Posts

Showing posts from August, 2016

Red Thread

Yakinlah neng, bahwa apa yang kamu lakukan tidak akan sia-sia.
Karena emosi yang kamu rasakan sekarang adalah bentuk pendisiplinan dirimu, wujud pengorbanan mimpi-mimpimu. Saya tahu, neng, bisikan syaiton berkali-kali berdenging di telingamu, meneriakkan yang katanya keadilan dan hati nurani kepadamu. Tapi sungguh, neng, kamu tahu. Itu cuma iming-iming di dunia yang sementara itu.
Yakinlah neng, ini yang terbaik untuk kalian. Yakin, bahwa pelaut handal tidak akan lahir dari perairan yang tenang. Dan bahwa di jalan setapak yang sudah terlampau terjal ini, bukan rasa aman dan nyaman seperti itu yang kamu butuhkan, melainkan suatu yang menyelimuti dirimu dalam balutan cahaya-Nya Yang Mahakuasa.
Dan, ketika hatimu yang terbelenggu meraung candu memanggil nama yang telah akrab itu, ingatlah, garis ini tak akan pernah putus ketika kamu mau dan mampu memperjuangkan keindahannya.
Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita.

Motivasi Sesuap Nasi

"kasian perutnya meraung-raung lo nanti ditagih di akhirat 'dulu aku didzolimi tak diberi makanan' 'padahal badan bukan miliknya' hayoloooo"
------------------------------------------------------------------------
"Mangkannya harus makan biar bisa bekerja memberi makan pak parkir"
-------------------------------------------------------------------------
hemat boleh, mager jangan.

Atas Izin Allah, Jemuranmu Pasti Kering

Pernahkah kamu terlanjur mencemplungkan baju kotormu di ember dan menyiramnya dengan air, lalu ketir-ketir, akankah nutut untuk menjemur hingga kering esok pagi?
Akhir-akhir ini, saya sering mengalami hal-hal gila yang membuat hati saya kurang tenang. Ketika tanjakan di depan nh lalu mundur, bertemu guru-guru besar yang bernapas dan yang enggak, hingga membeli nasi di warung prasmanan yang saya nggaktau cara ngambilnya gimana. Sepele, namun kebayang-bayang sampai lama. Sampai saya bertanya-tanya apakah mimpi ini se-worth it itu untuk dilakoni.
Problematika kehidupan yang semakin nyata ini membuat kadar keidgafan saya mencapai titik di atas rata-rata. Kadang, ketika memejamkan mata di malam hari, saya masih bisa mencium aroma pengawet yang seharusnya sudah tak lagi melekat di rongga hidung saya. Di kamar mandi, saat membasuh polusi di wajah dengan sabun wangi, kumpulan dosa saya seharian seakan diproyeksikan kembali oleh pikiran ini. Tapi, nggak mungkin kan, saat itu juga saya muncul …

Guyonan Sarkas

Agaknya saya merasa kesulitan melontarkan guyonan sarkas di sini. Padahal, sebagian besar waktu saya di perguruan menengah atas dulu saya gunakan untuk memperdalam ilmu sarkas. Entah faktor budaya tutur kata lembut yang mengakar, atau cuma sebatas karena belum kenal dekat, saya jadi merasa sangat jahat kalau sarkas di sini. Iya, saya kayak sedih gitu tapi ga sedih-sedih banget juga sih. Hz.
Selain itu, saya nggak punya potongan kuku. Kalau beli mahal. Budget anak kos abal. Saya jadi teringat jalan dekat rumah saya yang namanya sama seperti nama ketua bmkkp dibalik asterion kemarin, yang isinya warung-warung murah dan ayam goreng hisana yang luar biasa nendang. Masio gitu, nasi jamur dan pentol gila di sana tetap mahal. Meski ada pentol buto yang gila tapi kw. Ini ngomong apa saya agak menerka-nerka. Tampaknya lavar.
Kalau sudah mapan nanti, saya mau mendirikan rumah kos ah. Dua, yang khusus cewek dan khusus cowok. Ada pembinaan spiritualnya biar keren. Bersih, nyaman, harga terjangka…

Do you believe in magic?

"Biasanya kalo speechless gini banyak yg dipendem," katanya.
After all these hectic days, saya bukan memilih untuk nggak bercerita.
Saya nggak tau mau ceritanya gimana.

LPJ Surakarta 1st-3rd

Jadi, ini hari ketiga saya nangkring di Solo. Mau saya ceritain nggak? Mau aja ya. Saya usahakan ini singkat. Gadibaca juga gaapasi.
Rabu, 10 Agustus 2016
6.55, Gubeng.  Sancaka Pagi, 7.30. Habis foto-foto, salim, berangkat. Duduk di belakang turis asing beraksen British. Membaca dan tidur. Makan regal.
11.55, Solobalapan. Bersama tante Lastri dan omnya sholat di kantor BPN. Kemudian makan sepotong ayam kampung lengkap dengan cekernya. Rasa bintang lima, harga kaki lima. Bukan D'Cost.
Sekitar jam satu, Graha Annisa. Sepi-sepi aja. Salam, masuk. Ketemu Kartika di tangga, baru ketemu udah langsung pinjem pel. Dipinjemin seembernya sama super pel. Beli lap di Toko Herman. Balik kos. Lupa sikat. Mbak ngepel, saya melancong. Mendaki ke indomaret.
13.10, Indomaret Cuma empat menit tapi ngos-ngosan. JJS. Beli sikat dan onigiri, dan benda-benda lain. Lama milihnya. Nyampe kasir. Gabisa bayar. Gabawa uang. Nitip belanjaan ke masnya. Turun gunung ke kos.
13.30, Graha Annisa. Lari. Kalo jala…

Thankful Days

Image
lebih sakit mana, ditinggal temen rantau atau ninggal temen buat rantau?

Kata Pengantar Redaksi?

Halo gaes, assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.
Di sini ada saya yang tiba-tiba suasana hatinya bagus banget. Rasanya dunia jadi penuh motivasi. Saya akan melakukan ini dan itu! Hati terasa lapang. Senyum tak henti-henti. Ga juga se. Walay.
Hari ini kirain saya bakal ke Colombo. Ternyata, tadi pagi udaranya terlampau nyaman untuk bangkit dari gumpalan selimut favorit saya. Mbak lagi marathon Pokemon (yang dulu pas kecil saya cuma nonton CD 1 dan 11 seperti telah disebut di sini), didownload dari internet. Saya ikut nonton lalu jatuh tertidur. Bangun-bangun sudah siang, memasak telur tuna untuk sarapan, lalu ndlosar-ndlosor cantik, melarang diri saya memikirkan apa pun yang berkaitan dengan rame-rame di grup chat maupun barang-barang yang belum ter-packing, shantae. Saya memang berencana menghabiskan jatah leyeh-leyeh saya, sebanyak yang saya bisa, di sini. Amat bahagia. Terimakasih ya Allah.
Kemudian agak siangan telpon Bila yang hidup di tanah rantau. Bercerita-cerita agak ter…

Jembatan Ampera

Sebelas tahun yang lalu, kami berpisah di jembatan ini. Sebelas meter jauhnya di atas permukaan Sungai Musi. Ia ke Seberang Ulu, aku ke Seberang Ilir. Tak banyak kata yang terdengar waktu itu. Ia hanya bilang, aku perlu menjaga diri. Aku ingin berteriak, "Kamu ini cenayang atau apa?" Tapi urung. Aku kembali menekuni kombinasi rajutan kristik di genggamanku. Dia yang memberikannya ketika kami saling mengangguk, paham sudah saatnya merelakan jarak menyusup masuk. Benangnya membentuk setangkai mawar, warnanya putih. Aku heran tak setitik pun air mataku yang jatuh. Adakah hati juga telah direnggut pergi dari jiwaku? Tepat ketika itu, dering menghampiri telepon genggamku. Ia yang berbicara di ujung lain. Suaranya serak diterpa angin, lirih ditimpa hujan. Bila sebelas detik tak berlalu, aku yakin aku tak mengenalinya. Karena bukan hanya suaranya saja yang ubah. Ia tak bertanya kabar, pun memberi. Kami hanya saling diam di balik masing-masing kesadaran diri. Menutup gagang bukan k…

Unresponsive BrainApps

Saya lagi butek sama aplikasi chatting di hp. Juga butek sama diri saya yang kayak membutuhkan afirmasi berlebih atas kehadiran diri di muka bumi. Kadang ada momen di mana saya cuma termangu di tempat, niatnya memanggil memori yang menggambarkan diri saya ini orang yang kayak gimana waktu berada di tengah-tengah masyarakat. Iya, saya kayak kehilangan jati diri. Siapa sih sanifa sebenarnya, gitu. Saya jadi ingat teman saya yang sukanya tes kepribadian berkali-kali dengan hasil yang berbeda-beda. Entahlah.
Di tengah krisis jati diri yang melanda saya secara tiba-tiba, iseng saya mencari inspirasi lalu buka youtube. Saya memang suka nontonin channel tim2one, aulion, maupun mbak nessy judge because why not. Lalu, saya terdampar di salah satu channel yang mayan hits. Iya, punya mbak mbak yang banyak dikepoin orang beberapa waktu lalu. Beliau, mbak-mbak instagram yang mengundang kontroversi masyarakat tentang gaya hidup dan kisah asmaranya. Jaman sekarang, mudah saja bagi "kekepoan ma…

Ar-Rozzaaq

Bagaimana jika kecantikannya, ketampanannya, kelembutannya, kepopularitasannya, kesuksesannya di usia muda, kepintarannya, prestasinya, karya-karyanya, keindahan suaranya,
adalah Ia yang menunjukkan kebesaran-Nya?
--------------------------------------------------------------
Bila rezeki telah ditentukan sebelumnya, bukankah kita tak perlu iri pada rezeki orang lain, dan berlomba-lomba meraih rezeki yang memang diperuntukkan untuk diri sendiri? Namun, mengapa manusia seringkali takjub pada rezeki orang lain, seringkali iri pada kesuksesan orang lain? Adakah pemberitaan itu ialah motivasi, atau malah merupakan refleksi hati, bahwa bagi Allah, memberi rezeki pada makhluk-Nya hanya urusan seujung jari?