Posts

Showing posts from 2016

I Have A Dream

Menjawab pertanyaanmu itu susah. Tapi aku tidak harus selalu benar. Ini bukan ujian, katamu. Jadi aku hanya meluncur saja dengan jawaban, kalau mikir nanti kamu kemalaman.
Waktu aku bangun keesokan harinya, aku bersyukur. Matahari masih ada, Tuhan masih bercerita. Cerita apa lagi yang akan terjadi hari ini ya, aku bertanya. Aku pikir aku nggak akan bisa tidur malam sebelumnya. Itu tadi cuma mimpi, atau semuanya nyata?
Meski aku menangkup kedua tanganku rapat-rapat, atau menengadahkannya tinggi-tinggi, menguncinya di sela-sela jari, sembari memejamkan kedua mataku seperti mau mati, aku tau kamu tetap nggak akan tiba. Kamu kan bukan cenayang.
Tapi, kita memang nggak diciptakan untuk selalu bersama, kok. Padahal inginnya sih begitu. Aku di sini dan kamu di sana. Kamu tetap milik emakmu, bapakmu, abangmu, mbakmu, opungmu, empingmu, keponakanmu, emping saja ingin memilikimu. Sayang kamu nggak doyan makan.
Hai, ini episode ke berapa, ya? Kok aku baru mengerti.
Terima kasih ya kawan-kawan, s…

Champion's Champagne

bismillah.
pemakluman hanya sebagai hadiah.
nggak ada hadiah sebelum tenaga terkuras.
nggak ada tenaga terkuras sebelum usaha keras.
cerdas.
say goodbye to those little sparks before the fire.
let the flame begin.

Surabaya, I'm in Love

Kalau dia sudah merajuk, sinar matahari terik ala pesisir udah nggak kelihatan lagi. Yang ada cuma mendung rasa pantai, dekat laut. Gedungnya tinggi-tinggi. Tengah malam masih ramai, dari kerlap kerlip pusat perbelanjaan yang lagi midnight sale, sekelompok begal yang kabarnya mangkal di merr, sampai lampu ruang tamu rumah anak ITS yang meski hari berganti kerjaan bukan kelar malah nambah.
Iya, Surabaya, I'm in Love.
Ini kali kedua aku pulang, dan kayaknya obat rindu nggak senyata lovastatin atau parasetamol. Tetap sendirian, tapi sendiri yang berkualitas. Karena bahkan kayaknya tembok lagi bicara sama aku, kangen gitu katanya. Ada entertainment news di NET dan TV itu nyala nggak terlalu sia-sia. Kayaknya gundukan baju kering belum diseterika ini juga rindu aku bergelung di dalamnya.
Hahaha, mengada-ada. Tetap sendirian tapi sendiri yang berkualitas. Nggak serapuh ketika aku harus percaya bahwa ada orang di luar sana yang pasti memahamiku cuman masih disimpan Tuhan. Di sini, aku t…

Semoga Dia Baca

"Iya, halo." "Kamu ada waktu? Bisa bicara sebentar?" Waktu itu matahari nggak kelihatan karena hujan. Jalan raya depan halte tempatku menunggu banjir sedikit. Di situ cuma ada aku dan hujan yang nggak berhenti-berhenti. Aku nggak lagi menunggu bus, aku cuma sedang berbicara di telepon sama dia.
Akhir-akhir ini, semua jadi rumit. Bodohnya aku yang masih membuka halamanmu padahal kita sudah nggak saling bicara, kawan. Ini bukan kisah cinta anak SMA, tapi nggak ada bedanya. Tiba-tiba aku ingin makan tempe.
"Sekarang, coba kamu jujur sama dirimu sendiri. Bener nggak apa yang kamu rasain kayak gitu? Bukan karena dia orannya keren jadi kamu mengada-ada?" kata Cherry waktu aku cerita sama dia. Aku harus bersyukur karena punya Cherry yang mau mendengarkan aku padahal dia juga punya masalahnya sendiri. Mungkin aku harus bersyukur karena orang tuaku beli rumah di sebelah rumah Cherry waktu kita masih kecil, jadi kita udah temenan sejak kecil dan nggak ada yang per…

xidneppa

Terlepas dari itu semua, aku nggak pernah menganggap ini sia-sia.
Banyak hal yang, bukannya nggak bisa diungkapkan, tapi aku nggak tau gimana cara ngungkapinnya. Tentang sesuatu yang sangat kuat sehingga bisa membuat kakiku mau turun dari lantai tiga gedung fakultas hukum hanya dengan bergantung pada seutas tali yang nggak boleh diinjek. Lalu, mau-maunya juga kami berjogging ria mengitari kampus hutanku yang naik turun tiada tara. Pak satpam gedung A sering kami sapa di pagi hari yang masih buta, sekitar pukul empat lebih lima puluh waktu matahari malu-malu ngintip di sela-sela gedung PD 8 lantai. Setelah praktikum atau kuliah, kami pulang larut, masih dijejali materi di RK yang super dingin. Kami menyimpul tali di jas hujan untuk membuat pelindung, mempelajari gigitan ular yang berbisa dan tidak. Bahkan kami belajar memasang triase, meski praktiknya masih salah karena kami terlalu terpaku pada sakitnya bukan kondisi keseluruhan yang harus diobservasi. Menyusun kayu-kayu biar jadi ke…

Dulu dan Sekarang

Jangan mengocok botol tupperware tertutup berisi air panas karena tutupnya bisa mencelat dengan bunyi pop yang menyiprat ke seluruh ruangan, termasuk wajahmu yang lelah. Cuma intermezzo.
Saya pernah berdebat mengenai penggunaan tabung bekas rol film sebegai wadah korek api. Iya, fungsinya sebagai pelindung. Tapi, kenapa harus tabung bekas rol film? Mencarinya di mana saja saya nggak tau.
Packing kedap air juga jadi salah satu hal yang membuat saya tercengang. Kalau dulu mas aldo nggak mem-briefing kami di parkiran utara, mungkin pakaian saya sudah basah kuyup waktu mbak mas siram-siram cantik.
Pun ketika demonstrasi penggunaan carrier, mas zaka juga mengkritik botol minum 1,5L yang tergantung tak berdaya di kantong kecil samping yang rawan jatuh. Menggantung barang memang tidak diperbolehkan, masukkan saja semua di dalam. Kalau tiba-tiba minumnya jatuh, kamu mau minum apa, dek?
Saya kayak berjalan untuk kedua kalinya di tikungan yang sama. Nggak saya sangka bahwa ternyata itu semua, b…

Random Thought

Setelah sekian debit larutan downy yang mengalir, sarapan-sarapan yang terloncati, dan waktu-waktu hectic di bumi bagian persiapan responsi blok tiga, tau-tau sudah November saja. Lalu muncul pertanyaan yang nyaris berbisik di telinga, kamu mau jadi apa?
Kabar baiknya adalah, ia masih memberimu kesempatan berdemokrasi. Bahwa kamu masih bisa memilih. Pernah suatu waktu aku berdiskusi mengenai betapa bosannya mas-mas yang jaga tempat fotokopian, tentang bagaimana mereka membalik halaman-halaman yang tebal lalu memencet tombol yang sama untuk menghasilkan kopi, apalagi ketika mengkopi hal yang telah dikopi sebelumnya. Berulang terus. Seakan aku lupa bahwa bukan berarti pilihan selalu tersedia bagi setiap orang di muka bumi.
Ibu Kepala Puskesmas tempatku berkoordinasi dua minggu lalu sempat bertanya pada kami, mungkinkah ada salah satu dari kami yang berangan menjalani profesi yang sama. "Ah, kalau masih baru gini pasti mikirnya ambil spesialis. Coba nanti kalo udah semester akhir, …

Healing Incantation

Image
Jadi ceritanya, aku sudah berusaha menceritakan sesuatu di sini sejak dua hari yang lalu. Namun, tidak ada cerita yang keluar. Kemudian aku mencoba mencari masalahnya di mana. Mungkin karena aku jadi jarang sekali menulis akhir-kahir ini, kurang membaca selain data-data jurnal ebm dan obrolan ngalor ngidul di jendela percakapan sosial media, dan juga ada faktor lainnya seperti memang tidak ada yang perlu diceritakan. Sampai di titik ini, indikator itu masih rancu. Perlu diceritakan atau tidak itu realtif. Dan sepertinya, aku memilih untuk tidak menceritakan banyak hal.
Kurasa, masalahnya di sini adalah aku kurang fokus. Apa yang mau kulakukan setelah ini? Aku tidak tahu. Aku sudah punya rencana untuk belajar, membuka buku, menelaah soal, menjadi gadis pemberani yang ambisius dalam prestasi akademiknya. Tapi itu semua hanya angan-angan kosong. Karena tidak ada yang terlaksana. Aku terdistraksi ini dan itu, lalu ingin mencoba hal ini dan hal itu, kurasa aku cenderung mencari suatu hal …

Pin Smala Nggak Dibawa Mati

"Kebanggaan itu ada di sini, dek. Bukan di jas almamater!" kata salah satu mbak yang berjalan agak jauh di sana, sambil menunjuk ke bagian yang saya yakini sebagai tempatnya jantung.
Kejadiannya baru tadi. Cukup membuat saya penasaran kelanjutannya akan jadi bagaimana. Jujur, saya salut. Namun kemudian, saya jadi bertanya-tanya. Saya ini berkaca-kaca karena haru, atau karena rindu?
Kabarnya sekarang di sana sedang masa regenerasi. Saya cuma bisa kirim doa, semoga amanah tidak salah memilih tuannya. Tsah. Kalimat yang sampai sekarang saya juga masih nggak ngerti maksudnya gimana. Semakin dipikir, semakin kebijaksanaan itu nggak muncul. Yang saya yakini, cuma, betapa kesempatan maupun pintu-pintu yang tertutup itu adalah nggak pernah sebuah kebetulan.
Saya sadar apa yang saya lakukan tidak sepenuhnya benar. Niat yang saya yakini sebagai suara dari hati, ternyata juga semudah itu goyah. Di tengah perjalanan, saya mulai mempertanyakan apa yang telah saya pikirkan dulu, hingga t…

Jangan Sombong, Mari Meminta

Hari yang berat, ya?
Saya rasa saya akan baik-baik saja hari ini, menikmati makan pagi yang cukup variatif meski kurang bergizi, dan bersiap awal sekali dengan hati cukup riang. Sampai kemudian tiba-tiba saya berbelok terlalu mepet, lalu sukses, lebam.
Masih segar di ingatan saya setelahnya saya hanya menghela napas, meminta ampun pada Tuhan, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di kampus-hutan, saya membuka telepon genggam lalu menelpon mama. Saya nggak kepingin nangis, tapi mengalir sendiri. Dasar gembeng. Iya, saya sakit hati si ganteng beset-beset bahkan penyok parah.. Saya merasa bodoh sekali, gitu saja nggak bisa. Tapi, entah dapat angin dari mana, saya tiba-tiba siap untuk ikhlas. Lalu teringat kisah Nabi Khidr melubangi perahu seorang nelayan yang dilewatinya. Pasti ada maksudnya.
Hari berlangsung biasa-biasa saja, bahkan saya cukup optimis dalam menghadapi jarkom mendadak yang meminta untuk membawa papan dada. Saya langsung berteriak syukur dalam hati karena seak…

Bila Tuhanku adalah Tuhan Yang Mahapengasih, mengapa Dia tega memerintahkan pendahuluku membunuh anaknya sendiri?

Ibrahim adalah seorang bapak yang lama tak dikaruniai anak. Ia pun berdoa memohonkan hal yang selama ini dirindukannya itu. Allah hanya butuh sekedipan mata untuk kabulkan pintanya, memberinya anak yang kuat lagi tampan, patuh lagi cerdas. Ismail namanya.
Bila kemudian aku mendapat hadiah yang amat kuinginkan dan kubutuhkan, dan telah lama dijanjikan ibuku, namun keesokan harinya ibuku memintanya kembali, sanggupkah aku memenuhi permintaannya untuk menyerahkan kembali apa yang telah kumiliki?
Ketika Ibrahim menyampaikan mimpi dari Allah itu, Ismail tak sekerling pun membencinya. Ia tak lari ke gunung, tak sembunyi di hutan-hutan gelap untuk menghindari rencana tak masuk akal itu. Ismail mencintai ayahnya, Ayah satu-satunya, yang ingin membunuhnya. Manakah yang lebih menyakitkan, kematiannya, atau perpisahannya kelak?
Ibrahim tak mungkin sanggup menggores bahkan sebatang lidipun pada leher anaknya! Bukan ini yang diinginkannya, menghabisi darah dagingnya sendiri demi perintah Tuhan yang…

Instrumentalia

Melihat lorong dan atap-atapnya yang menyirip miring. Menyapu peluh dari angin yang sepoi lalu sepi. Ketika suara-suara kemudian memanggil di kejauhan, Ia merasa dekat. Berbekal satu tarikan napas Ia lari. Tidak kembali.
Hangat mengepul dari cangkir seduhan kopi sore hari. Senja jatuh tak lama berselang, tinggal dingin dan bisikan memicu detak kehidupan. Tiba-tiba bunyi hujan. Mengurai kusut di pelupuk yang tinggal separuh bulan. Gelegak sisipan bumi membentur air bertetesan. Tinggal Ia dan suaranya yang tersendat, kebuntuan. Tak bertampung.
Ia belajar bahwa hati yang meminta hanya punya tiga pilihan : untuk segera terkabul, akan terkabul kemudian, atau dikabulkan dengan sesuatu yang lebih baik.
Seketika Ia hanya punya satu suara, pun disuarakan.
Harus bisa.

Pelestarian Budaya

Katanya, bonek dan aremania tak bisa bersatu.
Nyatanya, saya paling senang kalo sudah ketemu orang malang. Dan sidoarjo, gresik, mojokerto, sekitarnya lah.
Bahkan yang cuma sekadar numpang lahir di jatim saja saya sudah merasakan getar-getar keterikatan.
"Ngh kon,"
Awalnya saya sadar saya ngerem ngomong ala-ala. Kata teman-teman juga saya ga medhok suroboyo amat. Emang jowoan juga baru sma sih, kalo kata alivia gapantes ue ngomong njawa. Kagok.
Namun ternyata, semakin ke sini, semakin rek maupun kon meluncur begitu saja. Mungkin juga karna saya dalam keadaan mulai nyaman, jadi, ya, gitu. Hm.
Sedihnya, saya suka napuk mulut sendiri habis ngomong. Habisnya, atmosfernya jadi aneh. Mungkin, telinga teman-teman agak gatal, merambat ke hati yang agak luka juga mendengarnya. Jadi sungkan. Huhu.
Kemudian ada Sadam, yang sekos sama Zico. Kami belum saling mengisi buku angkatan. Bila bertemu, Ia berusaha berbicara kon, dengan ke-lampung-lampung-an. Saya jadi terharu. Rasanya seperti …

Red Thread

Yakinlah neng, bahwa apa yang kamu lakukan tidak akan sia-sia.
Karena emosi yang kamu rasakan sekarang adalah bentuk pendisiplinan dirimu, wujud pengorbanan mimpi-mimpimu. Saya tahu, neng, bisikan syaiton berkali-kali berdenging di telingamu, meneriakkan yang katanya keadilan dan hati nurani kepadamu. Tapi sungguh, neng, kamu tahu. Itu cuma iming-iming di dunia yang sementara itu.
Yakinlah neng, ini yang terbaik untuk kalian. Yakin, bahwa pelaut handal tidak akan lahir dari perairan yang tenang. Dan bahwa di jalan setapak yang sudah terlampau terjal ini, bukan rasa aman dan nyaman seperti itu yang kamu butuhkan, melainkan suatu yang menyelimuti dirimu dalam balutan cahaya-Nya Yang Mahakuasa.
Dan, ketika hatimu yang terbelenggu meraung candu memanggil nama yang telah akrab itu, ingatlah, garis ini tak akan pernah putus ketika kamu mau dan mampu memperjuangkan keindahannya.
Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita.

Motivasi Sesuap Nasi

"kasian perutnya meraung-raung lo nanti ditagih di akhirat 'dulu aku didzolimi tak diberi makanan' 'padahal badan bukan miliknya' hayoloooo"
------------------------------------------------------------------------
"Mangkannya harus makan biar bisa bekerja memberi makan pak parkir"
-------------------------------------------------------------------------
hemat boleh, mager jangan.

Atas Izin Allah, Jemuranmu Pasti Kering

Pernahkah kamu terlanjur mencemplungkan baju kotormu di ember dan menyiramnya dengan air, lalu ketir-ketir, akankah nutut untuk menjemur hingga kering esok pagi?
Akhir-akhir ini, saya sering mengalami hal-hal gila yang membuat hati saya kurang tenang. Ketika tanjakan di depan nh lalu mundur, bertemu guru-guru besar yang bernapas dan yang enggak, hingga membeli nasi di warung prasmanan yang saya nggaktau cara ngambilnya gimana. Sepele, namun kebayang-bayang sampai lama. Sampai saya bertanya-tanya apakah mimpi ini se-worth it itu untuk dilakoni.
Problematika kehidupan yang semakin nyata ini membuat kadar keidgafan saya mencapai titik di atas rata-rata. Kadang, ketika memejamkan mata di malam hari, saya masih bisa mencium aroma pengawet yang seharusnya sudah tak lagi melekat di rongga hidung saya. Di kamar mandi, saat membasuh polusi di wajah dengan sabun wangi, kumpulan dosa saya seharian seakan diproyeksikan kembali oleh pikiran ini. Tapi, nggak mungkin kan, saat itu juga saya muncul …

Guyonan Sarkas

Agaknya saya merasa kesulitan melontarkan guyonan sarkas di sini. Padahal, sebagian besar waktu saya di perguruan menengah atas dulu saya gunakan untuk memperdalam ilmu sarkas. Entah faktor budaya tutur kata lembut yang mengakar, atau cuma sebatas karena belum kenal dekat, saya jadi merasa sangat jahat kalau sarkas di sini. Iya, saya kayak sedih gitu tapi ga sedih-sedih banget juga sih. Hz.
Selain itu, saya nggak punya potongan kuku. Kalau beli mahal. Budget anak kos abal. Saya jadi teringat jalan dekat rumah saya yang namanya sama seperti nama ketua bmkkp dibalik asterion kemarin, yang isinya warung-warung murah dan ayam goreng hisana yang luar biasa nendang. Masio gitu, nasi jamur dan pentol gila di sana tetap mahal. Meski ada pentol buto yang gila tapi kw. Ini ngomong apa saya agak menerka-nerka. Tampaknya lavar.
Kalau sudah mapan nanti, saya mau mendirikan rumah kos ah. Dua, yang khusus cewek dan khusus cowok. Ada pembinaan spiritualnya biar keren. Bersih, nyaman, harga terjangka…

Do you believe in magic?

"Biasanya kalo speechless gini banyak yg dipendem," katanya.
After all these hectic days, saya bukan memilih untuk nggak bercerita.
Saya nggak tau mau ceritanya gimana.

LPJ Surakarta 1st-3rd

Jadi, ini hari ketiga saya nangkring di Solo. Mau saya ceritain nggak? Mau aja ya. Saya usahakan ini singkat. Gadibaca juga gaapasi.
Rabu, 10 Agustus 2016
6.55, Gubeng.  Sancaka Pagi, 7.30. Habis foto-foto, salim, berangkat. Duduk di belakang turis asing beraksen British. Membaca dan tidur. Makan regal.
11.55, Solobalapan. Bersama tante Lastri dan omnya sholat di kantor BPN. Kemudian makan sepotong ayam kampung lengkap dengan cekernya. Rasa bintang lima, harga kaki lima. Bukan D'Cost.
Sekitar jam satu, Graha Annisa. Sepi-sepi aja. Salam, masuk. Ketemu Kartika di tangga, baru ketemu udah langsung pinjem pel. Dipinjemin seembernya sama super pel. Beli lap di Toko Herman. Balik kos. Lupa sikat. Mbak ngepel, saya melancong. Mendaki ke indomaret.
13.10, Indomaret Cuma empat menit tapi ngos-ngosan. JJS. Beli sikat dan onigiri, dan benda-benda lain. Lama milihnya. Nyampe kasir. Gabisa bayar. Gabawa uang. Nitip belanjaan ke masnya. Turun gunung ke kos.
13.30, Graha Annisa. Lari. Kalo jala…

Thankful Days

Image
lebih sakit mana, ditinggal temen rantau atau ninggal temen buat rantau?

Kata Pengantar Redaksi?

Halo gaes, assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.
Di sini ada saya yang tiba-tiba suasana hatinya bagus banget. Rasanya dunia jadi penuh motivasi. Saya akan melakukan ini dan itu! Hati terasa lapang. Senyum tak henti-henti. Ga juga se. Walay.
Hari ini kirain saya bakal ke Colombo. Ternyata, tadi pagi udaranya terlampau nyaman untuk bangkit dari gumpalan selimut favorit saya. Mbak lagi marathon Pokemon (yang dulu pas kecil saya cuma nonton CD 1 dan 11 seperti telah disebut di sini), didownload dari internet. Saya ikut nonton lalu jatuh tertidur. Bangun-bangun sudah siang, memasak telur tuna untuk sarapan, lalu ndlosar-ndlosor cantik, melarang diri saya memikirkan apa pun yang berkaitan dengan rame-rame di grup chat maupun barang-barang yang belum ter-packing, shantae. Saya memang berencana menghabiskan jatah leyeh-leyeh saya, sebanyak yang saya bisa, di sini. Amat bahagia. Terimakasih ya Allah.
Kemudian agak siangan telpon Bila yang hidup di tanah rantau. Bercerita-cerita agak ter…

Jembatan Ampera

Sebelas tahun yang lalu, kami berpisah di jembatan ini. Sebelas meter jauhnya di atas permukaan Sungai Musi. Ia ke Seberang Ulu, aku ke Seberang Ilir. Tak banyak kata yang terdengar waktu itu. Ia hanya bilang, aku perlu menjaga diri. Aku ingin berteriak, "Kamu ini cenayang atau apa?" Tapi urung. Aku kembali menekuni kombinasi rajutan kristik di genggamanku. Dia yang memberikannya ketika kami saling mengangguk, paham sudah saatnya merelakan jarak menyusup masuk. Benangnya membentuk setangkai mawar, warnanya putih. Aku heran tak setitik pun air mataku yang jatuh. Adakah hati juga telah direnggut pergi dari jiwaku? Tepat ketika itu, dering menghampiri telepon genggamku. Ia yang berbicara di ujung lain. Suaranya serak diterpa angin, lirih ditimpa hujan. Bila sebelas detik tak berlalu, aku yakin aku tak mengenalinya. Karena bukan hanya suaranya saja yang ubah. Ia tak bertanya kabar, pun memberi. Kami hanya saling diam di balik masing-masing kesadaran diri. Menutup gagang bukan k…

Unresponsive BrainApps

Saya lagi butek sama aplikasi chatting di hp. Juga butek sama diri saya yang kayak membutuhkan afirmasi berlebih atas kehadiran diri di muka bumi. Kadang ada momen di mana saya cuma termangu di tempat, niatnya memanggil memori yang menggambarkan diri saya ini orang yang kayak gimana waktu berada di tengah-tengah masyarakat. Iya, saya kayak kehilangan jati diri. Siapa sih sanifa sebenarnya, gitu. Saya jadi ingat teman saya yang sukanya tes kepribadian berkali-kali dengan hasil yang berbeda-beda. Entahlah.
Di tengah krisis jati diri yang melanda saya secara tiba-tiba, iseng saya mencari inspirasi lalu buka youtube. Saya memang suka nontonin channel tim2one, aulion, maupun mbak nessy judge because why not. Lalu, saya terdampar di salah satu channel yang mayan hits. Iya, punya mbak mbak yang banyak dikepoin orang beberapa waktu lalu. Beliau, mbak-mbak instagram yang mengundang kontroversi masyarakat tentang gaya hidup dan kisah asmaranya. Jaman sekarang, mudah saja bagi "kekepoan ma…

Ar-Rozzaaq

Bagaimana jika kecantikannya, ketampanannya, kelembutannya, kepopularitasannya, kesuksesannya di usia muda, kepintarannya, prestasinya, karya-karyanya, keindahan suaranya,
adalah Ia yang menunjukkan kebesaran-Nya?
--------------------------------------------------------------
Bila rezeki telah ditentukan sebelumnya, bukankah kita tak perlu iri pada rezeki orang lain, dan berlomba-lomba meraih rezeki yang memang diperuntukkan untuk diri sendiri? Namun, mengapa manusia seringkali takjub pada rezeki orang lain, seringkali iri pada kesuksesan orang lain? Adakah pemberitaan itu ialah motivasi, atau malah merupakan refleksi hati, bahwa bagi Allah, memberi rezeki pada makhluk-Nya hanya urusan seujung jari?

[05] Friday

Image
Alhamdulillah it's Friday!


Saya bangun dan masih ingat mimpi saya aneh banget. Jadi saya mimpi sholat jamaah tapi telat, nah saya harusnya ke sekolah pake sepatu tapi malah pake sendal. Habis itu pas sholat ada anak bawain tempe penyet ada sambelnya. Moro-moro saya di kosan dan kos-nya gaisa dikunci. Wes ngonolah geje. Saya rasanya udah ga di bumi aja gitu, melayang-layang plus panas dingin gegara virus. Virus influenza. Tapi kata embak sih saya dah ga kerasa panas. Tetep aja rasanya ingin di rumah aja, gulung-gulung, dingin. Namun, pilihan saya untuk berpetualang ternyata merubah segalanya.
Saya buka hp bacain chat. Tiba-tiba ada chat masuk. Dari Reza. Begini.


Emang Reza mah orangnya begitu. Tapi habis itu dia dateng beneran sih ahaha. Yauda, trus jam 7.45 dia bilang mo jemput dari rumahnya daerah semolo. Q baru bangun padal, langsung mandi dan siap-siap ekstra kilat. Sebelum doi dateng w dah siap. Yauda cus.
"Enaknya beli kok apa nggak?" ucap Reza sebelum kami berangka…

[04] Thursday

Image
Hehehehehehehehe.
Sudah daritadi mau menulis, gatau mau nulis apa. Hari ini vidcall dengan Bila, tadi dia sama Fitra dan Fadhil juga. Masalahnya, sinyale auwelek jadi gueje ora kelihatan mukanya. Mana suaranya telat gitu jadi mereka mulutnya gerak, suaranya baru nyampe beberapa waktu kemudian. Ahahah. Bila homesick. Ue sick, at home.
Gimana ya nanti aku kalo homesick. Vidcall siapa ya.
Sepanjang perjalanan pulang dari makan grilled things di daerah sono, mama tak henti-hentinya merapal wejangan. Gue kudu makan, kudu makan, kudu makan, banyak semua-mua pokoknya. Ups, baru sadar barusan nulis "gue". Itu semua gara-gara culture shock via grup line. Alah, ngomong masih kan kon aja sok sok lu gue. Basi.
Saya sungguh ingin yang terbaik buat teman-teman saya. Jalan-Nya sungguh nggak terkira, kan? Kayaknya baru kemarin kita grusa-grusu mau unas, tiap hari belajar ini itu eles-eles sampek walah subhanallah lah. Tiba-tiba kita udah di sini. Klasik sih, cuman ternyata pas ngerasain se…

[03] Wednesday

Image
Saya sudah leren di kasur, bangun lagi soalnya baru ingat belum menulis.
Hari ini mbak saya pelantikan di kampusnya. Karena ada teman-temannya yang rias bareng di rumah, akhirnya mbak-mbak riasnya datang jam empat setengah limaan lah. Ya jelas saya bangun pagi. Trus langsung mandi. Trus tidur lagi. Mengantuk.
Di tempat kejadian, saya ketemu Fio dan Ko Victor. Fio mengantar mbaknya yang seangkatan dengan mbak saya, Ko Vic....makan. Kayaknya beliau habis menyanyi. Makanannya mayan enak. Alhamdulillah. Saya senang.
Kemudian kami berfoto di suatu studio foto yang mahil. Menurut saya. Iya. Saya harus berhemay. Hemay sama dengan hemat say. Alah. Typo aja ngeles. Sudah cekrik cekrik. Pulang.

Mama jadi suka marah-marahin saya, mungkin karena saya mau pergi. Abi dan Mama Bila juga melakukan hal yang sama, tapi dia dah di depok sih sekarang. Saya jadi bingung sendiri. Tapi saya males mikir karena pusing. Pusing kena flu. Asyik. Sehat sehat. Allahumma aafiniifi badani, allahumma aafiniifi sam&#…

[02] Tuesday

Image
Saya lagi di dalam mobil. Gapenting.
Tadi pagi sekitar pukul 7an, q muncul di grup. Salah satu grup yang kata aufa "grup maba". Elah sok. Di sana q bertanya suatu hal. Yauda, trus ada yang jawab. Tapi, manggilnya Fin.
Kemarin juga, pas ke rumah temen. Ketemu mamanya, terus ditanyain nama. Entahlah q suka tiba-tiba blank kalo ditanya nama. Jawab apanih??? Gitu. Yauda, refleks sukanya jawab Sanifa. Pas dulu nelpon rumah temen yang lain juga gitu. Yang jawab mamanya juga. Ya, jawabnya, Sanifa. Gasuka jawab Ifa. Ifa kayak spesial gitu. Eksklusif. Orang-orang tertentu aja yang boleh manggil Fa. Gitu maunya. Makanya sekarang kalo di form nulis nama panggilan juga Sanifa. Ekspektasinya biar dipanggil San. E, kepanjangan. Tiba-tiba udah ganti aja gitu jadi Safina. Sarina? Sanafi. Sembarang.


Susah ta nama Sanifa. Jadi penasaran.

[01] Monday

Image
Halo, selamat pagi. Singkat saja, saya lagi di sini

Perut saya melilit. Kayaknya kebanyakan makan kemarin. Tapi, ya, gimana. Terus saya ingat dulu, malam mpdk, saya galau banget. Akhirnya paginya kita (saya dan aliv) lari di koni. Lari dari kenyataan. Lari ipik-ipik. Gabisa lari tapi pingin lari. Menyatu dengan alam. Gitu deh.
Tapi, sekarang, saya nggak lagi lari dari kenyataan. Bahkan saya nggak lari. Saya cuma duduk nunggu orang. Bukan siapa-siapa, kok. Jangan sedih, fans. Fansnya dia maksudnya. Banyak amit kayak biji jagung. Bisa dihajar.
"Kamu kurang olahraga gitu," kata banyak orang. Saya sih mau mau aja olahraga, tapi males. Jadi mau apa males sih sebenernya. Anaknya suka mengalir gitu. Lari ya lari, enggak ya enggak. Padahal, exercise lebih baik regularly. Iya sembaranglah. Saya mah dgaf.
Intinya, ini saya lagi membunuh waktu. Nggak, bukan dibunuh. Memanfaatkan. Saya gapunya tenaga buat lari. Doakan Allah mengaruniakan kesehatan bagi saya, ya. Bagi kita semua deh.
Bt…

Bye Bunga

Ramadhan kemarin, Bunga bercita-cita untuk hijrah.
Ternyata, Bunga hijrah beneran.
Banyak yang harus dia korbankan demi memenuhi cita-citanya (yang sebenarnya, waktu bilang pingin 'hijrah', dia nggak pernah kepikiran untuk benar-benar 'pergi'). Mulai dari segi ekonomi, transportasi, kehidupan sosial, dan lain-lain. Nggak sia-sia Bunga ditinggal empat hari ngurus urip sendiri waktu itu. Atau, itukah pertanda...?
Bunga sering tiba-tiba kepikiran dalam hati, dia benar-benar ingin berpetualang. Titik. Sebatas cuma ingin berpetualang.
Di sisi lain, Bunga juga tahu dia kepingin melanjutkan studi di bidang itu. Meski artinya waktunya buat menuntut ilmu di universitas nanti bakal jauh lebih lama dibanding temen-temen seangkatannya yang lain. Kayaknya sih, gitu. Terus, metualangnya kapan.
Ternyata, Bunga dikasih Allah dua-duanya.
Bunga tahu petualangannya yang ini bakal lebih ekstrem, karena ini adalah real life, dude. Jadi dia ga bisa asal sembarang cemiha cemihi ala petualan…

Nyekip Proses

[PERINGATAN] Sebelumnya, cerita ini agak panjang dengan banyak istilah asing yang penulisannya tidak sesuai eyd, dan mungkin tidak terlalu penting meski pesan moralnya amat penting, jadi bila mata Anda lelah langsung scroll saja karena hidup adalah perjuangan dan tak ada unsur pemaksaan dalam hal ini ok thx lov.

-----------------------------------------------------------------------------------------
Jadi ceritanya, beberapa bulan yang lalu waktu jaman-jaman mau sbmptn, hpku lemot. Akhirnya line-nya ku uninstall dan install ulang. Nah itu dalam keadaan udah siap-siap udah nge-backup-in data yang penting-penting kan. Setelah yakin aman, baru deh. Habis itu di reinstall. Itu udah malem banget kayaknya mau tengah malem gitu. Heran juga dasar surabaya gaada jam malemnya.
Udah selesai reinstall, kudu login lagi kan. Nah habis login itu ada kayak semacam loading datanya skala 100%. Berhubung udah malem dan emang anaknya gasabaran, akhirnya loading asal-asalan. Nah, terus, loadingnya failed. …