Malam itu aku bilang sama Bryan, "Kamu senang nggak? Aku bahagia."

July 29, 2017

Kemarin, aku dan Bryan berkesempatan memberi tumpangan pada mbak-mbak Italia. Pukul 5 kami sudah tiba di Bandara. Ternyata, pesawatnya delay sampai setengah tujuh. Kami beli susu dan sholat maghrib dulu, aku cukup bangga karena mukenanya tidak bau.

Sebenarnya ini acara dari suatu organisasi yang aku tidak jadi siapa-siapa di dalamnya. Entah kenapa, dulu waktu awal semester satu semua orang pada magang sedangkan aku cuma gambling di satu UKM dan baru fix mendaftar di UKM lain. Siapa sangka di tengah jalan semua tenaga yang kucurahkan buat si UKM gambling ini cuma bisa jadi kenangan. Ya, gitulah.

Aku sangat senang berpetualang, meski ga hapal jalan tapi pake waze. Pertama kali ke bandara waktu jemput temanku fika yang bertanding baskekbol di fakultasku. Itu bukan kali pertama aku menunggu orang turun dari pesawat, tapi rasa bahagia dan senyum dari telinga ke telinga waktu lihat sosok dia benar-benar gabisa kulupakan. Padahal fika, belum jodoh.

Mbak-mbak Italia ini datang jauh-jauh ke Indonesia buat koas, kata Winda. Mereka (ada dua) sangat keren. Satunya bernama Monica, beliau jarang bicara karena tampak lelah. Logatnya juga lebih italiano, kayak medok-medok ada "tz" dalam pelafalan tiap huruf. Satunya lagi Alla. Mbak yang ini way another level! Beliau nggak canggung bercerita, dan mengerti bahasa inggris kami yang acak adut. Matanya berbinar dan bersemangat menerima hal-hal yang kami sodorkan (ngajak bicara, makan gado-gado, minta diajarin italiano).

Katanya, Mbak Alla kepingin lihat candi-candi dan ke Bromo. Ku yang baru aja dari sana jadi bangga-bangga sumringah entah kenapa. Dia tinggal di Rome dan lahir di Milan. Sebelumnya aku nggak pernah ingin untuk pergi keliling dunia, bahkan saat melihat film berapa days around the world aku cuma "ngapain sih keliling dunia". Tapi, di detik itu semua berubah. Aku sadar aku sangat ingin.

Malamnya, setelah nganterin mereka ke kos di belakang RS Moewardi, aku sudah nggak sabar ingin cepat-cepat bercerita. Tapi, teleponku nggak diangkat. Ternyata, temanku yang ini sedang menonton. Dia bilang nanti maleman saja. Aku cuma mengangkat bahu dan tersenyum simpul, agak kesal sedikit tapi yaudah mau gimana lagi. Jadi aku cuma jawab "gapapa gapenting kok seloo" pake emot-emot bahagia gimana gitu. Aku juga bercerita pada grup keluarga. Sudah bisa ditebak responnya : ya Allah kasian, bandara jauh banget, cepet pulang. Hm? Padahal aku bahagia. Oke, cukup. Untung saja di grup Cerebrum aku bisa ketawa, padahal nggak nyangka. Setelah merasa agak baikan aku nonton suatu anime movie 2017 yang nggak ngerti jalan ceritanya gimana karena baru beberapa menit aku udah jatuh tertidur.

Ini mungkin bukan cerita inspiratif dan cuma kayak resume kegiatanku seharian, yang sebenernya se nggak penting orang bikin vlog 20 menit isinya wajah dia. Tapi nggak masalah, karena aku nggak ahli bercerita pake mulut tapi pake jari, dan menulis di buku diari adalah cukup membosankan karena orang gabakal tau isinya mungkin sampai dia ditemukan bertahun-tahun terpendam dalam laci meja belajarku? Ok ini imajinatif.

Kukira rapatnya jam 11 ternyata setengah sebelas, tapi aku belum ngapa-ngapain selain sarapan jadi mari kita mandi.

Karang

July 28, 2017

Tidakkah kamu lihat rambutnya yang lusuh terpapar sinar matahari? Di keningnya membanjir peluh sebiji-biji jagung. Wajahnya coreng-moreng dihantam asap knalpot, pakaiannya satu itu saja dari pagi hingga petang.

Tapi, kawan, bahunya itu tidak pernah jatuh. Kakinya kokoh melawan panas aspal, tangannya gagah terkepal menantang langit. Tidak sedikitpun pandangan matanya yang tajam berubah bingung.

Dia anak besar di jalanan.

Idealis. Bukan tabiatnya kalau tidak memperjuangkan hak, sekecil apapun. Bahkan saat sebongkah batu raksasa menghadang jalan, Ia susah-susah menghujaninya dengan tinju sampai hancur. Keras benar isi kepalanya, sampai gunung tak sanggup membujuk.

Tapi, entah kenapa, untuknya dia luluh.

Dear Diary

July 24, 2017

"Kamu kok nggak menulis lagi?" kata teman-teman.

Ada banyak hal yang berlalu selama beberapa hari kita nggak ketemu dan akhirnya ini momen yang tepat untuk kita bicara. Aku udah lupa gimana rasanya jadi sanifa, mungkin karena terlalu banyak ngomong sama orang sehingga waktu membaca tulisan dalam hati itu bukan suaraku tapi suara mereka. Aku juga lupa caranya nulis.

Kemarin lusa, aku berada di suatu titik yang senang tapi sedih. Antara kuat dan lemah kayak tauwa. Lupa gimana, akhirnya bertanyalah aku pada salah satu teman via chat tentang harinya. Aku lupa dulu sering bilang "how's life" ke siapa dan siapa yang duluan mulai, tapi kemarin waktu aku tanya ke temanku yang ini sebut saja Melati, tetiba saja rasanya teramat sedih.

Dia bercerita panjang lebar tentang harinya, hangout bersama keluarga dan beberapa konflik ngambek-ngambekan sama adek sepupunya.

Aku lupa siapa orang terakhir yang nanya gimana hariku lalu berkhir dengan kuceritain panjang lebar tanpa ada penyesalan, tanpa ada rasa cuma kayak kepo doang.

Mungkin selama ini kita selalu merasa sangat sendirian, tapi tidak dirasakan. Lalu, pada suatu waktu, semua itu terakumulasi dan kamu yang tadinya kelihatan sangat kuat jadi lembek sekali seperti jelly. Beberapa orang ada yang bilang mereka kagum pada kepribadianmu, ingin menjadi teman lalu diprioritaskan. Sedikit yang lain masa bodoh saja, tapi bisa cerita panjang lebar dan tidak sungkan mengkritik, saling mengejek tapi terbuka satu sama lain.

Tapi, kawan, aku adalah manusia yang egois sehingga nggak mampu untuk terlihat goyah di depan kalian. Aku mau jadi pegangan tangga biar kalian tidak jatuh waktu naik.

Satu temanku yang kemudian bertanya, mungkin karena sungkan sudah kumintai duluan bercerita tentang dirinya. Lalu, waktu dia hilang, aku jadi tersenyum pada diri sendiri dan melihat ke dalam cermin. Rasanya pahit sekali.

Inspirasi

July 09, 2017

Ini lucu karena besok adalah hari ujian dan dia malah sibuk mencoba peel-off mask--yang tentu saja nggak berguna untuk menghilangkan bekas gigitan nyamuk di bawah mata.

Setelah membuka situs permainan online dan macam-macam jejaring sosial, tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiran : kenapa tidak cari hal nyata yang berguna saja?

Dua jam berikutnya, dia duduk terpana mempelajari guidebook tentang menulis CV dan Cover Letter sebagai bekal mengirim aplikasi dalam melamar kerja di perusahaan.

Sampai di suatu titik, dia seperti sudah tidak punya harapan untuk melanjutkan. Karena hari sudah malam dan setiap satu huruf adalah sepersekian detik dari waktu belajarnya yang terbuang. Keyakinannya di awal bahwa "Ini adalah petunjuk dari Tuhan!" mulai memudar. Dilemanya dalam menjadi seorang anak manusia yang kurang kompeten dan miskin prestasi semakin menjadi-jadi.

Lalu, di sanalah Aufa.

Kemarin malam, temannya yang kemide itu sudah menyentil dengan komentar to the point "gausah mikirin dia yang gatau siapa," dan petuah-petuah lain yang mengalir seperti air terjun. Berpengalaman emang beda.

Tapi, kemudian malam ini Ia kembali tiba dengan sebuah pernyataan yang mengesalkan tapi ada benarnya. Pake ngirim link video youtube segala.

Agak miris sebenarnya karena suasana hatinya jadi lebih baik saat mendengar Sky Full of Stars, bukan Al-Mumtahanah di playlist sebelah.

Bibirnya jadi lebih merah muda karena lip ice sheer color! Kakak perempuannya pasti bangga.

Setelah ini, ada hal lain yang membuat jarak antara stasiun madiun dan solojebres cuma seperti sekedipan mata. Ia memikirkan tentang hal-hal praktikal yang bisa dilakukannya bila bergabung dalam suatu komunitas pencinta. Semakin dipikir, Ia semakin bertanya-tanya, sebenarnya motivasinya itu apa? Dia sudah ketemu jawabannya, bahwa dr. Watson dan Yong Pal adalah sosok inspiratif dalam perjalanan menentukan karakter yang ingin Ia kembangkan. Lalu, muncul alasan lain bahwa, meski berusaha jadi cantik, Ia tidak juga menjadi cantik. Kan mending tidak cantik tapi berguna bagi masyarakat daripada tidak cantik tidak bisa ngapa-ngapain pula?

Ada tapi lagi yang muncul, bahwa sama cicak saja dia fobia.

Sudah kebanyakan dia mikir ini dan itu, sampai mules perutnya. Tolong ini segera berlalu.

Dan Yak

July 07, 2017

there's so much i want to tell you that day

things i regret i never say
we never know when or where we'll ever meet again
you sure talk much i dont have any chance

when i woke up this morning my tears broke down
just the thought that you can't always be there anymore
movies aren't your favorite
but spending time with you is always mine

and the rest is about how grateful i am to live a wonderful life
as the time you walk into it

--did you realize that we've changed so much?

all those hardships you've been going through
all those spectacles coming so far
hope you'll always had the strength
know you are.

--------------------------------------------------
"jagain jodoh orang dong,"
"emang kenapa?"
lalu aku gabisa jawab.

July 07, 2017


can't fit in anywhere?

Dimana Kita Bisa Berbagi Kesedihan?

July 06, 2017

Aku selalu beranggapan bahwa berbagi itu satu paket dengan kebaikan. Berbagi ilmu, berbagi bekal, berbagi senyum saat berpapasan di jalan. Orang dengan senang hati menerima.

Lalu, di mana kita bisa berbagi kesedihan?

Tidak semua orang mampu menampung apa yang jadi beban berat orang lain. Pun tidak semua orang mau. Ada jalan sendiri di tiap-tiap langkah kaki, bukannya tidak peduli.

Selama ini, kupikir masalah itu yang kita panggul di punggung. Oleh karenanya, semakin banyak kita bagi pada orang-orang maka akan jadi ringan.

Tapi, masalah itu ternyata bisa berupa gunung. Kita tidak memikulnya. Kita membawa diri sendiri untuk menghadapinya.

Ada banyak kehilangan dan ketidakadilan yang tidak berujung. Teman-teman yang tidak selamanya jadi teman, orang-orang yang kamu pikir bisa mengulurkan tangan untuk menguatkan waktu kamu nggak sanggup berdiri, tapi nggak ada.

Kawan, coba tanya pada diri sendiri, memangnya kamu mampu untuk jadi selalu ada 24/7 buat orang-orang di sekelilingmu?

Kesedihan mungkin memang tidak pernah diciptakan untuk dibagikan pada sesama kita yang berjuang. Hal itu ada sebagai pengingat bahwa kita tidak benar-benar punya siapapun selain Tuhan.

Keputusan Keukenhoff

July 04, 2017

Pada suatu pagi di dunia Tabi.

"Kamu mau pergi ke mana?"

"Suatu hamparan di Lembah Anahuac."

Berbekal setangkup roti dan sebotol susu, Keukenhoff menyusuri 200 km perjalanan darat ke Utara. Ia meninggalkan Shakira dan Celestine, kedua adik perempuannya, melambai-lambaikan sapu tangan yang basah sampai punggungnya tidak terlihat lagi.

Sebongkah batu berukuran raksasa menutupi satu-satunya jalan yang ada. Merupakan dua hari lamanya untuk mengambil jalan memutar. Keukenhoff hanya berdiri di tengah jalan tanpa menentukan pilihan. Termangu.

Kata-kata Bapak terngiang di telinganya, "Isi perutmu saat lapar."

Ia tidak lapar. Jadi, Ia kembali memandangi batu yang tidak bergerak.

Mereka saling pandang hingga dua hari berlalu.

Keukenhoff memutuskan kembali ke rumahnya di dunia Tabi.

Darkness

July 02, 2017

Ghost stories.

Waktu itu di Rumah Makan Padang Sederhana dari arah Malang. Hujan. Si Eneng update Path sambil nangis-nangis gajelas. Cape dy.

Ternyata sudah hampir dua tahun. Gila, makinya dalam hati. Baru begini baru bisa biasa saja. Tapi, memorinya jadi bercabang dua : satu teman yang bisa terbang, duanya yang mesti dimaafkan.

Akankah teman yang bisa terbang hanya jadi teman saja?

Parah, batinnya syahdu. Dia hempaskan manik-manik ajaib beedos dari Jembatan Suramadu. Seekor putri duyung melambai dan berkata, "Terima kasih!" lalu pergi.

"Aku mengantuk," kata Eneng saat nonton Wonder Woman di bioskop. Dia ingat mulai dari Catching Fire sampai Arrival, Koe no Katachi dan juga Toy Story. Taman Kunang-kunang pun Ultramilk stroberi. Bali.

Akrabnya dengan garis nyaris mati. Pernah jantungnya ngilu semantep Bu Siska saat nguleni adonan kue.
Pernah.

Proyeksi

July 01, 2017

Aku mencium bau kamu di setiap hujan turun. Di setiap liter downy atau rapika warna biru yang menempel di bajuku.

Aku mendengar suaramu di sepanjang lagu-lagu. Beberapa kamu nyanyikan, yang lain kamu rekomendasikan. Juga, didering-dering telepon tengah malam. Waktu kita berbincang padahal besoknya aku ujian.

Aku tidak melihatmu. Kita tidak dekat. Kamu di bagian bumi mana, aku melangkah menjauh. Tidak ketemu.

Tapi, aku yakin aku bisa merasakan kamu ada. Dalam mimpi-mimpi, berenang-renang di realita.

Aku tidak mau bilang apa-apa karena aku takut salah. Aku cuma mau menyerah.