[Day 1] Nilai itu Satu-satu Ditaneminnya Jangan Langsung Banyak

Aku tidak mau ini panjang-panjang jadi walaupun ada banyak yang mau kuceritakan, tentang jodoh misalnya, langsung kupersingkat aja.

Meski agak malas, aku membersihkan kamar juga akhirnya. Motivasinya tentu bukan karena katanya kamar anak cewek nggak boleh berantakan. Nonsense. Kita punya waktu yang sama-sama hectic terhitung sejak responsi parasit minggu lalu, lelaki maupun perempuan. Dan sebagai anak manusia yang masih banyak malasnya, alasan "kan kamu cewek" bukan suatu hal yang kuat untukku menggerakkan kaki membereskan baju-baju yang harus dilaundry. Jadi, ya, sebenarnya membereskan itu karena ada waktu dan tenaga yang tersisa. Dan penting untuk kesehatan. Jangan protes ae lah.

Lagipula, ini awal bulan mulia. Jadi rasanya indah kalau menghadapi semua dengan kebersihan yang merupakan sebagian dari iman. Masya Allah ukh, alhamdulillah dipertemukan lagi.

Kemudian, aku pun melipati baju-baju untuk dibawa ke laundry, membereskan buku-buku dari meja belajar ke lemari, melepas hiasan balon emas sejak ulang tahunku yang lalu, mengerik selotip bekas tempelan penghuni yang dulu, lalu menyapu, mengepel hingga tiga kali karena Allah suka angka ganjil. Setelah membersihkan kamar, rasanya cantik. Namun, kecantikan itu, sebagaimana semua kecantikan di dunia ini, tidak berhasil bertahan bahkan sekejap saja.

Bagi kamu yang tidak tinggal sendiri, bersama teman, saudara, atau mungkin tetangga kos dengan intensitas kekeluargaan yang sangat tinggi misalnya, ku harap kamu bisa bersabar dalam menghadapi segala jerih payahmu membersihkan lantai sampai kinclong yang cuma bertahan hitungan menit lalu ketumpahan sesuatu yang mereka bawa.

Aku sudah mulai terbiasa dengan kasur yang baru dikebuti (tau nggak? ditebahi, apasih, dipukul-pukul pokoknya supaya hilang debunya) lalu diduduki teman-teman yang belum ganti baju dari habis berjalan-jalan. Kami baru selesai berbuka di kamarku dan semut-semut yang sudah kuusir kembali datang dengan manja, meja yang sudah kulap dengan sepenuh jiwa ketumpahan minyak goreng bekas sosis, remah-remah keju dan colekan margarin di salah satu ubin, dan beragam praktik ketidakhigienisan lain yang kutahu bila mbakku ada maka beliau akan uring-uringan. Sebenarnya, kalau kotor laginya karena kegiatanku sendiri rasanya lebih tidak papa. Cuman, masih susah rasanya untuk ridho pada kontribusi teman-teman. 

Lalu aku ingat mama, yang membersihkan rumah setiap hari padahal tahu pasti keesokan harinya jadi berantakan lagi karena anaknya.

Ah, aku malu belum bisa seperti mama. Kalau kotor kan tinggal dibersihkan lagi. Semangat.

Oh iya, di Solo hujan. Aku belum mulai puasa, udah pernah taun lalu. Mau nonton Reply 1988. Apa itu UB? Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Ingatkan aku besok mau ceritanya tentang niat, mukena, atau dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar