Red Thread

Yakinlah neng, bahwa apa yang kamu lakukan tidak akan sia-sia.

Karena emosi yang kamu rasakan sekarang adalah bentuk pendisiplinan dirimu, wujud pengorbanan mimpi-mimpimu. Saya tahu, neng, bisikan syaiton berkali-kali berdenging di telingamu, meneriakkan yang katanya keadilan dan hati nurani kepadamu. Tapi sungguh, neng, kamu tahu. Itu cuma iming-iming di dunia yang sementara itu.

Yakinlah neng, ini yang terbaik untuk kalian. Yakin, bahwa pelaut handal tidak akan lahir dari perairan yang tenang. Dan bahwa di jalan setapak yang sudah terlampau terjal ini, bukan rasa aman dan nyaman seperti itu yang kamu butuhkan, melainkan suatu yang menyelimuti dirimu dalam balutan cahaya-Nya Yang Mahakuasa.

Dan, ketika hatimu yang terbelenggu meraung candu memanggil nama yang telah akrab itu, ingatlah, garis ini tak akan pernah putus ketika kamu mau dan mampu memperjuangkan keindahannya.

Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita.

Motivasi Sesuap Nasi


"kasian perutnya meraung-raung lo
nanti ditagih di akhirat
'dulu aku didzolimi tak diberi makanan'
'padahal badan bukan miliknya'
hayoloooo"

------------------------------------------------------------------------

"Mangkannya harus makan biar bisa bekerja memberi makan pak parkir"

-------------------------------------------------------------------------

hemat boleh, mager jangan.

Atas Izin Allah, Jemuranmu Pasti Kering

Pernahkah kamu terlanjur mencemplungkan baju kotormu di ember dan menyiramnya dengan air, lalu ketir-ketir, akankah nutut untuk menjemur hingga kering esok pagi?

Akhir-akhir ini, saya sering mengalami hal-hal gila yang membuat hati saya kurang tenang. Ketika tanjakan di depan nh lalu mundur, bertemu guru-guru besar yang bernapas dan yang enggak, hingga membeli nasi di warung prasmanan yang saya nggaktau cara ngambilnya gimana. Sepele, namun kebayang-bayang sampai lama. Sampai saya bertanya-tanya apakah mimpi ini se-worth it itu untuk dilakoni.

Problematika kehidupan yang semakin nyata ini membuat kadar keidgafan saya mencapai titik di atas rata-rata. Kadang, ketika memejamkan mata di malam hari, saya masih bisa mencium aroma pengawet yang seharusnya sudah tak lagi melekat di rongga hidung saya. Di kamar mandi, saat membasuh polusi di wajah dengan sabun wangi, kumpulan dosa saya seharian seakan diproyeksikan kembali oleh pikiran ini. Tapi, nggak mungkin kan, saat itu juga saya muncul di balapan dan membeli tiket pulang, lalu memeluk ibu saya, atau bergelung menonton drama korea bersama mbak saya, karena rasa takut dan lelah yang kala itu merajai hati?

Yoweslah, piye maneh.

Saya perlu menolak untuk takluk. Saya harus.

Dan di sinilah saya belajar memahami arti keimanan yang sesungguhnya.

Faith. Kepercayaan. Sesuatu yang saya, sebagai manusia yang manusiawi, perlu miliki sebagai tonggak untuk berpegang. Yang telah Allah ciptakan karena Ia Mahamengetahui hamba-Nya, bahwa ketika terjatuh kita perlu bangkit dengan rasa percaya. Kepada apa, dan siapa lagi saya dapat meminta? Kepada apa, dan siapa lagi saya bisa menggantungkan nasib yang serba tak berpenjelasan ini?

Gunakanlah kesempatan ini untuk bersyukur atas iman yang telah Allah sisipkan dalam hatimu, kawan. Karena bahumu tak mungkin tegap tanpa izin dari-Nya.

Dengan demikian, atas izin Allah, jemuranmu pasti kering.

Chill.

Guyonan Sarkas

Agaknya saya merasa kesulitan melontarkan guyonan sarkas di sini. Padahal, sebagian besar waktu saya di perguruan menengah atas dulu saya gunakan untuk memperdalam ilmu sarkas. Entah faktor budaya tutur kata lembut yang mengakar, atau cuma sebatas karena belum kenal dekat, saya jadi merasa sangat jahat kalau sarkas di sini. Iya, saya kayak sedih gitu tapi ga sedih-sedih banget juga sih. Hz.

Selain itu, saya nggak punya potongan kuku. Kalau beli mahal. Budget anak kos abal. Saya jadi teringat jalan dekat rumah saya yang namanya sama seperti nama ketua bmkkp dibalik asterion kemarin, yang isinya warung-warung murah dan ayam goreng hisana yang luar biasa nendang. Masio gitu, nasi jamur dan pentol gila di sana tetap mahal. Meski ada pentol buto yang gila tapi kw. Ini ngomong apa saya agak menerka-nerka. Tampaknya lavar.

Kalau sudah mapan nanti, saya mau mendirikan rumah kos ah. Dua, yang khusus cewek dan khusus cowok. Ada pembinaan spiritualnya biar keren. Bersih, nyaman, harga terjangkau, strategis. Saya rasa, rumah kos adalah jasa bagai jasa ibu yang tak terhingga. Muara sungai-sungai yang fana. Sumber mata air kehidupan. Yha.

Yang terakhir, saya harap kamu selalu dalam lindungan Allah. Karena, bila kamu bertanya apa yang membuat saya kuat, saya rasa mencari jawabnya tak akan jauh-jauh dari-Nya. Tunggu cerita saya selanjutnya tentang jemuran, ya. Saya gatal ingin bercerita.

Sudah, mau makan dulu sama bidadari-bidadari GA. Uhuy.

Do you believe in magic?

"Biasanya kalo speechless gini banyak yg dipendem," katanya.

After all these hectic days, saya bukan memilih untuk nggak bercerita.

Saya nggak tau mau ceritanya gimana.

LPJ Surakarta 1st-3rd

Jadi, ini hari ketiga saya nangkring di Solo. Mau saya ceritain nggak? Mau aja ya. Saya usahakan ini singkat. Gadibaca juga gaapasi.

Rabu, 10 Agustus 2016

6.55, Gubeng. 
Sancaka Pagi, 7.30. Habis foto-foto, salim, berangkat. Duduk di belakang turis asing beraksen British. Membaca dan tidur. Makan regal.

11.55, Solobalapan.
Bersama tante Lastri dan omnya sholat di kantor BPN. Kemudian makan sepotong ayam kampung lengkap dengan cekernya. Rasa bintang lima, harga kaki lima. Bukan D'Cost.

Sekitar jam satu, Graha Annisa.
Sepi-sepi aja. Salam, masuk. Ketemu Kartika di tangga, baru ketemu udah langsung pinjem pel. Dipinjemin seembernya sama super pel. Beli lap di Toko Herman. Balik kos. Lupa sikat. Mbak ngepel, saya melancong. Mendaki ke indomaret.

13.10, Indomaret
Cuma empat menit tapi ngos-ngosan. JJS. Beli sikat dan onigiri, dan benda-benda lain. Lama milihnya. Nyampe kasir. Gabisa bayar. Gabawa uang. Nitip belanjaan ke masnya. Turun gunung ke kos.

13.30, Graha Annisa.
Lari. Kalo jalan ga nyampe-nyampe. Mencungul dikit di pintu, ambil dompet. Mbak heran. Gabisa jelasin. Pergi lagi.

13.35, Indomaret.
Sampe depan pintu. Pintunya berundak. Ada mas-mas bersihin kaca. Belakangnya mas-mas ngangkat barang. Antrean kasir mayan banyak. Satu mas satu mbak jaga kasir. E lakok kesandung undakan. Mencolot. Flying Sanifa. Mas e ngguyu. Mbak e sisan. W senyumin aja. Anaknya tegar.

13.45, Jalan.
Udah ngelewatin pak-pak benerin tiang listrik tiga kali. Sama mas-mas cangkruk (eh, nangkring) jual gorengan. Untung jalan mayan sepi. Ketawa-ketawa sendiri di jalan. Gak muasok. Sek hari pertama.

Jam dua kurang, Graha Annisa.
Mbak selesai ngepel. Beresin kasur. Tugas saya : bersihin kamar mandi.

Kamar mandi.
Siram-siram wipol dan porstex. Ujug-ujug kelabang muncul. Gede. Semprot air, doi berenang. Gamau masuk got. Malah manjat dinding. Semprot wipol akhirnya. Mabok. Masih jalan. Siram porstex. Gatel banget di tangan. Doi njempalik. Kesian. Buka teralis (apaansi namanya) got. Doi meluncur masuk. Tak berdaya. Sedih. Bangkit dari kesedihan. Nunggu bentar, sikat-sikat. Semprot-semprot. Guyur. Kasih pengharum. Done.

Kamis, 11 Agustus 2016

Jam tujuh lebih. Gor UNS.
Naik ojek ternyata sepuluh rebu. Sampe gor lautan manusya. Naik tangga samping langsung sampe depan pintu. Pintu dibuka desel-desel. Kokya isok ketemu Rizky. Masuk, duduk tribun. Antre ambil almet. Dapet almet. Terharu. Pingin nangis. Sama Kartika dan Rizky. Jalan ke FK.

Sembilan kurang, FK.
Nunggu Mbak Nad dateng. Minjem motor. Jare ici dee wes dadi belgas saiki.

Setengah sepuluhan, Warung Makan (lupa namanya;-;) di Jalan Kartika.
Nasi, dua perkedel, tempe mendoan, tahu bulat, garang asem + es teh, sembilan ribu. Dibayar Rizky.

10.00, Kampus Kentingan.
Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Pameran TNI di sekitar halaman rektorat. Mengumpulkan stamp. Sebagai ajang kenal kampus. Terik level : dijemur di lapteng. Kaki mau putul. Banyak pohon lumayan. Danau pertanian. Bolang sama Kartika. Rizky TM di Nurul Huda.

Dhuhur, Masjid FK.
Baru adzan langsung sholat. Mau ambil MedSMART di joglo. Mbak-mbak pake rok berkerudung syar'i. Adem.

Ba'da dhuhur, jalan.
Pulang sama Kartika. Mampir beli jus. Panas, lepek. Kuyu.

Graha Annisa.
Rizky chat. Ku alami dilema. Menelpon suatu orang untuk bertanya. "Belajar dong," katanya. Kemudian nekat saja. Prepare barang masuk tas kuat gugel. Prepare hati ucapkan basmalah.

Gerbang belakang, sama Rizky.
Doi deg-degan. Saya lebih. "Kamu kudu bangga ndue konco koyok aku," kataku. "Gendeng kon," katanya.

Sudah malam, Graha Annisa.
Balqis barusan datang. Berkunjung ke kamar sama Kartika. Omong-omong sebentar lalu maghrib. Habis sholat, cari makan.

Warung Makan deket kosan.
Nasi goreng + es jeruk sembilan setengah. Porsi kuli. Ngomongin Malang. Balik.

Depan Gerbang Graha Annisa, sekitar jam tujuh.
Ada siluet cowok. Dan sepeda. Dan ibu-ibu. "Sopo cak iku," jareku. Setelah mendekat, baru sadar itu siapa. Coba tebak. Iya bener. Rizky sama mamanya. Salim. Cerita ngalor ngidul. Mulai dari cowok Tangerang temen sekamar Rizky, sampe Ubaya. Ternyata sejam. Beliau sama Rizky pulang. Saya masuk.

Jam delapan kurang, Graha Annisa, 
Kumpul sama mbak-mbak temen-temen. Mbak Latifa ulang taun. Nyurprisein. Makan kue. Cerita-cerita banyak. Jilbab Afra, kucing mbak Winda, permasalahan kosan, horor. Sudah jam sepuluh. Pergi tidur.

Jumat, 12 Agustus 2016

Pagi. Masih di kamar. Tidur nyenyak entah kenapa. Mungkin kerna capai. Lihat utub rencana mau nyari lagu yang chill, nemunya bmkkp dibalik. Entah kenapa jadi ndredeg. Padahal harusnya udah biasa. Ugh, sok abiez. Yaudahlah, Tuhanku lebih besar dari masalahku. Insya Allah.

------------------------------------------------------------------------------------

Terima kasih banyak-banyak untuk pihak-pihak terkait. Aldo, Aufa, Atul, Ratu yang pagi-pagi udah siap di gubeng. Tante Lastri dan om yang mau direpoti. Mbak-mbak mas-mas indomaret yang luar biasa. Mbak Nad yang suda meminjamkan motor ke Rizky demi mobilitas yang lebih baik. Mas-mas warung makan dan ibu-ibunya yang ramah. Kartika, Balqis, mbak-mbak teman-teman GA yang baik-baik. Semuanya dah. Barokallah, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.

Saya gembira karena banyak hal-hal baru. Saya rasa, petualangan yang cocok buat saya memang sesederhana hal-hal baru. Yeh.

PS : Hampir kehilangan kesempatan berbicara kan kon. Hampir kehilangan Sanifa yang pencilakan. Suka sungkan. Memaknai perubahan Jembatan Ampera. Subhanallah.

Mari menjadi pribadi yang lebih bermanfaat hari ini!

Kata Pengantar Redaksi?

Halo gaes,
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Di sini ada saya yang tiba-tiba suasana hatinya bagus banget. Rasanya dunia jadi penuh motivasi. Saya akan melakukan ini dan itu! Hati terasa lapang. Senyum tak henti-henti. Ga juga se. Walay.

Hari ini kirain saya bakal ke Colombo. Ternyata, tadi pagi udaranya terlampau nyaman untuk bangkit dari gumpalan selimut favorit saya. Mbak lagi marathon Pokemon (yang dulu pas kecil saya cuma nonton CD 1 dan 11 seperti telah disebut di sini), didownload dari internet. Saya ikut nonton lalu jatuh tertidur. Bangun-bangun sudah siang, memasak telur tuna untuk sarapan, lalu ndlosar-ndlosor cantik, melarang diri saya memikirkan apa pun yang berkaitan dengan rame-rame di grup chat maupun barang-barang yang belum ter-packing, shantae. Saya memang berencana menghabiskan jatah leyeh-leyeh saya, sebanyak yang saya bisa, di sini. Amat bahagia. Terimakasih ya Allah.

Kemudian agak siangan telpon Bila yang hidup di tanah rantau. Bercerita-cerita agak terputus-putus soalnya telpon gratis. Saya yakin suara saya cukup keras untuk didengar para tetangga. Semoga beliau-beliau legowo mendengar cekikikan saya yang kurang kalem.

Habis itu mama tiba dan menegur karena saya belum mencuci baju. Ini penting nggak ya diceritakan? Ya sudah gitu lah. Padahal baju pergi saya juga udah abis di rumah, yang lain udah digotong ke sono. Gapenting amat sih ini. Trus yauda saya mencuci dan beres-beres dokumen di kamar. Pas beres-beres dokumen saya nemu tulisan. Ternyata sebelum SBMPTN saya pernah mimpi, lalu saya tulis. Mimpinya itu jadi ceritanya q seneng abiz soalnya mama membolehkan q ikut liburan kelas. Terus tak kira liburan kelas cuma dua hari, ternyata sampe empat hari. Kan saya gabawa baju gitu akhirnya beli di supermarket beli baju wane pol. Setelah dipikir-pikir, selama menunggu pengumuman saya merasa nggak mimpi apa-apa. Padahal kawan-kawan banyak yang dapet mimpi ini dan itu. Mungkin mimpinya malah sebelum tes yak? Gotik. Nah, udah, kembali ke saya yang beresin dokumen. Dokumen pun beres, kemudian sama mama pergi ke selisih awal dan akhir plaza.

Setelah mbulet-mbulet di plaza, kami pulang. Di rumah saya langsung : memasang towel grip baru untuk raket saya.

IYA. SUMPA SUMPA SAYA SUEneng banget for the first time in my life memasang towel grip untuk raket yang suda sama saya sejak main badminton bareng Pak Toy di Juwingan dulu (berarti kelas tujuh). Towel gripnya warna biru, beli di stasiun olahraga di selisih awal dan akhir plaza dengan diskon 30%. Mayan. Cool. I'm so happy.

Saya mah anaknya gitu, ganti grip raket pertama kali aja udah bahagia banget.

Udah. Apa lagi, ya? Saya seneng buka website bmkkp dibalik. Soalnya fotonya bagus. Saya tiba-tiba jadi cinta almamater. Gilapek. Kayaknya saya emang visual banget. Looking forward foto bareng rizky pake the blue salty egg jacket. Salah ya. The light blue jacket.

Gitu doang. Oiak mau ngasi tau aja, kalo kamu buka laman ini dari pc, itu di bawah ada music player baru, isinya empat lagu nyomot di utub. Dia nggak langsung ngeplay jadi kudu di klik dulu, emang diatur gitu soalnya ada orang gasuka halaman yang ada musiknya. Opsional aja kok bila Anda lagi garing, saya punya lagu untuk Anda azik. Maap lagunya the way I like.

Saya cuma mau nyapa kalian ajah. Maap. Maap lagi. Ketiga kali, maap. Semoga harimu menyenangkan yeayea!!!!!!

Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Jembatan Ampera

Sebelas tahun yang lalu, kami berpisah di jembatan ini. Sebelas meter jauhnya di atas permukaan Sungai Musi. Ia ke Seberang Ulu, aku ke Seberang Ilir. Tak banyak kata yang terdengar waktu itu. Ia hanya bilang, aku perlu menjaga diri.
Aku ingin berteriak, "Kamu ini cenayang atau apa?"
Tapi urung.
Aku kembali menekuni kombinasi rajutan kristik di genggamanku. Dia yang memberikannya ketika kami saling mengangguk, paham sudah saatnya merelakan jarak menyusup masuk. Benangnya membentuk setangkai mawar, warnanya putih. Aku heran tak setitik pun air mataku yang jatuh. Adakah hati juga telah direnggut pergi dari jiwaku?
Tepat ketika itu, dering menghampiri telepon genggamku. Ia yang berbicara di ujung lain. Suaranya serak diterpa angin, lirih ditimpa hujan. Bila sebelas detik tak berlalu, aku yakin aku tak mengenalinya. Karena bukan hanya suaranya saja yang ubah. Ia tak bertanya kabar, pun memberi. Kami hanya saling diam di balik masing-masing kesadaran diri. Menutup gagang bukan keahlianku, tapi Ia tak di sana. Ia yang sebelas tahun lalu tersenyum dinaungi cahaya bulan purnama.
Maka aku pun benar-benar berkata, "Kamu ini cenayang atau apa?"
Tanpa sebisik pun jawabnya.
Ia hanyut dalam riak-riang Sungai Musi, bersama ubah yang diramalkannya sejak sebelas tahun Ia pergi.

Unresponsive BrainApps

Saya lagi butek sama aplikasi chatting di hp. Juga butek sama diri saya yang kayak membutuhkan afirmasi berlebih atas kehadiran diri di muka bumi. Kadang ada momen di mana saya cuma termangu di tempat, niatnya memanggil memori yang menggambarkan diri saya ini orang yang kayak gimana waktu berada di tengah-tengah masyarakat. Iya, saya kayak kehilangan jati diri. Siapa sih sanifa sebenarnya, gitu. Saya jadi ingat teman saya yang sukanya tes kepribadian berkali-kali dengan hasil yang berbeda-beda. Entahlah.

Di tengah krisis jati diri yang melanda saya secara tiba-tiba, iseng saya mencari inspirasi lalu buka youtube. Saya memang suka nontonin channel tim2one, aulion, maupun mbak nessy judge because why not. Lalu, saya terdampar di salah satu channel yang mayan hits. Iya, punya mbak mbak yang banyak dikepoin orang beberapa waktu lalu. Beliau, mbak-mbak instagram yang mengundang kontroversi masyarakat tentang gaya hidup dan kisah asmaranya. Jaman sekarang, mudah saja bagi "kekepoan masyarakat" untuk membesarkan nama instansi maupun pribadi tertentu. Saya nggak kenal mbak ini. Saya juga nggak terlalu yakin apa saya perlu untuk mengetahui jalan hidupnya, wong nak omah cucian yo sek akeh le, mending nyuci aja gitu. Lucunya dari jalan takdir ialah, garis-garis kita bersimpangan. Dan jalan saya lagi ketemu jalan beliau. Meski cuma videonya doang. Gitu.

Jujur pas lihat video lists di channelnya, saya langsung scroll nyari yang nggak panjang-panjang amat. Mostly durasinya emang dua puluh menitan lebih, dan meski saya penasaran saya juga nggak mbelani amat mbuang kuota banyak-banyak. Jadi, saya buka vlog pertamanya yang cuma sekitar enam menitan. Lalu saya lihat. Kemudian, saya kasihan.

Kenapa ya saya kasihan, padahal kayaknya hidup beliau #lifegoals sekali. Katanya di usia muda sudah punya penghasilan, mandiri, mbaknya juga cantik, pinter juga lho katanya masuk universitas ternama di negeri saya ini.

Saya kasihan soalnya, hidup ini lho, kejam ya. It consumes you.

Ada beberapa netizen yang komen di vlog-vlog beliau, salah satunya bilang "kayak nggak tau mana yang bener mana yang salah aja". Kemudian saya kayak, hmmmm.

Di perjalanan hidup saya, alhamdulillah Allah mengenalkan kitab suci agama saya yang juga sebagai furqon, artinya pembeda. Pembeda yang benar dan mana yang salah. Saya juga ada mama dan mbak saya, yang masio saya inget dulu mbak sukanya mengingatkan kenakalan saya di masa kecil dengan amat mangkelin (ya saya masih kecil, jadi saya mangkel, gitu) tapi, ya, namanya anak kecil belum paham kalo bukan orang tuanya yang mengarahkan terus siapa?

Bener, anak kecil terlahir di dunia ya dalam keadaan innocent tanpa dosa, yang membuatnya ini dan itu ya orang tuanya.

Lantas, kalau orang tuanya nggak hadir dalam membentengi pengaruh dunia buat anaknya, terus...?

Saya jadi inget perisai. Hehe.

Kemudian, saya kembali ke dunia nyata. Bingung dengan rongga yang besar di jiwa saya. Mencari arah ke mana saya mesti meneguhkan diri, kepada siapa tepatnya.

Tunggu.

Kenapa saya harus?

Ar-Rozzaaq

Bagaimana jika kecantikannya, ketampanannya, kelembutannya, kepopularitasannya, kesuksesannya di usia muda, kepintarannya, prestasinya, karya-karyanya, keindahan suaranya,

adalah Ia yang menunjukkan kebesaran-Nya?

--------------------------------------------------------------

Bila rezeki telah ditentukan sebelumnya, bukankah kita tak perlu iri pada rezeki orang lain, dan berlomba-lomba meraih rezeki yang memang diperuntukkan untuk diri sendiri?
Namun, mengapa manusia seringkali takjub pada rezeki orang lain, seringkali iri pada kesuksesan orang lain?
Adakah pemberitaan itu ialah motivasi,
atau malah merupakan refleksi hati,
bahwa bagi Allah, memberi rezeki pada makhluk-Nya hanya urusan seujung jari?