Posts

Showing posts from July, 2017

Dear Diary

"Kamu kok nggak menulis lagi?" kata teman-teman.
Ada banyak hal yang berlalu selama beberapa hari kita nggak ketemu dan akhirnya ini momen yang tepat untuk kita bicara. Aku udah lupa gimana rasanya jadi sanifa, mungkin karena terlalu banyak ngomong sama orang sehingga waktu membaca tulisan dalam hati itu bukan suaraku tapi suara mereka. Aku juga lupa caranya nulis.
Kemarin lusa, aku berada di suatu titik yang senang tapi sedih. Antara kuat dan lemah kayak tauwa. Lupa gimana, akhirnya bertanyalah aku pada salah satu teman via chat tentang harinya. Aku lupa dulu sering bilang "how's life" ke siapa dan siapa yang duluan mulai, tapi kemarin waktu aku tanya ke temanku yang ini sebut saja Melati, tetiba saja rasanya teramat sedih.
Dia bercerita panjang lebar tentang harinya, hangout bersama keluarga dan beberapa konflik ngambek-ngambekan sama adek sepupunya.
Aku lupa siapa orang terakhir yang nanya gimana hariku lalu berkhir dengan kuceritain panjang lebar tanpa ada…

Inspirasi

Ini lucu karena besok adalah hari ujian dan dia malah sibuk mencoba peel-off mask--yang tentu saja nggak berguna untuk menghilangkan bekas gigitan nyamuk di bawah mata.
Setelah membuka situs permainan online dan macam-macam jejaring sosial, tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiran : kenapa tidak cari hal nyata yang berguna saja?
Dua jam berikutnya, dia duduk terpana mempelajari guidebook tentang menulis CV dan Cover Letter sebagai bekal mengirim aplikasi dalam melamar kerja di perusahaan.
Sampai di suatu titik, dia seperti sudah tidak punya harapan untuk melanjutkan. Karena hari sudah malam dan setiap satu huruf adalah sepersekian detik dari waktu belajarnya yang terbuang. Keyakinannya di awal bahwa "Ini adalah petunjuk dari Tuhan!" mulai memudar. Dilemanya dalam menjadi seorang anak manusia yang kurang kompeten dan miskin prestasi semakin menjadi-jadi.
Lalu, di sanalah Aufa.
Kemarin malam, temannya yang kemide itu sudah menyentil dengan komentar to the point "gausah…

Dan Yak

there's so much i want to tell you that day things i regret i never say we never know when or where we'll ever meet again you sure talk much i dont have any chance
when i woke up this morning my tears broke down just the thought that you can't always be there anymore movies aren't your favorite but spending time with you is always mine
and the rest is about how grateful i am to live a wonderful life as the time you walk into it
--did you realize that we've changed so much?
all those hardships you've been going through all those spectacles coming so far hope you'll always had the strength know you are.
-------------------------------------------------- "jagain jodoh orang dong," "emang kenapa?" lalu aku gabisa jawab.
Image
can't fit in anywhere?

Dimana Kita Bisa Berbagi Kesedihan?

Aku selalu beranggapan bahwa berbagi itu satu paket dengan kebaikan. Berbagi ilmu, berbagi bekal, berbagi senyum saat berpapasan di jalan. Orang dengan senang hati menerima.
Lalu, di mana kita bisa berbagi kesedihan?
Tidak semua orang mampu menampung apa yang jadi beban berat orang lain. Pun tidak semua orang mau. Ada jalan sendiri di tiap-tiap langkah kaki, bukannya tidak peduli.
Selama ini, kupikir masalah itu yang kita panggul di punggung. Oleh karenanya, semakin banyak kita bagi pada orang-orang maka akan jadi ringan.
Tapi, masalah itu ternyata bisa berupa gunung. Kita tidak memikulnya. Kita membawa diri sendiri untuk menghadapinya.
Ada banyak kehilangan dan ketidakadilan yang tidak berujung. Teman-teman yang tidak selamanya jadi teman, orang-orang yang kamu pikir bisa mengulurkan tangan untuk menguatkan waktu kamu nggak sanggup berdiri, tapi nggak ada.
Kawan, coba tanya pada diri sendiri, memangnya kamu mampu untuk jadi selalu ada 24/7 buat orang-orang di sekelilingmu?
Kesedihan…

Keputusan Keukenhoff

Pada suatu pagi di dunia Tabi.
"Kamu mau pergi ke mana?"
"Suatu hamparan di Lembah Anahuac."
Berbekal setangkup roti dan sebotol susu, Keukenhoff menyusuri 200 km perjalanan darat ke Utara. Ia meninggalkan Shakira dan Celestine, kedua adik perempuannya, melambai-lambaikan sapu tangan yang basah sampai punggungnya tidak terlihat lagi.
Sebongkah batu berukuran raksasa menutupi satu-satunya jalan yang ada. Merupakan dua hari lamanya untuk mengambil jalan memutar. Keukenhoff hanya berdiri di tengah jalan tanpa menentukan pilihan. Termangu.
Kata-kata Bapak terngiang di telinganya, "Isi perutmu saat lapar."
Ia tidak lapar. Jadi, Ia kembali memandangi batu yang tidak bergerak.
Mereka saling pandang hingga dua hari berlalu.
Keukenhoff memutuskan kembali ke rumahnya di dunia Tabi.

Darkness

Ghost stories.
Waktu itu di Rumah Makan Padang Sederhana dari arah Malang. Hujan. Si Eneng update Path sambil nangis-nangis gajelas. Cape dy.
Ternyata sudah hampir dua tahun. Gila, makinya dalam hati. Baru begini baru bisa biasa saja. Tapi, memorinya jadi bercabang dua : satu teman yang bisa terbang, duanya yang mesti dimaafkan.
Akankah teman yang bisa terbang hanya jadi teman saja?
Parah, batinnya syahdu. Dia hempaskan manik-manik ajaib beedos dari Jembatan Suramadu. Seekor putri duyung melambai dan berkata, "Terima kasih!" lalu pergi.
"Aku mengantuk," kata Eneng saat nonton Wonder Woman di bioskop. Dia ingat mulai dari Catching Fire sampai Arrival, Koe no Katachi dan juga Toy Story. Taman Kunang-kunang pun Ultramilk stroberi. Bali.
Akrabnya dengan garis nyaris mati. Pernah jantungnya ngilu semantep Bu Siska saat nguleni adonan kue.
Pernah.

Proyeksi

Aku mencium bau kamu di setiap hujan turun. Di setiap liter downy atau rapika warna biru yang menempel di bajuku.
Aku mendengar suaramu di sepanjang lagu-lagu. Beberapa kamu nyanyikan, yang lain kamu rekomendasikan. Juga, didering-dering telepon tengah malam. Waktu kita berbincang padahal besoknya aku ujian.
Aku tidak melihatmu. Kita tidak dekat. Kamu di bagian bumi mana, aku melangkah menjauh. Tidak ketemu.
Tapi, aku yakin aku bisa merasakan kamu ada. Dalam mimpi-mimpi, berenang-renang di realita.
Aku tidak mau bilang apa-apa karena aku takut salah. Aku cuma mau menyerah.