Pin Smala Nggak Dibawa Mati

"Kebanggaan itu ada di sini, dek. Bukan di jas almamater!" kata salah satu mbak yang berjalan agak jauh di sana, sambil menunjuk ke bagian yang saya yakini sebagai tempatnya jantung.

Kejadiannya baru tadi. Cukup membuat saya penasaran kelanjutannya akan jadi bagaimana. Jujur, saya salut. Namun kemudian, saya jadi bertanya-tanya. Saya ini berkaca-kaca karena haru, atau karena rindu?

Kabarnya sekarang di sana sedang masa regenerasi. Saya cuma bisa kirim doa, semoga amanah tidak salah memilih tuannya. Tsah. Kalimat yang sampai sekarang saya juga masih nggak ngerti maksudnya gimana. Semakin dipikir, semakin kebijaksanaan itu nggak muncul. Yang saya yakini, cuma, betapa kesempatan maupun pintu-pintu yang tertutup itu adalah nggak pernah sebuah kebetulan.

Saya sadar apa yang saya lakukan tidak sepenuhnya benar. Niat yang saya yakini sebagai suara dari hati, ternyata juga semudah itu goyah. Di tengah perjalanan, saya mulai mempertanyakan apa yang telah saya pikirkan dulu, hingga terjebak dalam kungkungan keterikatan hati pada satu nilai dari empat pondasi : cinta almamater. Saya mulai mengadakan alasan untuk memperkuat keberontakan akal, mendemo hati. Saya jadi anak durhaka berkemampuan nihil dalam menyeimbangkan kepentingan ego dengan kewajiban saya sebagai anak. Lalu, dimana kebermanfaatannya?

"Apa bisa dipahami? Sekarang, apa adek mau berjanji menerapkan nilai kepemimpinan dalam kehidupan adek sehari-hari? Adek janji? Mbak pegang janji adek."

Dan ketika saya mencari benda yang setia tiga taun selalu nongkrong di regio bagian sinister dari jilbab saya, dan nggak ada, saya tahu bahwa benda sekecil dan sefana pin smala sudah sewajarnya hilang. Saya nggak perlu mencurahkan kekesalan, membanting barang-barang untuk mencarinya misalnya, karena yang jauh lebih penting bukan seberapa lama kamu mempertahankan benda itu ada di genggamanmu, tapi seberapa kuat kamu mampu mempertahankan ruh yang kamu dapat dalam berproses bersama benda itu ke cerminan dirimu.

Saya slamane smalane.

------------------------------------------------------------------------

*post ini dibuat sekitar dua hari yang lalu. sekarang alhamdulillah pinnya udah ketemu. ternyata di surabaya. kok bisa, kujuga gatau. mungkin dia homesick. ok.

Jangan Sombong, Mari Meminta

Hari yang berat, ya?

Saya rasa saya akan baik-baik saja hari ini, menikmati makan pagi yang cukup variatif meski kurang bergizi, dan bersiap awal sekali dengan hati cukup riang. Sampai kemudian tiba-tiba saya berbelok terlalu mepet, lalu sukses, lebam.

Masih segar di ingatan saya setelahnya saya hanya menghela napas, meminta ampun pada Tuhan, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di kampus-hutan, saya membuka telepon genggam lalu menelpon mama. Saya nggak kepingin nangis, tapi mengalir sendiri. Dasar gembeng. Iya, saya sakit hati si ganteng beset-beset bahkan penyok parah.. Saya merasa bodoh sekali, gitu saja nggak bisa. Tapi, entah dapat angin dari mana, saya tiba-tiba siap untuk ikhlas. Lalu teringat kisah Nabi Khidr melubangi perahu seorang nelayan yang dilewatinya. Pasti ada maksudnya.

Hari berlangsung biasa-biasa saja, bahkan saya cukup optimis dalam menghadapi jarkom mendadak yang meminta untuk membawa papan dada. Saya langsung berteriak syukur dalam hati karena seakan diskenariokan, tadi pagi papan dada saya dibalikin mbak Intan. Padahal saya juga nggak kepikiran buat membawanya. Optimisme saya sempat terjun bebas ketika melihat hasil pengumuman responsi pelajaran selular. Ketika itu, di sebelah saya Tya, yang dengan cukup canggung menguatkan saya--yang dengan jauh lebih canggung menanggapinya.

Tapi saya masih berusaha positif ketika mencari tempat duduk yang cukup depan, namun dekat dengan ruang ambu pengawet. Saya agak suka bau ruangan itu, meski panas di saluran pernapasan dan di mata. Namun, baunya seperti bau antiseptik, atau mungkin itu memang bau antiseptik? Entahlah. Kemudian pengulangannya dimulai. Lalu, di situ saya merasa seperti bak mandi yang dikuras. Ini perumpamaan macam apa sih.

Keyakinan saya untuk stay cool stay healthy stay positive dipenghujung hari amat sulit untuk dipertahankan. Keluar dari ruangan itu, saya senang ada Khod yang ternyata membawa motosaikel, karena rasanya kaki saya sudah lemas hilang tenaga.

Saya juga senang Gita senang memeluk. Lalu kami, bertiga dengan Debs, meratapi hasil yang tak sesuai ekspektasi dalam pelukan bertiga. Saya rasa saya berusaha menguatkan Gita. Tapi kemudian dia makan dan aku beli es krim. Ada es krim aice di sini, enak lho.

Bernyanyi dan menggila bersama Otul sangat menyenangkan! Saya cukup gembira dan tertawa-tawa sambil bersama Grace juga, lalu hal-hal jadi terasa cukup, yah, mau gimana lagi. Saya sudah berkali-kali menghibur diri dengan berkata, ini yang terbaik dan saya yakin akan hal itu, dan saya tahu saya perlu lebih berusaha untuk menguasainya agar mampu menjadi bekal di kemudian hari. Toh buat apa lulus kalo nggak bisa apa-apa. Lalu, senja seakan tersenyum. Burung-burung berkicauan. Daun-daun berguguran. Yha.

Eits, tapi, kayaknya belum cukup sampai di situ cobaan yang tiba silih berganti. Hari sudah cukup gelap ketika saya memutuskan berbelok di RSJ, dan ternyata salah jalur tapi alhamdulillah tembus. Di tanjakan, saya sudah ketir-ketir waktu papasan, alhamdulillah bisa. Satu hal kurang bijaksana yang saya lakukan adalah suatu hal yang menyebabkan seorang pemuda memaki di jalan, tapi alhamdulillah juga tidak kenapa-kenapa sih.

Belum selesai juga, saya mepet lagi. Kali ini yang depan. Lalu saya sampai bingung ini kenapa gabisa jalan. Dinding. Saya agak lelah. Saya lelah banget. Saya nggak ngerti lagi. Akhirnya agak jauh dinding, tidak berani lagi. Saya jadi serba salah seperti raisa. Saya dah capek Kalau ada titik di bawah pasrah, mungkin saya masih di bawah bawahnya lagi. Nggak terdefinisi.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah, Allah senang dengan hamba-Nya yang meminta. Dan sesungguhnya bukan amal perbuatan maupun ibadahku yang membuat bisa masuk ke surga-Nya, melainkan ridho dari-Nya.

So, ya, saya yakin, meski saya rasa saya selalu nggak pantas untuk meminta apa-apa, saya tetap harus meminta pada Sang Khaaliq. Khusyu' memohon keselamatan dan lancarnya hari yang akan saya lalui. Karena bukankah Tuhanku mencintai hamba-Nya yang meminta?

Susah untuk menjadi positif di tengah kenegatifan. Tapi bahkan sebuah model atom tercipta dengan inti proton, dikelilingi sabuk elektron.

Terakhir, saya rasa menyibukkan diri dalam kebaikan dapat membantu saya mengurangi kerinduan.

Tolong jaga diri kamu ya sanifa, kami yakin kamu bisa.

Bila Tuhanku adalah Tuhan Yang Mahapengasih, mengapa Dia tega memerintahkan pendahuluku membunuh anaknya sendiri?

Ibrahim adalah seorang bapak yang lama tak dikaruniai anak. Ia pun berdoa memohonkan hal yang selama ini dirindukannya itu. Allah hanya butuh sekedipan mata untuk kabulkan pintanya, memberinya anak yang kuat lagi tampan, patuh lagi cerdas. Ismail namanya.

Bila kemudian aku mendapat hadiah yang amat kuinginkan dan kubutuhkan, dan telah lama dijanjikan ibuku, namun keesokan harinya ibuku memintanya kembali, sanggupkah aku memenuhi permintaannya untuk menyerahkan kembali apa yang telah kumiliki?

Ketika Ibrahim menyampaikan mimpi dari Allah itu, Ismail tak sekerling pun membencinya. Ia tak lari ke gunung, tak sembunyi di hutan-hutan gelap untuk menghindari rencana tak masuk akal itu. Ismail mencintai ayahnya, Ayah satu-satunya, yang ingin membunuhnya. Manakah yang lebih menyakitkan, kematiannya, atau perpisahannya kelak?

Ibrahim tak mungkin sanggup menggores bahkan sebatang lidipun pada leher anaknya! Bukan ini yang diinginkannya, menghabisi darah dagingnya sendiri demi perintah Tuhan yang tak dapat dinalar? Omong kosong. Pasti ada kekeliruan. Mengapa tak kau panjatkan kembali doamu untuk meminta keringanan itu, wahai bapak para nabi? Mengapa tak kau minta mukjizat lagi seperti ketika Allah kabulkan doamu dan memberimu Ismail? Tuhan pasti mengerti. Bukankah Ia tak membutuhkan Ismail, namun kau sangat membutuhkannya?

Mahasuci Allah yang telah mengaruniakan iman yang kuat dan kesabaran yang berlimpah dalam hati Ibrahim dan Ismail! Dan ketika Ibrahim tak mampu menggores kembali pedangnya pada leher Ismail yang tengah bertelungkup, Allah kemudian menggantinya dengan sembelihan yang amat besar.

"Allah tak pernah memerintahkan Ibrahim membunuh anaknya,
Allah perintahkan Ibrahim untuk membunuh kepemilikan atas anaknya."

Dan bahwa semua urusan adalah milik-Nya, akan kembali pada-Nya, sampai kapan mempertanyakan keabsahan perintah-Nya, dan mencari-cari alasan untuk berkelit dari kewajiban menyembah-Nya?

Kami dengar dan kami taat, ya Allah.

10 Dzulhijjah 1437 H
Lebaran qurban pertama di negeri Allah bagian Surakarta. :3

Instrumentalia

Melihat lorong dan atap-atapnya yang menyirip miring. Menyapu peluh dari angin yang sepoi lalu sepi. Ketika suara-suara kemudian memanggil di kejauhan, Ia merasa dekat. Berbekal satu tarikan napas Ia lari. Tidak kembali.

Hangat mengepul dari cangkir seduhan kopi sore hari. Senja jatuh tak lama berselang, tinggal dingin dan bisikan memicu detak kehidupan. Tiba-tiba bunyi hujan. Mengurai kusut di pelupuk yang tinggal separuh bulan. Gelegak sisipan bumi membentur air bertetesan. Tinggal Ia dan suaranya yang tersendat, kebuntuan. Tak bertampung.

Ia belajar bahwa hati yang meminta hanya punya tiga pilihan : untuk segera terkabul, akan terkabul kemudian, atau dikabulkan dengan sesuatu yang lebih baik.

Seketika Ia hanya punya satu suara, pun disuarakan.

Harus bisa.

Pelestarian Budaya

Katanya, bonek dan aremania tak bisa bersatu.

Nyatanya, saya paling senang kalo sudah ketemu orang malang. Dan sidoarjo, gresik, mojokerto, sekitarnya lah.

Bahkan yang cuma sekadar numpang lahir di jatim saja saya sudah merasakan getar-getar keterikatan.

"Ngh kon,"

Awalnya saya sadar saya ngerem ngomong ala-ala. Kata teman-teman juga saya ga medhok suroboyo amat. Emang jowoan juga baru sma sih, kalo kata alivia gapantes ue ngomong njawa. Kagok.

Namun ternyata, semakin ke sini, semakin rek maupun kon meluncur begitu saja. Mungkin juga karna saya dalam keadaan mulai nyaman, jadi, ya, gitu. Hm.

Sedihnya, saya suka napuk mulut sendiri habis ngomong. Habisnya, atmosfernya jadi aneh. Mungkin, telinga teman-teman agak gatal, merambat ke hati yang agak luka juga mendengarnya. Jadi sungkan. Huhu.

Kemudian ada Sadam, yang sekos sama Zico. Kami belum saling mengisi buku angkatan. Bila bertemu, Ia berusaha berbicara kon, dengan ke-lampung-lampung-an. Saya jadi terharu. Rasanya seperti ketemu orang indonesia waktu jalan-jalan ke eropa. Bangga. Feels like home. Halah. Apasi.

Teman-teman plat N juga membantu banyak dalam mengobati rasa kangen saya terhadap logat. Kangen medhok. Kangen kasar-kasarnya.

Yaudasih. Yang jelas, saya emang ga merasa setres, tapi kayaknya tubuh saya udah berteriak-teriak menunjukkan gejala butuh istirahat.

Nginjek kopling ae gemeter

Maaf ya, saya sering banget ngomongin topik ini. Habis, ah, sukar digambarkan bagaimana rasanya. Rasanya bagi saya. Seperti... rendang padang rasa semur. Entahlah.

Mungkin, pergi ke negeri lain bisa jadi salah satu cara untuk membuat generasi penerus bangsa jadi melestarikan budayanya. Ada cinta, dan urgensi yang akan kita dapat ketika menjauh dari budaya itu sendiri. Hm. Cool.

Sudah, semoga Allah selalu menjaga kita. Hamasah!