Antagonis

September 28, 2017

Parahnya, aku benar-benar tahu, benar-benar paham, benar-benar udah nglontok luar kepala; dan malah benar-benar jadi orang yang biasanya minta dikremus karena gemes.

Halo, aku Sherafina. Aku tidak sepenurut kakak perempuanku dan suka bikin pusing mamaku karena ngeyel. Biasanya, aku berkelit dari kewajibanku belajar di bidang akademis karena prinsip hidupku adalah, "Buat apa kamu pintar tapi nggak bisa bersosialisasi?" lalu memaklumi diri dan menyangkal pernyataan mamaku, di antaranya "Kamu itu jangan banyak kegiatan, kalo sudah kegiatan kan jadi capek nggak bisa belajar!"

Tapi, pada suatu titik, hidupku berubah. Aku jadi belajar siang malam seperti kesurupan. Berkelit dari kewajiban berkumpul ini itu. Tapi, tidak selalu karena belajar juga, sih. Ada hal-hal yang bukannya aku bantu benahi tapi malah aku tinggal. Karena tanganku cuma dua, dan aku sudah malas menjunjung idealitas. Biar aku jadi si realis yang egois dan suka menghilang saja.

Tentu aku bisa! Sudah banyak contohnya, salah satunya temanku namanya Naufalia. Coba tanya Atumbul pasti dia tahu apa yang sedang kubicarakan. Aku tinggal mencontoh dia saja, ketika ditelpon ga menjawab, ketika didatangi ke rumahnya ga dibukain. Poof! Menghilang. Karena, sekali lagi, aku sudah malas mengurusi negara mbahmu itu. Aku mau jadi anak pintar dan cantik saja. Nggak belepotan debu-debu perjuangan.

Hujan Pertama yang Kulihat di Bulan September

September 24, 2017

Ini tanggal 24 September. Aku sedang menerjemahkan jurnal tentang pengobatan antibodi monoklonal terhadap metastatic colorectal cancer sambil mendengarkan Payung Teduh di Spotify.

Lalu, hujan.

Selamat memasuki masa-masa paling dingin di kota Surakarta :)

Usaha

September 23, 2017

"Tapi alhamdulillah, saat kita mendapat cobaan yang bertubi-tubi seperti ini masih ada yang peduli pada kita dan mau mengusahakan untuk membantu, terimakasih mas mbak."

Kawan, dua setengah tahun yang lalu, aku tidak pernah yakin betul apa yang sebenarnya kita lakukan. Jalur koordinasi rusak betul. Aku menerima stigma dan label masyarakat bahwa apa yang kita lakukan salah. Aku mengusahakannya cuma setengah, terus meminta pada Tuhan biar beliau-beliau dibukakan hatinya, tapi mau dapat hidayah dari mana kalau kita bicara saja tidak.

Aku tidak pernah suka muncul di jajaran, atau lewat jalur-jalur lain yang pintas. Kupikir pasang muka berarti ketidakmampuanmu dalam memikat perhatian mereka lewat usahamu sendiri. Aku mau melakukannya sendiri. Aku cuma punya aku dan kekuatan Tuhanku. Tuhanku bisa segalanya, misalnya, menjatuhkan buah kelapa di kepala orang yang duduk di bawahnya. Apalagi membolak-balik hati orang. Seperti krabby patty.

Tapi ternyata cara kerjanya bukan begitu. Aku harus berusaha dulu.

Semua keajaiban yang terjadi di kepanitiaan ini adalah skenario indah karena teman-teman ikhlas. Atau mungkin kita cuma sudah cukup dewasa untuk paham dan mengerti maksud orang-orang langit.

Glitch

September 21, 2017

Aku sudah membayangkan untuk pergi ke sebuah tempat yang ada ubur-uburnya. Beberapa kali aku mengecap rasa buah-buahan di ujung lidah, naik papan luncur di jalan pedesaan yang berkelok. Tapi, sebenarnya kesemuanya cuma imajinasi saja.

Kalau dulu aku banyak menghabiskan waktu membicarakan orang lain dan kehidupan mereka yang begitu sempurna, akhir-akhir ini aku sudah tidak punya bahan. Mungkin satu atau dua tahun lagi instagram akan benar-benar membuat penduduk bumi abad ini jadi yang paling resah.

Teman-temanku sangat total dalam menjalankan pengabdiannya pada masyarakat. Aku? Sibuk memberontak seperti dalam perbudakan. Di negara ini, manusia tidak bisa sembarangan melakukan hal yang diinginkannya. Sebenarnya di negara manapun pasti ada aturannya. Dan di komunitas-komunitas, suku-suku, keyakinan masing-masing. Manusia tidak pernah diciptakan untuk mencipta aturannya sendiri. Kita dianugerahi otak dan akal tapi tidak pernah berarti menjadi Tuhan. Buah pikiran kita hanya sebatas bagaimana kemudian hal itu bisa menggiring manusia lain agar satu frekuensi. Kita ini cuma pramuniaga.

Really?

Seharusnya, bila sudah tidak percaya aku tidak akan melakukannya. Aku masih percaya, tapi banyak penolakan. Aku berpikir dan meletakkan ego di atas yang lain-lain. Aku sering berbohong untuk menghindari pertanyaan. Bahkan, bila berada di titik ini berarti menerima penghujatan dan sanksi, aku cuma mau angkat bahu saja. Aku sudah hilang rasa pedulinya?

Biasanya aku tahu apa yang aku mau. Sekarang aku tidak punya ide sama sekali.

-

September 19, 2017

Aku masih tidak merasakan apa-apa. Seperti semua rasa kesal dan takutku tidak pernah ada. Aku merasa baik tapi tidak baik-baik saja. Aku merasa bahagia tapi yang kucari sebenarnya apa?

Aku ingin berontak dan membanting semua daun pintu. Aku ingin memecahkan kaca-kaca jendela dengan kepalan tanganku. Aku mau berlari sampai kehabisan napas, berenang sampai mau tenggelam, berteriak sampai tercekik, dan kesemuanya masih tidak bisa membuatku kembali merasa.

September ini dingin.
Aku masih seperti mati di dalam hidup yang memburu.

Ghost Stories (2)

September 19, 2017

adalah ketika aku bermimpi, kamu ada.

di sana pantai dan ombak. kemarau lalu hujan. bukit, bintang-bintang yang menyertainya.

dengan mendengar aku melihat. bukan satu atau dua lagi tapi kita, menari dan berlari-lari. tidak mau berhenti.

rasanya tidak berucap.

aku bisa melihat taman safari.
aku bisa merasakan rumah makan padang sederhana.
aku tahu saat itu duniaku berhenti berputar.
dan kali ini cuma itu yang kuputar-putar.
setiap aku mendengar, setiap aku melihat.

aku benci kota Malang.