M. tuberculosis

December 11, 2017

you know you're screwed when you baca huruf "m" di M. tuberculosis sebagai musculus.

untung belum muhammad ajasi.

Metastasis ke Limfonodi di Ketiak

December 06, 2017

Satu-satunya hal yang kamu inginkan setelah divonis berpenyakit mematikan dan harapan hidup tinggal menghitung hari oleh dokter adalah bangun dan mendapati itu cuma mimpi.

Aku melihatnya, dengan sangat nyata, ketika kami di rumah sakit dan bahkan ada Fritz di sana. Ada mas-mas aslab yang aku lupa siapa. Ada udara yang menggantung. Itu ketika aku di Surabaya. Ada tante-tante yang membelikanku masker karena menyebar lewat virus. Ada saat waktu aku berpikir, mungkin kemarin-kemarin waktu dua kali aku menulis tentang kematian di blogku itu adalah pertanda kabar ini. Ada benjolan. Ada mata Mama yang berkaca-kaca.

Kami membaca kitab suci. Aku ingat kata-kata dr. Ana Rima spesialis paru saat kuliah onkologi di blok respirasi, tentang ketika waktu hidup pasien sudah bisa diperkirakan dan mereka tetap tersenyum karena tidak lagi marah-marah namun sudah ikhlas menerima. Waktu itu, aku sudah sangat ikhlas. Aku berdoa. Aku bahkan menenangkan mas Theo yang menangis karena tidak tega. Bahkan aku tidak kenal dekat dengan mas Theo.

Lalu, alarmku berbunyi. Keras sekali.

Bukan Kata Semangat

December 03, 2017

Salah seorang temanku yang hebat menulis tentang kerinduannya pada orang tuanya yang sudah meninggal dan menasihati teman-teman di sosial media agar memanfaatkan waktu bersama orang tua mereka sebelum mereka tiada.

Kalau aku jadi kamu, aku tidak menulis kata semangat di kolom komentarnya.

Pakde

December 02, 2017

Satu hal yang mengerikan ketika kamu beranjak dewasa adalah ketika orang-orang di sekitarmu yang sudah dewasa juga semakin bertambah usianya.
Yang dulu ketika kamu kecil, mereka selalu ada di sana untuk sekadar membelikanmu jajan atau mengajakmu jalan-jalan.
Ketika kamu masih tidak mengerti jokes yang saling mereka lontarkan, tapi kamu bahagia karena mereka juga bahagia.
Lalu, ada banyak komplikasi yang menyertai fungsi tubuh yang sudah tua. Seperti memanen tabungan di masa muda. Atau, memang dengan cara itu Tuhan mempermudah mencabut nyawa?
Aku tidak tahu bagaimana nanti jadinya ketika aku sudah cukup tua untuk melihat teman-temanku satu-satu berpulang atau ompong giginya. Apakah saat itu aku akan bertanya, giliranku kapan?
Meskipun sebenarnya umur kita nggak ada yang tahu. Tapi, semua cerita tentang teman-teman ibuku yang mengalami hal ini dan itu membuatku sadar betul bahwa ketika aku beranjak dewasa, orang tuaku juga.

Tidak banyak sosok laki-laki dewasa dalam hidupku. Tapi, aku selalu bisa menemukan figur ayah dalam dirinya. Ini untuk seorang pria humoris di sana, suami yang mencintai keluarganya, ayah yang bertanggung jawab, sosok yang menginspirasi. Bahkan ikatan kebaikan lebih kuat dari keluarga. Terima kasih, Pakde.

p.s : Boleh aku memintamu mengirim Al-Fatihah?

Throw-gic

November 28, 2017

Mungkin begini rasanya tinggal di London kalau lagi hari hujan. Untung tadi aku nggak jadi mencuci. Kalau jadi, sudah apek dia nggak kena matahari sama sekali.

Barusan aku dipukul temanku dengan bantal karena sudah mengingatkannya pada masa lalu, waktu dia masih bersama seseorang. Padahal, aku cuma mendengarkan dia bercerita panjang lebar. Aku sangat suka mendengarkan orang-orang bercerita dari sudut pandang mereka. Selalu bisa membuatku terkejut dengan hal-hal yang nggak pernah kupikirkan sebelumnya.

Entah kena apa tadi aku, setelah mendengar sebuah lagu, kemudian bertanya seperti waktu tutorial saja : "Kenapa dia mau dicintai sampai sakit?" lalu dijawabnya dengan jawaban paling positif yang bisa dia pikirkan, "Mungkin karena mereka nggak bisa berpisah kecuali ada yang tersakiti." Aku senang imajinasi dan keanehan yang terproyeksi di otakku terbalaskan, tapi sebenarnya... that was deep, man.

Dengan memakan Cadburry Dairy Milk Black Forest malam ini, aku ingat dulu pernah ada yang suka memberi. Aku percaya bahwa dibalik kedinginan yang kurasakan saat derajatnya 24 dan kepanasan  yang teramat sangat bila dia jadi 25 pasti ada secercah harapan dan maksud yang membangun.

Mungkin temanku itu sekarang sedang menangis di bawah guyuran shower di malam yang dingin ini.

Menuju Hari Natal

November 24, 2017

Ini hampir di penghujung bulan. Film-film yang bisa kutonton gratis di web adalah tentang keluarga. Lalu, ada dekorasi merah dan hijau yang gemerlap di pusat-pusat perbelanjaan. Apalagi dinginnya! Sebenarnya, itu cukup membuatku emosional.

Beberapa malam kami berbincang satu atau dua jam tentang keyakinan. Aku tidak bisa bilang bahwa itu seratus persen berbeda, dan di satu titik aku sering menyesali adanya perbedaan itu. Meski tinggal di negara yang bhinneka tunggal ika, tetap saja ini bukan satu dari banyak hal lain yang bisa disatukan, bukan? 

Aku pernah ingin menjadi sipit, lalu sekolah di sinlui. Biar bisa juara OSN atau pulang dijemput supir. Apalagi kalau bisa jalan-jalan ke GM pake hotpants. Kadang juga agar bisa beli buku anak-anak tentang peri yang luar biasa nggak penting di periplus. Ini sih, gara-gara dulu waktu SD ke gramedia dan hatiku yang rapuh harus kuat menahan perihnya rasa iri. Jadi, waktu sekarang orang-orang mengagumi 'keputusanku' untuk menghabiskan banyak duit di stationary autentik tapi mehong, aku kalem aja.

Dosa tidak ya, kalau aku suka hari natal?

Rasa-rasanya aku ingin minum-minum alkohol dan main bilyard. Tapi sebenarnya ya di kamar ini aku sudah minum-minum susu dan main harvest moon. Mungkin aku sudah kerasukan setan hedon. Atau perjalanan neuron sensorik menghasilkan impuls untuk menggerakkan ototku tersumbat dosa. Apakah ada anak yang sangat muda yang membaca paragraf ini? Atau ayah dan ibu yang khawatir dengan pergaulan anak jaman now? Tolong, ambil yang baik dan buang yang buruk.

Suatu hari nanti, aku ingin berhenti jadi luntang-luntung yang tidak menghasilkan apa-apa. Mungkin aku bisa memulainya sekarang dengan live the day.

Halo, November

November 05, 2017

Halo, apa kabar?

Aku banyak melewatkan momen menulis di bulan Oktober, tentang perjalanan pulang, memasak nasi goreng, dan kejutan-kejutan yang disiapkan teman-teman. Rasanya aku sangat bersyukur atas semuanya, dan tidak bisa membalas dengan apa-apa selain doa semoga Allah yang membalas dengan kebaikan, ya?

Di situ, aku percaya bahwa perhatian kalian sekecil apapun sebenarnya sangat berarti buat diri seseorang di luar sana. Seperti kata temanku, Alivia, caranya untuk bahagia adalah dengan membahagiakan orang lain. Mungkin yang seperti ini sudah sering diulang-ulang di seminar motivasi, tapi tidak ada salahnya diulang siapa tahu kita lupa.

Sedangkan satu atau dua alasan mengapa aku melewatkannya semata-mata cuma karena mager saja. Aku berulang kali mengalami writer's block padahal cuma untuk menuliskan kejadian hari itu. Entah karena keperluan lab yang bersahut-sahutan dan minta diprioritaskan, atau aku terlalu bahagia jadi tidak bisa merangkai kata-kata. Iya, aku sedang berenang-renang di petualangan yang menyenangkan sekaligus mendebarkan, dan mengajariku banyak hal.

Ingin ketawa rasanya karena sudah berulang kali aku dimarahi tetua-tetua bahwa untuk mencari pengalaman tidak harus kita sendiri yang mengalaminya. Sampai sekarang, aku masih tidak setuju. Pengalaman bagiku masih apa-apa saja yang kualami, tidak berlaku kalau orang lain yang mengalami. Kalau diibaratkan kayu yang dipukul kapak, mungkin cabikan-cabikan di kayuku sudah sebanyak garis hitam di tubuh zebra.

Tapi, bukankah menyenangkan untuk menciptakan sendiri suatu jalan hidup yang baru? Kalau tidak begitu, mana bisa aku makan preksu dan gelato di sore hari yang indah di provinsi sebelah.

Sesak

October 15, 2017

Aku sudah hampir 20 tahun, tapi masalah terbesarku masih saja tentang berbicara.

Aku tidak pernah bisa benar-benar membawa diriku untuk mengucapkan apa yang ada di pikiranku, apa yang terjadi kepadaku dan di sekitarku. Entah karena aku tahu bahwa sia-sia saja untuk menyampaikannya, tidak siap untuk menghadapi respon yang tidak kuinginkan dan tidak sesuai ekspektasiku, atau sengaja kulakukan karena tidak ingin menambah beban orang lain. Ada kalanya aku menghabiskan waktu di depan cermin, menatap kedua mataku dan berbicara sendiri seperti orang gila. Biasanya itu cukup membantu. Tapi, siang ini aku melakukan hal yang sama, lalu terpaksa berhenti karena hidungku penuh umbel.

Dulu, aku puas saja dengan menenangkan diri bahwa memang tidak semua harus disampaikan. Tapi, kian kemari rasanya jadi jauh lebih sesak. Sesak yang sama seperti waktu itu saat aku berada di sekolah, berkeliling dengan hidung merah dan air mata tidak bisa berhenti. Aku mencoba tenang, tapi tidak bisa. Sampai Pak Kirin yang berpapasan denganku membawaku duduk di dapur yang bau rokok, lalu bertanya ada apa. Kalau tidak salah waktu itu beliau menasihati satu dua hal dan berkata semua akan baik-baik saja, bahwa aku bisa bercerita padanya. Meninggalkan dapur, air mataku masih mengalir seperti keran bocor.

Sesak itu juga datang waktu aku merasa sangat sakit di ulu hati. Entah apakah itu hari libur, tapi semua orang tidak ada di rumah dan aku hanya menonton drama-drama yang asal kusetel. Itu adalah rasa sesak yang mungkin sangat berat dalam hidupku, dan bahkan aku cukup terpana dan sangat bersyukur karena bisa melaluinya. Tapi, aku tidak akan mengatakan kepadamu alasannya.

Sebagian besar rasa sesakku adalah karena kebodohanku sendiri. Kebanyakan karena aku sangat ngeyel dan patuh pada egoisme diri, lainnya karena aku menyangkal saat dikasih tau. Mungkin karena itu aku jadi tidak bisa bercerita pada orang lain. Karena aku tahu bahwa itu adalah konsekuensi yang akan kuterima dan entah kenapa aku pesimis bahwa akan ada orang yang mendukungku. Memang di saat-saat sesak itu aku tidak pantas didukung. Jadi, apa yang kuharapkan?

Barusan aku menonton sebuah film keluaran tahun 2004, judulnya Speak. Kristen Stewart yang main. Entah karena jalan ceritanya yang sangat depresif atau setting suasananya yang masih ala-ala 13 tahun yang lalu, aku jadi sesak. Aku mengingat jalanan kota Surabaya di malam hari sepulang kami pergi dari TP, lampu-lampu jalannya yang berwarna kuning berkelebat di kaca mobil dan gang-gang gelap yang kami lewati. Aku ingat rumah dinas besar yang halamannya luas, yang kalau sore datang atmosfernya selalu berubah jadi taman bermain. Aku ingat toko buku gramedia, yang sudah seperti tempat wajib kami kunjungi di akhir pekan. Aku ingat masa-masa itu, saat aku kecil, yang sebenarnya baik-baik saja, tapi kenapa aku sangat sesak waktu mengingatnya? Kenapa selalu membawaku jadi sedih dan tertekan?

Banyak hal yang aku tidak tahu. Atau otakku hanya berusaha melupakannya. Lucu karena dia banyak bercerita tentang harinya, tapi aku tidak pernah mau. Aku selalu bilang bahwa hariku baik-baik saja, tidak ada sesuatu yang spesial, entah karena memang tidak ada yang spesial atau aku hanya terlatih untuk tidak merasakan seperti apa hari yang spesial untuk diceritakan itu. Opsi lain adalah aku tidak mau dia bosan mendengar ceritaku yang bahkan diriku sendiri menganggap itu tidak penting. Atau, aku hanya ingin dia bercerita karena aku tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama denganku : ingin bercerita tapi tidak bisa. Setidaknya denganku meminta maka bila Ia tidak bisa karena tidak tahu kemana harus bercerita, alasan itu akan terhapuskan. Atau... aku hanya tidak tahu bagaimana caranya.

Aku tidak yakin di paragraf sebelumnya aku berbicara tentang apa, tapi sekarang aku lapar dan ingin makan.

Calcanei

October 11, 2017

Hari ini aku responsi dua. Satunya anat, satunya lagi PA. Dari jauh hari teman-teman sudah sangat vokal menyuarakan kekhawatiran mereka tentang yang pertama itu. Sebenarnya aku sangat senang karena mereka mau berbagi kecemasan denganku, entah di balik itu apa yang mau dibuktikan. Aku tidak keberatan kalau itu membuat mereka lebih tenang. Jadi, aku khusyu' mendengarkan mereka merengek atau menarik-narik lengan kemejaku. Cobaan ini berat bagi kami semua. Namun, aku merasa harus lebih tenang dari jiwa-jiwa yang kalut.

Bisa dan tidak bisa adalah hal yang lumrah. Ketika tidak bisa, maka kita berusaha agar menjadi bisa. Tapi, mau bagaimanapun juga, ilmu itu milik Tuhan semesta alam. Maka, di awal waktu belajar aku selalu berusaha tenang dan memohon pinjaman ilmu dari-Nya.

Saat ujian, lupa adalah sebuah bisikan. Maka, jangan usir bisikan itu dengan bisikan lain. Meminta ampun dan perlindungan dari bisikan adalah beberapa hal yang wajib hukumnya dicoba saat lupa.

Tapi, dari kesemuanya, aku tahu kunci dari ketenangan adalah yakin. Dan bila yakin adalah sebuah kata yang abstrak, aku sendiri tidak bisa dengan gamblang mengajarimu bagaimana. Itu adalah sebuah hal yang kamu tahu sendiri harus apa.

Saat ini, rasanya aku sangat resah. Tidak tahu alasannya apa. Aku ingin bercerita banyak hal, tentang responsi, shift satu pertamaku, perasaan lega setelahnya sampai aku bisa tertawa sama seisha di perjalanan turun tangga gedung D, tentang aku yang bukannya belajar PA tapi malah menyikat kamar mandi, dan perasaan terkhianati setelahnya karena soal responsi kedua sangat nggak sesuai ekspektasiku yang nggak berharap banyak dari membedakan preparat patologi yang kesemuanya anaplastik. Aku ingin bercerita tentang menginap di kos ralitsa, hujan di sore hari yang membuatku ingin terlelap saja, keinginanku membersihkan kamar sampai rasa pegal dan panas di kakiku yang aku tidak tahu kenapa. Beberapa hari ini aku cukup fokus mengejar ekstremitas superior dan inferior. Mungkin ini bagaimana rasanya ketika kamu sudah selesai memperjuangkan (padahal belum) dan tidak tahu apa mimpimu selanjutnya.

Ada perasaan agak sedikit nggak rela karena gambar yang kamu kirim membuat dia semakin dekat dengan Tuhannya. Kemudian, aku cuma melakukan pembenaran dengan berkata bahwa itu baik untuknya bahwa Ia masih memiliki sesuatu untuk diyakini.

Seperti sesak dan semakin sesak, mungkin itu yang terjadi bila kamu mencoba kuat tapi tidak benar-benar kuat. 

Halo, ini setengah sepuluh malam. Perutku tidak nyaman baik saat berbaring, duduk, maupun mulet. Sebenarnya ini malam yang cukup tenang karena besok hanya kuliah saja. Sebagai manusia, aku ingin ditraktir makan tenderloin steak tapi tubuhku berkata "Cukup untuk makanan-makanan itu!"

Kenyataannya, aku tidak pernah seistimewa itu bagi dirinya. Cuma seorang fangirl yang tergila-gila dan kehadirannya ingin dia pertahankan sebagai bentuk apresiasi atas keindahan dirinya. Mungkin demikian, karena krisis kepercayaan diri ini tidak selesai-selesai. Aku ingin menuangkan ini karena tidak ingin membawa-bawanya kemana-mana.

Tulisanku akhir-akhir ini kurang bermutu, tapi aku benar-benar tidak bisa (atau tidak mau?) berpikir. Aku sudah bahagia bisa menjawab tuberositas calcanei.

[3] Crista

October 09, 2017

"Kamu bohongin aku."
"Bohongin apa se?"
"Tadi bilangnya mau langsung pulang, nggak ke kantin. Ternyata tadi aku liat kamu di kantin." 
"Yaampun itu aku ngasih laporan ke kelompokku,"
"..."
"Yaudah maaf."
"Maaf nggak merubah apa-apa yo."
"Terus?"
*merajuk sampe mampus*
"Yaudah yaudah, tadi katanya mau belajar."
"Yaudah. Ati-ati ya kalo naik motor jangan nabrak lagi."
Beep.
...
...
...
Kring!
"Halo?"
"Tadi lupa tanya,"
"Apa?"
"Gimana tadi ujiannya, bisa?"

Roses

October 07, 2017


Bulan ini baru berjalan enam hari; dia sudah seperti naik turun roller coaster sembilan belas putaran.

Waktu itu malam. Tidak pernah terbersit sedikitpun di benaknya bahwa menu makan malamnya hari itu yang cuma nasi bakar dan es jeruk, tempatnya memesan makanan-makanan itu di dekat pusat kota, serta lokasinya duduk di lantai dua berpenerangan kuning dengan pemandangan yang tidak metropolitan sama sekali, adalah malam paling indah sepanjang hidupnya tahun ini.

Dia tahu bahwa keputusannya itu akan mendapat banyak pertentangan, dan aneh rasanya ketika satu sahabat dan teman-teman yang tidak terlalu mengenal dirinya menyampaikan ucapan turut senang. Malam itu indah, dia memang bahagia, tapi bagian mana yang membuat orang-orang ikut senang? Beberapa hari setelahnya dia bingung dan merasa tidak biasa. Tapi cuma sambil lalu saja, mungkin memang begitu rasanya menjadi anak muda.

Kemudian, setelahnya tidak ada yang berbeda. Dia tetap menjalani hari-hari dengan biasa dan tidak begitu sadar bahwa Oktober adalah bulan masehi yang paling ditunggu selama Ia menjadi manusia. Ujian-ujian datang dan terasa mencekik karena dia hampir tidak punya waktu untuk mempersiapkan semuanya. Tepat beberapa hari sesudahnya, seseorang yang dia kira sudah menghilang di telan bumi tiba-tiba datang dan bertanya kabar seperti tidak terjadi apa-apa.

Dia ingat betul bahwa pernah disuatu ketika Ia memutuskan untuk menunggu. Menunggu apa, dia tidak tahu. Tidak pernah pasti. Di tengah kesibukannya dan dirinya yang jauh lebih sibuk, tunggu itu hilang saja seperti terbawa angin. Menunggu apa, dia sudah lupa. Dia pun berdamai dengan diri bahwa bila memang dia yang ditunggu, dia akan sabar. Dia cuma berharap bukan.

Dan ketika dia balik bertanya, "Buat apa?"

Dia tersinggung dan kesal, sangat ingin marah dan meledak. Tidak sopan, tidak menghargai sama sekali! Tapi, kemudian dia menenangkan diri seperti seorang wanita muda berdedikasi, dan memaklumi orang-orang yang tidak bisa memahami jalan pikirannya. Toh, dia tidak pernah benar-benar ada yang paham, kecuali satu dua saja. Paginya, dia bersyukur karena jam wekernya masih menyala dan membangunkannya. Kirain tiba-tiba disumpahi biar mati.

Satu hal yang paling tidak bisa dia maafkan dari dirinya adalah sebuah perasaan paling mengganggu yang dia rasakan : dia minder. Tidak kepada siapa-siapa kecuali satu orang. Yang berkali-kali muncul di dalam tidur-tidur tak lelapnya, yang setiap kali bicara dia ingin marah karena suaranya yang cewek banget. Dia hampir yakin 100% bahwa perempuan itu risih karena setiap kali dia ada, pandangannya tidak pernah lepas satu centi pun. Bukan pandangan biasa tapi seperti tatapan X-Ray dengan laser merah nyentrong, seperti memindai dan mengorek-korek rahasia apa yang bikin mbak ini sangat sempurna.

Sebenarnya bukan karena dia sempurna, karena toh dari awal mereka pernah kenal dan baik-baik saja. Tapi karena dia itu yang disukai dia. Dan sampai si mbak ini punya pacar pun dia masih nggak terima. Kali ini, dia cuma berharap bahwa bisikan yang sangat kuat di dalam sanubarinya, yang berteriak-teriak kalau dia ini masih suka sama si mbak ini, adalah salah.

Minder itu biasa. Dia sudah sering sebelumnya. Bahkan mungkin pernah tumbuh di tengah didikan keminderan. Tapi, yang mengganggu adalah, mindernya kali ini menjalar ke mana-mana. Dia jadi selalu merasa tidak cantik, selalu merasa tidak becus, selalu merasa kurang tinggi, tidak putih dan pintar, kurang perempuan, kurang dia.

Parah. Bahkan meski mbak ghyan yang akhirnya berhasil memikat hati mas keenan, dia nggak secemburu itu. Ini cuma gara-gara intuisinya nggak berhenti memberi sinyal. Sampai puncaknya hari ini, setelah bermimpi di pagi hari, bercerita di sore hari dan tidak digubris, lalu malam harinya ditinggal tentir anat bersamanya, dia cuma berharap neng yang tiba-tiba masuk tidak melihat seberkas rintik hujan di sudut-sudut matanya yang habis keculek dua buku gramedia.

Dia kira dia manusia merdeka. Ternyata nggak merdeka-merdeka amat.

Antagonis

September 28, 2017

Parahnya, aku benar-benar tahu, benar-benar paham, benar-benar udah nglontok luar kepala; dan malah benar-benar jadi orang yang biasanya minta dikremus karena gemes.

Halo, aku Sherafina. Aku tidak sepenurut kakak perempuanku dan suka bikin pusing mamaku karena ngeyel. Biasanya, aku berkelit dari kewajibanku belajar di bidang akademis karena prinsip hidupku adalah, "Buat apa kamu pintar tapi nggak bisa bersosialisasi?" lalu memaklumi diri dan menyangkal pernyataan mamaku, di antaranya "Kamu itu jangan banyak kegiatan, kalo sudah kegiatan kan jadi capek nggak bisa belajar!"

Tapi, pada suatu titik, hidupku berubah. Aku jadi belajar siang malam seperti kesurupan. Berkelit dari kewajiban berkumpul ini itu. Tapi, tidak selalu karena belajar juga, sih. Ada hal-hal yang bukannya aku bantu benahi tapi malah aku tinggal. Karena tanganku cuma dua, dan aku sudah malas menjunjung idealitas. Biar aku jadi si realis yang egois dan suka menghilang saja.

Tentu aku bisa! Sudah banyak contohnya, salah satunya temanku namanya Naufalia. Coba tanya Atumbul pasti dia tahu apa yang sedang kubicarakan. Aku tinggal mencontoh dia saja, ketika ditelpon ga menjawab, ketika didatangi ke rumahnya ga dibukain. Poof! Menghilang. Karena, sekali lagi, aku sudah malas mengurusi negara mbahmu itu. Aku mau jadi anak pintar dan cantik saja. Nggak belepotan debu-debu perjuangan.

Hujan Pertama yang Kulihat di Bulan September

September 24, 2017

Ini tanggal 24 September. Aku sedang menerjemahkan jurnal tentang pengobatan antibodi monoklonal terhadap metastatic colorectal cancer sambil mendengarkan Payung Teduh di Spotify.

Lalu, hujan.

Selamat memasuki masa-masa paling dingin di kota Surakarta :)

Usaha

September 23, 2017

"Tapi alhamdulillah, saat kita mendapat cobaan yang bertubi-tubi seperti ini masih ada yang peduli pada kita dan mau mengusahakan untuk membantu, terimakasih mas mbak."

Kawan, dua setengah tahun yang lalu, aku tidak pernah yakin betul apa yang sebenarnya kita lakukan. Jalur koordinasi rusak betul. Aku menerima stigma dan label masyarakat bahwa apa yang kita lakukan salah. Aku mengusahakannya cuma setengah, terus meminta pada Tuhan biar beliau-beliau dibukakan hatinya, tapi mau dapat hidayah dari mana kalau kita bicara saja tidak.

Aku tidak pernah suka muncul di jajaran, atau lewat jalur-jalur lain yang pintas. Kupikir pasang muka berarti ketidakmampuanmu dalam memikat perhatian mereka lewat usahamu sendiri. Aku mau melakukannya sendiri. Aku cuma punya aku dan kekuatan Tuhanku. Tuhanku bisa segalanya, misalnya, menjatuhkan buah kelapa di kepala orang yang duduk di bawahnya. Apalagi membolak-balik hati orang. Seperti krabby patty.

Tapi ternyata cara kerjanya bukan begitu. Aku harus berusaha dulu.

Semua keajaiban yang terjadi di kepanitiaan ini adalah skenario indah karena teman-teman ikhlas. Atau mungkin kita cuma sudah cukup dewasa untuk paham dan mengerti maksud orang-orang langit.

Glitch

September 21, 2017

Aku sudah membayangkan untuk pergi ke sebuah tempat yang ada ubur-uburnya. Beberapa kali aku mengecap rasa buah-buahan di ujung lidah, naik papan luncur di jalan pedesaan yang berkelok. Tapi, sebenarnya kesemuanya cuma imajinasi saja.

Kalau dulu aku banyak menghabiskan waktu membicarakan orang lain dan kehidupan mereka yang begitu sempurna, akhir-akhir ini aku sudah tidak punya bahan. Mungkin satu atau dua tahun lagi instagram akan benar-benar membuat penduduk bumi abad ini jadi yang paling resah.

Teman-temanku sangat total dalam menjalankan pengabdiannya pada masyarakat. Aku? Sibuk memberontak seperti dalam perbudakan. Di negara ini, manusia tidak bisa sembarangan melakukan hal yang diinginkannya. Sebenarnya di negara manapun pasti ada aturannya. Dan di komunitas-komunitas, suku-suku, keyakinan masing-masing. Manusia tidak pernah diciptakan untuk mencipta aturannya sendiri. Kita dianugerahi otak dan akal tapi tidak pernah berarti menjadi Tuhan. Buah pikiran kita hanya sebatas bagaimana kemudian hal itu bisa menggiring manusia lain agar satu frekuensi. Kita ini cuma pramuniaga.

Really?

Seharusnya, bila sudah tidak percaya aku tidak akan melakukannya. Aku masih percaya, tapi banyak penolakan. Aku berpikir dan meletakkan ego di atas yang lain-lain. Aku sering berbohong untuk menghindari pertanyaan. Bahkan, bila berada di titik ini berarti menerima penghujatan dan sanksi, aku cuma mau angkat bahu saja. Aku sudah hilang rasa pedulinya?

Biasanya aku tahu apa yang aku mau. Sekarang aku tidak punya ide sama sekali.

-

September 19, 2017

Aku masih tidak merasakan apa-apa. Seperti semua rasa kesal dan takutku tidak pernah ada. Aku merasa baik tapi tidak baik-baik saja. Aku merasa bahagia tapi yang kucari sebenarnya apa?

Aku ingin berontak dan membanting semua daun pintu. Aku ingin memecahkan kaca-kaca jendela dengan kepalan tanganku. Aku mau berlari sampai kehabisan napas, berenang sampai mau tenggelam, berteriak sampai tercekik, dan kesemuanya masih tidak bisa membuatku kembali merasa.

September ini dingin.
Aku masih seperti mati di dalam hidup yang memburu.

Ghost Stories (2)

September 19, 2017

adalah ketika aku bermimpi, kamu ada.

di sana pantai dan ombak. kemarau lalu hujan. bukit, bintang-bintang yang menyertainya.

dengan mendengar aku melihat. bukan satu atau dua lagi tapi kita, menari dan berlari-lari. tidak mau berhenti.

rasanya tidak berucap.

aku bisa melihat taman safari.
aku bisa merasakan rumah makan padang sederhana.
aku tahu saat itu duniaku berhenti berputar.
dan kali ini cuma itu yang kuputar-putar.
setiap aku mendengar, setiap aku melihat.

aku benci kota Malang.

100%

August 25, 2017

Saat itu aku berdiri di depan pintu, terengah-engah mengejar waktu. Mengatur napas, aku berdiri tegak sambil menenangkan diri. Kuketuk pintu beliau perlahan, baru kemudian melangkah masuk dengan santun. Tanpa menoleh sedikitpun, aku dipersilakan masuk. Beliau membuka lembar hasil penilaianku. Raut wajahnya yang sudah masam berubah semakin kecut. Nol koma dua jumlah turunnya dari semester lalu. Tentu beliau minta penjelasan.

"Saya sudah berusaha maksimal, namun memang kapasitas saya yang kurang. Saya akan menjadi lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan, karena saat ini saya sudah menemukan strategi belajar yang cocok untuk diri saya," jawabku yakin. Beliau terpana. Tanpa ba-bi-bu ditandatanganinya kertas biru sebelum kembali diberikannya padaku. Aku mohon diri dari ruangan, kali ini beliau anggukkan kepala sambil menatapku penuh tanya.

Seandainya saja aku bisa seberani itu. Kenyataanya, aku masih tetap sajalah mengambinghitamkan keadaan. Yang istirahatnya kurang lah, waktu belajarnya kurang, ruangan untuk bergerak kurang, eksplorasi mimpi kurang, semua serba kurang seperti nggak ada rasa syukurnya. Seandainya saja aku nggak refleks menyalahkan ini itu dan sepenuhnya sadar bahwa itu salah diri sendiri, lalu mengucapkannya dengan lantang, tegas, profesional dan tidak emosional, mungkin saat ini aku akan lebih bangga dan menjadi lebih berdedikasi.

"Saya tidak melarang kamu berkegiatan, hanya saja kamu perlu tahu bagaimana kemampuan dirimu. Bagaimana batasanmu. Kamu nggak ingin jadi asisten? Asisten itu bagus, setidaknya kamu jadi bisa fokus dengan rumpun ilmumu."

Sempat terlintas dipikiranku bahwa, mungkin di masa depan nanti, aku perlu melakukan pendekatan yang benar-benar baru. Bila nanti ternyata dia suka karate, aku nggak akan melarang dan menyuruhnya duduk diam mendengarkan guru privat menerangkan rumus segitiga. Pun bila Ia bukan tipe yang bisa dibakar motivasinya dengan ancaman hadiah-dan-hukuman, aku nggak akan repot-repot bikin tabel mimpi apalagi grafik perbandingan nilai dia dengan kegiatan karate yang dilaluinya. Aku bukan ingin serta merta menyodorkan dua pilihan yang harus dia korbankan salah satunya, aku yakin pasti ada cara lain. Tapi apa, bagaimana?

Dan mengingat betapa aku seperti ingin mati untuk hidup kembali, aku sampai kembali mempertanyakan hal-hal yang mungkin tidak sepantasnya. Jika batas kemampuan diriku ternyata tidak pernah melampaui itu, apa berarti aku harus selamanya berkata tidak? Jika ternyata ini adalah dua dunia yang berbeda, dan seseorang nggak akan mencapai 100% di keduanya bila dilakukan bersama, apa aku memang harus menjadi apa yang selama ini aku impikan tapi tidak pernah terealisasikan?

Apa ini hanya sebuah gangguan? Atau mini games yang dibuat untuk memecah konsentrasiku dalam menjalani sebuah jalan utama yang luar biasa panjang? Atau malah ini adalah sebuah bala bantuan, yang akan menyeimbangkan kehidupan sosial dan asupan ilmu yang masuk dalam otakku? Tapi, bagaimana kemudian aku mengatur waktu, istirahat, bermain, dan menjaga kesehatan? Bagaimana aku tidak melanggar skala prioritas, bila sugesti adalah bisikan yang tidak mempan berhadapan dengan toleransi diri?

"Mungkin orang akan bertanya buat apa ikut pencinta alam. Tapi, jangan salah, dia bisa menggunakan ilmunya nanti di medan yang tidak biasa. Menjadi dokter bencana alam, membantu orang di tempat terpencil di Indonesia yang notabene bukan sebuah daerah yang bebas bencana. Dengan sarana prasarana yang terbatas, mereka bisa," jelas salah satu dosen panutanku dalam kuliahnya mengenai minat dan bakat.

Apakah ini sebuah kebenaran, atau pembenaran?

Ada. Sisi baik dan buruknya selalu ada bila kita telaah. Mengingat betapa banyak passion yang tersungkur, dijegal secara brutal oleh mimpi-mimpi orang lain. Aku hanya percaya bahwa setiap detik adalah tidak bisa diulang, dan mengutip sebuah percakapan dalam Cars 3, "Hidup terlalu singkat untuk menerima tidak di dalamnya". Aku cuma ingin mengiyakan, selama aku bisa.

Pencarian jati diri adalah sebuah hal yang hanya bisa kumulai, kapan kuakhiri?

Menjadi Jagung

August 17, 2017

Lucu karena baru hari pertama saja aku sudah kejepit pintu Bryan. Sakitnya nggak main-main, sobat. Langsung biru di belakang kuku. Untung cuma setitik. Sampai hari ini masih kebas, sih. Bahkan waktu itu sempat nggak bisa ngoper karena sebenarnya kena sedikit nyerinya nggak bisa dideskripsikan. Herannya, malam itu menangis bukan karena itu tapi karena dia pergi ke daerah istimewa bersama dia. Agak ketawa karena sakit di jari bisa ditahan tapi sakit di hati susah juga.

Tiba-tiba Kags datang waktu aku sholat, padahal pasti kelihatan kayak habis nangis. "Buat menghapus dosa," katanya. Sobatku yang kadang menggelikan itu sudah jadi menenteramkan.

Di hari kedua, Bryan harus berpacu dengan melodi seperti ambulans yang membawa pasien kekurangan oksigen ke IGD Moewardi. Mendaftarnya sih, panitia ospek. Pengalamannya malah pertama kali masuk RSUD. Ditambah, keinginan yang tinggi buat menolong orang. Tuhan, seandainya aku yang saat itu lagi pakai PDL, apa aku sanggup setenang itu mengidentifikasi bahwa oxycan yang menenangkan berarti indikasi bukan asma?

Luar biasanya, di hari ketiga, si anak yang nggak butuh menjabat jadi sie dekap maupun akotrans untuk menjalankan tugas-tugas sie tersebut ini masih lanjut rasie sampai pulang kayak cinderella. Lumayan sih, dapat pizza. Dan bisa jadi tahu ada kos cowok bagus di daerah nggak kelihatan alias kabut. Pulangnya, cuman mau bersihin muka pake milk cleanser aja nggak sanggup. Ada lega tersendiri waktu ingat besoknya nggak perlu pagi buta nyapa pak satpam gedung PD apalagi ngerasain tumit yang meraung-raung minta disogrok.

Aku nggak menyangka bisa tiga hari berturut-turut berangkat sebelum subuh dan pulang tepat jamal. Gila. Kok bisa-bisanya.

Ini adalah sebuah kepanitiaan hebat, yang nggak berarti nggak ada ngeluh-ngeluh di belakang maupun capek-capek di depan. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan banyak orang, memahami banyak karakter, jatuh, bangkit lagi, bersemangat hidup kembali meski rasanya mau mati.

Dan bahwa adik-adik yang pintar-pintar itu sangat menginspirasi adalah hal lain. Semoga mereka bisa jadi orang sukses.






Kesal

August 08, 2017

Kamu adalah semua hal yang aku ingin jadi.

Keluargamu lengkap, papih mamih dan kedua adikmu. Nenekmu juga sangat menyayangimu. Kebutuhanmu tercukupi. Sekolah favorit di ibukota. Olahraga oke, musik jalan. Cerdas. Teman-temanmu peduli. Kayak, nggak ada yang bisa membatasi kamu berekspresi : kamu punya segalanya.

Tapi, kamu juga semua hal yang aku benci.

Aku kesal karena tidak dihargai? Aku kesal karena body mist vanilaku pecah di malam hari? Aku kesal karena kamu bahkan nggak peduli dengan orang lain selain dirimu sendiri?

Itu semua tidak lain adalah kebodohanku, bukan kesalahanmu.

Aku mau menjadi apa yang aku impikan, aku mau anakku jadi apa yang dia impikan.

Aku kesal bukan main, kawan. Karena kegoblokanku.

Wish Upon A Star

August 04, 2017

Lagi nemenin Bryan mandi.

Dan betapa nyari uang itu susahnya minta ampun adalah ketika laman curah pendapat dan curah hati ini baru menelurkan seratus dua puluh tujuh rupiah sejak hampir sebulan dipasangi lapak orang. Seratus dua puluh tujuh rupiah saja, yang kalo berupa kembalian di indomaret pasti minta diikhlasin atau dapat permen, atau kebuang karena dompetnya nggak cukup buat tempat receh.

Bryan lagi disemprot air pasti seger banget.

Ada beberapa mimpi yang ingin kuwujudkan saat ini, di antaranya :

Satu, adalah mencari tempat mandi untuk Bryan yang bakal nyuci bagian dalemnya juga, dilap sampe bersih kalo perlu sampe sudut-sudut tersembunyi dari lekuk otot dia. 

Dua, adalah dapat jodoh seorang pengusaha sukses.
Jadi, ceritanya, pada suatu malam yang syahdu, aku tenggelam dalam suatu pemikiran. Jodoh dan hal-hal lain adalah ditangan Tuhan, sudah ditakdirkan sejak dulu. Tapi tidak menjadi sebuah pantangan untuk kita berdoa bahwa dia adalah seorang pengusaha sukses, bukan? Kriterianya simpel saja : lelaki beriman dan sholeh, penghafal quran, cerdas, tampan, baik hati, selera humor tinggi, seorang pengusaha sukses, dan mencintai sanifa karena Allah. Lalu kita nanti banyak berderma, membangun TPA dan memakmurkan masjid, dan dia harus yang menomor satukan Dia daripada hal lain! Lagipula, pengusaha kan tidak bisa tidak dokter, hehe.

Boleh minta aamiinnya?

Entahlah, kalau katanya doa lebih baik tidak diumbar-umbar karena nanti bisa jadi diselimurkan syaiton. Na'udzubillahimindzalik, terkutuklah kamu kesombongan! Semoga Allah selalu melindungi kita.

Nah, karena mimpi sanifa yang nomor dua cukup muluk, ada baiknya bila sanifa mulai sekarang menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin : memantaskan diri untuk sang jodoh yang udah dijampi-jampi agar jadi cowok sukses.

Elegi

August 01, 2017

Ukurannya sekitar 3x3 saja, dua jendelanya menghadap ke langit. Kadang, kalau sore tiba, yang terdengar itu suara anak-anak bermain sepak bola. Atau ibu-ibu yang rumpi sambil menyuapi anak-anaknya di kereta dorong. Kadang, pak RT berseru-seru meminta bantuan putri-putrinya mengangkut jemuran karena hari hujan. Kadang, ada suara palang pintu kereta api yang menutup dari kejauhan. Kadang, yang terdengar hanya deru kendaraan besar muat material bangunan, hingga dentum palu sahut-sahutan. Aku selalu berpikir bagaimana kalau bapak supir bisa melongok dari jendelanya lalu melihat isi kamarku. Ternyata, tidak setinggi itu.

Kalau pagi tiba, ayam-ayam jantan berlomba-lomba mengabarkan kedatangan malaikat yang turun di sajadah-sajadah hamba-Nya. Aku berselimut mimpi sambil mengeloni tiga teman kesayangan yang cuma sedekapan jari.

Ini malam, aku tidak ke kota tapi sangat... sangat lelah. Aku mematikan notifikasi, mengabaikan konfirmasi, membiarkan ghibli menari-nari di dinding kamar kosku. Aku cuma menghela napas panjang, tapi tentu kerjaan tidak akan kelar kalau kita hanya menghadapinya dengan itu, bukan?

Aku sangat suntuk, dan perhatian datang dari orang-orang yang aku tidak ingin mereka perhatikan. Ngelamak, bisik langit mengutuk. Angkat bahu aku tidak acuh.

Aku kurang sayur, kurang olahraga, dan kurang mengaji. Minum minuman berkarbonasi tiap malam seperti mabuk-mabukan saja. Tidak masak nasi, tidak punya mie, apalagi spaghetti. Aku mempertanyakan eksistensi seperti makhluk hidup filosofis, atau anemon laut yang mengambang di hamparan gurun sahara. Aku haus.

Tapi bukan air.

Aku berencana menutup mata, mulut, telinga, biar larut lalu hanyut di gua-gua kecil terpencil yang nggak ada manusianya.

Malam itu aku bilang sama Bryan, "Kamu senang nggak? Aku bahagia."

July 29, 2017

Kemarin, aku dan Bryan berkesempatan memberi tumpangan pada mbak-mbak Italia. Pukul 5 kami sudah tiba di Bandara. Ternyata, pesawatnya delay sampai setengah tujuh. Kami beli susu dan sholat maghrib dulu, aku cukup bangga karena mukenanya tidak bau.

Sebenarnya ini acara dari suatu organisasi yang aku tidak jadi siapa-siapa di dalamnya. Entah kenapa, dulu waktu awal semester satu semua orang pada magang sedangkan aku cuma gambling di satu UKM dan baru fix mendaftar di UKM lain. Siapa sangka di tengah jalan semua tenaga yang kucurahkan buat si UKM gambling ini cuma bisa jadi kenangan. Ya, gitulah.

Aku sangat senang berpetualang, meski ga hapal jalan tapi pake waze. Pertama kali ke bandara waktu jemput temanku fika yang bertanding baskekbol di fakultasku. Itu bukan kali pertama aku menunggu orang turun dari pesawat, tapi rasa bahagia dan senyum dari telinga ke telinga waktu lihat sosok dia benar-benar gabisa kulupakan. Padahal fika, belum jodoh.

Mbak-mbak Italia ini datang jauh-jauh ke Indonesia buat koas, kata Winda. Mereka (ada dua) sangat keren. Satunya bernama Monica, beliau jarang bicara karena tampak lelah. Logatnya juga lebih italiano, kayak medok-medok ada "tz" dalam pelafalan tiap huruf. Satunya lagi Alla. Mbak yang ini way another level! Beliau nggak canggung bercerita, dan mengerti bahasa inggris kami yang acak adut. Matanya berbinar dan bersemangat menerima hal-hal yang kami sodorkan (ngajak bicara, makan gado-gado, minta diajarin italiano).

Katanya, Mbak Alla kepingin lihat candi-candi dan ke Bromo. Ku yang baru aja dari sana jadi bangga-bangga sumringah entah kenapa. Dia tinggal di Rome dan lahir di Milan. Sebelumnya aku nggak pernah ingin untuk pergi keliling dunia, bahkan saat melihat film berapa days around the world aku cuma "ngapain sih keliling dunia". Tapi, di detik itu semua berubah. Aku sadar aku sangat ingin.

Malamnya, setelah nganterin mereka ke kos di belakang RS Moewardi, aku sudah nggak sabar ingin cepat-cepat bercerita. Tapi, teleponku nggak diangkat. Ternyata, temanku yang ini sedang menonton. Dia bilang nanti maleman saja. Aku cuma mengangkat bahu dan tersenyum simpul, agak kesal sedikit tapi yaudah mau gimana lagi. Jadi aku cuma jawab "gapapa gapenting kok seloo" pake emot-emot bahagia gimana gitu. Aku juga bercerita pada grup keluarga. Sudah bisa ditebak responnya : ya Allah kasian, bandara jauh banget, cepet pulang. Hm? Padahal aku bahagia. Oke, cukup. Untung saja di grup Cerebrum aku bisa ketawa, padahal nggak nyangka. Setelah merasa agak baikan aku nonton suatu anime movie 2017 yang nggak ngerti jalan ceritanya gimana karena baru beberapa menit aku udah jatuh tertidur.

Ini mungkin bukan cerita inspiratif dan cuma kayak resume kegiatanku seharian, yang sebenernya se nggak penting orang bikin vlog 20 menit isinya wajah dia. Tapi nggak masalah, karena aku nggak ahli bercerita pake mulut tapi pake jari, dan menulis di buku diari adalah cukup membosankan karena orang gabakal tau isinya mungkin sampai dia ditemukan bertahun-tahun terpendam dalam laci meja belajarku? Ok ini imajinatif.

Kukira rapatnya jam 11 ternyata setengah sebelas, tapi aku belum ngapa-ngapain selain sarapan jadi mari kita mandi.

Karang

July 28, 2017

Tidakkah kamu lihat rambutnya yang lusuh terpapar sinar matahari? Di keningnya membanjir peluh sebiji-biji jagung. Wajahnya coreng-moreng dihantam asap knalpot, pakaiannya satu itu saja dari pagi hingga petang.

Tapi, kawan, bahunya itu tidak pernah jatuh. Kakinya kokoh melawan panas aspal, tangannya gagah terkepal menantang langit. Tidak sedikitpun pandangan matanya yang tajam berubah bingung.

Dia anak besar di jalanan.

Idealis. Bukan tabiatnya kalau tidak memperjuangkan hak, sekecil apapun. Bahkan saat sebongkah batu raksasa menghadang jalan, Ia susah-susah menghujaninya dengan tinju sampai hancur. Keras benar isi kepalanya, sampai gunung tak sanggup membujuk.

Tapi, entah kenapa, untuknya dia luluh.

Dear Diary

July 24, 2017

"Kamu kok nggak menulis lagi?" kata teman-teman.

Ada banyak hal yang berlalu selama beberapa hari kita nggak ketemu dan akhirnya ini momen yang tepat untuk kita bicara. Aku udah lupa gimana rasanya jadi sanifa, mungkin karena terlalu banyak ngomong sama orang sehingga waktu membaca tulisan dalam hati itu bukan suaraku tapi suara mereka. Aku juga lupa caranya nulis.

Kemarin lusa, aku berada di suatu titik yang senang tapi sedih. Antara kuat dan lemah kayak tauwa. Lupa gimana, akhirnya bertanyalah aku pada salah satu teman via chat tentang harinya. Aku lupa dulu sering bilang "how's life" ke siapa dan siapa yang duluan mulai, tapi kemarin waktu aku tanya ke temanku yang ini sebut saja Melati, tetiba saja rasanya teramat sedih.

Dia bercerita panjang lebar tentang harinya, hangout bersama keluarga dan beberapa konflik ngambek-ngambekan sama adek sepupunya.

Aku lupa siapa orang terakhir yang nanya gimana hariku lalu berkhir dengan kuceritain panjang lebar tanpa ada penyesalan, tanpa ada rasa cuma kayak kepo doang.

Mungkin selama ini kita selalu merasa sangat sendirian, tapi tidak dirasakan. Lalu, pada suatu waktu, semua itu terakumulasi dan kamu yang tadinya kelihatan sangat kuat jadi lembek sekali seperti jelly. Beberapa orang ada yang bilang mereka kagum pada kepribadianmu, ingin menjadi teman lalu diprioritaskan. Sedikit yang lain masa bodoh saja, tapi bisa cerita panjang lebar dan tidak sungkan mengkritik, saling mengejek tapi terbuka satu sama lain.

Tapi, kawan, aku adalah manusia yang egois sehingga nggak mampu untuk terlihat goyah di depan kalian. Aku mau jadi pegangan tangga biar kalian tidak jatuh waktu naik.

Satu temanku yang kemudian bertanya, mungkin karena sungkan sudah kumintai duluan bercerita tentang dirinya. Lalu, waktu dia hilang, aku jadi tersenyum pada diri sendiri dan melihat ke dalam cermin. Rasanya pahit sekali.

Inspirasi

July 09, 2017

Ini lucu karena besok adalah hari ujian dan dia malah sibuk mencoba peel-off mask--yang tentu saja nggak berguna untuk menghilangkan bekas gigitan nyamuk di bawah mata.

Setelah membuka situs permainan online dan macam-macam jejaring sosial, tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiran : kenapa tidak cari hal nyata yang berguna saja?

Dua jam berikutnya, dia duduk terpana mempelajari guidebook tentang menulis CV dan Cover Letter sebagai bekal mengirim aplikasi dalam melamar kerja di perusahaan.

Sampai di suatu titik, dia seperti sudah tidak punya harapan untuk melanjutkan. Karena hari sudah malam dan setiap satu huruf adalah sepersekian detik dari waktu belajarnya yang terbuang. Keyakinannya di awal bahwa "Ini adalah petunjuk dari Tuhan!" mulai memudar. Dilemanya dalam menjadi seorang anak manusia yang kurang kompeten dan miskin prestasi semakin menjadi-jadi.

Lalu, di sanalah Aufa.

Kemarin malam, temannya yang kemide itu sudah menyentil dengan komentar to the point "gausah mikirin dia yang gatau siapa," dan petuah-petuah lain yang mengalir seperti air terjun. Berpengalaman emang beda.

Tapi, kemudian malam ini Ia kembali tiba dengan sebuah pernyataan yang mengesalkan tapi ada benarnya. Pake ngirim link video youtube segala.

Agak miris sebenarnya karena suasana hatinya jadi lebih baik saat mendengar Sky Full of Stars, bukan Al-Mumtahanah di playlist sebelah.

Bibirnya jadi lebih merah muda karena lip ice sheer color! Kakak perempuannya pasti bangga.

Setelah ini, ada hal lain yang membuat jarak antara stasiun madiun dan solojebres cuma seperti sekedipan mata. Ia memikirkan tentang hal-hal praktikal yang bisa dilakukannya bila bergabung dalam suatu komunitas pencinta. Semakin dipikir, Ia semakin bertanya-tanya, sebenarnya motivasinya itu apa? Dia sudah ketemu jawabannya, bahwa dr. Watson dan Yong Pal adalah sosok inspiratif dalam perjalanan menentukan karakter yang ingin Ia kembangkan. Lalu, muncul alasan lain bahwa, meski berusaha jadi cantik, Ia tidak juga menjadi cantik. Kan mending tidak cantik tapi berguna bagi masyarakat daripada tidak cantik tidak bisa ngapa-ngapain pula?

Ada tapi lagi yang muncul, bahwa sama cicak saja dia fobia.

Sudah kebanyakan dia mikir ini dan itu, sampai mules perutnya. Tolong ini segera berlalu.

Dan Yak

July 07, 2017

there's so much i want to tell you that day

things i regret i never say
we never know when or where we'll ever meet again
you sure talk much i dont have any chance

when i woke up this morning my tears broke down
just the thought that you can't always be there anymore
movies aren't your favorite
but spending time with you is always mine

and the rest is about how grateful i am to live a wonderful life
as the time you walk into it

--did you realize that we've changed so much?

all those hardships you've been going through
all those spectacles coming so far
hope you'll always had the strength
know you are.

--------------------------------------------------
"jagain jodoh orang dong,"
"emang kenapa?"
lalu aku gabisa jawab.

July 07, 2017


can't fit in anywhere?

Dimana Kita Bisa Berbagi Kesedihan?

July 06, 2017

Aku selalu beranggapan bahwa berbagi itu satu paket dengan kebaikan. Berbagi ilmu, berbagi bekal, berbagi senyum saat berpapasan di jalan. Orang dengan senang hati menerima.

Lalu, di mana kita bisa berbagi kesedihan?

Tidak semua orang mampu menampung apa yang jadi beban berat orang lain. Pun tidak semua orang mau. Ada jalan sendiri di tiap-tiap langkah kaki, bukannya tidak peduli.

Selama ini, kupikir masalah itu yang kita panggul di punggung. Oleh karenanya, semakin banyak kita bagi pada orang-orang maka akan jadi ringan.

Tapi, masalah itu ternyata bisa berupa gunung. Kita tidak memikulnya. Kita membawa diri sendiri untuk menghadapinya.

Ada banyak kehilangan dan ketidakadilan yang tidak berujung. Teman-teman yang tidak selamanya jadi teman, orang-orang yang kamu pikir bisa mengulurkan tangan untuk menguatkan waktu kamu nggak sanggup berdiri, tapi nggak ada.

Kawan, coba tanya pada diri sendiri, memangnya kamu mampu untuk jadi selalu ada 24/7 buat orang-orang di sekelilingmu?

Kesedihan mungkin memang tidak pernah diciptakan untuk dibagikan pada sesama kita yang berjuang. Hal itu ada sebagai pengingat bahwa kita tidak benar-benar punya siapapun selain Tuhan.

Keputusan Keukenhoff

July 04, 2017

Pada suatu pagi di dunia Tabi.

"Kamu mau pergi ke mana?"

"Suatu hamparan di Lembah Anahuac."

Berbekal setangkup roti dan sebotol susu, Keukenhoff menyusuri 200 km perjalanan darat ke Utara. Ia meninggalkan Shakira dan Celestine, kedua adik perempuannya, melambai-lambaikan sapu tangan yang basah sampai punggungnya tidak terlihat lagi.

Sebongkah batu berukuran raksasa menutupi satu-satunya jalan yang ada. Merupakan dua hari lamanya untuk mengambil jalan memutar. Keukenhoff hanya berdiri di tengah jalan tanpa menentukan pilihan. Termangu.

Kata-kata Bapak terngiang di telinganya, "Isi perutmu saat lapar."

Ia tidak lapar. Jadi, Ia kembali memandangi batu yang tidak bergerak.

Mereka saling pandang hingga dua hari berlalu.

Keukenhoff memutuskan kembali ke rumahnya di dunia Tabi.

Darkness

July 02, 2017

Ghost stories.

Waktu itu di Rumah Makan Padang Sederhana dari arah Malang. Hujan. Si Eneng update Path sambil nangis-nangis gajelas. Cape dy.

Ternyata sudah hampir dua tahun. Gila, makinya dalam hati. Baru begini baru bisa biasa saja. Tapi, memorinya jadi bercabang dua : satu teman yang bisa terbang, duanya yang mesti dimaafkan.

Akankah teman yang bisa terbang hanya jadi teman saja?

Parah, batinnya syahdu. Dia hempaskan manik-manik ajaib beedos dari Jembatan Suramadu. Seekor putri duyung melambai dan berkata, "Terima kasih!" lalu pergi.

"Aku mengantuk," kata Eneng saat nonton Wonder Woman di bioskop. Dia ingat mulai dari Catching Fire sampai Arrival, Koe no Katachi dan juga Toy Story. Taman Kunang-kunang pun Ultramilk stroberi. Bali.

Akrabnya dengan garis nyaris mati. Pernah jantungnya ngilu semantep Bu Siska saat nguleni adonan kue.
Pernah.

Proyeksi

July 01, 2017

Aku mencium bau kamu di setiap hujan turun. Di setiap liter downy atau rapika warna biru yang menempel di bajuku.

Aku mendengar suaramu di sepanjang lagu-lagu. Beberapa kamu nyanyikan, yang lain kamu rekomendasikan. Juga, didering-dering telepon tengah malam. Waktu kita berbincang padahal besoknya aku ujian.

Aku tidak melihatmu. Kita tidak dekat. Kamu di bagian bumi mana, aku melangkah menjauh. Tidak ketemu.

Tapi, aku yakin aku bisa merasakan kamu ada. Dalam mimpi-mimpi, berenang-renang di realita.

Aku tidak mau bilang apa-apa karena aku takut salah. Aku cuma mau menyerah.

Bintang

June 30, 2017

Ini tentang teman angkatanku namanya Bintang.

Janggal sekali keberadaannya di abad 21.

Dia seperti mie rebus dalam mangkuk ayam jago, dimakan sore-sore waktu hujan, tanpa micin.

Wahai, Pejuang!

June 25, 2017

Sudah, ya?

Aku merasa kecewa dan ingin menangis. Harusnya bisa lebih baik dari ini. Bisa lebih maksimal. Alhamdulillah Allah masih mengizinkanku khatam di satu sisi, tapi aku sungguh malu karena dosa yang berguguran mungkin tidak sebanyak itu di sisi lain. Habis, masih kurang tuma'ninah. Padahal kan, dosa-dosa yang kita pikul ngglundung waktu ruku' dan sujud.

Allah, Engkau Maha Besar. Tahun ini, masih banyak urusan duniaku yang belum selesai. Bukan alasan sih sebenarnya untuk nggak all out, tapi di setiap malam-malam kemarin sungguh berat rasanya melangkahkan kaki meninggalkan materi yang belum kelar. Apalagi kalau sudah disuruh liqo'. Atau menghadiri semarak Ramadhan di kampus. Astaghfirullah. Astaghfirullahaladzim.

Tiada Tuhan selain Allah. Mungkin hikmahnya, di dunia perkalejan nanti memang nggak akan bisa aku memisahkan ibadah dan belajar. Bahkan belajar adalah ibadah juga. Mungkin Allah ingin aku merasakan bagaimana rasanya bagi waktu antara akhirat dan dunia di dalam bulan 'pelatihan'-Nya ini. Mungkin Allah ingin aku paham bagaimana rasanya kecewa tidak melakukan yang terbaik dalam satu kali kesempatan, dan musti menunggu sebelas bulan lagi untuk mendapat kesempatan berikutnya. Iya kalau diberi kesempatan lagi. Ya Allah...

Oke, pejuang. Sudah selesai ngalem-ngalemannya. Tingkatkan kewaspadaan dan ambil senjatamu. Ini saatnya kita terjun ke medan perang.

Eh, aku nggak ngerti mulai masuk 1 Syawwal itu mulai maghrib kemarin, atau jam 00.00, atau setelah sholat ied nanti ya?

Allâhumma la taj’al hadza akhiral ahdi bishiyamina iyyahu fain jâltahu faj’alni marhuman wa la taj’alni mahruman...
"Ya Allah, mohon jangan Engkau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai shaum terakhirku. Tapi jikapun ini adalah Ramadhan terakhirku jadikan aku sebagai hamba yang Engkau rahmati, janganlah Engkau jadikan daku hamba yang terhalangi dari ampunan dan maghfirahmu”
Aamiin Ya Rabbal Alamiin
-inspired by : ucapan malam takbiran kachol-

Selamat Menyambut Hari Kemenangan, Hari Raya Idul Fitri 1438 H.

Taqabbalallahu minnaa wa minkum.

Mohon maaf lahir batin.

[Day 28] Bocah Petualang

June 23, 2017

Helo semuanya.

Aku habis berkelana sejauh 12,6 km (kata waze) sendirian. Tidak ada yang spesial, hanya saja waktu lewat Rungkut dan bertemu sebuah mobil aku jadi ingat sesuatu.

Jadi, ini bukan rumah baru tapi rumah lama yang jadi baru. Entahlah, mama punya banyak rencana dan cuma sedikit bagianku di dalamnya sehingga aku hanya berharap yang terbaik saja. Semoga nanti kehidupan mapan di rumah tingkat dua dengan desain minimalis dan jendela sangat tinggi masih menungguku di Jakarta.

Apaya, di sini banyak nyamuk.

Lebaran nanti saudara-saudaraku datang ke mari, aku harap mereka sudah cukup dewasa untuk membiarkanku belajar demi remed.

Sebentar lagi lebaran. Sebaiknya aku bersiap evaluasi diri.

[Day 27] Dewasalah

June 22, 2017

Kemarin, aku ingin menangis karena terharu melihat adik-adik. Mereka masih sekecil itu, tapi sudah berat sekali tanggungannya. Aku baru ingat bahwa perjuangan di sana tidak sebercanda itu, dan meski akhirnya aku mempermalukan diriku, aku tahu kesempatan belajar seperti itu cuma sekali seumur hidup. Cuma butuh kurang dari dua semester untuk mengubah mereka menjadi para dewasa. Aku ingin berbicara, ingin membantu sebisanya, tapi bahkan kini aku sudah ragu pada keyakinan diri.

Bodohnya aku yang tidak bisa jadi mbak yang baik buat mereka. Sempit sekali pemikiranku karena masih berpikir diri sendiri, kepuasan pribadi, segalanya tentang aku meski sebenarnya tidak begitu. Aku tahu aku sering menolak terjun karena aku tidak punya kemampuan! Dan semakin kukuh apa yang aku pikirkan sampai membentuk diriku yang sekarang. Tapi, kemarin, Rizky bilang banyak hal yang aku tahu itu benar tapi nggak pernah terpikir gimana cara menyampaikannya. Aku ingin adik-adik jadi tangguh tapi diri sendiri sering menghindar kalau disuruh momong.

Lalu sekarang, ternyata eman juga rasanya kalau remed. Aku tahu di mana yang salah tapi waktu blok introp aku seperti kehabisan tenaga karena mengejar imuno. Hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha, dan prior knowledge di awal blok adalah sebuah kunci yang sangat penting. Oh iya kawan, bagaimana bisa kamu mengeluh remed kalau pada kenyataannya kamu tidak bisa menjawab pertanyaannya yang artinya kamu tidak menguasai materi, dan terlebih lagi tidak mengikuti blok dengan baik (re : tidur saat kuliah, menyontek tugas teman, TA)? Bukan apa-apasih, aku hanya kasihan dengan nyawa yang kamu pegang nanti.

Perlu eksekusi yang tepat. Bismillah semoga Allah ridho.

[Day 26] One Shot

June 21, 2017

Aku bermain Choices, salah satu gubahan Pixelberry dan itu cukup menyenangkan.

Aku membangun peternakan dan perkebunan tapi sekarang sudah masuk winter dan tumbuhan tidak bisa tumbuh. Hati Mary belum merah.

Benar kata mama bahwa ketika kita pelit pada diri kita sendiri, akan ada banyak hal lain yang tetap saja menghabiskan duit.

Satu yang aku tahu pasti adalah bahwa kamu nanti bersekolah di jakarta atau jepang, titik.

[Day 24] Ukuran Jahim

June 19, 2017

Aku nggak pamrih. Cuman mau memberi peringatan bahwa apa yang ada di muka bumi itu sebentar saja dan nggak dibawa mati kecuali tiga.

[Day 23] "Jangan Coba-coba Sama yang Beda Prinsip"

June 18, 2017

Aku bener-bener baru sekitar 9 jam di sini dan udah kangen Solo.

Kenyataannya, sebanyak apapun waktu yang kuhabiskan untuk menyapa Pak Wiji sepulang sekolah waktu itu nggak berbekas apa-apa. Lapteng, yang siang malam jadi saksi ketawa-ketawa sampe nangis-nangis juga nggak membuatku terpana. Puncaknya, waktu menyanyi smalane dan kpb, aku cuma asal menyanyi saja.

Mungkin aku sudah menjadi manusia dewasa dan bermain realita.

[Day 21] Iblis

June 16, 2017

Kata kachol dari buku tafsir, Iblis dulunya adalah pemimpin para malaikat. Kemudian dia sujud beribu-ribu tahun pada Allah, lalu jumawa. Nggak mau sujud sama nabi Adam yang Allah jadikan ujian. Akhirnya iblis jadi laknat.

Kadang, kita merasa dah yakin akan posisi diri, yang paling benar dan paling nggak ada dosa. Lalu Allah kasih sentil sedikit dan kita nggak yakin akan Allah tapi yakin pada kemampuan diri. Padahal, diri ini bisa apa, sih?

[Day 20] Declaration of Graha Annisa I

June 15, 2017

Pelajaran hidup kali ini disponsori oleh kopi hari indah.

Sejujurnya saya percaya nggak percaya dengan cerita bahwa kopi bisa membuatmu begadang. Karena banyak mudhorotnya, saya lebih memilih untuk tidur saja bila ngantuk. Namun, karena kemarin merupakan hari yang sangat abstrak di mana saya luntang-luntung gajelas dan nggak fokus sama sekali untuk belajar, akhirnya malam harinya saya putuskan meneguk segelas. Minumnya sih sekitar jam 9an, mulai belajarnya jam 12. Dan sekarang jam 4.

Memang nggak tidur sih, tapi bukan karena nggak ngantuk. Saya tahu regulasi homeostasis tubuh saya sudah memberontak dengan respons pusing-pusing alay dan pandangan mengabur. Namun, itu semua ditekan oleh perut sebah. Mungkin ada infeksi gastroenterokolitis oleh enteropatogenik.

Saya sadar itu nggak ada nyambung-nyambungnya tapi tolong jangan dihakimi dengan memenuhi kolom komen seperti masyarakat pada umumnya. Mengingatkan saya pada betapa saya bisa sampai ketawa-ketawa kalau baca komentar di webtoon luar negeri, tapi hampir selalu skip kalau webtoonnya produksi dalam negeri. Tahu kan mana yang enak didengar dan mana yang nyinyir (atau tidak bervariasi, beda lagi). Budayakan komentar yang santun, berbobot dan membangun!

Ada ide gila saat saya berkelana di laman explore tadi pagi. Dalam delapan bulan saja sebenarnya saya sudah mendapat nominal yang cukup untuk mendapat barang terbaik. Sehingga, sekarang saya akan mendeklarasikan perjanjian Graha Annisa episode satu, bahwa delapan bulan terhitung sejak bulan ke delapan tahun ini, saya berjanji untuk menjalankan program tersebut dengan sungguh-sungguh. Tok, tok, tok.

Ingatlah bagaimana manisnya di bulan ke-delapan kamu dapat menghadiahkan unit kepala baru untuk Bryan.

May Allah grant our wishes. Selamat belajar infeksi nosokomial!

[Day 19] I Refuse to Give Up

June 14, 2017

Memasuki waktu-waktu gila dalam rangka UB infeksi tropis.

Harusnya cukup seru, namun rasanya seperti dipaksa mengenal satu angkatan dalam waktu satu hari. Nggak cuma namanya, tapi juga dia gimana cara hidupnya, kebiasaannya, tempat tinggalnya, semuanya. Tapi daritadi belum mulai mulai. Gangerti kenapa ga berselera.

Malah curhat. Paksa!

[Day 18] With Great Power Comes Great Responsibility

June 13, 2017

Biasanya jam segini saya masih berkutat dengan soal-soal tahun lalu atau materi-materi yang belum sempat diulang kembali karena belum selesai mencicil sejak kemarinnya.

Sekarang sudah, sih. Tapi ternyata nggak bisa bersantai juga karena tugasnya masih banyak belum rampung.

Happy happy shall we be, when we learn of ABC.

[Day 17] Press Conference

June 12, 2017

Iya, benar, saya nggak ingin accept follow request kalian karena kalian masih belum bijak untuk memilih atau simply tidak berpikiran terbuka.

Tapi ya mau gimana lagi akhirnya saya cuma bisa ngehide story sebagai tindakan preventif dari tidur kalian yang nggak nyenyak karena mikirin kelakuan saya yang mungkin nggak pernah kalian bayangkan sebelumnya.

Benar bila katanya setiap orang punya minimal dua muka, satu ketika bersama teman-teman dan satu ketika bersama keluarga. Saya selalu bermimpi bagaimana bila saya terlahir dalam lingkungan yang, gimana ya ngomongnya, agak selo sedikit, sehingga ketika saya melakukan hal yang menurut saya perlu ditanggapi dengan seluas-luasnya pandangan, saya nggak perlu merasa kecewa.

Mungkin itu yang dirasakan karin novilda, saat orang-orang mengecapnya ini dan itu karena dia berekspresi. Tapi, sebenarnya saya juga nggak mendukung juga kan ya kasian kalo ada anak-anak yang belum ngerti terus mengikuti mbak karin. Kita juga nggak bisa membatasi sosial media hanya untuk orang dewasa saja sehingga salah satu yang menjadi PR adalah peran orang tua di dalamnya.

Hanya saja untuk anak segede saya mungkin nggak perlu dipikir macam-macam ya orang saya juga nggak macam-macam.

Saya merasa jahat kalau saya jadi menyebarkan bad influence pada bibit-bibit unggul bangsa. Di sisi lain saya juga nggak ada maksud apa-apa gitu. Dan alhamdulillah saya masih tau batasan sehingga ketika kamu bertanya pada saya saya nggak akan lama untuk memikirkan jawabannya. Karena saya begitu terbuka pada setiap kemungkinan dan pilihan hidup orang for god sake.

Sayangnya, saya masih selalu dilihat seperti anak kecil dalam keluarga.

Oh, bukan. Ibu dan kakak saya adalah orang-orang hebat yang paling saya sayang dan saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan mereka.

Ternyata, orang dewasa yang tahu diri berkorban macam-macam demi anak-anaknya--atau orang-orang yang kekanak-kanakan--hanya untuk menyelamatkan hidup bangsa.

Jadi, gini ya, adek-adek sekalian. Saya itu orangnya, apaya bahasanya, ndableg. Dan saya rasa itu merupakan suatu trait yang membuat saya dapat bertahan hidup hingga saat ini. Tapi, kamu selalu punya pilihan untuk mengambil positifnya dan membuang negatifnya, tidak hanya dari saya tapi juga dari siapapun di dunia ini. Kamu juga bisa menjadi penurut dan cantik seperti kakak saya, lakukan apa yang kamu nyaman di dalamnya. Ingat untuk selalu berbuat baik pada orang lain, jujur dalam berkata, tepat dalam tindakan, ya seperti lagu smalane lah. Tapi bahkan lagu smalane tidak melarang kamu untuk jadi diri sendiri.

Chill out people.

[Day 15] Bulan Purnama

June 10, 2017

Hingga akhirnya hari berganti tapi kami masih sama-sama. Aku tahu ada suatu nasihat untuk menjauhi tongkrongan, tapi kali itu aku tidak mau.

Televisi yang tergantung di dinding TT adalah TV kabel, menayangkan film-film yang rasanya seperti ditinggal pergi mama waktu masih SD, jam 1 pagi tidak bisa tidur di kamarku yang berwarna merah muda lalu menyetel TV agar ada temennya. Rasanya akan selalu begitu dan nggak akan pernah sama ketika nonton TV siang bolong.

Teman-teman peduli pada aturan yang menjagaku tapi aku seakan tidak peduli. Kemudian kami pulang dan sekarang aku tidak bisa lagi tidur. Seperti mimpi tapi bukan mimpi. Aku tahu itu sangat buang-buang waktu tapi waktuku kubuang untuk momen yang nggak ada gantinya.

Bulan malam itu jadi saksi rindu kita.

[Day 14] UB, KK, Penelitian Psikologi

June 10, 2017

Beberapa menit sebelum 7.50 baru khatam soal-soal 3 tahun terakhir. Alhamdulillah ada yang keluar, tapi esensi UB adalah mengetes setiap detik yang kamu manfaatkan selama blok berlangsung. Berproses tidak sebercanda itu.

Senang bisa membantu mempermudah urusan mbak-mbak psikologi dalam surveynya. Mengerjakan 15 soal matematika yang mudah saja tapi lupa rumusnya. Kayaknya sudah bertahun-tahun sampai rumus volume bola saja lupa.

Yang paling ditunggu dari KK adalah kebersamaan angkatannya. Lucu ketika melihat orang-orang yang bermacam-macam sekaligus kesal dengan beberapa yang lain, sudah biasa. Aku tidak bisa tidak takjub pada dinamika keberagaman.

Kemudian ide gila membuatku percaya bahwa aku tidak sesyar'i itu. Sejak sebelum dapat sekolah sampai semester satu berlalu aku bak gadis bertaubat yang tidak tertarik pada hiruk pikuk dunia. Tiba-tiba menonton aksi Gal Gadot bersama teman-teman seperti mahasiswi banyak uang dan banyak waktu saja. Aku tersenyum sendiri karena berpetualang adalah kesukaanku. Mencoba hal yang tidak biasa sedikit, menantang batasan, sudah senang bukan kepalang.

[Day 13] Friday the 13th

June 08, 2017

Ini nggak friday. Besok iya. Temanku ada namanya Fraidee. Dia cantik.

Bahwasanya aku nggak pernah belajar sampai sakit perut, itu ada benarnya. Lalu sekarang aku udah ngantuk, ingin tidur tapi pasti nggak bisa. Akan ada saatya di mana kamu perlu belajar untuk bersabar, meski itu artinya bersabar menjejalkan review materi semalaman suntuk.

[Day 12] Menghadapi Kegagalan

June 07, 2017

Yak semakin dekat dengan ujian blok.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, kita hampir tak bisa bernapas. Karena setelah ujian datanglah ujian yang lain. Sehingga, ketika kamu mau menyetop nonton drama korea, misalnya, karena mau ujian, kamu nggak akan pernah bisa nonton drama korea itu karena ujiannya nggak berhenti-henti. Jadi, harus bagaimana.

Lucunya soal ujian adalah, di malam sebelum atau pagi harinya saat ujian ada orang-orang jenius yang berkoar-koar bahwa mereka belum belajar. Padahal, waktu hasilnya keluar ya nilainya jauh di atas rata-rata. Memang rasanya seperti ada banyak sekali yang harus dipelajari, jadi sudah belajar kayak belum belajar. Atau itu hanya excuse saja agar nanti kalau nggak bisa setidaknya tidak di-judge bodoh, ya?

Yang aku percaya adalah bahwa remed merupakan suatu pembelajaran dalam hidup, di mana kita diajari untuk menghadapi kegagalan.

[Day 11] Bagaimana Mau Memberi Solusi Kalau Ilmunya Nggak Ada

June 06, 2017

Dulu kukira adalah konyol ketika pencurian yang marak di bulan Ramadhan dikaitkan dengan keinginan untuk mudik. Kalo ga punya uang, ya nggak usah pulang. Kalo nggak mau nggak pulang, ya nggak usah rantau. Kalo mau rantau dan mau pulang, ya nabung. Nggak nyuri.

Tapi, ternyata memang pulang adalah suatu hal yang penting dan mendesak. Bertemu keluarga, nggak cuma makan nugget atau nasi margarin tiap sahur dan berbuka, birrul walidain. Itu aku, sih. Anak kos semester awal yang lagi nabung buat liburan.

Aku mau menabung tidak hanya untuk liburan, sebenarnya. Juga untuk sound system, membenahi printer, membeli bensin, upgrade hardware agar bisa edit video, dan keperluan-keperluan lain yang penting tapi tidak mendesak. Sehingga keinginan makan bibimbap di Kimchi Resto pun Pizza Hut bersama Alivia adalah suatu angan yang mengawang dalam bunga tidur.

Barusan banget ku membaca suatu chat dari kating berbunyi "Luka bakar grade 2a paling itu. Bulanya dipecahin, kasih analgetik dan antibiotik. Perban moist. Jangan sampai kotor. 3 hari dah baikan paling" dan hidupku tiba-tiba terasa mudah saja. Aku harus belajar giat untuk bisa memudahkan urusan orang lain.

[Day 10] Besok Field Lab Terakhir Bersamanya

June 05, 2017

Aku membuat jariku terluka; mencuci kemeja putih lalu kelunturan; membuat mie tapi kelembekan; mengirim hal-hal tidak penting di group chat; melakukan hal-hal bodoh lain dan sangat ceroboh.

10 hari pertama sudah kelewat. Ramadhan seperti bola yang menggelinding di turunan. Aku masih berpikiran bahwa menjadi hebat tidak selalu berarti merelakan diri jadi aktivis serba bisa. Aku masih berpendapat mereka semena-mena dalam menaruh.

[Day 9] Oh

June 04, 2017

Hampir semua temanku yang jujur bilang kalau cerita ke aku pasti nggak seru, karena cuma kutanggepi dengan "oh" "hmm" "o gitu".

Trus aku kayak yaudalah ya gimana lagi ku juga gangerti harus nanggepin apa gitu? Padahal gaada niatan untuk kayak gapeduli lho dan malah seneng kalo diceritain.

Tapi ada satu temanku yang lebih parah kalau diceritain nanggepinnya ngeselin. Mungkin kita sama-sama ngeselin sih cuman dia lebih unpredictable aja jawabnya. Yap, ku belajar banyak darinya. Dan jadilah diriku yang independent dan berbahagia layaknya hari ini.

Aku sudah pernah dengar kisah anak yang ibadahnya rajin banget tapi ga keterima ITB, trus malah jadi supir pribadi dan akhirnya jadi bos-bosnya anak-anak ITB. Pernah dijarkom di WA. Cuman, tadi, waktu diceritain ulang sama Mas Syukri di sebuah mushola kecil dekat rumah Kak Syayma, ku kaget karena jadi menitikkan air mata. Kalo udah gini, gimana bisa nggak sayang sama Allah?

Dan kemudian muncul lagi satu cita-citaku : nak, nanti kamu dari kecil sudah makmu ini kasih denger bacaan ayat suci alquran yang merdu ya biar kamu nggak kesusahan niruinnya, tiap malem kita ngaji bareng biar kamu nggak merasa canggung untuk ngaji sendirian, jadi imam sholat bapak-bapak di masjid komplek kita kalau kamu udah gedean nanti juga oke. Gimana ya nak mewujudkannya kayaknya nggak ada yang lebih baik dari teladan jadi makmu ini harus memantaskan diri supaya dapat jodoh yang bisa memberi contoh ke kamu ya nak. Ya Allah kabulkanlah.

[Day 8] Bryan

June 04, 2017

Maaf terlambat.

Sudah turun 3kg padahal baru ikut puasa 5 hari. Nggak berbuka maupun makan sahur dengan hidangan sebagaimana di rumah, tapi kalo inget saudara-saudara yang 'berpuasa tapi nggak tau kapan berbukanya', selalu miris dan ingin menangis. Saudara-saudara yang susah air bersih, atau nggak ada listrik, gimana tersiksanya? Adik-adik yang setiap hari rindu orang tua, tapi sudah nggak bisa untuk sekadar telpon saja karena sudah beda dunianya.

Aku ingin berbagi apa yang bisa kubagi. Aku ingin memberi apa yang bisa kuberi. Rasulullah seorang yatim piatu dari kecil dan aku baru menyadarinya. Aku rindu pulang dan berangkat sekolah bareng mama tapi aku harus tidak boleh menangis bila sekarang cuma ditemani Bryan.

[Day 6] Tentang Pilihan

June 01, 2017

Aku tahu sambat ada baiknya dieradikasi saja dalam hidup, tapi aku sering nggak bisa kalau nggak sambat ke Alivia. Tentang kemarin, misalnya. Dan kemudian tanggapannya adalah "lek aku yo tak jawab fa : km kok ga menghargai pilihan org"

Balqis dan aku sering nggak makan-makan sampe malem gara-gara bingung mau milih menu apa. Sama-sama terserah, sama-sama nggak mau menentukan. Mungkin saking nggak appreciate-nya budaya kita pada pilihan, kita jadi terbiasa pekewoh alias sungkan atau malah males untuk memilih, dan mempertanggungjawabkannya.

Giliran ada yang berdiri pada suatu komitmen dalam hidupnya, kita laksana dewa memberinya label di sana dan sini. Suatu malam sepulang makan, seorang temanku yang udah pinter rajin pula, curhat bahwa dia nggak suka sama beberapa oknum yang memanggilnya "heh ambis" tapi terus "liat laporanmu dong" dan nggak bilang terima kasih sesudahnya. Lah what's wrong with you people.

Aku bukan penggemar Demian maupun dunia persulapan, tapi salah satu post di timeline--akhir-akhir ini memang ada banyaaaaaaak sekali manusia-manusia entah asalnya dari mana, umurnya berapa, tinggalnya di mana dan saudaranya berapa, menyuarakan opini pro kontra mengenai berbagai topik dan oleh karena kehebatan teknologi bisa dengan mudah tersaji di timelineku--yang membuatku kayak, ada benarnya, negeri ini sibuk banget menebar kebencian sampai lupa apresiasi.

Sebenarnya aku agak merasa terdholimi karena dari dua pertemuan terakhir, dua kali mereka melabel 'orang Surabaya' atau 'orang Jawa Timur' ya ngomongnya keras lah, kasar lah, blak-blakan lah, apalah inilah itulah. Lucunya, karena aku baru bergabung dan nggak sempat kenalan dengan proper, cuma beberapa yang tau dan sadar ada orang Surabaya woy di situ! Aku bisa saja marah karena merasa dicap begini begitu, tapi aku memilih untuk tidak. Pertama, karena latar belakang budaya memang beda. Kedua, karena buang-buang tenaga.

Semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa memilih adalah suatu privilege yang nggak sepatutnya disia-siakan. Ketika kamu bisa memilih, pilihlah, dan saat kamu sudah memilih, lalu kamu berdiri tegak atas pilihanmu dengan segala latar belakang dan alasan yang mendorongmu melakukan itu, kamu perlu tahu bahwa orang lain nggak selamanya benar, dan kamu berhak untuk tidak mengikuti pilihan mereka.

Mungkin saking banyaknya yang harus kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti, kita jadi cenderung menghindar dari bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kecil yang kita buat sekarang.
Eh, nggak juga, sih. Toh banyak yang ngantre jadi ketua ini itu dengan alasan kekerenannya, entah pertanggungjawabannya cuma sebatas visi misi atau angan belaka.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Sedikit cerita tentang hari ini, di tengah jalan bensinku kedip-kedip satu strip dan mau nggakmau aku harus beli. Ternyata kusalah berhenti di mesin baru yang cuma jual pertalite dan pertamax, yang berarti harganya mahal. Padahal di dompet cuma ada selembar 50rb, selembar 5rb, dan berlembar-lembar struk lama. Akhirnya beli 50, alhamdulillah dapet 6 literan.

Habis itu isi nitrogen. Sebenernya udah mau lanjut aja cuman emang dari kemarin mau cek angin nggak sempet-sempet dan jalannya udah nggak enak, karena takut kenapa kenapa jadi ditatagin aja. Dalam kondisi ketir-ketir karena cuma punya lima ribu dan recehan 500 yang jumlahnya juga lima ribu, kuberanikan diri berhenti di depan kios masnya. Satu ban kalo tambah angin harganya 4rb, bannya ada 4. Mungkin karena terlalu sering menghantam gronjalan atau dibawa ke puskesmas wonogiri kemarin, ban pertama anginnya kurang. Semakin khawatirlah diri ini, lalu mengarang skenario kalau nanti ternyata empat-empatnya kurang angin apa kubilang ke masnya aja ya "Mas maaf uangnya kurang saya ambil dulu di kos" trus ninggal KTP or apalah terserah trus balik kos trus balik lagi. Hmm bole gak ya.

Udah ban ke tiga dan tiga-tiganya kurang angin. Terus ku mengais-ngais di dalam tumpukan kertas siapatau ada duit. Alhamdulillah ternyata ada 2rb. Dan, ban keempat nggak kurang angin.

Agak tengsin bayar pake 10 keping receh berasa saudagar arab saudi. Tapi nggak masalah karena setelahnya hati ini menjadi lega dan bersyukur tergelitik keajaiban-keajaiban kecil. Gusti Allah mboten sare, boi.

[Day 5] Ada Semangat yang Terselip di Celah Pintu

May 31, 2017

Setelah sholat subuh aku mengaji, lalu tidur lagi karena ternyata remednya jam 1 siang. Belum apa-apa sudah buruk mimpinya--aku berjalan-jalan di kompleks perumahanku di Surabaya dan nggak ada satupun kehidupan, kayak udah ditinggalkan. Waktu cahaya matahari mengintip dari balik gordyn, aku nggak punya pilihan selain bangun dan melanjutkan belajar. Ternyata, ada semangat yang terselip di celah pintu kamarku. Pasti dari Kagary. Mau kusnapgram tapi nggak jadi, cukup senangnya di dalam hati.

Kemarin malam juga Gita memberi semangat. Nggak tahunya, pagi tadi dia mengirimkan lagu yang suka kunyanyikan karena belajar parasit : cacing-cacing di perut, curi semua nutrisi. Versi Gita lebih syahdu, dengan tambahan "tapi tak perlu takut, ada Allah" di akhir bait. Dasar, fetus polos tak berdosa.

Ada kalanya dunia begitu dingin sampai-sampai kamu merasa tidak ada lagi harapan. Padahal, selalu ada bahagia di titik-titik yang tersebar di muka bumi. Aku merasa lebih hangat meski masih jauh dari masakan mama di kala sahur dan berbuka. Karena pada akhirnya nanti toh kita juga akan sendirian saja. Dalam suatu tindakan penanganan ada yang namanya memperbaiki kualitas hidup. Alhamdulillah Allah menitipkanku pada kehangatan yang indah.

[Day 4] Dituntut Macam-macam Padahal Bukan Tuhan

May 30, 2017

Sebenarnya, aku merasa tidak enak pada dosa-dosa masa lalu. Sebagai seorang mantan manusia yang suka mencolot ke sana ke mari, mungkin orang mengiranya eman-eman kalau tidak dilanjutkan. Terus ilmumu itu dibuat apa kalau nggak kamu gunakan? Tapi, bahkan aku sangsi sekali kalau kalimat-kalimat persuasif itu ada benarnya atau cuma iming-iming belaka, karena jalan itu kan memang tidak bisa dilalui sendirian.

Aku sadar bahwa ada kebijaksanaan berpikir, pengalaman, dan pola pikir baru yang hanya bisa didapat ketika kita meluangkan waktu untuk berinteraksi. Namun, selalu ada dilema di tengahnya, antara ingin terjun tapi terlalu bodoh untuk bisa mengatur waktu dengan baik. Ingin bergerak tapi tertahan. Bukan, aku tidak dikekang. Sadar diriku yang mengekang.

Sudahlah, Sanifa. Kamu selalu kepikiran dan tidak bisa bilang tidak. Kemudian, mengada-adakan alasan setelahnya. Memperbarui niat, atau menggantinya mentah-mentah?

Aku sangat lelah sampai kasihan teman-teman yang memakan terang bulan di kamar tadi kukacangin. Besok remidi dan malas sekali mendengar kalimat "Kok kamu bisa remidi?" dipikir Tuhan Yang Mahasempurna kaliya.

Siklus itu balik lagi, keadaan di mana ada terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab. Seperti konfirmasi kehadiran, misalnya. Mungkin sekarang di Taman Budaya sudah ada situs baru, namanya Budaya Konfirmasi. Sebagai manusia yang berjalan di muka bumi, kamu dituntut bisa segalanya.

Aku tidak suka kalau teman-teman minta minum dan dicucup langsung dari botol minumku. Menitipkan barang-barang dan membuat reget di lantai kamar kosku juga suatu hal yang membuatku tidak nyaman. Entah apa yang akan mereka pikirkan nanti bila tiba-tiba membaca ini, tapi aku cuma nggak bisa bilang. Dan iya-iya saja karena aku malas dengan orang yang banyak permintaan, dan tidak mau menjadi salah satu di antaranya. Biar kuceritakan pada kalian saja agar tidak jadi kanker.

Entah mulai kapan kawan-kawanku jadi suka menulis di laman pribadi, yang jelas aku terlampau senang dan suka senyum-senyum sendiri membaca tulisan mereka yang bermacam-macam. Mengingatkanku pada sekilas kehidupan yang menyenangkan. 

Aku masih berpikiran bahwa apa yang kalian lakukan itu jahat. Bagaimana jika aku sampai berpikir bahwa mungkin ini jalan Tuhan yang dibisikkan padaku, lalu kembali terengah-engah mengejar impian yang setengah-setengah, tidak berhasil menyekolahkan si anak di Jakarta atau Jepang, menjadi bukan siapa-siapa dan semakin bukan apa-apa karena kamu menggunakan bahuku sebagai pijakan hingga tidak ada yang terlihat selain ujung-ujung kepala?

Aku tidak masalah menjadi tidak keren, sudah pernah aku bilang. Kalau kamu paksa begitu, kebebasan berpikir cuma mitos.

Cacing menyukaiku dan aku perlu membalas rasa cintanya, nasihat Gita. Aku rindu Ramadhan tahun lalu saat waktuku habis kugunakan siang malam kembali pada-Nya.