Posts

Showing posts from 2017

Sesak

Aku sudah hampir 20 tahun, tapi masalah terbesarku masih saja tentang berbicara.
Aku tidak pernah bisa benar-benar membawa diriku untuk mengucapkan apa yang ada di pikiranku, apa yang terjadi kepadaku dan di sekitarku. Entah karena aku tahu bahwa sia-sia saja untuk menyampaikannya, tidak siap untuk menghadapi respon yang tidak kuinginkan dan tidak sesuai ekspektasiku, atau sengaja kulakukan karena tidak ingin menambah beban orang lain. Ada kalanya aku menghabiskan waktu di depan cermin, menatap kedua mataku dan berbicara sendiri seperti orang gila. Biasanya itu cukup membantu. Tapi, siang ini aku melakukan hal yang sama, lalu terpaksa berhenti karena hidungku penuh umbel.
Dulu, aku puas saja dengan menenangkan diri bahwa memang tidak semua harus disampaikan. Tapi, kian kemari rasanya jadi jauh lebih sesak. Sesak yang sama seperti waktu itu saat aku berada di sekolah, berkeliling dengan hidung merah dan air mata tidak bisa berhenti. Aku mencoba tenang, tapi tidak bisa. Sampai Pak Kiri…

Calcanei

Hari ini aku responsi dua. Satunya anat, satunya lagi PA. Dari jauh hari teman-teman sudah sangat vokal menyuarakan kekhawatiran mereka tentang yang pertama itu. Sebenarnya aku sangat senang karena mereka mau berbagi kecemasan denganku, entah di balik itu apa yang mau dibuktikan. Aku tidak keberatan kalau itu membuat mereka lebih tenang. Jadi, aku khusyu' mendengarkan mereka merengek atau menarik-narik lengan kemejaku. Cobaan ini berat bagi kami semua. Namun, aku merasa harus lebih tenang dari jiwa-jiwa yang kalut.
Bisa dan tidak bisa adalah hal yang lumrah. Ketika tidak bisa, maka kita berusaha agar menjadi bisa. Tapi, mau bagaimanapun juga, ilmu itu milik Tuhan semesta alam. Maka, di awal waktu belajar aku selalu berusaha tenang dan memohon pinjaman ilmu dari-Nya.
Saat ujian, lupa adalah sebuah bisikan. Maka, jangan usir bisikan itu dengan bisikan lain. Meminta ampun dan perlindungan dari bisikan adalah beberapa hal yang wajib hukumnya dicoba saat lupa.
Tapi, dari kesemuanya, a…

[3] Crista

"Kamu bohongin aku." "Bohongin apa se?" "Tadi bilangnya mau langsung pulang, nggak ke kantin. Ternyata tadi aku liat kamu di kantin."  "Yaampun itu aku ngasih laporan ke kelompokku," "..." "Yaudah maaf." "Maaf nggak merubah apa-apa yo." "Terus?" *merajuk sampe mampus* "Yaudah yaudah, tadi katanya mau belajar." "Yaudah. Ati-ati ya kalo naik motor jangan nabrak lagi." Beep. ... ... ... Kring! "Halo?" "Tadi lupa tanya," "Apa?" "Gimana tadi ujiannya, bisa?"

Roses

Image
Bulan ini baru berjalan enam hari; dia sudah seperti naik turun roller coaster sembilan belas putaran.
Waktu itu malam. Tidak pernah terbersit sedikitpun di benaknya bahwa menu makan malamnya hari itu yang cuma nasi bakar dan es jeruk, tempatnya memesan makanan-makanan itu di dekat pusat kota, serta lokasinya duduk di lantai dua berpenerangan kuning dengan pemandangan yang tidak metropolitan sama sekali, adalah malam paling indah sepanjang hidupnya tahun ini.
Dia tahu bahwa keputusannya itu akan mendapat banyak pertentangan, dan aneh rasanya ketika satu sahabat dan teman-teman yang tidak terlalu mengenal dirinya menyampaikan ucapan turut senang. Malam itu indah, dia memang bahagia, tapi bagian mana yang membuat orang-orang ikut senang? Beberapa hari setelahnya dia bingung dan merasa tidak biasa. Tapi cuma sambil lalu saja, mungkin memang begitu rasanya menjadi anak muda.
Kemudian, setelahnya tidak ada yang berbeda. Dia tetap menjalani hari-hari dengan biasa dan tidak begitu sadar bah…

Antagonis

Parahnya, aku benar-benar tahu, benar-benar paham, benar-benar udah nglontok luar kepala; dan malah benar-benar jadi orang yang biasanya minta dikremus karena gemes.
Halo, aku Sherafina. Aku tidak sepenurut kakak perempuanku dan suka bikin pusing mamaku karena ngeyel. Biasanya, aku berkelit dari kewajibanku belajar di bidang akademis karena prinsip hidupku adalah, "Buat apa kamu pintar tapi nggak bisa bersosialisasi?" lalu memaklumi diri dan menyangkal pernyataan mamaku, di antaranya "Kamu itu jangan banyak kegiatan, kalo sudah kegiatan kan jadi capek nggak bisa belajar!"
Tapi, pada suatu titik, hidupku berubah. Aku jadi belajar siang malam seperti kesurupan. Berkelit dari kewajiban berkumpul ini itu. Tapi, tidak selalu karena belajar juga, sih. Ada hal-hal yang bukannya aku bantu benahi tapi malah aku tinggal. Karena tanganku cuma dua, dan aku sudah malas menjunjung idealitas. Biar aku jadi si realis yang egois dan suka menghilang saja.
Tentu aku bisa! Sudah bany…

Hujan Pertama yang Kulihat di Bulan September

Ini tanggal 24 September. Aku sedang menerjemahkan jurnal tentang pengobatan antibodi monoklonal terhadap metastatic colorectal cancer sambil mendengarkan Payung Teduh di Spotify.
Lalu, hujan.
Selamat memasuki masa-masa paling dingin di kota Surakarta :)

Usaha

"Tapi alhamdulillah, saat kita mendapat cobaan yang bertubi-tubi seperti ini masih ada yang peduli pada kita dan mau mengusahakan untuk membantu, terimakasih mas mbak."
Kawan, dua setengah tahun yang lalu, aku tidak pernah yakin betul apa yang sebenarnya kita lakukan. Jalur koordinasi rusak betul. Aku menerima stigma dan label masyarakat bahwa apa yang kita lakukan salah. Aku mengusahakannya cuma setengah, terus meminta pada Tuhan biar beliau-beliau dibukakan hatinya, tapi mau dapat hidayah dari mana kalau kita bicara saja tidak.
Aku tidak pernah suka muncul di jajaran, atau lewat jalur-jalur lain yang pintas. Kupikir pasang muka berarti ketidakmampuanmu dalam memikat perhatian mereka lewat usahamu sendiri. Aku mau melakukannya sendiri. Aku cuma punya aku dan kekuatan Tuhanku. Tuhanku bisa segalanya, misalnya, menjatuhkan buah kelapa di kepala orang yang duduk di bawahnya. Apalagi membolak-balik hati orang. Seperti krabby patty.
Tapi ternyata cara kerjanya bukan begitu. Aku…

Glitch

Aku sudah membayangkan untuk pergi ke sebuah tempat yang ada ubur-uburnya. Beberapa kali aku mengecap rasa buah-buahan di ujung lidah, naik papan luncur di jalan pedesaan yang berkelok. Tapi, sebenarnya kesemuanya cuma imajinasi saja.
Kalau dulu aku banyak menghabiskan waktu membicarakan orang lain dan kehidupan mereka yang begitu sempurna, akhir-akhir ini aku sudah tidak punya bahan. Mungkin satu atau dua tahun lagi instagram akan benar-benar membuat penduduk bumi abad ini jadi yang paling resah.
Teman-temanku sangat total dalam menjalankan pengabdiannya pada masyarakat. Aku? Sibuk memberontak seperti dalam perbudakan. Di negara ini, manusia tidak bisa sembarangan melakukan hal yang diinginkannya. Sebenarnya di negara manapun pasti ada aturannya. Dan di komunitas-komunitas, suku-suku, keyakinan masing-masing. Manusia tidak pernah diciptakan untuk mencipta aturannya sendiri. Kita dianugerahi otak dan akal tapi tidak pernah berarti menjadi Tuhan. Buah pikiran kita hanya sebatas bagaim…

-

Aku masih tidak merasakan apa-apa. Seperti semua rasa kesal dan takutku tidak pernah ada. Aku merasa baik tapi tidak baik-baik saja. Aku merasa bahagia tapi yang kucari sebenarnya apa?
Aku ingin berontak dan membanting semua daun pintu. Aku ingin memecahkan kaca-kaca jendela dengan kepalan tanganku. Aku mau berlari sampai kehabisan napas, berenang sampai mau tenggelam, berteriak sampai tercekik, dan kesemuanya masih tidak bisa membuatku kembali merasa.
September ini dingin. Aku masih seperti mati di dalam hidup yang memburu.

Ghost Stories (2)

adalah ketika aku bermimpi, kamu ada.
di sana pantai dan ombak. kemarau lalu hujan. bukit, bintang-bintang yang menyertainya.
dengan mendengar aku melihat. bukan satu atau dua lagi tapi kita, menari dan berlari-lari. tidak mau berhenti.
rasanya tidak berucap.
aku bisa melihat taman safari. aku bisa merasakan rumah makan padang sederhana. aku tahu saat itu duniaku berhenti berputar. dan kali ini cuma itu yang kuputar-putar. setiap aku mendengar, setiap aku melihat.
aku benci kota Malang.

100%

Saat itu aku berdiri di depan pintu, terengah-engah mengejar waktu. Mengatur napas, aku berdiri tegak sambil menenangkan diri. Kuketuk pintu beliau perlahan, baru kemudian melangkah masuk dengan santun. Tanpa menoleh sedikitpun, aku dipersilakan masuk. Beliau membuka lembar hasil penilaianku. Raut wajahnya yang sudah masam berubah semakin kecut. Nol koma dua jumlah turunnya dari semester lalu. Tentu beliau minta penjelasan.
"Saya sudah berusaha maksimal, namun memang kapasitas saya yang kurang. Saya akan menjadi lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan, karena saat ini saya sudah menemukan strategi belajar yang cocok untuk diri saya," jawabku yakin. Beliau terpana. Tanpa ba-bi-bu ditandatanganinya kertas biru sebelum kembali diberikannya padaku. Aku mohon diri dari ruangan, kali ini beliau anggukkan kepala sambil menatapku penuh tanya.
Seandainya saja aku bisa seberani itu. Kenyataanya, aku masih tetap sajalah mengambinghitamkan keadaan. Yang istirahatnya kurang lah, …

Menjadi Jagung

Image
Lucu karena baru hari pertama saja aku sudah kejepit pintu Bryan. Sakitnya nggak main-main, sobat. Langsung biru di belakang kuku. Untung cuma setitik. Sampai hari ini masih kebas, sih. Bahkan waktu itu sempat nggak bisa ngoper karena sebenarnya kena sedikit nyerinya nggak bisa dideskripsikan. Herannya, malam itu menangis bukan karena itu tapi karena dia pergi ke daerah istimewa bersama dia. Agak ketawa karena sakit di jari bisa ditahan tapi sakit di hati susah juga.
Tiba-tiba Kags datang waktu aku sholat, padahal pasti kelihatan kayak habis nangis. "Buat menghapus dosa," katanya. Sobatku yang kadang menggelikan itu sudah jadi menenteramkan.
Di hari kedua, Bryan harus berpacu dengan melodi seperti ambulans yang membawa pasien kekurangan oksigen ke IGD Moewardi. Mendaftarnya sih, panitia ospek. Pengalamannya malah pertama kali masuk RSUD. Ditambah, keinginan yang tinggi buat menolong orang. Tuhan, seandainya aku yang saat itu lagi pakai PDL, apa aku sanggup setenang itu meng…

Kesal

Kamu adalah semua hal yang aku ingin jadi.
Keluargamu lengkap, papih mamih dan kedua adikmu. Nenekmu juga sangat menyayangimu. Kebutuhanmu tercukupi. Sekolah favorit di ibukota. Olahraga oke, musik jalan. Cerdas. Teman-temanmu peduli. Kayak, nggak ada yang bisa membatasi kamu berekspresi : kamu punya segalanya.
Tapi, kamu juga semua hal yang aku benci.
Aku kesal karena tidak dihargai? Aku kesal karena body mist vanilaku pecah di malam hari? Aku kesal karena kamu bahkan nggak peduli dengan orang lain selain dirimu sendiri?
Itu semua tidak lain adalah kebodohanku, bukan kesalahanmu.
Aku mau menjadi apa yang aku impikan, aku mau anakku jadi apa yang dia impikan.
Aku kesal bukan main, kawan. Karena kegoblokanku.

Wish Upon A Star

Lagi nemenin Bryan mandi.
Dan betapa nyari uang itu susahnya minta ampun adalah ketika laman curah pendapat dan curah hati ini baru menelurkan seratus dua puluh tujuh rupiah sejak hampir sebulan dipasangi lapak orang. Seratus dua puluh tujuh rupiah saja, yang kalo berupa kembalian di indomaret pasti minta diikhlasin atau dapat permen, atau kebuang karena dompetnya nggak cukup buat tempat receh.
Bryan lagi disemprot air pasti seger banget.
Ada beberapa mimpi yang ingin kuwujudkan saat ini, di antaranya :
Satu, adalah mencari tempat mandi untuk Bryan yang bakal nyuci bagian dalemnya juga, dilap sampe bersih kalo perlu sampe sudut-sudut tersembunyi dari lekuk otot dia. 
Dua, adalah dapat jodoh seorang pengusaha sukses. Jadi, ceritanya, pada suatu malam yang syahdu, aku tenggelam dalam suatu pemikiran. Jodoh dan hal-hal lain adalah ditangan Tuhan, sudah ditakdirkan sejak dulu. Tapi tidak menjadi sebuah pantangan untuk kita berdoa bahwa dia adalah seorang pengusaha sukses, bukan? Kriteriany…

Elegi

Ukurannya sekitar 3x3 saja, dua jendelanya menghadap ke langit. Kadang, kalau sore tiba, yang terdengar itu suara anak-anak bermain sepak bola. Atau ibu-ibu yang rumpi sambil menyuapi anak-anaknya di kereta dorong. Kadang, pak RT berseru-seru meminta bantuan putri-putrinya mengangkut jemuran karena hari hujan. Kadang, ada suara palang pintu kereta api yang menutup dari kejauhan. Kadang, yang terdengar hanya deru kendaraan besar muat material bangunan, hingga dentum palu sahut-sahutan. Aku selalu berpikir bagaimana kalau bapak supir bisa melongok dari jendelanya lalu melihat isi kamarku. Ternyata, tidak setinggi itu.
Kalau pagi tiba, ayam-ayam jantan berlomba-lomba mengabarkan kedatangan malaikat yang turun di sajadah-sajadah hamba-Nya. Aku berselimut mimpi sambil mengeloni tiga teman kesayangan yang cuma sedekapan jari.
Ini malam, aku tidak ke kota tapi sangat... sangat lelah. Aku mematikan notifikasi, mengabaikan konfirmasi, membiarkan ghibli menari-nari di dinding kamar kosku. Aku …

Malam itu aku bilang sama Bryan, "Kamu senang nggak? Aku bahagia."

Kemarin, aku dan Bryan berkesempatan memberi tumpangan pada mbak-mbak Italia. Pukul 5 kami sudah tiba di Bandara. Ternyata, pesawatnya delay sampai setengah tujuh. Kami beli susu dan sholat maghrib dulu, aku cukup bangga karena mukenanya tidak bau.
Sebenarnya ini acara dari suatu organisasi yang aku tidak jadi siapa-siapa di dalamnya. Entah kenapa, dulu waktu awal semester satu semua orang pada magang sedangkan aku cuma gambling di satu UKM dan baru fix mendaftar di UKM lain. Siapa sangka di tengah jalan semua tenaga yang kucurahkan buat si UKM gambling ini cuma bisa jadi kenangan. Ya, gitulah.
Aku sangat senang berpetualang, meski ga hapal jalan tapi pake waze. Pertama kali ke bandara waktu jemput temanku fika yang bertanding baskekbol di fakultasku. Itu bukan kali pertama aku menunggu orang turun dari pesawat, tapi rasa bahagia dan senyum dari telinga ke telinga waktu lihat sosok dia benar-benar gabisa kulupakan. Padahal fika, belum jodoh.
Mbak-mbak Italia ini datang jauh-jauh ke I…

Karang

Tidakkah kamu lihat rambutnya yang lusuh terpapar sinar matahari? Di keningnya membanjir peluh sebiji-biji jagung. Wajahnya coreng-moreng dihantam asap knalpot, pakaiannya satu itu saja dari pagi hingga petang.
Tapi, kawan, bahunya itu tidak pernah jatuh. Kakinya kokoh melawan panas aspal, tangannya gagah terkepal menantang langit. Tidak sedikitpun pandangan matanya yang tajam berubah bingung.
Dia anak besar di jalanan.
Idealis. Bukan tabiatnya kalau tidak memperjuangkan hak, sekecil apapun. Bahkan saat sebongkah batu raksasa menghadang jalan, Ia susah-susah menghujaninya dengan tinju sampai hancur. Keras benar isi kepalanya, sampai gunung tak sanggup membujuk.

Tapi, entah kenapa, untuknya dia luluh.

Dear Diary

"Kamu kok nggak menulis lagi?" kata teman-teman.
Ada banyak hal yang berlalu selama beberapa hari kita nggak ketemu dan akhirnya ini momen yang tepat untuk kita bicara. Aku udah lupa gimana rasanya jadi sanifa, mungkin karena terlalu banyak ngomong sama orang sehingga waktu membaca tulisan dalam hati itu bukan suaraku tapi suara mereka. Aku juga lupa caranya nulis.
Kemarin lusa, aku berada di suatu titik yang senang tapi sedih. Antara kuat dan lemah kayak tauwa. Lupa gimana, akhirnya bertanyalah aku pada salah satu teman via chat tentang harinya. Aku lupa dulu sering bilang "how's life" ke siapa dan siapa yang duluan mulai, tapi kemarin waktu aku tanya ke temanku yang ini sebut saja Melati, tetiba saja rasanya teramat sedih.
Dia bercerita panjang lebar tentang harinya, hangout bersama keluarga dan beberapa konflik ngambek-ngambekan sama adek sepupunya.
Aku lupa siapa orang terakhir yang nanya gimana hariku lalu berkhir dengan kuceritain panjang lebar tanpa ada…

Inspirasi

Ini lucu karena besok adalah hari ujian dan dia malah sibuk mencoba peel-off mask--yang tentu saja nggak berguna untuk menghilangkan bekas gigitan nyamuk di bawah mata.
Setelah membuka situs permainan online dan macam-macam jejaring sosial, tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiran : kenapa tidak cari hal nyata yang berguna saja?
Dua jam berikutnya, dia duduk terpana mempelajari guidebook tentang menulis CV dan Cover Letter sebagai bekal mengirim aplikasi dalam melamar kerja di perusahaan.
Sampai di suatu titik, dia seperti sudah tidak punya harapan untuk melanjutkan. Karena hari sudah malam dan setiap satu huruf adalah sepersekian detik dari waktu belajarnya yang terbuang. Keyakinannya di awal bahwa "Ini adalah petunjuk dari Tuhan!" mulai memudar. Dilemanya dalam menjadi seorang anak manusia yang kurang kompeten dan miskin prestasi semakin menjadi-jadi.
Lalu, di sanalah Aufa.
Kemarin malam, temannya yang kemide itu sudah menyentil dengan komentar to the point "gausah…

Dan Yak

there's so much i want to tell you that day things i regret i never say we never know when or where we'll ever meet again you sure talk much i dont have any chance
when i woke up this morning my tears broke down just the thought that you can't always be there anymore movies aren't your favorite but spending time with you is always mine
and the rest is about how grateful i am to live a wonderful life as the time you walk into it
--did you realize that we've changed so much?
all those hardships you've been going through all those spectacles coming so far hope you'll always had the strength know you are.
-------------------------------------------------- "jagain jodoh orang dong," "emang kenapa?" lalu aku gabisa jawab.
Image
can't fit in anywhere?

Dimana Kita Bisa Berbagi Kesedihan?

Aku selalu beranggapan bahwa berbagi itu satu paket dengan kebaikan. Berbagi ilmu, berbagi bekal, berbagi senyum saat berpapasan di jalan. Orang dengan senang hati menerima.
Lalu, di mana kita bisa berbagi kesedihan?
Tidak semua orang mampu menampung apa yang jadi beban berat orang lain. Pun tidak semua orang mau. Ada jalan sendiri di tiap-tiap langkah kaki, bukannya tidak peduli.
Selama ini, kupikir masalah itu yang kita panggul di punggung. Oleh karenanya, semakin banyak kita bagi pada orang-orang maka akan jadi ringan.
Tapi, masalah itu ternyata bisa berupa gunung. Kita tidak memikulnya. Kita membawa diri sendiri untuk menghadapinya.
Ada banyak kehilangan dan ketidakadilan yang tidak berujung. Teman-teman yang tidak selamanya jadi teman, orang-orang yang kamu pikir bisa mengulurkan tangan untuk menguatkan waktu kamu nggak sanggup berdiri, tapi nggak ada.
Kawan, coba tanya pada diri sendiri, memangnya kamu mampu untuk jadi selalu ada 24/7 buat orang-orang di sekelilingmu?
Kesedihan…

Keputusan Keukenhoff

Pada suatu pagi di dunia Tabi.
"Kamu mau pergi ke mana?"
"Suatu hamparan di Lembah Anahuac."
Berbekal setangkup roti dan sebotol susu, Keukenhoff menyusuri 200 km perjalanan darat ke Utara. Ia meninggalkan Shakira dan Celestine, kedua adik perempuannya, melambai-lambaikan sapu tangan yang basah sampai punggungnya tidak terlihat lagi.
Sebongkah batu berukuran raksasa menutupi satu-satunya jalan yang ada. Merupakan dua hari lamanya untuk mengambil jalan memutar. Keukenhoff hanya berdiri di tengah jalan tanpa menentukan pilihan. Termangu.
Kata-kata Bapak terngiang di telinganya, "Isi perutmu saat lapar."
Ia tidak lapar. Jadi, Ia kembali memandangi batu yang tidak bergerak.
Mereka saling pandang hingga dua hari berlalu.
Keukenhoff memutuskan kembali ke rumahnya di dunia Tabi.

Darkness

Ghost stories.
Waktu itu di Rumah Makan Padang Sederhana dari arah Malang. Hujan. Si Eneng update Path sambil nangis-nangis gajelas. Cape dy.
Ternyata sudah hampir dua tahun. Gila, makinya dalam hati. Baru begini baru bisa biasa saja. Tapi, memorinya jadi bercabang dua : satu teman yang bisa terbang, duanya yang mesti dimaafkan.
Akankah teman yang bisa terbang hanya jadi teman saja?
Parah, batinnya syahdu. Dia hempaskan manik-manik ajaib beedos dari Jembatan Suramadu. Seekor putri duyung melambai dan berkata, "Terima kasih!" lalu pergi.
"Aku mengantuk," kata Eneng saat nonton Wonder Woman di bioskop. Dia ingat mulai dari Catching Fire sampai Arrival, Koe no Katachi dan juga Toy Story. Taman Kunang-kunang pun Ultramilk stroberi. Bali.
Akrabnya dengan garis nyaris mati. Pernah jantungnya ngilu semantep Bu Siska saat nguleni adonan kue.
Pernah.

Proyeksi

Aku mencium bau kamu di setiap hujan turun. Di setiap liter downy atau rapika warna biru yang menempel di bajuku.
Aku mendengar suaramu di sepanjang lagu-lagu. Beberapa kamu nyanyikan, yang lain kamu rekomendasikan. Juga, didering-dering telepon tengah malam. Waktu kita berbincang padahal besoknya aku ujian.
Aku tidak melihatmu. Kita tidak dekat. Kamu di bagian bumi mana, aku melangkah menjauh. Tidak ketemu.
Tapi, aku yakin aku bisa merasakan kamu ada. Dalam mimpi-mimpi, berenang-renang di realita.
Aku tidak mau bilang apa-apa karena aku takut salah. Aku cuma mau menyerah.

Bintang

Ini tentang teman angkatanku namanya Bintang.
Janggal sekali keberadaannya di abad 21.

Dia seperti mie rebus dalam mangkuk ayam jago, dimakan sore-sore waktu hujan, tanpa micin.

Wahai, Pejuang!

Sudah, ya?
Aku merasa kecewa dan ingin menangis. Harusnya bisa lebih baik dari ini. Bisa lebih maksimal. Alhamdulillah Allah masih mengizinkanku khatam di satu sisi, tapi aku sungguh malu karena dosa yang berguguran mungkin tidak sebanyak itu di sisi lain. Habis, masih kurang tuma'ninah. Padahal kan, dosa-dosa yang kita pikul ngglundung waktu ruku' dan sujud.
Allah, Engkau Maha Besar. Tahun ini, masih banyak urusan duniaku yang belum selesai. Bukan alasan sih sebenarnya untuk nggak all out, tapi di setiap malam-malam kemarin sungguh berat rasanya melangkahkan kaki meninggalkan materi yang belum kelar. Apalagi kalau sudah disuruh liqo'. Atau menghadiri semarak Ramadhan di kampus. Astaghfirullah. Astaghfirullahaladzim.
Tiada Tuhan selain Allah. Mungkin hikmahnya, di dunia perkalejan nanti memang nggak akan bisa aku memisahkan ibadah dan belajar. Bahkan belajar adalah ibadah juga. Mungkin Allah ingin aku merasakan bagaimana rasanya bagi waktu antara akhirat dan dunia di dala…

[Day 29]

[Day 28] Bocah Petualang

Helo semuanya.
Aku habis berkelana sejauh 12,6 km (kata waze) sendirian. Tidak ada yang spesial, hanya saja waktu lewat Rungkut dan bertemu sebuah mobil aku jadi ingat sesuatu.
Jadi, ini bukan rumah baru tapi rumah lama yang jadi baru. Entahlah, mama punya banyak rencana dan cuma sedikit bagianku di dalamnya sehingga aku hanya berharap yang terbaik saja. Semoga nanti kehidupan mapan di rumah tingkat dua dengan desain minimalis dan jendela sangat tinggi masih menungguku di Jakarta.
Apaya, di sini banyak nyamuk.
Lebaran nanti saudara-saudaraku datang ke mari, aku harap mereka sudah cukup dewasa untuk membiarkanku belajar demi remed.
Sebentar lagi lebaran. Sebaiknya aku bersiap evaluasi diri.

[Day 27] Dewasalah

Kemarin, aku ingin menangis karena terharu melihat adik-adik. Mereka masih sekecil itu, tapi sudah berat sekali tanggungannya. Aku baru ingat bahwa perjuangan di sana tidak sebercanda itu, dan meski akhirnya aku mempermalukan diriku, aku tahu kesempatan belajar seperti itu cuma sekali seumur hidup. Cuma butuh kurang dari dua semester untuk mengubah mereka menjadi para dewasa. Aku ingin berbicara, ingin membantu sebisanya, tapi bahkan kini aku sudah ragu pada keyakinan diri.
Bodohnya aku yang tidak bisa jadi mbak yang baik buat mereka. Sempit sekali pemikiranku karena masih berpikir diri sendiri, kepuasan pribadi, segalanya tentang aku meski sebenarnya tidak begitu. Aku tahu aku sering menolak terjun karena aku tidak punya kemampuan! Dan semakin kukuh apa yang aku pikirkan sampai membentuk diriku yang sekarang. Tapi, kemarin, Rizky bilang banyak hal yang aku tahu itu benar tapi nggak pernah terpikir gimana cara menyampaikannya. Aku ingin adik-adik jadi tangguh tapi diri sendiri sering…

[Day 26] One Shot

Aku bermain Choices, salah satu gubahan Pixelberry dan itu cukup menyenangkan.
Aku membangun peternakan dan perkebunan tapi sekarang sudah masuk winter dan tumbuhan tidak bisa tumbuh. Hati Mary belum merah.
Benar kata mama bahwa ketika kita pelit pada diri kita sendiri, akan ada banyak hal lain yang tetap saja menghabiskan duit.
Satu yang aku tahu pasti adalah bahwa kamu nanti bersekolah di jakarta atau jepang, titik.

[Day 25] Aja

It's fun to do nothing.

[Day 24] Ukuran Jahim

Aku nggak pamrih. Cuman mau memberi peringatan bahwa apa yang ada di muka bumi itu sebentar saja dan nggak dibawa mati kecuali tiga.

[Day 23] "Jangan Coba-coba Sama yang Beda Prinsip"

Aku bener-bener baru sekitar 9 jam di sini dan udah kangen Solo.
Kenyataannya, sebanyak apapun waktu yang kuhabiskan untuk menyapa Pak Wiji sepulang sekolah waktu itu nggak berbekas apa-apa. Lapteng, yang siang malam jadi saksi ketawa-ketawa sampe nangis-nangis juga nggak membuatku terpana. Puncaknya, waktu menyanyi smalane dan kpb, aku cuma asal menyanyi saja.
Mungkin aku sudah menjadi manusia dewasa dan bermain realita.

[Day 22] Pergi ke Semarang

Aku senang karena setelah satu semester berlalu akhirnya kamarku lega juga.

[Day 21] Iblis

Kata kachol dari buku tafsir, Iblis dulunya adalah pemimpin para malaikat. Kemudian dia sujud beribu-ribu tahun pada Allah, lalu jumawa. Nggak mau sujud sama nabi Adam yang Allah jadikan ujian. Akhirnya iblis jadi laknat.

Kadang, kita merasa dah yakin akan posisi diri, yang paling benar dan paling nggak ada dosa. Lalu Allah kasih sentil sedikit dan kita nggak yakin akan Allah tapi yakin pada kemampuan diri. Padahal, diri ini bisa apa, sih?

[Day 20] Declaration of Graha Annisa I

Pelajaran hidup kali ini disponsori oleh kopi hari indah.
Sejujurnya saya percaya nggak percaya dengan cerita bahwa kopi bisa membuatmu begadang. Karena banyak mudhorotnya, saya lebih memilih untuk tidur saja bila ngantuk. Namun, karena kemarin merupakan hari yang sangat abstrak di mana saya luntang-luntung gajelas dan nggak fokus sama sekali untuk belajar, akhirnya malam harinya saya putuskan meneguk segelas. Minumnya sih sekitar jam 9an, mulai belajarnya jam 12. Dan sekarang jam 4.
Memang nggak tidur sih, tapi bukan karena nggak ngantuk. Saya tahu regulasi homeostasis tubuh saya sudah memberontak dengan respons pusing-pusing alay dan pandangan mengabur. Namun, itu semua ditekan oleh perut sebah. Mungkin ada infeksi gastroenterokolitis oleh enteropatogenik.
Saya sadar itu nggak ada nyambung-nyambungnya tapi tolong jangan dihakimi dengan memenuhi kolom komen seperti masyarakat pada umumnya. Mengingatkan saya pada betapa saya bisa sampai ketawa-ketawa kalau baca komentar di webtoon lu…

[Day 19] I Refuse to Give Up

Memasuki waktu-waktu gila dalam rangka UB infeksi tropis.
Harusnya cukup seru, namun rasanya seperti dipaksa mengenal satu angkatan dalam waktu satu hari. Nggak cuma namanya, tapi juga dia gimana cara hidupnya, kebiasaannya, tempat tinggalnya, semuanya. Tapi daritadi belum mulai mulai. Gangerti kenapa ga berselera.
Malah curhat. Paksa!

[Day 18] With Great Power Comes Great Responsibility

Biasanya jam segini saya masih berkutat dengan soal-soal tahun lalu atau materi-materi yang belum sempat diulang kembali karena belum selesai mencicil sejak kemarinnya.

Sekarang sudah, sih. Tapi ternyata nggak bisa bersantai juga karena tugasnya masih banyak belum rampung.

Happy happy shall we be, when we learn of ABC.

[Day 17] Press Conference

Iya, benar, saya nggak ingin accept follow request kalian karena kalian masih belum bijak untuk memilih atau simply tidak berpikiran terbuka.
Tapi ya mau gimana lagi akhirnya saya cuma bisa ngehide story sebagai tindakan preventif dari tidur kalian yang nggak nyenyak karena mikirin kelakuan saya yang mungkin nggak pernah kalian bayangkan sebelumnya.
Benar bila katanya setiap orang punya minimal dua muka, satu ketika bersama teman-teman dan satu ketika bersama keluarga. Saya selalu bermimpi bagaimana bila saya terlahir dalam lingkungan yang, gimana ya ngomongnya, agak selo sedikit, sehingga ketika saya melakukan hal yang menurut saya perlu ditanggapi dengan seluas-luasnya pandangan, saya nggak perlu merasa kecewa.
Mungkin itu yang dirasakan karin novilda, saat orang-orang mengecapnya ini dan itu karena dia berekspresi. Tapi, sebenarnya saya juga nggak mendukung juga kan ya kasian kalo ada anak-anak yang belum ngerti terus mengikuti mbak karin. Kita juga nggak bisa membatasi sosial med…

[Day 16] Rapat Merapat

Lalu setelah dijalani akhirnya berlalu juga kan.

[Day 15] Bulan Purnama

Hingga akhirnya hari berganti tapi kami masih sama-sama. Aku tahu ada suatu nasihat untuk menjauhi tongkrongan, tapi kali itu aku tidak mau.
Televisi yang tergantung di dinding TT adalah TV kabel, menayangkan film-film yang rasanya seperti ditinggal pergi mama waktu masih SD, jam 1 pagi tidak bisa tidur di kamarku yang berwarna merah muda lalu menyetel TV agar ada temennya. Rasanya akan selalu begitu dan nggak akan pernah sama ketika nonton TV siang bolong.
Teman-teman peduli pada aturan yang menjagaku tapi aku seakan tidak peduli. Kemudian kami pulang dan sekarang aku tidak bisa lagi tidur. Seperti mimpi tapi bukan mimpi. Aku tahu itu sangat buang-buang waktu tapi waktuku kubuang untuk momen yang nggak ada gantinya.
Bulan malam itu jadi saksi rindu kita.

[Day 14] UB, KK, Penelitian Psikologi

Beberapa menit sebelum 7.50 baru khatam soal-soal 3 tahun terakhir. Alhamdulillah ada yang keluar, tapi esensi UB adalah mengetes setiap detik yang kamu manfaatkan selama blok berlangsung. Berproses tidak sebercanda itu.
Senang bisa membantu mempermudah urusan mbak-mbak psikologi dalam surveynya. Mengerjakan 15 soal matematika yang mudah saja tapi lupa rumusnya. Kayaknya sudah bertahun-tahun sampai rumus volume bola saja lupa.
Yang paling ditunggu dari KK adalah kebersamaan angkatannya. Lucu ketika melihat orang-orang yang bermacam-macam sekaligus kesal dengan beberapa yang lain, sudah biasa. Aku tidak bisa tidak takjub pada dinamika keberagaman.
Kemudian ide gila membuatku percaya bahwa aku tidak sesyar'i itu. Sejak sebelum dapat sekolah sampai semester satu berlalu aku bak gadis bertaubat yang tidak tertarik pada hiruk pikuk dunia. Tiba-tiba menonton aksi Gal Gadot bersama teman-teman seperti mahasiswi banyak uang dan banyak waktu saja. Aku tersenyum sendiri karena berpetualang…

[Day 13] Friday the 13th

Ini nggak friday. Besok iya. Temanku ada namanya Fraidee. Dia cantik.
Bahwasanya aku nggak pernah belajar sampai sakit perut, itu ada benarnya. Lalu sekarang aku udah ngantuk, ingin tidur tapi pasti nggak bisa. Akan ada saatya di mana kamu perlu belajar untuk bersabar, meski itu artinya bersabar menjejalkan review materi semalaman suntuk.

[Day 12] Menghadapi Kegagalan

Yak semakin dekat dengan ujian blok.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, kita hampir tak bisa bernapas. Karena setelah ujian datanglah ujian yang lain. Sehingga, ketika kamu mau menyetop nonton drama korea, misalnya, karena mau ujian, kamu nggak akan pernah bisa nonton drama korea itu karena ujiannya nggak berhenti-henti. Jadi, harus bagaimana.
Lucunya soal ujian adalah, di malam sebelum atau pagi harinya saat ujian ada orang-orang jenius yang berkoar-koar bahwa mereka belum belajar. Padahal, waktu hasilnya keluar ya nilainya jauh di atas rata-rata. Memang rasanya seperti ada banyak sekali yang harus dipelajari, jadi sudah belajar kayak belum belajar. Atau itu hanya excuse saja agar nanti kalau nggak bisa setidaknya tidak di-judge bodoh, ya?
Yang aku percaya adalah bahwa remed merupakan suatu pembelajaran dalam hidup, di mana kita diajari untuk menghadapi kegagalan.

[Day 11] Bagaimana Mau Memberi Solusi Kalau Ilmunya Nggak Ada

Dulu kukira adalah konyol ketika pencurian yang marak di bulan Ramadhan dikaitkan dengan keinginan untuk mudik. Kalo ga punya uang, ya nggak usah pulang. Kalo nggak mau nggak pulang, ya nggak usah rantau. Kalo mau rantau dan mau pulang, ya nabung. Nggak nyuri.
Tapi, ternyata memang pulang adalah suatu hal yang penting dan mendesak. Bertemu keluarga, nggak cuma makan nugget atau nasi margarin tiap sahur dan berbuka, birrul walidain. Itu aku, sih. Anak kos semester awal yang lagi nabung buat liburan.
Aku mau menabung tidak hanya untuk liburan, sebenarnya. Juga untuk sound system, membenahi printer, membeli bensin, upgrade hardware agar bisa edit video, dan keperluan-keperluan lain yang penting tapi tidak mendesak. Sehingga keinginan makan bibimbap di Kimchi Resto pun Pizza Hut bersama Alivia adalah suatu angan yang mengawang dalam bunga tidur.
Barusan banget ku membaca suatu chat dari kating berbunyi "Luka bakar grade 2a paling itu. Bulanya dipecahin, kasih analgetik dan antibioti…

[Day 10] Besok Field Lab Terakhir Bersamanya

Aku membuat jariku terluka; mencuci kemeja putih lalu kelunturan; membuat mie tapi kelembekan; mengirim hal-hal tidak penting di group chat; melakukan hal-hal bodoh lain dan sangat ceroboh.
10 hari pertama sudah kelewat. Ramadhan seperti bola yang menggelinding di turunan. Aku masih berpikiran bahwa menjadi hebat tidak selalu berarti merelakan diri jadi aktivis serba bisa. Aku masih berpendapat mereka semena-mena dalam menaruh.

[Day 9] Oh

Hampir semua temanku yang jujur bilang kalau cerita ke aku pasti nggak seru, karena cuma kutanggepi dengan "oh" "hmm" "o gitu".
Trus aku kayak yaudalah ya gimana lagi ku juga gangerti harus nanggepin apa gitu? Padahal gaada niatan untuk kayak gapeduli lho dan malah seneng kalo diceritain.
Tapi ada satu temanku yang lebih parah kalau diceritain nanggepinnya ngeselin. Mungkin kita sama-sama ngeselin sih cuman dia lebih unpredictable aja jawabnya. Yap, ku belajar banyak darinya. Dan jadilah diriku yang independent dan berbahagia layaknya hari ini.
Aku sudah pernah dengar kisah anak yang ibadahnya rajin banget tapi ga keterima ITB, trus malah jadi supir pribadi dan akhirnya jadi bos-bosnya anak-anak ITB. Pernah dijarkom di WA. Cuman, tadi, waktu diceritain ulang sama Mas Syukri di sebuah mushola kecil dekat rumah Kak Syayma, ku kaget karena jadi menitikkan air mata. Kalo udah gini, gimana bisa nggak sayang sama Allah?
Dan kemudian muncul lagi satu cita-citak…

[Day 8] Bryan

Maaf terlambat.
Sudah turun 3kg padahal baru ikut puasa 5 hari. Nggak berbuka maupun makan sahur dengan hidangan sebagaimana di rumah, tapi kalo inget saudara-saudara yang 'berpuasa tapi nggak tau kapan berbukanya', selalu miris dan ingin menangis. Saudara-saudara yang susah air bersih, atau nggak ada listrik, gimana tersiksanya? Adik-adik yang setiap hari rindu orang tua, tapi sudah nggak bisa untuk sekadar telpon saja karena sudah beda dunianya.
Aku ingin berbagi apa yang bisa kubagi. Aku ingin memberi apa yang bisa kuberi. Rasulullah seorang yatim piatu dari kecil dan aku baru menyadarinya. Aku rindu pulang dan berangkat sekolah bareng mama tapi aku harus tidak boleh menangis bila sekarang cuma ditemani Bryan.

[Day 7] Kesalahan Instalasi Listrik di Kosku Jadi Tidak Pakai AC

Sangat senang bisa berbagi dengan anak-anak di panti asuhan.

I love you, mom.

[Day 6] Tentang Pilihan

Aku tahu sambat ada baiknya dieradikasi saja dalam hidup, tapi aku sering nggak bisa kalau nggak sambat ke Alivia. Tentang kemarin, misalnya. Dan kemudian tanggapannya adalah "lek aku yo tak jawab fa : km kok ga menghargai pilihan org"
Balqis dan aku sering nggak makan-makan sampe malem gara-gara bingung mau milih menu apa. Sama-sama terserah, sama-sama nggak mau menentukan. Mungkin saking nggak appreciate-nya budaya kita pada pilihan, kita jadi terbiasa pekewoh alias sungkan atau malah males untuk memilih, dan mempertanggungjawabkannya.
Giliran ada yang berdiri pada suatu komitmen dalam hidupnya, kita laksana dewa memberinya label di sana dan sini. Suatu malam sepulang makan, seorang temanku yang udah pinter rajin pula, curhat bahwa dia nggak suka sama beberapa oknum yang memanggilnya "heh ambis" tapi terus "liat laporanmu dong" dan nggak bilang terima kasih sesudahnya. Lah what's wrong with you people.
Aku bukan penggemar Demian maupun dunia persul…

[Day 5] Ada Semangat yang Terselip di Celah Pintu

Setelah sholat subuh aku mengaji, lalu tidur lagi karena ternyata remednya jam 1 siang. Belum apa-apa sudah buruk mimpinya--aku berjalan-jalan di kompleks perumahanku di Surabaya dan nggak ada satupun kehidupan, kayak udah ditinggalkan. Waktu cahaya matahari mengintip dari balik gordyn, aku nggak punya pilihan selain bangun dan melanjutkan belajar. Ternyata, ada semangat yang terselip di celah pintu kamarku. Pasti dari Kagary. Mau kusnapgram tapi nggak jadi, cukup senangnya di dalam hati.
Kemarin malam juga Gita memberi semangat. Nggak tahunya, pagi tadi dia mengirimkan lagu yang suka kunyanyikan karena belajar parasit : cacing-cacing di perut, curi semua nutrisi. Versi Gita lebih syahdu, dengan tambahan "tapi tak perlu takut, ada Allah" di akhir bait. Dasar, fetus polos tak berdosa.
Ada kalanya dunia begitu dingin sampai-sampai kamu merasa tidak ada lagi harapan. Padahal, selalu ada bahagia di titik-titik yang tersebar di muka bumi. Aku merasa lebih hangat meski masih jauh…

[Day 4] Dituntut Macam-macam Padahal Bukan Tuhan

Sebenarnya, aku merasa tidak enak pada dosa-dosa masa lalu. Sebagai seorang mantan manusia yang suka mencolot ke sana ke mari, mungkin orang mengiranya eman-eman kalau tidak dilanjutkan. Terus ilmumu itu dibuat apa kalau nggak kamu gunakan? Tapi, bahkan aku sangsi sekali kalau kalimat-kalimat persuasif itu ada benarnya atau cuma iming-iming belaka, karena jalan itu kan memang tidak bisa dilalui sendirian.
Aku sadar bahwa ada kebijaksanaan berpikir, pengalaman, dan pola pikir baru yang hanya bisa didapat ketika kita meluangkan waktu untuk berinteraksi. Namun, selalu ada dilema di tengahnya, antara ingin terjun tapi terlalu bodoh untuk bisa mengatur waktu dengan baik. Ingin bergerak tapi tertahan. Bukan, aku tidak dikekang. Sadar diriku yang mengekang.
Sudahlah, Sanifa. Kamu selalu kepikiran dan tidak bisa bilang tidak. Kemudian, mengada-adakan alasan setelahnya. Memperbarui niat, atau menggantinya mentah-mentah?
Aku sangat lelah sampai kasihan teman-teman yang memakan terang bulan di …

[Day 3] Percaya Bahwa Cahaya Masih Ada

Aku mengawali hari dengan menghibur diri bahwa malam ini, semua bakal berlalu.
Ada tiga acara yang jamnya tabrakan menjelang maghrib, dengan tiga tempat dan tiga kepentingan berbeda. Nggak perlu ditanya, kesemuanya minta diprioritaskan. Sebenernya mudah saja kalau aku menjadi masa bodoh dan pura-pura ketiduran, tapi aku nggak pernah kebayang untuk menjadi demikian. Alhasil, jadwal yang kugeser-geser sejak kemarin baru fix jam tiga sore, beberapa menit sebelum acara pertama.
Tapi, kemudian hujan. Alhasil, aku cuma bisa memenuhi dua kewajiban, satu setengah lebih tepatnya. Lalu, kaki udah kesel banget sampe kos, sehingga perut yang lapar nggak jadi terisi karena setelah menanak nasi aku nggak sanggup turun lagi buat goreng lauk. Sekarang, terdampar tanpa tenaga karena terkuras mikir konsumsi yang nggak jelas jluntrungannya.
Mengurus hal-hal ini dan itu memang cukup makan ati. Ketika chatmu di grup nggak direken atau dijawab tapi kayak "Yaampun kamu bodoh banget gitu aja nggak bisa…

[Day 2] Niat itu Bisa-bisa Aja Diperbarui

Nggak beda jauh dengan hari kemarin, alhamdulillah ku masih bisa menjadi manusia bermanfaat meski masih berkutat di sekitar kos dan barang-barang di dalamnya. Karena udah diwanti-wanti mas Aufa di akhir wawancara dulu buat menjadi tepat waktu di setiap keadaan, 10.59 aku udah nyampe di depan kos mbak Salsa di sebelah Pena. Kita emang janjian jam 11 buat bantu-bantu beliau pindahan. Alhamdulillah tadi setengah satu kelar.
Gara-gara dulu suka nonton Naruto, aku selalu bisa membayangkan chakraku terkonsentrasi di kedua tangan dan kaki waktu mengangkat barang-barang pindahan yang lumayan mantep. Mamaku bisa angkat-angkat galon, literally diangkat dan dibawa ke kosan dari toko sebelah, sendirian. Mungkin kemudian menjadi genetically inherited dan jadilah anaknya hobi buang-buang tenaga mengangkut barang-barang ke sana ke mari.
Mungkin ini salah satu cara Allah memberikanku jalan untuk sedekah, sedekah tenaga.
Kemarin aku bilang mau cerita tentang niat. Melalui pertanyaan-pertanyaan kecil …

[Day 1] Nilai itu Satu-satu Ditaneminnya Jangan Langsung Banyak

Aku tidak mau ini panjang-panjang jadi walaupun ada banyak yang mau kuceritakan, tentang jodoh misalnya, langsung kupersingkat aja.
Meski agak malas, aku membersihkan kamar juga akhirnya. Motivasinya tentu bukan karena katanya kamar anak cewek nggak boleh berantakan. Nonsense. Kita punya waktu yang sama-sama hectic terhitung sejak responsi parasit minggu lalu, lelaki maupun perempuan. Dan sebagai anak manusia yang masih banyak malasnya, alasan "kan kamu cewek" bukan suatu hal yang kuat untukku menggerakkan kaki membereskan baju-baju yang harus dilaundry. Jadi, ya, sebenarnya membereskan itu karena ada waktu dan tenaga yang tersisa. Dan penting untuk kesehatan. Jangan protes ae lah.
Lagipula, ini awal bulan mulia. Jadi rasanya indah kalau menghadapi semua dengan kebersihan yang merupakan sebagian dari iman. Masya Allah ukh, alhamdulillah dipertemukan lagi.
Kemudian, aku pun melipati baju-baju untuk dibawa ke laundry, membereskan buku-buku dari meja belajar ke lemari, melepas…