Wahai, Pejuang!

Sudah, ya?

Aku merasa kecewa dan ingin menangis. Harusnya bisa lebih baik dari ini. Bisa lebih maksimal. Alhamdulillah Allah masih mengizinkanku khatam di satu sisi, tapi aku sungguh malu karena dosa yang berguguran mungkin tidak sebanyak itu di sisi lain. Habis, masih kurang tuma'ninah. Padahal kan, dosa-dosa yang kita pikul ngglundung waktu ruku' dan sujud.

Allah, Engkau Maha Besar. Tahun ini, masih banyak urusan duniaku yang belum selesai. Bukan alasan sih sebenarnya untuk nggak all out, tapi di setiap malam-malam kemarin sungguh berat rasanya melangkahkan kaki meninggalkan materi yang belum kelar. Apalagi kalau sudah disuruh liqo'. Atau menghadiri semarak Ramadhan di kampus. Astaghfirullah. Astaghfirullahaladzim.

Tiada Tuhan selain Allah. Mungkin hikmahnya, di dunia perkalejan nanti memang nggak akan bisa aku memisahkan ibadah dan belajar. Bahkan belajar adalah ibadah juga. Mungkin Allah ingin aku merasakan bagaimana rasanya bagi waktu antara akhirat dan dunia di dalam bulan 'pelatihan'-Nya ini. Mungkin Allah ingin aku paham bagaimana rasanya kecewa tidak melakukan yang terbaik dalam satu kali kesempatan, dan musti menunggu sebelas bulan lagi untuk mendapat kesempatan berikutnya. Iya kalau diberi kesempatan lagi. Ya Allah...

Oke, pejuang. Sudah selesai ngalem-ngalemannya. Tingkatkan kewaspadaan dan ambil senjatamu. Ini saatnya kita terjun ke medan perang.

Eh, aku nggak ngerti mulai masuk 1 Syawwal itu mulai maghrib kemarin, atau jam 00.00, atau setelah sholat ied nanti ya?

Allâhumma la taj’al hadza akhiral ahdi bishiyamina iyyahu fain jâltahu faj’alni marhuman wa la taj’alni mahruman...
"Ya Allah, mohon jangan Engkau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai shaum terakhirku. Tapi jikapun ini adalah Ramadhan terakhirku jadikan aku sebagai hamba yang Engkau rahmati, janganlah Engkau jadikan daku hamba yang terhalangi dari ampunan dan maghfirahmu”
Aamiin Ya Rabbal Alamiin
-inspired by : ucapan malam takbiran kachol-

Selamat Menyambut Hari Kemenangan, Hari Raya Idul Fitri 1438 H.

Taqabbalallahu minnaa wa minkum.

Mohon maaf lahir batin.

[Day 28] Bocah Petualang

Helo semuanya.

Aku habis berkelana sejauh 12,6 km (kata waze) sendirian. Tidak ada yang spesial, hanya saja waktu lewat Rungkut dan bertemu sebuah mobil aku jadi ingat sesuatu.

Jadi, ini bukan rumah baru tapi rumah lama yang jadi baru. Entahlah, mama punya banyak rencana dan cuma sedikit bagianku di dalamnya sehingga aku hanya berharap yang terbaik saja. Semoga nanti kehidupan mapan di rumah tingkat dua dengan desain minimalis dan jendela sangat tinggi masih menungguku di Jakarta.

Apaya, di sini banyak nyamuk.

Lebaran nanti saudara-saudaraku datang ke mari, aku harap mereka sudah cukup dewasa untuk membiarkanku belajar demi remed.

Sebentar lagi lebaran. Sebaiknya aku bersiap evaluasi diri.

[Day 27] Dewasalah

Kemarin, aku ingin menangis karena terharu melihat adik-adik. Mereka masih sekecil itu, tapi sudah berat sekali tanggungannya. Aku baru ingat bahwa perjuangan di sana tidak sebercanda itu, dan meski akhirnya aku mempermalukan diriku, aku tahu kesempatan belajar seperti itu cuma sekali seumur hidup. Cuma butuh kurang dari dua semester untuk mengubah mereka menjadi para dewasa. Aku ingin berbicara, ingin membantu sebisanya, tapi bahkan kini aku sudah ragu pada keyakinan diri.

Bodohnya aku yang tidak bisa jadi mbak yang baik buat mereka. Sempit sekali pemikiranku karena masih berpikir diri sendiri, kepuasan pribadi, segalanya tentang aku meski sebenarnya tidak begitu. Aku tahu aku sering menolak terjun karena aku tidak punya kemampuan! Dan semakin kukuh apa yang aku pikirkan sampai membentuk diriku yang sekarang. Tapi, kemarin, Rizky bilang banyak hal yang aku tahu itu benar tapi nggak pernah terpikir gimana cara menyampaikannya. Aku ingin adik-adik jadi tangguh tapi diri sendiri sering menghindar kalau disuruh momong.

Lalu sekarang, ternyata eman juga rasanya kalau remed. Aku tahu di mana yang salah tapi waktu blok introp aku seperti kehabisan tenaga karena mengejar imuno. Hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha, dan prior knowledge di awal blok adalah sebuah kunci yang sangat penting. Oh iya kawan, bagaimana bisa kamu mengeluh remed kalau pada kenyataannya kamu tidak bisa menjawab pertanyaannya yang artinya kamu tidak menguasai materi, dan terlebih lagi tidak mengikuti blok dengan baik (re : tidur saat kuliah, menyontek tugas teman, TA)? Bukan apa-apasih, aku hanya kasihan dengan nyawa yang kamu pegang nanti.

Perlu eksekusi yang tepat. Bismillah semoga Allah ridho.

[Day 26] One Shot

Aku bermain Choices, salah satu gubahan Pixelberry dan itu cukup menyenangkan.

Aku membangun peternakan dan perkebunan tapi sekarang sudah masuk winter dan tumbuhan tidak bisa tumbuh. Hati Mary belum merah.

Benar kata mama bahwa ketika kita pelit pada diri kita sendiri, akan ada banyak hal lain yang tetap saja menghabiskan duit.

Satu yang aku tahu pasti adalah bahwa kamu nanti bersekolah di jakarta atau jepang, titik.

[Day 25] Aja

It's fun to do nothing.

[Day 24] Ukuran Jahim

Aku nggak pamrih. Cuman mau memberi peringatan bahwa apa yang ada di muka bumi itu sebentar saja dan nggak dibawa mati kecuali tiga.

[Day 23] "Jangan Coba-coba Sama yang Beda Prinsip"

Aku bener-bener baru sekitar 9 jam di sini dan udah kangen Solo.

Kenyataannya, sebanyak apapun waktu yang kuhabiskan untuk menyapa Pak Wiji sepulang sekolah waktu itu nggak berbekas apa-apa. Lapteng, yang siang malam jadi saksi ketawa-ketawa sampe nangis-nangis juga nggak membuatku terpana. Puncaknya, waktu menyanyi smalane dan kpb, aku cuma asal menyanyi saja.

Mungkin aku sudah menjadi manusia dewasa dan bermain realita.

[Day 22] Pergi ke Semarang

Aku senang karena setelah satu semester berlalu akhirnya kamarku lega juga.

[Day 21] Iblis

Kata kachol dari buku tafsir, Iblis dulunya adalah pemimpin para malaikat. Kemudian dia sujud beribu-ribu tahun pada Allah, lalu jumawa. Nggak mau sujud sama nabi Adam yang Allah jadikan ujian. Akhirnya iblis jadi laknat.

Kadang, kita merasa dah yakin akan posisi diri, yang paling benar dan paling nggak ada dosa. Lalu Allah kasih sentil sedikit dan kita nggak yakin akan Allah tapi yakin pada kemampuan diri. Padahal, diri ini bisa apa, sih?

[Day 20] Declaration of Graha Annisa I

Pelajaran hidup kali ini disponsori oleh kopi hari indah.

Sejujurnya saya percaya nggak percaya dengan cerita bahwa kopi bisa membuatmu begadang. Karena banyak mudhorotnya, saya lebih memilih untuk tidur saja bila ngantuk. Namun, karena kemarin merupakan hari yang sangat abstrak di mana saya luntang-luntung gajelas dan nggak fokus sama sekali untuk belajar, akhirnya malam harinya saya putuskan meneguk segelas. Minumnya sih sekitar jam 9an, mulai belajarnya jam 12. Dan sekarang jam 4.

Memang nggak tidur sih, tapi bukan karena nggak ngantuk. Saya tahu regulasi homeostasis tubuh saya sudah memberontak dengan respons pusing-pusing alay dan pandangan mengabur. Namun, itu semua ditekan oleh perut sebah. Mungkin ada infeksi gastroenterokolitis oleh enteropatogenik.

Saya sadar itu nggak ada nyambung-nyambungnya tapi tolong jangan dihakimi dengan memenuhi kolom komen seperti masyarakat pada umumnya. Mengingatkan saya pada betapa saya bisa sampai ketawa-ketawa kalau baca komentar di webtoon luar negeri, tapi hampir selalu skip kalau webtoonnya produksi dalam negeri. Tahu kan mana yang enak didengar dan mana yang nyinyir (atau tidak bervariasi, beda lagi). Budayakan komentar yang santun, berbobot dan membangun!

Ada ide gila saat saya berkelana di laman explore tadi pagi. Dalam delapan bulan saja sebenarnya saya sudah mendapat nominal yang cukup untuk mendapat barang terbaik. Sehingga, sekarang saya akan mendeklarasikan perjanjian Graha Annisa episode satu, bahwa delapan bulan terhitung sejak bulan ke delapan tahun ini, saya berjanji untuk menjalankan program tersebut dengan sungguh-sungguh. Tok, tok, tok.

Ingatlah bagaimana manisnya di bulan ke-delapan kamu dapat menghadiahkan unit kepala baru untuk Bryan.

May Allah grant our wishes. Selamat belajar infeksi nosokomial!

[Day 19] I Refuse to Give Up

Memasuki waktu-waktu gila dalam rangka UB infeksi tropis.

Harusnya cukup seru, namun rasanya seperti dipaksa mengenal satu angkatan dalam waktu satu hari. Nggak cuma namanya, tapi juga dia gimana cara hidupnya, kebiasaannya, tempat tinggalnya, semuanya. Tapi daritadi belum mulai mulai. Gangerti kenapa ga berselera.

Malah curhat. Paksa!

[Day 18] With Great Power Comes Great Responsibility

Biasanya jam segini saya masih berkutat dengan soal-soal tahun lalu atau materi-materi yang belum sempat diulang kembali karena belum selesai mencicil sejak kemarinnya.

Sekarang sudah, sih. Tapi ternyata nggak bisa bersantai juga karena tugasnya masih banyak belum rampung.

Happy happy shall we be, when we learn of ABC.

[Day 17] Press Conference

Iya, benar, saya nggak ingin accept follow request kalian karena kalian masih belum bijak untuk memilih atau simply tidak berpikiran terbuka.

Tapi ya mau gimana lagi akhirnya saya cuma bisa ngehide story sebagai tindakan preventif dari tidur kalian yang nggak nyenyak karena mikirin kelakuan saya yang mungkin nggak pernah kalian bayangkan sebelumnya.

Benar bila katanya setiap orang punya minimal dua muka, satu ketika bersama teman-teman dan satu ketika bersama keluarga. Saya selalu bermimpi bagaimana bila saya terlahir dalam lingkungan yang, gimana ya ngomongnya, agak selo sedikit, sehingga ketika saya melakukan hal yang menurut saya perlu ditanggapi dengan seluas-luasnya pandangan, saya nggak perlu merasa kecewa.

Mungkin itu yang dirasakan karin novilda, saat orang-orang mengecapnya ini dan itu karena dia berekspresi. Tapi, sebenarnya saya juga nggak mendukung juga kan ya kasian kalo ada anak-anak yang belum ngerti terus mengikuti mbak karin. Kita juga nggak bisa membatasi sosial media hanya untuk orang dewasa saja sehingga salah satu yang menjadi PR adalah peran orang tua di dalamnya.

Hanya saja untuk anak segede saya mungkin nggak perlu dipikir macam-macam ya orang saya juga nggak macam-macam.

Saya merasa jahat kalau saya jadi menyebarkan bad influence pada bibit-bibit unggul bangsa. Di sisi lain saya juga nggak ada maksud apa-apa gitu. Dan alhamdulillah saya masih tau batasan sehingga ketika kamu bertanya pada saya saya nggak akan lama untuk memikirkan jawabannya. Karena saya begitu terbuka pada setiap kemungkinan dan pilihan hidup orang for god sake.

Sayangnya, saya masih selalu dilihat seperti anak kecil dalam keluarga.

Oh, bukan. Ibu dan kakak saya adalah orang-orang hebat yang paling saya sayang dan saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan mereka.

Ternyata, orang dewasa yang tahu diri berkorban macam-macam demi anak-anaknya--atau orang-orang yang kekanak-kanakan--hanya untuk menyelamatkan hidup bangsa.

Jadi, gini ya, adek-adek sekalian. Saya itu orangnya, apaya bahasanya, ndableg. Dan saya rasa itu merupakan suatu trait yang membuat saya dapat bertahan hidup hingga saat ini. Tapi, kamu selalu punya pilihan untuk mengambil positifnya dan membuang negatifnya, tidak hanya dari saya tapi juga dari siapapun di dunia ini. Kamu juga bisa menjadi penurut dan cantik seperti kakak saya, lakukan apa yang kamu nyaman di dalamnya. Ingat untuk selalu berbuat baik pada orang lain, jujur dalam berkata, tepat dalam tindakan, ya seperti lagu smalane lah. Tapi bahkan lagu smalane tidak melarang kamu untuk jadi diri sendiri.

Chill out people.

[Day 16] Rapat Merapat

Lalu setelah dijalani akhirnya berlalu juga kan.

[Day 15] Bulan Purnama

Hingga akhirnya hari berganti tapi kami masih sama-sama. Aku tahu ada suatu nasihat untuk menjauhi tongkrongan, tapi kali itu aku tidak mau.

Televisi yang tergantung di dinding TT adalah TV kabel, menayangkan film-film yang rasanya seperti ditinggal pergi mama waktu masih SD, jam 1 pagi tidak bisa tidur di kamarku yang berwarna merah muda lalu menyetel TV agar ada temennya. Rasanya akan selalu begitu dan nggak akan pernah sama ketika nonton TV siang bolong.

Teman-teman peduli pada aturan yang menjagaku tapi aku seakan tidak peduli. Kemudian kami pulang dan sekarang aku tidak bisa lagi tidur. Seperti mimpi tapi bukan mimpi. Aku tahu itu sangat buang-buang waktu tapi waktuku kubuang untuk momen yang nggak ada gantinya.

Bulan malam itu jadi saksi rindu kita.

[Day 14] UB, KK, Penelitian Psikologi

Beberapa menit sebelum 7.50 baru khatam soal-soal 3 tahun terakhir. Alhamdulillah ada yang keluar, tapi esensi UB adalah mengetes setiap detik yang kamu manfaatkan selama blok berlangsung. Berproses tidak sebercanda itu.

Senang bisa membantu mempermudah urusan mbak-mbak psikologi dalam surveynya. Mengerjakan 15 soal matematika yang mudah saja tapi lupa rumusnya. Kayaknya sudah bertahun-tahun sampai rumus volume bola saja lupa.

Yang paling ditunggu dari KK adalah kebersamaan angkatannya. Lucu ketika melihat orang-orang yang bermacam-macam sekaligus kesal dengan beberapa yang lain, sudah biasa. Aku tidak bisa tidak takjub pada dinamika keberagaman.

Kemudian ide gila membuatku percaya bahwa aku tidak sesyar'i itu. Sejak sebelum dapat sekolah sampai semester satu berlalu aku bak gadis bertaubat yang tidak tertarik pada hiruk pikuk dunia. Tiba-tiba menonton aksi Gal Gadot bersama teman-teman seperti mahasiswi banyak uang dan banyak waktu saja. Aku tersenyum sendiri karena berpetualang adalah kesukaanku. Mencoba hal yang tidak biasa sedikit, menantang batasan, sudah senang bukan kepalang.

[Day 13] Friday the 13th

Ini nggak friday. Besok iya. Temanku ada namanya Fraidee. Dia cantik.

Bahwasanya aku nggak pernah belajar sampai sakit perut, itu ada benarnya. Lalu sekarang aku udah ngantuk, ingin tidur tapi pasti nggak bisa. Akan ada saatya di mana kamu perlu belajar untuk bersabar, meski itu artinya bersabar menjejalkan review materi semalaman suntuk.

[Day 12] Menghadapi Kegagalan

Yak semakin dekat dengan ujian blok.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, kita hampir tak bisa bernapas. Karena setelah ujian datanglah ujian yang lain. Sehingga, ketika kamu mau menyetop nonton drama korea, misalnya, karena mau ujian, kamu nggak akan pernah bisa nonton drama korea itu karena ujiannya nggak berhenti-henti. Jadi, harus bagaimana.

Lucunya soal ujian adalah, di malam sebelum atau pagi harinya saat ujian ada orang-orang jenius yang berkoar-koar bahwa mereka belum belajar. Padahal, waktu hasilnya keluar ya nilainya jauh di atas rata-rata. Memang rasanya seperti ada banyak sekali yang harus dipelajari, jadi sudah belajar kayak belum belajar. Atau itu hanya excuse saja agar nanti kalau nggak bisa setidaknya tidak di-judge bodoh, ya?

Yang aku percaya adalah bahwa remed merupakan suatu pembelajaran dalam hidup, di mana kita diajari untuk menghadapi kegagalan.

[Day 11] Bagaimana Mau Memberi Solusi Kalau Ilmunya Nggak Ada

Dulu kukira adalah konyol ketika pencurian yang marak di bulan Ramadhan dikaitkan dengan keinginan untuk mudik. Kalo ga punya uang, ya nggak usah pulang. Kalo nggak mau nggak pulang, ya nggak usah rantau. Kalo mau rantau dan mau pulang, ya nabung. Nggak nyuri.

Tapi, ternyata memang pulang adalah suatu hal yang penting dan mendesak. Bertemu keluarga, nggak cuma makan nugget atau nasi margarin tiap sahur dan berbuka, birrul walidain. Itu aku, sih. Anak kos semester awal yang lagi nabung buat liburan.

Aku mau menabung tidak hanya untuk liburan, sebenarnya. Juga untuk sound system, membenahi printer, membeli bensin, upgrade hardware agar bisa edit video, dan keperluan-keperluan lain yang penting tapi tidak mendesak. Sehingga keinginan makan bibimbap di Kimchi Resto pun Pizza Hut bersama Alivia adalah suatu angan yang mengawang dalam bunga tidur.

Barusan banget ku membaca suatu chat dari kating berbunyi "Luka bakar grade 2a paling itu. Bulanya dipecahin, kasih analgetik dan antibiotik. Perban moist. Jangan sampai kotor. 3 hari dah baikan paling" dan hidupku tiba-tiba terasa mudah saja. Aku harus belajar giat untuk bisa memudahkan urusan orang lain.

[Day 10] Besok Field Lab Terakhir Bersamanya

Aku membuat jariku terluka; mencuci kemeja putih lalu kelunturan; membuat mie tapi kelembekan; mengirim hal-hal tidak penting di group chat; melakukan hal-hal bodoh lain dan sangat ceroboh.

10 hari pertama sudah kelewat. Ramadhan seperti bola yang menggelinding di turunan. Aku masih berpikiran bahwa menjadi hebat tidak selalu berarti merelakan diri jadi aktivis serba bisa. Aku masih berpendapat mereka semena-mena dalam menaruh.

[Day 9] Oh

Hampir semua temanku yang jujur bilang kalau cerita ke aku pasti nggak seru, karena cuma kutanggepi dengan "oh" "hmm" "o gitu".

Trus aku kayak yaudalah ya gimana lagi ku juga gangerti harus nanggepin apa gitu? Padahal gaada niatan untuk kayak gapeduli lho dan malah seneng kalo diceritain.

Tapi ada satu temanku yang lebih parah kalau diceritain nanggepinnya ngeselin. Mungkin kita sama-sama ngeselin sih cuman dia lebih unpredictable aja jawabnya. Yap, ku belajar banyak darinya. Dan jadilah diriku yang independent dan berbahagia layaknya hari ini.

Aku sudah pernah dengar kisah anak yang ibadahnya rajin banget tapi ga keterima ITB, trus malah jadi supir pribadi dan akhirnya jadi bos-bosnya anak-anak ITB. Pernah dijarkom di WA. Cuman, tadi, waktu diceritain ulang sama Mas Syukri di sebuah mushola kecil dekat rumah Kak Syayma, ku kaget karena jadi menitikkan air mata. Kalo udah gini, gimana bisa nggak sayang sama Allah?

Dan kemudian muncul lagi satu cita-citaku : nak, nanti kamu dari kecil sudah makmu ini kasih denger bacaan ayat suci alquran yang merdu ya biar kamu nggak kesusahan niruinnya, tiap malem kita ngaji bareng biar kamu nggak merasa canggung untuk ngaji sendirian, jadi imam sholat bapak-bapak di masjid komplek kita kalau kamu udah gedean nanti juga oke. Gimana ya nak mewujudkannya kayaknya nggak ada yang lebih baik dari teladan jadi makmu ini harus memantaskan diri supaya dapat jodoh yang bisa memberi contoh ke kamu ya nak. Ya Allah kabulkanlah.

[Day 8] Bryan

Maaf terlambat.

Sudah turun 3kg padahal baru ikut puasa 5 hari. Nggak berbuka maupun makan sahur dengan hidangan sebagaimana di rumah, tapi kalo inget saudara-saudara yang 'berpuasa tapi nggak tau kapan berbukanya', selalu miris dan ingin menangis. Saudara-saudara yang susah air bersih, atau nggak ada listrik, gimana tersiksanya? Adik-adik yang setiap hari rindu orang tua, tapi sudah nggak bisa untuk sekadar telpon saja karena sudah beda dunianya.

Aku ingin berbagi apa yang bisa kubagi. Aku ingin memberi apa yang bisa kuberi. Rasulullah seorang yatim piatu dari kecil dan aku baru menyadarinya. Aku rindu pulang dan berangkat sekolah bareng mama tapi aku harus tidak boleh menangis bila sekarang cuma ditemani Bryan.

[Day 6] Tentang Pilihan

Aku tahu sambat ada baiknya dieradikasi saja dalam hidup, tapi aku sering nggak bisa kalau nggak sambat ke Alivia. Tentang kemarin, misalnya. Dan kemudian tanggapannya adalah "lek aku yo tak jawab fa : km kok ga menghargai pilihan org"

Balqis dan aku sering nggak makan-makan sampe malem gara-gara bingung mau milih menu apa. Sama-sama terserah, sama-sama nggak mau menentukan. Mungkin saking nggak appreciate-nya budaya kita pada pilihan, kita jadi terbiasa pekewoh alias sungkan atau malah males untuk memilih, dan mempertanggungjawabkannya.

Giliran ada yang berdiri pada suatu komitmen dalam hidupnya, kita laksana dewa memberinya label di sana dan sini. Suatu malam sepulang makan, seorang temanku yang udah pinter rajin pula, curhat bahwa dia nggak suka sama beberapa oknum yang memanggilnya "heh ambis" tapi terus "liat laporanmu dong" dan nggak bilang terima kasih sesudahnya. Lah what's wrong with you people.

Aku bukan penggemar Demian maupun dunia persulapan, tapi salah satu post di timeline--akhir-akhir ini memang ada banyaaaaaaak sekali manusia-manusia entah asalnya dari mana, umurnya berapa, tinggalnya di mana dan saudaranya berapa, menyuarakan opini pro kontra mengenai berbagai topik dan oleh karena kehebatan teknologi bisa dengan mudah tersaji di timelineku--yang membuatku kayak, ada benarnya, negeri ini sibuk banget menebar kebencian sampai lupa apresiasi.

Sebenarnya aku agak merasa terdholimi karena dari dua pertemuan terakhir, dua kali mereka melabel 'orang Surabaya' atau 'orang Jawa Timur' ya ngomongnya keras lah, kasar lah, blak-blakan lah, apalah inilah itulah. Lucunya, karena aku baru bergabung dan nggak sempat kenalan dengan proper, cuma beberapa yang tau dan sadar ada orang Surabaya woy di situ! Aku bisa saja marah karena merasa dicap begini begitu, tapi aku memilih untuk tidak. Pertama, karena latar belakang budaya memang beda. Kedua, karena buang-buang tenaga.

Semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa memilih adalah suatu privilege yang nggak sepatutnya disia-siakan. Ketika kamu bisa memilih, pilihlah, dan saat kamu sudah memilih, lalu kamu berdiri tegak atas pilihanmu dengan segala latar belakang dan alasan yang mendorongmu melakukan itu, kamu perlu tahu bahwa orang lain nggak selamanya benar, dan kamu berhak untuk tidak mengikuti pilihan mereka.

Mungkin saking banyaknya yang harus kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti, kita jadi cenderung menghindar dari bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kecil yang kita buat sekarang.
Eh, nggak juga, sih. Toh banyak yang ngantre jadi ketua ini itu dengan alasan kekerenannya, entah pertanggungjawabannya cuma sebatas visi misi atau angan belaka.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Sedikit cerita tentang hari ini, di tengah jalan bensinku kedip-kedip satu strip dan mau nggakmau aku harus beli. Ternyata kusalah berhenti di mesin baru yang cuma jual pertalite dan pertamax, yang berarti harganya mahal. Padahal di dompet cuma ada selembar 50rb, selembar 5rb, dan berlembar-lembar struk lama. Akhirnya beli 50, alhamdulillah dapet 6 literan.

Habis itu isi nitrogen. Sebenernya udah mau lanjut aja cuman emang dari kemarin mau cek angin nggak sempet-sempet dan jalannya udah nggak enak, karena takut kenapa kenapa jadi ditatagin aja. Dalam kondisi ketir-ketir karena cuma punya lima ribu dan recehan 500 yang jumlahnya juga lima ribu, kuberanikan diri berhenti di depan kios masnya. Satu ban kalo tambah angin harganya 4rb, bannya ada 4. Mungkin karena terlalu sering menghantam gronjalan atau dibawa ke puskesmas wonogiri kemarin, ban pertama anginnya kurang. Semakin khawatirlah diri ini, lalu mengarang skenario kalau nanti ternyata empat-empatnya kurang angin apa kubilang ke masnya aja ya "Mas maaf uangnya kurang saya ambil dulu di kos" trus ninggal KTP or apalah terserah trus balik kos trus balik lagi. Hmm bole gak ya.

Udah ban ke tiga dan tiga-tiganya kurang angin. Terus ku mengais-ngais di dalam tumpukan kertas siapatau ada duit. Alhamdulillah ternyata ada 2rb. Dan, ban keempat nggak kurang angin.

Agak tengsin bayar pake 10 keping receh berasa saudagar arab saudi. Tapi nggak masalah karena setelahnya hati ini menjadi lega dan bersyukur tergelitik keajaiban-keajaiban kecil. Gusti Allah mboten sare, boi.

[Day 5] Ada Semangat yang Terselip di Celah Pintu

Setelah sholat subuh aku mengaji, lalu tidur lagi karena ternyata remednya jam 1 siang. Belum apa-apa sudah buruk mimpinya--aku berjalan-jalan di kompleks perumahanku di Surabaya dan nggak ada satupun kehidupan, kayak udah ditinggalkan. Waktu cahaya matahari mengintip dari balik gordyn, aku nggak punya pilihan selain bangun dan melanjutkan belajar. Ternyata, ada semangat yang terselip di celah pintu kamarku. Pasti dari Kagary. Mau kusnapgram tapi nggak jadi, cukup senangnya di dalam hati.

Kemarin malam juga Gita memberi semangat. Nggak tahunya, pagi tadi dia mengirimkan lagu yang suka kunyanyikan karena belajar parasit : cacing-cacing di perut, curi semua nutrisi. Versi Gita lebih syahdu, dengan tambahan "tapi tak perlu takut, ada Allah" di akhir bait. Dasar, fetus polos tak berdosa.

Ada kalanya dunia begitu dingin sampai-sampai kamu merasa tidak ada lagi harapan. Padahal, selalu ada bahagia di titik-titik yang tersebar di muka bumi. Aku merasa lebih hangat meski masih jauh dari masakan mama di kala sahur dan berbuka. Karena pada akhirnya nanti toh kita juga akan sendirian saja. Dalam suatu tindakan penanganan ada yang namanya memperbaiki kualitas hidup. Alhamdulillah Allah menitipkanku pada kehangatan yang indah.

[Day 4] Dituntut Macam-macam Padahal Bukan Tuhan

Sebenarnya, aku merasa tidak enak pada dosa-dosa masa lalu. Sebagai seorang mantan manusia yang suka mencolot ke sana ke mari, mungkin orang mengiranya eman-eman kalau tidak dilanjutkan. Terus ilmumu itu dibuat apa kalau nggak kamu gunakan? Tapi, bahkan aku sangsi sekali kalau kalimat-kalimat persuasif itu ada benarnya atau cuma iming-iming belaka, karena jalan itu kan memang tidak bisa dilalui sendirian.

Aku sadar bahwa ada kebijaksanaan berpikir, pengalaman, dan pola pikir baru yang hanya bisa didapat ketika kita meluangkan waktu untuk berinteraksi. Namun, selalu ada dilema di tengahnya, antara ingin terjun tapi terlalu bodoh untuk bisa mengatur waktu dengan baik. Ingin bergerak tapi tertahan. Bukan, aku tidak dikekang. Sadar diriku yang mengekang.

Sudahlah, Sanifa. Kamu selalu kepikiran dan tidak bisa bilang tidak. Kemudian, mengada-adakan alasan setelahnya. Memperbarui niat, atau menggantinya mentah-mentah?

Aku sangat lelah sampai kasihan teman-teman yang memakan terang bulan di kamar tadi kukacangin. Besok remidi dan malas sekali mendengar kalimat "Kok kamu bisa remidi?" dipikir Tuhan Yang Mahasempurna kaliya.

Siklus itu balik lagi, keadaan di mana ada terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab. Seperti konfirmasi kehadiran, misalnya. Mungkin sekarang di Taman Budaya sudah ada situs baru, namanya Budaya Konfirmasi. Sebagai manusia yang berjalan di muka bumi, kamu dituntut bisa segalanya.

Aku tidak suka kalau teman-teman minta minum dan dicucup langsung dari botol minumku. Menitipkan barang-barang dan membuat reget di lantai kamar kosku juga suatu hal yang membuatku tidak nyaman. Entah apa yang akan mereka pikirkan nanti bila tiba-tiba membaca ini, tapi aku cuma nggak bisa bilang. Dan iya-iya saja karena aku malas dengan orang yang banyak permintaan, dan tidak mau menjadi salah satu di antaranya. Biar kuceritakan pada kalian saja agar tidak jadi kanker.

Entah mulai kapan kawan-kawanku jadi suka menulis di laman pribadi, yang jelas aku terlampau senang dan suka senyum-senyum sendiri membaca tulisan mereka yang bermacam-macam. Mengingatkanku pada sekilas kehidupan yang menyenangkan. 

Aku masih berpikiran bahwa apa yang kalian lakukan itu jahat. Bagaimana jika aku sampai berpikir bahwa mungkin ini jalan Tuhan yang dibisikkan padaku, lalu kembali terengah-engah mengejar impian yang setengah-setengah, tidak berhasil menyekolahkan si anak di Jakarta atau Jepang, menjadi bukan siapa-siapa dan semakin bukan apa-apa karena kamu menggunakan bahuku sebagai pijakan hingga tidak ada yang terlihat selain ujung-ujung kepala?

Aku tidak masalah menjadi tidak keren, sudah pernah aku bilang. Kalau kamu paksa begitu, kebebasan berpikir cuma mitos.

Cacing menyukaiku dan aku perlu membalas rasa cintanya, nasihat Gita. Aku rindu Ramadhan tahun lalu saat waktuku habis kugunakan siang malam kembali pada-Nya.

[Day 3] Percaya Bahwa Cahaya Masih Ada

Aku mengawali hari dengan menghibur diri bahwa malam ini, semua bakal berlalu.

Ada tiga acara yang jamnya tabrakan menjelang maghrib, dengan tiga tempat dan tiga kepentingan berbeda. Nggak perlu ditanya, kesemuanya minta diprioritaskan. Sebenernya mudah saja kalau aku menjadi masa bodoh dan pura-pura ketiduran, tapi aku nggak pernah kebayang untuk menjadi demikian. Alhasil, jadwal yang kugeser-geser sejak kemarin baru fix jam tiga sore, beberapa menit sebelum acara pertama.

Tapi, kemudian hujan. Alhasil, aku cuma bisa memenuhi dua kewajiban, satu setengah lebih tepatnya. Lalu, kaki udah kesel banget sampe kos, sehingga perut yang lapar nggak jadi terisi karena setelah menanak nasi aku nggak sanggup turun lagi buat goreng lauk. Sekarang, terdampar tanpa tenaga karena terkuras mikir konsumsi yang nggak jelas jluntrungannya.

Mengurus hal-hal ini dan itu memang cukup makan ati. Ketika chatmu di grup nggak direken atau dijawab tapi kayak "Yaampun kamu bodoh banget gitu aja nggak bisa". Bisa saja aku cuma jadi silent reader, nggak mau ikutan ngurusin A atau B dengan alasan "Saya punya masa depan yang dipertaruhkan di ujian blok minggu depan, dan nggak punya waktu untuk membantumu mengurus kegiatanmu yang nggak jelas itu." Tapi, bukan di situ masalahnya. Yang bikin jadi berat adalah karena nggak semua hati ridho atas penculikan waktunya sehingga yang bersedia berkorban sebenarnya cuma jadi tumbal. Iya, bukan main kesalnya.

Uang, uang, uang. Untuk mewujudkan ide-ide gila kalian butuh uang. Makanya, nggak sekali dua kali ruang kuliah jadi ladang danusan, grup-grup besar jadi papan iklan. Dan PJ-PJ keuangan pun pusing besok mau jual apalagi. Kalau bisa jual ginjal kayaknya udah habis ginjal mahasiswa FK. Sebenarnya, uang-uang itu ya cuma berputar-putar aja. Tapi, buat nalangi seuplik DP 50% saja, mahasiswa rantau ngekos yang goreng nugget sehari ae diitungin biar ngirit, duit darimana?

Aku udah kepingin nangis karena ngebayangin gimana mama nggak bisa tidur mikir UKT anaknya. Gimana orang dewasa bisa bernapas dengan semua tanggung jawab yang nyata di hadapan mereka? Aku ingin cepat-cepat dewasa, tapi sekarang nggak.

Allah Maha Kaya.

[Day 2] Niat itu Bisa-bisa Aja Diperbarui

Nggak beda jauh dengan hari kemarin, alhamdulillah ku masih bisa menjadi manusia bermanfaat meski masih berkutat di sekitar kos dan barang-barang di dalamnya. Karena udah diwanti-wanti mas Aufa di akhir wawancara dulu buat menjadi tepat waktu di setiap keadaan, 10.59 aku udah nyampe di depan kos mbak Salsa di sebelah Pena. Kita emang janjian jam 11 buat bantu-bantu beliau pindahan. Alhamdulillah tadi setengah satu kelar.

Gara-gara dulu suka nonton Naruto, aku selalu bisa membayangkan chakraku terkonsentrasi di kedua tangan dan kaki waktu mengangkat barang-barang pindahan yang lumayan mantep. Mamaku bisa angkat-angkat galon, literally diangkat dan dibawa ke kosan dari toko sebelah, sendirian. Mungkin kemudian menjadi genetically inherited dan jadilah anaknya hobi buang-buang tenaga mengangkut barang-barang ke sana ke mari.

Mungkin ini salah satu cara Allah memberikanku jalan untuk sedekah, sedekah tenaga.

Kemarin aku bilang mau cerita tentang niat. Melalui pertanyaan-pertanyaan kecil dari mas ketua HMPD gen 2 waktu famgath lkmm kemarin, aku sadar bahwa aku udah lupa kenapa dulu daftar kepanitiaan itu. Tapi ternyata, aku nggak perlu khawatir karena niat itu boleh aja kita perbarui. Bisa dalam bentuk niat yang baru yang memang baru kepikiran di tengah? Bisa, mungkin. Aku rasa bisa.

Barusan dapat kabar bahwa salah satu teman dan kakak tingkatku jadi imam sholat qiyamul lail di salah satu masjid di daerah Palur, setengah juz. Di posternya tercantum nama dan gelarnya, "Mahasiswa Penghafal Al-Qur'an Fakultas Kedokteran UNS 2016". Masya Allah, indah nian. Gimana nggak iri?

Aku selalu merasa bahwa Allah yang memilih sendiri siapa yang berhak menghafal firman-Nya yang suci. Seperti menanti jodoh, kata kuncinya membenahi bukan mencari. Semakin nggenah, semakin Allah ridho. Kata ustad Hanan Attaki, kita serahkan sama Allah, Allah yang kasih. Bahkan kita udah tau bahwa rencana-Nya yang terbaik, jadi kenapa harus 'ngetag' yang belum tentu terbaik? Aih, tsadest. Malah ngomongin jodoh.

Dulu cita-citaku adalah menjadi manusia bermanfaat. Lulus SD, berubah jadi suatu profesi, karena SMP-ku SMP negeri dan masih malu kalau beda sendiri. Mau jadi normal dan tidak mencolok. SMA, si organisatoris muluk-muluk kepingin jadi dokter cuman ditahan-tahan karena belajar aja keteteran. Kukira masuk di pilihan kedua tidak selamanya karena kamu tidak sebaik itu untuk pilihan pertama, tapi karena ini lingkungan yang mau Allah kasih ke kamu. Ge-er dikit nggakpapa ya.

Sekarang, cita-citaku kembali jadi orang bermanfaat. Insya Allah, kalau Allah mengizinkan. Sambil menghafal al-quran ya, bismillah. Semangat kawan semoga amanah.

[Day 1] Nilai itu Satu-satu Ditaneminnya Jangan Langsung Banyak

Aku tidak mau ini panjang-panjang jadi walaupun ada banyak yang mau kuceritakan, tentang jodoh misalnya, langsung kupersingkat aja.

Meski agak malas, aku membersihkan kamar juga akhirnya. Motivasinya tentu bukan karena katanya kamar anak cewek nggak boleh berantakan. Nonsense. Kita punya waktu yang sama-sama hectic terhitung sejak responsi parasit minggu lalu, lelaki maupun perempuan. Dan sebagai anak manusia yang masih banyak malasnya, alasan "kan kamu cewek" bukan suatu hal yang kuat untukku menggerakkan kaki membereskan baju-baju yang harus dilaundry. Jadi, ya, sebenarnya membereskan itu karena ada waktu dan tenaga yang tersisa. Dan penting untuk kesehatan. Jangan protes ae lah.

Lagipula, ini awal bulan mulia. Jadi rasanya indah kalau menghadapi semua dengan kebersihan yang merupakan sebagian dari iman. Masya Allah ukh, alhamdulillah dipertemukan lagi.

Kemudian, aku pun melipati baju-baju untuk dibawa ke laundry, membereskan buku-buku dari meja belajar ke lemari, melepas hiasan balon emas sejak ulang tahunku yang lalu, mengerik selotip bekas tempelan penghuni yang dulu, lalu menyapu, mengepel hingga tiga kali karena Allah suka angka ganjil. Setelah membersihkan kamar, rasanya cantik. Namun, kecantikan itu, sebagaimana semua kecantikan di dunia ini, tidak berhasil bertahan bahkan sekejap saja.

Bagi kamu yang tidak tinggal sendiri, bersama teman, saudara, atau mungkin tetangga kos dengan intensitas kekeluargaan yang sangat tinggi misalnya, ku harap kamu bisa bersabar dalam menghadapi segala jerih payahmu membersihkan lantai sampai kinclong yang cuma bertahan hitungan menit lalu ketumpahan sesuatu yang mereka bawa.

Aku sudah mulai terbiasa dengan kasur yang baru dikebuti (tau nggak? ditebahi, apasih, dipukul-pukul pokoknya supaya hilang debunya) lalu diduduki teman-teman yang belum ganti baju dari habis berjalan-jalan. Kami baru selesai berbuka di kamarku dan semut-semut yang sudah kuusir kembali datang dengan manja, meja yang sudah kulap dengan sepenuh jiwa ketumpahan minyak goreng bekas sosis, remah-remah keju dan colekan margarin di salah satu ubin, dan beragam praktik ketidakhigienisan lain yang kutahu bila mbakku ada maka beliau akan uring-uringan. Sebenarnya, kalau kotor laginya karena kegiatanku sendiri rasanya lebih tidak papa. Cuman, masih susah rasanya untuk ridho pada kontribusi teman-teman. 

Lalu aku ingat mama, yang membersihkan rumah setiap hari padahal tahu pasti keesokan harinya jadi berantakan lagi karena anaknya.

Ah, aku malu belum bisa seperti mama. Kalau kotor kan tinggal dibersihkan lagi. Semangat.

Oh iya, di Solo hujan. Aku belum mulai puasa, udah pernah taun lalu. Mau nonton Reply 1988. Apa itu UB? Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Ingatkan aku besok mau ceritanya tentang niat, mukena, atau dia.

When you love someone but it goes to waste

Bodoh rasanya ketika terbangun dan memaksa kembali tidur, hanya karena tahu bahwa kebersamaan itu hanya bisa terwujud dalam mimpi.

Adalah bijaksana untuk menahan diri dari berkata "Apa ku bilang!"
Tapi, bukankah menuruti perintah adalah salah satu hal yang patut dihindari?
Sepertinya bukan tentang apa, tapi tentang apresiasi.
Terima kasih sudah menunjukkannya, di awal saja, lalu pergi.

Memutar kedua bola mata karena muak pada percakapan komersil. Tidakkah kami terlihat seperti televisi? Terima kasih, menjadi tahu. Menambah inspirasi. Meski tak pernah absen untuk melewatkan saja, sambil lalu. Tak pernah peduli.

Dan bila akhirnya kata-kata itu kembali, hanya kata-kata saja tanpa arti. Tersentuh karena kebaikan hati, kesungguhan dalam setiap manis yang diberi. Tapi, ya, kosong saja, seperti keripik kentang. Benar-benar tahu bahwa ada jurang meski jarak sedekat nadi.

Tentu saja percaya, bahwa tidak ada manusia sempurna. Kita semua sudah lelah dengan segalanya, perlukah menggembar-gemborkan makianmu pada dunia? Bahkan mereka tidak berhak mencicipi sedikitpun kesedihanmu, biar jadi abu saja. Tapi, membuka telinga sangat susah, ya. Lebih suka membuka kata, buka bicara. Katamu, dan kerajaanmu.

Takut untuk berubah bila ada cinta. Ya, dan kemudian bertanya. Tapi kalian hanya diam saja dengan mulut menganga. Bercerita tapi tidak terhubung, bertanya tapi tidak dengan hati. Bertatap muka tapi kosong.

Bisakah kamu berhenti berteriak? Atau berceramah, terserah yang mana. Aku hanya ingin sesekali menikmati malam minggu, dan menyia-nyiakan waktu, seperti dulu.

Karena aku sudah tidak percaya pada kalimat sungguh-sungguh.

Dan biarlah angin atau api yang nanti membawakan kabarnya padamu, tidak pernah bahagia untuk menjadi tidak benar-benar ada.

could it be worse?

[2] Buku Laporan

Selesai responsi, kami harus ambil kartu dan buku laporan di meja depan sendiri. Karena malas kemriyek, aku cuma duduk saja dulu, toh juga nggak keburu-buru. Tau-tau, RK alias ruang kuliah udah sepi aja. Terus tiba-tiba dia dateng ke mejaku, sudah bawa kartu dan bukuku, "Nih," katanya, malu-malu. "Makasiyak!" sambutku, gatau malu.

Itu dulu, waktu blok yang lalu. Karena udah nggak tau mau ngapain kalo duduk, hari ini aku cuma nunggu kemriyek-nya reda. Pas udah agak kosong, ku maju. Di depan, kartu praktikum ke-dua yang ku cek adalah punyaku. Kemudian tinggal buku. Lah, kok nggak ada?

Ternyata ada dia, pas di seberang meja. Clingak-clinguk kayak anak ilang. Bawa dua buku laporan dan satu kartu praktikum. sambil sesekali ngeliatin bangku deretan belakang. Karena ge-er, kutunjukin kartu praktikumku, biar dia sadar, "Nyari ini, yak?"
Et dah cuma dilirik aja kartunya! Betapa malunya diri ini karena cegek. Lalu, dia pergi. Aku pun melanjutkan mencari, ini buku ke mana masak kebawa anak....

"Ni anak dicariin," katanya, sambil naruh buku laporanku yang dia bawa dari tadi. Lah, balik lagi dia. Ku cuma senyum tapi pasti ga keliatan. Gangerti lagi ni anak gapeka banget padahal udah diliatin dari tadi.

Mungkin dia cuma ingin berbuat baik, seperti yang selalu dilakukannya kepada semua orang. Tapi, ku jadi merasa tidak sendiri lagi dalam menghadapi hari-hari yang rumit ini.

[1] Lipstick

Aku tidak pakai lipstick. Tidak tahu kenapa. Padahal kalau kamu sudah kuliah, itu sudah jadi suatu hal yang basic. Kayaknya setara baju, semua orang pake.

Suatu hari, kami sedang makan sebelum ujian. Karena makanku sudah selesai, dengan sukarela aku me-review-kan materi keras-keras. Tiba-tiba, ditengah penjelasanku yang amburadul, dia tanya, "Kamu pake ini?" sambil melakukan gerakan kayak memoles di bibirnya.
"Nggak, kenapa emang?" kataku.
"Enggak, cuma bagus aja gitu," katanya tanpa dosa.
Teman-teman langsung ramai. Lalu ketawa-ketawa gajelas.

Mungkin dia cuma asal njeplak, atau ngeles aja seperti yang selalu dia lakukan.
Tapi aku jadi tidak lagi merasa tidak normal karena tidak pakai pewarna bibir.

Ada Rezekinya Masing-masing

Sepulang sekolah, saya asyik ngerumpi sama teman-teman yang raganya agak jauh di sana. Besok praktikum dua, sambil buka-buka buku buat ditulisin rencana kerja. Tiba-tiba ingat, tadi pagi ada pengumuman nilai pretest suatu lab yang agak abstrak. Lalu saya curhat.

Alkisah, ada seorang anak. Dia yang dikenal sama teman-teman di sana, makanya kadang kuceritakan ke mereka. Lalu ternyata dia itu anaknya yang kayak cuma ada di buku cerita, teladan gitulah intinya. Padahal ku ya cuma bilang aja, "Kesal dengannya karena nilainya bagus, tugas ga menyonto, padahal sehari-harinya amat sibuk, organisasi jalan" dan lain sebagainya. Memang beliau tampaknya hidupnya lurus-lurus saja, belum pernah kelihatan remed (setiap ujian kan ada nilainya terpampang nyata dengan nama dan nim di sebelah kirinya), tapi juga amat berdedikasi dalam aktivitas non akademiknya, juga memenuhi hak-hak tubuhnya dalam berjumpa Tuhannya. Seseimbang itu, kok bisa.

Namun, tetiba saja, pas setelah selesai mengetik curhat yang sebenarnya nggak kesal-kesal banget, cuman nulisnya aja yang kesal, pas banget selesai baru naruh hp lagi, ada suara terjemah ala radio 93,8 syam fm suara muslim surabaya yang sengaja kudownload di laptop, memperdengarkan QS. Huud ayat 6 :







Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Lalu saya kaget.
Astaghfirullah.
Lalu saya pun bercerita pada kalian.

Menjadi Siapa-siapa

Tulisan ini saya buat karena saya gatal melihat kata-kata "orang keren" bertebaran di mana-mana sampai kehilangan maknanya.

Hai.

Apa harus jadi aktivis ini itu dulu, baru bisa dibilang keren?

Tapi, tunggu.

Kenapa harus jadi "keren"?

Sebenarnya kamu membawa misi apa, sih. Kemakmuran dirimukah, kebanggaan tujuh turunan, masa depan yang mapan, suara yang didengar, jaringan luas agar bisa dimasukkan dalam kolom SWOT di CV sebelum melamar kepanitiaan yang cuma kecil saja? Atau upgrading diri agar lebih baik di depan khalayak, lebih baiknya ini tujuannya untuk apa juga, agar bisa menginfiltrasikan pemahamanmu, membawa seru-seruan, memengaruhi sekitar? Kamu merasa mampu menjadi tonggak, pentolan dari grup kecil hingga besarmu, bertanggung jawab atas segala yang kamu pikir, katakan dan perbuat, apa yang kamu yakini. Untuk mendapat tempat di masyarakat? Yang didengar, yang dipandang, yang penting? Atau cuma sebagai ajang pembuktian bahwa kamu yang lebih dipilih dari teman-teman yang lain?

Ada seorang teman yang bilang bahwa labelling adalah kegemaran anak muda. Dulu saya khilaf melabel manusia ini dan manusia itu melalui tes kepribadian yang cuma empat, di tulis di ID card dengan kode-kode stik PS. Tujuannya agar punya gambaran secara garis besar dia seorang yang seperti apa, akan melakukan apa bila diberi 'nutrisi' sedemikian rupa. Nyatanya, meski ilmu kemanusiaan saya sangat tidak lebih banyak dari Bila, saya rasa manusia tidak sesederhana itu untuk disederhanakan. 

Lalu kali ini saya berhadapan dengan label "orang keren".

Apakah kita saat ini sedang berlomba-lomba jadi orang keren, agar kemudian... apa?

Mau keren biar apa?

keren/ke·ren/ /kerén/ a 1 tampak gagah dan tangkas; 2 galak; garang; lekas marah; 3 lekas berlari cepat (tentang kuda); 4 perlente (berpakaian bagus, berdandan rapi, dan sebagainya) (kbbi.web.id)

Seorang teman yang lain tiba-tiba bertanya mengenai keinginannya mendaftar calon koordinator sebuah organisasi. Kebanyakan teman, kalau ditanya kenapa daftar, bilangnya hanya ingin saja. Saya pernah berawal dari hanya ingin saja, kemudian mengada-adakan alasan yang menguatkan kenapa saya ingin. Lalu saya jadi bingung, sebenarnya diawali keinginan dulu atau alasan-alasan dulu? Kalau ingin saja, kembali ke paragraf panjang pertama. Apa yang diusung, apa yang dibawa?

Saya nggak satu dua kali ditanya, meski sambil lalu saja sih, seperti "Kalau aku remed jangan kucilkan aku, ya" "Kalau aku nggak jadi apa-apa kamu masih mau jadi temanku, kan". Apakah dengan--yang orang bilang--tidak menjadi "siapa-siapa" berarti tidak boleh punya teman? Kenapa harus menjadi apa dulu baru bisa cari teman?

Menjadi manusia bermanfaat tentu merupakan tujuan yang mulia. Tetapi menurut saya, jabatan bukan sebuah jaminan untukmu menjadi bermanfaat. Lebih-lebih, label "orang keren" yang menyertainya cenderung sebagai pencapaian semu dari masyarakat yang begitu subjektif. Seperti yang dulu pernah dibicarakan Bila (agaknya Bila sering mengisi pemikiran-pemikiran saya), tentang menjadi seseorang yang berada di bawah lampu sorot dan orang lain yang bertepuk tangan di sekitarnya. Sungguh lapang hati stroma sebagai jaringan penyokong yang menyokong unit fungsional terkecil dalam tubuhmu. Bagaimana jika nggak ada?

Lebih gampang lagi, ketika kamu memberi pujian pada seseorang, "Bagus!" sambil mengacungkan jempol. Apa yang terlihat? Jempol. Apa yang tidak terlihat? Tulang yang menyusun jempolmu. Bila nggak ada tulang di dalamnya, bisakah kamu menunjukkan jempolmu sebagai penghargaan pada orang lain? Jempolmu mungkin hanya terkulai dan squishy. Apa sepenting itu untuk terlihat?

Selama ini, keren seringkali kita maknai sebagai hal-hal terlihat. Mungkin karena kita bingung bagaimana menilainya kalau tidak terlihat. Maka, orang-orang berkompetisi untuk menjadi orang-orang terlihat, menjadi siapa-siapa, menjadi keren. Dan menjadi takut untuk tidak menjadi kesemuanya.

Saya bukan yang paling sempurna untuk bilang bahwa apa yang kamu katakan adalah salah. Saya tidak membatasi kamu mengartikan satu kata yang sering kamu dengar itu : keren. Kalaupun keren versimu artinya yang bisa segalanya--meraup posisi ini itu dan keseimbangan yang menyertainya--oke, tapi saya absen. Tidak semua orang bisa demikian dan kamu nggak perlu selalu menjadi apa yang orang lain capai. Kalau bisa, sekalian pelajari kosakata lain selain keren. Saran dari teman, mungkin lebih baik menjabarkan kerennya itu seperti apa sih, daripada cuma bilang keren saja.

Dan tolong, adik-adikku jangan didoktrin kalau label "keren"-mu adalah penghormatan tertinggi sebagai manusia di muka bumi. Biar mereka berkarya sendiri tanpa batasan yang kamu cekoki.

Berkeluh Kesah

Kemarin kapan itu, aku membatin. Karena salah satu temanku disuntik lalu menangis. Beberapa hari kemudian, waktu mau diambil darahnya buat praktikum lab pk, ternyata aku ragu juga. Aku bakal menangis tidak, ya?

Boro-boro disuntik. Ternyata, cuma panas saja sudah menangis. Kalau pas itu ada salah satu temanku yang upload foto bersama pacarnya dengan caption "Kamu adalah yang menyebabkan aku takikardi", kukasih tahu ya, takikardi itu rasanya nggak enak. Lebih tidak enak lagi kalau kamu tidak tahu sebabnya.

Ada sedih-sedihnya kalau sakit jauh dari orang tua. Gimana cara bilangnya? Malah gopoh seisi sancaka dimintain tiket go show pagi-pagi sama mama. Sepertinya ada suatu sawar darah otak yang menyawari segala macam komponen darah, jadi seperti muncul purpura di mana-mana sehabis ruku', padahal nggak. Iya, dunia berputar, tapi dunia lebih berputar sampai nggak bisa didefinisikan. Selebihnya cuma khawatir kalo nggak bisa pulang, banyak khawatirnya kayaknya, jadi nangis.

Ini kujabarkan siapa tahu kalau tiba-tiba kalian nemu anak tergeletak di jalan lalu kalian-kalian bingung "ni anak kenapa kayaknya kemarin masi ketawa-ketawa aja."

Kalau sakit, gimana cara menunjukkannya, ya? Kalau nggak ditunjukkan, kalian paham, nggak?

Kenapa juga kalian harus paham.

Sebenarnya ku sudah menulis banyak, tapi disimpan di draft. Ingatkan aku untuk mencuci kendaraan, ya. Terima kasih kawan-kawan atas do'a dan perhatiannya, membuatkan teh dan membelikan aqua di warung jual pulsa karena aqua kos terdzolimi kita-kita yang tak rutin membayar uang bulanan (hiks). Terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku yang seharusnya ku sebagai anak indonesia yang kuwat tida boleh berkeluh kesah namun ku hanya mencari perhatian (anaknya sepenuhnya sadar diri). Semoga Allah selalu melindungi di manapun kalian berada.

SBMPTN

"Apa aku coba lagi aja ya, Bil?"

Beberapa waktu lalu, saya juga mengalami percakapan serupa dengan Timothy. Untungnya Allah segera mengirim sinyal positif tentang keberadaan saya di sini. Dulu juga begitu, waktu tanya pada Bila. Tuhanku memang tidak menyampaikan dengan tulisan melayang-layang yang tiba-tiba muncul di udara, maupun segala jenis mejik yang nggak disangka-sangka. Dia cuma menyampaikannya dari Bila, sampai Bila bilang "Aku lho ingat fa waktu dulu pengumuman kamu hilang sampe lama tak pikir kenapa-kenapa ternyata ngekhatamin."

Waktu masuk 25% siswa paling "beruntung" se-Smala, saya sempat down sedikit di pendopo waktu itu. Sedikit aja, sih. Ya, rasanya cuman kayak orang ditolak aja mungkin. Waktu sampe mobil dan bilang ke mama apalagi. Rasanya kayak diiris-iris karena gagal jadi anak yang membanggakan. Ditambah lagi dulu izinnya ikut tetek bengek segala macem karena "Memperbesar kesempatan dapet jalur undangan, ma," ya tentu saja setelah pengumuman yang 25% itu beliau langsung menasihati panjang lebar mengenai "Sekarang kalau sudah demikian di mana itu sekolahmu yang sudah mbok belani pagi dan malam," ya intinya gitu lah. Sebenernya kalau kulihat lagi sekarang, itu bukan salah sekolahnya kok atau mama atau siapapun juga, tapi tak lain tak bukan adalah salah saya menjadi orang sok sibuk yang nggak tauladan banget oleh karena mengesampingkan kewajiban menjadi pelajar apalagi jadi anak (kemudian dilempar sendal karena sindrom hipercinta almamater) (tapi bener).

Tapi terus habis gitu udah lupa gimana ceritanya kok bisa bangkit kembali. Eh, nggak usah ditanya, sih, sudah pasti karena hidayah dari-Nya.

Kalo teman-teman tahu, saya setuju dengan pendapat bahwa SBMPTN adalah sebuah simulasi ujian hidup (apa kamu bilang? simulasi??) dan titik balik yang paling luar biasa terjadi dalam kehidupan saya selama beberapa belas tahun di dunia 2016 lalu. Setelah menjalani ujian di institut dekat rumah (hujan besar, banjir sampai jalan yang lagi di bangun di depan asrama itu nggak kelihatan bentuk rupanya), kesalahan saya nggak mengecek ruangan sehari sebelumnya jadi waktu pagi hari dateng sama mama, ruangannya nggak nemu. Ternyata salah baca angka di kartu peserta. Sebelum masuk saya dikasih mama Fisherman's friend apa pas itu saya lagi batuk, ya? Terus sudah, masuk ruangan saya duduk paling depan. Padahal selama masa kehidupan di SMA bangku paling depan adalah bangku paling saya hindari karena nggak enak aja kan saya gede nanti yang lain nggak kelihatan (padahal pendek, alesan aja). Di dalam saya.............ya ngerjakan sih ngerjakan, banyak sholawatannya. Soalnya kalo kita bersholawat, Rasulullah menjawab. Romantis nggak tuh. Kemudian terdapat tanda-tanda distress di mana saya berkali-kali tarik napas panjang, tapi berkali-kali juga mengingat bahwa saya nggak boleh panik. Bahasa dan TPA jadi sebuah hiburan tersendiri bagi saya karena ilmu pastinya saya los. Ada satu soal matematika yang saya rasa cuman itu yang saya bisa jawabnya, cuman karena waktunya udah mepet (yang lain seenggaknya udah ada yang keisi lah, tinggal mat doang) akhirnya saya bunderin dulu di lembar jawaban perkiraannya trus saya itung ulang. Pas itungan saya selesai, ketemu jawabannya, kayak bener-bener ketemu banget gitu, lembar jawaban saya udah diambil pengawas ujian hehe. Kayaknya saya kecewanya di situ.

Selesai, saya keluar ruang ujian. Karena macet parah, perjalanan mama dari rumah yang deket doang itu jadi lama dan saya nunggu di gedung elektro, di depan ruang ujian yang ada duduk-dudukannya, sampe gaada orang sama sekali. Saya baca-baca chat grup yang isinya masya Allah, doa dan semangat dari temen-temen yang udah keterima lebih dulu, terus ada chat juga dari Mas Faw. Intinya kayak nanyain gimana, terus yang paling ngena beliau bilang "Nggakpapa, tinggal berdoa aja. Dulu aku juga merasakan keajaiban kok waktu sbm" kayak gitu kalo ga salah. So much hopes he gave me that day. Kurasa ku mau nangis di situ tapi ditahan.

Mama datang bawa McD, tau banget anaknya hipoglikemi terkuras soal yang bikin shock setengah mati.

Dan salah satu hal yang saya syukuri menjadi angkatan 2016 (padahal sekarang banyak yang protes lahiran 97 kok masuknya angkatan 16) adalah : waktu itu Ramadhan. Waktu saya nggak punya hal lain selain harapan.

Mungkin waktu itu juga Allah dengan segera mengabulkan doa mama karena mama nggak tega mendengar saya bilang, "Yaudah kalo nggak lulus sekarang kan bisa nyoba taun depan," beliau memang orangnya nggak tegaan bahkan sampai kemarin saya ada yang remed juga beliau yang malah gopoh. Ngomong-ngomong soal remed, sebenernya saya nggak anti-anti amat karena sesungguhnya itu sebuah anugerah dan peringatan bahwa artinya saya harus belajar lebih banyak. Mending belajar sekarang daripada nanti nggak bisa waktu beneran praktik, gitu saya mikirnya. Yaudalaya balik ke masa-masa itu, singkat cerita, saya yang kepalanya sangat batu dan mood-nya sangat swing sudah nggak berkutik lagi, kemudian menjalani hidup dengan prihatin hingga Allah meridhoi saya khatam sebelum pengumuman dan menjalani ramadhan yang super berkualitas tahun lalu.

Doa saya adalah untuk ditempatkan di tempat yang menurut Allah paling baik bagi saya, meski saya berdoanya kayaknya menjurus ke satu pilihan program studi saja (dah lupa juga sih intinya berdoa aja). Itulah kenapa kalo ada yang tanya "Kamu dulu sbm jawab berapa per mapel?" saya nggak ngerti kawan, saya nggak tau. Bagi saya itu semua mukjizat Allah hingga saya bisa berada di sini saat ini. Itu bukan bagian dari kuasa saya. Kalo kata mama, apa susahnya Allah mengubah a menjadi b, b menjadi c. Maka saya nggak membahas kembali soal sbm setelahnya. Mungkin saya cuma takut bahwa kalau saya tahu, keajaibannya nggak tahu mau masuk dari mana. Jadi saya cuma meninggalkannya demikian.

Rasanya kemarin-kemarin saya cuma lupa aja kalau masuk ke sini bukan perjuangan yang gampang. Entah orang hendak berpandangan bagaimana, Tuhanku tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, dan menganugerahkan lingkungan seindah ini pasti ada maksudnya. Bila kemarin dulu saya masih perlu adaptasi yang Solo begini lah Solo begitu, saya rasa Solo nggak seburuk itu : saya dapat udara dingin dan teman-teman hebat yang senantiasa menjaga saya di lingkaran kebaikan ;b (ini beneran emot melet).

Saya nggak pernah bosan bercerita tentang pengalaman ini. Maaf ya yang udah dengar berkali-kali (atau saya udah pernah nulis di mana, saya lupa). Bukan berarti pengalaman saya yang paling benar, paling tragis, paling motivasional sampe pantas dipaparkan GO di M3 lho. Bukan berarti yang nggak menjalani sbmptn maupun yang jalannya bukan di sbm adalah golongan lain-lain (piye san piye). Setiap orang punya ceritanya masing-masing yang nggak kalah seru dan sarat makna. Yang pasti, ada campur tangan Tuhan di dalamnya.

Jadi, Bil, coba lagi? Kayaknya nggak di kehidupan saat ini.

The Dancing Blood

Helo.

Saya merasa egois karena melihat permasalahan dari satu sudut pandang saja, seperti bahwa cuma saya yang benar. Cuma karena saya tidak mau dengar lagi tentang keresahan, dan saya rasa semua orang harus jadi tidak resah dengan jalan yang saya lalui, mungkin demikian.

Setelah itu, saya tidak menyesal untuk meninggalkan dia pada tangan Yang Maha Kuasa, karena tangan saya terlalu kecil dan terbatas untuk dapat melindunginya dari apa yang akan melukainya.

Bicara tentang terlalu banyak bicara, saya bukannya mau ngomong apa, cuman saya rasa sedikit bicara dengan orang yang mengerti adalah keajaiban, dan sedikit bicara dengan orang yang tidak mengerti adalah ujian. Pemakaian kata sedikitnya saja sudah beda. Bisakah orang merubah siapa yang akan mengerti dia dan yang tidak?

Bumi berputar, tapi tidak dengan isi kepalamu. Alhamdulillah Tuhan masih memberi saya kesempatan mempelajari apa yang menurut saya sangat indah, dan semoga Tuhan selalu memberimu petunjuk. Ini bukan tentang di mana kamu ditempatkan, dengan siapa kamu dididik, prestige. Cuma tentang pertanyaan yang ingin kamu ajukan : yang membuatmu melonjak sampai seluruh unit darah dalam tubuhmu ikut berbahagia.

Maybe one day I'll fly next to you

Sewaktu kami pergi bermain di salah satu pusat perbelanjaan di daerah Ir. Soekarno, saya kaget mendapati momen-momen berserakan di sepanjang saya melangkah.

Kamu ada di tempat karaoke, di mainan pencet-pencet dino, di balik gantungan baju-baju metro, bahkan waktu kemarinnya di jalan sepulang kami menonton film dan saya menghadapi situasi yang berat, kamu ada di sana membisikkan "Tarik napas, tenang aja." seperti waktu itu, waktu saya tidak bisa mengontrol rasa panik ansambel.

Saya hampir tenggelam, maka ajaib bila tiba-tiba muncul telepon dari Laras.
"Hai beb," kata Timothy.
Di depan kedai Korean puff saya cuma bisa menahan ketawa sambil semua cekikikan di seberang sana.
"San, kapan ke sini?" berikutnya tanya Laras. Dan percakapan berlanjut singkat karena saya nggak tahan harus ngomong keras-keras di depan bapak-bapak yang kakinya diangkat sambil sepatunya dilepas.

Sederhana saja : saya tahu saya akan baik-baik saja bersama kalian, dan kamu juga di sana direngkuh Tuhan.

Fil 'Ardhi

Jangan khawatir, Mak. Anakmu sudah dapat kue dan ucapan selamat datang dari usahanya berbuat kebajikan, semoga jadi amal di sisi Tuhannya.

Ternyata, berbuat kebajikan itu seperti bernapas. Kita tidak selalu sadar. Menunggu paket dengan sabar adalah kebajikan, menyelot pintu gerbang saat masuk dan keluar juga kebajikan. Senyum mungkin sudah tidak lagi sesederhana ketika pulang sekolah masih bisa nemani mama nonton si boy, tapi juga kebajikan. Tebar, ditebar saja kebajikannya. Mana yang memperberat amal kita nantinya.

Sok alim kamu. Tidak modern alias konvensional! Urusan agama jadi sensitif, seperti ibu nyai atau pak kyai. Padahal, ya, padahal saja. Tidak perlu menjelaskan karena yang menyukaimu tak butuh itu dan yang tidak menyukaimu tak mau tahu. Kalau bisa menulikan indera saat mendengar cemooh tentang baju kamu yang tidak modis, tentu kamu bisa hingga menutup kedua mata saat coba dijatuhkan dari usaha menjadi baik. Yang menjadi baik kamu, yang menilai bukan kamu, apalagi mereka. Toh usahamu adalah persembahanmu, bila Tuhanmu menerima, kamu kehilangan apa?

Mak, sudah larut. Anakmu butuh istirahat, tapi kewajibannya belum dia laksanakan. Seperti tercekik rasanya dia memikirkan bagaimana mau tidur nanti, lalu bagaimana besok bila mendapat tugas yang nyata. Dia mau merengek minta ke siapa?

Dia, seperti makhluk-makhluk lain yang sepertinya, cuma perpanjangan tangan saja. Kalau dia bingung ilmuwan itu dapat ide-ide dan pemikiran dari mana, jawabannya sudah sejelas itu ternyata. Allah Maha Pemilik Ilmu membagikan ilmu-Nya pada siapa yang Ia kehendaki.

The Fatalists Hope

I'm not good at handling this stuff, alone.
So here we come : to the next level of hierarchy. I tend to shut myself from those things just because I've only had enough on my late self, and it wasn't a good thing either. I spent much time on that and the bitterness still there. Then I decided that it isn't my thing so I have to leave it out there. But that day when I walked into that room I want to be something different : to give something certain for the so called new family. At last, I'm just too dumb and cruel in mind to take the steps and leave out under the shadow of stigma.
If only I could speak my mind up and feel less incapable, then and only then, I would probably thank myself from being so unrecognizable I couldn't imagine before.
But to take courage you should have something others don't.
I lost the moment to hit the rock so I crawl instead of climb onto the peak of fortune. I cursed the fainthearted of mine more than others can see and be burdened enough to take nightmare as a morning class after that. I barely sleep, but when I do, I feel relieved, only to feel distressed for waking up. I did nothing to stand for it and it's the worst thing I could probably feel right now, said the most incapable human being.
It must be hard for him to take us on his side and leave the full of force and power squad on the other side. I just want to believe that it's because of something I cannot see even this very day.
I feel like we'll never win against anything even though the war isn't coming yet. But His grace is all over the world, and when I feel so tired of this little piece of catastrophe, I shouldn't have to.

Cokelat

Dear, diary

Lucunya, ini masih bulan Februari. Ujug-ujug saya dapat dua batang cokelat dalam sehari. Mungkin itu cara Allah memberi kejutan yang tidak disangka-sangka. Saya juga nggak habis pikir sama reman-teman saya, kok bisa-bisanya mengembalikan barang saya yang mereka pinjam di hari yang sama. Nggak bohong kalo saya bilang saya bahagia.

Di samping itu, hari juga berjalan semanis cokelat-cokelat yang mereka berikan. Kuliah selesai sebelum dhuhur, lalu sesampainya di kos saya lelap sekali sampai sorenya mati lampu. Kami belajar buat praktikum besok sampai nggak sadar pukul sebelas, atau mungkin saya aja yang nggak sadar karena nengs dah pada kuap-kuap.

Intermezzo aja, saya agak berdebar-debar gara-gara kabar kehilangan yang cukup marak akhir-akhir ini. Bahkan beberapa waktu lalu, tempat kami sempat kemalingan motor. Kok bisa? Nggak ngerti. Ditambah banyak jarkoman dompet hilang yang entah jatuh, lupa, apa gimana saya juga gajelas. Ada juga laptop yang hilang di kos salah satu teman Qisha yang cowok, kabar barusan banget, sampai charger-nya ga dibawa. Apa di tempatmu berkuliah juga sama, kawan? Kok banyak sekali kehilangan. Puncaknya, BPP eneng yang diduga ketinggalan waktu kami dinner di SS tadi juga gaada. Gangerti siapa kolu nyolong BPP yang isinya tulisan doang, untungnya apa? Ya Allah, lindungi kami.

Tinggal sedikit lagi Februarinya, lalu sudah bulan ke-tiga dari dua belas bulan tahun ini. Saya ingat, dulu saya sukanya ngasih cokelat ke orang, beli pake uang sendiri padahal uang bulanan juga ga seberapa, trus diprotes Alivia cuman lupa kenapa. Jujur, saya dah ga seberapa ahli makan cokelat dikarenakan batuk yang membandel sejak beberapa waktu terakhir. Tapi ternyata, ini bukan tentang cokelatnya kawan, tapi : perhatiannya. Cihui.

Selamat malam.

(Kamu)

Ini masih sore.
Aku ingin cepat-cepat malam.
Agar aku bisa cepat-cepat tidur.
Sehingga mungkin, dengan begitu
aku bisa lupa pernah menginginkan sesuatu yang tidak mungkin.
Seperti kamu, misalnya.

Sudah berapa kali matahari terbit,
aku masih hancur
dan semakin hancur
dan setiap aku memalingkan wajah, aku tidak ketemu
apa yang bisa membuatku pergi
darimu?

Aku setengah berharap ini catatan tentang Tuhan,
tetapi bukan.
Apa membahagiakan berarti mengorbankan perasaan?
Atau angan. Lalu, hujan.
Entah hujannya akan bertahan lama atau cuma sebentar saja malam ini, sama denganku.
Tidak tahu kapan berhenti mengharap,

dan bila kamu ternyata bukan takdirku,
izinkan aku untuk lupa saja, Tuhan.
Tolong.

Bersama Nastar

Didepak lalu saya lari ke mas in guk yang lagi menipu orang di Squad 38.

Hari pertama saya nangis-nangis bombay dan kusut masai kayak bungkus permen sugus yang ada sebagai asupan gula setiap kelopak mata kami rasanya berat. Alivia, dan terpujilah segala tugas yang menyertainya, kami saling bertukar sapa tidak jelas seperti biasa dan senda gurau. Lalu keesokan harinya saya bertekad untuk tidak mbambleh.

Bila bermimpi kami berlari di koridor, lalu ada pohon besar di lapteng. Pas sekali waktu saya lagi baper merindukan menjadi senaif anak SMA. Hal-hal yang tidak bisa dijelaskan selanjutnya adalah ketika saya percaya bahwa menanak nasi akan membuat diri saya lebih baik. "Ada apa?" kata Bila. Setelah percaya pada kata-kata Umar yang dikasih dia, saya yakin bukan kebetulan Bila ngajak bicara. Allah sedang mengatur semuanya.

Di dalam otak saya terngiang : "Kalau waktu itu Thomas Alva Edison berhenti maka hari ini tidak diterangi lampu," dan bisikan lain yaitu godaan untuk berhenti saja untuk mencari hal lain yang bisa dilakukan. Berada di titik feel so incapable of anything adalah malam yang berat, tapi kita tidak boleh membiarkan diri kita tenggelam di dalamnya, kawan. Saya tidak pandai berenang jadi saya mencolot saja.

Ada sebuah potongan kaastengels yang terjatuh di lantai lalu tidak sengaja keinjak, jadi remuk.

Remuk redamkan saja semuanya, dunia, kalau itu membuatku dekat dengan-Nya.

Sebentar ya, mas, saya tak ambis dulu.

Rabithah

Ya Allah,
sesungguhnya
Engkau Maha Mengetahui
bahwa hati-hati ini
telah terkumpul
untuk mencurahkan mahabah
hanya kepada-Mu,
bertemu
untuk taat kepada-Mu,
bersatu
dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu,
dan berjanji setia
untuk membela syari'at-Mu,
maka
kuatkan ikatan pertaliannya.

Ya Allah,
abadikanlah kasih sayangnya,
tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup,
lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman
dan keindahan tawakal kepada-Mu,
hidupkanlah dengan ma'rifah-Mu
dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Amin.

Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW,
kepada keluarganya
dan kepada semua sahabatnya.

Jack

Halo. Siapa namamu? Aku Jack. Aku suka makan pasta dan minum minuman jahe. Ayahku bekerja di ladang, ibuku tukang cuci. Kami hidup bahagia bersama dua bebek jantan dan tiga kuda di kandang.

Adikku? Satu. Jane. Dia punya masalah dengan saluran pernapasannya, jadi kami tidak pasang AC. Tidak, tidak. Dia baik-baik saja dengan bebek-bebek maupun jerami-jerami dari kandang kuda. Dia cuma terlahir kurang kuat, itu saja. Seharusnya sekarang dia sudah pulang untuk makan siang.

Oh, terima kasih atas kebaikan hatimu. Tidak, aku tidak tertarik dengan pemilihan itu. Cuma membuang-buang waktuku. Aku akan bekerja keras supaya Jane bisa sembuh, dan kami bisa makan. Well, terima kasih. Datang kembali!

Bahagia atau Tidak Bahagia


Kukira aku bahagia.

Sampai di suatu pagi, aku terbangun dari mimpi sebagai orang asing. Mari kuceritakan dulu bahwa rasanya sangat tidak menyenangkan, meski aku selalu yakin akan baik-baik saja bila takdir nggak sesuai dengan yang kuinginkan. Tapi, waktu melihatnya dalam mimpi, aku... tidak bahagia. Sewaktu terbangun aku tidak bisa serta merta bercerita karena jarak dan kesibukan.

Aku cuma, kecewa.

Kurasa itu satu alasan mengapa aku tidak benar-benar bahagia : aku mengkhawatirkan kehilangan hal yang membuatku bahagia.

Ada

Makan
Aku senang makan
Makan cokelat, makan nasi
Sayur-sayuran

Kamar
Aku suka di kamar
Setiap jam 11 ada bunyi lewat
Krincing, krincing

Lalu, ada telepon berbunyi
Aku sudah lupa
Makan ternyata seperti mengerjakan tugas
Saja

Di dunia hanya ada satu mengapa
Dan dua bagaimana
Tapi ada satu waktu lagi yang bahagia
Kamu tahu apa?

Itu kamu
Menungguku di belokan jalan raya

-

Tuhan,
aku tidak sedang membicarakan tentang dia.
Baik hari ini maupun hari kemarin.
Dan minggu lalu saat aku merasa semua jadi satu.

Pernah di berita, ada seorang anak bunuh diri karena putus sama pacarnya. Lalu, ibu-ibu yang membaca berita langsung histeris dan memaki jalan pikir anak yang pendek, ayah-ayah menghela napas menyesalkan kematian yang konyol.

Tapi, memang siapa yang tahu? Mengakhiri hidup itu bukan perkara mudah. Dan status depresi seseorang tidak bergantung pada satu hal saja, kurasa. Meski itu suatu hal besar dan membuatmu menangis semalaman selama sebulan. Aku pernah berakhir dengan berpikir 'mati saja' lewat sambal mamik dan nyamuk db. Tapi bukan di situ poinnya. Untuk benar-benar mengakhiri, kamu butuh lebih dari itu. Seperti misalnya, si anak tidak hanya putus sama pacarnya tapi sudah memendam banyak kemarahan dalam dirinya, lalu suatu hari Ia sudah tidak tahan dan tanggulnya jebol.

Aku membaca ulang beberapa tulisanku yang nadanya sumbang. Merdu sih, tapi menyakitkan. Kalau aku jadi kamu, lalu membaca tulisanku, aku rasa aku akan kecewa berat. Lalu memutuskan keputusanku sendiri, seperti pergi dan tak kembali. Sebenarnya, dan sebenar-benarnya, aku memang suka membuatnya kedengaran ambigu. Tapi aku rasa yang ini sudah keterlaluan.

Jadi, Tuhan, izinkan aku meminjam angin untuk menyampaikan permintaan maafku padanya. Aku tahu Kau pasti berat hati karena akhir-akhir ini aku jauh sekali dari-Mu. Kuharap Kau kabulkan saja doanya karena ia sangat dekat. Amin.

Seo In Guk dan Harvard Medical School

Aku ingin kembali ke masa di mana
bermimpi adalah hal yang dilakukan tanpa syarat.
Seperti,
"Tapi dia sudah tua"
"Tapi tesnya sangat sulit"
"Tapi uangnya nggak akan cukup"
"Tapi di sana nanti sama siapa ya"
siapa peduli?
Aku cuma ingin bermimpi.
Nggak berealita.

"Orang Keren", katanya

Kalau kamu sedang mencari yang istimewa, aku yakin aku bukan salah satunya.

Orang selalu punya indikator orang kerennya masing-masing. Yang mengusahakan, yang dianugerahi, intinya sama aja : kalau Allah tidak bilang iya, ya tidak. Mungkin orang kagum pada orang lain karena pencapaiannya yang luar biasa, atau terpesona karena ia adalah gambaran ideal seperti apa dirinya ingin menjadi di masa depan. Sampai di sini, istimewa bukan tolak ukur yang begitu objektif, ya. Bukan tolak ukur sama sekali malah. Yang benar tolak atau tolok hayo.


Aku masih yakin jalanku belum sepenuhnya lurus. Kadang singgah di tempat-tempat jualan es teh atau pisang goreng. Mumpung masih muda, kataku. Meleng karena tidak pakai kacamata kuda. Lalu, Allah sedang menyentilku untuk jangan main-main di jalan-Nya. Siapa tahu sisa jatahku tinggal besok.

Ini azab, atau karunia? Pantas tidak ya aku dapat karunia-Nya? Trendnya sekarang, orang sedang memandang satu mata pada orang beragama. Terlalu konvensional, bilangnya. Aku tidak sedang mengadu domba pemahaman apa pun. Setiap orang mengusahakan berbeda, jadi dikasih beda juga. Kenapa membeda-bedakan ya jadinya.

Aku ingin berhenti berpikir tentang diriku, tentang masyarakat maupun tentang kamu. Halah seperti novel teenlit saja kamu kamu. Aku ingin percaya bahwa Allah sedang menyelamatkan aku. Karena aku belum mampu. Siapa sih yang mau diduakan? Begitu juga Tuhanku. Meski bukan Dia yang membutuhkan melainkan aku.

Berada di titik ini aku masih sering mempertanyakan, apakah usahaku yang kurang? Atau memang ini jalan yang sudah seharusnya aku tempuh? Takdir mana yang bisa diubah? Tapi bukannya Allah Maha Mengetahui sehingga apapun sebenarnya sudah diprediksi?

Mungkin pikirmu, daripada mengurus apa yang diluar kemampuanmu lebih baik memperbanyak usaha dan doa.

Oke.

Semoga Allah selalu membersamai langkah Dimas dan Bila yang perjalanannya telah memberiku secercah cahaya bahwa apa yang kulalui akhir-akhir ini bukan apa-apa dibanding perjuangan mereka kala yang lalu.

Kayaknya aku butuh libur.

Akhir Cerita

Apa, ya.

Ada kelegaan tersendiri ketika kamu tahu bahwa sebagian besar orang berpendapat sama tentang dua puluh lima episode awal yang lebih... jenius. Mungkin, L memang se-iconic itu sehingga waktu kamu mencarinya dengan kata kunci, yang akan muncul memang dia, atau apel, atau Ryuuk. Meski awalnya aku lebih mendukung Kira untuk menang dan ingin L segera mati, nggak bisa dipungkiri bahwa kehilangan L berarti kehilangan keseimbangan--mereka jadi kesusahan untuk mencari lawan yang sepadan.

Tiba-tiba, ada satu hal yang terlintas di pikiranku. Seorang kakak kelasku waktu SMA dulu pernah membagikannya di sosial media, tentang ketakutanmu yang berubah saat kamu sudah dewasa. Salah satunya, ketika kamu tidak lagi menjadi seistimewa itu untuk orang yang kamu anggap istimewa. Mungkin, setelah akhirnya kalian kenal, ekspektasinya tak sebanding dengan realita, atau sesimpel ada yang lebih 'sesuai ekspektasi' selain dirimu. Menurutku, nggak adil kalau dia tetap mempertahankan perasaanmu, karena keputusan nggak bisa diambil dari satu sisi aja. Kalau sebelah tangan, ya sebelah tangan. Dia perlu mengambil langkah dan nggak gengsi untuk jadi yang memulai tapi mengakhiri.

Yah, mungkin jalan ceritanya jadi terlalu rumit untuk diakhiri. Tapi, tentu saja nggak ada pilihan lain. Kematian Yagami Light yang menyedihkan mau tidak mau membuatku berpikir. Sayang, dia yang awalnya muncul bak superhero nan tampan harus mati dengan tidak seheroik itu. Terlepas dari itu semua, aku bersyukur sudah menjadi salah satu yang menjadi saksi pertarungan sengit keduanya di 2/3 awal. Bukan berarti kamu benar-benar payah, Near.

Setelah percakapan yang cukup menghangatkan hati waktu lalu, aku tidak berharap apa-apa selain semoga dia bertemu dengan orang yang mengerti. Atau kadang kita memang diciptakan untuk bersama dengan orang yang tidak benar-benar mengerti? Aku juga tidak tahu, kawan. Tapi tidak mau ambil pusing. Hanya bersyukur aja karena sudah diberi kesempatan untuk merasakan hal-hal yang tak terduga sebelumnya.

Sudah tanggal dua satu, sebaiknya aku tidur.

Episode 25

Mari kita manfaatkan momen ini untuk rehat sejenak demi kedahsyatan episode 25 yang telah merenggut nyawa mereka.

Selanjutnya, apa?

Semoga Besok Matahari Masih Terbit dari Timur

Halo. Aku tidak bisa tidur. Padahal sudah gulung-gulung sekitar, entahlah, 2 jam?Sudah berselancar dari karpet sampai meja lipat. Dompet sampai tas. Padahal tadi saat episode 19 aku ketiduran lelap sekali di tengah-tengah deduksi L. Terbangun karena belum isya'.

Agak heran menyadari bahwa aku kepingin cepat-cepat balik ke Solo.

Mungkin malam ini Surabaya lagi gerah-gerahnya jadi aku banyak evaporasi dengan menghembuskan napas panjang.

Tapi, sedalam apapun dia berpikir, tidak menjamin kamu akan berpikiran sama. Kemudian, kamu malah mencari apa yang tidak bisa kamu dapatkan. Dan dia hanya terpaku karena alasan toleran.

Ada orang yang tidak keberatan beli makan habis lima ratus ribu tapi nggak mau investasi untuk barang yang tidak sekali pakai. Ada.

Dan kamu kepingin uncal-uncal karena lelah sama penolakan.

Orange(オレンジ)

source : myanimelist.net
Ketika mendapat surat dari dirinya sepuluh tahun yang akan datang, Naho tidak percaya bahwa semua adalah nyata. Surat itu memang mengatakan beberapa kebenaran seperti murid baru yang akan datang pindahan dari Tokyo, Kakeru, dan bahwa Ia akan duduk di sebelahnya. Namun, tidak semudah itu untuk membuatnya percaya hingga Ia melakukan satu hal yang ternyata menjadi sumber dari segala penyesalan Kakeru : mengajaknya pergi makan roti dari toko Azu.

Tapi, apa yang terjadi bila mereka tidak mengajak Kakeru waktu itu? Mungkin, mereka akan melewatkan momen bersama dan lebih susah untuk menjadi teman. Mungkin, Kakeru akan berteman dengan komplotan lain, misalnya anak yang duduk di depan berambut kuning jabrik seperti Yoichi Hiruma. Mungkin dia malah tidak akan masuk sekolah selamanya dan tidak ada yang akan benar-benar menyelamatkannya. Semua kemungkinan terburuk punya peluang yang sama dengan kemungkinan terbaik yang bisa Ia dapatkan.

Yang membuatku tidak habis pikir adalah, bagaimana bisa Ibunya Kakeru selalu melakukan apa yang menurutnya benar?!? Maksudku [warning, spoiler alert], dia mengambil keputusan bercerai dengan ayah Kakeru tanpa berdiskusi lebih dulu dengan anaknya. Okelah, mungkin karena Kakeru masih kecil dan dia tidak akan mengerti, tapi, kenapa semua orang dewasa selalu berpendapat bahwa anak kecil tidak akan mengerti? Dan lagi, dia memutuskan pindah ke Matsumoto karena mengetahui bahwa Kakeru ditindas oleh kakak kelasnya di ekstrakulikuler, tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan yang diajak pindah? Klimaksnya adalah ketika dia memutuskan bunuh diri hanya agar tidak mengganggu Kakeru lagi?? What's wrong with you oka-san apakah semua yang kamu pikir bertujuan baik buat anakmu adalah memang yang terbaik buat dia (you don't even talk to him about your decision I'm done with you).

Pada akhirnya, yang bisa kita tarik hikmahnya dari tiga belas episode cukup singkat dari anime orange(オレンジ)yang tayang musim panas 2016 lalu kurang lebih sebagai berikut :

1. Komunikasi itu nggak penting, tapi sangat penting. Manusia tidak diciptakan oleh Tuhan dengan radar atau pendengaran super yang bisa mendengar bisikan dalam lubuk hati orang lain maupun yang sedang menggema di kepala mereka--yang bisa mendengar hanya dirimu sendiri. Jadi, ada baiknya bila kita mengklarifikasi terlebih dahulu (dan mengajak berdiskusi orang-orang yang bersangkutan, tentu saja) sebelum mengambil keputusan karena dengan terjalinnya komunikasi yang baik, meski hasil keputusannya nanti bisa jadi bukan yang terbaik, tetap saja kalian telah membuatnya bersama dan itu melegakan. Jangan meremehkan siapa pun sampai nggak mbok ajak diskusi karena tahu kan rasanya tidak enak kalo ditinggal hm.

2. Jadi teman yang perhatian. Kadang, ada beberapa teman yang nggeregetin karena mereka sukanya memendam perasaan sendiri karena malu, takut dimusuhi, atau tidak mau membebani. Padahal, dengan bercerita, sebenarnya kamu tidak sedang menolong dirimu sendiri saja tapi juga orang-orang di sekitarmu. Terbuka pada orang-orang yang kamu percaya membuatmu bisa berbagi cerita dan memendam memang nggak pernah sesehat itu. Sebagai teman yang sedang diceritai masalahnya, kamu tentu tahu apa yang harus kamu lakukan seperti tidak langsung menghakiminya maupun menyimpulkan permasalahannya dari sudut pandangmu sendiri. Bisa jadi mereka hanya butuh untuk didengar tanpa kamu bersusah payah mencarikan solusi. Dan bisa jadi kamu perlu memaksa.

3. I'm being seriously in love with Suwa karena dia mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingannya (lalu agak menghina-dina Naho dan Kakeru sih tapi yaudahlah ya mungkin Kakeru lebih butuh sosok yang menghangatkan seperti Naho) sendiri. Aku memang sering dibutakan oleh keinginanku sendiri seperti bila sumuk maka aku menyalakan AC padahal orang rumah kedinginan, dan lain sebagainya. Sudah saatnya kita menjadi dewasa dan memperjuangkan kebahagian kita dengan membahagiakan orang lain. Tsah.

4. Jadilah berani. Di episode awal-awal, Naho sangat pemalu dan nggak berani menyatakan apa yang sebenarnya dia rasakan, seperti misalnya dia senang karena sesuatu atau berterima kasih, atau menolak dan lain sebagainya. Iya, ku geregetan. Iya, kuingin menonjok wajah Ueda-senpai.

5. Tidak ada salahnya mendengarkan nasihat orang lain. Bahkan ketika terdengar tidak masuk akal dan sangat berkebalikan dengan dirimu. Seperti, bila Naho lebih cepat menyadari apa yang harus Ia lakukan setelah membaca surat itu, lalu tidak mengajak Kakeru jalan sepulang sekolah, mungkin Ibu Kakeru tidak perlu sampai bunuh diri (tapi emang beliaunya lebe bat dah kzl). Tapi kalau kayak gitu nanti ceritanya selesai sampe disitu gaada cerita Kakerunya nyesel-nyesel, deh.

Intinya, penyesalan dalam hidup pasti selalu ada. Ketika kita melakukan satu atau dua hal yang kemudian berakhir tidak sebaik yang kita inginkan, lalu masih terbayang sampai sekarang, itu adalah sangat wajar. Sebagai teman yang baik tentu kamu perlu berhati-hati pada setiap perkataanmu, siapa tahu apa yang kamu pikir biasa saja ternyata menjadi sebuah trauma dalam diri orang lain. Jadi, topik mengingat masa lalu perlu dipilah-pilah, ya.
Tapi, sebenarnya kamu juga perlu belajar untuk menghadapi serangan masa lalu dengan... menerimanya. Terima saja kalau kamu pernah melakukan kesalahan dan itu sebagai proses pembelajaranmu, lalu enyahkan mereka yang terus menjatuhkanmu dengan masa lalumu karena mereka tak pernah benar-benar mengalami apa yang kamu rasakan--mereka tidak pernah benar-benar tahu yang sebenarnya. Jadi, ya, senyumin saja.

Kuharap kamu menjalani hidup yang sehat dan positif (maaf atas ketidaksetujuanku yang menggebu pada karakter ibu Kakeru). Selamat berakhir pekan!

source : idigitaltimes.com