[2] Buku Laporan

Selesai responsi, kami harus ambil kartu dan buku laporan di meja depan sendiri. Karena malas kemriyek, aku cuma duduk saja dulu, toh juga nggak keburu-buru. Tau-tau, RK alias ruang kuliah udah sepi aja. Terus tiba-tiba dia dateng ke mejaku, sudah bawa kartu dan bukuku, "Nih," katanya, malu-malu. "Makasiyak!" sambutku, gatau malu.

Itu dulu, waktu blok yang lalu. Karena udah nggak tau mau ngapain kalo duduk, hari ini aku cuma nunggu kemriyek-nya reda. Pas udah agak kosong, ku maju. Di depan, kartu praktikum ke-dua yang ku cek adalah punyaku. Kemudian tinggal buku. Lah, kok nggak ada?

Ternyata ada dia, pas di seberang meja. Clingak-clinguk kayak anak ilang. Bawa dua buku laporan dan satu kartu praktikum. sambil sesekali ngeliatin bangku deretan belakang. Karena ge-er, kutunjukin kartu praktikumku, biar dia sadar, "Nyari ini, yak?"
Et dah cuma dilirik aja kartunya! Betapa malunya diri ini karena cegek. Lalu, dia pergi. Aku pun melanjutkan mencari, ini buku ke mana masak kebawa anak....

"Ni anak dicariin," katanya, sambil naruh buku laporanku yang dia bawa dari tadi. Lah, balik lagi dia. Ku cuma senyum tapi pasti ga keliatan. Gangerti lagi ni anak gapeka banget padahal udah diliatin dari tadi.

Mungkin dia cuma ingin berbuat baik, seperti yang selalu dilakukannya kepada semua orang. Tapi, ku jadi merasa tidak sendiri lagi dalam menghadapi hari-hari yang rumit ini.

Comments

Post a Comment