-

January 31, 2017

Tuhan,
aku tidak sedang membicarakan tentang dia.
Baik hari ini maupun hari kemarin.
Dan minggu lalu saat aku merasa semua jadi satu.

Pernah di berita, ada seorang anak bunuh diri karena putus sama pacarnya. Lalu, ibu-ibu yang membaca berita langsung histeris dan memaki jalan pikir anak yang pendek, ayah-ayah menghela napas menyesalkan kematian yang konyol.

Tapi, memang siapa yang tahu? Mengakhiri hidup itu bukan perkara mudah. Dan status depresi seseorang tidak bergantung pada satu hal saja, kurasa. Meski itu suatu hal besar dan membuatmu menangis semalaman selama sebulan. Aku pernah berakhir dengan berpikir 'mati saja' lewat sambal mamik dan nyamuk db. Tapi bukan di situ poinnya. Untuk benar-benar mengakhiri, kamu butuh lebih dari itu. Seperti misalnya, si anak tidak hanya putus sama pacarnya tapi sudah memendam banyak kemarahan dalam dirinya, lalu suatu hari Ia sudah tidak tahan dan tanggulnya jebol.

Aku membaca ulang beberapa tulisanku yang nadanya sumbang. Merdu sih, tapi menyakitkan. Kalau aku jadi kamu, lalu membaca tulisanku, aku rasa aku akan kecewa berat. Lalu memutuskan keputusanku sendiri, seperti pergi dan tak kembali. Sebenarnya, dan sebenar-benarnya, aku memang suka membuatnya kedengaran ambigu. Tapi aku rasa yang ini sudah keterlaluan.

Jadi, Tuhan, izinkan aku meminjam angin untuk menyampaikan permintaan maafku padanya. Aku tahu Kau pasti berat hati karena akhir-akhir ini aku jauh sekali dari-Mu. Kuharap Kau kabulkan saja doanya karena ia sangat dekat. Amin.

Seo In Guk dan Harvard Medical School

January 23, 2017

Aku ingin kembali ke masa di mana

bermimpi adalah hal yang dilakukan tanpa syarat.
Seperti,
"Tapi dia sudah tua"
"Tapi tesnya sangat sulit"
"Tapi uangnya nggak akan cukup"
"Tapi di sana nanti sama siapa ya"
siapa peduli?
Aku cuma ingin bermimpi.
Nggak berealita.

"Orang Keren", katanya

January 22, 2017

Kalau kamu sedang mencari yang istimewa, aku yakin aku bukan salah satunya.

Orang selalu punya indikator orang kerennya masing-masing. Yang mengusahakan, yang dianugerahi, intinya sama aja : kalau Allah tidak bilang iya, ya tidak. Mungkin orang kagum pada orang lain karena pencapaiannya yang luar biasa, atau terpesona karena ia adalah gambaran ideal seperti apa dirinya ingin menjadi di masa depan. Sampai di sini, istimewa bukan tolak ukur yang begitu objektif, ya. Bukan tolak ukur sama sekali malah. Yang benar tolak atau tolok hayo.


Aku masih yakin jalanku belum sepenuhnya lurus. Kadang singgah di tempat-tempat jualan es teh atau pisang goreng. Mumpung masih muda, kataku. Meleng karena tidak pakai kacamata kuda. Lalu, Allah sedang menyentilku untuk jangan main-main di jalan-Nya. Siapa tahu sisa jatahku tinggal besok.

Ini azab, atau karunia? Pantas tidak ya aku dapat karunia-Nya? Trendnya sekarang, orang sedang memandang satu mata pada orang beragama. Terlalu konvensional, bilangnya. Aku tidak sedang mengadu domba pemahaman apa pun. Setiap orang mengusahakan berbeda, jadi dikasih beda juga. Kenapa membeda-bedakan ya jadinya.

Aku ingin berhenti berpikir tentang diriku, tentang masyarakat maupun tentang kamu. Halah seperti novel teenlit saja kamu kamu. Aku ingin percaya bahwa Allah sedang menyelamatkan aku. Karena aku belum mampu. Siapa sih yang mau diduakan? Begitu juga Tuhanku. Meski bukan Dia yang membutuhkan melainkan aku.

Berada di titik ini aku masih sering mempertanyakan, apakah usahaku yang kurang? Atau memang ini jalan yang sudah seharusnya aku tempuh? Takdir mana yang bisa diubah? Tapi bukannya Allah Maha Mengetahui sehingga apapun sebenarnya sudah diprediksi?

Mungkin pikirmu, daripada mengurus apa yang diluar kemampuanmu lebih baik memperbanyak usaha dan doa.

Oke.

Semoga Allah selalu membersamai langkah Dimas dan Bila yang perjalanannya telah memberiku secercah cahaya bahwa apa yang kulalui akhir-akhir ini bukan apa-apa dibanding perjuangan mereka kala yang lalu.

Kayaknya aku butuh libur.

Akhir Cerita

January 21, 2017

Apa, ya.

Ada kelegaan tersendiri ketika kamu tahu bahwa sebagian besar orang berpendapat sama tentang dua puluh lima episode awal yang lebih... jenius. Mungkin, L memang se-iconic itu sehingga waktu kamu mencarinya dengan kata kunci, yang akan muncul memang dia, atau apel, atau Ryuuk. Meski awalnya aku lebih mendukung Kira untuk menang dan ingin L segera mati, nggak bisa dipungkiri bahwa kehilangan L berarti kehilangan keseimbangan--mereka jadi kesusahan untuk mencari lawan yang sepadan.

Tiba-tiba, ada satu hal yang terlintas di pikiranku. Seorang kakak kelasku waktu SMA dulu pernah membagikannya di sosial media, tentang ketakutanmu yang berubah saat kamu sudah dewasa. Salah satunya, ketika kamu tidak lagi menjadi seistimewa itu untuk orang yang kamu anggap istimewa. Mungkin, setelah akhirnya kalian kenal, ekspektasinya tak sebanding dengan realita, atau sesimpel ada yang lebih 'sesuai ekspektasi' selain dirimu. Menurutku, nggak adil kalau dia tetap mempertahankan perasaanmu, karena keputusan nggak bisa diambil dari satu sisi aja. Kalau sebelah tangan, ya sebelah tangan. Dia perlu mengambil langkah dan nggak gengsi untuk jadi yang memulai tapi mengakhiri.

Yah, mungkin jalan ceritanya jadi terlalu rumit untuk diakhiri. Tapi, tentu saja nggak ada pilihan lain. Kematian Yagami Light yang menyedihkan mau tidak mau membuatku berpikir. Sayang, dia yang awalnya muncul bak superhero nan tampan harus mati dengan tidak seheroik itu. Terlepas dari itu semua, aku bersyukur sudah menjadi salah satu yang menjadi saksi pertarungan sengit keduanya di 2/3 awal. Bukan berarti kamu benar-benar payah, Near.

Setelah percakapan yang cukup menghangatkan hati waktu lalu, aku tidak berharap apa-apa selain semoga dia bertemu dengan orang yang mengerti. Atau kadang kita memang diciptakan untuk bersama dengan orang yang tidak benar-benar mengerti? Aku juga tidak tahu, kawan. Tapi tidak mau ambil pusing. Hanya bersyukur aja karena sudah diberi kesempatan untuk merasakan hal-hal yang tak terduga sebelumnya.

Sudah tanggal dua satu, sebaiknya aku tidur.

The Moment I Treasure

January 19, 2017

Kita punya sangat sedikit waktu dan lebih sedikit lagi untuk menghabiskannya bersama, ya.

Episode 25

January 17, 2017

Mari kita manfaatkan momen ini untuk rehat sejenak demi kedahsyatan episode 25 yang telah merenggut nyawa mereka.

Selanjutnya, apa?

Semoga Besok Matahari Masih Terbit dari Timur

January 17, 2017

Halo. Aku tidak bisa tidur. Padahal sudah gulung-gulung sekitar, entahlah, 2 jam?Sudah berselancar dari karpet sampai meja lipat. Dompet sampai tas. Padahal tadi saat episode 19 aku ketiduran lelap sekali di tengah-tengah deduksi L. Terbangun karena belum isya'.

Agak heran menyadari bahwa aku kepingin cepat-cepat balik ke Solo.

Mungkin malam ini Surabaya lagi gerah-gerahnya jadi aku banyak evaporasi dengan menghembuskan napas panjang.

Tapi, sedalam apapun dia berpikir, tidak menjamin kamu akan berpikiran sama. Kemudian, kamu malah mencari apa yang tidak bisa kamu dapatkan. Dan dia hanya terpaku karena alasan toleran.

Ada orang yang tidak keberatan beli makan habis lima ratus ribu tapi nggak mau investasi untuk barang yang tidak sekali pakai. Ada.

Dan kamu kepingin uncal-uncal karena lelah sama penolakan.

anime review

Orange(オレンジ)

January 14, 2017

source : myanimelist.net
Ketika mendapat surat dari dirinya sepuluh tahun yang akan datang, Naho tidak percaya bahwa semua adalah nyata. Surat itu memang mengatakan beberapa kebenaran seperti murid baru yang akan datang pindahan dari Tokyo, Kakeru, dan bahwa Ia akan duduk di sebelahnya. Namun, tidak semudah itu untuk membuatnya percaya hingga Ia melakukan satu hal yang ternyata menjadi sumber dari segala penyesalan Kakeru : mengajaknya pergi makan roti dari toko Azu.

Tapi, apa yang terjadi bila mereka tidak mengajak Kakeru waktu itu? Mungkin, mereka akan melewatkan momen bersama dan lebih susah untuk menjadi teman. Mungkin, Kakeru akan berteman dengan komplotan lain, misalnya anak yang duduk di depan berambut kuning jabrik seperti Yoichi Hiruma. Mungkin dia malah tidak akan masuk sekolah selamanya dan tidak ada yang akan benar-benar menyelamatkannya. Semua kemungkinan terburuk punya peluang yang sama dengan kemungkinan terbaik yang bisa Ia dapatkan.

Yang membuatku tidak habis pikir adalah, bagaimana bisa Ibunya Kakeru selalu melakukan apa yang menurutnya benar?!? Maksudku [warning, spoiler alert], dia mengambil keputusan bercerai dengan ayah Kakeru tanpa berdiskusi lebih dulu dengan anaknya. Okelah, mungkin karena Kakeru masih kecil dan dia tidak akan mengerti, tapi, kenapa semua orang dewasa selalu berpendapat bahwa anak kecil tidak akan mengerti? Dan lagi, dia memutuskan pindah ke Matsumoto karena mengetahui bahwa Kakeru ditindas oleh kakak kelasnya di ekstrakulikuler, tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan yang diajak pindah? Klimaksnya adalah ketika dia memutuskan bunuh diri hanya agar tidak mengganggu Kakeru lagi?? What's wrong with you oka-san apakah semua yang kamu pikir bertujuan baik buat anakmu adalah memang yang terbaik buat dia (you don't even talk to him about your decision I'm done with you).

Pada akhirnya, yang bisa kita tarik hikmahnya dari tiga belas episode cukup singkat dari anime orange(オレンジ)yang tayang musim panas 2016 lalu kurang lebih sebagai berikut :

1. Komunikasi itu nggak penting, tapi sangat penting. Manusia tidak diciptakan oleh Tuhan dengan radar atau pendengaran super yang bisa mendengar bisikan dalam lubuk hati orang lain maupun yang sedang menggema di kepala mereka--yang bisa mendengar hanya dirimu sendiri. Jadi, ada baiknya bila kita mengklarifikasi terlebih dahulu (dan mengajak berdiskusi orang-orang yang bersangkutan, tentu saja) sebelum mengambil keputusan karena dengan terjalinnya komunikasi yang baik, meski hasil keputusannya nanti bisa jadi bukan yang terbaik, tetap saja kalian telah membuatnya bersama dan itu melegakan. Jangan meremehkan siapa pun sampai nggak mbok ajak diskusi karena tahu kan rasanya tidak enak kalo ditinggal hm.

2. Jadi teman yang perhatian. Kadang, ada beberapa teman yang nggeregetin karena mereka sukanya memendam perasaan sendiri karena malu, takut dimusuhi, atau tidak mau membebani. Padahal, dengan bercerita, sebenarnya kamu tidak sedang menolong dirimu sendiri saja tapi juga orang-orang di sekitarmu. Terbuka pada orang-orang yang kamu percaya membuatmu bisa berbagi cerita dan memendam memang nggak pernah sesehat itu. Sebagai teman yang sedang diceritai masalahnya, kamu tentu tahu apa yang harus kamu lakukan seperti tidak langsung menghakiminya maupun menyimpulkan permasalahannya dari sudut pandangmu sendiri. Bisa jadi mereka hanya butuh untuk didengar tanpa kamu bersusah payah mencarikan solusi. Dan bisa jadi kamu perlu memaksa.

3. I'm being seriously in love with Suwa karena dia mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingannya (lalu agak menghina-dina Naho dan Kakeru sih tapi yaudahlah ya mungkin Kakeru lebih butuh sosok yang menghangatkan seperti Naho) sendiri. Aku memang sering dibutakan oleh keinginanku sendiri seperti bila sumuk maka aku menyalakan AC padahal orang rumah kedinginan, dan lain sebagainya. Sudah saatnya kita menjadi dewasa dan memperjuangkan kebahagian kita dengan membahagiakan orang lain. Tsah.

4. Jadilah berani. Di episode awal-awal, Naho sangat pemalu dan nggak berani menyatakan apa yang sebenarnya dia rasakan, seperti misalnya dia senang karena sesuatu atau berterima kasih, atau menolak dan lain sebagainya. Iya, ku geregetan. Iya, kuingin menonjok wajah Ueda-senpai.

5. Tidak ada salahnya mendengarkan nasihat orang lain. Bahkan ketika terdengar tidak masuk akal dan sangat berkebalikan dengan dirimu. Seperti, bila Naho lebih cepat menyadari apa yang harus Ia lakukan setelah membaca surat itu, lalu tidak mengajak Kakeru jalan sepulang sekolah, mungkin Ibu Kakeru tidak perlu sampai bunuh diri (tapi emang beliaunya lebe bat dah kzl). Tapi kalau kayak gitu nanti ceritanya selesai sampe disitu gaada cerita Kakerunya nyesel-nyesel, deh.

Intinya, penyesalan dalam hidup pasti selalu ada. Ketika kita melakukan satu atau dua hal yang kemudian berakhir tidak sebaik yang kita inginkan, lalu masih terbayang sampai sekarang, itu adalah sangat wajar. Sebagai teman yang baik tentu kamu perlu berhati-hati pada setiap perkataanmu, siapa tahu apa yang kamu pikir biasa saja ternyata menjadi sebuah trauma dalam diri orang lain. Jadi, topik mengingat masa lalu perlu dipilah-pilah, ya.
Tapi, sebenarnya kamu juga perlu belajar untuk menghadapi serangan masa lalu dengan... menerimanya. Terima saja kalau kamu pernah melakukan kesalahan dan itu sebagai proses pembelajaranmu, lalu enyahkan mereka yang terus menjatuhkanmu dengan masa lalumu karena mereka tak pernah benar-benar mengalami apa yang kamu rasakan--mereka tidak pernah benar-benar tahu yang sebenarnya. Jadi, ya, senyumin saja.

Kuharap kamu menjalani hidup yang sehat dan positif (maaf atas ketidaksetujuanku yang menggebu pada karakter ibu Kakeru). Selamat berakhir pekan!

source : idigitaltimes.com

Pengakuan Dosa

January 12, 2017

Nama saya Sanifa dan saya ingin melakukan pengakuan dosa.

Jujur, sejak liburan masuk bulan Januari tahun ini saya merasa jadi makin kepala pecah. Tentu saya gembira menyambut liburan ala anak kuliahan yang ga seminggu dua minggu tapi sebulan. Saya juga bersyukur nggak keterima di suatu kepanitiaan, sehingga jatah liburan saya jadi lumayan lebih banyak. Awalnya sih begitu.

Saya sadar, satu semester ini saya nggak mendaftar di banyak organisasi. Padahal, mungkin, ada cukup banyak waktu yang telah saya investasikan di bidang keorganisasian waktu SMA dulu. Mungkin juga itu satu hal yang menjadi penyebab semangat belajar saya nggak stabil waktu itu. Saya nggak berniat untuk menyalahkan siapapun selain diri saya, karena kurangnya kemampuan saya dalam melihat ke depan dan keegoisan dalam diri saya sehingga bukannya gimana-gimana, saya malah kehabisan tenaga, mengacu pada setiap pergolakan yang muncul tidak hanya di instansi di mana saya berpijak namun juga tempat di mana saya seharusnya bisa pulang. 

Iya, saya sebodoh itu sampai kehabisan tenaga di tengah jalan, disaat yang lain malah semakin terbakar karena merasakan ketertinggalan. Saya sebodoh itu sampai menyia-siakan kesempatan.

Mendekati sebuah acara di suatu SMA kali ini, saya sudah muak dengan semua orang yang bilang bahwa kami tidak sekompeten itu. Tidak adil, memang. Karena stigma seringkali memojokkan suatu pihak. Saya sudah muak dengan orang-orang yang memuja teman-teman di sana, dan bahwa tak banyak yang berminat bahkan sekadar mengetahui kami di sini. Mungkin, saya telah menghabiskan satu semester dalam keadaan menerima dan baik-baik saja karena memang hanya satu yang ada di pikiran saya waktu keterima : alhamdulillah, saya bisa jadi mahasiswa kedokteran. Tapi, saya capek karena masyarakat bilang kami mahasiswa pinggiran.

Saya lebih capek lagi ketika orang, yang beberapa mungkin bukan teman saya, memuja dan menomorsatukan instansi di mana saya berada sekarang. Merasa lebih baik di satu atau dua hal daripada sekolah lain.

Intinya, saya lelah dengan labelling perguruan tinggi di negeri ini.

Ironi bukan bila saya harus bilang bahwa seharusnya tidak ada perguruan tinggi yang lebih baik dari perguruan tinggi lain, namun semua harus mencapai standar yang dijadikan acuan untuk sama-sama membangun negeri yang kokoh tak tertandingi. Padahal dulu waktu kebijakan itu diterapkan di sekolah-sekolah di Surabaya saya masuk golongan yang lumayan kontra, entah kenapa pada saat itu. Sombong, mungkin.

Kalau saya cerita begini pada mama saya pasti beliau hanya banyak diamnya lalu berkata, "Ngapain kamu ngurusin gitu sudahlah belajar yang bener aja," dan seterusnya dan lain sebagainya. Ada benarnya, tapi saya tahu saya jadi lebih seperti burung yang dimasukkan dalam sangkar.

Puncaknya, saya sudah tidak sebahagia itu untuk menghabiskan waktu di kota besar maupun mantan SMA saya. Saya tahu ada amanah 'slamane' dalam keberadaan saya di muka bumi namun saya sudah terlampau lelah untuk mengakui bahwa saya pernah searogan itu di dalam sana. Saya berdosa telah mengkhianati amanah sebagai pelajar dan merasa lebih pintar ketika orang lain berbicara. Saya harap akan ada hukuman yang setimpal, saya rasa saya telah mendapatkannya.

Realita adalah sebuah pil yang sangat pahit. Saya bisa menelannya tapi rasa pahit dan nyangkut di kerongkongan nggak bisa dihindari. Mungkin puncaknya adalah tadi ketika saya harus menerima bahwa saya bukan siapa-siapa dan bukan dari sebuah instansi terpandang apa-apa sehingga saya tahu tak ada gunanya mengharap menggapai yang tinggi seperti berteman dengan dia atau menjalin persahabatan dengan yang lainnya.

Pada akhirnya saya cukup dewasa untuk menyadari bahwa tidak ada hal yang sempurna, dan bahkan satu universitas dengan universitas yang lain akan memiliki pergolakan yang tidak dapat dibandingkan. Tidak ada yang menjamin bila saya masuk universitas A maka saya akan mulus-mulus saja, pun dengan institut B maka saya akan luar biasa.

Saya mungkin tidak lebih baik dari sekarang ini bila saya berpijak di bumi yang lain.

Tuhan memang memiliki rencana-Nya, tapi sudah jadi tugas saya untuk mendobrak pintu yang membatasi saya untuk bersama dengan mimpi-mimpi saya.

Digigit Ular

January 11, 2017

Kamu nggak habis digigit ular, kan?

Merindu Lagi

January 10, 2017


Kamu adalah apa yang kamu berikan di hadapan Tuhanmu.

Dulu, aku nggak paham maksud dari kalimat : "Ya Rasulullah, kami rindu padamu."
Kalau belum pernah bertemu, apa yang membuat rindu?
Ternyata, rindu itu bukan melulu setelah ketemu lalu ingin ketemu lagi.
Rindu berarti keinginan untuk bertemu, saja, tanpa keterangan waktu.
Bedanya lagi, ingin ketemu artis juga bisa dibilang rindu.
Sayang, di jaman Rasulullah, belum ada alat perekam.
Jadi nggak kelihatan tampan enggaknya.
Tapi, kita tetap rindu?
Kenapa ingin bertemu?

Four Years

January 05, 2017

Aku ingin cepat-cepat besok pagi,
siapa tau kamu jadi ada lagi.

Motivasi Belajar

January 03, 2017

Ketika saya melihat satu atau dua foto hal-hal yang saya inginkan tapi saya belum pantas mendapatkannya karena saya masih belum belajar juga.


Cleo

January 01, 2017

"Dua puluh ribu," gumammu. Masih dengan kemeja hitam dan rok abu-abu. Bukan kali pertama kita ketemu karena aku sudah kenal kamu dari dulu. Kebetulan, temanku Kili memilih meja di sebelah mejamu. Dekat jendela besar yang menghadap ke belokan menuju sekolah, stasiun, dan rumahmu.
Kamu menyapa Kili, aku tahu. Aku nggak nyangka akan ketemu, jadi cuma senyum-senyum sok tegar. "Yang lain ke mana?" tanyaku. Kamu cuma geleng-geleng aja. Bahkan aku nggaktau kamu balas senyumku atau enggak.
Setelahnya, aku baru tahu waktu itu kamu flu berat. Aku memang lihat tissue dan cuma satu botol air nggak dingin di mejamu, selain buku-buku tebel dan coret-coretan yang kamu bawa. Nggak biasanya, karena kamu suka minuman fancy.
Kebiasaan. Ini udah kali keberapa kamu sakit? Padahal mau ujian. Nggak pernah peduli diri sendiri.
Temanku dan ibunya datang, jadi kami pindah ke meja dekat tiang. Kami pamit, kamu cuma ngangguk-angguk aja. Nggak sedikitpun noleh dari soal dan ujung pensil yang kamu ketuk-ketuk di meja.
Sesusah apa? Aku bisa bantu apa? Bahkan sakit pun kamu paksa. Apa sih yang kamu kejar?

---------------------------------------------------------------------------------

Mau gimana lagi. Di rumah pun nggak mungkin bisa lebih baik lagi. Jaga kesehatan, kata mereka. Gimana caranya? Tolong ajarin.
Semua kayak soal-soal, yang nggak ngerti mulainya dari mana. Kayaknya udah belajar banyak, tapi gabisa. Katanya suruh ngerjakan empat (puluh) soal sehari. Anaknya rebel gimana mau nurut. Makan tuh flu.
Yaudah, siapatau virus bisa ilang kalo kena sinar matahari. Tapi ya enggak tuh, sama aja. Malah kayaknya AC-nya dingin banget. Udah pake masker tapi pusing gila. Ini soal apaan gangerti dah. Skip aja. Yaelah soal selanjutnya juga gangerti. Ini banyak banget belajarnya gimana?
Mampus. Kok ada dia.
"Dua puluh ribu," ngulang soal. Diulang-ulang siapatau tiba-tiba ketemu jawabannya. Udah liat pembahasan tapi tetep gangerti. Itu kok bisa begitu dari mana.
"Yang lain ke mana?" tanyanya. Hah? Yang lain siapa? Aduh, gaenak banget masak keliatan pergi sendirian. Jangan pindah ke sini dong, tolong. Gaada kekuatan buat nyari bahan pembicaraan juga.
Gelengin aja dah, pura-pura dingin. Kalo tar diliat belom ngerjain soal apa-apa gimana, keliatan bodo banget gimana? Mana dia hidupnya kayaknya gampang banget. Tuhan, inikah cobaan.
Tiba-tiba haus, Pingin minum tapi harus buka masker dong. Kalo tar dia liat idungnya merah banget gimana. Jelek banget gini. Duh, pergi dong.
Akhirnya! Pergi juga. Maaf ya, gabisa ngajak kalian ngobrol panjang lebar. Ku janji bakal lebih rajin ngerjain soal, biar ga kelabakan lagi kalo ada temen. Nyambungnya apa dah.
Udah, lanjutin belajarnya, dasar kurang rajin!