Tidur tidur!

karena ini jam 2 pagi dan aku tidak bisa bisanya merem. berharapnya sih terjaga di mimpi orang, seperti kata mitos. tapi mungkin hanya karena tidur seharian dan terlalu banyak memalsukan waktu tidurku seminggu terakhir yang seharusnya bisa lebih "pagi" jadi sore-sore demi kebugaran jasmani. lalu dengan headphone di kepala mengacak lagu sampai akhirnya jatuh ke piano guys. judulnya story of my life. iya, lagunya 1d. bagus ya, apalagi versi piano guys. lalu aku seperti, whoa, aku ingin bercerita. rasanya seperti sudah sejauh ini, dan semakin lama semakin banyak hal yang seperti tertahan. tertutup topeng. seperti aku menulis untuk kepentingan orang lain. yang sebenarnya iya juga sih, tapi jadi, ini aku ta? mungkin memang seharusnya seperti itu kan. yang seperti khalayak inginkan. wus, khalayak jare. tapi, entahlah. kadang menjadi seseorang berarti mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri. seperti, misal, kamu ingin makan donat tapi temanmu juga ingin makan donat. ya sudah. beli dua. kalau donatnya cuma satu? yaa, bagaimana. entahlah. berbagi? harusnya mengalah atau bagaimana ya? hmm, bagaimana kalau donatnya rasa yang temanmu sangat favoritkan, tapi temanmu tidak lapar sedangkan kamu biasa saja terhadap rasanya, tapi kamu lapar? tapi apa sebenarnya kamu memang benar-benar biasa saja sama rasa donatnya, atau kamu sudah terlatih untuk memendam keinginan atas tiap rasa donat di seluruh dunia?
ya, aku tidak terlalu suka donat juga. kecuali donat kentang di kopsis. rasanya cukup enak.
ah, aku sangat ingin berteriak. yang kencang. cukup remaja. ya, tapi bagaimana. masak tidak boleh jadi remaja. kurang-kurangi saja. kadang-kadang aku mengernyit. seperti barusan. tuh kan. agar tidak ada air mata yang jatuh. mendramatisir sekali. tidak bisa ya, aku dapat yang kumau? mungkin tidak kali ini. seperti kali kemarin. dan kemarin-kemarinnya lagi. eh, aku dapat sih. hal-hal yang mungkin nggak terpikir untuk kuinginkan tapi ternyata kubutuhkan. alhamdulillah. tapi, hm, nggak ada tapi-tapian. mungkin aku memang seharusnya melalui masa karantina untuk jadi orang yang baik. termasuk jadi anak, saudara, adik, kakak, teman, murid, serta calon istri yang baik. hahahaha. jangan tertawa. rasanya aku ingin masuk angin kalau memikirkan jenjang selanjutnya. lalu berteriak sekencang-kencangnya. entah merasakan apa.

jangan mengambil kesimpulan, temani saja.

karena rasanya ingin menangis sejadi-jadinya.

Konsisten, persisten, resisten

Berlarilah!
Dan teruslah berlari!
Meski keringat yang dulu membanjir telah kau ubah jadi air mata,
dan air mata yang dulu mengalir telah kau paksa jadi darah...
Berlarilah! Bersama segala kebaikan yang menyertaimu!
Berlarilah, hingga Tuhan memeluk mimpi-mimpimu.

Laahaulawalaaquwwataillaabillaah.

Di Dikte Masyarakat

Di dunia yang serba tidak pasti ini, ada saja orang-orang yang semakin membuatnya tidak pasti dengan gampang menghilangkan komitmen dalam diri mereka, tidak tegas dan tidak yakin dalam mengambil keputusan, lebih-lebih memanipulasi diri untuk berada di pihak yang tak sesuai hati nurani demi kepuasan maupun pemenuhan ekspektasi masyarakat.

E.T.

Terima kasih sudah menjadi dirimu, dan menginspirasiku untuk menjadi diriku. Terlepas dari begitu banyak orang yang mengagumimu, aku tahu tak ada gunanya aku mengada-ada. Aku tidak mau terkesan seperti mengarang cerita. Tapi seandainya yang bisa berbicara bukan mulutku melainkan tiap detik yang kulalui selama ini tanpa aku mau mendefinisikan lebih jauh maknanya, mungkin kamu akan mengerti. Seandainya ceritanya tidak begini, mungkin akan berakhir lain lagi. Kamu terlampau sempurna untuk jadi manusia. Dan aku tidak pernah punya teman alien sebelumnya, kau tahu. Jadi, mungkin baik adanya bagiku untuk menjaga jarak seaman mungkin dari gangguan radar antenamu yang tak sinergis dengan alergi radiasiku. Dan tetap menjadikanmu sosok yang menginspirasi, titik. Karena kadang aku terlalu peduli pada kamu, teman alienku, sampai aku tak bisa merasakan jari jemari kakiku. Itu pertanda buruk. Kamu juga tidak begitu suka. Kamu bebas seperti burung yang terbang. Mungkin kamu alien bentuk burung, atau burung spesies alien. Yang jelas, tak ada jeruji manapun yang akan mengurungmu bersama segala keorisinalitasanmu. Kamu harus terbang bebas, karena masih banyak orang yang membutuhkan percikan inspirasi dari kepakan sayapmu.

Terima kasih sudah menjadi dirimu, dan mengalami petualangan-petualangan serumu, sehingga menginspirasiku untuk menjadi diriku, yang mencari petualangan-petualangan seruku. Semoga cintamu pada-Nya lebih besar dari cintamu pada makhluk-Nya.