When you love someone but it goes to waste

May 06, 2017

Bodoh rasanya ketika terbangun dan memaksa kembali tidur, hanya karena tahu bahwa kebersamaan itu hanya bisa terwujud dalam mimpi.

Adalah bijaksana untuk menahan diri dari berkata "Apa ku bilang!"
Tapi, bukankah menuruti perintah adalah salah satu hal yang patut dihindari?
Sepertinya bukan tentang apa, tapi tentang apresiasi.
Terima kasih sudah menunjukkannya, di awal saja, lalu pergi.

Memutar kedua bola mata karena muak pada percakapan komersil. Tidakkah kami terlihat seperti televisi? Terima kasih, menjadi tahu. Menambah inspirasi. Meski tak pernah absen untuk melewatkan saja, sambil lalu. Tak pernah peduli.

Dan bila akhirnya kata-kata itu kembali, hanya kata-kata saja tanpa arti. Tersentuh karena kebaikan hati, kesungguhan dalam setiap manis yang diberi. Tapi, ya, kosong saja, seperti keripik kentang. Benar-benar tahu bahwa ada jurang meski jarak sedekat nadi.

Tentu saja percaya, bahwa tidak ada manusia sempurna. Kita semua sudah lelah dengan segalanya, perlukah menggembar-gemborkan makianmu pada dunia? Bahkan mereka tidak berhak mencicipi sedikitpun kesedihanmu, biar jadi abu saja. Tapi, membuka telinga sangat susah, ya. Lebih suka membuka kata, buka bicara. Katamu, dan kerajaanmu.

Takut untuk berubah bila ada cinta. Ya, dan kemudian bertanya. Tapi kalian hanya diam saja dengan mulut menganga. Bercerita tapi tidak terhubung, bertanya tapi tidak dengan hati. Bertatap muka tapi kosong.

Bisakah kamu berhenti berteriak? Atau berceramah, terserah yang mana. Aku hanya ingin sesekali menikmati malam minggu, dan menyia-nyiakan waktu, seperti dulu.

Karena aku sudah tidak percaya pada kalimat sungguh-sungguh.

Dan biarlah angin atau api yang nanti membawakan kabarnya padamu, tidak pernah bahagia untuk menjadi tidak benar-benar ada.

could it be worse?

You Might Also Like

0 comments