[Day 5] Ada Semangat yang Terselip di Celah Pintu

Setelah sholat subuh aku mengaji, lalu tidur lagi karena ternyata remednya jam 1 siang. Belum apa-apa sudah buruk mimpinya--aku berjalan-jalan di kompleks perumahanku di Surabaya dan nggak ada satupun kehidupan, kayak udah ditinggalkan. Waktu cahaya matahari mengintip dari balik gordyn, aku nggak punya pilihan selain bangun dan melanjutkan belajar. Ternyata, ada semangat yang terselip di celah pintu kamarku. Pasti dari Kagary. Mau kusnapgram tapi nggak jadi, cukup senangnya di dalam hati.

Kemarin malam juga Gita memberi semangat. Nggak tahunya, pagi tadi dia mengirimkan lagu yang suka kunyanyikan karena belajar parasit : cacing-cacing di perut, curi semua nutrisi. Versi Gita lebih syahdu, dengan tambahan "tapi tak perlu takut, ada Allah" di akhir bait. Dasar, fetus polos tak berdosa.

Ada kalanya dunia begitu dingin sampai-sampai kamu merasa tidak ada lagi harapan. Padahal, selalu ada bahagia di titik-titik yang tersebar di muka bumi. Aku merasa lebih hangat meski masih jauh dari masakan mama di kala sahur dan berbuka. Karena pada akhirnya nanti toh kita juga akan sendirian saja. Dalam suatu tindakan penanganan ada yang namanya memperbaiki kualitas hidup. Alhamdulillah Allah menitipkanku pada kehangatan yang indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar