski hari berganti kerjaan bukan kelar malah nambah.

Iya, Surabaya, I'm in Love.

Ini kali kedua aku pulang, dan kayaknya obat rindu nggak senyata lovastatin atau parasetamol. Tetap sendirian, tapi sendiri yang berkualitas. Karena bahkan kayaknya tembok lagi bicara sama aku, kangen gitu katanya. Ada entertainment news di NET dan TV itu nyala nggak terlalu sia-sia. Kayaknya gundukan baju kering belum diseterika ini juga rindu aku bergelung di dalamnya.

Hahaha, mengada-ada. Tetap sendirian tapi sendiri yang berkualitas. Nggak serapuh ketika aku harus percaya bahwa ada orang di luar sana yang pasti memahamiku cuman masih disimpan Tuhan. Di sini, aku tahu aku akan baik-baik saja.

Entah ini karena kamu atau karena ini rumahku. Karena delapan belas tahun bergelung di pelukan ibu atau cerita yang nggak bisa hilang dari jalan-jalan kota. Dan sekarang, hujan. Aku nggak tau kamu akan membacanya seperti lirik lagu nge-rap atau cuma sekadar sambil lalu tapi ini luar biasa. Aku rindu hingga tiap tetes mikroskopis embun pagi yang nggak pernah kutemui di kotaku Surabaya.

Semoga Dia Baca

"Iya, halo."
"Kamu ada waktu? Bisa bicara sebentar?"
Waktu itu matahari nggak kelihatan karena hujan. Jalan raya depan halte tempatku menunggu banjir sedikit. Di situ cuma ada aku dan hujan yang nggak berhenti-berhenti. Aku nggak lagi menunggu bus, aku cuma sedang berbicara di telepon sama dia.

Akhir-akhir ini, semua jadi rumit. Bodohnya aku yang masih membuka halamanmu padahal kita sudah nggak saling bicara, kawan. Ini bukan kisah cinta anak SMA, tapi nggak ada bedanya. Tiba-tiba aku ingin makan tempe.

"Sekarang, coba kamu jujur sama dirimu sendiri. Bener nggak apa yang kamu rasain kayak gitu? Bukan karena dia orannya keren jadi kamu mengada-ada?" kata Cherry waktu aku cerita sama dia. Aku harus bersyukur karena punya Cherry yang mau mendengarkan aku padahal dia juga punya masalahnya sendiri. Mungkin aku harus bersyukur karena orang tuaku beli rumah di sebelah rumah Cherry waktu kita masih kecil, jadi kita udah temenan sejak kecil dan nggak ada yang perlu kita tutup-tutupin. Kita udah saling percaya dan persahabatan kita nggak alay, kayak, kita udah saling ngerti satu sama lain. Tapi, inti masalahnya sekarang bukan di situ.
"Aku tau dulu aku sempet nulis di diari tentang ini, Cher. Bahkan aku pernah berdoa biar bisa sama dia. Tapi aku nggak pernah yakin sama diriku sendiri. Kamu tau aku bukan orang cantik atau kaya, bahkan milih baju biar stylist aja aku masa bodoh. Pinter juga cuma hoki-hokian aja, rajin nggak sama sekali. Aku kayak kutu kalo dibandingin sama dia, dan dia juga sinis sama aku. Pas itu. Jadi, karena aku orangnya antimainstream dan semua orang kayak ngefans gitu sama dia, aku jadi bilang nggak. Aku jadi nggak peduli lagi."
"Terus kamu jadi tiba-tiba peduli gara-gara ini?" aku cuma bisa ngelihat sebuah kantong plastik warna biru yang ditenteng Cherry di satu tangannya dengan nelangsa. Kamu nggak perlu tau isinya apa tapi itu dari dia. Aku mengangguk-angguk aja, nggak ngerti sama jalan pikiran sendiri. Cherry geleng-geleng kepala.
"Dia kan disukain semua orang."
"Iya..."
"Terus?"
"Yaudah."
"Yaudah gimana?"
Aku nggak tau, aku males ceritanya. Karena nanti pasti ada banyak spekulasi dan kesalahpahaman yang aku sendiri jadi nggak ngerti mana yang benar. Aku susah kalo ngomong, karena aku nggak suka dihakimi. Mungkin karena itu aku jadi nggak paham juga dengan keinginan diri sendiri.
"Yaudah yaudah, sekarang yang dipermasalahin apa?" akhirnya Cherry angkat bicara.
"Kayaknya dia sekarang udah sama orang lain."
"Terus kenapa? Bukannya kamu yang bilang kalo kalian nggak ada kecocokan?"
"Iya, iya... Iya kita emang nggak cocok karena sifat kita sama banget, jadi nggak ada yang ngalah."
"Terus?"
"Terus, ya, yaudah... Harusnya aku seneng kan kalo dia udah nggak kepikiran aku lagi."
"..."
"Ya, tapi...."
Cherry mengangkat gelas tupperwarenya yang isinya air putih, lalu dia minum beberapa teguk. Mungkin tenggorokannya kering karena nggak sabar dengan keinginanku yang mbulet.
Kalo kata Billy, ini bukan tentang iya atau tidak. Bukan hitam atau putih. Karena dia nggak bisa memilih, dan aku sebel karena dia nggak bisa memilih. Memilih artinya berkomitmen. Dan ternyata, sekarang aku juga nggak bisa memilih. Karena ini bukan masalah iya atau nggak. Nggak bisa dijelaskan. Semuanya rumit kalo aku mikir sendiri.
"Terus ini mau dibawa ke mana, Ca?"
"Nggaktau, Cher. Kalo jodoh nggak kemana."

Sekarang, tepat dua hari sejak percakapanku sama Cherry, aku lagi megang gagang telepon yang di seberangnya ada suara dia. Aku sungkan setengah mati karena dia pasti sibuk banget dan aku nggak ada apa-apanya dibanding semua fans dia di dunia ini. Aku bukan orang spesial, kenapa aku berani telepon? Bodohnya. Tapi yaudah, karena terlanjur. Aku kesal karena dia berubah.
"Iya, bisa. Mau bicara apa?"
Tuh, kan. Dia selalu nggak bisa menjawab dengan pas. Dia selalu berbicara pakai nada seakan kita nggak saling kenal. Dia selalu formal, dan aku jadi merasa semakin jauh dan salah tingkah. Harusnya ada alat yang bisa menjelaskan semuanya, biar nggak serumit ini.
Aku nggak tau mau ngomong apa dan aku nggak merasa penting buat mencoba menjelaskan ke dia jadi aku tutup teleponnya dan aku maki dirinya karena jadi orang kok nggak peka.
Lalu hujannya reda. Aku menatap genangan di bawah kakiku sambil kayak ingin menangis. Semua orang sangat sibuk dengan dunianya dan nggak ada yang tanya gimana kabarku hari ini. Lalu, kisah yang awalnya manis itu juga jadi pahit karena selain kita renggang, dia juga berubah. Aku takut dia kenapa-kenapa tapi aku bukan siapa-siapa jadi aku nggak perlu khawatir, karena fans clubnya dia lebih ahli dan mungkin lebih dia dengar untuk menjaga dia.

Tamat.

xidneppa

Terlepas dari itu semua, aku nggak pernah menganggap ini sia-sia.

Banyak hal yang, bukannya nggak bisa diungkapkan, tapi aku nggak tau gimana cara ngungkapinnya. Tentang sesuatu yang sangat kuat sehingga bisa membuat kakiku mau turun dari lantai tiga gedung fakultas hukum hanya dengan bergantung pada seutas tali yang nggak boleh diinjek. Lalu, mau-maunya juga kami berjogging ria mengitari kampus hutanku yang naik turun tiada tara. Pak satpam gedung A sering kami sapa di pagi hari yang masih buta, sekitar pukul empat lebih lima puluh waktu matahari malu-malu ngintip di sela-sela gedung PD 8 lantai. Setelah praktikum atau kuliah, kami pulang larut, masih dijejali materi di RK yang super dingin. Kami menyimpul tali di jas hujan untuk membuat pelindung, mempelajari gigitan ular yang berbisa dan tidak. Bahkan kami belajar memasang triase, meski praktiknya masih salah karena kami terlalu terpaku pada sakitnya bukan kondisi keseluruhan yang harus diobservasi. Menyusun kayu-kayu biar jadi kerucut, menepuk-nepuk pundak bapak-bapak yang ceritanya tiba-tiba jatuh di jalan lalu dilakukan basic life support. Aku udah kepingin nangis waktu nahan berat badan di sikut yang ketekuk setengah. Aku ditanya apa alasan ikut ini. Aku jawab aku nggak tau.

Nggak tau, aku mau aja. Harus ada alasannya? Aku suka. Halah, gombal, kayak Dilan. Tapi enggak, aku tau bahwa kalaupun harus mengerjakan laporan dan tugas, plus belajar lebih agak larut nanti, ini nggak akan menjadi sebuah beban. Pun bila waktuku akan tersita bersama mereka, aku nggak pernah menyesal.

Ini fantastis. Kawan, kalau kamu bertanya kenapa aku bisa bertahan tanpa alasan, jawabannya mungkin karena aku mau. Karena aku dengan senang hati melakukannya. Aku gembira seperti anak kecil di dalam sana. Dan, meski di antara kata-kata pendukung yang membuatku malu tetap saja ada dengung miring yang tak ada bagus-bagusnya, aku sadar ini bukan tentang penilaian mereka. Ini tentang aku dan jalan kecil yang didesain Tuhan untukku. Jalan kecil yang akhirnya buntu juga.

Akhirnya, ini semua sudah selesai bahkan sebelum aku bertemu orang yang akan ikut gembira mendengar ceritaku melakukan hal-hal yang diluar batas kewajaran seorang sanifa. Iya, hehe. Aku nggak sempat cerita. Kalaupun sempat, buat apa. Nanti saja deh, kalau sanifa jr. sudah besar lalu siapa tau dia akan melanjutkan mimpi emaknya. Malu nggak bacanya? Haha, iya, sama. Yaudah,

Sekarang, si emak belajar dulu. Biar kalo dia nanti mau beli keperluan kayak kupluk atau nesting, dia nggak perlu minjem atau nyewa.

Dulu dan Sekarang

Jangan mengocok botol tupperware tertutup berisi air panas karena tutupnya bisa mencelat dengan bunyi pop yang menyiprat ke seluruh ruangan, termasuk wajahmu yang lelah. Cuma intermezzo.

Saya pernah berdebat mengenai penggunaan tabung bekas rol film sebegai wadah korek api. Iya, fungsinya sebagai pelindung. Tapi, kenapa harus tabung bekas rol film? Mencarinya di mana saja saya nggak tau.

Packing kedap air juga jadi salah satu hal yang membuat saya tercengang. Kalau dulu mas aldo nggak mem-briefing kami di parkiran utara, mungkin pakaian saya sudah basah kuyup waktu mbak mas siram-siram cantik.

Pun ketika demonstrasi penggunaan carrier, mas zaka juga mengkritik botol minum 1,5L yang tergantung tak berdaya di kantong kecil samping yang rawan jatuh. Menggantung barang memang tidak diperbolehkan, masukkan saja semua di dalam. Kalau tiba-tiba minumnya jatuh, kamu mau minum apa, dek?

Saya kayak berjalan untuk kedua kalinya di tikungan yang sama. Nggak saya sangka bahwa ternyata itu semua, bahkan tercantum sedetail itu, di kitab kuning dua puluh lima ribu ambil di hasbona.

Saat pergi karaoke, saya bisa membayangkan putra putri pelajar smp negeri enam. Saya ingat dulu saya paling diam dan paling nggak tau mau ngapain karena bernapas saja saya fals.
Makan di d'cost, saya ingat udang dan nasi di kayun. Saya juga nggak ngerti pola pikir saya waktu itu yang masih kebawa euforia smp.

Tolong kondisi tubuh jangan diremehkan. Mungkin kamu nggak merasa lelah karena terlampau senang, tapi koordinasi tubuh sudah nggak sejalan. Bahaya.

Kamu menyesal udah membaca tulisan nggak jelas ini? Nggak papa. Pesan moralnya adalah : ketika kita nggaktau maksud dari suatu hal, bukan berarti hal tersebut nggak punya manfaat bagimu ke depannya.

Random Thought

Setelah sekian debit larutan downy yang mengalir, sarapan-sarapan yang terloncati, dan waktu-waktu hectic di bumi bagian persiapan responsi blok tiga, tau-tau sudah November saja. Lalu muncul pertanyaan yang nyaris berbisik di telinga, kamu mau jadi apa?

Kabar baiknya adalah, ia masih memberimu kesempatan berdemokrasi. Bahwa kamu masih bisa memilih. Pernah suatu waktu aku berdiskusi mengenai betapa bosannya mas-mas yang jaga tempat fotokopian, tentang bagaimana mereka membalik halaman-halaman yang tebal lalu memencet tombol yang sama untuk menghasilkan kopi, apalagi ketika mengkopi hal yang telah dikopi sebelumnya. Berulang terus. Seakan aku lupa bahwa bukan berarti pilihan selalu tersedia bagi setiap orang di muka bumi.

Ibu Kepala Puskesmas tempatku berkoordinasi dua minggu lalu sempat bertanya pada kami, mungkinkah ada salah satu dari kami yang berangan menjalani profesi yang sama. "Ah, kalau masih baru gini pasti mikirnya ambil spesialis. Coba nanti kalo udah semester akhir, mau lanjut belajar juga mikir lagi, kapan nikahnya?"

Sering juga beberapa dari beliau yang berilmu dan berbaik hati membagikan ilmunya, mencekoki kami dengan fakta-fakta bahwa : perjalanan ini tidak pendek, tidak berfoya-foya, tidak memberimu kenyamanan yang instan, dan pintu itu masih terbuka lebar untuk mengubah haluanmu secepat mungkin, untuk memberimu udara segar dan kebebasan dari tirani.

Positively speaking, secara tidak langsung, alam masih menyodorkan kami pilihan.

Tapi, bukankah di mana-mana kesuksesan memang tidak pernah instan? End of conversation.

Yang menggangguku adalah, ketika kamu berusaha sebaik mungkin untuk mencoba menjadi sebaik mungkin dalam suatu hal, namun orang lain tetap bisa melakukannya lebih baik darimu. Dan kemudian kamu menolak untuk melanjutkan langkahmu, lalu mencari potensi yang lain untuk menjadikanmu bisa lebih baik lagi.

Masalahnya di situ. Karena sebenarnya, kamu tidak perlu melakukannya untuk lebih baik dari orang lain. Kamu hanya perlu melakukannya untuk menjadi manfaat bagi orang lain.

Healing Incantation

langit kampus negeri dongeng

Jadi ceritanya, aku sudah berusaha menceritakan sesuatu di sini sejak dua hari yang lalu. Namun, tidak ada cerita yang keluar. Kemudian aku mencoba mencari masalahnya di mana. Mungkin karena aku jadi jarang sekali menulis akhir-kahir ini, kurang membaca selain data-data jurnal ebm dan obrolan ngalor ngidul di jendela percakapan sosial media, dan juga ada faktor lainnya seperti memang tidak ada yang perlu diceritakan. Sampai di titik ini, indikator itu masih rancu. Perlu diceritakan atau tidak itu realtif. Dan sepertinya, aku memilih untuk tidak menceritakan banyak hal.

Kurasa, masalahnya di sini adalah aku kurang fokus. Apa yang mau kulakukan setelah ini? Aku tidak tahu. Aku sudah punya rencana untuk belajar, membuka buku, menelaah soal, menjadi gadis pemberani yang ambisius dalam prestasi akademiknya. Tapi itu semua hanya angan-angan kosong. Karena tidak ada yang terlaksana. Aku terdistraksi ini dan itu, lalu ingin mencoba hal ini dan hal itu, kurasa aku cenderung mencari suatu hal yang lain yang klik dan membuatku bisa anteng seperti anak kecil yang diberi mainan biar duduk tenang. Kemudian aku bertanya-tanya, apakah ini suatu hal yang normal.

Bicara soal kenormalan, pernahkah kamu merasa ada jarak dengan dunia? Aku tidak pertama kali duduk dan makan sendirian, memenuhi kebutuhanku sendiri--belanja misalnya--juga bukan suatu hal yang baru. Namun ada suatu waktu di mana aku berada di suatu tempat yang notabene ramai, bersama aku dan diriku sendiri, kemudian masyarakat mulai berdatangan dan bertanya, "Sendirian aja, neng," lalu kujawab, "Enggak ini sama temen," sambil merangkul udara saking seringnya ditanya demikian. Aku belajar dari salah satu temanku di Surabaya sana bahwa menjawab apa yang orang lain ingin dengar akan jauh lebih mudah ketimbang menjelaskan apa yang kamu rasakan. Toh, biasanya orang-orang hanya ingin tahu, atau basa-basi ajasih.

Di sini, di titik ini, aku pun terharu ketika sekumpulan orang dengan hobi, kesukaan, dan mungkin visi yang sama, berdiri di depanku dan berkata, "Kita di sini adalah keluarga." Aku terlampau bahagia sampai tidak sabar memberitahukannya pada dunia, meski pada kenyataannya hanya nengs yang bertanya, dan seorang kawan di ranah seni yang malah ternyata mengalami hal serupa. Aku berusaha menghubungi seseorang yang terpaut jarak melampaui lima ratus kilometer, tapi Ia tidak sedang ada. Aku mengutuk diriku karena sempat terbersit jawaban yang berbeda pada pertanyaan "Yang istimewa atau yang selalu ada?"

Dibanding dulu, aku tidak sesibuk itu. Prosentase hal-hal wajib dan pemenuhan hak-hak diriku lebih seimbang saat ini, mengingat sekolahku tidak dari siang sampai sore dan faktor-faktor lain yang menunjang. Kalau dulu aku beranggapan bahwa waktu senggang berarti banyak waktu untuk belajar, aku harus menelan kata-kata itu lagi. Bukan, bukan begitu cara mainnya. Dan aku rasa aku mulai paham dengan konsep waktu senggang dan waktu-waktu yang tertata.

Ketika diam, terlalu diam. Saat ramai, aku tak pernah setahan itu dalam keramaian bukan? Rasa-rasanya ingin ada yang sekadar menanyakan kabar, lalu mendengarkan aku bercerita tentang semua hal dan tidak kututup-tutupi. Giliran ada yang menyuruh bercerita, aku bungkam. "Gaapa fa, aku tau kamu susah curhat," katanya. Tapi, lalu apa? Lalu bagaimana?

Tuhan. Aku rindu masa-masa ketika hedon di kota besar hanya sebatas angkat-angkat kaki lima belas menit. Aku rindu menunggu di belokan biliton untuk pulang bersama F squad. Aku rindu nasi katering yang kurang enak di sekolah dasar. Aku rindu bermain sepatu roda di kamar di rumah dinas yang besar di dekat pesawat-pesawat terbang. Aku rindu, tapi tidak rindu. Aku ingin kembali ke masa lalu, tapi bukannya masa lalu tidak bisa diulang? Bahkan pukul 16.38 tanggal 12 Oktober 2016 saat aku menulis kalimat ini juga hanya sekarang saja, tidak bisa diulang. Jadi, boleh aku menangis sekarang?

Aku tahu ini hanya sebatas omongan tidak jelas dan tidak jenaka, ketika aku sadar apa yang kutulis, sesedih apapun itu, sebenarnya aku tak pernah sesedih itu. Aku tahu semakin ke sini semakin banyak pertimbangan dalam berbicara, bertindak, mengambil keputusan. Ini bukan sebuah surat minta pertolongan, apalagi wasiat seorang yang putus asa dan patah semangat. Aku bersemangat kok, aku baik-baik saja. Jadi jangan beri aku semangat, ya. Aku tidak bertambah semangat ketika kamu menyuruhku semangat. Bahkan, aku tidak suka disuruh-suruh. Aku suka melakukan suatu hal atas kemauanku sendiri. Jadi, ya, tahu sendiri kan.

Jangan hakimi aku dari tulisan ini, ya. Seperti kamu telah menghakimi jutaan takdir-takdir Tuhan. Menuliskan kondisimu saat ini adalah proses penyembuhan yang diperintahkan otak atas dasar refleks pertahanan dirimu. Kamu perlu sekali-sekali bicara dengan dirimu, lalu memenuhi kehausannya atas pengakuan, anggapan, dan penghargaan, bahwa apa yang kamu pikirkan, rasakan, dan lakukan, itu penting. Tolong. Jangan dzolimi pinjaman ini.

Akhir kata, aku tidak mau membatasi mimpi-mimpiku lagi. Aku harap kamu melakukan hal yang sama.

Pin Smala Nggak Dibawa Mati

"Kebanggaan itu ada di sini, dek. Bukan di jas almamater!" kata salah satu mbak yang berjalan agak jauh di sana, sambil menunjuk ke bagian yang saya yakini sebagai tempatnya jantung.

Kejadiannya baru tadi. Cukup membuat saya penasaran kelanjutannya akan jadi bagaimana. Jujur, saya salut. Namun kemudian, saya jadi bertanya-tanya. Saya ini berkaca-kaca karena haru, atau karena rindu?

Kabarnya sekarang di sana sedang masa regenerasi. Saya cuma bisa kirim doa, semoga amanah tidak salah memilih tuannya. Tsah. Kalimat yang sampai sekarang saya juga masih nggak ngerti maksudnya gimana. Semakin dipikir, semakin kebijaksanaan itu nggak muncul. Yang saya yakini, cuma, betapa kesempatan maupun pintu-pintu yang tertutup itu adalah nggak pernah sebuah kebetulan.

Saya sadar apa yang saya lakukan tidak sepenuhnya benar. Niat yang saya yakini sebagai suara dari hati, ternyata juga semudah itu goyah. Di tengah perjalanan, saya mulai mempertanyakan apa yang telah saya pikirkan dulu, hingga terjebak dalam kungkungan keterikatan hati pada satu nilai dari empat pondasi : cinta almamater. Saya mulai mengadakan alasan untuk memperkuat keberontakan akal, mendemo hati. Saya jadi anak durhaka berkemampuan nihil dalam menyeimbangkan kepentingan ego dengan kewajiban saya sebagai anak. Lalu, dimana kebermanfaatannya?

"Apa bisa dipahami? Sekarang, apa adek mau berjanji menerapkan nilai kepemimpinan dalam kehidupan adek sehari-hari? Adek janji? Mbak pegang janji adek."

Dan ketika saya mencari benda yang setia tiga taun selalu nongkrong di regio bagian sinister dari jilbab saya, dan nggak ada, saya tahu bahwa benda sekecil dan sefana pin smala sudah sewajarnya hilang. Saya nggak perlu mencurahkan kekesalan, membanting barang-barang untuk mencarinya misalnya, karena yang jauh lebih penting bukan seberapa lama kamu mempertahankan benda itu ada di genggamanmu, tapi seberapa kuat kamu mampu mempertahankan ruh yang kamu dapat dalam berproses bersama benda itu ke cerminan dirimu.

Saya slamane smalane.

------------------------------------------------------------------------

*post ini dibuat sekitar dua hari yang lalu. sekarang alhamdulillah pinnya udah ketemu. ternyata di surabaya. kok bisa, kujuga gatau. mungkin dia homesick. ok.

Jangan Sombong, Mari Meminta

Hari yang berat, ya?

Saya rasa saya akan baik-baik saja hari ini, menikmati makan pagi yang cukup variatif meski kurang bergizi, dan bersiap awal sekali dengan hati cukup riang. Sampai kemudian tiba-tiba saya berbelok terlalu mepet, lalu sukses, lebam.

Masih segar di ingatan saya setelahnya saya hanya menghela napas, meminta ampun pada Tuhan, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di kampus-hutan, saya membuka telepon genggam lalu menelpon mama. Saya nggak kepingin nangis, tapi mengalir sendiri. Dasar gembeng. Iya, saya sakit hati si ganteng beset-beset bahkan penyok parah.. Saya merasa bodoh sekali, gitu saja nggak bisa. Tapi, entah dapat angin dari mana, saya tiba-tiba siap untuk ikhlas. Lalu teringat kisah Nabi Khidr melubangi perahu seorang nelayan yang dilewatinya. Pasti ada maksudnya.

Hari berlangsung biasa-biasa saja, bahkan saya cukup optimis dalam menghadapi jarkom mendadak yang meminta untuk membawa papan dada. Saya langsung berteriak syukur dalam hati karena seakan diskenariokan, tadi pagi papan dada saya dibalikin mbak Intan. Padahal saya juga nggak kepikiran buat membawanya. Optimisme saya sempat terjun bebas ketika melihat hasil pengumuman responsi pelajaran selular. Ketika itu, di sebelah saya Tya, yang dengan cukup canggung menguatkan saya--yang dengan jauh lebih canggung menanggapinya.

Tapi saya masih berusaha positif ketika mencari tempat duduk yang cukup depan, namun dekat dengan ruang ambu pengawet. Saya agak suka bau ruangan itu, meski panas di saluran pernapasan dan di mata. Namun, baunya seperti bau antiseptik, atau mungkin itu memang bau antiseptik? Entahlah. Kemudian pengulangannya dimulai. Lalu, di situ saya merasa seperti bak mandi yang dikuras. Ini perumpamaan macam apa sih.

Keyakinan saya untuk stay cool stay healthy stay positive dipenghujung hari amat sulit untuk dipertahankan. Keluar dari ruangan itu, saya senang ada Khod yang ternyata membawa motosaikel, karena rasanya kaki saya sudah lemas hilang tenaga.

Saya juga senang Gita senang memeluk. Lalu kami, bertiga dengan Debs, meratapi hasil yang tak sesuai ekspektasi dalam pelukan bertiga. Saya rasa saya berusaha menguatkan Gita. Tapi kemudian dia makan dan aku beli es krim. Ada es krim aice di sini, enak lho.

Bernyanyi dan menggila bersama Otul sangat menyenangkan! Saya cukup gembira dan tertawa-tawa sambil bersama Grace juga, lalu hal-hal jadi terasa cukup, yah, mau gimana lagi. Saya sudah berkali-kali menghibur diri dengan berkata, ini yang terbaik dan saya yakin akan hal itu, dan saya tahu saya perlu lebih berusaha untuk menguasainya agar mampu menjadi bekal di kemudian hari. Toh buat apa lulus kalo nggak bisa apa-apa. Lalu, senja seakan tersenyum. Burung-burung berkicauan. Daun-daun berguguran. Yha.

Eits, tapi, kayaknya belum cukup sampai di situ cobaan yang tiba silih berganti. Hari sudah cukup gelap ketika saya memutuskan berbelok di RSJ, dan ternyata salah jalur tapi alhamdulillah tembus. Di tanjakan, saya sudah ketir-ketir waktu papasan, alhamdulillah bisa. Satu hal kurang bijaksana yang saya lakukan adalah suatu hal yang menyebabkan seorang pemuda memaki di jalan, tapi alhamdulillah juga tidak kenapa-kenapa sih.

Belum selesai juga, saya mepet lagi. Kali ini yang depan. Lalu saya sampai bingung ini kenapa gabisa jalan. Dinding. Saya agak lelah. Saya lelah banget. Saya nggak ngerti lagi. Akhirnya agak jauh dinding, tidak berani lagi. Saya jadi serba salah seperti raisa. Saya dah capek Kalau ada titik di bawah pasrah, mungkin saya masih di bawah bawahnya lagi. Nggak terdefinisi.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah, Allah senang dengan hamba-Nya yang meminta. Dan sesungguhnya bukan amal perbuatan maupun ibadahku yang membuat bisa masuk ke surga-Nya, melainkan ridho dari-Nya.

So, ya, saya yakin, meski saya rasa saya selalu nggak pantas untuk meminta apa-apa, saya tetap harus meminta pada Sang Khaaliq. Khusyu' memohon keselamatan dan lancarnya hari yang akan saya lalui. Karena bukankah Tuhanku mencintai hamba-Nya yang meminta?

Susah untuk menjadi positif di tengah kenegatifan. Tapi bahkan sebuah model atom tercipta dengan inti proton, dikelilingi sabuk elektron.

Terakhir, saya rasa menyibukkan diri dalam kebaikan dapat membantu saya mengurangi kerinduan.

Tolong jaga diri kamu ya sanifa, kami yakin kamu bisa.

Bila Tuhanku adalah Tuhan Yang Mahapengasih, mengapa Dia tega memerintahkan pendahuluku membunuh anaknya sendiri?

Ibrahim adalah seorang bapak yang lama tak dikaruniai anak. Ia pun berdoa memohonkan hal yang selama ini dirindukannya itu. Allah hanya butuh sekedipan mata untuk kabulkan pintanya, memberinya anak yang kuat lagi tampan, patuh lagi cerdas. Ismail namanya.

Bila kemudian aku mendapat hadiah yang amat kuinginkan dan kubutuhkan, dan telah lama dijanjikan ibuku, namun keesokan harinya ibuku memintanya kembali, sanggupkah aku memenuhi permintaannya untuk menyerahkan kembali apa yang telah kumiliki?

Ketika Ibrahim menyampaikan mimpi dari Allah itu, Ismail tak sekerling pun membencinya. Ia tak lari ke gunung, tak sembunyi di hutan-hutan gelap untuk menghindari rencana tak masuk akal itu. Ismail mencintai ayahnya, Ayah satu-satunya, yang ingin membunuhnya. Manakah yang lebih menyakitkan, kematiannya, atau perpisahannya kelak?

Ibrahim tak mungkin sanggup menggores bahkan sebatang lidipun pada leher anaknya! Bukan ini yang diinginkannya, menghabisi darah dagingnya sendiri demi perintah Tuhan yang tak dapat dinalar? Omong kosong. Pasti ada kekeliruan. Mengapa tak kau panjatkan kembali doamu untuk meminta keringanan itu, wahai bapak para nabi? Mengapa tak kau minta mukjizat lagi seperti ketika Allah kabulkan doamu dan memberimu Ismail? Tuhan pasti mengerti. Bukankah Ia tak membutuhkan Ismail, namun kau sangat membutuhkannya?

Mahasuci Allah yang telah mengaruniakan iman yang kuat dan kesabaran yang berlimpah dalam hati Ibrahim dan Ismail! Dan ketika Ibrahim tak mampu menggores kembali pedangnya pada leher Ismail yang tengah bertelungkup, Allah kemudian menggantinya dengan sembelihan yang amat besar.

"Allah tak pernah memerintahkan Ibrahim membunuh anaknya,
Allah perintahkan Ibrahim untuk membunuh kepemilikan atas anaknya."

Dan bahwa semua urusan adalah milik-Nya, akan kembali pada-Nya, sampai kapan mempertanyakan keabsahan perintah-Nya, dan mencari-cari alasan untuk berkelit dari kewajiban menyembah-Nya?

Kami dengar dan kami taat, ya Allah.

10 Dzulhijjah 1437 H
Lebaran qurban pertama di negeri Allah bagian Surakarta. :3

Instrumentalia

Melihat lorong dan atap-atapnya yang menyirip miring. Menyapu peluh dari angin yang sepoi lalu sepi. Ketika suara-suara kemudian memanggil di kejauhan, Ia merasa dekat. Berbekal satu tarikan napas Ia lari. Tidak kembali.

Hangat mengepul dari cangkir seduhan kopi sore hari. Senja jatuh tak lama berselang, tinggal dingin dan bisikan memicu detak kehidupan. Tiba-tiba bunyi hujan. Mengurai kusut di pelupuk yang tinggal separuh bulan. Gelegak sisipan bumi membentur air bertetesan. Tinggal Ia dan suaranya yang tersendat, kebuntuan. Tak bertampung.

Ia belajar bahwa hati yang meminta hanya punya tiga pilihan : untuk segera terkabul, akan terkabul kemudian, atau dikabulkan dengan sesuatu yang lebih baik.

Seketika Ia hanya punya satu suara, pun disuarakan.

Harus bisa.

Pelestarian Budaya

Katanya, bonek dan aremania tak bisa bersatu.

Nyatanya, saya paling senang kalo sudah ketemu orang malang. Dan sidoarjo, gresik, mojokerto, sekitarnya lah.

Bahkan yang cuma sekadar numpang lahir di jatim saja saya sudah merasakan getar-getar keterikatan.

"Ngh kon,"

Awalnya saya sadar saya ngerem ngomong ala-ala. Kata teman-teman juga saya ga medhok suroboyo amat. Emang jowoan juga baru sma sih, kalo kata alivia gapantes ue ngomong njawa. Kagok.

Namun ternyata, semakin ke sini, semakin rek maupun kon meluncur begitu saja. Mungkin juga karna saya dalam keadaan mulai nyaman, jadi, ya, gitu. Hm.

Sedihnya, saya suka napuk mulut sendiri habis ngomong. Habisnya, atmosfernya jadi aneh. Mungkin, telinga teman-teman agak gatal, merambat ke hati yang agak luka juga mendengarnya. Jadi sungkan. Huhu.

Kemudian ada Sadam, yang sekos sama Zico. Kami belum saling mengisi buku angkatan. Bila bertemu, Ia berusaha berbicara kon, dengan ke-lampung-lampung-an. Saya jadi terharu. Rasanya seperti ketemu orang indonesia waktu jalan-jalan ke eropa. Bangga. Feels like home. Halah. Apasi.

Teman-teman plat N juga membantu banyak dalam mengobati rasa kangen saya terhadap logat. Kangen medhok. Kangen kasar-kasarnya.

Yaudasih. Yang jelas, saya emang ga merasa setres, tapi kayaknya tubuh saya udah berteriak-teriak menunjukkan gejala butuh istirahat.

Nginjek kopling ae gemeter

Maaf ya, saya sering banget ngomongin topik ini. Habis, ah, sukar digambarkan bagaimana rasanya. Rasanya bagi saya. Seperti... rendang padang rasa semur. Entahlah.

Mungkin, pergi ke negeri lain bisa jadi salah satu cara untuk membuat generasi penerus bangsa jadi melestarikan budayanya. Ada cinta, dan urgensi yang akan kita dapat ketika menjauh dari budaya itu sendiri. Hm. Cool.

Sudah, semoga Allah selalu menjaga kita. Hamasah!

Red Thread

Yakinlah neng, bahwa apa yang kamu lakukan tidak akan sia-sia.

Karena emosi yang kamu rasakan sekarang adalah bentuk pendisiplinan dirimu, wujud pengorbanan mimpi-mimpimu. Saya tahu, neng, bisikan syaiton berkali-kali berdenging di telingamu, meneriakkan yang katanya keadilan dan hati nurani kepadamu. Tapi sungguh, neng, kamu tahu. Itu cuma iming-iming di dunia yang sementara itu.

Yakinlah neng, ini yang terbaik untuk kalian. Yakin, bahwa pelaut handal tidak akan lahir dari perairan yang tenang. Dan bahwa di jalan setapak yang sudah terlampau terjal ini, bukan rasa aman dan nyaman seperti itu yang kamu butuhkan, melainkan suatu yang menyelimuti dirimu dalam balutan cahaya-Nya Yang Mahakuasa.

Dan, ketika hatimu yang terbelenggu meraung candu memanggil nama yang telah akrab itu, ingatlah, garis ini tak akan pernah putus ketika kamu mau dan mampu memperjuangkan keindahannya.

Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita.

Motivasi Sesuap Nasi


"kasian perutnya meraung-raung lo
nanti ditagih di akhirat
'dulu aku didzolimi tak diberi makanan'
'padahal badan bukan miliknya'
hayoloooo"

------------------------------------------------------------------------

"Mangkannya harus makan biar bisa bekerja memberi makan pak parkir"

-------------------------------------------------------------------------

hemat boleh, mager jangan.

Atas Izin Allah, Jemuranmu Pasti Kering

Pernahkah kamu terlanjur mencemplungkan baju kotormu di ember dan menyiramnya dengan air, lalu ketir-ketir, akankah nutut untuk menjemur hingga kering esok pagi?

Akhir-akhir ini, saya sering mengalami hal-hal gila yang membuat hati saya kurang tenang. Ketika tanjakan di depan nh lalu mundur, bertemu guru-guru besar yang bernapas dan yang enggak, hingga membeli nasi di warung prasmanan yang saya nggaktau cara ngambilnya gimana. Sepele, namun kebayang-bayang sampai lama. Sampai saya bertanya-tanya apakah mimpi ini se-worth it itu untuk dilakoni.

Problematika kehidupan yang semakin nyata ini membuat kadar keidgafan saya mencapai titik di atas rata-rata. Kadang, ketika memejamkan mata di malam hari, saya masih bisa mencium aroma pengawet yang seharusnya sudah tak lagi melekat di rongga hidung saya. Di kamar mandi, saat membasuh polusi di wajah dengan sabun wangi, kumpulan dosa saya seharian seakan diproyeksikan kembali oleh pikiran ini. Tapi, nggak mungkin kan, saat itu juga saya muncul di balapan dan membeli tiket pulang, lalu memeluk ibu saya, atau bergelung menonton drama korea bersama mbak saya, karena rasa takut dan lelah yang kala itu merajai hati?

Yoweslah, piye maneh.

Saya perlu menolak untuk takluk. Saya harus.

Dan di sinilah saya belajar memahami arti keimanan yang sesungguhnya.

Faith. Kepercayaan. Sesuatu yang saya, sebagai manusia yang manusiawi, perlu miliki sebagai tonggak untuk berpegang. Yang telah Allah ciptakan karena Ia Mahamengetahui hamba-Nya, bahwa ketika terjatuh kita perlu bangkit dengan rasa percaya. Kepada apa, dan siapa lagi saya dapat meminta? Kepada apa, dan siapa lagi saya bisa menggantungkan nasib yang serba tak berpenjelasan ini?

Gunakanlah kesempatan ini untuk bersyukur atas iman yang telah Allah sisipkan dalam hatimu, kawan. Karena bahumu tak mungkin tegap tanpa izin dari-Nya.

Dengan demikian, atas izin Allah, jemuranmu pasti kering.

Chill.

Guyonan Sarkas

Agaknya saya merasa kesulitan melontarkan guyonan sarkas di sini. Padahal, sebagian besar waktu saya di perguruan menengah atas dulu saya gunakan untuk memperdalam ilmu sarkas. Entah faktor budaya tutur kata lembut yang mengakar, atau cuma sebatas karena belum kenal dekat, saya jadi merasa sangat jahat kalau sarkas di sini. Iya, saya kayak sedih gitu tapi ga sedih-sedih banget juga sih. Hz.

Selain itu, saya nggak punya potongan kuku. Kalau beli mahal. Budget anak kos abal. Saya jadi teringat jalan dekat rumah saya yang namanya sama seperti nama ketua bmkkp dibalik asterion kemarin, yang isinya warung-warung murah dan ayam goreng hisana yang luar biasa nendang. Masio gitu, nasi jamur dan pentol gila di sana tetap mahal. Meski ada pentol buto yang gila tapi kw. Ini ngomong apa saya agak menerka-nerka. Tampaknya lavar.

Kalau sudah mapan nanti, saya mau mendirikan rumah kos ah. Dua, yang khusus cewek dan khusus cowok. Ada pembinaan spiritualnya biar keren. Bersih, nyaman, harga terjangkau, strategis. Saya rasa, rumah kos adalah jasa bagai jasa ibu yang tak terhingga. Muara sungai-sungai yang fana. Sumber mata air kehidupan. Yha.

Yang terakhir, saya harap kamu selalu dalam lindungan Allah. Karena, bila kamu bertanya apa yang membuat saya kuat, saya rasa mencari jawabnya tak akan jauh-jauh dari-Nya. Tunggu cerita saya selanjutnya tentang jemuran, ya. Saya gatal ingin bercerita.

Sudah, mau makan dulu sama bidadari-bidadari GA. Uhuy.

Do you believe in magic?

"Biasanya kalo speechless gini banyak yg dipendem," katanya.

After all these hectic days, saya bukan memilih untuk nggak bercerita.

Saya nggak tau mau ceritanya gimana.

LPJ Surakarta 1st-3rd

Jadi, ini hari ketiga saya nangkring di Solo. Mau saya ceritain nggak? Mau aja ya. Saya usahakan ini singkat. Gadibaca juga gaapasi.

Rabu, 10 Agustus 2016

6.55, Gubeng. 
Sancaka Pagi, 7.30. Habis foto-foto, salim, berangkat. Duduk di belakang turis asing beraksen British. Membaca dan tidur. Makan regal.

11.55, Solobalapan.
Bersama tante Lastri dan omnya sholat di kantor BPN. Kemudian makan sepotong ayam kampung lengkap dengan cekernya. Rasa bintang lima, harga kaki lima. Bukan D'Cost.

Sekitar jam satu, Graha Annisa.
Sepi-sepi aja. Salam, masuk. Ketemu Kartika di tangga, baru ketemu udah langsung pinjem pel. Dipinjemin seembernya sama super pel. Beli lap di Toko Herman. Balik kos. Lupa sikat. Mbak ngepel, saya melancong. Mendaki ke indomaret.

13.10, Indomaret
Cuma empat menit tapi ngos-ngosan. JJS. Beli sikat dan onigiri, dan benda-benda lain. Lama milihnya. Nyampe kasir. Gabisa bayar. Gabawa uang. Nitip belanjaan ke masnya. Turun gunung ke kos.

13.30, Graha Annisa.
Lari. Kalo jalan ga nyampe-nyampe. Mencungul dikit di pintu, ambil dompet. Mbak heran. Gabisa jelasin. Pergi lagi.

13.35, Indomaret.
Sampe depan pintu. Pintunya berundak. Ada mas-mas bersihin kaca. Belakangnya mas-mas ngangkat barang. Antrean kasir mayan banyak. Satu mas satu mbak jaga kasir. E lakok kesandung undakan. Mencolot. Flying Sanifa. Mas e ngguyu. Mbak e sisan. W senyumin aja. Anaknya tegar.

13.45, Jalan.
Udah ngelewatin pak-pak benerin tiang listrik tiga kali. Sama mas-mas cangkruk (eh, nangkring) jual gorengan. Untung jalan mayan sepi. Ketawa-ketawa sendiri di jalan. Gak muasok. Sek hari pertama.

Jam dua kurang, Graha Annisa.
Mbak selesai ngepel. Beresin kasur. Tugas saya : bersihin kamar mandi.

Kamar mandi.
Siram-siram wipol dan porstex. Ujug-ujug kelabang muncul. Gede. Semprot air, doi berenang. Gamau masuk got. Malah manjat dinding. Semprot wipol akhirnya. Mabok. Masih jalan. Siram porstex. Gatel banget di tangan. Doi njempalik. Kesian. Buka teralis (apaansi namanya) got. Doi meluncur masuk. Tak berdaya. Sedih. Bangkit dari kesedihan. Nunggu bentar, sikat-sikat. Semprot-semprot. Guyur. Kasih pengharum. Done.

Kamis, 11 Agustus 2016

Jam tujuh lebih. Gor UNS.
Naik ojek ternyata sepuluh rebu. Sampe gor lautan manusya. Naik tangga samping langsung sampe depan pintu. Pintu dibuka desel-desel. Kokya isok ketemu Rizky. Masuk, duduk tribun. Antre ambil almet. Dapet almet. Terharu. Pingin nangis. Sama Kartika dan Rizky. Jalan ke FK.

Sembilan kurang, FK.
Nunggu Mbak Nad dateng. Minjem motor. Jare ici dee wes dadi belgas saiki.

Setengah sepuluhan, Warung Makan (lupa namanya;-;) di Jalan Kartika.
Nasi, dua perkedel, tempe mendoan, tahu bulat, garang asem + es teh, sembilan ribu. Dibayar Rizky.

10.00, Kampus Kentingan.
Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Pameran TNI di sekitar halaman rektorat. Mengumpulkan stamp. Sebagai ajang kenal kampus. Terik level : dijemur di lapteng. Kaki mau putul. Banyak pohon lumayan. Danau pertanian. Bolang sama Kartika. Rizky TM di Nurul Huda.

Dhuhur, Masjid FK.
Baru adzan langsung sholat. Mau ambil MedSMART di joglo. Mbak-mbak pake rok berkerudung syar'i. Adem.

Ba'da dhuhur, jalan.
Pulang sama Kartika. Mampir beli jus. Panas, lepek. Kuyu.

Graha Annisa.
Rizky chat. Ku alami dilema. Menelpon suatu orang untuk bertanya. "Belajar dong," katanya. Kemudian nekat saja. Prepare barang masuk tas kuat gugel. Prepare hati ucapkan basmalah.

Gerbang belakang, sama Rizky.
Doi deg-degan. Saya lebih. "Kamu kudu bangga ndue konco koyok aku," kataku. "Gendeng kon," katanya.

Sudah malam, Graha Annisa.
Balqis barusan datang. Berkunjung ke kamar sama Kartika. Omong-omong sebentar lalu maghrib. Habis sholat, cari makan.

Warung Makan deket kosan.
Nasi goreng + es jeruk sembilan setengah. Porsi kuli. Ngomongin Malang. Balik.

Depan Gerbang Graha Annisa, sekitar jam tujuh.
Ada siluet cowok. Dan sepeda. Dan ibu-ibu. "Sopo cak iku," jareku. Setelah mendekat, baru sadar itu siapa. Coba tebak. Iya bener. Rizky sama mamanya. Salim. Cerita ngalor ngidul. Mulai dari cowok Tangerang temen sekamar Rizky, sampe Ubaya. Ternyata sejam. Beliau sama Rizky pulang. Saya masuk.

Jam delapan kurang, Graha Annisa, 
Kumpul sama mbak-mbak temen-temen. Mbak Latifa ulang taun. Nyurprisein. Makan kue. Cerita-cerita banyak. Jilbab Afra, kucing mbak Winda, permasalahan kosan, horor. Sudah jam sepuluh. Pergi tidur.

Jumat, 12 Agustus 2016

Pagi. Masih di kamar. Tidur nyenyak entah kenapa. Mungkin kerna capai. Lihat utub rencana mau nyari lagu yang chill, nemunya bmkkp dibalik. Entah kenapa jadi ndredeg. Padahal harusnya udah biasa. Ugh, sok abiez. Yaudahlah, Tuhanku lebih besar dari masalahku. Insya Allah.

------------------------------------------------------------------------------------

Terima kasih banyak-banyak untuk pihak-pihak terkait. Aldo, Aufa, Atul, Ratu yang pagi-pagi udah siap di gubeng. Tante Lastri dan om yang mau direpoti. Mbak-mbak mas-mas indomaret yang luar biasa. Mbak Nad yang suda meminjamkan motor ke Rizky demi mobilitas yang lebih baik. Mas-mas warung makan dan ibu-ibunya yang ramah. Kartika, Balqis, mbak-mbak teman-teman GA yang baik-baik. Semuanya dah. Barokallah, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.

Saya gembira karena banyak hal-hal baru. Saya rasa, petualangan yang cocok buat saya memang sesederhana hal-hal baru. Yeh.

PS : Hampir kehilangan kesempatan berbicara kan kon. Hampir kehilangan Sanifa yang pencilakan. Suka sungkan. Memaknai perubahan Jembatan Ampera. Subhanallah.

Mari menjadi pribadi yang lebih bermanfaat hari ini!

Kata Pengantar Redaksi?

Halo gaes,
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Di sini ada saya yang tiba-tiba suasana hatinya bagus banget. Rasanya dunia jadi penuh motivasi. Saya akan melakukan ini dan itu! Hati terasa lapang. Senyum tak henti-henti. Ga juga se. Walay.

Hari ini kirain saya bakal ke Colombo. Ternyata, tadi pagi udaranya terlampau nyaman untuk bangkit dari gumpalan selimut favorit saya. Mbak lagi marathon Pokemon (yang dulu pas kecil saya cuma nonton CD 1 dan 11 seperti telah disebut di sini), didownload dari internet. Saya ikut nonton lalu jatuh tertidur. Bangun-bangun sudah siang, memasak telur tuna untuk sarapan, lalu ndlosar-ndlosor cantik, melarang diri saya memikirkan apa pun yang berkaitan dengan rame-rame di grup chat maupun barang-barang yang belum ter-packing, shantae. Saya memang berencana menghabiskan jatah leyeh-leyeh saya, sebanyak yang saya bisa, di sini. Amat bahagia. Terimakasih ya Allah.

Kemudian agak siangan telpon Bila yang hidup di tanah rantau. Bercerita-cerita agak terputus-putus soalnya telpon gratis. Saya yakin suara saya cukup keras untuk didengar para tetangga. Semoga beliau-beliau legowo mendengar cekikikan saya yang kurang kalem.

Habis itu mama tiba dan menegur karena saya belum mencuci baju. Ini penting nggak ya diceritakan? Ya sudah gitu lah. Padahal baju pergi saya juga udah abis di rumah, yang lain udah digotong ke sono. Gapenting amat sih ini. Trus yauda saya mencuci dan beres-beres dokumen di kamar. Pas beres-beres dokumen saya nemu tulisan. Ternyata sebelum SBMPTN saya pernah mimpi, lalu saya tulis. Mimpinya itu jadi ceritanya q seneng abiz soalnya mama membolehkan q ikut liburan kelas. Terus tak kira liburan kelas cuma dua hari, ternyata sampe empat hari. Kan saya gabawa baju gitu akhirnya beli di supermarket beli baju wane pol. Setelah dipikir-pikir, selama menunggu pengumuman saya merasa nggak mimpi apa-apa. Padahal kawan-kawan banyak yang dapet mimpi ini dan itu. Mungkin mimpinya malah sebelum tes yak? Gotik. Nah, udah, kembali ke saya yang beresin dokumen. Dokumen pun beres, kemudian sama mama pergi ke selisih awal dan akhir plaza.

Setelah mbulet-mbulet di plaza, kami pulang. Di rumah saya langsung : memasang towel grip baru untuk raket saya.

IYA. SUMPA SUMPA SAYA SUEneng banget for the first time in my life memasang towel grip untuk raket yang suda sama saya sejak main badminton bareng Pak Toy di Juwingan dulu (berarti kelas tujuh). Towel gripnya warna biru, beli di stasiun olahraga di selisih awal dan akhir plaza dengan diskon 30%. Mayan. Cool. I'm so happy.

Saya mah anaknya gitu, ganti grip raket pertama kali aja udah bahagia banget.

Udah. Apa lagi, ya? Saya seneng buka website bmkkp dibalik. Soalnya fotonya bagus. Saya tiba-tiba jadi cinta almamater. Gilapek. Kayaknya saya emang visual banget. Looking forward foto bareng rizky pake the blue salty egg jacket. Salah ya. The light blue jacket.

Gitu doang. Oiak mau ngasi tau aja, kalo kamu buka laman ini dari pc, itu di bawah ada music player baru, isinya empat lagu nyomot di utub. Dia nggak langsung ngeplay jadi kudu di klik dulu, emang diatur gitu soalnya ada orang gasuka halaman yang ada musiknya. Opsional aja kok bila Anda lagi garing, saya punya lagu untuk Anda azik. Maap lagunya the way I like.

Saya cuma mau nyapa kalian ajah. Maap. Maap lagi. Ketiga kali, maap. Semoga harimu menyenangkan yeayea!!!!!!

Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Jembatan Ampera

Sebelas tahun yang lalu, kami berpisah di jembatan ini. Sebelas meter jauhnya di atas permukaan Sungai Musi. Ia ke Seberang Ulu, aku ke Seberang Ilir. Tak banyak kata yang terdengar waktu itu. Ia hanya bilang, aku perlu menjaga diri.
Aku ingin berteriak, "Kamu ini cenayang atau apa?"
Tapi urung.
Aku kembali menekuni kombinasi rajutan kristik di genggamanku. Dia yang memberikannya ketika kami saling mengangguk, paham sudah saatnya merelakan jarak menyusup masuk. Benangnya membentuk setangkai mawar, warnanya putih. Aku heran tak setitik pun air mataku yang jatuh. Adakah hati juga telah direnggut pergi dari jiwaku?
Tepat ketika itu, dering menghampiri telepon genggamku. Ia yang berbicara di ujung lain. Suaranya serak diterpa angin, lirih ditimpa hujan. Bila sebelas detik tak berlalu, aku yakin aku tak mengenalinya. Karena bukan hanya suaranya saja yang ubah. Ia tak bertanya kabar, pun memberi. Kami hanya saling diam di balik masing-masing kesadaran diri. Menutup gagang bukan keahlianku, tapi Ia tak di sana. Ia yang sebelas tahun lalu tersenyum dinaungi cahaya bulan purnama.
Maka aku pun benar-benar berkata, "Kamu ini cenayang atau apa?"
Tanpa sebisik pun jawabnya.
Ia hanyut dalam riak-riang Sungai Musi, bersama ubah yang diramalkannya sejak sebelas tahun Ia pergi.

Unresponsive BrainApps

Saya lagi butek sama aplikasi chatting di hp. Juga butek sama diri saya yang kayak membutuhkan afirmasi berlebih atas kehadiran diri di muka bumi. Kadang ada momen di mana saya cuma termangu di tempat, niatnya memanggil memori yang menggambarkan diri saya ini orang yang kayak gimana waktu berada di tengah-tengah masyarakat. Iya, saya kayak kehilangan jati diri. Siapa sih sanifa sebenarnya, gitu. Saya jadi ingat teman saya yang sukanya tes kepribadian berkali-kali dengan hasil yang berbeda-beda. Entahlah.

Di tengah krisis jati diri yang melanda saya secara tiba-tiba, iseng saya mencari inspirasi lalu buka youtube. Saya memang suka nontonin channel tim2one, aulion, maupun mbak nessy judge because why not. Lalu, saya terdampar di salah satu channel yang mayan hits. Iya, punya mbak mbak yang banyak dikepoin orang beberapa waktu lalu. Beliau, mbak-mbak instagram yang mengundang kontroversi masyarakat tentang gaya hidup dan kisah asmaranya. Jaman sekarang, mudah saja bagi "kekepoan masyarakat" untuk membesarkan nama instansi maupun pribadi tertentu. Saya nggak kenal mbak ini. Saya juga nggak terlalu yakin apa saya perlu untuk mengetahui jalan hidupnya, wong nak omah cucian yo sek akeh le, mending nyuci aja gitu. Lucunya dari jalan takdir ialah, garis-garis kita bersimpangan. Dan jalan saya lagi ketemu jalan beliau. Meski cuma videonya doang. Gitu.

Jujur pas lihat video lists di channelnya, saya langsung scroll nyari yang nggak panjang-panjang amat. Mostly durasinya emang dua puluh menitan lebih, dan meski saya penasaran saya juga nggak mbelani amat mbuang kuota banyak-banyak. Jadi, saya buka vlog pertamanya yang cuma sekitar enam menitan. Lalu saya lihat. Kemudian, saya kasihan.

Kenapa ya saya kasihan, padahal kayaknya hidup beliau #lifegoals sekali. Katanya di usia muda sudah punya penghasilan, mandiri, mbaknya juga cantik, pinter juga lho katanya masuk universitas ternama di negeri saya ini.

Saya kasihan soalnya, hidup ini lho, kejam ya. It consumes you.

Ada beberapa netizen yang komen di vlog-vlog beliau, salah satunya bilang "kayak nggak tau mana yang bener mana yang salah aja". Kemudian saya kayak, hmmmm.

Di perjalanan hidup saya, alhamdulillah Allah mengenalkan kitab suci agama saya yang juga sebagai furqon, artinya pembeda. Pembeda yang benar dan mana yang salah. Saya juga ada mama dan mbak saya, yang masio saya inget dulu mbak sukanya mengingatkan kenakalan saya di masa kecil dengan amat mangkelin (ya saya masih kecil, jadi saya mangkel, gitu) tapi, ya, namanya anak kecil belum paham kalo bukan orang tuanya yang mengarahkan terus siapa?

Bener, anak kecil terlahir di dunia ya dalam keadaan innocent tanpa dosa, yang membuatnya ini dan itu ya orang tuanya.

Lantas, kalau orang tuanya nggak hadir dalam membentengi pengaruh dunia buat anaknya, terus...?

Saya jadi inget perisai. Hehe.

Kemudian, saya kembali ke dunia nyata. Bingung dengan rongga yang besar di jiwa saya. Mencari arah ke mana saya mesti meneguhkan diri, kepada siapa tepatnya.

Tunggu.

Kenapa saya harus?

Ar-Rozzaaq

Bagaimana jika kecantikannya, ketampanannya, kelembutannya, kepopularitasannya, kesuksesannya di usia muda, kepintarannya, prestasinya, karya-karyanya, keindahan suaranya,

adalah Ia yang menunjukkan kebesaran-Nya?

--------------------------------------------------------------

Bila rezeki telah ditentukan sebelumnya, bukankah kita tak perlu iri pada rezeki orang lain, dan berlomba-lomba meraih rezeki yang memang diperuntukkan untuk diri sendiri?
Namun, mengapa manusia seringkali takjub pada rezeki orang lain, seringkali iri pada kesuksesan orang lain?
Adakah pemberitaan itu ialah motivasi,
atau malah merupakan refleksi hati,
bahwa bagi Allah, memberi rezeki pada makhluk-Nya hanya urusan seujung jari?

[05] Friday

Alhamdulillah it's Friday!

abaikan converse cinta pertama saya

Saya bangun dan masih ingat mimpi saya aneh banget. Jadi saya mimpi sholat jamaah tapi telat, nah saya harusnya ke sekolah pake sepatu tapi malah pake sendal. Habis itu pas sholat ada anak bawain tempe penyet ada sambelnya. Moro-moro saya di kosan dan kos-nya gaisa dikunci. Wes ngonolah geje. Saya rasanya udah ga di bumi aja gitu, melayang-layang plus panas dingin gegara virus. Virus influenza. Tapi kata embak sih saya dah ga kerasa panas. Tetep aja rasanya ingin di rumah aja, gulung-gulung, dingin. Namun, pilihan saya untuk berpetualang ternyata merubah segalanya.

Saya buka hp bacain chat. Tiba-tiba ada chat masuk. Dari Reza. Begini.

astaghfirullah maaf saya filter

Emang Reza mah orangnya begitu. Tapi habis itu dia dateng beneran sih ahaha. Yauda, trus jam 7.45 dia bilang mo jemput dari rumahnya daerah semolo. Q baru bangun padal, langsung mandi dan siap-siap ekstra kilat. Sebelum doi dateng w dah siap. Yauda cus.

"Enaknya beli kok apa nggak?" ucap Reza sebelum kami berangkat. Lah kesambet apa doi baik hati memenuhi kebutuhan teman-temannya. Saya pun terheran-heran. Tapi akhirnya kita brenti juga di Sakinah, dia masuk sendiri saya nunggu di luar (soalnya bawa barang banyak yaitu raket milikku dan miliknya, tas, dan sekaleng wafer selamat). Beberapa saat kemudian dia keluar nenteng kresek. Lebih karena iseng, ku pun bertanya, "Kon tuku siji tok a za,". Dijawab "Gak, dua." Gobs. As expected from Reza. Ya ue ketawalah. Ternyata sebiji kok harganya 100 repes. Yaudah gitu jadi dia ya ga beli dua juga.


Habis itu kita nyampe di Cheng Ho. Udah ada Yusuf, Irza, sama Dani. Yusuf sama Irza lagi match. Saya makanin wafer selamat sambil duduk di kursi wasit, nungguin ceciwi yang belum pada dateng. Bis itu semua datang. Siapa aja bisa dilihat di path saya. Lah jadi promosi mbaknya. Haha gak gak pokoknya ada Aik, Sofia, Tia, Aldo, Aufa, Almer, Irza, Yusuf, Dani, Tyan, Reza. Seru abiez. Saya setim dengan Aldo, kalah 21-5 lawan Aik dan Irza. Namun bapak wasit Yusuf menganugerahkan kemenangan bagi tim kami. Pada akhirnya, semua adalah pemenang bukan? Golden ways.

Selain tanding badminton (membakar lemak, kata aik), anak-anak liqo' sambil minum pucuk dan air mineral yang kami beli di kantin bawah. Habis itu pada ngomongin grup kesukaan Aufa, grup maba. Ujug-ujug terbentuklah tim jodoh yang membuka-buka grup jurusan ue, terdiri dari Reza, Almer, Aufa, dan Aik. Satu-satu dibukai dpnya, yang ganteng di add. Untung mereka cuma berhasil bajak chat ke satu orang. Yawes ngono iku. Saya sampe dah biasa. Kalo dulu jaman SMA, duo Yus dan Zapa pasti dah bawa hpnya keliling kelas, dibukai chat satu-satu. Tania suka jadi korban. Sungguh mendebarkan.

Kita seru banget kayaknya, sampe mas-mas Cheng Ho-nya dateng dan nanyain sampe jam berapa. Pas turun udah banyak bapak-bapak mau jumatan. Yauda kita cus ke Smala. Eh, cowocowo sih yang langsung jumatan di smal. Q sama Aik n Sofi transit di GO dulu. Say hi ke Mbak Ciska, Mbak Ayu, Mas Mico dan Pak Manalu. Baru deh, kita ke Smala. Awalnya udah takut-takut gitu boleh masuk apa kagak. Kalo gabole kita mau langsung cus Laziza, resto ayam yang baru buka di ex-MZ. E, ternyata dibolehin sama Pak Ali yang lagi jaga di gerbang alhamdulillah. Setelah salim pada beliau, Pak Joni dan Pak Yanto, kami pun jalan chantiq ke kantin yang ternyata masih rame wajah-wajah baru. Di sana kami cangkruk menunggu nagh kelas selesai jumatan. Habis itu nggosip as usual. Sambil makan mamik. Halah, baper kan. Good ol' days.

tangan yusuf yang megang soto

Kami nggak pulang-pulang mbulet ae. Ketambahan Mazae sama Acia yang mau ke TP. Saya diajak tapi wajah sudah kumus dan bawa-bawa raket, ditambah embak yang udah menyuruh pulang so that i choose to pulang aja. Awalnya udah siap-siap order gojek, cuman Reza ternyata masih baik hati jadi dia mau ditebengin pulang. Pokoknya hari ini dua jempol untuk Reza. Mari kita doakan bersama semoga Allah selalu melindungi dan mengaruniakan rizki serta yang baik-baik buat Reza. Aamiin.

Di rumah, saya makan nasi hangat dan lauk. Nambah. Laper banget. Saya juga terkaget-kaget, kayaknya baru tadi pagi rasanya gaenak banget, e, habis itu, saya pencilakan gajelas sama anak-anak. Sekarang malah nambah makannya.

Laughter is the best medicine, isn't it? 

Saya rasa, ini post terakhir edisi buku harian saya. Ternyata, selama lima hari, banyak yang bisa saya tekuni sambil menulis. Satu yang bisa saya simpulkan, menulis itu ternyata mampu mendekatkan. Mendekatkan kita pada diri kita sendiri. Mendekatkan kita pada momen yang telah kita lalui. Entah post [06] nanti muncul kapan, nggak perlu muluk-muluk bukain laman saya tiap pagi buat mengharap munculnya si nol enam yah (anaknya emang geer abis, sans aja). Saya dah kepikiran mau nulis tentang orang-orang hebat dibalik nama Acrylix habis ini insya Allah. Mungkin itu dulu.

Teman-teman sudah mulai sibuk ngerjakan tugas masing-masing. Rasanya kekanak-kanakan bila saya merajuk minta ditemani. Saya kudu menyibukkan diri juga dalam kebaikan, sembari menunggu. Saya harap teman-teman segera menemukan dan bisa mempertahankan kebahagiaannya.

Dengan cinta,
Sanifa.

[04] Thursday

Hehehehehehehehe.

Sudah daritadi mau menulis, gatau mau nulis apa. Hari ini vidcall dengan Bila, tadi dia sama Fitra dan Fadhil juga. Masalahnya, sinyale auwelek jadi gueje ora kelihatan mukanya. Mana suaranya telat gitu jadi mereka mulutnya gerak, suaranya baru nyampe beberapa waktu kemudian. Ahahah. Bila homesick. Ue sick, at home.

Gimana ya nanti aku kalo homesick. Vidcall siapa ya.

Sepanjang perjalanan pulang dari makan grilled things di daerah sono, mama tak henti-hentinya merapal wejangan. Gue kudu makan, kudu makan, kudu makan, banyak semua-mua pokoknya. Ups, baru sadar barusan nulis "gue". Itu semua gara-gara culture shock via grup line. Alah, ngomong masih kan kon aja sok sok lu gue. Basi.

Saya sungguh ingin yang terbaik buat teman-teman saya. Jalan-Nya sungguh nggak terkira, kan? Kayaknya baru kemarin kita grusa-grusu mau unas, tiap hari belajar ini itu eles-eles sampek walah subhanallah lah. Tiba-tiba kita udah di sini. Klasik sih, cuman ternyata pas ngerasain sendiri emang cepet buanget. Kayaknya baru kemarin kita mimpi sama-sama, sekarang kita udah sama-sama berdiri di titik takdir-Nya....

Wallahua'lam kawan, tolong tetap percaya pada keindahan rencana-Nya, ya. Insya Allah.

Fotonya apaan yak. Ini aja:)

sekiranya Anda homesick

Night.

[03] Wednesday

Saya sudah leren di kasur, bangun lagi soalnya baru ingat belum menulis.

Hari ini mbak saya pelantikan di kampusnya. Karena ada teman-temannya yang rias bareng di rumah, akhirnya mbak-mbak riasnya datang jam empat setengah limaan lah. Ya jelas saya bangun pagi. Trus langsung mandi. Trus tidur lagi. Mengantuk.

Di tempat kejadian, saya ketemu Fio dan Ko Victor. Fio mengantar mbaknya yang seangkatan dengan mbak saya, Ko Vic....makan. Kayaknya beliau habis menyanyi. Makanannya mayan enak. Alhamdulillah. Saya senang.

Kemudian kami berfoto di suatu studio foto yang mahil. Menurut saya. Iya. Saya harus berhemay. Hemay sama dengan hemat say. Alah. Typo aja ngeles. Sudah cekrik cekrik. Pulang.


Mama jadi suka marah-marahin saya, mungkin karena saya mau pergi. Abi dan Mama Bila juga melakukan hal yang sama, tapi dia dah di depok sih sekarang. Saya jadi bingung sendiri. Tapi saya males mikir karena pusing. Pusing kena flu. Asyik. Sehat sehat. Allahumma aafiniifi badani, allahumma aafiniifi sam'i, allahumma aafiniifi bashori.

Oiya, alhamdulillah, dua manusia ini sudah mendapat kabar. Lalu satu manusia itu dan si manusia ini tetap stay, bersama dua manusia di kubu satunya. Saya sueneng banget rantau ada temennya. Rizky lagi. RIZKY. Oke.

Kayaknya tulisan ini agak maksa. Kayaknya memang mbikinnya maksain, jadi ketok maksanya. At least kita belajar bahwa ketika menulis, situasi dan kondisi berpengaruh. Itulah kenapa penulis pro katanya ahli me-manage hati. Suasananya maksudnya. Gitulah. Embowes tak nonton aja. Istirahat ya cinta.

Semoga Allah selalu meridhoi jalan kita.

[02] Tuesday

Saya lagi di dalam mobil. Gapenting.

Tadi pagi sekitar pukul 7an, q muncul di grup. Salah satu grup yang kata aufa "grup maba". Elah sok. Di sana q bertanya suatu hal. Yauda, trus ada yang jawab. Tapi, manggilnya Fin.

Kemarin juga, pas ke rumah temen. Ketemu mamanya, terus ditanyain nama. Entahlah q suka tiba-tiba blank kalo ditanya nama. Jawab apanih??? Gitu. Yauda, refleks sukanya jawab Sanifa. Pas dulu nelpon rumah temen yang lain juga gitu. Yang jawab mamanya juga. Ya, jawabnya, Sanifa. Gasuka jawab Ifa. Ifa kayak spesial gitu. Eksklusif. Orang-orang tertentu aja yang boleh manggil Fa. Gitu maunya. Makanya sekarang kalo di form nulis nama panggilan juga Sanifa. Ekspektasinya biar dipanggil San. E, kepanjangan. Tiba-tiba udah ganti aja gitu jadi Safina. Sarina? Sanafi. Sembarang.



Susah ta nama Sanifa. Jadi penasaran.

[01] Monday

Halo, selamat pagi. Singkat saja, saya lagi di sini

coba tebak di mana

Perut saya melilit. Kayaknya kebanyakan makan kemarin. Tapi, ya, gimana. Terus saya ingat dulu, malam mpdk, saya galau banget. Akhirnya paginya kita (saya dan aliv) lari di koni. Lari dari kenyataan. Lari ipik-ipik. Gabisa lari tapi pingin lari. Menyatu dengan alam. Gitu deh.

Tapi, sekarang, saya nggak lagi lari dari kenyataan. Bahkan saya nggak lari. Saya cuma duduk nunggu orang. Bukan siapa-siapa, kok. Jangan sedih, fans. Fansnya dia maksudnya. Banyak amit kayak biji jagung. Bisa dihajar.

"Kamu kurang olahraga gitu," kata banyak orang. Saya sih mau mau aja olahraga, tapi males. Jadi mau apa males sih sebenernya. Anaknya suka mengalir gitu. Lari ya lari, enggak ya enggak. Padahal, exercise lebih baik regularly. Iya sembaranglah. Saya mah dgaf.

Intinya, ini saya lagi membunuh waktu. Nggak, bukan dibunuh. Memanfaatkan. Saya gapunya tenaga buat lari. Doakan Allah mengaruniakan kesehatan bagi saya, ya. Bagi kita semua deh.

Btw, saya heran, itu web counter di kiri salah ngitung apa gimana. Kok nambahnya cepet amat.

Hahah. Jangan penasaran sama kehidupan saya mah. Kaga ada apa-apanya.

Udah, gitu aja.

Selamat beraktivitas, cinta.

Bye Bunga

Ramadhan kemarin, Bunga bercita-cita untuk hijrah.

Ternyata, Bunga hijrah beneran.

Banyak yang harus dia korbankan demi memenuhi cita-citanya (yang sebenarnya, waktu bilang pingin 'hijrah', dia nggak pernah kepikiran untuk benar-benar 'pergi'). Mulai dari segi ekonomi, transportasi, kehidupan sosial, dan lain-lain. Nggak sia-sia Bunga ditinggal empat hari ngurus urip sendiri waktu itu. Atau, itukah pertanda...?

Bunga sering tiba-tiba kepikiran dalam hati, dia benar-benar ingin berpetualang. Titik. Sebatas cuma ingin berpetualang.

Di sisi lain, Bunga juga tahu dia kepingin melanjutkan studi di bidang itu. Meski artinya waktunya buat menuntut ilmu di universitas nanti bakal jauh lebih lama dibanding temen-temen seangkatannya yang lain. Kayaknya sih, gitu. Terus, metualangnya kapan.

Ternyata, Bunga dikasih Allah dua-duanya.

Bunga tahu petualangannya yang ini bakal lebih ekstrem, karena ini adalah real life, dude. Jadi dia ga bisa asal sembarang cemiha cemihi ala petualangan gadis muda tak berencana. Gaada mama, kata Bila. Yaudah, Mau ngapain, Bung?

Walah jelek amat Bunga panggilannya Bung.

Yang jelas, dia barusan nyampe rumah. Kehujanan. Kurang tidur. Kurang mengaji. Cenut. Resah.

Senang punya teman baru. Galau menghapal nama, semuanya baru kecuali dua.

Selamat istirahat, Bunga.

Nyekip Proses

[PERINGATAN]
Sebelumnya, cerita ini agak panjang dengan banyak istilah asing yang penulisannya tidak sesuai eyd, dan mungkin tidak terlalu penting meski pesan moralnya amat penting, jadi bila mata Anda lelah langsung scroll saja karena hidup adalah perjuangan dan tak ada unsur pemaksaan dalam hal ini ok thx lov.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Jadi ceritanya, beberapa bulan yang lalu waktu jaman-jaman mau sbmptn, hpku lemot. Akhirnya line-nya ku uninstall dan install ulang. Nah itu dalam keadaan udah siap-siap udah nge-backup-in data yang penting-penting kan. Setelah yakin aman, baru deh. Habis itu di reinstall. Itu udah malem banget kayaknya mau tengah malem gitu. Heran juga dasar surabaya gaada jam malemnya.

Udah selesai reinstall, kudu login lagi kan. Nah habis login itu ada kayak semacam loading datanya skala 100%. Berhubung udah malem dan emang anaknya gasabaran, akhirnya loading asal-asalan. Nah, terus, loadingnya failed. Karena udah suntuk akhirnya w pencet aja tombol home otomatis dia uda ga buka halaman yang lagi loading dan failed tadi. Nah pas akhirnya kubuka lagi linenya, dia uda bisa masuk ke halaman yang kayak biasanya itu ya ada chats dan timeline dan semuamua. TAPI. Tapi sodara-sodara : groups dan friends nya ilang semua.

Nah, padahal kan yang dikasi tau bakal kehapus cuma chat history-nya, ini kok pake ilang semua. Ku pun sedih dan duduk termangu bertopang dagu. Apa yang harus kulakukan? Teriak batinq. Lay. Habis itu moro-moro masuk chat dari Aufa. Lapo dee aku yo lali. Langsung deh ue minta invite-in grup crylix. Dan kemudian minta tolong conga dan atul dan bila dan teman-teman baik hati lain untuk menginvite ke beberapa grup yang notifnya muncul, tapi bunyinya 'Empty Room'. Dan gabisa ngechat di situ. Tapi notifnya dan chatnya masuk. Berasa akun bayangan. Oke.

Beberapa hari kemudian, kubuka line yang versi pc. Dan itu grupnya masih ada lengkap friendsnya juga. Lah ini aneh bats. Tapi yaudah, kutida kepikiran apa-apa dudulz kan. Cuman pas itu mikirnya 'wah kalo gini bisa satu-satu ngekick diri sendiri trus minta invitin' soalnya kalo ga di kick dulu gaisa. Kondisinya masi gabung grup tapi ga ketok di hp.

Seiring berjalannya waktu, hadirlah Pokemon GO. Alhasil, w yang pas kecil suka nontonin cd pokemon episode 1 dan 11 (mungkin dikira angka dua romawi, tapi asli ceritanya ganyambung blaz beda 10 episode jadi sedi) dan suka mainin pokemon versi apaan gatau yang di hp pokoknya tentu amat bersemangat dong untuk mendownload that game illegally (di indo belum legal). Namun, cobaan pun menghadang, yaitu software android hp q masi di bawah standar. Kudu upgrade biar minimal Kitkat. Sebenernya uda dari lama dia ngasi notif suruh update softwarenya cuman q males aja soalnya mesti gacukup, kepenuen memori, jadi dia gaisa update. Tapi kemarin akhirnya kurelakan menghapus beragam aplikasi gapenting yang kupenting-pentingin hanya tuk dapat upgrade.

Singkat cerita, dah berhasil jadi trainer. Dengan pokemon pertama si charmander. Udah kan. Tapi karena doi loadingnya lama (kan, si anak gasabaran banget) mungkin karena gapake wifi, dan males banget batre tekor, akhirnya q ga mainin lagi. Mengendaplah dia selama beberapa jam dalam folder games. Malemnya, di rumah, pas mainan Piano Tiles 2 dia tiba-tiba kayak nyandet gitu di tengah lagu, Slowing down without any kejelasan. Analisis cepat, kukira gara-gara si Pokemon GO. Karena ku telah lebih lama bersanding dengan si Piano Tiles 2 dan ia tlah menemaniku di kala sedih maupun senang, q rela-rela aja menghapus Pokemon GO-nya. Dah. Slese. Deleted. E LAKOK sama aja Piano Tiles 2 nya. Tetep nyandet.

Awalnya ue biarin aja, soalnya nyandetnya cukup menguntungkan. Saya jadi banyak lagu yang khatam dapet crown tiga. Tapi lama-lama kok malesin amit. Ga smooth mainnya, lagunya juga so weird. Nah, selain itu, timbul keanehan yang lain juga. Yaitu, setiap restart line saya gamau muncul. Dia tiba-tiba ilang dan, entahlah, kutakperna temukan kejanggalan seperti ini sebelumnya. Kembali analisis cepat (yang telah menyesatkan sebelumnya), kayaknya gara-gara habis upgrade software deh, batin q. Ditambah dengan embel-embel opini embak yang menyuarakan hal yang sama. So, saya, dengan perasaan ingin-ndang-selesai yang biasa, memindahkan beberapa file dari device storage ke si biru, dan mereset hp ue.

Me-reset lho ya, bukan me-restart. Yauda, kembali dari awal. Seperti dari jaman gua. Gua hira. Nah, sampe di situ saya lebih sabar me-log in ulang akun-akun yang ikut ke-log out, dan reinstall aplikasi-aplikasi yang juga ke uninstall. Karena semua apps gaada, cuman yang bawaan pabrik aja.

Iya, kamu benar. Tentu aja aku juga reinstall line. Kali ini juga failed loadingnya. Tapi ku sabar dan tabah (toh kuota masih mayan banyak) dan ku retry. Lalu kutinggal dia nggeletak di samping kaki agar nggak gatel buat ngutek-utek.

E AKHIRNYA DIA BISA. E GRUP NYA BALIK SEMUA LENGKAP. FRIENDSNYA JUGA. EHE. alhamdulillah.

Yauda, saya merasa bangga gitu bisa menarik hikmahnya. Bahwa, jangan pernah menyepelekan proses. Q ulangi ya, jangan pernah menyepelekan proses. Sekali lagi? Nggak usah, bosen tar. Proses itu sepenting itu gaes, jadi jangan di-skip. Jangan. Kudu sabar. Berlaku pada apapun. Hidup adalah berproses. Menjadi dewasa butuh proses. Ga instan. Jadi, jangan pernah menyepelekan proses. Oke. Keren banget yak coba bisa dibuat filosofi. Uw.

Lha, terus Piano Tiles 2 nya? Masih nyandet, Dan ternyata chikem mengalami hal serupa. Mungkin Allah menskenariokan sedemikian rupa agar saya belajar arti dari proses. Tsah. Mantap. Subhanallah.

Oke, segitu aja. Dah kayak diary ajaye. Gapapa, Menulis itu jangan monoton, nti males sendiri bacanya.

Dah, nite cinta.