[Day 5] Ada Semangat yang Terselip di Celah Pintu

Setelah sholat subuh aku mengaji, lalu tidur lagi karena ternyata remednya jam 1 siang. Belum apa-apa sudah buruk mimpinya--aku berjalan-jalan di kompleks perumahanku di Surabaya dan nggak ada satupun kehidupan, kayak udah ditinggalkan. Waktu cahaya matahari mengintip dari balik gordyn, aku nggak punya pilihan selain bangun dan melanjutkan belajar. Ternyata, ada semangat yang terselip di celah pintu kamarku. Pasti dari Kagary. Mau kusnapgram tapi nggak jadi, cukup senangnya di dalam hati.

Kemarin malam juga Gita memberi semangat. Nggak tahunya, pagi tadi dia mengirimkan lagu yang suka kunyanyikan karena belajar parasit : cacing-cacing di perut, curi semua nutrisi. Versi Gita lebih syahdu, dengan tambahan "tapi tak perlu takut, ada Allah" di akhir bait. Dasar, fetus polos tak berdosa.

Ada kalanya dunia begitu dingin sampai-sampai kamu merasa tidak ada lagi harapan. Padahal, selalu ada bahagia di titik-titik yang tersebar di muka bumi. Aku merasa lebih hangat meski masih jauh dari masakan mama di kala sahur dan berbuka. Karena pada akhirnya nanti toh kita juga akan sendirian saja. Dalam suatu tindakan penanganan ada yang namanya memperbaiki kualitas hidup. Alhamdulillah Allah menitipkanku pada kehangatan yang indah.

[Day 4] Dituntut Macam-macam Padahal Bukan Tuhan

Sebenarnya, aku merasa tidak enak pada dosa-dosa masa lalu. Sebagai seorang mantan manusia yang suka mencolot ke sana ke mari, mungkin orang mengiranya eman-eman kalau tidak dilanjutkan. Terus ilmumu itu dibuat apa kalau nggak kamu gunakan? Tapi, bahkan aku sangsi sekali kalau kalimat-kalimat persuasif itu ada benarnya atau cuma iming-iming belaka, karena jalan itu kan memang tidak bisa dilalui sendirian.

Aku sadar bahwa ada kebijaksanaan berpikir, pengalaman, dan pola pikir baru yang hanya bisa didapat ketika kita meluangkan waktu untuk berinteraksi. Namun, selalu ada dilema di tengahnya, antara ingin terjun tapi terlalu bodoh untuk bisa mengatur waktu dengan baik. Ingin bergerak tapi tertahan. Bukan, aku tidak dikekang. Sadar diriku yang mengekang.

Sudahlah, Sanifa. Kamu selalu kepikiran dan tidak bisa bilang tidak. Kemudian, mengada-adakan alasan setelahnya. Memperbarui niat, atau menggantinya mentah-mentah?

Aku sangat lelah sampai kasihan teman-teman yang memakan terang bulan di kamar tadi kukacangin. Besok remidi dan malas sekali mendengar kalimat "Kok kamu bisa remidi?" dipikir Tuhan Yang Mahasempurna kaliya.

Siklus itu balik lagi, keadaan di mana ada terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab. Seperti konfirmasi kehadiran, misalnya. Mungkin sekarang di Taman Budaya sudah ada situs baru, namanya Budaya Konfirmasi. Sebagai manusia yang berjalan di muka bumi, kamu dituntut bisa segalanya.

Aku tidak suka kalau teman-teman minta minum dan dicucup langsung dari botol minumku. Menitipkan barang-barang dan membuat reget di lantai kamar kosku juga suatu hal yang membuatku tidak nyaman. Entah apa yang akan mereka pikirkan nanti bila tiba-tiba membaca ini, tapi aku cuma nggak bisa bilang. Dan iya-iya saja karena aku malas dengan orang yang banyak permintaan, dan tidak mau menjadi salah satu di antaranya. Biar kuceritakan pada kalian saja agar tidak jadi kanker.

Entah mulai kapan kawan-kawanku jadi suka menulis di laman pribadi, yang jelas aku terlampau senang dan suka senyum-senyum sendiri membaca tulisan mereka yang bermacam-macam. Mengingatkanku pada sekilas kehidupan yang menyenangkan. 

Aku masih berpikiran bahwa apa yang kalian lakukan itu jahat. Bagaimana jika aku sampai berpikir bahwa mungkin ini jalan Tuhan yang dibisikkan padaku, lalu kembali terengah-engah mengejar impian yang setengah-setengah, tidak berhasil menyekolahkan si anak di Jakarta atau Jepang, menjadi bukan siapa-siapa dan semakin bukan apa-apa karena kamu menggunakan bahuku sebagai pijakan hingga tidak ada yang terlihat selain ujung-ujung kepala?

Aku tidak masalah menjadi tidak keren, sudah pernah aku bilang. Kalau kamu paksa begitu, kebebasan berpikir cuma mitos.

Cacing menyukaiku dan aku perlu membalas rasa cintanya, nasihat Gita. Aku rindu Ramadhan tahun lalu saat waktuku habis kugunakan siang malam kembali pada-Nya.

[Day 3] Percaya Bahwa Cahaya Masih Ada

Aku mengawali hari dengan menghibur diri bahwa malam ini, semua bakal berlalu.

Ada tiga acara yang jamnya tabrakan menjelang maghrib, dengan tiga tempat dan tiga kepentingan berbeda. Nggak perlu ditanya, kesemuanya minta diprioritaskan. Sebenernya mudah saja kalau aku menjadi masa bodoh dan pura-pura ketiduran, tapi aku nggak pernah kebayang untuk menjadi demikian. Alhasil, jadwal yang kugeser-geser sejak kemarin baru fix jam tiga sore, beberapa menit sebelum acara pertama.

Tapi, kemudian hujan. Alhasil, aku cuma bisa memenuhi dua kewajiban, satu setengah lebih tepatnya. Lalu, kaki udah kesel banget sampe kos, sehingga perut yang lapar nggak jadi terisi karena setelah menanak nasi aku nggak sanggup turun lagi buat goreng lauk. Sekarang, terdampar tanpa tenaga karena terkuras mikir konsumsi yang nggak jelas jluntrungannya.

Mengurus hal-hal ini dan itu memang cukup makan ati. Ketika chatmu di grup nggak direken atau dijawab tapi kayak "Yaampun kamu bodoh banget gitu aja nggak bisa". Bisa saja aku cuma jadi silent reader, nggak mau ikutan ngurusin A atau B dengan alasan "Saya punya masa depan yang dipertaruhkan di ujian blok minggu depan, dan nggak punya waktu untuk membantumu mengurus kegiatanmu yang nggak jelas itu." Tapi, bukan di situ masalahnya. Yang bikin jadi berat adalah karena nggak semua hati ridho atas penculikan waktunya sehingga yang bersedia berkorban sebenarnya cuma jadi tumbal. Iya, bukan main kesalnya.

Uang, uang, uang. Untuk mewujudkan ide-ide gila kalian butuh uang. Makanya, nggak sekali dua kali ruang kuliah jadi ladang danusan, grup-grup besar jadi papan iklan. Dan PJ-PJ keuangan pun pusing besok mau jual apalagi. Kalau bisa jual ginjal kayaknya udah habis ginjal mahasiswa FK. Sebenarnya, uang-uang itu ya cuma berputar-putar aja. Tapi, buat nalangi seuplik DP 50% saja, mahasiswa rantau ngekos yang goreng nugget sehari ae diitungin biar ngirit, duit darimana?

Aku udah kepingin nangis karena ngebayangin gimana mama nggak bisa tidur mikir UKT anaknya. Gimana orang dewasa bisa bernapas dengan semua tanggung jawab yang nyata di hadapan mereka? Aku ingin cepat-cepat dewasa, tapi sekarang nggak.

Allah Maha Kaya.

[Day 2] Niat itu Bisa-bisa Aja Diperbarui

Nggak beda jauh dengan hari kemarin, alhamdulillah ku masih bisa menjadi manusia bermanfaat meski masih berkutat di sekitar kos dan barang-barang di dalamnya. Karena udah diwanti-wanti mas Aufa di akhir wawancara dulu buat menjadi tepat waktu di setiap keadaan, 10.59 aku udah nyampe di depan kos mbak Salsa di sebelah Pena. Kita emang janjian jam 11 buat bantu-bantu beliau pindahan. Alhamdulillah tadi setengah satu kelar.

Gara-gara dulu suka nonton Naruto, aku selalu bisa membayangkan chakraku terkonsentrasi di kedua tangan dan kaki waktu mengangkat barang-barang pindahan yang lumayan mantep. Mamaku bisa angkat-angkat galon, literally diangkat dan dibawa ke kosan dari toko sebelah, sendirian. Mungkin kemudian menjadi genetically inherited dan jadilah anaknya hobi buang-buang tenaga mengangkut barang-barang ke sana ke mari.

Mungkin ini salah satu cara Allah memberikanku jalan untuk sedekah, sedekah tenaga.

Kemarin aku bilang mau cerita tentang niat. Melalui pertanyaan-pertanyaan kecil dari mas ketua HMPD gen 2 waktu famgath lkmm kemarin, aku sadar bahwa aku udah lupa kenapa dulu daftar kepanitiaan itu. Tapi ternyata, aku nggak perlu khawatir karena niat itu boleh aja kita perbarui. Bisa dalam bentuk niat yang baru yang memang baru kepikiran di tengah? Bisa, mungkin. Aku rasa bisa.

Barusan dapat kabar bahwa salah satu teman dan kakak tingkatku jadi imam sholat qiyamul lail di salah satu masjid di daerah Palur, setengah juz. Di posternya tercantum nama dan gelarnya, "Mahasiswa Penghafal Al-Qur'an Fakultas Kedokteran UNS 2016". Masya Allah, indah nian. Gimana nggak iri?

Aku selalu merasa bahwa Allah yang memilih sendiri siapa yang berhak menghafal firman-Nya yang suci. Seperti menanti jodoh, kata kuncinya membenahi bukan mencari. Semakin nggenah, semakin Allah ridho. Kata ustad Hanan Attaki, kita serahkan sama Allah, Allah yang kasih. Bahkan kita udah tau bahwa rencana-Nya yang terbaik, jadi kenapa harus 'ngetag' yang belum tentu terbaik? Aih, tsadest. Malah ngomongin jodoh.

Dulu cita-citaku adalah menjadi manusia bermanfaat. Lulus SD, berubah jadi suatu profesi, karena SMP-ku SMP negeri dan masih malu kalau beda sendiri. Mau jadi normal dan tidak mencolok. SMA, si organisatoris muluk-muluk kepingin jadi dokter cuman ditahan-tahan karena belajar aja keteteran. Kukira masuk di pilihan kedua tidak selamanya karena kamu tidak sebaik itu untuk pilihan pertama, tapi karena ini lingkungan yang mau Allah kasih ke kamu. Ge-er dikit nggakpapa ya.

Sekarang, cita-citaku kembali jadi orang bermanfaat. Insya Allah, kalau Allah mengizinkan. Sambil menghafal al-quran ya, bismillah. Semangat kawan semoga amanah.

[Day 1] Nilai itu Satu-satu Ditaneminnya Jangan Langsung Banyak

Aku tidak mau ini panjang-panjang jadi walaupun ada banyak yang mau kuceritakan, tentang jodoh misalnya, langsung kupersingkat aja.

Meski agak malas, aku membersihkan kamar juga akhirnya. Motivasinya tentu bukan karena katanya kamar anak cewek nggak boleh berantakan. Nonsense. Kita punya waktu yang sama-sama hectic terhitung sejak responsi parasit minggu lalu, lelaki maupun perempuan. Dan sebagai anak manusia yang masih banyak malasnya, alasan "kan kamu cewek" bukan suatu hal yang kuat untukku menggerakkan kaki membereskan baju-baju yang harus dilaundry. Jadi, ya, sebenarnya membereskan itu karena ada waktu dan tenaga yang tersisa. Dan penting untuk kesehatan. Jangan protes ae lah.

Lagipula, ini awal bulan mulia. Jadi rasanya indah kalau menghadapi semua dengan kebersihan yang merupakan sebagian dari iman. Masya Allah ukh, alhamdulillah dipertemukan lagi.

Kemudian, aku pun melipati baju-baju untuk dibawa ke laundry, membereskan buku-buku dari meja belajar ke lemari, melepas hiasan balon emas sejak ulang tahunku yang lalu, mengerik selotip bekas tempelan penghuni yang dulu, lalu menyapu, mengepel hingga tiga kali karena Allah suka angka ganjil. Setelah membersihkan kamar, rasanya cantik. Namun, kecantikan itu, sebagaimana semua kecantikan di dunia ini, tidak berhasil bertahan bahkan sekejap saja.

Bagi kamu yang tidak tinggal sendiri, bersama teman, saudara, atau mungkin tetangga kos dengan intensitas kekeluargaan yang sangat tinggi misalnya, ku harap kamu bisa bersabar dalam menghadapi segala jerih payahmu membersihkan lantai sampai kinclong yang cuma bertahan hitungan menit lalu ketumpahan sesuatu yang mereka bawa.

Aku sudah mulai terbiasa dengan kasur yang baru dikebuti (tau nggak? ditebahi, apasih, dipukul-pukul pokoknya supaya hilang debunya) lalu diduduki teman-teman yang belum ganti baju dari habis berjalan-jalan. Kami baru selesai berbuka di kamarku dan semut-semut yang sudah kuusir kembali datang dengan manja, meja yang sudah kulap dengan sepenuh jiwa ketumpahan minyak goreng bekas sosis, remah-remah keju dan colekan margarin di salah satu ubin, dan beragam praktik ketidakhigienisan lain yang kutahu bila mbakku ada maka beliau akan uring-uringan. Sebenarnya, kalau kotor laginya karena kegiatanku sendiri rasanya lebih tidak papa. Cuman, masih susah rasanya untuk ridho pada kontribusi teman-teman. 

Lalu aku ingat mama, yang membersihkan rumah setiap hari padahal tahu pasti keesokan harinya jadi berantakan lagi karena anaknya.

Ah, aku malu belum bisa seperti mama. Kalau kotor kan tinggal dibersihkan lagi. Semangat.

Oh iya, di Solo hujan. Aku belum mulai puasa, udah pernah taun lalu. Mau nonton Reply 1988. Apa itu UB? Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Ingatkan aku besok mau ceritanya tentang niat, mukena, atau dia.

When you love someone but it goes to waste

Bodoh rasanya ketika terbangun dan memaksa kembali tidur, hanya karena tahu bahwa kebersamaan itu hanya bisa terwujud dalam mimpi.

Adalah bijaksana untuk menahan diri dari berkata "Apa ku bilang!"
Tapi, bukankah menuruti perintah adalah salah satu hal yang patut dihindari?
Sepertinya bukan tentang apa, tapi tentang apresiasi.
Terima kasih sudah menunjukkannya, di awal saja, lalu pergi.

Memutar kedua bola mata karena muak pada percakapan komersil. Tidakkah kami terlihat seperti televisi? Terima kasih, menjadi tahu. Menambah inspirasi. Meski tak pernah absen untuk melewatkan saja, sambil lalu. Tak pernah peduli.

Dan bila akhirnya kata-kata itu kembali, hanya kata-kata saja tanpa arti. Tersentuh karena kebaikan hati, kesungguhan dalam setiap manis yang diberi. Tapi, ya, kosong saja, seperti keripik kentang. Benar-benar tahu bahwa ada jurang meski jarak sedekat nadi.

Tentu saja percaya, bahwa tidak ada manusia sempurna. Kita semua sudah lelah dengan segalanya, perlukah menggembar-gemborkan makianmu pada dunia? Bahkan mereka tidak berhak mencicipi sedikitpun kesedihanmu, biar jadi abu saja. Tapi, membuka telinga sangat susah, ya. Lebih suka membuka kata, buka bicara. Katamu, dan kerajaanmu.

Takut untuk berubah bila ada cinta. Ya, dan kemudian bertanya. Tapi kalian hanya diam saja dengan mulut menganga. Bercerita tapi tidak terhubung, bertanya tapi tidak dengan hati. Bertatap muka tapi kosong.

Bisakah kamu berhenti berteriak? Atau berceramah, terserah yang mana. Aku hanya ingin sesekali menikmati malam minggu, dan menyia-nyiakan waktu, seperti dulu.

Karena aku sudah tidak percaya pada kalimat sungguh-sungguh.

Dan biarlah angin atau api yang nanti membawakan kabarnya padamu, tidak pernah bahagia untuk menjadi tidak benar-benar ada.

could it be worse?

[2] Buku Laporan

Selesai responsi, kami harus ambil kartu dan buku laporan di meja depan sendiri. Karena malas kemriyek, aku cuma duduk saja dulu, toh juga nggak keburu-buru. Tau-tau, RK alias ruang kuliah udah sepi aja. Terus tiba-tiba dia dateng ke mejaku, sudah bawa kartu dan bukuku, "Nih," katanya, malu-malu. "Makasiyak!" sambutku, gatau malu.

Itu dulu, waktu blok yang lalu. Karena udah nggak tau mau ngapain kalo duduk, hari ini aku cuma nunggu kemriyek-nya reda. Pas udah agak kosong, ku maju. Di depan, kartu praktikum ke-dua yang ku cek adalah punyaku. Kemudian tinggal buku. Lah, kok nggak ada?

Ternyata ada dia, pas di seberang meja. Clingak-clinguk kayak anak ilang. Bawa dua buku laporan dan satu kartu praktikum. sambil sesekali ngeliatin bangku deretan belakang. Karena ge-er, kutunjukin kartu praktikumku, biar dia sadar, "Nyari ini, yak?"
Et dah cuma dilirik aja kartunya! Betapa malunya diri ini karena cegek. Lalu, dia pergi. Aku pun melanjutkan mencari, ini buku ke mana masak kebawa anak....

"Ni anak dicariin," katanya, sambil naruh buku laporanku yang dia bawa dari tadi. Lah, balik lagi dia. Ku cuma senyum tapi pasti ga keliatan. Gangerti lagi ni anak gapeka banget padahal udah diliatin dari tadi.

Mungkin dia cuma ingin berbuat baik, seperti yang selalu dilakukannya kepada semua orang. Tapi, ku jadi merasa tidak sendiri lagi dalam menghadapi hari-hari yang rumit ini.