[Day 3] Percaya Bahwa Cahaya Masih Ada

Aku mengawali hari dengan menghibur diri bahwa malam ini, semua bakal berlalu.

Ada tiga acara yang jamnya tabrakan menjelang maghrib, dengan tiga tempat dan tiga kepentingan berbeda. Nggak perlu ditanya, kesemuanya minta diprioritaskan. Sebenernya mudah saja kalau aku menjadi masa bodoh dan pura-pura ketiduran, tapi aku nggak pernah kebayang untuk menjadi demikian. Alhasil, jadwal yang kugeser-geser sejak kemarin baru fix jam tiga sore, beberapa menit sebelum acara pertama.

Tapi, kemudian hujan. Alhasil, aku cuma bisa memenuhi dua kewajiban, satu setengah lebih tepatnya. Lalu, kaki udah kesel banget sampe kos, sehingga perut yang lapar nggak jadi terisi karena setelah menanak nasi aku nggak sanggup turun lagi buat goreng lauk. Sekarang, terdampar tanpa tenaga karena terkuras mikir konsumsi yang nggak jelas jluntrungannya.

Mengurus hal-hal ini dan itu memang cukup makan ati. Ketika chatmu di grup nggak direken atau dijawab tapi kayak "Yaampun kamu bodoh banget gitu aja nggak bisa". Bisa saja aku cuma jadi silent reader, nggak mau ikutan ngurusin A atau B dengan alasan "Saya punya masa depan yang dipertaruhkan di ujian blok minggu depan, dan nggak punya waktu untuk membantumu mengurus kegiatanmu yang nggak jelas itu." Tapi, bukan di situ masalahnya. Yang bikin jadi berat adalah karena nggak semua hati ridho atas penculikan waktunya sehingga yang bersedia berkorban sebenarnya cuma jadi tumbal. Iya, bukan main kesalnya.

Uang, uang, uang. Untuk mewujudkan ide-ide gila kalian butuh uang. Makanya, nggak sekali dua kali ruang kuliah jadi ladang danusan, grup-grup besar jadi papan iklan. Dan PJ-PJ keuangan pun pusing besok mau jual apalagi. Kalau bisa jual ginjal kayaknya udah habis ginjal mahasiswa FK. Sebenarnya, uang-uang itu ya cuma berputar-putar aja. Tapi, buat nalangi seuplik DP 50% saja, mahasiswa rantau ngekos yang goreng nugget sehari ae diitungin biar ngirit, duit darimana?

Aku udah kepingin nangis karena ngebayangin gimana mama nggak bisa tidur mikir UKT anaknya. Gimana orang dewasa bisa bernapas dengan semua tanggung jawab yang nyata di hadapan mereka? Aku ingin cepat-cepat dewasa, tapi sekarang nggak.

Allah Maha Kaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar