Wahai, Pejuang!

Sudah, ya?

Aku merasa kecewa dan ingin menangis. Harusnya bisa lebih baik dari ini. Bisa lebih maksimal. Alhamdulillah Allah masih mengizinkanku khatam di satu sisi, tapi aku sungguh malu karena dosa yang berguguran mungkin tidak sebanyak itu di sisi lain. Habis, masih kurang tuma'ninah. Padahal kan, dosa-dosa yang kita pikul ngglundung waktu ruku' dan sujud.

Allah, Engkau Maha Besar. Tahun ini, masih banyak urusan duniaku yang belum selesai. Bukan alasan sih sebenarnya untuk nggak all out, tapi di setiap malam-malam kemarin sungguh berat rasanya melangkahkan kaki meninggalkan materi yang belum kelar. Apalagi kalau sudah disuruh liqo'. Atau menghadiri semarak Ramadhan di kampus. Astaghfirullah. Astaghfirullahaladzim.

Tiada Tuhan selain Allah. Mungkin hikmahnya, di dunia perkalejan nanti memang nggak akan bisa aku memisahkan ibadah dan belajar. Bahkan belajar adalah ibadah juga. Mungkin Allah ingin aku merasakan bagaimana rasanya bagi waktu antara akhirat dan dunia di dalam bulan 'pelatihan'-Nya ini. Mungkin Allah ingin aku paham bagaimana rasanya kecewa tidak melakukan yang terbaik dalam satu kali kesempatan, dan musti menunggu sebelas bulan lagi untuk mendapat kesempatan berikutnya. Iya kalau diberi kesempatan lagi. Ya Allah...

Oke, pejuang. Sudah selesai ngalem-ngalemannya. Tingkatkan kewaspadaan dan ambil senjatamu. Ini saatnya kita terjun ke medan perang.

Eh, aku nggak ngerti mulai masuk 1 Syawwal itu mulai maghrib kemarin, atau jam 00.00, atau setelah sholat ied nanti ya?

Allâhumma la taj’al hadza akhiral ahdi bishiyamina iyyahu fain jâltahu faj’alni marhuman wa la taj’alni mahruman...
"Ya Allah, mohon jangan Engkau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai shaum terakhirku. Tapi jikapun ini adalah Ramadhan terakhirku jadikan aku sebagai hamba yang Engkau rahmati, janganlah Engkau jadikan daku hamba yang terhalangi dari ampunan dan maghfirahmu”
Aamiin Ya Rabbal Alamiin
-inspired by : ucapan malam takbiran kachol-

Selamat Menyambut Hari Kemenangan, Hari Raya Idul Fitri 1438 H.

Taqabbalallahu minnaa wa minkum.

Mohon maaf lahir batin.

[Day 28] Bocah Petualang

Helo semuanya.

Aku habis berkelana sejauh 12,6 km (kata waze) sendirian. Tidak ada yang spesial, hanya saja waktu lewat Rungkut dan bertemu sebuah mobil aku jadi ingat sesuatu.

Jadi, ini bukan rumah baru tapi rumah lama yang jadi baru. Entahlah, mama punya banyak rencana dan cuma sedikit bagianku di dalamnya sehingga aku hanya berharap yang terbaik saja. Semoga nanti kehidupan mapan di rumah tingkat dua dengan desain minimalis dan jendela sangat tinggi masih menungguku di Jakarta.

Apaya, di sini banyak nyamuk.

Lebaran nanti saudara-saudaraku datang ke mari, aku harap mereka sudah cukup dewasa untuk membiarkanku belajar demi remed.

Sebentar lagi lebaran. Sebaiknya aku bersiap evaluasi diri.

[Day 27] Dewasalah

Kemarin, aku ingin menangis karena terharu melihat adik-adik. Mereka masih sekecil itu, tapi sudah berat sekali tanggungannya. Aku baru ingat bahwa perjuangan di sana tidak sebercanda itu, dan meski akhirnya aku mempermalukan diriku, aku tahu kesempatan belajar seperti itu cuma sekali seumur hidup. Cuma butuh kurang dari dua semester untuk mengubah mereka menjadi para dewasa. Aku ingin berbicara, ingin membantu sebisanya, tapi bahkan kini aku sudah ragu pada keyakinan diri.

Bodohnya aku yang tidak bisa jadi mbak yang baik buat mereka. Sempit sekali pemikiranku karena masih berpikir diri sendiri, kepuasan pribadi, segalanya tentang aku meski sebenarnya tidak begitu. Aku tahu aku sering menolak terjun karena aku tidak punya kemampuan! Dan semakin kukuh apa yang aku pikirkan sampai membentuk diriku yang sekarang. Tapi, kemarin, Rizky bilang banyak hal yang aku tahu itu benar tapi nggak pernah terpikir gimana cara menyampaikannya. Aku ingin adik-adik jadi tangguh tapi diri sendiri sering menghindar kalau disuruh momong.

Lalu sekarang, ternyata eman juga rasanya kalau remed. Aku tahu di mana yang salah tapi waktu blok introp aku seperti kehabisan tenaga karena mengejar imuno. Hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha, dan prior knowledge di awal blok adalah sebuah kunci yang sangat penting. Oh iya kawan, bagaimana bisa kamu mengeluh remed kalau pada kenyataannya kamu tidak bisa menjawab pertanyaannya yang artinya kamu tidak menguasai materi, dan terlebih lagi tidak mengikuti blok dengan baik (re : tidur saat kuliah, menyontek tugas teman, TA)? Bukan apa-apasih, aku hanya kasihan dengan nyawa yang kamu pegang nanti.

Perlu eksekusi yang tepat. Bismillah semoga Allah ridho.

[Day 26] One Shot

Aku bermain Choices, salah satu gubahan Pixelberry dan itu cukup menyenangkan.

Aku membangun peternakan dan perkebunan tapi sekarang sudah masuk winter dan tumbuhan tidak bisa tumbuh. Hati Mary belum merah.

Benar kata mama bahwa ketika kita pelit pada diri kita sendiri, akan ada banyak hal lain yang tetap saja menghabiskan duit.

Satu yang aku tahu pasti adalah bahwa kamu nanti bersekolah di jakarta atau jepang, titik.

[Day 25] Aja

It's fun to do nothing.

[Day 24] Ukuran Jahim

Aku nggak pamrih. Cuman mau memberi peringatan bahwa apa yang ada di muka bumi itu sebentar saja dan nggak dibawa mati kecuali tiga.

[Day 23] "Jangan Coba-coba Sama yang Beda Prinsip"

Aku bener-bener baru sekitar 9 jam di sini dan udah kangen Solo.

Kenyataannya, sebanyak apapun waktu yang kuhabiskan untuk menyapa Pak Wiji sepulang sekolah waktu itu nggak berbekas apa-apa. Lapteng, yang siang malam jadi saksi ketawa-ketawa sampe nangis-nangis juga nggak membuatku terpana. Puncaknya, waktu menyanyi smalane dan kpb, aku cuma asal menyanyi saja.

Mungkin aku sudah menjadi manusia dewasa dan bermain realita.

[Day 22] Pergi ke Semarang

Aku senang karena setelah satu semester berlalu akhirnya kamarku lega juga.

[Day 21] Iblis

Kata kachol dari buku tafsir, Iblis dulunya adalah pemimpin para malaikat. Kemudian dia sujud beribu-ribu tahun pada Allah, lalu jumawa. Nggak mau sujud sama nabi Adam yang Allah jadikan ujian. Akhirnya iblis jadi laknat.

Kadang, kita merasa dah yakin akan posisi diri, yang paling benar dan paling nggak ada dosa. Lalu Allah kasih sentil sedikit dan kita nggak yakin akan Allah tapi yakin pada kemampuan diri. Padahal, diri ini bisa apa, sih?

[Day 20] Declaration of Graha Annisa I

Pelajaran hidup kali ini disponsori oleh kopi hari indah.

Sejujurnya saya percaya nggak percaya dengan cerita bahwa kopi bisa membuatmu begadang. Karena banyak mudhorotnya, saya lebih memilih untuk tidur saja bila ngantuk. Namun, karena kemarin merupakan hari yang sangat abstrak di mana saya luntang-luntung gajelas dan nggak fokus sama sekali untuk belajar, akhirnya malam harinya saya putuskan meneguk segelas. Minumnya sih sekitar jam 9an, mulai belajarnya jam 12. Dan sekarang jam 4.

Memang nggak tidur sih, tapi bukan karena nggak ngantuk. Saya tahu regulasi homeostasis tubuh saya sudah memberontak dengan respons pusing-pusing alay dan pandangan mengabur. Namun, itu semua ditekan oleh perut sebah. Mungkin ada infeksi gastroenterokolitis oleh enteropatogenik.

Saya sadar itu nggak ada nyambung-nyambungnya tapi tolong jangan dihakimi dengan memenuhi kolom komen seperti masyarakat pada umumnya. Mengingatkan saya pada betapa saya bisa sampai ketawa-ketawa kalau baca komentar di webtoon luar negeri, tapi hampir selalu skip kalau webtoonnya produksi dalam negeri. Tahu kan mana yang enak didengar dan mana yang nyinyir (atau tidak bervariasi, beda lagi). Budayakan komentar yang santun, berbobot dan membangun!

Ada ide gila saat saya berkelana di laman explore tadi pagi. Dalam delapan bulan saja sebenarnya saya sudah mendapat nominal yang cukup untuk mendapat barang terbaik. Sehingga, sekarang saya akan mendeklarasikan perjanjian Graha Annisa episode satu, bahwa delapan bulan terhitung sejak bulan ke delapan tahun ini, saya berjanji untuk menjalankan program tersebut dengan sungguh-sungguh. Tok, tok, tok.

Ingatlah bagaimana manisnya di bulan ke-delapan kamu dapat menghadiahkan unit kepala baru untuk Bryan.

May Allah grant our wishes. Selamat belajar infeksi nosokomial!

[Day 19] I Refuse to Give Up

Memasuki waktu-waktu gila dalam rangka UB infeksi tropis.

Harusnya cukup seru, namun rasanya seperti dipaksa mengenal satu angkatan dalam waktu satu hari. Nggak cuma namanya, tapi juga dia gimana cara hidupnya, kebiasaannya, tempat tinggalnya, semuanya. Tapi daritadi belum mulai mulai. Gangerti kenapa ga berselera.

Malah curhat. Paksa!

[Day 18] With Great Power Comes Great Responsibility

Biasanya jam segini saya masih berkutat dengan soal-soal tahun lalu atau materi-materi yang belum sempat diulang kembali karena belum selesai mencicil sejak kemarinnya.

Sekarang sudah, sih. Tapi ternyata nggak bisa bersantai juga karena tugasnya masih banyak belum rampung.

Happy happy shall we be, when we learn of ABC.

[Day 17] Press Conference

Iya, benar, saya nggak ingin accept follow request kalian karena kalian masih belum bijak untuk memilih atau simply tidak berpikiran terbuka.

Tapi ya mau gimana lagi akhirnya saya cuma bisa ngehide story sebagai tindakan preventif dari tidur kalian yang nggak nyenyak karena mikirin kelakuan saya yang mungkin nggak pernah kalian bayangkan sebelumnya.

Benar bila katanya setiap orang punya minimal dua muka, satu ketika bersama teman-teman dan satu ketika bersama keluarga. Saya selalu bermimpi bagaimana bila saya terlahir dalam lingkungan yang, gimana ya ngomongnya, agak selo sedikit, sehingga ketika saya melakukan hal yang menurut saya perlu ditanggapi dengan seluas-luasnya pandangan, saya nggak perlu merasa kecewa.

Mungkin itu yang dirasakan karin novilda, saat orang-orang mengecapnya ini dan itu karena dia berekspresi. Tapi, sebenarnya saya juga nggak mendukung juga kan ya kasian kalo ada anak-anak yang belum ngerti terus mengikuti mbak karin. Kita juga nggak bisa membatasi sosial media hanya untuk orang dewasa saja sehingga salah satu yang menjadi PR adalah peran orang tua di dalamnya.

Hanya saja untuk anak segede saya mungkin nggak perlu dipikir macam-macam ya orang saya juga nggak macam-macam.

Saya merasa jahat kalau saya jadi menyebarkan bad influence pada bibit-bibit unggul bangsa. Di sisi lain saya juga nggak ada maksud apa-apa gitu. Dan alhamdulillah saya masih tau batasan sehingga ketika kamu bertanya pada saya saya nggak akan lama untuk memikirkan jawabannya. Karena saya begitu terbuka pada setiap kemungkinan dan pilihan hidup orang for god sake.

Sayangnya, saya masih selalu dilihat seperti anak kecil dalam keluarga.

Oh, bukan. Ibu dan kakak saya adalah orang-orang hebat yang paling saya sayang dan saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan mereka.

Ternyata, orang dewasa yang tahu diri berkorban macam-macam demi anak-anaknya--atau orang-orang yang kekanak-kanakan--hanya untuk menyelamatkan hidup bangsa.

Jadi, gini ya, adek-adek sekalian. Saya itu orangnya, apaya bahasanya, ndableg. Dan saya rasa itu merupakan suatu trait yang membuat saya dapat bertahan hidup hingga saat ini. Tapi, kamu selalu punya pilihan untuk mengambil positifnya dan membuang negatifnya, tidak hanya dari saya tapi juga dari siapapun di dunia ini. Kamu juga bisa menjadi penurut dan cantik seperti kakak saya, lakukan apa yang kamu nyaman di dalamnya. Ingat untuk selalu berbuat baik pada orang lain, jujur dalam berkata, tepat dalam tindakan, ya seperti lagu smalane lah. Tapi bahkan lagu smalane tidak melarang kamu untuk jadi diri sendiri.

Chill out people.

[Day 16] Rapat Merapat

Lalu setelah dijalani akhirnya berlalu juga kan.

[Day 15] Bulan Purnama

Hingga akhirnya hari berganti tapi kami masih sama-sama. Aku tahu ada suatu nasihat untuk menjauhi tongkrongan, tapi kali itu aku tidak mau.

Televisi yang tergantung di dinding TT adalah TV kabel, menayangkan film-film yang rasanya seperti ditinggal pergi mama waktu masih SD, jam 1 pagi tidak bisa tidur di kamarku yang berwarna merah muda lalu menyetel TV agar ada temennya. Rasanya akan selalu begitu dan nggak akan pernah sama ketika nonton TV siang bolong.

Teman-teman peduli pada aturan yang menjagaku tapi aku seakan tidak peduli. Kemudian kami pulang dan sekarang aku tidak bisa lagi tidur. Seperti mimpi tapi bukan mimpi. Aku tahu itu sangat buang-buang waktu tapi waktuku kubuang untuk momen yang nggak ada gantinya.

Bulan malam itu jadi saksi rindu kita.

[Day 14] UB, KK, Penelitian Psikologi

Beberapa menit sebelum 7.50 baru khatam soal-soal 3 tahun terakhir. Alhamdulillah ada yang keluar, tapi esensi UB adalah mengetes setiap detik yang kamu manfaatkan selama blok berlangsung. Berproses tidak sebercanda itu.

Senang bisa membantu mempermudah urusan mbak-mbak psikologi dalam surveynya. Mengerjakan 15 soal matematika yang mudah saja tapi lupa rumusnya. Kayaknya sudah bertahun-tahun sampai rumus volume bola saja lupa.

Yang paling ditunggu dari KK adalah kebersamaan angkatannya. Lucu ketika melihat orang-orang yang bermacam-macam sekaligus kesal dengan beberapa yang lain, sudah biasa. Aku tidak bisa tidak takjub pada dinamika keberagaman.

Kemudian ide gila membuatku percaya bahwa aku tidak sesyar'i itu. Sejak sebelum dapat sekolah sampai semester satu berlalu aku bak gadis bertaubat yang tidak tertarik pada hiruk pikuk dunia. Tiba-tiba menonton aksi Gal Gadot bersama teman-teman seperti mahasiswi banyak uang dan banyak waktu saja. Aku tersenyum sendiri karena berpetualang adalah kesukaanku. Mencoba hal yang tidak biasa sedikit, menantang batasan, sudah senang bukan kepalang.

[Day 13] Friday the 13th

Ini nggak friday. Besok iya. Temanku ada namanya Fraidee. Dia cantik.

Bahwasanya aku nggak pernah belajar sampai sakit perut, itu ada benarnya. Lalu sekarang aku udah ngantuk, ingin tidur tapi pasti nggak bisa. Akan ada saatya di mana kamu perlu belajar untuk bersabar, meski itu artinya bersabar menjejalkan review materi semalaman suntuk.

[Day 12] Menghadapi Kegagalan

Yak semakin dekat dengan ujian blok.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, kita hampir tak bisa bernapas. Karena setelah ujian datanglah ujian yang lain. Sehingga, ketika kamu mau menyetop nonton drama korea, misalnya, karena mau ujian, kamu nggak akan pernah bisa nonton drama korea itu karena ujiannya nggak berhenti-henti. Jadi, harus bagaimana.

Lucunya soal ujian adalah, di malam sebelum atau pagi harinya saat ujian ada orang-orang jenius yang berkoar-koar bahwa mereka belum belajar. Padahal, waktu hasilnya keluar ya nilainya jauh di atas rata-rata. Memang rasanya seperti ada banyak sekali yang harus dipelajari, jadi sudah belajar kayak belum belajar. Atau itu hanya excuse saja agar nanti kalau nggak bisa setidaknya tidak di-judge bodoh, ya?

Yang aku percaya adalah bahwa remed merupakan suatu pembelajaran dalam hidup, di mana kita diajari untuk menghadapi kegagalan.

[Day 11] Bagaimana Mau Memberi Solusi Kalau Ilmunya Nggak Ada

Dulu kukira adalah konyol ketika pencurian yang marak di bulan Ramadhan dikaitkan dengan keinginan untuk mudik. Kalo ga punya uang, ya nggak usah pulang. Kalo nggak mau nggak pulang, ya nggak usah rantau. Kalo mau rantau dan mau pulang, ya nabung. Nggak nyuri.

Tapi, ternyata memang pulang adalah suatu hal yang penting dan mendesak. Bertemu keluarga, nggak cuma makan nugget atau nasi margarin tiap sahur dan berbuka, birrul walidain. Itu aku, sih. Anak kos semester awal yang lagi nabung buat liburan.

Aku mau menabung tidak hanya untuk liburan, sebenarnya. Juga untuk sound system, membenahi printer, membeli bensin, upgrade hardware agar bisa edit video, dan keperluan-keperluan lain yang penting tapi tidak mendesak. Sehingga keinginan makan bibimbap di Kimchi Resto pun Pizza Hut bersama Alivia adalah suatu angan yang mengawang dalam bunga tidur.

Barusan banget ku membaca suatu chat dari kating berbunyi "Luka bakar grade 2a paling itu. Bulanya dipecahin, kasih analgetik dan antibiotik. Perban moist. Jangan sampai kotor. 3 hari dah baikan paling" dan hidupku tiba-tiba terasa mudah saja. Aku harus belajar giat untuk bisa memudahkan urusan orang lain.

[Day 10] Besok Field Lab Terakhir Bersamanya

Aku membuat jariku terluka; mencuci kemeja putih lalu kelunturan; membuat mie tapi kelembekan; mengirim hal-hal tidak penting di group chat; melakukan hal-hal bodoh lain dan sangat ceroboh.

10 hari pertama sudah kelewat. Ramadhan seperti bola yang menggelinding di turunan. Aku masih berpikiran bahwa menjadi hebat tidak selalu berarti merelakan diri jadi aktivis serba bisa. Aku masih berpendapat mereka semena-mena dalam menaruh.

[Day 9] Oh

Hampir semua temanku yang jujur bilang kalau cerita ke aku pasti nggak seru, karena cuma kutanggepi dengan "oh" "hmm" "o gitu".

Trus aku kayak yaudalah ya gimana lagi ku juga gangerti harus nanggepin apa gitu? Padahal gaada niatan untuk kayak gapeduli lho dan malah seneng kalo diceritain.

Tapi ada satu temanku yang lebih parah kalau diceritain nanggepinnya ngeselin. Mungkin kita sama-sama ngeselin sih cuman dia lebih unpredictable aja jawabnya. Yap, ku belajar banyak darinya. Dan jadilah diriku yang independent dan berbahagia layaknya hari ini.

Aku sudah pernah dengar kisah anak yang ibadahnya rajin banget tapi ga keterima ITB, trus malah jadi supir pribadi dan akhirnya jadi bos-bosnya anak-anak ITB. Pernah dijarkom di WA. Cuman, tadi, waktu diceritain ulang sama Mas Syukri di sebuah mushola kecil dekat rumah Kak Syayma, ku kaget karena jadi menitikkan air mata. Kalo udah gini, gimana bisa nggak sayang sama Allah?

Dan kemudian muncul lagi satu cita-citaku : nak, nanti kamu dari kecil sudah makmu ini kasih denger bacaan ayat suci alquran yang merdu ya biar kamu nggak kesusahan niruinnya, tiap malem kita ngaji bareng biar kamu nggak merasa canggung untuk ngaji sendirian, jadi imam sholat bapak-bapak di masjid komplek kita kalau kamu udah gedean nanti juga oke. Gimana ya nak mewujudkannya kayaknya nggak ada yang lebih baik dari teladan jadi makmu ini harus memantaskan diri supaya dapat jodoh yang bisa memberi contoh ke kamu ya nak. Ya Allah kabulkanlah.

[Day 8] Bryan

Maaf terlambat.

Sudah turun 3kg padahal baru ikut puasa 5 hari. Nggak berbuka maupun makan sahur dengan hidangan sebagaimana di rumah, tapi kalo inget saudara-saudara yang 'berpuasa tapi nggak tau kapan berbukanya', selalu miris dan ingin menangis. Saudara-saudara yang susah air bersih, atau nggak ada listrik, gimana tersiksanya? Adik-adik yang setiap hari rindu orang tua, tapi sudah nggak bisa untuk sekadar telpon saja karena sudah beda dunianya.

Aku ingin berbagi apa yang bisa kubagi. Aku ingin memberi apa yang bisa kuberi. Rasulullah seorang yatim piatu dari kecil dan aku baru menyadarinya. Aku rindu pulang dan berangkat sekolah bareng mama tapi aku harus tidak boleh menangis bila sekarang cuma ditemani Bryan.

[Day 6] Tentang Pilihan

Aku tahu sambat ada baiknya dieradikasi saja dalam hidup, tapi aku sering nggak bisa kalau nggak sambat ke Alivia. Tentang kemarin, misalnya. Dan kemudian tanggapannya adalah "lek aku yo tak jawab fa : km kok ga menghargai pilihan org"

Balqis dan aku sering nggak makan-makan sampe malem gara-gara bingung mau milih menu apa. Sama-sama terserah, sama-sama nggak mau menentukan. Mungkin saking nggak appreciate-nya budaya kita pada pilihan, kita jadi terbiasa pekewoh alias sungkan atau malah males untuk memilih, dan mempertanggungjawabkannya.

Giliran ada yang berdiri pada suatu komitmen dalam hidupnya, kita laksana dewa memberinya label di sana dan sini. Suatu malam sepulang makan, seorang temanku yang udah pinter rajin pula, curhat bahwa dia nggak suka sama beberapa oknum yang memanggilnya "heh ambis" tapi terus "liat laporanmu dong" dan nggak bilang terima kasih sesudahnya. Lah what's wrong with you people.

Aku bukan penggemar Demian maupun dunia persulapan, tapi salah satu post di timeline--akhir-akhir ini memang ada banyaaaaaaak sekali manusia-manusia entah asalnya dari mana, umurnya berapa, tinggalnya di mana dan saudaranya berapa, menyuarakan opini pro kontra mengenai berbagai topik dan oleh karena kehebatan teknologi bisa dengan mudah tersaji di timelineku--yang membuatku kayak, ada benarnya, negeri ini sibuk banget menebar kebencian sampai lupa apresiasi.

Sebenarnya aku agak merasa terdholimi karena dari dua pertemuan terakhir, dua kali mereka melabel 'orang Surabaya' atau 'orang Jawa Timur' ya ngomongnya keras lah, kasar lah, blak-blakan lah, apalah inilah itulah. Lucunya, karena aku baru bergabung dan nggak sempat kenalan dengan proper, cuma beberapa yang tau dan sadar ada orang Surabaya woy di situ! Aku bisa saja marah karena merasa dicap begini begitu, tapi aku memilih untuk tidak. Pertama, karena latar belakang budaya memang beda. Kedua, karena buang-buang tenaga.

Semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa memilih adalah suatu privilege yang nggak sepatutnya disia-siakan. Ketika kamu bisa memilih, pilihlah, dan saat kamu sudah memilih, lalu kamu berdiri tegak atas pilihanmu dengan segala latar belakang dan alasan yang mendorongmu melakukan itu, kamu perlu tahu bahwa orang lain nggak selamanya benar, dan kamu berhak untuk tidak mengikuti pilihan mereka.

Mungkin saking banyaknya yang harus kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti, kita jadi cenderung menghindar dari bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kecil yang kita buat sekarang.
Eh, nggak juga, sih. Toh banyak yang ngantre jadi ketua ini itu dengan alasan kekerenannya, entah pertanggungjawabannya cuma sebatas visi misi atau angan belaka.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Sedikit cerita tentang hari ini, di tengah jalan bensinku kedip-kedip satu strip dan mau nggakmau aku harus beli. Ternyata kusalah berhenti di mesin baru yang cuma jual pertalite dan pertamax, yang berarti harganya mahal. Padahal di dompet cuma ada selembar 50rb, selembar 5rb, dan berlembar-lembar struk lama. Akhirnya beli 50, alhamdulillah dapet 6 literan.

Habis itu isi nitrogen. Sebenernya udah mau lanjut aja cuman emang dari kemarin mau cek angin nggak sempet-sempet dan jalannya udah nggak enak, karena takut kenapa kenapa jadi ditatagin aja. Dalam kondisi ketir-ketir karena cuma punya lima ribu dan recehan 500 yang jumlahnya juga lima ribu, kuberanikan diri berhenti di depan kios masnya. Satu ban kalo tambah angin harganya 4rb, bannya ada 4. Mungkin karena terlalu sering menghantam gronjalan atau dibawa ke puskesmas wonogiri kemarin, ban pertama anginnya kurang. Semakin khawatirlah diri ini, lalu mengarang skenario kalau nanti ternyata empat-empatnya kurang angin apa kubilang ke masnya aja ya "Mas maaf uangnya kurang saya ambil dulu di kos" trus ninggal KTP or apalah terserah trus balik kos trus balik lagi. Hmm bole gak ya.

Udah ban ke tiga dan tiga-tiganya kurang angin. Terus ku mengais-ngais di dalam tumpukan kertas siapatau ada duit. Alhamdulillah ternyata ada 2rb. Dan, ban keempat nggak kurang angin.

Agak tengsin bayar pake 10 keping receh berasa saudagar arab saudi. Tapi nggak masalah karena setelahnya hati ini menjadi lega dan bersyukur tergelitik keajaiban-keajaiban kecil. Gusti Allah mboten sare, boi.