[Day 4] Dituntut Macam-macam Padahal Bukan Tuhan

Sebenarnya, aku merasa tidak enak pada dosa-dosa masa lalu. Sebagai seorang mantan manusia yang suka mencolot ke sana ke mari, mungkin orang mengiranya eman-eman kalau tidak dilanjutkan. Terus ilmumu itu dibuat apa kalau nggak kamu gunakan? Tapi, bahkan aku sangsi sekali kalau kalimat-kalimat persuasif itu ada benarnya atau cuma iming-iming belaka, karena jalan itu kan memang tidak bisa dilalui sendirian.

Aku sadar bahwa ada kebijaksanaan berpikir, pengalaman, dan pola pikir baru yang hanya bisa didapat ketika kita meluangkan waktu untuk berinteraksi. Namun, selalu ada dilema di tengahnya, antara ingin terjun tapi terlalu bodoh untuk bisa mengatur waktu dengan baik. Ingin bergerak tapi tertahan. Bukan, aku tidak dikekang. Sadar diriku yang mengekang.

Sudahlah, Sanifa. Kamu selalu kepikiran dan tidak bisa bilang tidak. Kemudian, mengada-adakan alasan setelahnya. Memperbarui niat, atau menggantinya mentah-mentah?

Aku sangat lelah sampai kasihan teman-teman yang memakan terang bulan di kamar tadi kukacangin. Besok remidi dan malas sekali mendengar kalimat "Kok kamu bisa remidi?" dipikir Tuhan Yang Mahasempurna kaliya.

Siklus itu balik lagi, keadaan di mana ada terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab. Seperti konfirmasi kehadiran, misalnya. Mungkin sekarang di Taman Budaya sudah ada situs baru, namanya Budaya Konfirmasi. Sebagai manusia yang berjalan di muka bumi, kamu dituntut bisa segalanya.

Aku tidak suka kalau teman-teman minta minum dan dicucup langsung dari botol minumku. Menitipkan barang-barang dan membuat reget di lantai kamar kosku juga suatu hal yang membuatku tidak nyaman. Entah apa yang akan mereka pikirkan nanti bila tiba-tiba membaca ini, tapi aku cuma nggak bisa bilang. Dan iya-iya saja karena aku malas dengan orang yang banyak permintaan, dan tidak mau menjadi salah satu di antaranya. Biar kuceritakan pada kalian saja agar tidak jadi kanker.

Entah mulai kapan kawan-kawanku jadi suka menulis di laman pribadi, yang jelas aku terlampau senang dan suka senyum-senyum sendiri membaca tulisan mereka yang bermacam-macam. Mengingatkanku pada sekilas kehidupan yang menyenangkan. 

Aku masih berpikiran bahwa apa yang kalian lakukan itu jahat. Bagaimana jika aku sampai berpikir bahwa mungkin ini jalan Tuhan yang dibisikkan padaku, lalu kembali terengah-engah mengejar impian yang setengah-setengah, tidak berhasil menyekolahkan si anak di Jakarta atau Jepang, menjadi bukan siapa-siapa dan semakin bukan apa-apa karena kamu menggunakan bahuku sebagai pijakan hingga tidak ada yang terlihat selain ujung-ujung kepala?

Aku tidak masalah menjadi tidak keren, sudah pernah aku bilang. Kalau kamu paksa begitu, kebebasan berpikir cuma mitos.

Cacing menyukaiku dan aku perlu membalas rasa cintanya, nasihat Gita. Aku rindu Ramadhan tahun lalu saat waktuku habis kugunakan siang malam kembali pada-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar