Posts

Showing posts from May, 2017

[Day 5] Ada Semangat yang Terselip di Celah Pintu

Setelah sholat subuh aku mengaji, lalu tidur lagi karena ternyata remednya jam 1 siang. Belum apa-apa sudah buruk mimpinya--aku berjalan-jalan di kompleks perumahanku di Surabaya dan nggak ada satupun kehidupan, kayak udah ditinggalkan. Waktu cahaya matahari mengintip dari balik gordyn, aku nggak punya pilihan selain bangun dan melanjutkan belajar. Ternyata, ada semangat yang terselip di celah pintu kamarku. Pasti dari Kagary. Mau kusnapgram tapi nggak jadi, cukup senangnya di dalam hati.
Kemarin malam juga Gita memberi semangat. Nggak tahunya, pagi tadi dia mengirimkan lagu yang suka kunyanyikan karena belajar parasit : cacing-cacing di perut, curi semua nutrisi. Versi Gita lebih syahdu, dengan tambahan "tapi tak perlu takut, ada Allah" di akhir bait. Dasar, fetus polos tak berdosa.
Ada kalanya dunia begitu dingin sampai-sampai kamu merasa tidak ada lagi harapan. Padahal, selalu ada bahagia di titik-titik yang tersebar di muka bumi. Aku merasa lebih hangat meski masih jauh…

[Day 4] Dituntut Macam-macam Padahal Bukan Tuhan

Sebenarnya, aku merasa tidak enak pada dosa-dosa masa lalu. Sebagai seorang mantan manusia yang suka mencolot ke sana ke mari, mungkin orang mengiranya eman-eman kalau tidak dilanjutkan. Terus ilmumu itu dibuat apa kalau nggak kamu gunakan? Tapi, bahkan aku sangsi sekali kalau kalimat-kalimat persuasif itu ada benarnya atau cuma iming-iming belaka, karena jalan itu kan memang tidak bisa dilalui sendirian.
Aku sadar bahwa ada kebijaksanaan berpikir, pengalaman, dan pola pikir baru yang hanya bisa didapat ketika kita meluangkan waktu untuk berinteraksi. Namun, selalu ada dilema di tengahnya, antara ingin terjun tapi terlalu bodoh untuk bisa mengatur waktu dengan baik. Ingin bergerak tapi tertahan. Bukan, aku tidak dikekang. Sadar diriku yang mengekang.
Sudahlah, Sanifa. Kamu selalu kepikiran dan tidak bisa bilang tidak. Kemudian, mengada-adakan alasan setelahnya. Memperbarui niat, atau menggantinya mentah-mentah?
Aku sangat lelah sampai kasihan teman-teman yang memakan terang bulan di …

[Day 3] Percaya Bahwa Cahaya Masih Ada

Aku mengawali hari dengan menghibur diri bahwa malam ini, semua bakal berlalu.
Ada tiga acara yang jamnya tabrakan menjelang maghrib, dengan tiga tempat dan tiga kepentingan berbeda. Nggak perlu ditanya, kesemuanya minta diprioritaskan. Sebenernya mudah saja kalau aku menjadi masa bodoh dan pura-pura ketiduran, tapi aku nggak pernah kebayang untuk menjadi demikian. Alhasil, jadwal yang kugeser-geser sejak kemarin baru fix jam tiga sore, beberapa menit sebelum acara pertama.
Tapi, kemudian hujan. Alhasil, aku cuma bisa memenuhi dua kewajiban, satu setengah lebih tepatnya. Lalu, kaki udah kesel banget sampe kos, sehingga perut yang lapar nggak jadi terisi karena setelah menanak nasi aku nggak sanggup turun lagi buat goreng lauk. Sekarang, terdampar tanpa tenaga karena terkuras mikir konsumsi yang nggak jelas jluntrungannya.
Mengurus hal-hal ini dan itu memang cukup makan ati. Ketika chatmu di grup nggak direken atau dijawab tapi kayak "Yaampun kamu bodoh banget gitu aja nggak bisa…

[Day 2] Niat itu Bisa-bisa Aja Diperbarui

Nggak beda jauh dengan hari kemarin, alhamdulillah ku masih bisa menjadi manusia bermanfaat meski masih berkutat di sekitar kos dan barang-barang di dalamnya. Karena udah diwanti-wanti mas Aufa di akhir wawancara dulu buat menjadi tepat waktu di setiap keadaan, 10.59 aku udah nyampe di depan kos mbak Salsa di sebelah Pena. Kita emang janjian jam 11 buat bantu-bantu beliau pindahan. Alhamdulillah tadi setengah satu kelar.
Gara-gara dulu suka nonton Naruto, aku selalu bisa membayangkan chakraku terkonsentrasi di kedua tangan dan kaki waktu mengangkat barang-barang pindahan yang lumayan mantep. Mamaku bisa angkat-angkat galon, literally diangkat dan dibawa ke kosan dari toko sebelah, sendirian. Mungkin kemudian menjadi genetically inherited dan jadilah anaknya hobi buang-buang tenaga mengangkut barang-barang ke sana ke mari.
Mungkin ini salah satu cara Allah memberikanku jalan untuk sedekah, sedekah tenaga.
Kemarin aku bilang mau cerita tentang niat. Melalui pertanyaan-pertanyaan kecil …

[Day 1] Nilai itu Satu-satu Ditaneminnya Jangan Langsung Banyak

Aku tidak mau ini panjang-panjang jadi walaupun ada banyak yang mau kuceritakan, tentang jodoh misalnya, langsung kupersingkat aja.
Meski agak malas, aku membersihkan kamar juga akhirnya. Motivasinya tentu bukan karena katanya kamar anak cewek nggak boleh berantakan. Nonsense. Kita punya waktu yang sama-sama hectic terhitung sejak responsi parasit minggu lalu, lelaki maupun perempuan. Dan sebagai anak manusia yang masih banyak malasnya, alasan "kan kamu cewek" bukan suatu hal yang kuat untukku menggerakkan kaki membereskan baju-baju yang harus dilaundry. Jadi, ya, sebenarnya membereskan itu karena ada waktu dan tenaga yang tersisa. Dan penting untuk kesehatan. Jangan protes ae lah.
Lagipula, ini awal bulan mulia. Jadi rasanya indah kalau menghadapi semua dengan kebersihan yang merupakan sebagian dari iman. Masya Allah ukh, alhamdulillah dipertemukan lagi.
Kemudian, aku pun melipati baju-baju untuk dibawa ke laundry, membereskan buku-buku dari meja belajar ke lemari, melepas…

When you love someone but it goes to waste

Bodoh rasanya ketika terbangun dan memaksa kembali tidur, hanya karena tahu bahwa kebersamaan itu hanya bisa terwujud dalam mimpi.
Adalah bijaksana untuk menahan diri dari berkata "Apa ku bilang!" Tapi, bukankah menuruti perintah adalah salah satu hal yang patut dihindari? Sepertinya bukan tentang apa, tapi tentang apresiasi. Terima kasih sudah menunjukkannya, di awal saja, lalu pergi.
Memutar kedua bola mata karena muak pada percakapan komersil. Tidakkah kami terlihat seperti televisi? Terima kasih, menjadi tahu. Menambah inspirasi. Meski tak pernah absen untuk melewatkan saja, sambil lalu. Tak pernah peduli.
Dan bila akhirnya kata-kata itu kembali, hanya kata-kata saja tanpa arti. Tersentuh karena kebaikan hati, kesungguhan dalam setiap manis yang diberi. Tapi, ya, kosong saja, seperti keripik kentang. Benar-benar tahu bahwa ada jurang meski jarak sedekat nadi.
Tentu saja percaya, bahwa tidak ada manusia sempurna. Kita semua sudah lelah dengan segalanya, perlukah menggemb…

[2] Buku Laporan

Selesai responsi, kami harus ambil kartu dan buku laporan di meja depan sendiri. Karena malas kemriyek, aku cuma duduk saja dulu, toh juga nggak keburu-buru. Tau-tau, RK alias ruang kuliah udah sepi aja. Terus tiba-tiba dia dateng ke mejaku, sudah bawa kartu dan bukuku, "Nih," katanya, malu-malu. "Makasiyak!" sambutku, gatau malu.

Itu dulu, waktu blok yang lalu. Karena udah nggak tau mau ngapain kalo duduk, hari ini aku cuma nunggu kemriyek-nya reda. Pas udah agak kosong, ku maju. Di depan, kartu praktikum ke-dua yang ku cek adalah punyaku. Kemudian tinggal buku. Lah, kok nggak ada?

Ternyata ada dia, pas di seberang meja. Clingak-clinguk kayak anak ilang. Bawa dua buku laporan dan satu kartu praktikum. sambil sesekali ngeliatin bangku deretan belakang. Karena ge-er, kutunjukin kartu praktikumku, biar dia sadar, "Nyari ini, yak?"
Et dah cuma dilirik aja kartunya! Betapa malunya diri ini karena cegek. Lalu, dia pergi. Aku pun melanjutkan mencari, ini buku …