[Day 2] Niat itu Bisa-bisa Aja Diperbarui

Nggak beda jauh dengan hari kemarin, alhamdulillah ku masih bisa menjadi manusia bermanfaat meski masih berkutat di sekitar kos dan barang-barang di dalamnya. Karena udah diwanti-wanti mas Aufa di akhir wawancara dulu buat menjadi tepat waktu di setiap keadaan, 10.59 aku udah nyampe di depan kos mbak Salsa di sebelah Pena. Kita emang janjian jam 11 buat bantu-bantu beliau pindahan. Alhamdulillah tadi setengah satu kelar.

Gara-gara dulu suka nonton Naruto, aku selalu bisa membayangkan chakraku terkonsentrasi di kedua tangan dan kaki waktu mengangkat barang-barang pindahan yang lumayan mantep. Mamaku bisa angkat-angkat galon, literally diangkat dan dibawa ke kosan dari toko sebelah, sendirian. Mungkin kemudian menjadi genetically inherited dan jadilah anaknya hobi buang-buang tenaga mengangkut barang-barang ke sana ke mari.

Mungkin ini salah satu cara Allah memberikanku jalan untuk sedekah, sedekah tenaga.

Kemarin aku bilang mau cerita tentang niat. Melalui pertanyaan-pertanyaan kecil dari mas ketua HMPD gen 2 waktu famgath lkmm kemarin, aku sadar bahwa aku udah lupa kenapa dulu daftar kepanitiaan itu. Tapi ternyata, aku nggak perlu khawatir karena niat itu boleh aja kita perbarui. Bisa dalam bentuk niat yang baru yang memang baru kepikiran di tengah? Bisa, mungkin. Aku rasa bisa.

Barusan dapat kabar bahwa salah satu teman dan kakak tingkatku jadi imam sholat qiyamul lail di salah satu masjid di daerah Palur, setengah juz. Di posternya tercantum nama dan gelarnya, "Mahasiswa Penghafal Al-Qur'an Fakultas Kedokteran UNS 2016". Masya Allah, indah nian. Gimana nggak iri?

Aku selalu merasa bahwa Allah yang memilih sendiri siapa yang berhak menghafal firman-Nya yang suci. Seperti menanti jodoh, kata kuncinya membenahi bukan mencari. Semakin nggenah, semakin Allah ridho. Kata ustad Hanan Attaki, kita serahkan sama Allah, Allah yang kasih. Bahkan kita udah tau bahwa rencana-Nya yang terbaik, jadi kenapa harus 'ngetag' yang belum tentu terbaik? Aih, tsadest. Malah ngomongin jodoh.

Dulu cita-citaku adalah menjadi manusia bermanfaat. Lulus SD, berubah jadi suatu profesi, karena SMP-ku SMP negeri dan masih malu kalau beda sendiri. Mau jadi normal dan tidak mencolok. SMA, si organisatoris muluk-muluk kepingin jadi dokter cuman ditahan-tahan karena belajar aja keteteran. Kukira masuk di pilihan kedua tidak selamanya karena kamu tidak sebaik itu untuk pilihan pertama, tapi karena ini lingkungan yang mau Allah kasih ke kamu. Ge-er dikit nggakpapa ya.

Sekarang, cita-citaku kembali jadi orang bermanfaat. Insya Allah, kalau Allah mengizinkan. Sambil menghafal al-quran ya, bismillah. Semangat kawan semoga amanah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar