Kiat-kiat Belajar Teko Buku Tulis Bos Gede



sakdurunge sinau, kon kudu inspired sek. mari ngono ojok gopoh ndelok konco-koncomu sinau seng carae gak sesuai karo caramu belajar. carik o cara seng original, caramu dewe sinau ben gak kesel. gak perlu mekso kudu stay up late koyok A opo koyok B. iku diage motivasi ae. lha iki masuk nak frasa ketiga, work hard. ojok mek ndlosar-ndlosor lek wes ngerti kudu yaopo. maringono enjoy. wes, semangato.

Half-Day Escape

Aku sariawan.

Tadi di ganesha juga banyak yang sariawan. Mungkin ini musim sariawan. Rasanya kering dan pecah, lalu kalau tertawa karena ketarik jadi perih. Aku bahkan nggak tau ini sariawan atau bukan. Lalu aku tidak fokus. Sebentar, ini agak melompat-lompat. Aku akan mulai bercerita dari awal.

Aku mengawali hari dengan agak bingung sedikit. Tidurku cukup lelap dengan beberapa mimpi yang aneh, terima kasih sudah bertanya. Karena masuk sesi pagi, aku segera bersiap dan berangkat bersama mbak yang mau ada pengarahan di tempatnya menuntut ilmu. Aku tidak fokus dan bingung saat mengerjakan tryout. Apalagi tidak ada istirahat 15 menit. Jadi, bekal terang bulan yang kubawa tidak bisa dimakan di kelas. Aku terlalu lama mengulang membaca soal karena tidak benar-benar fokus. Tiba-tiba, waktu sudah kurang lima menit saja. Diberi tahu Mbak Ayu dari halo-halo. Dengan satu tarikan napas, aku berusaha berdamai dengan diri sendiri dan mencoba mengisi beberapa bocel di kolom bahasa. Dua teks terakhir tetap kutinggal karena tidak nutut. Aku kecewa waktu mengumpulkan LJK ke Mbak CH.

Tanpa jeda kami pindah ke saintek. Aku masih belum berhasil menggalang konsentrasi. Ada beberapa momen di mana aku hanya duduk diam di kursiku sambil menatap papan tulis. Papan tulisnya kosong. Di belakangku Fahmi. Dia bernapas agak keras. Kursi yang diduduki Echa berkeriut-keriut. AC di atasku menderung-derung. Dua bangku di depanku Dipo. Dia menggeser mejanya yang bersebelahan dengan Bale. Alsa mengerjakan dengan tekun, tapi rautannya sering dipinjam.

Aku hampir berputus asa karena hanya bisa mengerjakan dua nomor. Karena keteledoranku Sabtu lalu, aku harus menelan pahitnya over-confidence dan kalah telak di mata pelajaran biologi. Jadi, aku tidak mau mengulanginya. Aku tidak mengisi beberapa banyak hal yang tidak benar-benar yaqen. Tapi aku memeras otak untuk bisa menghitamkan beberapa bunderan lagi.

Kemudian, aku masih seperti orang linglung saat menunggu dijemput di area Mbak Ciska. Aku mengganggu Tania yang streaming drama korea. Dia makan brownies tapi ungu-ungunya disisakan. Hana duduk manis sambil memandangi tab-nya. Hilman melakukan entahlah, tapi dia tidak pulang-pulang. Aku ingin mendengarkan lagu tapi tidak bawa headset. Ada anak-anak yang belajar di area TST. Mas Mico tidak terlihat dimana-mana tapi aku mengganggu Intan yang sedang tryout soshum. Mbak Ciska sangat sibuk, tapi tetap kuganggu. Ada obat sariawan di kotak P3K tapi aku tidak berani utik-utik. Ada boraks juga. Aku pun bingung. Ada obat yang digunakan Bale mengeringkan luka sayat--yang sangat aneh dan mengejutkan dan banyak darahnya--di ibu jari kakiku waktu dulu terberet tekel mushola ganesha. Waktu dicek tekelnya nggak ada yang nyeleneh. Wallahualam.

Aku berpikir apa lebih baik aku ke kota besar. Tapi panas sangat terik dan aku merasa kering di bibir. Jadi aku menunda-nunda dan mondar-mandir dengan aneh.

Pada akhirnya aku berangkat juga. Semua orang sudah pergi tinggal Inne. Di depan jonas aku berpapasan dengan Fitria yang mau ke SSC. Aku takjub dan senang bertemu kawan, karena aku seperti si Gadis Penjual Korek Api di tengah jalanan London yang dingin dan suram. Sesampainya di kota besar aku selalu tidak bisa masuk lewat pintu utama. Dia tidak mau membuka, jadi aku lewat pintu samping yang manual. Hal ini selalu terjadi padaku. Kukira itu karena sensornya tidak nyampai ke atas ubun-ubunku. Kurang beberapa senti. Atau aku memang tidak terdeteksi. Mungkin aku hantu.

Aku terkaget-kaget dan mengecek tanggalan di telepon genggam karena kota besar ramai sekali. Padahal ini hari masuk kerja. Orang-orang mengenakan keplek bertali biru yang kucuri-curi pandang apa tulisannya waktu naik eskalator. Ternyata ada APA 16, Asian Pacific Aquaculture, semacam konferensi begitu. Ada orang-orang dari berbagai negara. Tiba-tiba aku merasa terinspirasi. Aku membeli vanila latte di kedai waktu cha, lalu duduk di depan taipei kecil dan membaca e-book Harry Potter dan Batu Bertuah. Foodcourt juga sangat ramai dan aku takut bertemu orang yang kukenal (lalu ketahuan melancong sendiri dan dunia akan menjadi canggung). Tapi aku tidak berpapasan dengan batang hidung siapapun yang akrab hingga mbak tiba dari pengarahan yang katanya agak aneh. Kami pulang dengan perasaan gembira dan merindu.

Sesampainya di rumah aku menonton Super 8, sebuah film yang cukup mencengangkan yang ada Elle Fanning-nya. Aku juga membeli Albotyl untuk sariawan yang kutuduh sebagai penyebab ketidakfokusanku sejak pagi. Padahal, ya, bukan salah dia. Semoga cepat sembuh aja.
Aku masih cukup terinspirasi berkat petualangan hari ini, dan aku menyimpulkan bahwa mungkin aku memang membutuhkan berjalan-jalan dan menemukan hal-hal baru untuk dapat menyeimbangkan diri. Mungkin aku harus berpetualang yang bukan hanya dari film atau layar telepon genggam saja. Itu bukan sebuah kemungkinan, kayaknya itu hal yang sudah menjadi kepastian sekarang. 
Pesan moralnya adalah, jangan ragu untuk berpetualang, karena siapa yang tahu apa yang akan kau temukan di perjalanan.
Mungkin bunga. Bunga di tepi jalan alangkah indahnya.
Ayo kembali fokus dan jangan bingung lagi. Semangat, dunia!

Chapter 2 : Kisah yang Menginspirasi Labadida dalam Memilih Kekuatan Supernya

Pada suatu hari, hiduplah seorang anak dari keluarga yang kaya raya. Ia bisa membeli apa saja yang dia mau dan mendapat apa pun yang dia inginkan. Namun, dia memilih untuk hidup sederhana dan biasa-biasa saja. Tamat.

Chapter 1 : Labadida dan Pertanyaan Tak Terduga

Labadida adalah seorang artis cilik yang sedang naik daun. Suatu malam, Ia diundang ke acara penganugerahan piala paling bergengsi dalam dunia hiburan. Ia datang bersama kedua orang tuanya yang bangga. Tentu saja di sana sudah banyak wartawan. Salah seorang wartawan mendapat kesempatan mengajukan pertanyaan padanya. Karena tahun itu banyak film pahlawan super yang rilis, sang wartawan bertanya pada Labadida,

"Bila Labadida bisa memilih, kekuatan super apa yang ingin kau miliki?"

Catatan Kelingking

yes, i'm extremely nervous.

dampaknya, mimpiku sangat aneh-aneh dan beragam. lalu aku memaksa diriku untuk berpacu dalam melodi. tapi, pikiranku hanya berteriak-teriak saja. selanjutnya tidak ada yang terjadi. aku sudah memajang kata-kata motivasi di kepala. bahkan penggambaran sebuah kesuksesan yang kayaknya nyata banget. tapi cuma dibayangin aja. gitudeh.

aku tahu kerja cerdas lebih efektif dari kerja keras. tapi, ya, sudah, cuma tahu aja. kerjanya kapan? dalam mimpi. sepertinya bagian produksi mimpiku baru saja menemukan tim kreatif. jadinya, banyak mimpi yang mungkin tercipta karena aku tiba-tiba terlepas dari ikatan kovalen polar dengan sekolah. dalam hal ini konteksnya mimpi sebagai bunga tidur, lo ya. lalu aku kadang ingin melanjutkan tidur karena mimpinya cukup asyik. tapi malah ada mimpi lain lagi. apakah ini mimpi?

dengan persiapan yang begini begini saja, aku jadi tidak berani menentukan tiga pilihan yang paling hitz abad ini. nggak, nggak abad ini juga. semasa aku hidup. sejak aku menghembuskan napas dari hidung yang kecil (mungkin kecil, entahlah). kayaknya aku terseret ketegangan yang dibawa opini publik. dalam bentuk countdown menuju hari dimulainya pendaftaran. baru dimulai. bukan tesnya. kemudian rasanya lutut ini jadi lemas.

ada kupu-kupu di sela jari kakiku. itu bukan menggambarkan keindahan seperti saat si kupu-kupu terbang dan menggelitik perutmu, tentu saja. kasihan. ngapain si kupu-kupu nggak terbang di tempat lain aja. itu tempat yang mengerikan untuk terbang. meski jari kakiku juga manis. tapi memangnya aku siapa sampai diterbangi kupu-kupu. oh iya, aku kan bunga.

kepada siapa saja di dunia ini yang rasanya pernah mengalami hari yang melelahkan atau perasaan-perasaan tidak enak (atau mimpi yang mungkin menghantui) karena apapun itu yang disebabkan olehku, aku minta maaf atas segala ketidakkompetenan--apakah kata ini baku di kbbi aku juga tidak tahu--ku menjadi manusia. aku tidak pernah bermaksud untuk jadi jahat saat terlahir di dunia ini, dan aku yakin kalian juga ya kan. kita hanya makhluk-makhluk kemide yang menyanggupi jadi manusia. hahaha, nggak kemide juga. tapi, semoga Allah melindungi kalian semua dan memberi petunjuk. dan meridhoi kita semua. dan segala yang baik-baik untuk kalian. segala yang baik-baik belum tentu datang dalam wujud yang kalian suka, sih. tapi yang kalian butuhkan. hidup sementara mah jangan kebanyakan mikir tatag aja.

tuh kan, aku sangat ngelantur seperti otak-otak bandeng rasa unggul.

wahai para tante, mungkin inilah saat yang paling tepat untuk berkata "wah, sudah besar ya keponakan tante."

karena rasanya benar-benar akan menapak ke dunia yang baru.

ah aku bisa gila.

terima kasih ya sudah membaca, ada ucapan maaf dari tim pengolah kataku karena mereka tidak produktif akhir-akhir ini. mari tidur lagi dan bangun saat sholashola nanti. sholat yang rajin ya teman-teman karena itu kewajiban. jayalah negeriku.

Tulisan, Kecemburuan, Oknum Instan dan Opini Publik

Ketika menulis, kamu menginvestasikan waktumu mem-backup suatu atau lebih banyak momen dalam hidupmu. Kadang, kamu bisa lebih mudah melupakannya kemudian, meski pada akhirnya kamu bisa mengingatnya lagi saat membaca hasil tulisanmu. Hal ini cukup efektif dalam memfokuskan tempat penyimpanan memorimu untuk hal-hal lain, tanpa menghapus keindahan momen yang kamu lalui. Waktu tidak berulang, sehingga akan lebih menyenangkan untuk mengabadikan dan mengambil hikmahnya.

Terkadang, kamu merasa kesal atas suatu hal yang tidak tepat sasaran. Dan kamu merasa cemburu pada teman-teman yang memiliki dunia yang indah, lalu menuangkan kekesalan dan keirianmu pada mereka seakan-akan kamu anak yang egois. Kenyataannya, kamu memang egois. Kamu tidak perlu mengumbar mosi tidak percaya pada orang-orang yang tak pernah kamu percaya. Seperti halnya kamu yang mengalami seni pengulangan dalam hidupmu, kamu hanya perlu belajar dan mencari titik fokusnya.

Apakah kamu baik baik saja? Apakah kamu butuh pencerahan untuk melangkah?

2012 adalah tahun yang sangat produktif dimana aku menulis banyak sekali hal-hal yang terjadi di sekitarku. Saat membukanya kembali, aku terkejut karena ada begitu banyak keceriaan yang mudah untuk kulupakan, atau mungkin secara tidak sengaja tersingkir oleh masalah-masalah baru yang muncul. Ada banyak hal yang terjadi dalam rentang waktu yang tidak sebentar, yang juga membuatku tercengang dan berpikir, "ada-ada saja jalan ceritanya." Karena tidak terprediksi adalah satu-satunya yang terprediksi dari kehidupan.

Aku amat kesal pada suatu waktu dimana suatu hal tidak benar-benar begitu pas. Dan pada titik ini aku baru merasakan perubahan, dari sosok lugu mangkelin yang terpacu untuk mendapat nilai bagus disetiap mata pelajaran yang diikutinya di sekolah hingga kini menjadi ia yang begitu idealis hingga berujung pada sangkalan mengenai opini publik yang cenderung menyorot pada hasil semata. Selama prosesnya baik, Ia santai saja nilainya tak sememuaskan itu. Ia sudah tak semangat berkompetisi dengan oknum-oknum instan yang merajalela. Bahkan kini sudah hadir dalam wujud yang sangat diselimurkan.

Tapi, bagaimana bila ternyata begini skenarionya : Ia memang tercipta untuk menghadapi itu semua. Kompetisinya sekarang bukan dengan kebenaran, melainkan dengan cara praktis yang dibenar-benarkan. Ia harusnya bisa menunjukkan bahwa tanpa jalan pintas pun Ia bisa. Bukan malah melepaskannya begitu saja karena sudah tahu pasti mana yang lebih mudah mendapat elu-eluan publik berkat tinta di atas kertas. Ia tidak lagi berjuang melawan kebodohan, tapi juga pembodohan. Disitulah tantangannya, yang cukup terlambat Ia sadari maknanya.

Kemudian, Ia juga menghimbau agar masyarakat lebih mawas diri dan berhati-hati terhadap efek yang mungkin ditimbulkan dari opini publik. Kemajuan zaman mempermudah setiap pemikiran untuk muncul di permukaan, dan kemudian menghimpun massa, yang bila tak terkontrol maka dapat berujung pada provokasi yang menjerumuskan.

Aku tidak tahu sejak kapan aku jadi seserius ini dalam menulis. Entahlah.

Investasi Literasi Masa Depan

Aku tidak tahu harus sedih atau kagum ketika soal-soal latihan bahasa Indonesia kebanyakan mencantumkan penggalan cerita dari karya-karya Andrea Hirata.