Posts

Showing posts from 2017

Menjadi Jagung

Image
Lucu karena baru hari pertama saja aku sudah kejepit pintu Bryan. Sakitnya nggak main-main, sobat. Langsung biru di belakang kuku. Untung cuma setitik. Sampai hari ini masih kebas, sih. Bahkan waktu itu sempat nggak bisa ngoper karena sebenarnya kena sedikit nyerinya nggak bisa dideskripsikan. Herannya, malam itu menangis bukan karena itu tapi karena dia pergi ke daerah istimewa bersama dia. Agak ketawa karena sakit di jari bisa ditahan tapi sakit di hati susah juga.
Tiba-tiba Kags datang waktu aku sholat, padahal pasti kelihatan kayak habis nangis. "Buat menghapus dosa," katanya. Sobatku yang kadang menggelikan itu sudah jadi menenteramkan.
Di hari kedua, Bryan harus berpacu dengan melodi seperti ambulans yang membawa pasien kekurangan oksigen ke IGD Moewardi. Mendaftarnya sih, panitia ospek. Pengalamannya malah pertama kali masuk RSUD. Ditambah, keinginan yang tinggi buat menolong orang. Tuhan, seandainya aku yang saat itu lagi pakai PDL, apa aku sanggup setenang itu meng…

Kesal

Kamu adalah semua hal yang aku ingin jadi.
Keluargamu lengkap, papih mamih dan kedua adikmu. Nenekmu juga sangat menyayangimu. Kebutuhanmu tercukupi. Sekolah favorit di ibukota. Olahraga oke, musik jalan. Cerdas. Teman-temanmu peduli. Kayak, nggak ada yang bisa membatasi kamu berekspresi : kamu punya segalanya.
Tapi, kamu juga semua hal yang aku benci.
Aku kesal karena tidak dihargai? Aku kesal karena body mist vanilaku pecah di malam hari? Aku kesal karena kamu bahkan nggak peduli dengan orang lain selain dirimu sendiri?
Itu semua tidak lain adalah kebodohanku, bukan kesalahanmu.
Aku mau menjadi apa yang aku impikan, aku mau anakku jadi apa yang dia impikan.
Aku kesal bukan main, kawan. Karena kegoblokanku.

Wish Upon A Star

Lagi nemenin Bryan mandi.
Dan betapa nyari uang itu susahnya minta ampun adalah ketika laman curah pendapat dan curah hati ini baru menelurkan seratus dua puluh tujuh rupiah sejak hampir sebulan dipasangi lapak orang. Seratus dua puluh tujuh rupiah saja, yang kalo berupa kembalian di indomaret pasti minta diikhlasin atau dapat permen, atau kebuang karena dompetnya nggak cukup buat tempat receh.
Bryan lagi disemprot air pasti seger banget.
Ada beberapa mimpi yang ingin kuwujudkan saat ini, di antaranya :
Satu, adalah mencari tempat mandi untuk Bryan yang bakal nyuci bagian dalemnya juga, dilap sampe bersih kalo perlu sampe sudut-sudut tersembunyi dari lekuk otot dia. 
Dua, adalah dapat jodoh seorang pengusaha sukses. Jadi, ceritanya, pada suatu malam yang syahdu, aku tenggelam dalam suatu pemikiran. Jodoh dan hal-hal lain adalah ditangan Tuhan, sudah ditakdirkan sejak dulu. Tapi tidak menjadi sebuah pantangan untuk kita berdoa bahwa dia adalah seorang pengusaha sukses, bukan? Kriteriany…

Elegi

Ukurannya sekitar 3x3 saja, dua jendelanya menghadap ke langit. Kadang, kalau sore tiba, yang terdengar itu suara anak-anak bermain sepak bola. Atau ibu-ibu yang rumpi sambil menyuapi anak-anaknya di kereta dorong. Kadang, pak RT berseru-seru meminta bantuan putri-putrinya mengangkut jemuran karena hari hujan. Kadang, ada suara palang pintu kereta api yang menutup dari kejauhan. Kadang, yang terdengar hanya deru kendaraan besar muat material bangunan, hingga dentum palu sahut-sahutan. Aku selalu berpikir bagaimana kalau bapak supir bisa melongok dari jendelanya lalu melihat isi kamarku. Ternyata, tidak setinggi itu.
Kalau pagi tiba, ayam-ayam jantan berlomba-lomba mengabarkan kedatangan malaikat yang turun di sajadah-sajadah hamba-Nya. Aku berselimut mimpi sambil mengeloni tiga teman kesayangan yang cuma sedekapan jari.
Ini malam, aku tidak ke kota tapi sangat... sangat lelah. Aku mematikan notifikasi, mengabaikan konfirmasi, membiarkan ghibli menari-nari di dinding kamar kosku. Aku …

Malam itu aku bilang sama Bryan, "Kamu senang nggak? Aku bahagia."

Kemarin, aku dan Bryan berkesempatan memberi tumpangan pada mbak-mbak Italia. Pukul 5 kami sudah tiba di Bandara. Ternyata, pesawatnya delay sampai setengah tujuh. Kami beli susu dan sholat maghrib dulu, aku cukup bangga karena mukenanya tidak bau.
Sebenarnya ini acara dari suatu organisasi yang aku tidak jadi siapa-siapa di dalamnya. Entah kenapa, dulu waktu awal semester satu semua orang pada magang sedangkan aku cuma gambling di satu UKM dan baru fix mendaftar di UKM lain. Siapa sangka di tengah jalan semua tenaga yang kucurahkan buat si UKM gambling ini cuma bisa jadi kenangan. Ya, gitulah.
Aku sangat senang berpetualang, meski ga hapal jalan tapi pake waze. Pertama kali ke bandara waktu jemput temanku fika yang bertanding baskekbol di fakultasku. Itu bukan kali pertama aku menunggu orang turun dari pesawat, tapi rasa bahagia dan senyum dari telinga ke telinga waktu lihat sosok dia benar-benar gabisa kulupakan. Padahal fika, belum jodoh.
Mbak-mbak Italia ini datang jauh-jauh ke I…

Karang

Tidakkah kamu lihat rambutnya yang lusuh terpapar sinar matahari? Di keningnya membanjir peluh sebiji-biji jagung. Wajahnya coreng-moreng dihantam asap knalpot, pakaiannya satu itu saja dari pagi hingga petang.
Tapi, kawan, bahunya itu tidak pernah jatuh. Kakinya kokoh melawan panas aspal, tangannya gagah terkepal menantang langit. Tidak sedikitpun pandangan matanya yang tajam berubah bingung.
Dia anak besar di jalanan.
Idealis. Bukan tabiatnya kalau tidak memperjuangkan hak, sekecil apapun. Bahkan saat sebongkah batu raksasa menghadang jalan, Ia susah-susah menghujaninya dengan tinju sampai hancur. Keras benar isi kepalanya, sampai gunung tak sanggup membujuk.

Tapi, entah kenapa, untuknya dia luluh.

Dear Diary

"Kamu kok nggak menulis lagi?" kata teman-teman.
Ada banyak hal yang berlalu selama beberapa hari kita nggak ketemu dan akhirnya ini momen yang tepat untuk kita bicara. Aku udah lupa gimana rasanya jadi sanifa, mungkin karena terlalu banyak ngomong sama orang sehingga waktu membaca tulisan dalam hati itu bukan suaraku tapi suara mereka. Aku juga lupa caranya nulis.
Kemarin lusa, aku berada di suatu titik yang senang tapi sedih. Antara kuat dan lemah kayak tauwa. Lupa gimana, akhirnya bertanyalah aku pada salah satu teman via chat tentang harinya. Aku lupa dulu sering bilang "how's life" ke siapa dan siapa yang duluan mulai, tapi kemarin waktu aku tanya ke temanku yang ini sebut saja Melati, tetiba saja rasanya teramat sedih.
Dia bercerita panjang lebar tentang harinya, hangout bersama keluarga dan beberapa konflik ngambek-ngambekan sama adek sepupunya.
Aku lupa siapa orang terakhir yang nanya gimana hariku lalu berkhir dengan kuceritain panjang lebar tanpa ada…

Inspirasi

Ini lucu karena besok adalah hari ujian dan dia malah sibuk mencoba peel-off mask--yang tentu saja nggak berguna untuk menghilangkan bekas gigitan nyamuk di bawah mata.
Setelah membuka situs permainan online dan macam-macam jejaring sosial, tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiran : kenapa tidak cari hal nyata yang berguna saja?
Dua jam berikutnya, dia duduk terpana mempelajari guidebook tentang menulis CV dan Cover Letter sebagai bekal mengirim aplikasi dalam melamar kerja di perusahaan.
Sampai di suatu titik, dia seperti sudah tidak punya harapan untuk melanjutkan. Karena hari sudah malam dan setiap satu huruf adalah sepersekian detik dari waktu belajarnya yang terbuang. Keyakinannya di awal bahwa "Ini adalah petunjuk dari Tuhan!" mulai memudar. Dilemanya dalam menjadi seorang anak manusia yang kurang kompeten dan miskin prestasi semakin menjadi-jadi.
Lalu, di sanalah Aufa.
Kemarin malam, temannya yang kemide itu sudah menyentil dengan komentar to the point "gausah…

Dan Yak

there's so much i want to tell you that day things i regret i never say we never know when or where we'll ever meet again you sure talk much i dont have any chance
when i woke up this morning my tears broke down just the thought that you can't always be there anymore movies aren't your favorite but spending time with you is always mine
and the rest is about how grateful i am to live a wonderful life as the time you walk into it
--did you realize that we've changed so much?
all those hardships you've been going through all those spectacles coming so far hope you'll always had the strength know you are.
-------------------------------------------------- "jagain jodoh orang dong," "emang kenapa?" lalu aku gabisa jawab.
Image
can't fit in anywhere?

Dimana Kita Bisa Berbagi Kesedihan?

Aku selalu beranggapan bahwa berbagi itu satu paket dengan kebaikan. Berbagi ilmu, berbagi bekal, berbagi senyum saat berpapasan di jalan. Orang dengan senang hati menerima.
Lalu, di mana kita bisa berbagi kesedihan?
Tidak semua orang mampu menampung apa yang jadi beban berat orang lain. Pun tidak semua orang mau. Ada jalan sendiri di tiap-tiap langkah kaki, bukannya tidak peduli.
Selama ini, kupikir masalah itu yang kita panggul di punggung. Oleh karenanya, semakin banyak kita bagi pada orang-orang maka akan jadi ringan.
Tapi, masalah itu ternyata bisa berupa gunung. Kita tidak memikulnya. Kita membawa diri sendiri untuk menghadapinya.
Ada banyak kehilangan dan ketidakadilan yang tidak berujung. Teman-teman yang tidak selamanya jadi teman, orang-orang yang kamu pikir bisa mengulurkan tangan untuk menguatkan waktu kamu nggak sanggup berdiri, tapi nggak ada.
Kawan, coba tanya pada diri sendiri, memangnya kamu mampu untuk jadi selalu ada 24/7 buat orang-orang di sekelilingmu?
Kesedihan…

Keputusan Keukenhoff

Pada suatu pagi di dunia Tabi.
"Kamu mau pergi ke mana?"
"Suatu hamparan di Lembah Anahuac."
Berbekal setangkup roti dan sebotol susu, Keukenhoff menyusuri 200 km perjalanan darat ke Utara. Ia meninggalkan Shakira dan Celestine, kedua adik perempuannya, melambai-lambaikan sapu tangan yang basah sampai punggungnya tidak terlihat lagi.
Sebongkah batu berukuran raksasa menutupi satu-satunya jalan yang ada. Merupakan dua hari lamanya untuk mengambil jalan memutar. Keukenhoff hanya berdiri di tengah jalan tanpa menentukan pilihan. Termangu.
Kata-kata Bapak terngiang di telinganya, "Isi perutmu saat lapar."
Ia tidak lapar. Jadi, Ia kembali memandangi batu yang tidak bergerak.
Mereka saling pandang hingga dua hari berlalu.
Keukenhoff memutuskan kembali ke rumahnya di dunia Tabi.

Darkness

Ghost stories.
Waktu itu di Rumah Makan Padang Sederhana dari arah Malang. Hujan. Si Eneng update Path sambil nangis-nangis gajelas. Cape dy.
Ternyata sudah hampir dua tahun. Gila, makinya dalam hati. Baru begini baru bisa biasa saja. Tapi, memorinya jadi bercabang dua : satu teman yang bisa terbang, duanya yang mesti dimaafkan.
Akankah teman yang bisa terbang hanya jadi teman saja?
Parah, batinnya syahdu. Dia hempaskan manik-manik ajaib beedos dari Jembatan Suramadu. Seekor putri duyung melambai dan berkata, "Terima kasih!" lalu pergi.
"Aku mengantuk," kata Eneng saat nonton Wonder Woman di bioskop. Dia ingat mulai dari Catching Fire sampai Arrival, Koe no Katachi dan juga Toy Story. Taman Kunang-kunang pun Ultramilk stroberi. Bali.
Akrabnya dengan garis nyaris mati. Pernah jantungnya ngilu semantep Bu Siska saat nguleni adonan kue.
Pernah.

Proyeksi

Aku mencium bau kamu di setiap hujan turun. Di setiap liter downy atau rapika warna biru yang menempel di bajuku.
Aku mendengar suaramu di sepanjang lagu-lagu. Beberapa kamu nyanyikan, yang lain kamu rekomendasikan. Juga, didering-dering telepon tengah malam. Waktu kita berbincang padahal besoknya aku ujian.
Aku tidak melihatmu. Kita tidak dekat. Kamu di bagian bumi mana, aku melangkah menjauh. Tidak ketemu.
Tapi, aku yakin aku bisa merasakan kamu ada. Dalam mimpi-mimpi, berenang-renang di realita.
Aku tidak mau bilang apa-apa karena aku takut salah. Aku cuma mau menyerah.

Bintang

Ini tentang teman angkatanku namanya Bintang.
Janggal sekali keberadaannya di abad 21.

Dia seperti mie rebus dalam mangkuk ayam jago, dimakan sore-sore waktu hujan, tanpa micin.

Wahai, Pejuang!

Sudah, ya?
Aku merasa kecewa dan ingin menangis. Harusnya bisa lebih baik dari ini. Bisa lebih maksimal. Alhamdulillah Allah masih mengizinkanku khatam di satu sisi, tapi aku sungguh malu karena dosa yang berguguran mungkin tidak sebanyak itu di sisi lain. Habis, masih kurang tuma'ninah. Padahal kan, dosa-dosa yang kita pikul ngglundung waktu ruku' dan sujud.
Allah, Engkau Maha Besar. Tahun ini, masih banyak urusan duniaku yang belum selesai. Bukan alasan sih sebenarnya untuk nggak all out, tapi di setiap malam-malam kemarin sungguh berat rasanya melangkahkan kaki meninggalkan materi yang belum kelar. Apalagi kalau sudah disuruh liqo'. Atau menghadiri semarak Ramadhan di kampus. Astaghfirullah. Astaghfirullahaladzim.
Tiada Tuhan selain Allah. Mungkin hikmahnya, di dunia perkalejan nanti memang nggak akan bisa aku memisahkan ibadah dan belajar. Bahkan belajar adalah ibadah juga. Mungkin Allah ingin aku merasakan bagaimana rasanya bagi waktu antara akhirat dan dunia di dala…

[Day 29]

[Day 28] Bocah Petualang

Helo semuanya.
Aku habis berkelana sejauh 12,6 km (kata waze) sendirian. Tidak ada yang spesial, hanya saja waktu lewat Rungkut dan bertemu sebuah mobil aku jadi ingat sesuatu.
Jadi, ini bukan rumah baru tapi rumah lama yang jadi baru. Entahlah, mama punya banyak rencana dan cuma sedikit bagianku di dalamnya sehingga aku hanya berharap yang terbaik saja. Semoga nanti kehidupan mapan di rumah tingkat dua dengan desain minimalis dan jendela sangat tinggi masih menungguku di Jakarta.
Apaya, di sini banyak nyamuk.
Lebaran nanti saudara-saudaraku datang ke mari, aku harap mereka sudah cukup dewasa untuk membiarkanku belajar demi remed.
Sebentar lagi lebaran. Sebaiknya aku bersiap evaluasi diri.

[Day 27] Dewasalah

Kemarin, aku ingin menangis karena terharu melihat adik-adik. Mereka masih sekecil itu, tapi sudah berat sekali tanggungannya. Aku baru ingat bahwa perjuangan di sana tidak sebercanda itu, dan meski akhirnya aku mempermalukan diriku, aku tahu kesempatan belajar seperti itu cuma sekali seumur hidup. Cuma butuh kurang dari dua semester untuk mengubah mereka menjadi para dewasa. Aku ingin berbicara, ingin membantu sebisanya, tapi bahkan kini aku sudah ragu pada keyakinan diri.
Bodohnya aku yang tidak bisa jadi mbak yang baik buat mereka. Sempit sekali pemikiranku karena masih berpikir diri sendiri, kepuasan pribadi, segalanya tentang aku meski sebenarnya tidak begitu. Aku tahu aku sering menolak terjun karena aku tidak punya kemampuan! Dan semakin kukuh apa yang aku pikirkan sampai membentuk diriku yang sekarang. Tapi, kemarin, Rizky bilang banyak hal yang aku tahu itu benar tapi nggak pernah terpikir gimana cara menyampaikannya. Aku ingin adik-adik jadi tangguh tapi diri sendiri sering…

[Day 26] One Shot

Aku bermain Choices, salah satu gubahan Pixelberry dan itu cukup menyenangkan.
Aku membangun peternakan dan perkebunan tapi sekarang sudah masuk winter dan tumbuhan tidak bisa tumbuh. Hati Mary belum merah.
Benar kata mama bahwa ketika kita pelit pada diri kita sendiri, akan ada banyak hal lain yang tetap saja menghabiskan duit.
Satu yang aku tahu pasti adalah bahwa kamu nanti bersekolah di jakarta atau jepang, titik.

[Day 25] Aja

It's fun to do nothing.

[Day 24] Ukuran Jahim

Aku nggak pamrih. Cuman mau memberi peringatan bahwa apa yang ada di muka bumi itu sebentar saja dan nggak dibawa mati kecuali tiga.

[Day 23] "Jangan Coba-coba Sama yang Beda Prinsip"

Aku bener-bener baru sekitar 9 jam di sini dan udah kangen Solo.
Kenyataannya, sebanyak apapun waktu yang kuhabiskan untuk menyapa Pak Wiji sepulang sekolah waktu itu nggak berbekas apa-apa. Lapteng, yang siang malam jadi saksi ketawa-ketawa sampe nangis-nangis juga nggak membuatku terpana. Puncaknya, waktu menyanyi smalane dan kpb, aku cuma asal menyanyi saja.
Mungkin aku sudah menjadi manusia dewasa dan bermain realita.

[Day 22] Pergi ke Semarang

Aku senang karena setelah satu semester berlalu akhirnya kamarku lega juga.

[Day 21] Iblis

Kata kachol dari buku tafsir, Iblis dulunya adalah pemimpin para malaikat. Kemudian dia sujud beribu-ribu tahun pada Allah, lalu jumawa. Nggak mau sujud sama nabi Adam yang Allah jadikan ujian. Akhirnya iblis jadi laknat.

Kadang, kita merasa dah yakin akan posisi diri, yang paling benar dan paling nggak ada dosa. Lalu Allah kasih sentil sedikit dan kita nggak yakin akan Allah tapi yakin pada kemampuan diri. Padahal, diri ini bisa apa, sih?

[Day 20] Declaration of Graha Annisa I

Pelajaran hidup kali ini disponsori oleh kopi hari indah.
Sejujurnya saya percaya nggak percaya dengan cerita bahwa kopi bisa membuatmu begadang. Karena banyak mudhorotnya, saya lebih memilih untuk tidur saja bila ngantuk. Namun, karena kemarin merupakan hari yang sangat abstrak di mana saya luntang-luntung gajelas dan nggak fokus sama sekali untuk belajar, akhirnya malam harinya saya putuskan meneguk segelas. Minumnya sih sekitar jam 9an, mulai belajarnya jam 12. Dan sekarang jam 4.
Memang nggak tidur sih, tapi bukan karena nggak ngantuk. Saya tahu regulasi homeostasis tubuh saya sudah memberontak dengan respons pusing-pusing alay dan pandangan mengabur. Namun, itu semua ditekan oleh perut sebah. Mungkin ada infeksi gastroenterokolitis oleh enteropatogenik.
Saya sadar itu nggak ada nyambung-nyambungnya tapi tolong jangan dihakimi dengan memenuhi kolom komen seperti masyarakat pada umumnya. Mengingatkan saya pada betapa saya bisa sampai ketawa-ketawa kalau baca komentar di webtoon lu…

[Day 19] I Refuse to Give Up

Memasuki waktu-waktu gila dalam rangka UB infeksi tropis.
Harusnya cukup seru, namun rasanya seperti dipaksa mengenal satu angkatan dalam waktu satu hari. Nggak cuma namanya, tapi juga dia gimana cara hidupnya, kebiasaannya, tempat tinggalnya, semuanya. Tapi daritadi belum mulai mulai. Gangerti kenapa ga berselera.
Malah curhat. Paksa!

[Day 18] With Great Power Comes Great Responsibility

Biasanya jam segini saya masih berkutat dengan soal-soal tahun lalu atau materi-materi yang belum sempat diulang kembali karena belum selesai mencicil sejak kemarinnya.

Sekarang sudah, sih. Tapi ternyata nggak bisa bersantai juga karena tugasnya masih banyak belum rampung.

Happy happy shall we be, when we learn of ABC.

[Day 17] Press Conference

Iya, benar, saya nggak ingin accept follow request kalian karena kalian masih belum bijak untuk memilih atau simply tidak berpikiran terbuka.
Tapi ya mau gimana lagi akhirnya saya cuma bisa ngehide story sebagai tindakan preventif dari tidur kalian yang nggak nyenyak karena mikirin kelakuan saya yang mungkin nggak pernah kalian bayangkan sebelumnya.
Benar bila katanya setiap orang punya minimal dua muka, satu ketika bersama teman-teman dan satu ketika bersama keluarga. Saya selalu bermimpi bagaimana bila saya terlahir dalam lingkungan yang, gimana ya ngomongnya, agak selo sedikit, sehingga ketika saya melakukan hal yang menurut saya perlu ditanggapi dengan seluas-luasnya pandangan, saya nggak perlu merasa kecewa.
Mungkin itu yang dirasakan karin novilda, saat orang-orang mengecapnya ini dan itu karena dia berekspresi. Tapi, sebenarnya saya juga nggak mendukung juga kan ya kasian kalo ada anak-anak yang belum ngerti terus mengikuti mbak karin. Kita juga nggak bisa membatasi sosial med…

[Day 16] Rapat Merapat

Lalu setelah dijalani akhirnya berlalu juga kan.

[Day 15] Bulan Purnama

Hingga akhirnya hari berganti tapi kami masih sama-sama. Aku tahu ada suatu nasihat untuk menjauhi tongkrongan, tapi kali itu aku tidak mau.
Televisi yang tergantung di dinding TT adalah TV kabel, menayangkan film-film yang rasanya seperti ditinggal pergi mama waktu masih SD, jam 1 pagi tidak bisa tidur di kamarku yang berwarna merah muda lalu menyetel TV agar ada temennya. Rasanya akan selalu begitu dan nggak akan pernah sama ketika nonton TV siang bolong.
Teman-teman peduli pada aturan yang menjagaku tapi aku seakan tidak peduli. Kemudian kami pulang dan sekarang aku tidak bisa lagi tidur. Seperti mimpi tapi bukan mimpi. Aku tahu itu sangat buang-buang waktu tapi waktuku kubuang untuk momen yang nggak ada gantinya.
Bulan malam itu jadi saksi rindu kita.

[Day 14] UB, KK, Penelitian Psikologi

Beberapa menit sebelum 7.50 baru khatam soal-soal 3 tahun terakhir. Alhamdulillah ada yang keluar, tapi esensi UB adalah mengetes setiap detik yang kamu manfaatkan selama blok berlangsung. Berproses tidak sebercanda itu.
Senang bisa membantu mempermudah urusan mbak-mbak psikologi dalam surveynya. Mengerjakan 15 soal matematika yang mudah saja tapi lupa rumusnya. Kayaknya sudah bertahun-tahun sampai rumus volume bola saja lupa.
Yang paling ditunggu dari KK adalah kebersamaan angkatannya. Lucu ketika melihat orang-orang yang bermacam-macam sekaligus kesal dengan beberapa yang lain, sudah biasa. Aku tidak bisa tidak takjub pada dinamika keberagaman.
Kemudian ide gila membuatku percaya bahwa aku tidak sesyar'i itu. Sejak sebelum dapat sekolah sampai semester satu berlalu aku bak gadis bertaubat yang tidak tertarik pada hiruk pikuk dunia. Tiba-tiba menonton aksi Gal Gadot bersama teman-teman seperti mahasiswi banyak uang dan banyak waktu saja. Aku tersenyum sendiri karena berpetualang…

[Day 13] Friday the 13th

Ini nggak friday. Besok iya. Temanku ada namanya Fraidee. Dia cantik.
Bahwasanya aku nggak pernah belajar sampai sakit perut, itu ada benarnya. Lalu sekarang aku udah ngantuk, ingin tidur tapi pasti nggak bisa. Akan ada saatya di mana kamu perlu belajar untuk bersabar, meski itu artinya bersabar menjejalkan review materi semalaman suntuk.

[Day 12] Menghadapi Kegagalan

Yak semakin dekat dengan ujian blok.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, kita hampir tak bisa bernapas. Karena setelah ujian datanglah ujian yang lain. Sehingga, ketika kamu mau menyetop nonton drama korea, misalnya, karena mau ujian, kamu nggak akan pernah bisa nonton drama korea itu karena ujiannya nggak berhenti-henti. Jadi, harus bagaimana.
Lucunya soal ujian adalah, di malam sebelum atau pagi harinya saat ujian ada orang-orang jenius yang berkoar-koar bahwa mereka belum belajar. Padahal, waktu hasilnya keluar ya nilainya jauh di atas rata-rata. Memang rasanya seperti ada banyak sekali yang harus dipelajari, jadi sudah belajar kayak belum belajar. Atau itu hanya excuse saja agar nanti kalau nggak bisa setidaknya tidak di-judge bodoh, ya?
Yang aku percaya adalah bahwa remed merupakan suatu pembelajaran dalam hidup, di mana kita diajari untuk menghadapi kegagalan.

[Day 11] Bagaimana Mau Memberi Solusi Kalau Ilmunya Nggak Ada

Dulu kukira adalah konyol ketika pencurian yang marak di bulan Ramadhan dikaitkan dengan keinginan untuk mudik. Kalo ga punya uang, ya nggak usah pulang. Kalo nggak mau nggak pulang, ya nggak usah rantau. Kalo mau rantau dan mau pulang, ya nabung. Nggak nyuri.
Tapi, ternyata memang pulang adalah suatu hal yang penting dan mendesak. Bertemu keluarga, nggak cuma makan nugget atau nasi margarin tiap sahur dan berbuka, birrul walidain. Itu aku, sih. Anak kos semester awal yang lagi nabung buat liburan.
Aku mau menabung tidak hanya untuk liburan, sebenarnya. Juga untuk sound system, membenahi printer, membeli bensin, upgrade hardware agar bisa edit video, dan keperluan-keperluan lain yang penting tapi tidak mendesak. Sehingga keinginan makan bibimbap di Kimchi Resto pun Pizza Hut bersama Alivia adalah suatu angan yang mengawang dalam bunga tidur.
Barusan banget ku membaca suatu chat dari kating berbunyi "Luka bakar grade 2a paling itu. Bulanya dipecahin, kasih analgetik dan antibioti…

[Day 10] Besok Field Lab Terakhir Bersamanya

Aku membuat jariku terluka; mencuci kemeja putih lalu kelunturan; membuat mie tapi kelembekan; mengirim hal-hal tidak penting di group chat; melakukan hal-hal bodoh lain dan sangat ceroboh.
10 hari pertama sudah kelewat. Ramadhan seperti bola yang menggelinding di turunan. Aku masih berpikiran bahwa menjadi hebat tidak selalu berarti merelakan diri jadi aktivis serba bisa. Aku masih berpendapat mereka semena-mena dalam menaruh.

[Day 9] Oh

Hampir semua temanku yang jujur bilang kalau cerita ke aku pasti nggak seru, karena cuma kutanggepi dengan "oh" "hmm" "o gitu".
Trus aku kayak yaudalah ya gimana lagi ku juga gangerti harus nanggepin apa gitu? Padahal gaada niatan untuk kayak gapeduli lho dan malah seneng kalo diceritain.
Tapi ada satu temanku yang lebih parah kalau diceritain nanggepinnya ngeselin. Mungkin kita sama-sama ngeselin sih cuman dia lebih unpredictable aja jawabnya. Yap, ku belajar banyak darinya. Dan jadilah diriku yang independent dan berbahagia layaknya hari ini.
Aku sudah pernah dengar kisah anak yang ibadahnya rajin banget tapi ga keterima ITB, trus malah jadi supir pribadi dan akhirnya jadi bos-bosnya anak-anak ITB. Pernah dijarkom di WA. Cuman, tadi, waktu diceritain ulang sama Mas Syukri di sebuah mushola kecil dekat rumah Kak Syayma, ku kaget karena jadi menitikkan air mata. Kalo udah gini, gimana bisa nggak sayang sama Allah?
Dan kemudian muncul lagi satu cita-citak…

[Day 8] Bryan

Maaf terlambat.
Sudah turun 3kg padahal baru ikut puasa 5 hari. Nggak berbuka maupun makan sahur dengan hidangan sebagaimana di rumah, tapi kalo inget saudara-saudara yang 'berpuasa tapi nggak tau kapan berbukanya', selalu miris dan ingin menangis. Saudara-saudara yang susah air bersih, atau nggak ada listrik, gimana tersiksanya? Adik-adik yang setiap hari rindu orang tua, tapi sudah nggak bisa untuk sekadar telpon saja karena sudah beda dunianya.
Aku ingin berbagi apa yang bisa kubagi. Aku ingin memberi apa yang bisa kuberi. Rasulullah seorang yatim piatu dari kecil dan aku baru menyadarinya. Aku rindu pulang dan berangkat sekolah bareng mama tapi aku harus tidak boleh menangis bila sekarang cuma ditemani Bryan.

[Day 7] Kesalahan Instalasi Listrik di Kosku Jadi Tidak Pakai AC

Sangat senang bisa berbagi dengan anak-anak di panti asuhan.

I love you, mom.

[Day 6] Tentang Pilihan

Aku tahu sambat ada baiknya dieradikasi saja dalam hidup, tapi aku sering nggak bisa kalau nggak sambat ke Alivia. Tentang kemarin, misalnya. Dan kemudian tanggapannya adalah "lek aku yo tak jawab fa : km kok ga menghargai pilihan org"
Balqis dan aku sering nggak makan-makan sampe malem gara-gara bingung mau milih menu apa. Sama-sama terserah, sama-sama nggak mau menentukan. Mungkin saking nggak appreciate-nya budaya kita pada pilihan, kita jadi terbiasa pekewoh alias sungkan atau malah males untuk memilih, dan mempertanggungjawabkannya.
Giliran ada yang berdiri pada suatu komitmen dalam hidupnya, kita laksana dewa memberinya label di sana dan sini. Suatu malam sepulang makan, seorang temanku yang udah pinter rajin pula, curhat bahwa dia nggak suka sama beberapa oknum yang memanggilnya "heh ambis" tapi terus "liat laporanmu dong" dan nggak bilang terima kasih sesudahnya. Lah what's wrong with you people.
Aku bukan penggemar Demian maupun dunia persul…

[Day 5] Ada Semangat yang Terselip di Celah Pintu

Setelah sholat subuh aku mengaji, lalu tidur lagi karena ternyata remednya jam 1 siang. Belum apa-apa sudah buruk mimpinya--aku berjalan-jalan di kompleks perumahanku di Surabaya dan nggak ada satupun kehidupan, kayak udah ditinggalkan. Waktu cahaya matahari mengintip dari balik gordyn, aku nggak punya pilihan selain bangun dan melanjutkan belajar. Ternyata, ada semangat yang terselip di celah pintu kamarku. Pasti dari Kagary. Mau kusnapgram tapi nggak jadi, cukup senangnya di dalam hati.
Kemarin malam juga Gita memberi semangat. Nggak tahunya, pagi tadi dia mengirimkan lagu yang suka kunyanyikan karena belajar parasit : cacing-cacing di perut, curi semua nutrisi. Versi Gita lebih syahdu, dengan tambahan "tapi tak perlu takut, ada Allah" di akhir bait. Dasar, fetus polos tak berdosa.
Ada kalanya dunia begitu dingin sampai-sampai kamu merasa tidak ada lagi harapan. Padahal, selalu ada bahagia di titik-titik yang tersebar di muka bumi. Aku merasa lebih hangat meski masih jauh…

[Day 4] Dituntut Macam-macam Padahal Bukan Tuhan

Sebenarnya, aku merasa tidak enak pada dosa-dosa masa lalu. Sebagai seorang mantan manusia yang suka mencolot ke sana ke mari, mungkin orang mengiranya eman-eman kalau tidak dilanjutkan. Terus ilmumu itu dibuat apa kalau nggak kamu gunakan? Tapi, bahkan aku sangsi sekali kalau kalimat-kalimat persuasif itu ada benarnya atau cuma iming-iming belaka, karena jalan itu kan memang tidak bisa dilalui sendirian.
Aku sadar bahwa ada kebijaksanaan berpikir, pengalaman, dan pola pikir baru yang hanya bisa didapat ketika kita meluangkan waktu untuk berinteraksi. Namun, selalu ada dilema di tengahnya, antara ingin terjun tapi terlalu bodoh untuk bisa mengatur waktu dengan baik. Ingin bergerak tapi tertahan. Bukan, aku tidak dikekang. Sadar diriku yang mengekang.
Sudahlah, Sanifa. Kamu selalu kepikiran dan tidak bisa bilang tidak. Kemudian, mengada-adakan alasan setelahnya. Memperbarui niat, atau menggantinya mentah-mentah?
Aku sangat lelah sampai kasihan teman-teman yang memakan terang bulan di …

[Day 3] Percaya Bahwa Cahaya Masih Ada

Aku mengawali hari dengan menghibur diri bahwa malam ini, semua bakal berlalu.
Ada tiga acara yang jamnya tabrakan menjelang maghrib, dengan tiga tempat dan tiga kepentingan berbeda. Nggak perlu ditanya, kesemuanya minta diprioritaskan. Sebenernya mudah saja kalau aku menjadi masa bodoh dan pura-pura ketiduran, tapi aku nggak pernah kebayang untuk menjadi demikian. Alhasil, jadwal yang kugeser-geser sejak kemarin baru fix jam tiga sore, beberapa menit sebelum acara pertama.
Tapi, kemudian hujan. Alhasil, aku cuma bisa memenuhi dua kewajiban, satu setengah lebih tepatnya. Lalu, kaki udah kesel banget sampe kos, sehingga perut yang lapar nggak jadi terisi karena setelah menanak nasi aku nggak sanggup turun lagi buat goreng lauk. Sekarang, terdampar tanpa tenaga karena terkuras mikir konsumsi yang nggak jelas jluntrungannya.
Mengurus hal-hal ini dan itu memang cukup makan ati. Ketika chatmu di grup nggak direken atau dijawab tapi kayak "Yaampun kamu bodoh banget gitu aja nggak bisa…

[Day 2] Niat itu Bisa-bisa Aja Diperbarui

Nggak beda jauh dengan hari kemarin, alhamdulillah ku masih bisa menjadi manusia bermanfaat meski masih berkutat di sekitar kos dan barang-barang di dalamnya. Karena udah diwanti-wanti mas Aufa di akhir wawancara dulu buat menjadi tepat waktu di setiap keadaan, 10.59 aku udah nyampe di depan kos mbak Salsa di sebelah Pena. Kita emang janjian jam 11 buat bantu-bantu beliau pindahan. Alhamdulillah tadi setengah satu kelar.
Gara-gara dulu suka nonton Naruto, aku selalu bisa membayangkan chakraku terkonsentrasi di kedua tangan dan kaki waktu mengangkat barang-barang pindahan yang lumayan mantep. Mamaku bisa angkat-angkat galon, literally diangkat dan dibawa ke kosan dari toko sebelah, sendirian. Mungkin kemudian menjadi genetically inherited dan jadilah anaknya hobi buang-buang tenaga mengangkut barang-barang ke sana ke mari.
Mungkin ini salah satu cara Allah memberikanku jalan untuk sedekah, sedekah tenaga.
Kemarin aku bilang mau cerita tentang niat. Melalui pertanyaan-pertanyaan kecil …

[Day 1] Nilai itu Satu-satu Ditaneminnya Jangan Langsung Banyak

Aku tidak mau ini panjang-panjang jadi walaupun ada banyak yang mau kuceritakan, tentang jodoh misalnya, langsung kupersingkat aja.
Meski agak malas, aku membersihkan kamar juga akhirnya. Motivasinya tentu bukan karena katanya kamar anak cewek nggak boleh berantakan. Nonsense. Kita punya waktu yang sama-sama hectic terhitung sejak responsi parasit minggu lalu, lelaki maupun perempuan. Dan sebagai anak manusia yang masih banyak malasnya, alasan "kan kamu cewek" bukan suatu hal yang kuat untukku menggerakkan kaki membereskan baju-baju yang harus dilaundry. Jadi, ya, sebenarnya membereskan itu karena ada waktu dan tenaga yang tersisa. Dan penting untuk kesehatan. Jangan protes ae lah.
Lagipula, ini awal bulan mulia. Jadi rasanya indah kalau menghadapi semua dengan kebersihan yang merupakan sebagian dari iman. Masya Allah ukh, alhamdulillah dipertemukan lagi.
Kemudian, aku pun melipati baju-baju untuk dibawa ke laundry, membereskan buku-buku dari meja belajar ke lemari, melepas…

When you love someone but it goes to waste

Bodoh rasanya ketika terbangun dan memaksa kembali tidur, hanya karena tahu bahwa kebersamaan itu hanya bisa terwujud dalam mimpi.
Adalah bijaksana untuk menahan diri dari berkata "Apa ku bilang!" Tapi, bukankah menuruti perintah adalah salah satu hal yang patut dihindari? Sepertinya bukan tentang apa, tapi tentang apresiasi. Terima kasih sudah menunjukkannya, di awal saja, lalu pergi.
Memutar kedua bola mata karena muak pada percakapan komersil. Tidakkah kami terlihat seperti televisi? Terima kasih, menjadi tahu. Menambah inspirasi. Meski tak pernah absen untuk melewatkan saja, sambil lalu. Tak pernah peduli.
Dan bila akhirnya kata-kata itu kembali, hanya kata-kata saja tanpa arti. Tersentuh karena kebaikan hati, kesungguhan dalam setiap manis yang diberi. Tapi, ya, kosong saja, seperti keripik kentang. Benar-benar tahu bahwa ada jurang meski jarak sedekat nadi.
Tentu saja percaya, bahwa tidak ada manusia sempurna. Kita semua sudah lelah dengan segalanya, perlukah menggemb…

[2] Buku Laporan

Selesai responsi, kami harus ambil kartu dan buku laporan di meja depan sendiri. Karena malas kemriyek, aku cuma duduk saja dulu, toh juga nggak keburu-buru. Tau-tau, RK alias ruang kuliah udah sepi aja. Terus tiba-tiba dia dateng ke mejaku, sudah bawa kartu dan bukuku, "Nih," katanya, malu-malu. "Makasiyak!" sambutku, gatau malu.

Itu dulu, waktu blok yang lalu. Karena udah nggak tau mau ngapain kalo duduk, hari ini aku cuma nunggu kemriyek-nya reda. Pas udah agak kosong, ku maju. Di depan, kartu praktikum ke-dua yang ku cek adalah punyaku. Kemudian tinggal buku. Lah, kok nggak ada?

Ternyata ada dia, pas di seberang meja. Clingak-clinguk kayak anak ilang. Bawa dua buku laporan dan satu kartu praktikum. sambil sesekali ngeliatin bangku deretan belakang. Karena ge-er, kutunjukin kartu praktikumku, biar dia sadar, "Nyari ini, yak?"
Et dah cuma dilirik aja kartunya! Betapa malunya diri ini karena cegek. Lalu, dia pergi. Aku pun melanjutkan mencari, ini buku …

[1] Lipstick

Aku tidak pakai lipstick. Tidak tahu kenapa. Padahal kalau kamu sudah kuliah, itu sudah jadi suatu hal yang basic. Kayaknya setara baju, semua orang pake.
Suatu hari, kami sedang makan sebelum ujian. Karena makanku sudah selesai, dengan sukarela aku me-review-kan materi keras-keras. Tiba-tiba, ditengah penjelasanku yang amburadul, dia tanya, "Kamu pake ini?" sambil melakukan gerakan kayak memoles di bibirnya. "Nggak, kenapa emang?" kataku. "Enggak, cuma bagus aja gitu," katanya tanpa dosa. Teman-teman langsung ramai. Lalu ketawa-ketawa gajelas.
Mungkin dia cuma asal njeplak, atau ngeles aja seperti yang selalu dia lakukan. Tapi aku jadi tidak lagi merasa tidak normal karena tidak pakai pewarna bibir.

Ada Rezekinya Masing-masing

Image
Sepulang sekolah, saya asyik ngerumpi sama teman-teman yang raganya agak jauh di sana. Besok praktikum dua, sambil buka-buka buku buat ditulisin rencana kerja. Tiba-tiba ingat, tadi pagi ada pengumuman nilai pretest suatu lab yang agak abstrak. Lalu saya curhat.
Alkisah, ada seorang anak. Dia yang dikenal sama teman-teman di sana, makanya kadang kuceritakan ke mereka. Lalu ternyata dia itu anaknya yang kayak cuma ada di buku cerita, teladan gitulah intinya. Padahal ku ya cuma bilang aja, "Kesal dengannya karena nilainya bagus, tugas ga menyonto, padahal sehari-harinya amat sibuk, organisasi jalan" dan lain sebagainya. Memang beliau tampaknya hidupnya lurus-lurus saja, belum pernah kelihatan remed (setiap ujian kan ada nilainya terpampang nyata dengan nama dan nim di sebelah kirinya), tapi juga amat berdedikasi dalam aktivitas non akademiknya, juga memenuhi hak-hak tubuhnya dalam berjumpa Tuhannya. Seseimbang itu, kok bisa.
Namun, tetiba saja, pas setelah selesai mengetik cu…

Menjadi Siapa-siapa

Tulisan ini saya buat karena saya gatal melihat kata-kata "orang keren" bertebaran di mana-mana sampai kehilangan maknanya.

Hai.

Apa harus jadi aktivis ini itu dulu, baru bisa dibilang keren?
Tapi, tunggu.
Kenapa harus jadi "keren"?
Sebenarnya kamu membawa misi apa, sih. Kemakmuran dirimukah, kebanggaan tujuh turunan, masa depan yang mapan, suara yang didengar, jaringan luas agar bisa dimasukkan dalam kolom SWOT di CV sebelum melamar kepanitiaan yang cuma kecil saja? Atau upgrading diri agar lebih baik di depan khalayak, lebih baiknya ini tujuannya untuk apa juga, agar bisa menginfiltrasikan pemahamanmu, membawa seru-seruan, memengaruhi sekitar? Kamu merasa mampu menjadi tonggak, pentolan dari grup kecil hingga besarmu, bertanggung jawab atas segala yang kamu pikir, katakan dan perbuat, apa yang kamu yakini. Untuk mendapat tempat di masyarakat? Yang didengar, yang dipandang, yang penting? Atau cuma sebagai ajang pembuktian bahwa kamu yang lebih dipilih dari teman-t…

Berkeluh Kesah

Kemarin kapan itu, aku membatin. Karena salah satu temanku disuntik lalu menangis. Beberapa hari kemudian, waktu mau diambil darahnya buat praktikum lab pk, ternyata aku ragu juga. Aku bakal menangis tidak, ya?
Boro-boro disuntik. Ternyata, cuma panas saja sudah menangis. Kalau pas itu ada salah satu temanku yang upload foto bersama pacarnya dengan caption "Kamu adalah yang menyebabkan aku takikardi", kukasih tahu ya, takikardi itu rasanya nggak enak. Lebih tidak enak lagi kalau kamu tidak tahu sebabnya.
Ada sedih-sedihnya kalau sakit jauh dari orang tua. Gimana cara bilangnya? Malah gopoh seisi sancaka dimintain tiket go show pagi-pagi sama mama. Sepertinya ada suatu sawar darah otak yang menyawari segala macam komponen darah, jadi seperti muncul purpura di mana-mana sehabis ruku', padahal nggak. Iya, dunia berputar, tapi dunia lebih berputar sampai nggak bisa didefinisikan. Selebihnya cuma khawatir kalo nggak bisa pulang, banyak khawatirnya kayaknya, jadi nangis.
Ini …

SBMPTN

"Apa aku coba lagi aja ya, Bil?"
Beberapa waktu lalu, saya juga mengalami percakapan serupa dengan Timothy. Untungnya Allah segera mengirim sinyal positif tentang keberadaan saya di sini. Dulu juga begitu, waktu tanya pada Bila. Tuhanku memang tidak menyampaikan dengan tulisan melayang-layang yang tiba-tiba muncul di udara, maupun segala jenis mejik yang nggak disangka-sangka. Dia cuma menyampaikannya dari Bila, sampai Bila bilang "Aku lho ingat fa waktu dulu pengumuman kamu hilang sampe lama tak pikir kenapa-kenapa ternyata ngekhatamin."
Waktu masuk 25% siswa paling "beruntung" se-Smala, saya sempat down sedikit di pendopo waktu itu. Sedikit aja, sih. Ya, rasanya cuman kayak orang ditolak aja mungkin. Waktu sampe mobil dan bilang ke mama apalagi. Rasanya kayak diiris-iris karena gagal jadi anak yang membanggakan. Ditambah lagi dulu izinnya ikut tetek bengek segala macem karena "Memperbesar kesempatan dapet jalur undangan, ma," ya tentu saja se…