Posts

Showing posts from January, 2017

-

Tuhan, aku tidak sedang membicarakan tentang dia. Baik hari ini maupun hari kemarin. Dan minggu lalu saat aku merasa semua jadi satu.
Pernah di berita, ada seorang anak bunuh diri karena putus sama pacarnya. Lalu, ibu-ibu yang membaca berita langsung histeris dan memaki jalan pikir anak yang pendek, ayah-ayah menghela napas menyesalkan kematian yang konyol.
Tapi, memang siapa yang tahu? Mengakhiri hidup itu bukan perkara mudah. Dan status depresi seseorang tidak bergantung pada satu hal saja, kurasa. Meski itu suatu hal besar dan membuatmu menangis semalaman selama sebulan. Aku pernah berakhir dengan berpikir 'mati saja' lewat sambal mamik dan nyamuk db. Tapi bukan di situ poinnya. Untuk benar-benar mengakhiri, kamu butuh lebih dari itu. Seperti misalnya, si anak tidak hanya putus sama pacarnya tapi sudah memendam banyak kemarahan dalam dirinya, lalu suatu hari Ia sudah tidak tahan dan tanggulnya jebol.
Aku membaca ulang beberapa tulisanku yang nadanya sumbang. Merdu sih, tap…

Seo In Guk dan Harvard Medical School

Aku ingin kembali ke masa di mana bermimpi adalah hal yang dilakukan tanpa syarat. Seperti, "Tapi dia sudah tua" "Tapi tesnya sangat sulit" "Tapi uangnya nggak akan cukup" "Tapi di sana nanti sama siapa ya" siapa peduli? Aku cuma ingin bermimpi. Nggak berealita.

"Orang Keren", katanya

Image
Kalau kamu sedang mencari yang istimewa, aku yakin aku bukan salah satunya.
Orang selalu punya indikator orang kerennya masing-masing. Yang mengusahakan, yang dianugerahi, intinya sama aja : kalau Allah tidak bilang iya, ya tidak. Mungkin orang kagum pada orang lain karena pencapaiannya yang luar biasa, atau terpesona karena ia adalah gambaran ideal seperti apa dirinya ingin menjadi di masa depan. Sampai di sini, istimewa bukan tolak ukur yang begitu objektif, ya. Bukan tolak ukur sama sekali malah. Yang benar tolak atau tolok hayo.

Aku masih yakin jalanku belum sepenuhnya lurus. Kadang singgah di tempat-tempat jualan es teh atau pisang goreng. Mumpung masih muda, kataku. Meleng karena tidak pakai kacamata kuda. Lalu, Allah sedang menyentilku untuk jangan main-main di jalan-Nya. Siapa tahu sisa jatahku tinggal besok.
Ini azab, atau karunia? Pantas tidak ya aku dapat karunia-Nya? Trendnya sekarang, orang sedang memandang satu mata pada orang beragama. Terlalu konvensional, bilangnya. …

Akhir Cerita

Apa, ya.
Ada kelegaan tersendiri ketika kamu tahu bahwa sebagian besar orang berpendapat sama tentang dua puluh lima episode awal yang lebih... jenius. Mungkin, L memang se-iconic itu sehingga waktu kamu mencarinya dengan kata kunci, yang akan muncul memang dia, atau apel, atau Ryuuk. Meski awalnya aku lebih mendukung Kira untuk menang dan ingin L segera mati, nggak bisa dipungkiri bahwa kehilangan L berarti kehilangan keseimbangan--mereka jadi kesusahan untuk mencari lawan yang sepadan.
Tiba-tiba, ada satu hal yang terlintas di pikiranku. Seorang kakak kelasku waktu SMA dulu pernah membagikannya di sosial media, tentang ketakutanmu yang berubah saat kamu sudah dewasa. Salah satunya, ketika kamu tidak lagi menjadi seistimewa itu untuk orang yang kamu anggap istimewa. Mungkin, setelah akhirnya kalian kenal, ekspektasinya tak sebanding dengan realita, atau sesimpel ada yang lebih 'sesuai ekspektasi' selain dirimu. Menurutku, nggak adil kalau dia tetap mempertahankan perasaanmu,…

The Moment I Treasure

Kita punya sangat sedikit waktu dan lebih sedikit lagi untuk menghabiskannya bersama, ya.

Episode 25

Mari kita manfaatkan momen ini untuk rehat sejenak demi kedahsyatan episode 25 yang telah merenggut nyawa mereka.
Selanjutnya, apa?

Semoga Besok Matahari Masih Terbit dari Timur

Halo. Aku tidak bisa tidur. Padahal sudah gulung-gulung sekitar, entahlah, 2 jam?Sudah berselancar dari karpet sampai meja lipat. Dompet sampai tas. Padahal tadi saat episode 19 aku ketiduran lelap sekali di tengah-tengah deduksi L. Terbangun karena belum isya'.
Agak heran menyadari bahwa aku kepingin cepat-cepat balik ke Solo.
Mungkin malam ini Surabaya lagi gerah-gerahnya jadi aku banyak evaporasi dengan menghembuskan napas panjang.
Tapi, sedalam apapun dia berpikir, tidak menjamin kamu akan berpikiran sama. Kemudian, kamu malah mencari apa yang tidak bisa kamu dapatkan. Dan dia hanya terpaku karena alasan toleran.
Ada orang yang tidak keberatan beli makan habis lima ratus ribu tapi nggak mau investasi untuk barang yang tidak sekali pakai. Ada.
Dan kamu kepingin uncal-uncal karena lelah sama penolakan.

Orange(オレンジ)

Image
Ketika mendapat surat dari dirinya sepuluh tahun yang akan datang, Naho tidak percaya bahwa semua adalah nyata. Surat itu memang mengatakan beberapa kebenaran seperti murid baru yang akan datang pindahan dari Tokyo, Kakeru, dan bahwa Ia akan duduk di sebelahnya. Namun, tidak semudah itu untuk membuatnya percaya hingga Ia melakukan satu hal yang ternyata menjadi sumber dari segala penyesalan Kakeru : mengajaknya pergi makan roti dari toko Azu.
Tapi, apa yang terjadi bila mereka tidak mengajak Kakeru waktu itu? Mungkin, mereka akan melewatkan momen bersama dan lebih susah untuk menjadi teman. Mungkin, Kakeru akan berteman dengan komplotan lain, misalnya anak yang duduk di depan berambut kuning jabrik seperti Yoichi Hiruma. Mungkin dia malah tidak akan masuk sekolah selamanya dan tidak ada yang akan benar-benar menyelamatkannya. Semua kemungkinan terburuk punya peluang yang sama dengan kemungkinan terbaik yang bisa Ia dapatkan.
Yang membuatku tidak habis pikir adalah, bagaimana bisa Ibu…

Pengakuan Dosa

Nama saya Sanifa dan saya ingin melakukan pengakuan dosa.
Jujur, sejak liburan masuk bulan Januari tahun ini saya merasa jadi makin kepala pecah. Tentu saya gembira menyambut liburan ala anak kuliahan yang ga seminggu dua minggu tapi sebulan. Saya juga bersyukur nggak keterima di suatu kepanitiaan, sehingga jatah liburan saya jadi lumayan lebih banyak. Awalnya sih begitu.
Saya sadar, satu semester ini saya nggak mendaftar di banyak organisasi. Padahal, mungkin, ada cukup banyak waktu yang telah saya investasikan di bidang keorganisasian waktu SMA dulu. Mungkin juga itu satu hal yang menjadi penyebab semangat belajar saya nggak stabil waktu itu. Saya nggak berniat untuk menyalahkan siapapun selain diri saya, karena kurangnya kemampuan saya dalam melihat ke depan dan keegoisan dalam diri saya sehingga bukannya gimana-gimana, saya malah kehabisan tenaga, mengacu pada setiap pergolakan yang muncul tidak hanya di instansi di mana saya berpijak namun juga tempat di mana saya seharusnya bis…

Digigit Ular

Kamu nggak habis digigit ular, kan?

Merindu Lagi

Kamu adalah apa yang kamu berikan di hadapan Tuhanmu.
Dulu, aku nggak paham maksud dari kalimat : "Ya Rasulullah, kami rindu padamu." Kalau belum pernah bertemu, apa yang membuat rindu? Ternyata, rindu itu bukan melulu setelah ketemu lalu ingin ketemu lagi. Rindu berarti keinginan untuk bertemu, saja, tanpa keterangan waktu. Bedanya lagi, ingin ketemu artis juga bisa dibilang rindu. Sayang, di jaman Rasulullah, belum ada alat perekam. Jadi nggak kelihatan tampan enggaknya. Tapi, kita tetap rindu? Kenapa ingin bertemu?

Four Years

Aku ingin cepat-cepat besok pagi,
siapa tau kamu jadi ada lagi.

Motivasi Belajar

Ketika saya melihat satu atau dua foto hal-hal yang saya inginkan tapi saya belum pantas mendapatkannya karena saya masih belum belajar juga.

Cleo

"Dua puluh ribu," gumammu. Masih dengan kemeja hitam dan rok abu-abu. Bukan kali pertama kita ketemu karena aku sudah kenal kamu dari dulu. Kebetulan, temanku Kili memilih meja di sebelah mejamu. Dekat jendela besar yang menghadap ke belokan menuju sekolah, stasiun, dan rumahmu. Kamu menyapa Kili, aku tahu. Aku nggak nyangka akan ketemu, jadi cuma senyum-senyum sok tegar. "Yang lain ke mana?" tanyaku. Kamu cuma geleng-geleng aja. Bahkan aku nggaktau kamu balas senyumku atau enggak. Setelahnya, aku baru tahu waktu itu kamu flu berat. Aku memang lihat tissue dan cuma satu botol air nggak dingin di mejamu, selain buku-buku tebel dan coret-coretan yang kamu bawa. Nggak biasanya, karena kamu suka minuman fancy. Kebiasaan. Ini udah kali keberapa kamu sakit? Padahal mau ujian. Nggak pernah peduli diri sendiri. Temanku dan ibunya datang, jadi kami pindah ke meja dekat tiang. Kami pamit, kamu cuma ngangguk-angguk aja. Nggak sedikitpun noleh dari soal dan ujung pensil yang …