[Day 6] Tentang Pilihan

Aku tahu sambat ada baiknya dieradikasi saja dalam hidup, tapi aku sering nggak bisa kalau nggak sambat ke Alivia. Tentang kemarin, misalnya. Dan kemudian tanggapannya adalah "lek aku yo tak jawab fa : km kok ga menghargai pilihan org"

Balqis dan aku sering nggak makan-makan sampe malem gara-gara bingung mau milih menu apa. Sama-sama terserah, sama-sama nggak mau menentukan. Mungkin saking nggak appreciate-nya budaya kita pada pilihan, kita jadi terbiasa pekewoh alias sungkan atau malah males untuk memilih, dan mempertanggungjawabkannya.

Giliran ada yang berdiri pada suatu komitmen dalam hidupnya, kita laksana dewa memberinya label di sana dan sini. Suatu malam sepulang makan, seorang temanku yang udah pinter rajin pula, curhat bahwa dia nggak suka sama beberapa oknum yang memanggilnya "heh ambis" tapi terus "liat laporanmu dong" dan nggak bilang terima kasih sesudahnya. Lah what's wrong with you people.

Aku bukan penggemar Demian maupun dunia persulapan, tapi salah satu post di timeline--akhir-akhir ini memang ada banyaaaaaaak sekali manusia-manusia entah asalnya dari mana, umurnya berapa, tinggalnya di mana dan saudaranya berapa, menyuarakan opini pro kontra mengenai berbagai topik dan oleh karena kehebatan teknologi bisa dengan mudah tersaji di timelineku--yang membuatku kayak, ada benarnya, negeri ini sibuk banget menebar kebencian sampai lupa apresiasi.

Sebenarnya aku agak merasa terdholimi karena dari dua pertemuan terakhir, dua kali mereka melabel 'orang Surabaya' atau 'orang Jawa Timur' ya ngomongnya keras lah, kasar lah, blak-blakan lah, apalah inilah itulah. Lucunya, karena aku baru bergabung dan nggak sempat kenalan dengan proper, cuma beberapa yang tau dan sadar ada orang Surabaya woy di situ! Aku bisa saja marah karena merasa dicap begini begitu, tapi aku memilih untuk tidak. Pertama, karena latar belakang budaya memang beda. Kedua, karena buang-buang tenaga.

Semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa memilih adalah suatu privilege yang nggak sepatutnya disia-siakan. Ketika kamu bisa memilih, pilihlah, dan saat kamu sudah memilih, lalu kamu berdiri tegak atas pilihanmu dengan segala latar belakang dan alasan yang mendorongmu melakukan itu, kamu perlu tahu bahwa orang lain nggak selamanya benar, dan kamu berhak untuk tidak mengikuti pilihan mereka.

Mungkin saking banyaknya yang harus kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti, kita jadi cenderung menghindar dari bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kecil yang kita buat sekarang.
Eh, nggak juga, sih. Toh banyak yang ngantre jadi ketua ini itu dengan alasan kekerenannya, entah pertanggungjawabannya cuma sebatas visi misi atau angan belaka.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Sedikit cerita tentang hari ini, di tengah jalan bensinku kedip-kedip satu strip dan mau nggakmau aku harus beli. Ternyata kusalah berhenti di mesin baru yang cuma jual pertalite dan pertamax, yang berarti harganya mahal. Padahal di dompet cuma ada selembar 50rb, selembar 5rb, dan berlembar-lembar struk lama. Akhirnya beli 50, alhamdulillah dapet 6 literan.

Habis itu isi nitrogen. Sebenernya udah mau lanjut aja cuman emang dari kemarin mau cek angin nggak sempet-sempet dan jalannya udah nggak enak, karena takut kenapa kenapa jadi ditatagin aja. Dalam kondisi ketir-ketir karena cuma punya lima ribu dan recehan 500 yang jumlahnya juga lima ribu, kuberanikan diri berhenti di depan kios masnya. Satu ban kalo tambah angin harganya 4rb, bannya ada 4. Mungkin karena terlalu sering menghantam gronjalan atau dibawa ke puskesmas wonogiri kemarin, ban pertama anginnya kurang. Semakin khawatirlah diri ini, lalu mengarang skenario kalau nanti ternyata empat-empatnya kurang angin apa kubilang ke masnya aja ya "Mas maaf uangnya kurang saya ambil dulu di kos" trus ninggal KTP or apalah terserah trus balik kos trus balik lagi. Hmm bole gak ya.

Udah ban ke tiga dan tiga-tiganya kurang angin. Terus ku mengais-ngais di dalam tumpukan kertas siapatau ada duit. Alhamdulillah ternyata ada 2rb. Dan, ban keempat nggak kurang angin.

Agak tengsin bayar pake 10 keping receh berasa saudagar arab saudi. Tapi nggak masalah karena setelahnya hati ini menjadi lega dan bersyukur tergelitik keajaiban-keajaiban kecil. Gusti Allah mboten sare, boi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar