I Have A Dream

Menjawab pertanyaanmu itu susah.
Tapi aku tidak harus selalu benar.
Ini bukan ujian, katamu.
Jadi aku hanya meluncur saja dengan jawaban,
kalau mikir nanti kamu kemalaman.

Waktu aku bangun keesokan harinya, aku bersyukur.
Matahari masih ada, Tuhan masih bercerita.
Cerita apa lagi yang akan terjadi hari ini ya, aku bertanya.
Aku pikir aku nggak akan bisa tidur malam sebelumnya.
Itu tadi cuma mimpi, atau semuanya nyata?

Meski aku menangkup kedua tanganku rapat-rapat,
atau menengadahkannya tinggi-tinggi,
menguncinya di sela-sela jari,
sembari memejamkan kedua mataku seperti mau mati,
aku tau kamu tetap nggak akan tiba.
Kamu kan bukan cenayang.

Tapi, kita memang nggak diciptakan untuk selalu bersama, kok.
Padahal inginnya sih begitu.
Aku di sini dan kamu di sana.
Kamu tetap milik emakmu, bapakmu, abangmu, mbakmu, opungmu, empingmu, keponakanmu,
emping saja ingin memilikimu.
Sayang kamu nggak doyan makan.

Hai, ini episode ke berapa, ya?
Kok aku baru mengerti.

Terima kasih ya kawan-kawan, sudah menyayanginya sepenuh hati.
Aku bukan apa-apa kok, kalau kalian mau mengerti.
Yuk, sama-sama kita menyongsong hari.
Closingnya apa ya? Sampai bertemu lagi?

Champion's Champagne

bismillah.

pemakluman hanya sebagai hadiah.

nggak ada hadiah sebelum tenaga terkuras.

nggak ada tenaga terkuras sebelum usaha keras.

cerdas.

say goodbye to those little sparks before the fire.

let the flame begin.

Surabaya, I'm in Love

Kalau dia sudah merajuk, sinar matahari terik ala pesisir udah nggak kelihatan lagi. Yang ada cuma mendung rasa pantai, dekat laut. Gedungnya tinggi-tinggi. Tengah malam masih ramai, dari kerlap kerlip pusat perbelanjaan yang lagi midnight sale, sekelompok begal yang kabarnya mangkal di merr, sampai lampu ruang tamu rumah anak ITS yang meski hari berganti kerjaan bukan kelar malah nambah.

Iya, Surabaya, I'm in Love.

Ini kali kedua aku pulang, dan kayaknya obat rindu nggak senyata lovastatin atau parasetamol. Tetap sendirian, tapi sendiri yang berkualitas. Karena bahkan kayaknya tembok lagi bicara sama aku, kangen gitu katanya. Ada entertainment news di NET dan TV itu nyala nggak terlalu sia-sia. Kayaknya gundukan baju kering belum diseterika ini juga rindu aku bergelung di dalamnya.

Hahaha, mengada-ada. Tetap sendirian tapi sendiri yang berkualitas. Nggak serapuh ketika aku harus percaya bahwa ada orang di luar sana yang pasti memahamiku cuman masih disimpan Tuhan. Di sini, aku tahu aku akan baik-baik saja.

Entah ini karena kamu atau karena ini rumahku. Karena delapan belas tahun bergelung di pelukan ibu atau cerita yang nggak bisa hilang dari jalan-jalan kota. Dan sekarang, hujan. Aku nggak tau kamu akan membacanya seperti lirik lagu nge-rap atau cuma sekadar sambil lalu tapi ini luar biasa. Aku rindu hingga tiap tetes mikroskopis embun pagi yang nggak pernah kutemui di kotaku Surabaya.

Semoga Dia Baca

"Iya, halo."
"Kamu ada waktu? Bisa bicara sebentar?"
Waktu itu matahari nggak kelihatan karena hujan. Jalan raya depan halte tempatku menunggu banjir sedikit. Di situ cuma ada aku dan hujan yang nggak berhenti-berhenti. Aku nggak lagi menunggu bus, aku cuma sedang berbicara di telepon sama dia.

Akhir-akhir ini, semua jadi rumit. Bodohnya aku yang masih membuka halamanmu padahal kita sudah nggak saling bicara, kawan. Ini bukan kisah cinta anak SMA, tapi nggak ada bedanya. Tiba-tiba aku ingin makan tempe.

"Sekarang, coba kamu jujur sama dirimu sendiri. Bener nggak apa yang kamu rasain kayak gitu? Bukan karena dia orannya keren jadi kamu mengada-ada?" kata Cherry waktu aku cerita sama dia. Aku harus bersyukur karena punya Cherry yang mau mendengarkan aku padahal dia juga punya masalahnya sendiri. Mungkin aku harus bersyukur karena orang tuaku beli rumah di sebelah rumah Cherry waktu kita masih kecil, jadi kita udah temenan sejak kecil dan nggak ada yang perlu kita tutup-tutupin. Kita udah saling percaya dan persahabatan kita nggak alay, kayak, kita udah saling ngerti satu sama lain. Tapi, inti masalahnya sekarang bukan di situ.
"Aku tau dulu aku sempet nulis di diari tentang ini, Cher. Bahkan aku pernah berdoa biar bisa sama dia. Tapi aku nggak pernah yakin sama diriku sendiri. Kamu tau aku bukan orang cantik atau kaya, bahkan milih baju biar stylist aja aku masa bodoh. Pinter juga cuma hoki-hokian aja, rajin nggak sama sekali. Aku kayak kutu kalo dibandingin sama dia, dan dia juga sinis sama aku. Pas itu. Jadi, karena aku orangnya antimainstream dan semua orang kayak ngefans gitu sama dia, aku jadi bilang nggak. Aku jadi nggak peduli lagi."
"Terus kamu jadi tiba-tiba peduli gara-gara ini?" aku cuma bisa ngelihat sebuah kantong plastik warna biru yang ditenteng Cherry di satu tangannya dengan nelangsa. Kamu nggak perlu tau isinya apa tapi itu dari dia. Aku mengangguk-angguk aja, nggak ngerti sama jalan pikiran sendiri. Cherry geleng-geleng kepala.
"Dia kan disukain semua orang."
"Iya..."
"Terus?"
"Yaudah."
"Yaudah gimana?"
Aku nggak tau, aku males ceritanya. Karena nanti pasti ada banyak spekulasi dan kesalahpahaman yang aku sendiri jadi nggak ngerti mana yang benar. Aku susah kalo ngomong, karena aku nggak suka dihakimi. Mungkin karena itu aku jadi nggak paham juga dengan keinginan diri sendiri.
"Yaudah yaudah, sekarang yang dipermasalahin apa?" akhirnya Cherry angkat bicara.
"Kayaknya dia sekarang udah sama orang lain."
"Terus kenapa? Bukannya kamu yang bilang kalo kalian nggak ada kecocokan?"
"Iya, iya... Iya kita emang nggak cocok karena sifat kita sama banget, jadi nggak ada yang ngalah."
"Terus?"
"Terus, ya, yaudah... Harusnya aku seneng kan kalo dia udah nggak kepikiran aku lagi."
"..."
"Ya, tapi...."
Cherry mengangkat gelas tupperwarenya yang isinya air putih, lalu dia minum beberapa teguk. Mungkin tenggorokannya kering karena nggak sabar dengan keinginanku yang mbulet.
Kalo kata Billy, ini bukan tentang iya atau tidak. Bukan hitam atau putih. Karena dia nggak bisa memilih, dan aku sebel karena dia nggak bisa memilih. Memilih artinya berkomitmen. Dan ternyata, sekarang aku juga nggak bisa memilih. Karena ini bukan masalah iya atau nggak. Nggak bisa dijelaskan. Semuanya rumit kalo aku mikir sendiri.
"Terus ini mau dibawa ke mana, Ca?"
"Nggaktau, Cher. Kalo jodoh nggak kemana."

Sekarang, tepat dua hari sejak percakapanku sama Cherry, aku lagi megang gagang telepon yang di seberangnya ada suara dia. Aku sungkan setengah mati karena dia pasti sibuk banget dan aku nggak ada apa-apanya dibanding semua fans dia di dunia ini. Aku bukan orang spesial, kenapa aku berani telepon? Bodohnya. Tapi yaudah, karena terlanjur. Aku kesal karena dia berubah.
"Iya, bisa. Mau bicara apa?"
Tuh, kan. Dia selalu nggak bisa menjawab dengan pas. Dia selalu berbicara pakai nada seakan kita nggak saling kenal. Dia selalu formal, dan aku jadi merasa semakin jauh dan salah tingkah. Harusnya ada alat yang bisa menjelaskan semuanya, biar nggak serumit ini.
Aku nggak tau mau ngomong apa dan aku nggak merasa penting buat mencoba menjelaskan ke dia jadi aku tutup teleponnya dan aku maki dirinya karena jadi orang kok nggak peka.
Lalu hujannya reda. Aku menatap genangan di bawah kakiku sambil kayak ingin menangis. Semua orang sangat sibuk dengan dunianya dan nggak ada yang tanya gimana kabarku hari ini. Lalu, kisah yang awalnya manis itu juga jadi pahit karena selain kita renggang, dia juga berubah. Aku takut dia kenapa-kenapa tapi aku bukan siapa-siapa jadi aku nggak perlu khawatir, karena fans clubnya dia lebih ahli dan mungkin lebih dia dengar untuk menjaga dia.

Tamat.