[1] Lipstick

Aku tidak pakai lipstick. Tidak tahu kenapa. Padahal kalau kamu sudah kuliah, itu sudah jadi suatu hal yang basic. Kayaknya setara baju, semua orang pake.

Suatu hari, kami sedang makan sebelum ujian. Karena makanku sudah selesai, dengan sukarela aku me-review-kan materi keras-keras. Tiba-tiba, ditengah penjelasanku yang amburadul, dia tanya, "Kamu pake ini?" sambil melakukan gerakan kayak memoles di bibirnya.
"Nggak, kenapa emang?" kataku.
"Enggak, cuma bagus aja gitu," katanya tanpa dosa.
Teman-teman langsung ramai. Lalu ketawa-ketawa gajelas.

Mungkin dia cuma asal njeplak, atau ngeles aja seperti yang selalu dia lakukan.
Tapi aku jadi tidak lagi merasa tidak normal karena tidak pakai pewarna bibir.

Ada Rezekinya Masing-masing

Sepulang sekolah, saya asyik ngerumpi sama teman-teman yang raganya agak jauh di sana. Besok praktikum dua, sambil buka-buka buku buat ditulisin rencana kerja. Tiba-tiba ingat, tadi pagi ada pengumuman nilai pretest suatu lab yang agak abstrak. Lalu saya curhat.

Alkisah, ada seorang anak. Dia yang dikenal sama teman-teman di sana, makanya kadang kuceritakan ke mereka. Lalu ternyata dia itu anaknya yang kayak cuma ada di buku cerita, teladan gitulah intinya. Padahal ku ya cuma bilang aja, "Kesal dengannya karena nilainya bagus, tugas ga menyonto, padahal sehari-harinya amat sibuk, organisasi jalan" dan lain sebagainya. Memang beliau tampaknya hidupnya lurus-lurus saja, belum pernah kelihatan remed (setiap ujian kan ada nilainya terpampang nyata dengan nama dan nim di sebelah kirinya), tapi juga amat berdedikasi dalam aktivitas non akademiknya, juga memenuhi hak-hak tubuhnya dalam berjumpa Tuhannya. Seseimbang itu, kok bisa.

Namun, tetiba saja, pas setelah selesai mengetik curhat yang sebenarnya nggak kesal-kesal banget, cuman nulisnya aja yang kesal, pas banget selesai baru naruh hp lagi, ada suara terjemah ala radio 93,8 syam fm suara muslim surabaya yang sengaja kudownload di laptop, memperdengarkan QS. Huud ayat 6 :







Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Lalu saya kaget.
Astaghfirullah.
Lalu saya pun bercerita pada kalian.

Menjadi Siapa-siapa

Tulisan ini saya buat karena saya gatal melihat kata-kata "orang keren" bertebaran di mana-mana sampai kehilangan maknanya.

Hai.

Apa harus jadi aktivis ini itu dulu, baru bisa dibilang keren?

Tapi, tunggu.

Kenapa harus jadi "keren"?

Sebenarnya kamu membawa misi apa, sih. Kemakmuran dirimukah, kebanggaan tujuh turunan, masa depan yang mapan, suara yang didengar, jaringan luas agar bisa dimasukkan dalam kolom SWOT di CV sebelum melamar kepanitiaan yang cuma kecil saja? Atau upgrading diri agar lebih baik di depan khalayak, lebih baiknya ini tujuannya untuk apa juga, agar bisa menginfiltrasikan pemahamanmu, membawa seru-seruan, memengaruhi sekitar? Kamu merasa mampu menjadi tonggak, pentolan dari grup kecil hingga besarmu, bertanggung jawab atas segala yang kamu pikir, katakan dan perbuat, apa yang kamu yakini. Untuk mendapat tempat di masyarakat? Yang didengar, yang dipandang, yang penting? Atau cuma sebagai ajang pembuktian bahwa kamu yang lebih dipilih dari teman-teman yang lain?

Ada seorang teman yang bilang bahwa labelling adalah kegemaran anak muda. Dulu saya khilaf melabel manusia ini dan manusia itu melalui tes kepribadian yang cuma empat, di tulis di ID card dengan kode-kode stik PS. Tujuannya agar punya gambaran secara garis besar dia seorang yang seperti apa, akan melakukan apa bila diberi 'nutrisi' sedemikian rupa. Nyatanya, meski ilmu kemanusiaan saya sangat tidak lebih banyak dari Bila, saya rasa manusia tidak sesederhana itu untuk disederhanakan. 

Lalu kali ini saya berhadapan dengan label "orang keren".

Apakah kita saat ini sedang berlomba-lomba jadi orang keren, agar kemudian... apa?

Mau keren biar apa?

keren/ke·ren/ /kerén/ a 1 tampak gagah dan tangkas; 2 galak; garang; lekas marah; 3 lekas berlari cepat (tentang kuda); 4 perlente (berpakaian bagus, berdandan rapi, dan sebagainya) (kbbi.web.id)

Seorang teman yang lain tiba-tiba bertanya mengenai keinginannya mendaftar calon koordinator sebuah organisasi. Kebanyakan teman, kalau ditanya kenapa daftar, bilangnya hanya ingin saja. Saya pernah berawal dari hanya ingin saja, kemudian mengada-adakan alasan yang menguatkan kenapa saya ingin. Lalu saya jadi bingung, sebenarnya diawali keinginan dulu atau alasan-alasan dulu? Kalau ingin saja, kembali ke paragraf panjang pertama. Apa yang diusung, apa yang dibawa?

Saya nggak satu dua kali ditanya, meski sambil lalu saja sih, seperti "Kalau aku remed jangan kucilkan aku, ya" "Kalau aku nggak jadi apa-apa kamu masih mau jadi temanku, kan". Apakah dengan--yang orang bilang--tidak menjadi "siapa-siapa" berarti tidak boleh punya teman? Kenapa harus menjadi apa dulu baru bisa cari teman?

Menjadi manusia bermanfaat tentu merupakan tujuan yang mulia. Tetapi menurut saya, jabatan bukan sebuah jaminan untukmu menjadi bermanfaat. Lebih-lebih, label "orang keren" yang menyertainya cenderung sebagai pencapaian semu dari masyarakat yang begitu subjektif. Seperti yang dulu pernah dibicarakan Bila (agaknya Bila sering mengisi pemikiran-pemikiran saya), tentang menjadi seseorang yang berada di bawah lampu sorot dan orang lain yang bertepuk tangan di sekitarnya. Sungguh lapang hati stroma sebagai jaringan penyokong yang menyokong unit fungsional terkecil dalam tubuhmu. Bagaimana jika nggak ada?

Lebih gampang lagi, ketika kamu memberi pujian pada seseorang, "Bagus!" sambil mengacungkan jempol. Apa yang terlihat? Jempol. Apa yang tidak terlihat? Tulang yang menyusun jempolmu. Bila nggak ada tulang di dalamnya, bisakah kamu menunjukkan jempolmu sebagai penghargaan pada orang lain? Jempolmu mungkin hanya terkulai dan squishy. Apa sepenting itu untuk terlihat?

Selama ini, keren seringkali kita maknai sebagai hal-hal terlihat. Mungkin karena kita bingung bagaimana menilainya kalau tidak terlihat. Maka, orang-orang berkompetisi untuk menjadi orang-orang terlihat, menjadi siapa-siapa, menjadi keren. Dan menjadi takut untuk tidak menjadi kesemuanya.

Saya bukan yang paling sempurna untuk bilang bahwa apa yang kamu katakan adalah salah. Saya tidak membatasi kamu mengartikan satu kata yang sering kamu dengar itu : keren. Kalaupun keren versimu artinya yang bisa segalanya--meraup posisi ini itu dan keseimbangan yang menyertainya--oke, tapi saya absen. Tidak semua orang bisa demikian dan kamu nggak perlu selalu menjadi apa yang orang lain capai. Kalau bisa, sekalian pelajari kosakata lain selain keren. Saran dari teman, mungkin lebih baik menjabarkan kerennya itu seperti apa sih, daripada cuma bilang keren saja.

Dan tolong, adik-adikku jangan didoktrin kalau label "keren"-mu adalah penghormatan tertinggi sebagai manusia di muka bumi. Biar mereka berkarya sendiri tanpa batasan yang kamu cekoki.

Berkeluh Kesah

Kemarin kapan itu, aku membatin. Karena salah satu temanku disuntik lalu menangis. Beberapa hari kemudian, waktu mau diambil darahnya buat praktikum lab pk, ternyata aku ragu juga. Aku bakal menangis tidak, ya?

Boro-boro disuntik. Ternyata, cuma panas saja sudah menangis. Kalau pas itu ada salah satu temanku yang upload foto bersama pacarnya dengan caption "Kamu adalah yang menyebabkan aku takikardi", kukasih tahu ya, takikardi itu rasanya nggak enak. Lebih tidak enak lagi kalau kamu tidak tahu sebabnya.

Ada sedih-sedihnya kalau sakit jauh dari orang tua. Gimana cara bilangnya? Malah gopoh seisi sancaka dimintain tiket go show pagi-pagi sama mama. Sepertinya ada suatu sawar darah otak yang menyawari segala macam komponen darah, jadi seperti muncul purpura di mana-mana sehabis ruku', padahal nggak. Iya, dunia berputar, tapi dunia lebih berputar sampai nggak bisa didefinisikan. Selebihnya cuma khawatir kalo nggak bisa pulang, banyak khawatirnya kayaknya, jadi nangis.

Ini kujabarkan siapa tahu kalau tiba-tiba kalian nemu anak tergeletak di jalan lalu kalian-kalian bingung "ni anak kenapa kayaknya kemarin masi ketawa-ketawa aja."

Kalau sakit, gimana cara menunjukkannya, ya? Kalau nggak ditunjukkan, kalian paham, nggak?

Kenapa juga kalian harus paham.

Sebenarnya ku sudah menulis banyak, tapi disimpan di draft. Ingatkan aku untuk mencuci kendaraan, ya. Terima kasih kawan-kawan atas do'a dan perhatiannya, membuatkan teh dan membelikan aqua di warung jual pulsa karena aqua kos terdzolimi kita-kita yang tak rutin membayar uang bulanan (hiks). Terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku yang seharusnya ku sebagai anak indonesia yang kuwat tida boleh berkeluh kesah namun ku hanya mencari perhatian (anaknya sepenuhnya sadar diri). Semoga Allah selalu melindungi di manapun kalian berada.

SBMPTN

"Apa aku coba lagi aja ya, Bil?"

Beberapa waktu lalu, saya juga mengalami percakapan serupa dengan Timothy. Untungnya Allah segera mengirim sinyal positif tentang keberadaan saya di sini. Dulu juga begitu, waktu tanya pada Bila. Tuhanku memang tidak menyampaikan dengan tulisan melayang-layang yang tiba-tiba muncul di udara, maupun segala jenis mejik yang nggak disangka-sangka. Dia cuma menyampaikannya dari Bila, sampai Bila bilang "Aku lho ingat fa waktu dulu pengumuman kamu hilang sampe lama tak pikir kenapa-kenapa ternyata ngekhatamin."

Waktu masuk 25% siswa paling "beruntung" se-Smala, saya sempat down sedikit di pendopo waktu itu. Sedikit aja, sih. Ya, rasanya cuman kayak orang ditolak aja mungkin. Waktu sampe mobil dan bilang ke mama apalagi. Rasanya kayak diiris-iris karena gagal jadi anak yang membanggakan. Ditambah lagi dulu izinnya ikut tetek bengek segala macem karena "Memperbesar kesempatan dapet jalur undangan, ma," ya tentu saja setelah pengumuman yang 25% itu beliau langsung menasihati panjang lebar mengenai "Sekarang kalau sudah demikian di mana itu sekolahmu yang sudah mbok belani pagi dan malam," ya intinya gitu lah. Sebenernya kalau kulihat lagi sekarang, itu bukan salah sekolahnya kok atau mama atau siapapun juga, tapi tak lain tak bukan adalah salah saya menjadi orang sok sibuk yang nggak tauladan banget oleh karena mengesampingkan kewajiban menjadi pelajar apalagi jadi anak (kemudian dilempar sendal karena sindrom hipercinta almamater) (tapi bener).

Tapi terus habis gitu udah lupa gimana ceritanya kok bisa bangkit kembali. Eh, nggak usah ditanya, sih, sudah pasti karena hidayah dari-Nya.

Kalo teman-teman tahu, saya setuju dengan pendapat bahwa SBMPTN adalah sebuah simulasi ujian hidup (apa kamu bilang? simulasi??) dan titik balik yang paling luar biasa terjadi dalam kehidupan saya selama beberapa belas tahun di dunia 2016 lalu. Setelah menjalani ujian di institut dekat rumah (hujan besar, banjir sampai jalan yang lagi di bangun di depan asrama itu nggak kelihatan bentuk rupanya), kesalahan saya nggak mengecek ruangan sehari sebelumnya jadi waktu pagi hari dateng sama mama, ruangannya nggak nemu. Ternyata salah baca angka di kartu peserta. Sebelum masuk saya dikasih mama Fisherman's friend apa pas itu saya lagi batuk, ya? Terus sudah, masuk ruangan saya duduk paling depan. Padahal selama masa kehidupan di SMA bangku paling depan adalah bangku paling saya hindari karena nggak enak aja kan saya gede nanti yang lain nggak kelihatan (padahal pendek, alesan aja). Di dalam saya.............ya ngerjakan sih ngerjakan, banyak sholawatannya. Soalnya kalo kita bersholawat, Rasulullah menjawab. Romantis nggak tuh. Kemudian terdapat tanda-tanda distress di mana saya berkali-kali tarik napas panjang, tapi berkali-kali juga mengingat bahwa saya nggak boleh panik. Bahasa dan TPA jadi sebuah hiburan tersendiri bagi saya karena ilmu pastinya saya los. Ada satu soal matematika yang saya rasa cuman itu yang saya bisa jawabnya, cuman karena waktunya udah mepet (yang lain seenggaknya udah ada yang keisi lah, tinggal mat doang) akhirnya saya bunderin dulu di lembar jawaban perkiraannya trus saya itung ulang. Pas itungan saya selesai, ketemu jawabannya, kayak bener-bener ketemu banget gitu, lembar jawaban saya udah diambil pengawas ujian hehe. Kayaknya saya kecewanya di situ.

Selesai, saya keluar ruang ujian. Karena macet parah, perjalanan mama dari rumah yang deket doang itu jadi lama dan saya nunggu di gedung elektro, di depan ruang ujian yang ada duduk-dudukannya, sampe gaada orang sama sekali. Saya baca-baca chat grup yang isinya masya Allah, doa dan semangat dari temen-temen yang udah keterima lebih dulu, terus ada chat juga dari Mas Faw. Intinya kayak nanyain gimana, terus yang paling ngena beliau bilang "Nggakpapa, tinggal berdoa aja. Dulu aku juga merasakan keajaiban kok waktu sbm" kayak gitu kalo ga salah. So much hopes he gave me that day. Kurasa ku mau nangis di situ tapi ditahan.

Mama datang bawa McD, tau banget anaknya hipoglikemi terkuras soal yang bikin shock setengah mati.

Dan salah satu hal yang saya syukuri menjadi angkatan 2016 (padahal sekarang banyak yang protes lahiran 97 kok masuknya angkatan 16) adalah : waktu itu Ramadhan. Waktu saya nggak punya hal lain selain harapan.

Mungkin waktu itu juga Allah dengan segera mengabulkan doa mama karena mama nggak tega mendengar saya bilang, "Yaudah kalo nggak lulus sekarang kan bisa nyoba taun depan," beliau memang orangnya nggak tegaan bahkan sampai kemarin saya ada yang remed juga beliau yang malah gopoh. Ngomong-ngomong soal remed, sebenernya saya nggak anti-anti amat karena sesungguhnya itu sebuah anugerah dan peringatan bahwa artinya saya harus belajar lebih banyak. Mending belajar sekarang daripada nanti nggak bisa waktu beneran praktik, gitu saya mikirnya. Yaudalaya balik ke masa-masa itu, singkat cerita, saya yang kepalanya sangat batu dan mood-nya sangat swing sudah nggak berkutik lagi, kemudian menjalani hidup dengan prihatin hingga Allah meridhoi saya khatam sebelum pengumuman dan menjalani ramadhan yang super berkualitas tahun lalu.

Doa saya adalah untuk ditempatkan di tempat yang menurut Allah paling baik bagi saya, meski saya berdoanya kayaknya menjurus ke satu pilihan program studi saja (dah lupa juga sih intinya berdoa aja). Itulah kenapa kalo ada yang tanya "Kamu dulu sbm jawab berapa per mapel?" saya nggak ngerti kawan, saya nggak tau. Bagi saya itu semua mukjizat Allah hingga saya bisa berada di sini saat ini. Itu bukan bagian dari kuasa saya. Kalo kata mama, apa susahnya Allah mengubah a menjadi b, b menjadi c. Maka saya nggak membahas kembali soal sbm setelahnya. Mungkin saya cuma takut bahwa kalau saya tahu, keajaibannya nggak tahu mau masuk dari mana. Jadi saya cuma meninggalkannya demikian.

Rasanya kemarin-kemarin saya cuma lupa aja kalau masuk ke sini bukan perjuangan yang gampang. Entah orang hendak berpandangan bagaimana, Tuhanku tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, dan menganugerahkan lingkungan seindah ini pasti ada maksudnya. Bila kemarin dulu saya masih perlu adaptasi yang Solo begini lah Solo begitu, saya rasa Solo nggak seburuk itu : saya dapat udara dingin dan teman-teman hebat yang senantiasa menjaga saya di lingkaran kebaikan ;b (ini beneran emot melet).

Saya nggak pernah bosan bercerita tentang pengalaman ini. Maaf ya yang udah dengar berkali-kali (atau saya udah pernah nulis di mana, saya lupa). Bukan berarti pengalaman saya yang paling benar, paling tragis, paling motivasional sampe pantas dipaparkan GO di M3 lho. Bukan berarti yang nggak menjalani sbmptn maupun yang jalannya bukan di sbm adalah golongan lain-lain (piye san piye). Setiap orang punya ceritanya masing-masing yang nggak kalah seru dan sarat makna. Yang pasti, ada campur tangan Tuhan di dalamnya.

Jadi, Bil, coba lagi? Kayaknya nggak di kehidupan saat ini.

The Dancing Blood

Helo.

Saya merasa egois karena melihat permasalahan dari satu sudut pandang saja, seperti bahwa cuma saya yang benar. Cuma karena saya tidak mau dengar lagi tentang keresahan, dan saya rasa semua orang harus jadi tidak resah dengan jalan yang saya lalui, mungkin demikian.

Setelah itu, saya tidak menyesal untuk meninggalkan dia pada tangan Yang Maha Kuasa, karena tangan saya terlalu kecil dan terbatas untuk dapat melindunginya dari apa yang akan melukainya.

Bicara tentang terlalu banyak bicara, saya bukannya mau ngomong apa, cuman saya rasa sedikit bicara dengan orang yang mengerti adalah keajaiban, dan sedikit bicara dengan orang yang tidak mengerti adalah ujian. Pemakaian kata sedikitnya saja sudah beda. Bisakah orang merubah siapa yang akan mengerti dia dan yang tidak?

Bumi berputar, tapi tidak dengan isi kepalamu. Alhamdulillah Tuhan masih memberi saya kesempatan mempelajari apa yang menurut saya sangat indah, dan semoga Tuhan selalu memberimu petunjuk. Ini bukan tentang di mana kamu ditempatkan, dengan siapa kamu dididik, prestige. Cuma tentang pertanyaan yang ingin kamu ajukan : yang membuatmu melonjak sampai seluruh unit darah dalam tubuhmu ikut berbahagia.