Healing Incantation

langit kampus negeri dongeng

Jadi ceritanya, aku sudah berusaha menceritakan sesuatu di sini sejak dua hari yang lalu. Namun, tidak ada cerita yang keluar. Kemudian aku mencoba mencari masalahnya di mana. Mungkin karena aku jadi jarang sekali menulis akhir-kahir ini, kurang membaca selain data-data jurnal ebm dan obrolan ngalor ngidul di jendela percakapan sosial media, dan juga ada faktor lainnya seperti memang tidak ada yang perlu diceritakan. Sampai di titik ini, indikator itu masih rancu. Perlu diceritakan atau tidak itu realtif. Dan sepertinya, aku memilih untuk tidak menceritakan banyak hal.

Kurasa, masalahnya di sini adalah aku kurang fokus. Apa yang mau kulakukan setelah ini? Aku tidak tahu. Aku sudah punya rencana untuk belajar, membuka buku, menelaah soal, menjadi gadis pemberani yang ambisius dalam prestasi akademiknya. Tapi itu semua hanya angan-angan kosong. Karena tidak ada yang terlaksana. Aku terdistraksi ini dan itu, lalu ingin mencoba hal ini dan hal itu, kurasa aku cenderung mencari suatu hal yang lain yang klik dan membuatku bisa anteng seperti anak kecil yang diberi mainan biar duduk tenang. Kemudian aku bertanya-tanya, apakah ini suatu hal yang normal.

Bicara soal kenormalan, pernahkah kamu merasa ada jarak dengan dunia? Aku tidak pertama kali duduk dan makan sendirian, memenuhi kebutuhanku sendiri--belanja misalnya--juga bukan suatu hal yang baru. Namun ada suatu waktu di mana aku berada di suatu tempat yang notabene ramai, bersama aku dan diriku sendiri, kemudian masyarakat mulai berdatangan dan bertanya, "Sendirian aja, neng," lalu kujawab, "Enggak ini sama temen," sambil merangkul udara saking seringnya ditanya demikian. Aku belajar dari salah satu temanku di Surabaya sana bahwa menjawab apa yang orang lain ingin dengar akan jauh lebih mudah ketimbang menjelaskan apa yang kamu rasakan. Toh, biasanya orang-orang hanya ingin tahu, atau basa-basi ajasih.

Di sini, di titik ini, aku pun terharu ketika sekumpulan orang dengan hobi, kesukaan, dan mungkin visi yang sama, berdiri di depanku dan berkata, "Kita di sini adalah keluarga." Aku terlampau bahagia sampai tidak sabar memberitahukannya pada dunia, meski pada kenyataannya hanya nengs yang bertanya, dan seorang kawan di ranah seni yang malah ternyata mengalami hal serupa. Aku berusaha menghubungi seseorang yang terpaut jarak melampaui lima ratus kilometer, tapi Ia tidak sedang ada. Aku mengutuk diriku karena sempat terbersit jawaban yang berbeda pada pertanyaan "Yang istimewa atau yang selalu ada?"

Dibanding dulu, aku tidak sesibuk itu. Prosentase hal-hal wajib dan pemenuhan hak-hak diriku lebih seimbang saat ini, mengingat sekolahku tidak dari siang sampai sore dan faktor-faktor lain yang menunjang. Kalau dulu aku beranggapan bahwa waktu senggang berarti banyak waktu untuk belajar, aku harus menelan kata-kata itu lagi. Bukan, bukan begitu cara mainnya. Dan aku rasa aku mulai paham dengan konsep waktu senggang dan waktu-waktu yang tertata.

Ketika diam, terlalu diam. Saat ramai, aku tak pernah setahan itu dalam keramaian bukan? Rasa-rasanya ingin ada yang sekadar menanyakan kabar, lalu mendengarkan aku bercerita tentang semua hal dan tidak kututup-tutupi. Giliran ada yang menyuruh bercerita, aku bungkam. "Gaapa fa, aku tau kamu susah curhat," katanya. Tapi, lalu apa? Lalu bagaimana?

Tuhan. Aku rindu masa-masa ketika hedon di kota besar hanya sebatas angkat-angkat kaki lima belas menit. Aku rindu menunggu di belokan biliton untuk pulang bersama F squad. Aku rindu nasi katering yang kurang enak di sekolah dasar. Aku rindu bermain sepatu roda di kamar di rumah dinas yang besar di dekat pesawat-pesawat terbang. Aku rindu, tapi tidak rindu. Aku ingin kembali ke masa lalu, tapi bukannya masa lalu tidak bisa diulang? Bahkan pukul 16.38 tanggal 12 Oktober 2016 saat aku menulis kalimat ini juga hanya sekarang saja, tidak bisa diulang. Jadi, boleh aku menangis sekarang?

Aku tahu ini hanya sebatas omongan tidak jelas dan tidak jenaka, ketika aku sadar apa yang kutulis, sesedih apapun itu, sebenarnya aku tak pernah sesedih itu. Aku tahu semakin ke sini semakin banyak pertimbangan dalam berbicara, bertindak, mengambil keputusan. Ini bukan sebuah surat minta pertolongan, apalagi wasiat seorang yang putus asa dan patah semangat. Aku bersemangat kok, aku baik-baik saja. Jadi jangan beri aku semangat, ya. Aku tidak bertambah semangat ketika kamu menyuruhku semangat. Bahkan, aku tidak suka disuruh-suruh. Aku suka melakukan suatu hal atas kemauanku sendiri. Jadi, ya, tahu sendiri kan.

Jangan hakimi aku dari tulisan ini, ya. Seperti kamu telah menghakimi jutaan takdir-takdir Tuhan. Menuliskan kondisimu saat ini adalah proses penyembuhan yang diperintahkan otak atas dasar refleks pertahanan dirimu. Kamu perlu sekali-sekali bicara dengan dirimu, lalu memenuhi kehausannya atas pengakuan, anggapan, dan penghargaan, bahwa apa yang kamu pikirkan, rasakan, dan lakukan, itu penting. Tolong. Jangan dzolimi pinjaman ini.

Akhir kata, aku tidak mau membatasi mimpi-mimpiku lagi. Aku harap kamu melakukan hal yang sama.