xidneppa

Terlepas dari itu semua, aku nggak pernah menganggap ini sia-sia.

Banyak hal yang, bukannya nggak bisa diungkapkan, tapi aku nggak tau gimana cara ngungkapinnya. Tentang sesuatu yang sangat kuat sehingga bisa membuat kakiku mau turun dari lantai tiga gedung fakultas hukum hanya dengan bergantung pada seutas tali yang nggak boleh diinjek. Lalu, mau-maunya juga kami berjogging ria mengitari kampus hutanku yang naik turun tiada tara. Pak satpam gedung A sering kami sapa di pagi hari yang masih buta, sekitar pukul empat lebih lima puluh waktu matahari malu-malu ngintip di sela-sela gedung PD 8 lantai. Setelah praktikum atau kuliah, kami pulang larut, masih dijejali materi di RK yang super dingin. Kami menyimpul tali di jas hujan untuk membuat pelindung, mempelajari gigitan ular yang berbisa dan tidak. Bahkan kami belajar memasang triase, meski praktiknya masih salah karena kami terlalu terpaku pada sakitnya bukan kondisi keseluruhan yang harus diobservasi. Menyusun kayu-kayu biar jadi kerucut, menepuk-nepuk pundak bapak-bapak yang ceritanya tiba-tiba jatuh di jalan lalu dilakukan basic life support. Aku udah kepingin nangis waktu nahan berat badan di sikut yang ketekuk setengah. Aku ditanya apa alasan ikut ini. Aku jawab aku nggak tau.

Nggak tau, aku mau aja. Harus ada alasannya? Aku suka. Halah, gombal, kayak Dilan. Tapi enggak, aku tau bahwa kalaupun harus mengerjakan laporan dan tugas, plus belajar lebih agak larut nanti, ini nggak akan menjadi sebuah beban. Pun bila waktuku akan tersita bersama mereka, aku nggak pernah menyesal.

Ini fantastis. Kawan, kalau kamu bertanya kenapa aku bisa bertahan tanpa alasan, jawabannya mungkin karena aku mau. Karena aku dengan senang hati melakukannya. Aku gembira seperti anak kecil di dalam sana. Dan, meski di antara kata-kata pendukung yang membuatku malu tetap saja ada dengung miring yang tak ada bagus-bagusnya, aku sadar ini bukan tentang penilaian mereka. Ini tentang aku dan jalan kecil yang didesain Tuhan untukku. Jalan kecil yang akhirnya buntu juga.

Akhirnya, ini semua sudah selesai bahkan sebelum aku bertemu orang yang akan ikut gembira mendengar ceritaku melakukan hal-hal yang diluar batas kewajaran seorang sanifa. Iya, hehe. Aku nggak sempat cerita. Kalaupun sempat, buat apa. Nanti saja deh, kalau sanifa jr. sudah besar lalu siapa tau dia akan melanjutkan mimpi emaknya. Malu nggak bacanya? Haha, iya, sama. Yaudah,

Sekarang, si emak belajar dulu. Biar kalo dia nanti mau beli keperluan kayak kupluk atau nesting, dia nggak perlu minjem atau nyewa.

Dulu dan Sekarang

Jangan mengocok botol tupperware tertutup berisi air panas karena tutupnya bisa mencelat dengan bunyi pop yang menyiprat ke seluruh ruangan, termasuk wajahmu yang lelah. Cuma intermezzo.

Saya pernah berdebat mengenai penggunaan tabung bekas rol film sebegai wadah korek api. Iya, fungsinya sebagai pelindung. Tapi, kenapa harus tabung bekas rol film? Mencarinya di mana saja saya nggak tau.

Packing kedap air juga jadi salah satu hal yang membuat saya tercengang. Kalau dulu mas aldo nggak mem-briefing kami di parkiran utara, mungkin pakaian saya sudah basah kuyup waktu mbak mas siram-siram cantik.

Pun ketika demonstrasi penggunaan carrier, mas zaka juga mengkritik botol minum 1,5L yang tergantung tak berdaya di kantong kecil samping yang rawan jatuh. Menggantung barang memang tidak diperbolehkan, masukkan saja semua di dalam. Kalau tiba-tiba minumnya jatuh, kamu mau minum apa, dek?

Saya kayak berjalan untuk kedua kalinya di tikungan yang sama. Nggak saya sangka bahwa ternyata itu semua, bahkan tercantum sedetail itu, di kitab kuning dua puluh lima ribu ambil di hasbona.

Saat pergi karaoke, saya bisa membayangkan putra putri pelajar smp negeri enam. Saya ingat dulu saya paling diam dan paling nggak tau mau ngapain karena bernapas saja saya fals.
Makan di d'cost, saya ingat udang dan nasi di kayun. Saya juga nggak ngerti pola pikir saya waktu itu yang masih kebawa euforia smp.

Tolong kondisi tubuh jangan diremehkan. Mungkin kamu nggak merasa lelah karena terlampau senang, tapi koordinasi tubuh sudah nggak sejalan. Bahaya.

Kamu menyesal udah membaca tulisan nggak jelas ini? Nggak papa. Pesan moralnya adalah : ketika kita nggaktau maksud dari suatu hal, bukan berarti hal tersebut nggak punya manfaat bagimu ke depannya.

Random Thought

Setelah sekian debit larutan downy yang mengalir, sarapan-sarapan yang terloncati, dan waktu-waktu hectic di bumi bagian persiapan responsi blok tiga, tau-tau sudah November saja. Lalu muncul pertanyaan yang nyaris berbisik di telinga, kamu mau jadi apa?

Kabar baiknya adalah, ia masih memberimu kesempatan berdemokrasi. Bahwa kamu masih bisa memilih. Pernah suatu waktu aku berdiskusi mengenai betapa bosannya mas-mas yang jaga tempat fotokopian, tentang bagaimana mereka membalik halaman-halaman yang tebal lalu memencet tombol yang sama untuk menghasilkan kopi, apalagi ketika mengkopi hal yang telah dikopi sebelumnya. Berulang terus. Seakan aku lupa bahwa bukan berarti pilihan selalu tersedia bagi setiap orang di muka bumi.

Ibu Kepala Puskesmas tempatku berkoordinasi dua minggu lalu sempat bertanya pada kami, mungkinkah ada salah satu dari kami yang berangan menjalani profesi yang sama. "Ah, kalau masih baru gini pasti mikirnya ambil spesialis. Coba nanti kalo udah semester akhir, mau lanjut belajar juga mikir lagi, kapan nikahnya?"

Sering juga beberapa dari beliau yang berilmu dan berbaik hati membagikan ilmunya, mencekoki kami dengan fakta-fakta bahwa : perjalanan ini tidak pendek, tidak berfoya-foya, tidak memberimu kenyamanan yang instan, dan pintu itu masih terbuka lebar untuk mengubah haluanmu secepat mungkin, untuk memberimu udara segar dan kebebasan dari tirani.

Positively speaking, secara tidak langsung, alam masih menyodorkan kami pilihan.

Tapi, bukankah di mana-mana kesuksesan memang tidak pernah instan? End of conversation.

Yang menggangguku adalah, ketika kamu berusaha sebaik mungkin untuk mencoba menjadi sebaik mungkin dalam suatu hal, namun orang lain tetap bisa melakukannya lebih baik darimu. Dan kemudian kamu menolak untuk melanjutkan langkahmu, lalu mencari potensi yang lain untuk menjadikanmu bisa lebih baik lagi.

Masalahnya di situ. Karena sebenarnya, kamu tidak perlu melakukannya untuk lebih baik dari orang lain. Kamu hanya perlu melakukannya untuk menjadi manfaat bagi orang lain.