Cokelat

Dear, diary

Lucunya, ini masih bulan Februari. Ujug-ujug saya dapat dua batang cokelat dalam sehari. Mungkin itu cara Allah memberi kejutan yang tidak disangka-sangka. Saya juga nggak habis pikir sama reman-teman saya, kok bisa-bisanya mengembalikan barang saya yang mereka pinjam di hari yang sama. Nggak bohong kalo saya bilang saya bahagia.

Di samping itu, hari juga berjalan semanis cokelat-cokelat yang mereka berikan. Kuliah selesai sebelum dhuhur, lalu sesampainya di kos saya lelap sekali sampai sorenya mati lampu. Kami belajar buat praktikum besok sampai nggak sadar pukul sebelas, atau mungkin saya aja yang nggak sadar karena nengs dah pada kuap-kuap.

Intermezzo aja, saya agak berdebar-debar gara-gara kabar kehilangan yang cukup marak akhir-akhir ini. Bahkan beberapa waktu lalu, tempat kami sempat kemalingan motor. Kok bisa? Nggak ngerti. Ditambah banyak jarkoman dompet hilang yang entah jatuh, lupa, apa gimana saya juga gajelas. Ada juga laptop yang hilang di kos salah satu teman Qisha yang cowok, kabar barusan banget, sampai charger-nya ga dibawa. Apa di tempatmu berkuliah juga sama, kawan? Kok banyak sekali kehilangan. Puncaknya, BPP eneng yang diduga ketinggalan waktu kami dinner di SS tadi juga gaada. Gangerti siapa kolu nyolong BPP yang isinya tulisan doang, untungnya apa? Ya Allah, lindungi kami.

Tinggal sedikit lagi Februarinya, lalu sudah bulan ke-tiga dari dua belas bulan tahun ini. Saya ingat, dulu saya sukanya ngasih cokelat ke orang, beli pake uang sendiri padahal uang bulanan juga ga seberapa, trus diprotes Alivia cuman lupa kenapa. Jujur, saya dah ga seberapa ahli makan cokelat dikarenakan batuk yang membandel sejak beberapa waktu terakhir. Tapi ternyata, ini bukan tentang cokelatnya kawan, tapi : perhatiannya. Cihui.

Selamat malam.

(Kamu)

Ini masih sore.
Aku ingin cepat-cepat malam.
Agar aku bisa cepat-cepat tidur.
Sehingga mungkin, dengan begitu
aku bisa lupa pernah menginginkan sesuatu yang tidak mungkin.
Seperti kamu, misalnya.

Sudah berapa kali matahari terbit,
aku masih hancur
dan semakin hancur
dan setiap aku memalingkan wajah, aku tidak ketemu
apa yang bisa membuatku pergi
darimu?

Aku setengah berharap ini catatan tentang Tuhan,
tetapi bukan.
Apa membahagiakan berarti mengorbankan perasaan?
Atau angan. Lalu, hujan.
Entah hujannya akan bertahan lama atau cuma sebentar saja malam ini, sama denganku.
Tidak tahu kapan berhenti mengharap,

dan bila kamu ternyata bukan takdirku,
izinkan aku untuk lupa saja, Tuhan.
Tolong.

Bersama Nastar

Didepak lalu saya lari ke mas in guk yang lagi menipu orang di Squad 38.

Hari pertama saya nangis-nangis bombay dan kusut masai kayak bungkus permen sugus yang ada sebagai asupan gula setiap kelopak mata kami rasanya berat. Alivia, dan terpujilah segala tugas yang menyertainya, kami saling bertukar sapa tidak jelas seperti biasa dan senda gurau. Lalu keesokan harinya saya bertekad untuk tidak mbambleh.

Bila bermimpi kami berlari di koridor, lalu ada pohon besar di lapteng. Pas sekali waktu saya lagi baper merindukan menjadi senaif anak SMA. Hal-hal yang tidak bisa dijelaskan selanjutnya adalah ketika saya percaya bahwa menanak nasi akan membuat diri saya lebih baik. "Ada apa?" kata Bila. Setelah percaya pada kata-kata Umar yang dikasih dia, saya yakin bukan kebetulan Bila ngajak bicara. Allah sedang mengatur semuanya.

Di dalam otak saya terngiang : "Kalau waktu itu Thomas Alva Edison berhenti maka hari ini tidak diterangi lampu," dan bisikan lain yaitu godaan untuk berhenti saja untuk mencari hal lain yang bisa dilakukan. Berada di titik feel so incapable of anything adalah malam yang berat, tapi kita tidak boleh membiarkan diri kita tenggelam di dalamnya, kawan. Saya tidak pandai berenang jadi saya mencolot saja.

Ada sebuah potongan kaastengels yang terjatuh di lantai lalu tidak sengaja keinjak, jadi remuk.

Remuk redamkan saja semuanya, dunia, kalau itu membuatku dekat dengan-Nya.

Sebentar ya, mas, saya tak ambis dulu.

Rabithah

Ya Allah,
sesungguhnya
Engkau Maha Mengetahui
bahwa hati-hati ini
telah terkumpul
untuk mencurahkan mahabah
hanya kepada-Mu,
bertemu
untuk taat kepada-Mu,
bersatu
dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu,
dan berjanji setia
untuk membela syari'at-Mu,
maka
kuatkan ikatan pertaliannya.

Ya Allah,
abadikanlah kasih sayangnya,
tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup,
lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman
dan keindahan tawakal kepada-Mu,
hidupkanlah dengan ma'rifah-Mu
dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Amin.

Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW,
kepada keluarganya
dan kepada semua sahabatnya.

Jack

Halo. Siapa namamu? Aku Jack. Aku suka makan pasta dan minum minuman jahe. Ayahku bekerja di ladang, ibuku tukang cuci. Kami hidup bahagia bersama dua bebek jantan dan tiga kuda di kandang.

Adikku? Satu. Jane. Dia punya masalah dengan saluran pernapasannya, jadi kami tidak pasang AC. Tidak, tidak. Dia baik-baik saja dengan bebek-bebek maupun jerami-jerami dari kandang kuda. Dia cuma terlahir kurang kuat, itu saja. Seharusnya sekarang dia sudah pulang untuk makan siang.

Oh, terima kasih atas kebaikan hatimu. Tidak, aku tidak tertarik dengan pemilihan itu. Cuma membuang-buang waktuku. Aku akan bekerja keras supaya Jane bisa sembuh, dan kami bisa makan. Well, terima kasih. Datang kembali!

Bahagia atau Tidak Bahagia


Kukira aku bahagia.

Sampai di suatu pagi, aku terbangun dari mimpi sebagai orang asing. Mari kuceritakan dulu bahwa rasanya sangat tidak menyenangkan, meski aku selalu yakin akan baik-baik saja bila takdir nggak sesuai dengan yang kuinginkan. Tapi, waktu melihatnya dalam mimpi, aku... tidak bahagia. Sewaktu terbangun aku tidak bisa serta merta bercerita karena jarak dan kesibukan.

Aku cuma, kecewa.

Kurasa itu satu alasan mengapa aku tidak benar-benar bahagia : aku mengkhawatirkan kehilangan hal yang membuatku bahagia.

Ada

Makan
Aku senang makan
Makan cokelat, makan nasi
Sayur-sayuran

Kamar
Aku suka di kamar
Setiap jam 11 ada bunyi lewat
Krincing, krincing

Lalu, ada telepon berbunyi
Aku sudah lupa
Makan ternyata seperti mengerjakan tugas
Saja

Di dunia hanya ada satu mengapa
Dan dua bagaimana
Tapi ada satu waktu lagi yang bahagia
Kamu tahu apa?

Itu kamu
Menungguku di belokan jalan raya