Posts

Showing posts from September, 2016

Pin Smala Nggak Dibawa Mati

"Kebanggaan itu ada di sini, dek. Bukan di jas almamater!" kata salah satu mbak yang berjalan agak jauh di sana, sambil menunjuk ke bagian yang saya yakini sebagai tempatnya jantung.
Kejadiannya baru tadi. Cukup membuat saya penasaran kelanjutannya akan jadi bagaimana. Jujur, saya salut. Namun kemudian, saya jadi bertanya-tanya. Saya ini berkaca-kaca karena haru, atau karena rindu?
Kabarnya sekarang di sana sedang masa regenerasi. Saya cuma bisa kirim doa, semoga amanah tidak salah memilih tuannya. Tsah. Kalimat yang sampai sekarang saya juga masih nggak ngerti maksudnya gimana. Semakin dipikir, semakin kebijaksanaan itu nggak muncul. Yang saya yakini, cuma, betapa kesempatan maupun pintu-pintu yang tertutup itu adalah nggak pernah sebuah kebetulan.
Saya sadar apa yang saya lakukan tidak sepenuhnya benar. Niat yang saya yakini sebagai suara dari hati, ternyata juga semudah itu goyah. Di tengah perjalanan, saya mulai mempertanyakan apa yang telah saya pikirkan dulu, hingga t…

Jangan Sombong, Mari Meminta

Hari yang berat, ya?
Saya rasa saya akan baik-baik saja hari ini, menikmati makan pagi yang cukup variatif meski kurang bergizi, dan bersiap awal sekali dengan hati cukup riang. Sampai kemudian tiba-tiba saya berbelok terlalu mepet, lalu sukses, lebam.
Masih segar di ingatan saya setelahnya saya hanya menghela napas, meminta ampun pada Tuhan, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di kampus-hutan, saya membuka telepon genggam lalu menelpon mama. Saya nggak kepingin nangis, tapi mengalir sendiri. Dasar gembeng. Iya, saya sakit hati si ganteng beset-beset bahkan penyok parah.. Saya merasa bodoh sekali, gitu saja nggak bisa. Tapi, entah dapat angin dari mana, saya tiba-tiba siap untuk ikhlas. Lalu teringat kisah Nabi Khidr melubangi perahu seorang nelayan yang dilewatinya. Pasti ada maksudnya.
Hari berlangsung biasa-biasa saja, bahkan saya cukup optimis dalam menghadapi jarkom mendadak yang meminta untuk membawa papan dada. Saya langsung berteriak syukur dalam hati karena seak…

Bila Tuhanku adalah Tuhan Yang Mahapengasih, mengapa Dia tega memerintahkan pendahuluku membunuh anaknya sendiri?

Ibrahim adalah seorang bapak yang lama tak dikaruniai anak. Ia pun berdoa memohonkan hal yang selama ini dirindukannya itu. Allah hanya butuh sekedipan mata untuk kabulkan pintanya, memberinya anak yang kuat lagi tampan, patuh lagi cerdas. Ismail namanya.
Bila kemudian aku mendapat hadiah yang amat kuinginkan dan kubutuhkan, dan telah lama dijanjikan ibuku, namun keesokan harinya ibuku memintanya kembali, sanggupkah aku memenuhi permintaannya untuk menyerahkan kembali apa yang telah kumiliki?
Ketika Ibrahim menyampaikan mimpi dari Allah itu, Ismail tak sekerling pun membencinya. Ia tak lari ke gunung, tak sembunyi di hutan-hutan gelap untuk menghindari rencana tak masuk akal itu. Ismail mencintai ayahnya, Ayah satu-satunya, yang ingin membunuhnya. Manakah yang lebih menyakitkan, kematiannya, atau perpisahannya kelak?
Ibrahim tak mungkin sanggup menggores bahkan sebatang lidipun pada leher anaknya! Bukan ini yang diinginkannya, menghabisi darah dagingnya sendiri demi perintah Tuhan yang…

Instrumentalia

Melihat lorong dan atap-atapnya yang menyirip miring. Menyapu peluh dari angin yang sepoi lalu sepi. Ketika suara-suara kemudian memanggil di kejauhan, Ia merasa dekat. Berbekal satu tarikan napas Ia lari. Tidak kembali.
Hangat mengepul dari cangkir seduhan kopi sore hari. Senja jatuh tak lama berselang, tinggal dingin dan bisikan memicu detak kehidupan. Tiba-tiba bunyi hujan. Mengurai kusut di pelupuk yang tinggal separuh bulan. Gelegak sisipan bumi membentur air bertetesan. Tinggal Ia dan suaranya yang tersendat, kebuntuan. Tak bertampung.
Ia belajar bahwa hati yang meminta hanya punya tiga pilihan : untuk segera terkabul, akan terkabul kemudian, atau dikabulkan dengan sesuatu yang lebih baik.
Seketika Ia hanya punya satu suara, pun disuarakan.
Harus bisa.

Pelestarian Budaya

Katanya, bonek dan aremania tak bisa bersatu.
Nyatanya, saya paling senang kalo sudah ketemu orang malang. Dan sidoarjo, gresik, mojokerto, sekitarnya lah.
Bahkan yang cuma sekadar numpang lahir di jatim saja saya sudah merasakan getar-getar keterikatan.
"Ngh kon,"
Awalnya saya sadar saya ngerem ngomong ala-ala. Kata teman-teman juga saya ga medhok suroboyo amat. Emang jowoan juga baru sma sih, kalo kata alivia gapantes ue ngomong njawa. Kagok.
Namun ternyata, semakin ke sini, semakin rek maupun kon meluncur begitu saja. Mungkin juga karna saya dalam keadaan mulai nyaman, jadi, ya, gitu. Hm.
Sedihnya, saya suka napuk mulut sendiri habis ngomong. Habisnya, atmosfernya jadi aneh. Mungkin, telinga teman-teman agak gatal, merambat ke hati yang agak luka juga mendengarnya. Jadi sungkan. Huhu.
Kemudian ada Sadam, yang sekos sama Zico. Kami belum saling mengisi buku angkatan. Bila bertemu, Ia berusaha berbicara kon, dengan ke-lampung-lampung-an. Saya jadi terharu. Rasanya seperti …